Anda di halaman 1dari 131

Naskah Buku:

5 Langkah Menuju Sukses Dunia-Akhirat

Pengantar Penulis:
Menyiapkan Mental Sukses

Langkah Pertama:
 Perkokoh Pondasi Iman
 Menyatunya hati, lisan dan tindakan
 Karakter Seorang Mukmin
 Bergetar Hatinya karena Asma Allah
 Bertambah Imannya karena Ayat-ayat Allah
 Berserah Diri Hanya kepada Allah
 Mendirikan Shalat
 Membiasakan sedekah
 Mukmin itu Menakjubkan!
 Engkau Beriman, Maka Engkau Diuji
 Dengan Iman Hidup Menjadi Terarah

Langkah Kedua:
 Bekali dengan Ilmu
 Iqra‘: Wahyu Pertama yang Mencerahkan
 Membuka Jendela Dunia
 Mencerahkan Pikiran Memperluas Cakrawala
 Posisi Mulia Ilmuwan (Ulama)
 Investasi Tak Kenal Rugi
 Selama Hayat di Kandung Badan
 Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis
 Menulis: Investasi Dunia-Akhirat
 Kaya Ilmu, Kaya Hati, Kaya Harta
 Menabur Pengetahuan Menuai Pahala
 Menyejarah Bersama Karya
 Dengan Ilmu Hidup Menjadi Mudah

1
Langkah Ketiga:
 Wujudkan dengan Amal
 Amal: Bukti Iman
 Amal: Buah Ilmu
 MLM Pahala
 Amal yang Mewujud (Tajassum al-A‟mal)
 Dengan Amal Hidup Menjadi Berkah

Langkah Keempat:
 Hiasi dengan Ikhlas
 Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe
 Tanamkan Ruh Ikhlas dalam Diri
 Siapakah Al-Mukhlashin ?
 Iblis Pun Tak Berkutik
 Dengan Ikhlas Hidup Terasa Lepas

Langkah Kelima:
 Sempurnakan dengan Istiqamah
 Istiqamah: Sebaik-baik Amal
 Istiqamah Hati, Lisan dan Tindakan
 Dan Malaikat pun Turun
 Sedikit demi Sedikit, Terus Menerus
 Dengan Istiqamah Hidup Lebih Bermakna

Sampai Ke Tujuan:
 Sukses Dunia-Akhirat
 Hidup Terarah, Mudah, Berkah, Lepas dan Lebih Bermakna

2
Pengantar Penulis
Menyiapkan Mental Sukses

“Man „arafa bu‟da al-safari ista‟adda”, orang yang tahu jauhnya


suatu perjalanan akan mempersiapkan diri, demikian bunyi sebuah
kalimat hikmah dalam bahasa Arab. Sebuah ungkapan singkat namun
sarat makna.
Sebuah ilustrasi sederhana ingin penulis sampaikan di sini. Jika
kita hendak melakukan sebuah perjalanan ke luar kota, misalnya, tentu
kita akan mempersiapkan bekal untuk perjalanan tersebut. Kita akan
menghitung berapa biaya transportasi pulang-pergi dari tempat tinggal
kita menuju ke kota tujuan, dan juga sebaliknya. Kita juga akan
menyiapkan dana untuk biaya hidup selama di kota tujuan, serta segala
hal yang perlu kita persiapkan selama di sana. Lazimnya, demi
kenyamanan dalam perjalanan, kita akan membawa bekal lebih dari
cukup. Kita akan membawa uang, tidak sekedar untuk ongkos pulang-
pergi dan biaya hidup di sana secara pas-pasan, karena kita tidak tahu
hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi selama perjalanan. Maka,
semakin banyak bekal yang kita bawa, semakin tenang dan nyaman
perjalanan yang kita lakukan.
Apa makna dari ilustrasi sederhana yang saya sampaikan
tersebut? Secara singkat dapat disimpulkan bahwa, jika untuk perjalanan
yang kita ketahui jarak tempuh serta lamanya kita berada di sana saja
kita persiapkan dengan begitu matangnya, apalagi untuk sebuah
perjalanan hidup di dunia yang tidak kita ketahui sampai kapan kita akan
hidup di dunia ini, lebih-lebih kita tidak pernah tahu berapa lama
perjalanan di akhirat kelak, dari mulai kita masuk ke liang kubur hingga
kita dibangkitkan, sampai kemudian kita diadili di hadapan Allah dan
ditempatkan di tempat yang sesuai dengan amal kita?

3
Inilah pertanyaan yang harus terus menerus kita ajukan pada diri
kita masing-masing. Kita harus menyiapkan bekal untuk perjalanan hidup
di dunia ini, lebih-lebih perjalanan ke akhirat kelak. Dan yang lebih
penting lagi, kita harus menyiapkan mental untuk sukses-bahagia hidup
di dunia ini dan di akhirat kelak.
Menyiapkan mental dalam segala hal itu penting. Karena dengan
kesiapan mental yang baik, maka hal terburuk sekali pun akan dapat
disikapi dengan tenang.
Berkaitan dengan menyiapkan mental sukses hidup di dunia dan
akhirat, penulis ingin menegaskan bahwa sebelum kita melangkah lