Anda di halaman 1dari 68

BADAN PENGELOLA PAJAK DAN

RETRIBUSI DAERAH KOTA AMBON

LAPORAN PENDAHULUAN

(INCEPTION REPORT)

PEMBUATAN BASIS DATA SISMIOP

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) SEKTOR PERKOTAAN

DI KECAMATAN SIRIMAU DAN NUSANIWE

KOTA AMBON

TAHUN ANGGARAN 2019

Nomor : 001/PT. ABRK-Ambon/VIII/2019

Tanggal : 27 Agustus 2019


DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................................i

Daftar Isi ....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1

1.2 Maksud dan Tujuan .................................................................................................

1.3 Target dan Sasaran ..................................................................................................

1.4 Lokasi Kegiatan ........................................................................................................

1.5 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ................................................................................

1.6 Data Penunjang .......................................................................................................

1.7 Data Dasar ...............................................................................................................

BAB II PEMBUATAN/PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP

2.1 Pemeliharaan Basis Data SISMIOP .....................................................................1

2.2 Pemeliharaan Basis Data Untuk Penyempurnaan ZNT/NIR ....................................

2.3 Pemeliharaan Basis Data Objek dan Atau Subjek Pajak .........................................

2.4 Pemeliharaan Basis Peta Digital ..............................................................................

BAB III PELAKSANAAN PEKERJAAN

3.1 Jadwal Pelaksanan Kerja ....................................................................................... 1

3.2 Organisasi Pelaksana ...............................................................................................

3.3 Output Kegiatan Pendahuluan ................................................................................

2
Lampiran – Lampiran

1. Dokumentasi Kegiatan Bimbingan Teknis, Rapat Koordinasi dan Sosialisasi


1.1 Jadwal Kegiatan
1.2 Foto Dokumentasi Kegiatan
1.3 Materi Sosialisasi
2. Formulir SPOP / LSPOP Standard dan Individual
3. Formulir Pemutakhiran Zona Nilai Tanah / Nilai Indikasi Rata-rata
4. Data Objek Pajak dan Jadwal Survey Lapangan
5. Daftar Biaya Komponen Bangunan 2019
6. Daftar Himpunan Rekaman 2019
7. Data SK Klasifikasi NJOP Bumi Tanah 2019
8. Data PBB Objek Khusus Tahun 2019
9. Data Peta Digital 2019

3
KATA PENGANTAR

Pada Tahap awal dari pekerjaan Pembuatan Basis Data SISMIOP Pajak Bumi Dan
Bangunan (PBB) sector Perkotaan dii Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau di Badan
Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) kota Ambon Tahun Anggaran 2019
adalah Kegiatan Pendahuluan.

Kegiatan Pendahuluan ini terdiri atas penelitian pendahuluan yang meliputi


mengumpulkan data dan informasi awal atas sasaran kegiatan, penyusunan
rencana kerja yang mencakup jadwal pelaksanaan secara terinci kegiatan,
pembentukan tim pelaksana kegiatan yang mengerjakan pekerjaan lapangan oleh
tenaga survey terdidik dan pekerjaan kantor (back office) yang dikerjakan tenaga
ahli dibidangnya, pengadaan sarana pendukung kegiatan dimulai dari numeric dari
SISMIOP maupun data spasial di dalam aplikasi SMART MAP PBB termasuk
mencangkup penentuan base camp kegiatan sarana lainnya, dan melakukan
koordinasi kegiatan dengan pihak terkait serta penyuluhan ke pihak kecamatan dan
Kelurahan.

Tahapan selanjutnya kegiatan pembentukan basis data SISMIOP melalui kegiatan


pemutakhiran basis data SISMIOP secara akif dilakukan dengan menerjunkan
petugas ke lapangan untuk melakukan pengumpulan bank data pasar property,
pengumpulan biaya komponen bangunan yang berlaku, pencocokan data factual,
dan membuat sket peta PBB. Laporan awal kegiatan ini disusun sebagai
pertanggungjawaban atas kegiatan pendahuluan pembentukan basis data
SISMIOP di Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau Kota Ambon Tahun Anggaran
2019.

Pekanbaru, 27 Agustus 2019


PT. Abata Rencana Karyanusa

RAHMATDILLAH, ST
Direktur

4
         

 
 
BAB I

PENDAHULUAN

Laporan pendahuluan ini berisikan rencana kegiatan yang dilakukan oleh konsultan
untuk dapat menyelesaikan kegiatan Pembentukan Basis Data SISMIOP Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB) Kota Ambon di Kecamatan Nusaniwe dan Sirrimau Tahun
Anggaran 2019. Laporan Pendahuluan ini juga berisikan metodologi yang akan
digunakan oleh konsultan yang dalam hal ini PT. Abata Rencana Karayanusa selaku
perusahaan yang ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan tersebut di atas. Selain
menggunakan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang digunakan sebagai acuan
penyusunan dokumen laporan pendahuluan ini, sebagian besar isi dari laporan juga
didasarkan pada pengalaman perusahaan dalam melakukan pekerjaan konsultan.

1.1 Latar Belakang

Kondisi terkini manajemen pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan di Badan


Pengelola Keuangan Daerah Kota Ambon setelah pengalihan pengelolaan Pajak
Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dari pajak pusat
menjadi pajak daerah masih terdapat kekurangan baik dari segi sarana maupun
prasarana yang ada. Terutama dalam updating data objek dan subjek pajak pada
basis data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) dan updating
peta Sistem Informasi Geografis Pajak Bumi dan Bangunan (SIG-PBB).

Data objek dan subjek pajak PBB dalam basis data SISMIOP PBB di Badan
Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Ambon sebagai pihak yang

5
mengelola PBB-P2 saat ini adalah data yang diserahkan oleh Kantor Pajak Pratama
Ambon. Masih terdapat data objek dan subjek pajaknya masih belum update dalam
SISMIOP data peta blok SIG-PBB yang belum mengambarkan situasi relative saat
ini. Begitu juga dengan Nilai Indikasi Rata-Rata (NIR) pada Zona Nilai Tanah (ZNT)
yang belum diperbaharui sejak tahun 2017, sementara diwilayah tersebut telah
mengalami perubahan dan perkembangan pembangunan dengan munculnya
bengunan-bangunan baru dan data subjek dan objek pajak PBB sudah tidak lagi
sesuai dengan kondisi dilapangan saat ini.

Dengan kondisi yang tidak akurat dan mutakhirnya data seperti masalah nama
subjek pajak yang telah berubah karena peralihan hak (jual beli, waris) atau karena
terjadi kesalahan nama subjek pajak yang terjadi sebelumnya, luas bumi yang tidak
lagi sesuai dengan kondisi terkini karena adanya pembagian hak atau pemecahan
objek pajak atau hilang karena bencana alam. Ketetapan pajak yang juga tidak lagi
sesuai dengan kondisi terkini karena tidak diupdate data numeric dalam SISMIOP
dan update Nilai Indikasi Rata-Rata (NIR) dan Zona Nilai Tanah (ZNT) yang tidak
sesuai dengan harga pasar menyebabkan rendahnya pokok penetapan PBB
diwilayah tersebut dan tidak terciptanya keadilan ketetapan PBB terkini. Semua
masalah tersebut akan sangat mempengaruhi pencapaian target penerimaan PBB.

Salah satu komponen penunjang keakuratan data objek pajak dan subjek pajak PBB
adalah Peta Blok PBB yang juga merupakan alat penting yang digunakan secara
teknis untuk meningkatkan pelayanan dalam menyelesaikan permasalahan yang
menyangkut data objek maupun subjek PBB, karena fungsi dari peta blok PBB
adalah menunjukan lokasi bidang-bidang tanah sebagai objek pajak. Dalam hal ini
yang disebut dengan Peta Blok PBB adalah peta dasar atau garis yang terdiri dari
bidang-bidang tanah atau bumi yang disebut dengan Objek Pajak yang dimiliki,
dikuasai, dikelola atau dimanfaatkan oleh wajib pajak.

Terjadinya perkembangan dan kemajuan kota tentu sangat mempengaruhi secara


administratif pada data base yang telah ada sebelumnya. Perubahan-perubahan
data administrasi seperti penerbitan Daftar Himpunan Ketetapan Pajak (DHKP). Jika
tidak dilakukan penyesuaian dengan kondisi terkini maka hal tersebut dapat
mengganggu kualitas basis data SISMIOP Kota Ambon. Oleh karena itu untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang ada dan untuk meningkatkan tertib
administrasi dan kualitas basis data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak

6
(SISMIOP) PBB dan Sistem Informasi Geografis Pajak Bumi dan Bangunan (SIG-
PBB), meningkatkan penerimaan PBB, meningkatkan pelayanan kepada wajib
pajak, menciptakan keadilan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan maka
Pemerintah Kota Ambon melalui Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah
(BP2RD) Kota Ambon akan melaksanakan pekerjaan Pembentukan Basis Data
SISMIOP Pajak Bumi dan Bangunan Kota Ambon Tahun 2019.

Pekerjaan Pembentukan Basis Data SISMIOP Pajak Bumi dan Bangunan di


Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau Kota Ambon Tahun 2019 ini merupakan salah
satu proses dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan Pajak Bumi dan
Bangunan dan juga merupakan sebagai bentuk tindakan konkrit Pemerintah Kota
Ambon untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat sebagai wajib pajak dan
juga merupakan salah satu strategi peningkatan penggalian potensi Pendapatan asli
daerah (PAD) dari sector PBB-P2 di Kota Ambon.

Pelaksanaan Pekerjaan tersebut akan dilaksanakan oleh PT. Abata Rencana


Karyanusa yang bergerak dalam bidang Jasa Survey Pemetaan, Pendataan dan
penilaian yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang memadai, tenaga ahli
khusus dalam proses pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang
diharapkan dapat meningkatkan kualitas data Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
yang akan ditetapkan untuk pengenaan PBB ditahun mendatang.

1.2 Maksud dan Tujuan

Pelaksanaan Kegiatan Pembentukan basis data Sismiop Kota Ambon yang meliputi
pekerjaan Pendataan, Perekaman, Pemetaan dan Penilaian Obyek Pajak dan
Subyek Pajak PBB-P2 merupakan suatu upaya untuk memperbaharui data sehingga
ketepatan PBB-P2 dapat mendekati harga pasar. Kegiatan ini dimaksudkan untuk
pemutakhiran data PBB-P2 dengan penerapan sistem administrasi PBB-P2 melalui
pemetaan, identifikasi, pengukuran, pendataan dan registrasi terhadap obyek pajak
PBB-P2.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan pembentukan Basis Data SISMIOP agar


memperoleh data PBB-P2 yang aktual dan up to date baik luas obyek pajak, subyek
pajak, lokasi, Zona Nilai Tanah (ZNT) yang ada di Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau
Kota Ambon, Provinsi Maluku, agar data tersebut lengkap, akurat dan mutakhir

7
sehingga dapat meningkatkan penerimaan daerah dari sektor PBB-P2 guna
pembiayaan pembangunan.

Dengan demikian pemutakhiran data tersebut diharapkan akan memberikan


kontribusi sebagai berikut:
a) Meningkatnya ketetapan dan potensi PBB-P2.
b) Meningkatnya tertib administrasi PBB-P2.
c) Tersusunnya Database SIG PBB-P2 secara lengkap, aktual dan benar serta
tersinkronisasi dengan SISMIOP.
d) Tersajinya nilai obyek pajak dan zona nilai tanah dengan nilai jual wajar,
sehingga terjadi pengenaan pajak yang adil.

1.3 Target dan Sasaran

Kegiatan Pembentukan Basis Data SISMIOP melalui kegiatan pemutakhiran data


dengan melakukan Pendataan, Analisa NIR/ZNT, Perekaman, Pemetaan memiliki
target utama menciptakan Basis Data pada SISMIOP sesuai dengan kondisi
sebenarnya serta untuk distribusi ZNT yang memenuhi ketentuan, dengan sasaran
kegiatan :

1. Terlaksananya pembentukan basis data yang baru yang sesuai dengan basis
data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) PBB yang
terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografis Pajak Bumi dan Bangunan
(SIG-PBB) yang digunakan oleh Pemerintah Kota Ambon.
2 Terlaksananya updating objek dan subjek PBB yang sesuai dengan kondisi
terkini yang dilakukan atas tanah dan bangunan sebagai objek pajak dan
pemilik, penyewa, pengelola atau yang memanfaatkan objek pajak tersebut
oleh wajib pajak sebagai subjek pajak untuk dikenakan PBB tahun 2020.
3 Terlaksananya Pembentukan Zona Nilai Tanah (ZNT) terbaru yang sesuai
dengan kondisi sebenarnya dilapangan dan menentukan Nilai Indikasi Rata-
Rata (ZNT/NIR) terbaru untuk penentuan nilai jual objek pajak per meter
sebagai dasar pengenaan PBB untuk penghitungan ketetapan nilai tanah atau
bumi.
4 Terlaksananya pembuatan peta blok dan pemetaan atas bidang tanah dan
bangunan baik yang dimiliki, dikuasai atau dimanfaatkan oleh wajib pajak
sebagai subjek pajak untuk dikenakan PBB tahun 2020.

8
5 Penetapan peningkatan pokok ketetapan PBB dan kualitas data yang lebih
baik sesuai dengan konidsi terkini.

5.1 Lokasi Kegiatan

Pembentukan Basis Data SISMIOP melalui kegiatan pemeliharaan basis data


SISMIOP dengan cara kegiatan pendataan, verifikasi, penilaian, perekaman,
dan pemutakhiran terhadap seluruh objek pajak dan subjek pajak yang berada
di Kota Ambon yang terdiri dari 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Nusaniwe
dan Sirimau yang terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) Desa/Kelurahan dari 2 (dua)
Kecamatan. Adapun jumlah Objek Pajak PBB-P2 adalah 46.280 Objek Pajak
berdasarkan Basis Data PBB-P2 Tahun 2014 rinciannya adalah sebagai berikut:

No Kecamatan Jumlah Objek Pajak

1 Nausaniwe 18.086
2 Sirimau 28.154
Jumlah 46.240

Berdasarkan penelitian Basis Data SISMIOP per Agustus 2019 dapat diuraikan

sebaran data objek pajak di kedua kecamatan tersebut, sebagai berikut :

Kecamatan/Keluraha jumlah ZNT/NI ZNT/NIR


No n Jumlah Blok OP R Tinggi Rendah
A NUSANIWE RT/RW/Dsn   2019 (kelas) (kelas)
1 Negeri Latuhalat 32/14/6 001 407 081 088
      002 460 080 088
      003 148 081 088
      004 384 080 089
      005 320 080 085
      006 300 080 085
      007 84 080 085
      008 1 076 076
2 Negeri Seilale 10/3 001 89 080 090
      002 314 080 088
3 Negeri Nusaniwe 16/4/2 001 239 076 089
      002 185 076 090
      003 161 081 090
      004 182 081 090
      005 165 081 090
      006 211 081 091
      007 190 081 091

9
4 Negeri Amahusu 23/8/3 001 164 080 087
      002 272 079 080
      003 399 079 080
      004 240 079 095
      005 144 080 080
5 Kelurahan Nusaniwe 22/7 001 141 071 075
      002 321 071 076
      003 438 068 077
      004 381 068 076
      005 283 068 076
      006 336 070 075
      007 445 075 076
      008 122 075 075
6 Kelurahan Benteng 39/8 001 240 070 079
      002 316 073 079
      003 351 070 086
      004 372 070 080
      005 196 070 076
      006 324 070 076
      007 758 073 088
      008 530 076 080
      009 2 073 082
      010 2 070 070
7 Kelurahan Wainitu 27/6 001 318 070 075
      002 223 070 075
      003 249 070 075
      004 263 065 075
      005 225 068 073
      006 198 063 075
      007 136 063 074
      008 278 063 074
      009 1 063 063
8 Kelurahan Kudamati 43/7 001 250 065 080
      002 478 065 080
      003 370 065 080
      004 206 064 080
      005 199 064 080
      006 340 065 080
      007 402 064 079
      008 315 070 086
      009 508 070 080
9 Negeri Urimessing 30/6/5 001 689 077 084
      002 308 080 086
      003 276 080 086
      004 632 079 086
    010   084 084

10
Kelurahan Mangga
10 Dua 10/4 001 168 063 077
      002 272 063 077
      003 161 074 078
      004 76 075 078
11 Kelurahan Urimessing 14/4 001 219 075 079
      002 513 063 079
12 Kelurahan Waihaong 14/4 001 280 060 070
      002 196 060 070
      003 268 060 071
13 Kelurahan Silale 12/4 001 310 060 071
    002 291 060 071
Sumber : SISMIOP Kecamatan Nusaniwe, 2019

jumlah ZNT/NI ZNT/NIR


No Kecamatan/Kelurahan Jumlah Blok OP R Tinggi Rendah
A SIRIMAU RT/RW/Dsn   2019 (kelas) (kelas)
1 SOYA 33/8 001 98 076 085
      002 171 076 080
      003 296 076 089
      004 209 076 087
      005 151 076 087
      006 74 076 087
      007 41 079 087
      008 155 079 087
      009 179 076 088
      010 331 076 087
      011 501 080 080
2 KEL. WAIHOKA 15/4 001 165 072 080
      002 254 072 080
      003 254 079 080
      004 279 072 083
      005 143 072 080
KEL. KARANG
3 PANJANG 21/6 001 189 063 078
      002 402 063 078
      003 253 063 078
      004 224 063 088
      005 263 074 088
4 KEL. BATU MEJA 31/7 001 202 065 079
      002 335 073 079
      003 267 070 084
      004 151 065 081
      005 221 073 084
      006 299 073 084

11
      007 249 079 079
      008 176 078 084
      009 1 080 080
5 KEL. GAJAH 22/4 001 171 060 081
      002 447 074 081
      003 210 079 080
      004 338 067 080
      005 375 074 080
6 KEL. AHUSEN 16/5 001 265 058 070
      002 447 052 070
      003 210 052 070
      004 338 052 069
      005 375 052 072
      006 1 052 052
7 KEL. HONIPOPU 18/5 001 156 052 093
      002 572 046 069
      003 232 046 059
      004 431 046 074
      005 240 046 069
      006 176 046 069
8 KEL. URITETU 21/6 001 82 053 065
      002 107 053 065
      003 151 057 068
      004 143 060 072
      005 76 060 066
      006 201 064 072
9 KEL. RIJALI 18/5 001 200 054 057
      002 381 054 075
      003 207 059 075
      004 137 059 075
      005 164 059 074
      006 76 054 054
      007 150 059 075
10 KEL. AMANTELU 21/6 001 403 068 077
      002 403 069 077
      003 326 073 076
      004 153 070 077
      005 377 070 077
11 BATU MERAH 102/20 001 247 069 074
      002 211 069 073
      003 168 068 073
      004 269 060 081
      005 269 068 081
      006 227 068 076
      007 318 068 076
      008 167 073 076

12
      009 156 076 076
      010 138 070 076
      011 165 076 076
      012 375 060 075
      013 257 068 076
      014 525 068 081
      015 833 068 084
      016 1158 072 086
      017 460 073 080
      018 291 072 080
      019 816 072 084
      020 1244 072 086
      021 1288 072 084
      022 777 072 084
      023 541 072 086
      024 134 074 081
      025 285 068 073
      026 964 070 086
      027 450 075 084
      028 559 075 086
      029 104 080 080
      030 303 077 080
      031 150 080 080
KEL. PANDAN
12 KASTURI 22/8 001 339 069 076
      002 11 069 073
      003 158 068 076
      004 461 069 078
      005 260 069 078
13 HATIVE KECIL 28/6 001 339 076 080
      002 340 076 084
      003 301 075 080
      004 224 076 080
      005 192 079 079
      006 80 070 084
      007 306 075 078
      008 270 075 076
      009 284 075 082
      010 382 076 084
      011 434 075 084
      012 155 078 086
      013 48 076 0'84
      014 294 076 083
      015 6 076 079
      017 3 076 076
14 GALALA 6/2 001 298 070 075

13
Sumber : SISMIOP Kecamatan Sirimau, 2019

1.6 Data Penunjang

Untuk menunjang kelancaran Pekerjaan Pembentukan Basis Data SISMIOP PBB P2


di Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau Kota Ambon Tahun 2019, secara umum Badan
Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Pemerintah Kota Ambon menyediakan data
penunjang, sebagai berikut:

1. Data Objek Pajak dan Subjek Pajak berupa Daftar Hasil Rekaman (DHR)
tahun 2019 pada wilayah kerja yaitu Kecamatan Nusaniwe dan Sirrimau.
Daftar Hasil Rekaman tersebut sebagai pedoman pengambilan data
dilapangan dan juga merupakan data pembanding perubahan data dari
sebelum dilakukan pendataan dan sesudah dilakukan pendataan.
2. Data SK Bupati tentang klasifikasi dan besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
bumi tahun 2018. Buku tersebut berisi data nilai NJOP bumi per meter tahun
sebelumnya yang mana data tersebut akan dijadikan pedoman atau
pembanding perubahan kelas nilai tanah sebelum dan sesudah dilakukan
pekerjaaan pembentukan Zona Nilai Tanah (ZNT) dan penentuan Nilai Indikasi
Rata-Rata (NIR)
3. Data Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) SISMIOP dan DBKB 2000
untuk objek pajak non standard an objek khusus.
4. Peta Digital seluruh Blok di Keluarahan dalam Kecamatan Nusaniwe dan
Sirimau yang belum tercetak untuk selanjutnya dilakukan pencetakan.

Fasilitas penunjang untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan yang telah disediakan


oleh Pemerintah Kota Ambon sebagai berikut:

1. Server data base SISMIOP untuk pekerjaan perekaman dan instalasi


SIGPBB.
2. Informasi yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan pekerjaan.
3. Koordinasi dengan instansi terkait berupa Surat Pemberitahuan dan
permintaan data yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan.
4. Ruang pelatihan dan ruang rapat sesuai dengan jumlah peserta.

14
5. Staf yang membantu kelancaran koordinasi pekerjaan dengan instansi
pemberi kerja.
6. Surat Tugas petugas lapangan dan surat kedinasan lainnya
7. Pendamping petugas pendataan dan pemetaan. Tugas dan Wewenang :
a) Melakukan koordinasi bersama petugas pendata lapangan dengan pihak-
pihak kelurahan untuk sosialisasi kepada masyarakat mengenai
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b) Mendampingi petugas pendata lapangan dalam pelaksanaan pekerjaan
diwilayah masing-masing.
c) Menunjukan batas-batas wilayah, batas-batas bidang tanah yang akan
diukur dan didata.
d) Menunjukan nama subjek pajak, nama jalan atau nama wilayah sebagai
alamat dari subjek dan objek pajak.
e) Membantu petugas pendata dalam melaksanakan pengukuran bidang
objek pajak.
f) Membantu petugas pendata dalam penyampaian dan pengambilan
formulir SPOP/LSPOP dari subjek pajak.
g) Memeriksa dan menandatangani DHOP dari petugas pendata.
h) Menjadi kuasa untuk menandatangani SPOP/LSPOP dari objek/subjek
pajak yang tidak dapat ditemui dilapangan dengan persetujuan dari Wali
Nagari.
8. Lain-lain yang terkait dengan penunjang pelaksanaan pekerjaan.

Peralatan, Material, Fasilitas yang disediakan oleh Penyedia Jasa antara lain:
1. Formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dan Lampiran Surat
2. Formulir Pemberitahuan Objek Pajak (LSPOP).
3. Formulir atau blanko Daftar Himpunan Objek Pajak.
4. Alat ukur, alat tulis/gambar.
5. Akomodasi dan transportasi petugas.
6. Komputer beserta printer.
7. Materi sosialisasi sekaligus penyampaiannya kepada petugas pendamping
local.

15
BAB II

PEMBENTUKAN BASIS DATA SISMIOP

Kegiatan Pembentukan Basis Data SISMIOP melalui kegiatan pemutakhiran data


dengan cara pendaftaran, pendataan, penilaian dan pemetaan objek dan subjek
PBB dimaksudkan untuk menciptakan suatu basis data yang akurat dan up to date
dengan mengintegrasikan semua aktivitas administrasi PBB ke dalam satu wadah,
sehingga pelaksanaannya dapat lebih seragam, sederhana, cepat, dan efisien.
Untuk menjaga akurasi data objek dan subjek pajak yang memenuhi unsur relevan,
tepat waktu, andal, dan mutakhir, maka basis data tersebut di atas perlu dipelihara
dengan baik.

2.1 PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP


  Pemeliharaan basis data dilaksanakan atas basis data yang telah terbentuk
karena adanya perubahan data objek dan subjek pajak. Dalam pelaksanaan
pemeliharaan basis data yang menyangkut perubahan data seperti
pendaftaran objek pajak baru, pemecahan atau penggabungan, tidak
dibenarkan dilakukan perubahan data numeris sebelum dilakukan
pemutakhiran data grafisnya.

Pemeliharaan basis data dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut :

Dilaksanakan untuk tahun pajak berjalan, digunakan untuk ketetapan tahun


pajak yang akan datang, dan pada umumnya secara massal atas dasar
rencana kerja yang telah disusun oleh BP2RD sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan dalam rangka pembentukan basis data SISMIOP. 

2.1. PEMELIHARAAN BASIS DATA UNTUK PENYEMPURNAAN ZNT/NIR


1
Kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan pekerjaan antara lain sebagai
berikut
  1 Menentukan/mengevaluasi NIR yang terdapat dalam suatu wilayah objek
. pajak dengan cara pembuatan NIR yang diatur dalam kegiatan tentang

16
Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR;

1.1 Proses Pembuatan Sket/Peta ZNT

1.1.1 Tahap Persiapan

Menyiapkan data-data dari Kantor Pelayanan PBB yang diperlukan,


seperti data dari laporan Notaris/PPAT, data NIR dan ZNT lama, SK
Kakanwil tentang Klasifikasi dan Penggolongan NJOP Bumi dan
sebagainya.

Menyiapkan data-data yang berhubungan dengan teknik penentuan


nilai tanah, seperti data Jenis Penggunaan Tanah dari BAPPEDA dan
data potensi pengembangan wilayah berdasarkan Rencana Kota
(berdasarkan RUTRK dan RDTRK).

Pembuatan rencana pelaksanaan (meliputi personil, biaya serta


jadwal kegiatan dengan mengacu pada Keputusan ini.
 
1.1.2 Pengumpulan data harga jual

Data harga jual adalah informasi mngenai harga transaksi dan/atau


harga penawaran tanah dan/atau bangunan.

Sumber data berasal dari PPAT, notaris, lurah/kepala desa, agen


properti, penawaran penjualan properti melalui majalah, brosur,
direktori, pameran dan sebagainya.

Data Lapangan yaitu data harga jual yang diperoleh di lapangan


merupakan data yang dianggap paling dapat dipercaya akurasinya.
Oleh karena itu pencarian data langsung ke lapangan harus dilakukan
baik untuk memperoleh data-data baru maupun mengecek data-data
yang diperoleh di kantor.

Semua data harga jual yang diperoleh harus ditulis dalam Formulir :
Data Transaksi Properti.
Dalam rangka pengumpulan data harga jual, juga diadakan
inventarisasi nama-nama jalan yang ada di setiap desa/kelurahan.
Penulisan nama jalan disesuaikan dengan standar Baku Penulisan
Nama-nama Jalan.

17
1.1.3 Kompilasi Data

Data yang terkumpul dalam masing-masing kelurahan/desa harus


dikelompokkan menurut jenis penggunaannya karena jenis
penggunaan tanah/bangunan merupakan variabel yang signifikan
dalam menentukan nilai tanah.
Kompilasi juga diperlukan berdasarkan lokasi data untuk
memudahkan tahap analisis data.

Rekapitulasi Data dan Plotting Data Transaksi pada Peta Kerja ZNT
Semua data yang diperoleh harus dimasukkan dalam Formulir
Analisis Penentuan Nilai Pasar Wajar.
Nomor Data yang tertulis pada Formulir 1 harus sama persis dengan
nomor yang tertulis pada Formulir 2. Selanjutnya nomor ini akan
berfungsi lebih lanjut sebagai alat untuk mengidentifikasi lokasi data
pada Peta Taburan Data.
Penyesuaian terhadap waktu dan jenis data :

- Penyesuaian terhadap waktu dilakukan dengan membandingkan


waktu transaksi dengan keadaan per 1 Januari tahun pajak
bersangkutan.
- Penyesuaian terhadap faktor waktu dilakukan dengan mengacu
pada faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi nilai properti,
keadaan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan faktor lain
yang berpengaruh. Perubahan nilai tanah tersebut adalah
cenderung meningkat. Oleh karena itu perlu dibuat penyesuaian
dengan menambah persentase antara 2% s/d 10% pertahun.
- Penyesuaian terhadap jenis data diperlukan untuk memenuhi
ketentuan Nilai Pasar sebagaimana prinsip-prinsip penilaian yang
berlaku. Misalnya data hipotik/agunan di Bank, data penawaran,
data dari PPAT/Notaris yang tidak sepenuhnya mencerminkan Nilai
Pasar harus disesuaikan. Besar penyesuaian sangat tergantung
pada tingkat akurasi data dan keadaan di lapangan. Variasi
besarnya prosentase penyesuaian antara penilai satu dengan yang
lain tidak dapat dihindari dan tetap dibenarkan asalkan tidak
menimbulkan penyimpangan yang terlalu jauh dari Nilai pasar.
Untuk mendapatkan nilai tanah data yang digunakan adalah data
transaksi jual beli yang memenuhi unsur pasar wajar. Oleh karena
itu data harga penawaran perlu disesuaikan dengan mengurangkan

18
dalam persentase 5% s/d 20% sesuai dengan analisis di lapangan.
Untuk data hipotik disesuaikan dengan menambah dalam
persentase 10% s/d 35% sesuai analisis di lapangan.
- Angka persentase penyesuaian di atas bukan merupakan angka
yang mutlak. Persentase penyesuaian harus berdasarkan kepada
kenyataan, data dan fakta di lapangan dan di analisis terlebih
dahulu, sehingga di setiap wilayah dapat berbeda.
 
1.1.4 Menentukan Nilai Pasar tanah per meter persegi

Tanah kosong, Nilai Pasar dibagi luas tanah dalam satuan meter
persegi.
Tanah dan bangunan;

- Menentukan nilai bangunan dengan menggunakan DBKB


setempat.
- Nilai Pasar dikurangi nilai bangunan diperoleh Nilai Pasar tanah
kosong untuk kemudian dibagi luas tanah dalam satuan meter
persegi.

1.1.5 Membuat batas imajiner ZNT

Batas imajiner dituangkan dalam konsep peta ZNT yang telah berisi
taburan data transaksi. Prinsip pembuatan batas imajiner ZNT adalah :
Mengacu pada peta ZNT lama bagi wilayah yang telah ada peta ZNT-
nya.
Mempertimbangkan data transaksi yang telah dianalisis yang telah
diplot pada peta kerja ZNT.
Pengelompokan persil tanah dalam satu ZNT dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
- Nilai Pasar Tanah yang hampir sama

- Memperoleh akses fasilitas sosial dan fasilitas umum yang sama

- Aksesibilitas yang tidak jauh berbeda

- Mempunyai potensi nilai yang sama


 
1.1.6 Analisis Data Penentuan NIR

Analisis data dilakukan berdasarkan Zona Nilai Tanah, sehingga untuk


ZNT yang berbeda harus menggunakan halaman baru Formulir 3 dan
4 (masing-masing pada Lampiran 30). Data-data yang dianalisis untuk
memperoleh Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) dalam satu ZNT harus

19
memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Data relatif baru

- Data transaksi atau penawaran yang wajar

- Lokasi yang relatif berdekatan

- Jenis penggunaan tanah/bangunan yang relatif sama

- Memperoleh fasilitas sosial dan fasilitas umum yang relatif sama


 
1.1.7 Penyesuaian nilai tanah dan penentuan NIR

Sebelum menentukan NIR pada masing-masing ZNT, nilai tanah yang


telah dianalisa pada Formulir 2 (Lampiran 30) disesuaikan dengan
ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk ZNT yang memiliki data transaksi lebih dari satu penentuan
NIR dilakukan dengan cara merata-rata data transaksi tersebut
dengan menggunakan formulir 3 (Lampiran 30).
b. Untuk ZNT yang hanya memiliki satu data transaksi NIR ditentukan
dengan cara mempertimbangkan data transaksi dari ZNT lain yang
terdekat dengan menggunakan formulir 3 setelah dilakukan proses
penyesuaian seperlunya.
c. Untuk ZNT yang tidak memiliki data transaksi, penentuan NIR
dapat mengacu pada NIR di ZNT lain yang terdekat dengan
melakukan penyesuaian faktor lokasi, jenis penggunaan tanah dan
keluasan pensil sebagaimana pada formulir 4.
 
1.1.8 Pembuatan Peta ZNT Akhir

Tahap ini dilaksanakan setelah selesai pengukuran bidang milik dalam


satu kelurahan/desa
Garis batas ZNT dibuat mengikuti garis bidang milik dan tidak boleh
memotong bidang milik
Cantumkan NIR (nilai tanah hasil analisis dari Formulir 3 atau 4 bukan
nilai tanah hasil klasifikasi NJOP) dan kode ZNT pada peta kerja.
Peta ZNT akhir diberi warna yang berbeda pada setiap garis batas
ZNT.

  2 Mengadakan penyempurnaan NIR dan kode ZNT apabila berdasarkan


. hasil analisis sebagaimana dimaksud di atas ternyata terjadi perubahan
dari yang telah ditentukan dalam pembentukan basis data.

Sebelum diadakan penyempurnaan, hasil analisis tersebut dapat

20
dikonfirmasikan terlebih dahulu dengan Pemerintah Daerah dan instansi
terkait. Perubahan NIR dan kode ZNT dicatat pada Formulir Zona Nilai
Tanah dan Formulir Pemutakhiran Kode ZNT.

 
2.1. PEMELIHARAAN BASIS DATA OBJEK DAN ATAU SUBJEK PAJAK
2  
Apabila menurut perkiraan tingkat ketidakcocokan data yang ada pada bsis
data dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan dalam suatu wilayah
administrasi pemerintahan tertentu mencapai minimal 20%, maka perlu
diadakan pemeliharaan basis data melalui kegiatan Verifikasi Data Objek
Pajak.

  Pendataan objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan dilaksanakan


oleh Kantor Pelayanan PBB atau pihak lain yang ditunjuk oleh
Direktorat Jenderal Pajak, dan selalu diikuti dengan kegiatan
penilaian. Pendataan dilakukan dengan menggunakan formulir SPOP
dan dilakukan sekurang-kurangnya untuk satu wilayah administrasi
desa/kelurahan dengan menggunakan/memilih salah satu dari empat
alternatif sebagai berikut.
 
    A. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP
Pendataan dengan alternatif ini hanya dapat dilaksanakan pada
daerah/wilayah yang pada umumnya belum/tidak mempunyai peta,
merupan daerah terpencil, atau mempunyai potensi PBB relatif
kecil. Pelaksanaannya dilakukan sebagai berikut :
      1. Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP
Perorangan.
Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP
perorangan dilakukan dengan menyebarkan SPOP langsung
kepada subjek pajak atau kuasanya dengan berpedoman pada
sket/peta blok yang telah ada;
      2. Untuk daerah yang potensi PBB-nya relatif lebih kecil, cakupan
Wilayah dan objek pajaknya luas, dapat digunakan alternatif
pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP Kolektif. Dengan alternatif ini, SPOP
disebarkan melalui aparat desa/kelurahan setelah terlebih

21
dahulu membuat sket/peta blok.
      Untuk menghindari kelemahan alternatif ini (rendahnya tingkat
akurasi data) perlu diperhatikan kemampuan penguasaan wilayah
bagi petugas yang bertanggung jawab.
 
    B. Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak
Pendataan dengan alternatif ini dapat dilaksanakan pada
daerah/wilayah yang sudah mempunyai peta garis/peta foto yang
dapat menentukan posisi relatif objek pajak tetapi tidak mempunyai
data administrasi pembukuan Pajak Bumi dan Bangunan. Data
tersebut merupakan hasil pendataan secara lengkap tiga tahun
terakhir.
 
    C. Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak
Alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang sudah
mempunyai peta garis/peta foto dan sudah mempunyai data
administrasi pembukuan Pajak Bumi dan Bangunan hasil
pendataan tiga tahun terakhir secara lengkap.
 
    D. Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak
Alternatif ini dapat dilaksankan pada daerah/wilayah yang hanya
mempunyai sket peta desa/kelurahan (misalnya dari Biro Pusat
Statistik atau instansi lain) dan/atau peta garis/peta foto tetapi
belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif objek
pajak. Adapun tahapan kegiatan pendataan adalah sebagai berikut
:
       
  1.2.1 Pekerjaan Persiapan
 
    A. Penelitian Pendahuluan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan data dan informasi
yang diperlukan, baik dalam rangka penyusunan rencana kerja
maupun untuk menentukan sasaran dan daerah/wilayah mana
yang akan diadakan kegiatan pendataan dengan memperhatikan
potensi pajak dan perkembangan wilayah.
 
Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian
pendahuluan antara lain adalah :
      1. Luas wilayah
      2. Perkiraan luas tanah yang dapat dikenakan Pajak Bumi dan

22
Bangunan
      3. Luas tanah yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
      4. Luas bangunan yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan
Bangunan
      5. Jumlah penduduk
      6. Jumlah wajib pajak yang sudah terdaftar
      7. Jumlah objek pajak yang sudah terdaftar
      8. Jumlah pokok ketetapan pajak tahun sebelumnya
      9. Perkiraan harga jual tanah tertinggi dan terendah per m2
dalam satu desa/kelurahan
      10 Harga bahan bangunan danstandar upah yang berlaku
.
      11 Peta dan pembukuan PBB, antara lain :
.
        a Peta desa/kelurahan yang dimiliki Kantor Pelayanan PBB
.
        b Peta garis/peta foto berkoordinat yang dimiliki Kantor
. Pelayanan PBB
        c. Buku Induk atau Buku Himpunan Data Objek/Subjek PBB
yang lama
        d Buku rincikan yang lama (kalau ada)
.
        e SK Kakanwil DJP tentang kalasifikasi NJOP Bumi,
. Peraturan PBB, buku-buku aministrasi PBB lainnya
 

    B. Penyusunan Rencana Kerja


Data yang berhasil dikumpulkan dalam kegiatan penelitian
pendahuluan terlebih dahulu dianalisis dan selanjutnya dijadikan
bahan untuk menyusun rencana kerja. Materi yang perlu
dituangkan dalam rencana kerja tersebut antara lain adalah :
      1. Sasaran dan volume pekerjaan
      2. Alternatif kegiatan
      3. Standar prestasi petugas
      4. Jadwal pelaksanaan pekerjaan
      5. Organisasi dan jumlah pelaksana
      6. Jumlah biaya yang diperlukan
      7. Perkiraan peningkatan pokok ketetapan pajak
      8. Hasil akhir
 
      Dalam penyusunan rencana kerja perlu diperhatikan dua hal
berikut:
      1. Fleksibilitas, artinya rencana kerja tersebut mampu
menampung perubahan-perubahan pelaksanaan di lapangan
tanpa harus mengubah rencana kerja.

23
      2. Konsisten, artinya hal-hal yang telah ditentukan dalam rencana
kerja tersebut harus dapat dipenuhi secara konsisten, seperti
halnya standar prestasi kerja, jumlah personil, waktu yang
diperlukan, biaya, dan lain-lain.
 
      Rencana kerja disusun dalam satu Daerah Kabupaten/Kota per
sumber dana dan harus mendapatkan persetujuan dari Kepala
Kantor Wilayah DJP setempat.
Contoh sistematika Rencana Kerja dapat dilihat pada Lampiran II.
 
    C. Penyusunan Organisasi Pelaksana
Bentuk dan beban organisasi pelaksana erat kaitannya dengan
jumlah objek pajak yang akan di data. Apabila jumlah objek paajk
yang akan didata lebih kecil atau sama dengan 50.000,
pelaksanaannya secara fungsional diserahkan kepada Seksi
Pendataan dan Penilaian pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan setempat dengan penanggung jawab adalah Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan setempat. Demikian
juga untuk jumalah objek pajak yang didata jumlahnya lebih dari
50.000, bentuk dan struktur organisasinya sama dengan ketua tim
yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan dan dilaksanakan secara terpadu oleh seluruh unit
organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.
Untuk kegiatan yang sumber dananya berasal dari dana
APBN/Bantuan Luar Negeri (DIP/Loan) struktur dan bentuk
organisasinya tersendiri. Bentuk dan struktur organisasi, uraian
tugas, dan tanggung jawab akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab
V.
 
Apabila jumlah tenaga pelaksana pada Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan tidak memadai dibandingkan dengan jumlah
objek pajak yang akan didata, maka petugas pendata dapat
diambil dari tenaga lulusan SMU atau STM jurusan
bangunan/mesin. Pengadaan petugas lapangan tersebut dapat
dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
      1. Melalui Departemen Tenaga Kerja setempat, atau
      2. Memanfaatkan tenaga yang ada (Karang Taruna) di
desa/kelurahan setempat.

24
      3. Melalui institusi lain yang bisa dipertanggungjawabkan
kemampuan personilnya.
 
      Hal-hal yang perlu dilaksanakan sehubungan dengan pengadaan
tenaga lapangan sebagaimana dimaksud di atas adalah :
      1. Pemerintahan dan seleksi calon petugas lapangan
      2. Penentuan jadwal dan materi latihan
      3. Pelaksanaan peltihan dan evaluasi hasil pelatihan
      4. Pembuatan surat perjanjian kerja antara petugas lapangan
dengan Kantor Pelayanan PBB
 
      Pelatihan selain diberikan kepada petugas lapangan sebaiknya
juga diberikan kepada pengawas petugas lapangan
 
    D. Pengadaan Sket, Peta Desa/kelurahan, dan Sarana Pendukung
Lainnya
Jenis sket/peta desa/kelurahan disesuaikan dengan alternatif
kegiatan pendataan sebagai berikut :
      1. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pegembalian SPOP
Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP dapat dilakukan dengan bantuan
sket/peta desa/kelurahan yang dapat diperoleh dari instansi
yang berkompeten dalam bidang pembuatan peta, menyalin
sket/peta yang sudah ada, atau sket kasar kasar yang dibuat
oleh petugas pendata.
 
      2. Pendataan dengan identifikasi objek pajak
Peta garis/peta foto dari desa/kelurahan yang akan didata
dapat diperoleh dari instansi yang berkompeten dalam bidang
pembuatan peta, seperti Bakosurtanal, Badan Pertanahan
Nasional, Dinas Tata Kota, BAPPEDA, TOPDAM, atau instansi
lainnya. Skala peta disesuaikan dengan kondisi wilayah dan
dapat ditentukan sebagai berikut :
        a Daerah padat : 1 : 1.000
. (pusat kota)
        b Daerah sedang : 1 : 2.000 atau 1 : 2.500
. (pinggiran kota)
        c. Daerah jarang : 1 : 5.000
(pedesaan)
        Dengan catatan : skala peta dalam satu desa/kelurahan harus

25
sama
 
      3. Pendataan dengan verifikasi data objek pajak
Pengadaan peta dilaksanakan dengan menggandakan peta
desa/kelurahan dan peta rincik yang sudah ada pada Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, sebagai hasil dari
kegiatan pedataan 3 (tiga) tahun terakhir.
 
      4. Pendataan dengan pengukuran bidang objek pajak.
Pengadaan peta dapat diperoleh dari instansi yang
berkompeten dalam pembuatan peta atau membuat sendiri
dengan peralatan yang ada sesuai dengan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak SE-33/PJ.6/1993 tanggal 14 Juni 1993
tentang Petunjuk Teknis Pemetaan PBB. Untuk pembuatan
kerangka peta dan pengukuran OP dengan menggunakan alat
GPS akan diatur dalam surat edaran tersendiri.
 
      Sarana pendukung lainnya untuk melaksanakan pembentukan
basis data antara lain berupa :
      1. Perangkat komputer beserta kelengkapannya
      2. Almari penyimapanan sket/peta dan SPOP/LSPOP
      3. Perlengkapan pekerjaan lapangan
      4. Perlengkapan pekerjaan administrasi/penggambaran
      5. Stiker NOP
      6. Formulir SPOP dan formulir teknis lainnya
      7. Alat tulis kantor
 
    E. Pembuatan Konsep Sket/Peta Desa/Kelurahan
Tahapan pekerjaan dalam pembuatan konsep sket/peta
desa/kelurahan adalah sebagai berikut :
      1. Orientasi lapangan
Kegiatan ini bertujuan untuk mencocokkan keadaan yang
tergambar pada konsep sket/peta desa/kelurahan dengan
keadaan yang sebenarnya di lapangan. Dalam hal terjadi
perubahan detail di lapanagan terutaman detail lapangan yang
akan dijadikan batas blok, maka perubahan tersebut agar
digambarkan pada konsep sket/peta desa/kelurahan. Orientasi
lapangan harus benar-benar dilaksanakan secara teliti guna
mengurangi kemungkinan adanya perubahan batas blok pada
saat pengukuran bidang atau identifikasi objek pajak.

26
      2. Penentuan batas blok
Penentuan batas blok harus memperhatikan karakteristik fisik
yang tidak berubah dalam kurun waktu yang lama, sebagai
contoh dalam hal terdapat jalan raya dan gang, maka yang
ditetapkan sebagai batas blok adalah jalan raya.
 
Batas-batas blok yang telah ditentukan tersebut digambarkan
pada konsep sket/peta kerja, dengan menggunakan legenda
yang telah ditentukan dan berbeda dengan legenda yang
digunakan sebagai batas ZNT. Idealnya satu blok menampung
lebih kurang 200 OP atau luas sekitar 15 hektar. Hal ini untuk
memudahkan pengawasan baik dalam pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data di lapangan maupun dalam pemeliharaan
basis data. Jumlah objek pajak atau luas blok lebih kecil atau
lebih besar dari angka tersebut di atas diperbolehkan apabila
kondisi setempat tidak memungkinkan untuk diterapkan
pembatasan tersebut.
 
      3. Pemberian Nomor Blok
Nomor Blok yang terdiri dari 3 (tiga) digit dimulai dari kiri atas
(barat laut) peta dengan menggunakan angka arah, dan
disusun secara spiral sesuai dengan arah jarum jam.
 
      Untuk menunjang pelaksanaan, aplikasi SIG PBB diusahakan
pegadaan peta yang mempunyai grid dan koordinat. Contoh
sket/peta desa/kelurahan dapat dilihat pada lampiran 12.
 
    F. Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT
Tata cara pembuatan konsep sket/peta ZNT dijelaskan dalam Bab
II butir 2.3.3 huruf A angka 1 tentang Pembuatan Konsep
Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR.
 
    G Penyusunan DBKB
. Tata cara penyusunan DBKB dijelaskan dalam Bab II butir 2.3.3
huruf A angka 2 tentang penyusunan DBKB.
 
    H. Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Instansi lainnya
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan instansi lainnya

27
(misalnya Bappeda, Kantor Pertanahan, Departemen Pekerjaan
Umum, Real Estate Indonesia, dan lain-lain yang diperlukan)
dimaksudkan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan
pembentukan basis data SIMIOP anatara lain :
      1. Penyuluhan kepada masyarakat dan instansi lainnya
mengenai maksud dan tujuan diadakannya kegiatan
pembentukan basis data SISMIOP
      2. Mengadakan keseimbangan penggolongan Nilai Jual Objek
Pajak yang akan dijadikan sebagai dasar pengenaan Pajak
Bumi dan Bangunan, antar wilayah yang berbatasan mulai dari
tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat propinsi;
      3. Meningkatkan peran aktif Tim Intensifikasi Pajak Bumi dan
Bangunan Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota yang
bersangkutan;
      4. Pelatihan petugas lapangan/perangkat desa;
      5. Pembagian tugas dan tanggung jawab pelaksanaan
pendataan.
 
    I. Penyuluhan kepada masyarakat
Kantor BP2RD memberikan penyuluhan kepada masyarakat
tentang rencana kegiatan pendataan objek dan subjek pajak.

 
  1.2. Pekerjaan Lapangan
2  
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pekerjaan lapangan antara lain
adalah :
 
    A Pengumpulan Data Objek Pajak serta Pemberian NOP
.
      1 Pendataan dengan Penyampaian dan pemantauan pengembalian
. SPOP
        a. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP Perorangan
          (i) Dengan menggunakan konsep sket/peta blok, petugas
lapangan bersama-sama dengan aparat desa/kelurahan
setempat membuat sket letak relatif bidang objek pajak
yang ada pada blok yang bersangkutan.
Pada waktu membuat sket letak relatif objek pajak
tersebut, Petugas lapangan memberikan NOP pada setiap

28
bidang objek pajak dan mencatat data objek dan subjek
pajak PBB dari buku induk/Buku C/Register Desa/daftar
ringkas?informasi lainnya pada Daftar Sementara Data
Objek dan Subjek PBB sebagaimana Lampiran 13.
          (ii) Setelah letak relatif objek pajak dalam satu
desa/kelurahan selesai dibuat, Petugas Lapangan
bersama –sama dengan aparat desa/kelurahan
mengidentifikasikan batas RT/RW atau yang setingkat
dengan itu, dan selanjutnya menyampaikan SPOP dan
stiker NOP kepada para Ketua RT/RW sebanyak jumlah
objek pajak yang ada di wilayahnya untuk disampaikan
kepada subjek pajak yang ada bangunannya.
          (iii) Petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah diisi
dengan jelas benar dan lengkap serta ditandatangani oleh
subjek pajak atau kuasanya melalui para ketua RT/RW
yang bersangkutan.
Pada konsep sket/peta blok diberi tanda apakah SPOP
yang disampaikan kepada wajib pajak tersebut di atas
sudah atau belum dikembalikan.
          (iv) Bila dalam suatu blok terdapat objek pajak yang bernilai
tinggi/mempunyai karakteristik objek khusus, dilakukan
penilaian individual.
 
        b. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP Kolektif.
Pada dasarnya, pendataan dengan alternatif ini dilaksanakan
dengan tata cara yang sama seperti pendataan dengan
penyebaran SPOP Perorangan. Hal-hal yang harus diperhatikan
adalah :
          (i) Data objek dan subjek pajak yang telah disusun,
disesuaikan dengan keadaan lapangan dan diisikan ke
dalam SPOP Kolektif sesuai dengan urutan NOP (Contoh
formulir SPOP Kolektif sebagaimana Lampiran 3).
          (ii) Pemberian NOP pada objek pajak dilakukan tanpa
penempelan stiker NOP.
          (iii) Data rinci setiap bangunan dimasukkan ke dalam LSPOP
Kolektif sesuai urutan NOP.
          (iv) Apabila di dalam blok terdapat objek pajak yang bernilai
tinggi/mempunyai karakteristik objek khusus, pengisian

29
SPOP menggunakan SPOP Perorangan dan dilakukan
Penilaian Individual.
 
      2 Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak
.
        a. Dengan menggunakan konsep peta blok, petugas lapangan
mengadakan identifikasi batas-batas objek pajak. Terhadap
objek pajak yang tidak dapat diidentifikasikan batasnya,
petugas lapangan melakukan pengukuran sisi objek pajak.
Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak.
Setelah selesai mengidentifikasikan bidang objek pajak,
langsung diberi NOP atas bidang objek pajak tersebut dan
ditempel stiker NOP untuk objek pajak yang ada bangunannya.
Selanjutnya petugas lapangan mengisikan data objek dan
subjek pajak pada SPOP.
        b. Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan
mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya.
Dalam hal pada saat itu, SPOP belum dapat dikonfirmasikan
kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya, maka
dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat
desa/kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk
diteruskan kepada subjek pajak yang bersangkutan.
Penyerahan SPOP dimaksud disertai denan tanda terima
SPOP.
        c. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau
kuasanya.
 
      3 Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak
.
        a. Peta blok yang telah diisi dengan batas-batas bidang objek
pajak hasil plotting/foto copy dari peta rincik, pada masing-
masing bidang objek pajaknya diberi nama subjek pajak sesuai
yang terdapat dalam buku rincik.
        b. Dengan menggunakan peta blok sebagaimana dimaksud pada
butir a, petugas lapangan mengadakan penempelan Stiker
NOP untuk objek pajak yang ada bangunannya sekaligus
meneliti apakah ada perubahan data.

30
        c. Dalam hal terjadi Perubahan data, maka petugas melakukan
kegiatan mulai dari identifikasi dan pengukuran objek pajak
sampai dengan mengisi SPOP sesuai dengan data yang
sebenarnyadan mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya. Dalam hal SPOP belum dapat
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau
kuasanya, maka dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan
kepada aparat desa/kelurahan atau pihak lain yang
berkompeten untuk diteruskan kepada subjek pajak yang
bersangkutan disertai dengan tanda terima SPOP.
Dalam hal tidak terjadi perubahan data, maka petugas
lapangan mengisi SPOP dengan menyalin data yang sudah
ada pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan serta
mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya.
        d. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau
kuasanya.
 
      4 Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak
.
        a. Dengan menggunakan konsep sket/peta blok, petugas
lapangan mengadakan pengukuran batas-batas objek pajak
sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE-38/PJ.6/1993 tanggal 30 Juni 1993 tentang Petunjuk Teknis
Pengukuran dan Identifikasi Objek PBB.
Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak.
Setelah selesai mengukur satu bidang objek pajak, langsung
diberi NOP atas bidang objek pajak tersebut dan ditempel
stiker NOP bagi objek pajak yang ada bangunannya.
Selanjutnya petugas lapangan mengisikan data objek dan
subjek pajak pada SPOP.
        b. Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan
mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya.
Dalam hal SPOP belum dapat dikonfirmasikan kepada subjek
pajak yang bersangkutan atau kuasanya, maka dibuatkan
salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat desa/kelurahan

31
atau pihak lain yang berkompeten untuk diteruskan kepada
subjek pajak yang bersangkutan. Penyerahan SPOP,
dimaksud disertai dengan tanda terima SPOP.
        c. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau
kuasanya.
 
    B Penyerahan Hasil Pekerjaan Lapangan
.
      1 Petugas lapangan mengadakan penelitian terhadap SPOP hasil
. pendataan, dan selanjutnya diberi kode ZNT sesuai dengan
letaknya.
      2 Penelitian SPOP dan pemberian kode ZNT tersebut di atas
. dibuatkan Daftar Penjagaannya.
Contoh formulir Daftar Penjagaan dapat dilihat pada Lampiran 14.
      3 Penyerahan hasil pekerjaan lapangan berupa SPOP dan net
. konsep sket/peta blokkepada Petugas Pengawas Lapangan, harus
dibuatkan tanda terima. Selanjutnya Pengawas meneliti hasil
pekerjaan lapangan dan menandatanganinya.
      4 Untuk SPOP Kolektif, sebelum diserahkan kepada pengawas
. petugas lapangan, data hasil pendataan terlebih dahulu
dikonfirmasikan kepada Kepala Desa. Penyerahan tersebut disertai
dengan tanda terima penyerahan sebagaimana Lampiran 15.
      5 Secara hirarki, Pengawasan Petugas Lapangan meneruskan hasil
. pekerjaan lapangan yang diterimanya dari petugas Lapangan
kepada pejabat yang ditunjuk untuk diproses lebih lanjut.
 
    C Penelitian Hasil Pekerjaan Lapangan
.
      1. Penelitian SPOP
        a. Penelitian ini dimaksud agar butir yang ada dalam SPOP diisi
dengan jelas, benar, lengkap, serta ditandatangani oleh
pihak-pihak yang bersangkutan.
        b. Dalam hal pengisian tersebut belum memenuhi syarat
sebagaimana yang telah ditentukan, agar dikembalikan
kepada petugas lapangan untuk dilengkapi.
        c. Selain itu SPOP dicocokkan dengan sket/peta blok/ZNT agar
data atributik yang telah dicatat pada SPOP sesuai dengan
data grafisnya (posisi relatifnya pada sket/peta blok)
        d. Untuk SPOP Kolektif setelah selesai pelaksanaan
pengumpulan data perlu diadakan verifikasi hasil pekerjaan

32
Lapangan oleh petugas Kantor Pelayanan PBB dengan
didampingi Kepala Desa/perangkat desa/pemuka
masyarakat/wajib pajak.
Kegiatan verifikasi lapangan meliputi :
          (i) Mencocokkan nama wajib pajak, data objek dan subjek
pajak termasuk rincian data dalam LSPOP Kolektif;
          (ii Mencocokkan letak relatif objek pajak pada konsep
) sket/peta blok dan batas ZNT;
          Apabila terjadi perubahan/kesalahan data, petugas verifikasi
lapangan segera melakukan perbaikan data dan
menandatanganinya dengan sepengetahuan Kepala Desa.
Hasil pelaksanaan verifikasi lapangan dituangkan dalam
formulir sebagaimana Lampiran 16.
 
      2. Penelitian Net Konsep Sket/peta Blok dan Net Konsep Sket/Peta
ZNT
        a. Penelitian ini dimaksudkan agar net konsep sket/peta blok
yang dibuat telah memenuhi spesifikasi teknis yang
ditentukan, seperti halnya penulisan NOP, penentuan batas
blok, ukuran peta, skala peta, legenda, dan keterangan-
keterangan lain yang diperlukan untuk pembuatan sket/peta
blok.
        b. Selanjutnya penelitian ini juga dimaksudkan agar net konsep
sket/peta ZNT tersebut telah dibuat sesuai dengan spesifikasi
teknis yang ditentukan, seperti halnya penentuan batas ZNT,
pencantuman kode ZNT, penulisan NIR, dan keterangan-
keterangan lain yang diperlukan untuk pembuatan sket/peta
ZNT.
 
      3. Penyempurnaan NIR dan ZNT
Jika berdasarkan hasil pekerjaan lapangan diperoleh data pasar
baru serta diketahui bahwa batas ZNT yang terdapat dalam
sket/konsep peta ZNT mengalami perubahan, maka NIR beserta
sket/konsep peta ZNT dapat diubah berdasarkan data baru
tersebut. Pekerjaan penyempurnaan NIR dan ZNT sebagaimana
dimaksud di atas, selain dilaksanakan dalam satu paket dengan
kegiatan pembentukan basis data SISMIOP, dapat juga
dilaksanakan secara tersendiri serta merupakan kegiatan rutin
setiap tahun dalam upaya penyempurnaan ZNT/NIP untuk

33
menentukan penggolongan NJOP bumi.

 
  1.2. Pekerjaan Kantor
3  
    A Penelitian Data Masukan
. Penelitian ini dimaksudkan agar pengisian SPOP dan formulir data
harga jual diisi dengan benar, jelas, dan lengkap serta
ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Sedangkan
net konsep/peta blok digambar sesuai dengan petunjuk teknis
pengukuran dan identifikasi objek pajak bumi dan bangunan. Dalam
hal pengisian/penggambaran tersebut belum memenuhi syarat,
maka data masukan tersebut harus dikembalikan kepada petugas
yang bersangkutan.
 
    B Pembendelan SPOP dan formulir-formulir data pasar
.
      1. SPOP
        a Pembendelan SPOP dan data pendukungnya penting sekali
. untuk memudahkan penyimpanan dan pencarian kembali
apabila diperlukan. Cara sederhana namun efektif adalah
dengan memasang nomor pengenal di setiap formulir SPOP
yang dijid dalam setiap bendel yang berisi kira-kira 100
objek pajak.
        b Pembendelan SPOP tidak harus dikelompokkan
. berdasarkan kriteria tertentu (misalnya per blok) tetapi dapat
dibendel secara acak karena karena pengenalan dan lokasi
setiap formulir SPOP secara mudah dapat dicari dengan
menggunakan komputer.
        c. Setiap bendel SPOP diberi nomor yang unik, terdiri atas
enam digit dengan sistematika sebagai berikut :
          (i) Dua digit pertama menyatakan tahun pendataan
          (ii) Empat digit selanjutnya merupakan nomor bendel
          Contoh : 97.0001, 97.0125, 97.1450, dst.
          Nomor bendel ini dapat ditulis atau dicetak, kemudian
ditempatkan pada sudut kanan atas halaman muka dan
samping kiri ketebalan bendel.
        d Setiap formulir SPOP yang ada pada setiap bendel diberi
. nomor berurutan pada sudut kanan atas yang terdiri atas
sembilan digit. Enam digit pertama menyatakan nomor
bendel sebagaimana dimaksud pada huruf c, sedangkan

34
tiga digit terakhir menyatakan nomor lembar SPOP dan
lampirannya.
          Contoh : 97.0125.001, 97.0125.002, 97.0125.003, dst.
            : 97.0126.001, 97.0126.002, 97.0126.003, dst.
          Penjilidan bendel sebaiknya menggunakan kertas karton
tipis yang ditutup dengan plastik untuk melindungi dari debu
dan memperlambat kerusakan.
 
      2. Formulir-formulir data pasar
Formulir data pasar terdiri dari Formulir Data Harga Jual,
Formulir Pengumpulan Data Tanah, Formulir Pengumpulan
Data Transaksi, dan Daftar Upah Pekerja, Harga Bahan
Bangunan, dan Sewa Alat. Untuk memudahkan menemukan
kembali apabila diperlukan, pembendelan formulir data pasar
disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing. Untuk
pemeliharaan basis data, pembendelan SPOP dan formulir-
formulir data pasar dapat dilakukan setelah perekaman data.
 
    C Perekaman Data
.
      1. Perekaman ZNT dan DBKB
Perekaman ZNT dilakukan dengan memasukkan kode masing-
masing ZNT beserta NIR-nya ke dalam komputer.
Perekaman DBKB dilakukan dengan memasukkan harga
bahan bangunan dan upah pekerja dari setiap wilayah Daerah
Kabupaten//Kota ke dalam komputer. Perekaman ZNT dan
DBKB harus dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan
perekaman SPOP.
 
      2. Perekaman SPOP
        a SPOP yang sudah dibendel diserahkan kepada masing-
. masing Operator Date Entry untuk direkam ke dalam
komputer. Proses penerimaan dan perekaman SPOP
dikoordinir oleh Operator Console.
        b Perekaman data dilaksanakan setiap hari, dan apabila
. jumlah yang akan direkam cukup banyak, perekaman dapat
dilaksanakan siang dan malam. Untuk itu perlu dibuatkan
jadwal penugasan Operator Data Entry.
 
    D Pengawasan Kualitas Data

35
.
      1. Validasi DHR
        a Kegiatan ini dimaksudkan untuk memeriksa kebenaran
. perekaman data dari SPOP ke dalam komputer yang
dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh pejabat yang
berwenang.
        b Petugas Pemeriksa memberi tanda dengan warna tertentu,
. misalnya merah, atas setiap kesalahan yang ditemui dalam
DHR.
        c. Petugas pemeriksa membuat Daftar Hasil Pemeriksaan
DHR yang memuat nomor urut, NOP, jenis kesalahan, dan
keterangan lainnya Daftar tersebut ditandatangani oleh
petugas pemeriksa dan diserahkan kepada petugas
perekam data melalui Kepala Seksi Pengolahan Data dan
Informasi.
Contoh formulir Daftar Hasil Pemeriksaan dapat dilihat pada
Lampiran 17.
        d Hasil Pemeriksaan tersebut dijadikan bahan untuk
. membetulkan kesalahan yang terjadi dalam perekaman
data.
        e Bahan yang dijadikan acuan dalam pemeriksaan DHR
. adalah SPOP, peta blok, dan peta ZNT yang bersangkutan.
        f. Validasi hasil rekaman dapat juga dilaksanakan tanpa
melalui hasil cetakan (hard copy) DHR, yaitu langsung dari
SPOP ke layar komputer (screen). Kegiatan tersebut
dilakukan oleh bukan petugas yang merekam data dari
desa/kelurahan yang sedang divalidasi, tetapi harus
dilakukan oleh petugas lain.
 
      2. Penggunaan Hasil Validasi
        a Mencocokkan SK Kepala Kantor Wilayah DJP dengan peta
. ZNT, untuk mengetahui kebenaran dan kesamaan kode ZNT
dan NIR yang ada pada Lampiran SK Kepala Kantor
Wilayah tersebut yang tidak tercatat pada peta ZNT.
        b Mencocokkan jumlah objek pajak yang telah direkam
. dengan objek pajak yang terdapat di lapangan/peta blok.
        c. Mengetahui objek-objek, pajak yang tidak
dikenakan/dikecualikan dan pengenaan pajak, agar tidak
diterbitkan SPPT atas objek dimaksud.
        d Mengetahui objek-objek janggal untuk diteliti ulang.
.  

36
    E. Penyimpanan Bendel
 
Bendel-bendel SPOP dan formulir-formulir data pasar yang telah
direkam ke dalam komputer, disimpan pada rak bertingkat dan
terbuka yang dapat dicapai dari dua sisi dengan jarak antar rak
kira-kira 45 cm. Letak bendel-bendel SPOP dalam rak disusun
sesuai dengan urutan nomor bendel, sehingga memudahkan
penempatan dan pencarian kembali apabila diperlukan (terutama
apabila ada wajib pajak yang mengajukan keberatan).
 
Penatausahaan bendel-bendel SPOP dan Bendel formulir-formulir
data pasar dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.
 
    F. Pembuatan dan Penyimpanan Sket/Peta
 
      1 Pembuatan Sket/Peta Blok
. Petugas lapangan setiap hari menggambar hasil ukuran di
lapangan pada net sket/peta blok (pada milimeter blok) per
bidang objek pajak. Yang digambarkan pada peta blok, selain
batas penguasaan/pemilikan tanah (dengan garis tegas), juga
batas bidang bangunan (dengan garis putus-putus). Petugas
gambar memindahkan sket/peta blok dari milimeter blok ke
drafting film sesuai dengan Petunjuk Teknis Pemetaan PBB.
Sket/peta blok yang sudah selesai digambar kemudian
dilichtdruk/fotocopy. Selanjutnya pada peta blok hasil
lichtdruk/fotocopy tersebut digambar/ditegaskan batas ZNT yang
ada dalam blok serta kode dari ZNT yang bersangkutan. Contoh
sket/peta blok dapat dilihat pada Lampiran 18.
 
Untuk menunjang pelaksanaan aplikasi SIG PBB diusahakan
pengadaan peta yang mempunyai grid dan koordinat.
 
      2 Pembuatan Sket/Peta Desa/Kelurahan
. Sket/peta desa/kelurahan dibuat berdasarkan sket/peta blok
yang ada pada drafting film/kalkir dengan cara menggambar
batas bloknya. Yang perlu diperhatikan dalam penggambaran
sket/peta desa/kelurahan adalah pada waktu penyesuaian

37
batas-batas blok. Detail yang digambar pada peta
desa/kelurahan adalah jaringan jalan, sungai, batas wilayah
administrasi pemerintahan, dan batas blok. Tata cara
pembuatan sket/peta desa/kelurahan dapat dilihat pada
Petunjuk Teknis Pemetaan PBB.
Untuk menunjang pelaksanaan aplikasi SIG PBB diusahakan
pengadaan peta yang mempunyai grid dan koordinat.
 
      3 Pembuatan Peta Digital
. Pekerjaan pembuatan peta digital untuk keperluan aplikasi SIG
PBB dapat dilakukan sepanjang sarana dan prasarana
pendukung telah tersedia. Petunjuk mengenai standarisasi Peta
Digital akan diatur dalam aturan tersendiri. Adapun pelaksanaan
selengkapnya dapat dilihat pada Bab II butir 2.4. tentang Sistem
Informasi Geografi PBB.
 
      4 Pembuatan Sket/peta ZNT
. Tata cara pembuatan konsep sket/peta ZNT dijelaskan dalam
Bab II butir 2.3.3 huruf A angka 1 tentang Pembuatan Konsep
Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR.
 
      5 Penyimpanan Sket/peta ZNT
.
        a. Sket/peta yang digambar di atas drafting film/kalkir disimpan
di dalam lemari gantung peta yang dapat memuat segala
jenis sket/peta. Pada kanan atas gantungan sket/peta diberi
indeks yang diambil dari kode wilayah sesuai dengan jenis
sket/peta yang bersangkutan. Apabila sket/peta tersebut
terdiri atas lebih dari satu lembar, di belakang kode wilayah
dimaksud diberi tanda jumlah lembar.
 
        b. Sistematika indeks sket/peta ditentukan sebagai berikut :
          (i) Sket/peta desa/kelurahan dan ZNT
             
            00.00.000.000.(00)  
                         
                        Nomor Lembar Sket/Peta
                        Kode Desa/Kelurahan
                        Kode Kecamatan
                        Kode Daerah Kabupaten/Kota
                        Kode Daerah Propinsi
               

38
          (ii)
Sket/peta blok  
            00.00.00.000.000.(00)  
                           
                         
Nomor Lembar Sket/Peta
                          Nomor Blok
                          Kode Desa/Kelurahan
                          Kode Kecamatan
                          Kode Daerah Kabupaten/Kota
                          Kode Daerah Propinsi
               
        c. Khusus pada penyimpanan sket/peta blok, setiap gantungan
sket/peta blok lembar pertama ditempel karton berwarna
bertuliskan indeksnya sebagai penunjuk, batas setiap
desa/kelurahan. Pada setiap gantungan sket/peta blok
lembar pertama untuk kelurahan dalam setiap kecamatan,
ditempel karton berwarna lain yang bertuliskan sket/peta
tersebut sebagai batas dari setiap kecamatan.
        d. Sket/peta yang disimpan tersebut di atas agar dibuatkan
buku penjagaannya untuk mengetahui jenis dan jumlah
lembar sket/peta yang ada.
        e. Sket/peta blok hasil lichtdruk/fotocopy dibendel per
desa/kelurahan, serta disimpan pada lemari peta yang cocok
untuk itu. Peta ini merupakan peta kerja bagi setiap
keperluan administrasi PBB. Perubahan data grafis pada
peta ini dilaksanakan oleh petugas khusus yang ditunjuk
Kepala Kantor Pelayanan PBB.
 
      Pemutakhiran Data
 
Selama dalam proses pembentukan basis data dimungkinkan
terjadi perubahan objek pajak, subjek pajak, atau zona nilai tanah.
Setiap terjadi perubahan harus dilaporkan secara hirarkis sesuai
dengan rentang kendali pengawasan.
Dalam hal terjadi perubahan sebagaimana dimaksud di atas, maka
pemutakhiran datanya dapat dilaksanakan sebagai berikut :
 
      1 Perubahan Data Objek Pajak
.
        a. Perubahan data objek pajak dapat terjadi antara lain karena
perubahan nama subjek pajak, kesalahan dalam pengukuran
objek pajak, pemecahan atau penggabungan bidang objek

39
pajak.
        b. Setiap terjadi perubahan data objek pajak khususnya
perubahan yang berhubungan dengan karakteristik objek
pajak, agar dibuatkan SPOP. Untuk membedakan dengan
SPOP yang telah dibuat terdahulu atas objek pajak yang
berubah, maka pada SPOP tersebut diberi tanda
“PERBAIKAN”. Pemberian tanda dimaksud dapat ditulis
tangan atau dicap.
        c. Khususnya perubahan data objek pajak karena adanya
pemecahan bidang harus disertakan informasi grafisnya.
Dalam hal tidak disertai dengan informasi grafisnya, maka
perlu diadakan peninjauan ke lapangan. Hal ini sangat
diperlukan guna menentukan NOP bagi pecahan bidang
objek pajak dimaksud.
        d. Setelah diteliti seperlunya, maka SPOP yang diberi tanda
“PERBAIKAN” tersebut dibendel secara khusus dan
selanjutnya diadakan pemutakhiran datanya pada komputer.
        e. Pemutakhiran data yang menyangkut data karakteristik objek
pajak dilakukan per bidang objek pajak.
 
      2 Perubahan NIR dan/atau kode ZNT
.
        a. Setiap perubahan NIR agar dibuatkan daftar perubahannya
sebagaimana Lampiran 19. Dalam daftar perubahan tersebut
dicatat kode ZNT-nya, NIR lama, dan NIR yang baru.
        b. Apabila terjadi perubahan NIR yang mengakibatkan
perubahan batas ZNT, maka disamping dibuat daftar
perubahan sebagaimana dimaksud dalam butir (a), juga
dibuatkan daftar perubahannya dalam Formulir Pemutakhiran
Kode Zona Nilai Tanah. Dalam daftar tersebut, dicatat NOP-
NOP yang termasuk dalam ZNT lama maupun yang baru.
Contoh Formulir Pemutakhiran Kode Zona Nilai Tanah dapat
dilihat pada Lampiran 20.
        c. Setelah diteliti seperlunya, maka daftar-daftar sebagaimana
dimaksud huruf (a) dan (b) di atas di bendel, dan selanjutnya
diadakan pemutakhiran data pada komputer.
         
Perubahan data lainnya, misalnya penulisan nama jalan dan
sebagainya, dapat dilaksanakan pada DHR yang diterbitkan
sehubungan dengan standarisasi nama jalan atau persiapan

40
pembuatan Lampiran Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak tentang klasifikasi NJOP.
 
Setiap terjadi perubahan khususnya yang menyangkut
perubahan NOP dan ZNT, selain diadakan pemutakhiran
datanya pada komputer, juga diadakan perubahan pada peta-
peta yang berkaitan dengan perubahan-perubahan dimaksud.
 
    H Produk Keluaran
.
      1 Peta Blok manual dan/atau Digital
.
      2 Peta Desa/Kelurahan Manual dan/atau Digital
.
      3 Peta ZNT
.
      4 DHR yang divalidasi
.

2.1.3 PEMELIHARAAN BASIS DATA PETA DIGITAL


 
Untuk suatu wilayah administrasi pemerintahan tertentu yang telah berbasis
data SISMIOP dan mempunyai peta garis (data grafis), tetapi belum
menerapkan SIG PBB. Dispenda dapat mengkonversi peta garis tersebut
menjadi peta digital sebagai salah satu tahapan aplikasi SIG PBB.
Pelaksanaan selengkapnya dapat dilihat pada Bab II butir 2.4. tentang
Sistem Informasi Geografis PBB.
 
Bagi Dispenda yang telah melaksanakan aplikasi SIG PBB, data grafis peta
digital yang ada harus diadakan pemutakhiran dan penyesuaian dengan
keadaan di lapangan.
 
Kegiatan pemeliharaan basis data di atas, dapat dilakukan secara sendiri-
sendiri ataupun kombinasi dari ketiga kegiatan tersebut.
 
Jika data grafis yang ada tidak dimungkinkan dilakukan verifikasi data objek
pajak makan dapat dilakukan pendataan dengan pengukuran bidang objek
pajak, baik skala kecil (untuk jumlah OP ≤ 50.000) atau skala besar
(untukjumlah OP > 50.000). Dengan catatan NOP tetap seperti semula

41
kecuali untuk objek pajak baru.

Pada garis besarnya, Sistem Informasi Geografis (SIG) PBB berintikan pada
pekerjaan pembuatan peta digital berkoordinat global yang mengacu pada
Datum Geodetik Nasional 1995 (ellipsoid World Geodetic System 1984).
Untuk mendapatkan peta dengan kriteria tersebut, dapat dilakukan konversi
peta garis ke peta digital melalui scanning peta dengan registrasi
menggunakan titik ikat hasil pengukuran dengan peralatan Global
Positioning System (GPS) atau menggunakan citra satelit yang telah
diregistrasi dan direktifikasi. Pembentukan SIG PBB nantinya tidak hanya
mencakup sektor pedesaan dan perkotaan tetapi juga sektor perkebunan,
perhutanan dan pertambangan.

 Tahapan pembentukan SIG PBB dengan scanning peta garis secara rinci adalah

sebagai berikut :

 1.3. PEKERJAAN PERSIAPAN


1 Pekerjaan persiapan mencakup pekerjaan sebagai berikut :
 
  A Penelitian pendahuluan yang ditujukan untuk mengumpulkan dan
mempersiapkan dokumen-dokumen administrasi yang berkaitan dengan
pembentukan basis data digital objek pajak,
  B Penyusunan rencana kerja, bertujuan untuk menyiapkan organisasi
pelaksana, penetapan spesifikasi teknis dan jadwal pelaksanaan. Hal-hal
yang tercakup dalam rencana kerja ini meliputi :
    1. Sasaran dan volume pekerjaan
    2. Tujuan pekerjaan
    3. Penetapan personel pelaksana pekerjaan
    4. Tahapan dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
    5. Biaya yang diperlukan
    6. Hasil akhir yang diharapkan
  C Pengumpulan peta-peta yang telah ada dan data-data yang terkait dari
instansi yang berkompeten akan digunakan untuk penentuan titik ikat
dan sebagai pembanding dalam proses pengolahan data/peta, antara
lain :
    1. Koordinasi dengan Bakorsutanal, untuk memperoleh data informasi
rinci koordinat titik ikat JKHN (Jaring Kontrol Horizontal Nasional)
orde 0 dan orde 1 serta peta dasar digital skala 1 : 10.000 atau skala
1 : 25.000;
    2. Koordinasi dengan BPN, untuk memperoleh peta digital pendaftaran
tanah; data rinci titik ikat GPS orde 2 dan orde 3, peta-peta tata guna

42
lahan; serta peta Hak Milik, Hak Guna Usaha dan lain-lain dari objek
pajak yang akan diukur. Peta ini biasanya berupa lampiran dari Surat
Ukur atau Gambar Situasi dari Sertifikat Hak Penggunaan yang
diberikan,
    3. Koordinasi dengan TOPDAM, untuk memperoleh data dan peta
topografi wilayah objek pajak yang akan diukur dalam skala 1 :
50.000 hingga skala 1 : 25.000. Dari instansi ini juga bisa diperoleh
data-data mengenai titik-titik triangulasi (koordinat) yang terletak pada
(di dekat) areal objek pajak;
    4. Peta lamipran dari Ijin Prinsip dari Gubernur yang berupa peta batas
perkebunan, dan perhutanan, dan pertambangan dari instansi terkait
di daerah setempat;
    5. Peta situasi perkebunan, perhutanan, dan pertambangan dari objek
pajak yang berguna untuk melengkapi hasil pengukuran lapangan;
    6. SPOP wajib pajak sektor perkebunan, perhutanan, dan
pertambangan pada tahun-tahun sebelumnya;
    7. Penyiapan citra satelit mencakup proses registrasi dan rektifikasi
sebagai dasar penyusunan kerangka peta wilayah;
    8. Pengukuran Titik Dasar Teknik dengan alat GPS untuk titik ikat peta;
    9. Pelatihan petugas untuk pengolahan data dan pencetakan peta
digital.
 
  D Persiapan Peta Blok
Pada tahapan ini dilakukan seleksi kualitas terhadap peta-peta yang bisa
langsung dikerjakan, perlu diperbaiki atau peta-peta yang secara teknis
tidak dapat digunakan sama sekali. Tahapan pekerjaaan ini antara lain :
    1. Pembuatan lay out peta blok yang dimaksudkan untuk pengecekan
ketepatan sambungan antar blok dan kelengkapan data masing-
masing blok pada tiap-tiap desa/kelurahan. Jika ada ketidakcocokan
batas antar blok tersebut maka dilakukan koreksi terhadap kesalahan
yang ditemui, dengan cara melakukan penggambaran tambahan
terhadap peta yang kurang lengkap ataupun rekonstruksi gambar
peta yang kurang tepat antar batas-batas bloknya. Peta-peta blok
yang digabungkan dalam lay out harus dapat membentuk satu peta
desa/kelurahan.
    2. Penambahan gambar bidang, NOP, gambar bangunan dan nomor
bangunan apabila di dalam peta blok belum ada gambar bidang
dan/atau bangunan terbaru dan disesuaikan dengan data yang ada di
basis data SISMIOP.
    3. Persiapan lembar peta blok perlu di layout pada lembar kontrol dasar

43
mozaik peta gambar kontrol. Tujuannya untuk membatasi kesalahan
dan menentukan arah atau jurusan detail-detail pokok dalam peta
blok, peta kelurahan/desa dan peta kecamatan.
    4. Revisi peta blok dilakukan apabila detail peta blok yang gambarnya
tidak sesuai dengan gambar batas atau gambar detail pada lembar
kontrol. Layout peta blok ini harus meliputi satu wilayah kelurahan
utuh, selanjutnya masing-masing kelurahan harus dapat digabung
menjadi satu wilayah kecamatan utuh dan seterusnya. Setelah layout
masing-masing lembar peta blok selesai bari dilakukan scanning atau
digitasi secara manual.
 
1.3.2 PEKERJAAN SCANNING PETA
 
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengubah peta garis ke dalam format
raster. Peta yang direkam adalah peta blok karena merupakan unit terkecil
dari peta-peta yang ada. Perekaman peta blok ke komputer dapat
dilakukan dengan cara scanning menggunakan scanner format besar
(large scale scanner).
 
1.3.3 PEKERJAAN EDITING PETA RASTER
 
Editing data raster merupakan bagian penting dalam pekerjaan pembuatan
basis data peta digital dengan metode digitasi on screen. Peta hasil
scanning diolah sedemikian rupa melalui berbagai proses pembersihan,
pemotongan, dan penggabungan sampai peta siap untuk diregister.
 
Pembersihan raster adalah membersihkan peta dari bercak (spekle) yang
masuk scanning, karena satu titik pada data raster dihitung sebagai satu
record dalam besaran pixel yang mempengaruhi besarnya file raster dan
kecepatan proses pada aplikasi yang membuka file tersebut, dengan kata
lain semakin besar ukuran file, kecepatan aplikasi memproses file semakin
menurun.
 
Pemotongan raster adalah membersihkan bagian peta blok seperti legenda
dan keterangan peta blok, karena bagian tersebut tidak diperlukan dalam
penggabungan raster peta blok sehingga raster tersebut siap digabungkan.
 
Penggabungan raster diperlukan untuk peta blok yang lebih dari satu

44
lembar dan penyambungan antar peta blok. Peta blok digabung sehingga
menjadi satu kesatuan kelurahan kemudian baru diregister, hal ini
dilakukan untuk memperkecil kesalahan pada saat register dan
meningkatkan efisiensi pekerjaan.
 
1.3.4 PEKERJAAN REGISTRASI PETA
 
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengubah peta blok yang telah direvisi
menjadi peta digital yang berkordinat global. Registrasi peta adalah salah
satu metode transformasi koordinat yang dilaksanakan melalui proses
pemberian koordinat pada suatu peta yang tidak berkoordinat bumi (non
earth) sehingga peta tersebut mempunyai koordinat bumi. Peta blok hasil
scanning perlu diregistrasi karena koordinat peta hasil scanning masih
berupa koordinat pixel berupa baris dan kolom sehingga registrasi peta
adalah transformasi dari sistem koordinat pixel ke dalam sistem koordinat
peta tertentu. Pekerjaan register peta berupa pemberian titik koordinat ikat
terhadap masing-masing peta blok minimal 4 titik yang mewakili peta
dengan ketentuan register sebagai berikut :
 
  1. Projection
Proyeksi Universal Tranverse Mercator (WGS 84) dengan zona
disesuaikan dengan lokasi kegiatan.
  2. Units
Units : meter
 
  Metode yang dapat digunakan dalam registrasi peta adalah :
  1. Registrasi titik ke titik (point to point). Metode ini digunakan jika dalam
peta yang akan ditransformasikan diketahui/tergambar lokasi titik-titik
yang dapat dijadikan titik sekutu, dan titik tersebut diketahui
koordinatnya;
  2. Registrasi peta ke titik (map to point). Metode ini digunakan jika
diketahui koordinat beberapa titik sekutu yang walaupun tidak
tergambar dalam peta yang akan ditransformasikan, tetapi lokasi titik
tersebut dapat diidentifikasikan;
  3. Registrasi peta ke peta (map to map). Metode ini digunakan jika tidak
diketahui koordinat titik-titik yang dapat dijadikan titik sekutu tetapi
tersedia peta garis, peta foto, atau peta citra untuk wilayah yang sama
dengan peta akan ditransformasikan. Transformasi ini sama dengan
proses overlay antara dua peta pada wilayah yang sama.

45
 
1.3.5 PEKERJAAN EDITING RASTER PETA BLOK
 
Editing data raster dimaksudkan untuk merubah data raster peta blok hasil
scanning menjadi data vektor yang dilakukan dengan cara digitasi pada
layar (screen) secara manual dimana data vektor ini harus dibuat sesuai
dengan format yang akan dipakai untuk keperluan SIG PBB pada
perangkat lunak. Mapinfo yang merupakan perangkat lunak pembentuk
basis data SIG PBB.
Proses ini dapat dilaksanakan melalui dua macam cara :
  1. Vektorisasi, dengan memanfaatkan perangkat lunak pengolah data
raster langsung menjadi data vektor dalam bentuk titik (point), garis
(line), dan luasan (area). Hasil vektorisasi kemudian diekspor dalam
format tertentu sehingga dapat diolah dalam perangkat lunak MapInfo.
  2. Digitasi on screen, yaitu proses digitasi di atas layar monitor
komputer.
Data raster hasil proses scanning diubah menjadi data vektor dengan
cara digitasi “on screen). Proses digitasi ini menggunakan perangkat
lunak Mapinfo. Setiap bidang dilakukan digitasi satu persatu dan
kemudian diberikan informasi NOP sesuai dengan bidang yang
bersangkutan. Selanjutnya gambar-gambar lain yang tersedia pada
data raster dilakukan digitasi dan dipisahkan sesuai dengan layer yang
telah ditentukan.
 
1.3.6 PEKERJAAN LAYERING
 
Layering adalah pekerjaan untuk membentuk bagian peta digital berupa
layer-layer sehingga dapat berbentuk peta digital secara utuh dan lengkap.
Layer yang dibuat untuk peta digital SIG PBB sebanyak 10 (sepuluh) layer
yaitu :
  1. Layer bidang milik/tanah (layer bidang)
  2. Layer batas bangunan (layer bangunan)
  3. Layer batas wilayah dan utilitas yang terdiri dari :
    a. layer jalan
    b. layer sungai
    c. layer teks
    d. layer simbol
    e. layer batas blok
    f. layer batas kelurahan
    g. layer batas kecamatan
    h. layer batas kabupaten/kota
 

46
  Pembuatan bagian bidang milik/tanah (layer bidang) telah dilakukan
dengan cara vektorisasi atau digitasi on screen sedangkan layer lainnya
dibuat setelah pembuatan layer bidang selesai. Setelah pembuatan layer-
layer peta digital kemudian dilakukan pekerjaan sebagai berikut :
  a. Pemberian NOP untuk tiap-tiap bidang tanah.
  b. Pemberian NOP berikut nomor bangunan pada tiap-tiap bangunan.
  c. Pemberian identitas pada tiap-tiap layer utilitas.
 
  Pedoman pemberian nama file digital dan pembuatan layer digital mengacu
pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-533/PJ./2000
tanggal 20 Desember 2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran,
Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan
dalam Rangka Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data Sistem
Informasi Manajemen Objek Pajak (SISMIOP).
 
1.3.7 PEKERJAAN CHECKING PETA DIGITAL
 
Setelah hasil editing diselesaikan kemudian dilakukan pemeriksaan
(evaluasi) melalui :
  1. Check plot, yaitu dengan membandingkannya hasi pencetakan peta
digital tersebut terhadap peta dasarnya (peta input) dari Kantor
Pelayanan PBB atau peta-peta lain yang dipergunakan sebagai sumber
tentunya dalam skala yang sama. Hal ini dilakukan guna mencegah
terjadinya gambar (penarikan garis) yang sangat berbeda (kekurangan,
kelebihan, kesalahan mencolok) dengan peta dasarnya, kekeliruan
pemberian NOP, dan kekeliruan lain yang dapat dilihat.
  2. Analisis Data, adalah pekerjaan membandingkan data spasial/peta
dengan basis data SISMIOP secara otomatis, yang dituangkan dalam
laporan hasil analisis. Adapun informasi yang dibandingkan adalah :
NOP; luas bidang, bangunan beserta nomornya. Toleransi perbedaan
antara luasan di peta digital dengan data SISMIOP adalah 10%.
 
1.3.8 PEKERJAAN INSTALASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PBB
 
Sistem Informasi Geografis terdiri dari data spasial dan non spasial. Peta
digital PBB yang telah selesai disusun tiap layernya kemudian dikaitkan
dengan data non spasial (data atribut) seperti NOP, Nama dan Alamat
Subjek Pajak. Alamat Objek Pajak dan sebagainya. Instalasi SIG PBB
dapat secara offline atau online berupa penggabungan data peta digital

47
dengan data non spasial yang akan diambil dari data Oracle SISMIOP.
Untuk memudahkan instalasi, perlu suatu server SIG PBB tersendiri yang
terpisah dari server SISMIOP.
 

TAHAPAN PELAKSANAAN PEMBENTUKAN SIG PBB

DENGAN CARA SCANNING PETA GARIS

48
 

49
 
  2.3. PENILAIAN

 
  2.3.1. JENIS-JENIS OBJEK PAJAK YANG DI DATA

 
    Objek Pajak Umum adalah objek pajak yang memiliki konstruksi umum
dengan keluasan tanah berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Objek pajak
umum terdiri atas :

 
      1 Objek Pajak Standar
.
Objek Pajak Standar adalah objek-objek pajak yang memenuhi kriteria-
kriteria sebagai berikut :
        Tanah : < 10.000 m2
        Bangunan : Jumlah lantai < 4
        Luas Bangunan : < 1.000 m2

 
      2 Objek Pajak Non Standar
.
Objek Pajak Non Standar adalah objek-objek pajak yang memenuhi

50
salah satu dari kriteria-kriteria sebagai berikut :
        Tanah : > 10.000 m2
        Bangunan : Jumlah lantai > 4
        Luas Bangunan : > 1.000 m2

 
  2.3.2. PENDEKATAN DAN CARA PENILAIAN

 
    A PENDEKATAN PENILAIAN
.
Sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 1 ayat 3 Undang-undang Nomor
12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
12 tahun 1994, maka dalam penentuan NJOP dikenal tiga pendekatan
penilaian, yaitu :
      1 Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
.
      2 Pendekatan Biaya (Cost Approach)
.
      3 Pendekatan kapitalisasi pendapatan (Income Approach)
.
Untuk objek umum tersebut dilakukan dengan pendekatan:
      Pendekatan Data Pasar

Pendekatan data pasar dilakukan dengan cara membandingkan objek


pajak yang akan dinilai dengan objek pajak lain yang sejenis yang nilai
jualnya sudah diketahui dengan melakukan penyesuaian yang dipandang
perlu. Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam penetapan,
pendekatan ini adalah tersedianya data jual-beli atau harga sewa yang
wajar. Pendekatan data pasar terutama diterapkan untuk penentuan
NJOP bumi, dan untuk objek tertentu dapat juga dipergunakan untuk
penentuan NJOP bangunan
   
     
    B CARA PENILAIAN
.
Mengingat jumlah objek pajak yang sangat banyak dan menyebar di seluruh
wilayah Indonesia, sedangkan jumlah tenaga penilai dan waktu penilaian
dilakukan yang tersedia sangat terbatas, maka pelaksanaan dengan dua
cara, yaitu :
      Penilaian Massal

Dalam sistem nilai NJOP bumi dihitung berdasarkan NIR yang terdapat
pada setiap ZNT, sedangkan NJOP bangunan dihitung berdasarkan

51
DBKB. Perhitungan Penilaian massal dilakukan terhadap objek pajak
dengan menggunakan program komputer konstruksi umum (Computer
Assisted Valuation/CAV).

     
  2.3.3 PELAKSANAAN PENILAIAN
.

    A PENILAIAN MASSAL
.
      1. PENILAIAN TANAH
      1. Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR
1
        a Batasan-batasan dalam Pembuatan Sket/peta ZNT
.
          (i) ZNT dibuat per kelurahan/desa
          (ii) Pengisian NIR tanah ditulis dalam ribuan rupiah.
          Contoh :
          NO.   NIR PENULISAN  
          1. Rp 1.500.00 1.500  
. 0
          2. Rp 220.000 220  
.
          3. Rp 22.500 22,50  
.
          4. Rp 600 0,60  
.
           
          (iii) Garis batas setiap ZNT diberi warna yang berbeda sehingga
jelas batas antar ZNT.
           
        b Bahan-bahan yang Diperlukan
.
          (i) Peta kelurahan/desa yang telah ada batas-batas bloknya.

Peta dimaksud disalin/di foto copy 2 (dua) lembar. Satu lenbar


untuk konsep peta ZNT dan satu lembar lagi untuk pembuatan
peta ZNT akhir.
          (ii) File data tahun terakhir serta DHKP.

Data ini diperlukan untuk standarisasi nama jalan.


          (iii) Buku klasifikasi Nilai Jual Objek Pajak (Keputusan Kakanwil
DJP) tahun terakhir.
Data ini dipakai untuk pembanding dalam penentuan NIR tanah

52
dan sebagai bahan standarisasi nama jalan.
          (iv) Alat-alat tulis termasuk pensil pewarna.
           
        c. Proses Pembuatan Sket/Peta ZNT
          (i) Tahap Persiapan
            Tahapan persiapan meliputi kegiatan-kegiatan :
            1) Menyiapkan peta yang diperlukan dalam penentuan NIR dan
pembuatan ZNT, meliputi Peta Wilayah, Peta
Desa/Kelurahan, Peta Zona Nilai Tanah dan Peta Blok.
            2) Menyiapkan data-data dari Kantor Pelayanan PBB yang
diperlukan, seperti data dari laporan Notaris/PPAT, data NIR
dan ZNT lama, SK Kakanwil tentang Klasifikasi dan
Penggolongan NJOP Bumi dan sebagainya.
            3) Menyiapkan data-data yang berhubungan dengan teknik
penentuan nilai tanah, seperti data Jenis Penggunaan Tanah
dari BAPPEDA dan data potensi pengembangan wilayah
berdasarkan Rencana Kota (berdasarkan RUTRK dan
RDTRK).
            4) Pembuatan rencana pelaksanaan (meliputi personil, biaya
serta jadwal kegiatan dengan mengacu pada Keputusan ini
          (ii) Pengumpulan data harga jual
            1) Data harga jual adalah informasi mngenai harga transaksi
dan/atau harga penawaran tanah dan/atau bangunan.
            2) Sumber data berasal dari PPAT, notaris, lurah/kepala desa,
agen properti, penawaran penjualan properti melalui majalah,
brosur, direktori, pameran dan sebagainya.
            3) Data Lapangan yaitu data harga jual yang diperoleh di
lapangan merupakan data yang dianggap paling dapat
dipercaya akurasinya. Oleh karena itu pencarian data
langsung ke lapangan harus dilakukan baik untuk
memperoleh data-data baru maupun mengecek data-data
yang diperoleh di kantor.
            4) Semua data harga jual yang diperoleh harus ditulis dalam
Formulir 1 : Data Transaksi Properti (Lampiran 30).
            5) Dalam rangka pengumpulan data harga jual, juga diadakan
inventarisasi nama-nama jalan yang ada di setiap
desa/kelurahan. Penulisan nama jalan disesuaikan dengan
standar Baku Penulisan Nama-nama Jalan Sebagaimana
diuraikan dalam Lampiran 23
          (iii) Kompilasi Data
            1) Data yang terkumpul dalam masing-masing kelurahan/desa
harus dikelompokkan menurut jenis penggunaannya karena

53
jenis penggunaan tanah/bangunan merupakan variabel yang
signifikan dalam menentukan nilai tanah.
            2) Kompilasi juga diperlukan berdasarkan lokasi data untuk
memudahkan tahap analisis data.

 
          (iv) Rekapitulasi Data dan Plotting Data Transaksi pada Peta Kerja
ZNT
            1) Semua data yang diperoleh harus dimasukkan dalam
Formulir 2 : Analisis Penentuan Nilai Pasar Wajar (Lampiran
30).
            2) Nomor Data yang tertulis pada Formulir 1 harus sama persis
dengan nomor yang tertulis pada Formulir 2. Selanjutnya
nomor ini akan berfungsi lebih lanjut sebagai alat untuk
mengidentifikasi lokasi data pada Peta Taburan Data.
            3) Penyesuaian terhadap waktu dan jenis data :
              - Penyesuaian terhadap waktu dilakukan dengan
membandingkan waktu transaksi dengan keadaan per 1
Januari tahun pajak bersangkutan.
              - Penyesuaian terhadap faktor waktu dilakukan dengan
mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi
nilai properti, keadaan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat suku
bunga dan faktor lain yang berpengaruh. Perubahan nilai
tanah tersebut adalah cenderung meningkat. Oleh karena
itu perlu dibuat penyesuaian dengan menambah
persentase antara 2% s/d 10% pertahun.
              - Penyesuaian terhadap jenis data diperlukan untuk
memenuhi ketentuan Nilai Pasar sebagaimana prinsip-
prinsip penilaian yang berlaku. Misalnya data
hipotik/agunan di Bank, data penawaran, data dari
PPAT/Notaris yang tidak sepenuhnya mencerminkan Nilai
Pasar harus disesuaikan. Besar penyesuaian sangat
tergantung pada tingkat akurasi data dan keadaan di
lapangan. Variasi besarnya prosentase penyesuaian antara
penilai satu dengan yang lain tidak dapat dihindari dan
tetap dibenarkan asalkan tidak menimbulkan
penyimpangan yang terlalu jauh dari Nilai pasar. Untuk
mendapatkan nilai tanah data yang digunakan adalah data
transaksi jual beli yang memenuhi unsur pasar wajar. Oleh
karena itu data harga penawaran perlu disesuaikan dengan

54
mengurangkan dalam persentase 5% s/d 20% sesuai
dengan analisis di lapangan. Untuk data hipotik disesuaikan
dengan menambah dalam persentase 10% s/d 35% sesuai
analisis di lapangan.
              - Angka persentase penyesuaian di atas bukan merupakan
angka yang mutlak. Persentase penyesuaian harus
berdasarkan kepada kenyataan, data dan fakta di lapangan
dan di analisis terlebih dahulu, sehingga di setiap wilayah
dapat berbeda.
          (v) Menentukan Nilai Pasar tanah per meter persegi
            1) Tanah kosong, Nilai Pasar dibagi luas tanah dalam satuan
meter persegi.
            2) Tanah dan bangunan;
              - Menentukan nilai bangunan dengan menggunakan DBKB
setempat.
              - Nilai Pasar dikurangi nilai bangunan diperoleh Nilai Pasar
tanah kosong untuk kemudian dibagi luas tanah dalam
satuan meter persegi
          (vi) Membuat batas imajiner ZNT
            Batas imajiner dituangkan dalam konsep peta ZNT yang telah
berisi taburan data transaksi. Prinsip pembuatan batas imajiner
ZNT adalah :
            1) Mengacu pada peta ZNT lama bagi wilayah yang telah ada
peta ZNT-nya.
            2) Mempertimbangkan data transaksi yang telah dianalisis yang
telah diplot pada peta kerja ZNT.
            3) Pengelompokan persil tanah dalam satu ZNT dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
              - Nilai Pasar Tanah yang hampir sama
              - Memperoleh akses fasilitas sosial dan fasilitas umum yang
sama
              - Aksesibilitas yang tidak jauh berbeda
              - Mempunyai potensi nilai yang sama
          (vii) Analisis Data Penentuan NIR
            1) Analisis data dilakukan berdasarkan Zona Nilai Tanah,
sehingga untuk ZNT yang berbeda harus menggunakan
halaman baru Formulir 3 dan 4 (masing-masing pada
Lampiran 30). Data-data yang dianalisis untuk memperoleh
Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) dalam satu ZNT harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
              - Data relatif baru
              - Data transaksi atau penawaran yang wajar
              - Lokasi yang relatif berdekatan
              - Jenis penggunaan tanah/bangunan yang relatif sama

55
              - Memperoleh fasilitas sosial dan fasilitas umum yang relatif
sam
            2) Penyesuaian nilai tanah dan penentuan NIR
              Sebelum menentukan NIR pada masing-masing ZNT, nilai
tanah yang telah dianalisa pada Formulir 2 (Lampiran 30)
disesuaikan dengan ketentuan sebagai berikut :
              a. Untuk ZNT yang memiliki data transaksi lebih dari satu
penentuan NIR dilakukan dengan cara merata-rata data
transaksi tersebut dengan menggunakan formulir 3
(Lampiran 30).
              b. Untuk ZNT yang hanya memiliki satu data transaksi NIR
ditentukan dengan cara mempertimbangkan data
transaksi dari ZNT lain yang terdekat dengan
menggunakan formulir 3 setelah dilakukan proses
penyesuaian seperlunya.
              c. Untuk ZNT yang tidak memiliki data transaksi, penentuan
NIR dapat mengacu pada NIR di ZNT lain yang terdekat
dengan melakukan penyesuaian faktor lokasi, jenis
penggunaan tanah dan keluasan pensil.  
          (viii Pembuatan Peta ZNT Akhir
)
            1) Tahap ini dilaksanakan setelah selesai pengukuran bidang
milik dalam satu kelurahan/desa
            2) Garis batas ZNT dibuat mengikuti garis bidang milik dan tidak
boleh memotong bidang milik
            3) Cantumkan NIR (nilai tanah hasil analisis dari Formulir 3 atau
4 bukan nilai tanah hasil klasifikasi NJOP) dan kode ZNT
pada peta kerja.
            4) Peta ZNT akhir diberi warna yang berbeda pada setiap garis
batas ZNT.

3 Contoh Analisis Data

 1. Tabel Data Harga Jual

 NO. IDENTIFIKASI DATA NO. 1 DATA NO. 2 DATA NO. 3 DATA NO. 4
OBJEK
1. Alamat Jl. Mawar No. Jl. Mawar No. Jl. Mawar No. Jl. Mawar No.
3 19 40 15

56
2. Peruntukan Perumahan Perumahan Perumahan Perumahan
tanah
3. Ukuran        
  a. Tanah 20m x 25m 15m x 17m 15m x 30m 15m x 19m
  b. Bangunan 18m x 15m 12m x 15m 15m x 20m 12m x 15m
4. Tahun        
dibangun
5. Waktu Akhir tahun Awal tahun Akhir tahun Penawaran
transaksi 1988 1986 1987 pada
Desember
1996
6. Harga Jual Rp. Rp. Rp. Harga
450.000.000,- 250.000.000,- 405.000.000,- penawaran
Rp.
325.000.000,-
7. Spesifikasi        
Bangunan :
  a. Lantai Keramik Teraso Keramik Keramik
  b. Gedung Beton Beton Beton Beton
8. Biaya Rp. 332,- Rp. 300,- Rp. 332,- Rp. 332,-
Reproduksi
Baru
Bangunan/m2
(thn 1998)
   

Keempat data tersebut di atas setelah diteliti adalah wajar untuk dijadikan data
pembanding, dan setelah diplot dalam peta kerja maka data pembanding di atas
berada dalam satu ZNT.

 2 Analisis Harga Jual Tanah per m2


.
  a. Jl. Mawar No. 3      

          (Rp. 000)  

    Harga Transaksi Tanah dan Rp. 450.000,00  


Bangunan

57
    (- Nilai bangunan (berdasarkan Rp. 62.640,00  
) DBKB)
      Nilai tanah Rp. 387.360,00  

             

    (:) Luas Tanah      

      Nilai Tanah/m2 Rp. 500,00  

          775,00  

             

      a. Penyesuaian Waktu +4%      

(+) 4% x Rp. 775,00 Rp. 31,00


               

      b. Penyesuaian Jenis Data : Rp. -  


0%
        Nilai Tanah/m2 setelah Rp. 805,00  
disesuaikan
  b Jl. Mawar No. 19      
.
          (Rp. 000)  

    Harga Transaksi Tanah dan Rp. 250.000,00  


Bangunan
    (- Nilai bangunan (berdasarkan Rp. 37.800,00  
) DBKB)
      Nilai tanah Rp. 212.200,00  

             

    (:) Luas Tanah      

      Nilai Tanah/m2 Rp. 255,00  

          832,00  

             

      a. Penyesuaian Waktu +4%      

(+) 4% x Rp. 832,00 Rp. 33,00


               

      b. Penyesuaian Jenis Data : Rp. -  


0%
        Nilai Tanah/m2 setelah Rp. 885,00  
disesuaikan

58
  c Jl. Mawar No. 40      
.
          (Rp. 000)  

    Harga Transaksi Tanah dan Rp. 405.000,00  


Bangunan
    (- Nilai bangunan (berdasarkan Rp. 69.600,00  
) DBKB)
      Nilai tanah Rp. 335.400,00  

             

    (:) Luas Tanah      

      Nilai Tanah/m2 Rp. 450,00  

          745,00  

             

      a. Penyesuaian Waktu +8%      

(+) 8% x Rp. 745,00 Rp. 60,00


               

      b. Penyesuaian Jenis Data : Rp. -  


0%
        Nilai Tanah/m2 setelah Rp. 805,00  
disesuaikan

  d Jl. Mawar No. 15      


.
          (Rp. 000)  
    Harga Transaksi Tanah dan Rp 325.000,0  
Bangunan . 0
    (- Nilai bangunan (berdasarkan Rp 41.760,00  
) DBKB) .
      Nilai tanah Rp 283.240,0  
. 0
             
    (: Luas Tanah      
)
      Nilai Tanah/m2 Rp 297,00  
.
          954,00  
             
      a Penyesuaian Waktu 0% Rp    

59
. .
      b Penyesuaian Jenis Data      
. (-) 10%
Rp 95,00
(-) 10% x Rp.954,00 .
        Nilai Tanah/m2 setelah Rp 859,00  
disesuaikan .

Contoh analisis penyesuaian atas faktor waktu transaksi :

Untuk menganalisis persentase atas waktu transaksi dapat dilakukan dengan


membandingkan 2 (dua) data atau lebih yang mempunyai, ciri-ciri yang
hampir sama yang dalam contoh ini adalah data nomor 1 dan 3.

Cara analisis :

 Rp. 775 – Rp. 745        


----------------------- x 100% = 4%
Rp. 745        

 4% di atas menunjukkan adanya, kenaikan nilai tanah setiap tahunnya.

 3 Penentuan NIR
.
BERDASARKA PENYESUAIAN
 NO FAKTOR-FAKTOR N KONSEP
DATA DATA DATA DATA
. PENYESUAIAN FAKTOR
NO. 1 NO. 2 NO. 3 NO. 4
PENILAIAN
  Harga Jual Tanah   (Rp. (Rp. (Rp. (Rp.
per m2 000) 000) 000) 000)
      775 832 745 954
1. Waktu Transaksi Tahun 1996 + 4% +4% + 8%  
2. Jenis Data         - 10%
             
Jumlah Persentase Penyesuaian + 4% +4% + 8% - 10%
Nilai yang telah disesuaikan        
Nilai dirata-rata        
Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) 834
         (v) Pemberian warna garis batas ZNT dan pencantuman angka
NIR dalam peta kerja (contoh Lampiran 24)
          1 Garis batas imajiner ZNT pada peta kerja diberi warna
) yang berbeda sehingga jelas batas antar ZNT.
          2 Untuk setiap ZNT dicantumkan angka NIR-nya
)
          3 NIR dicantumkan sebagaimana hasil analisis, bukan

60
) dalam bentuk ketentuan nilai jual bumi.
        (vi) Membuat kode ZNT untuk masing-masing ZNT dalam peta
kerja.
          1 Untuk setiap ZNT dibuat kode ZNT dan ditulis tepat di
) bawah angka NIR
          2 Kode ZNT dibuat pada peta kerja, dimulai dari sudut kiri
) atas (sudut barat laut) berurutan mengikuti bentuk spiral.
          3 Setiap ZNT diberi kode dengan menggunakan kombinasi
) dua huruf, dimulai dari AA s/d ZZ.
          4 ZNT yang memiliki NIR sama, jika dipisahkan oleh ZNT
) lain harus dibuatkan kode ZNT yang berbeda.
        (vii) Pengisian Formulir ZNT
          ZNT yang telah diberi kode dan telah ditentukan NIR-nya,
datanya diisikan pada Formulir ZNT.
        (viii Membuat sket/peta ZNT akhir
)
          1 Tahap ini dilaksanakan setelah selesai pengukuran
) bidang objek pajak dalam satu kelurahan/desa.
          2 Garis batas ZNT dibuat mengikuti garis bidang objek
) pajak tetapi tidak boleh memotong bidang objek pajak.
          3 Untuk mempermudah penentuan batas ZNT sesuai garis
) bidang objek pajak, terlebih dahulu dibuat sket/peta ZNT
blok yang selanjutnya dipindahkan ke dalam sket/peta
ZNT desa/kelurahan.
          4 Cantumkan NIR dan kode ZNT sesuai dengan NIR dan
) ZNT pada peta kerja, ZNT yang telah diberi kode dan
ditentukan NIR-nya, datanya diisikan pada formulir ZNT.
          5 Sket/peta ZNT akhir di beri warna pada setiap garis
) batas ZNT.
          6 Sket/peta ZNT akhir merupakan lampiran Keputusan
) Kakanwil DJP tentang besarnya NJOP sebagai dasar
pengenaan PBB. Dalam hal ini sket/peta ZNT tersebut
diperkecil dengan cara fotokopi (lichtdruk) dari tidak
perlu diberi warna, namun kode ZNT dan NIR harus
jelas.

61
BAB 3
PELAKSANAAN PEKERJAAN
Standar Teknis dalam pekerjaan ini dilaksanakan dengan prosedur dan standar
kualitas yang mengadopsi standar yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak
Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang sebelumnya sebagai pengelola
Pajak Bumi dan Bangunan sebagai pajak pusat, hal ini disebabkan karena

62
Pemerintah Daerah Kota Ambon sendiri belum mempunyai peraturan teknis tentang
kegiatan Pendataan dan Penilaian PBB.

Standar Teknis pekerjaan meliputi:


1. Pengisian data luas tanah dan luas Bangunan mengacu kepada Bukti
penguasaan/ pemilikan lahan atau berdasarkan hasil pengukuran ulang oleh
petugas, atas petunjuk pemilik atau pengelola atau aparat setempat apabila
pemilik tidak berdomisili dilokasi objek.
2. Penyampaian SPOP/LSPOP, Identifikasi objek pajak, Verifikasi data objek pajak,
Pengukuran bidang objek pajak merupakan satu kesatuan pekerjaan.
3. Pembuatan Peta SIG-PBB termasuk Peta Blok dengan kondisi terkini yang
meliputi pemutakhiran jalan-jalan dan gang, dengan menggunakan batas alam
dan batas buatan yang permanen, sesuai dengan kondisi sebenarnya
dilapangan.
4. Penentuan batas wilayah sesuai dengan kondisi sebenarnya.
5. Letak bidang objek pajak pada Peta Blok sesuai dengan kondisi sebenarnya
dilapangan.
6. Pengumpulan Informasi Harga Pasar wajar dilapangan dengan informasi dari
aparat nagari/jorong, Agen Properti atau iklan.
7. Analisis Harga tanah untuk penentuan Besarnya Nilai Indikasi Rata (NIR)
menggunakan sistem dan program yang biasa dipakai pada Ditjen Pajak dengan
memperhatikan sinkronisasi NJOP perjalan.

3.1 Pendekatan dan Metodologi

Pendekatan
Pembentukan Basis Data adalah Kegiatan memperbaharui atau menyesuaikan
basis data yang belum terbentuk sebelumnya melalui kegiatan verifikasi/penelitian
(aktif) yang dilakukan oleh petugas pendata dan atau laporan dari wajib pajak yang
bersangkutan (pasif) dalam rangka akurasi data.

Pembentukan Basis Data adalah Pekerjaan yang dilakukan untuk menyesuaikan


data yang disimpan di dalam basis data dengan data yang sebenarnya di lapangan.
Pendataan dilakukan dengan menggunakan formulir SPOP/LSPOP.

Dalam melaksanakan pekerjaan ini pendekatan yang digunakan adalah pandataan


objek dan subjek PBB-P2 secara aktif. Pendekatan secara aktif arti utamanya

63
pendata memperoleh data dengan turun ke lapangan untuk mendapatkan data
primer langsung dari objek dan subjek pajak.

Pendekatan aktif ini juga didukung oleh sistem perpajakan yang mengenal asas
official assessment artinya, jika subjek/wajib pajak tidak memberikan data-data yang
diminta dalam formulir SPOP/LSPOP dan tidak mengembalikan formulir terisi dalam
waktu 30 hari sejak diterima, maka penetapan pajak dilakukan secara jabatan (ex
officio assessment) berdasarkan data-data dari sumber lain yang diperoleh pendata,
sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.

Sedangkan untuk menentukan besarnya Nilai Jual Objek Pajak dipergunakan


pendekatan data harga pasar wajar (market approach) untuk Bumi dan Pendekatan
Biaya (cost approach).

Metodologi.

Kegiatan Pembentukan basis data dalam rangka Intensifikasi dan Ekstensfikasi data
Objek dan Subjek PBB mengacu kepada Peraturan yang berlaku sebelumnya pada
Direktorat Jenderal Pajak No.Kep.533/PJ./2000 yaitu Pekerjaan yang dilakukan
untuk menyesuaikan data yang tersimpan didalam basis data PBB dengan data
yang sebenarnya dilapangan yaitu dengan memperbaharui atau menyesuaikan
basis data tersebut melalui kegiatan verifikasi/penelitian dan dilakukan dengan
metode wawancara langsung tertulis dengan isian formulir data objek dan subjek
Pajak berupa SPOP dan LSPOP.

Pengisian SPOP dan LSPOP harus jelas, lengkap dan benar. Penyampaian formulir
oleh petugas pendata dilakukan door to door terhadap objek dan subjek pajak atau
melalui bantuan perangkat nagari/korong.Pendataan grafis dilakukan dengan
metode survey pengukuran, survey pemetaan dan survey terrestrial untuk
memperoleh data spasial tanah dan bangunan serta batas-batas objek pajak, batas
blok, jalan, gang dan batas buatan dan batas alam lainnya dengan menggunakan
alat ukur manual maupun alat ukur elektronik.

Ada 3 (tiga) alternatif pendataan yang digunakan menurut keadaan lapangan yang
ada:
Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak.

64
1. Pendataan dengan alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang
sudah mempunyai peta garis/peta foto yang dapat menentukan posisi relatif
objek pajak tetapi tidak mempunyai data administrasi pembukuan Pajak Bumi
dan Bangunan. Data tersebut merupakan hasil pendataan secara lengkap tiga
tahun terakhir.
2. Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak. Alternatif ini dapat dilaksanakan
pada daerah/wilayah yang sudah mempunyai peta garis/peta foto dan sudah
mempunyai data administrasi pembukuan Pajak Bumi dan Bangunan hasil
pendataan tiga tahun terakhir secara lengkap.
3. Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak. Alternatif ini dapat
dilaksanakan pada daerah/wilayah yang hanya mempunyai sket peta
desa/kelurahan (misalnya dari Biro Pusat Statistik atau instansi lain) dan/atau
peta garis/peta foto tetapi belum dapat digunakan untuk menentukan posisi
relatif objek pajak.
Alternatif yang digunakan untuk pendataan disesuaikan dengan kondisi adminstrasi
dan kondisi lapangan objek subjek pajak.

3.2 Rencana pelaksanaan

Jangka waktu pelaksanaan seluruh rangkaian pekerjaan ini diperkirakan selama 4


(empat) bulan atau 120 (seratus dua puluh) hari kalender sejak dikeluarkan SPMK.
Dengan asumsi 3 (tiga) bulan pekerjaan lapangan dan 1 (satu) bulan pekerjaan
administrasi atau pekerjaan kantor.

Tahap Pertama :
Minggu (Agustus– September )
Jenis Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Persiapan a.l. :                        
Penelitian pendahuluan    X                    
Penyusunan Rencana Kerja    x x                   
Pencetakan Formulir      X                  
Sosialisasi dan Penyuluhan X X X
Pelaksanaan Pekerjaan Lapangan        x x  x  x   x x  x  x   
- Pengumpulan data-data dasar                        
- Pengumpulan data fisik
- Pengambilan visual objek
Pencarian data profil Nagari                x x  x   X  
 

Tahap Kedua :

65
Minggu (Oktober – November )
Jenis Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Pelaksanaan Pekerjaan Kantor :                        
- Perhitungan nilai    X  x x  x  x             

- Penjilidan dan penggandaan


laporan

- Penelitiaan persetujuan laporan


Pembuatan SIG PBB   x x  x       
                       
Penetapan hasil              x x  x       
                       
Penyempurnaan aturan penilaian                x x  x     
                       
Laporan Akhir dan simulasi                    x x   
                       

3.3 Pelaksanaan Pekerjaan

Lingkup Pekerjaan Pembentukan Basis Data SISMIOP Pajak Bumi dan Bangunan
Kota Ambon Tahun 2019 di Kecamatan Nusaniwe dan Sirimau, sebagai berikut:

A. Pekerjaan Persiapan:
1. Penelitian pendahuluan dan penyusunan rencana kerja.
2. Koordinasi dan Sosialisasi dengan Pihak Terkait.
3. Pengadaan data pendukung dan sarana penunjang pekerjaan.
4. Mempersiapkan administrasi yang diperlukan seperti Surat tugas,
pengarahan petugas lapangan, formulir SPOP dan LSPOP, alat ukur, alat
tulis dan transportasi petugas.

B. Pekerjaan Lapangan:
1. Penentuan batas-batas wilayah.
2. Pembuatan Konsep (Kerangka) Peta Blok.
3. Pendataan atau pengambilan atau pengumpulan data yang meliputi:
a. Data subjek pajak meliputi nama dan alamat yang benar (diutamakan
menggunakan nama suku dibelakang nama asli).
b. Data luas tanah serta luas dan komponen bangunan.
c. Pengumpulan data harga tanah setiap Zona Nilai Tanah sebagai
dasar penyusunan Klasifikasi NJOP.

66
4. Pengukuran bidang Objek Pajak apabila tidak diketahui luas objeknya.
5. Penggambaran bidang objek pajak pada Peta Blok PBB.

C. Pekerjaan Kantor:
1. Pembuatan peta digital peta blok PBB. 2. Analisis daftar harga pasar
tanah untuk enentukan Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) tanah setiap jalan,
lorong, gang dan lingkungan sebagai dasar
2. penentuan NJOP.
3. Pemberkasan dan penjilidan SPOP/LSPOP, DHOP dan Peta Blok.
4. Pembuatan Daftar Himpunan Objek Pajak (DHOP).
5. Pencetakan Peta Blok.
6. Pembuatan laporan-laporan hasil pekerjaan.
7. Perekaman Hasil pekerjaan

3.4 Pelaporan

Pelaporan dalam kegiatan ini meliputi Laporan Pendahuluan atau rencana kerja
yang menggambarkan rencana pekerjaan yang akan dilaksanan / Uraian program /
rencana kerja, Laporan Bulanan mengenai memuat progress pekerjaan Penilaian
yang telah dicapai pada bulan yang lalu dan laporan akhir cara keseluruhan hasil
pekerjaan sampai dengan hasil keluaran berupa perhitungan besaran Pajak
terhutang.

1.5 Organisasi Pelaksanaan

Pelaksanaan pekerjaan ini di pimpin seorang team leder dan ahli penilai PBB yang
didukung tenaga surveyor, petugas pendamping local dan operator computer yang
mengolah data tersebut.

3.6 Keluaran

Pekerjaan Pendataan PBB yang dilakasanakan atas seluruh objek pajak PBB
pedesaan dan perkotaan di Kecamatan Nusaniwe dan Sirrimau terdapat beberapa
keluaran seperti :

Fisik :

67
Hasil Fisik dari kegiatan Pendataan PBB ini adalah berupa Bundel SPOP 8 berikut
Peta Blok, Peta Kelurahan dalam bentuk digital dan cetal serta laporan penilaian
analisa NIR/ZNT setiap Nagari.

Non Fisik :

Peningkatan pokok ketapan Pajak Bumi dan Bangunan secara signifikan atas objek
yang dinilai. Hasil Pendataan PBB tersebut merupakan dasar perhitungan
besaran Pajak Terhutang PBB sebagai dasar penerbitan Surat Pemberitahuan
Pajak Terhutang (SPPT) PBB Tahun 2020.

Lampiran – Lampiran :

68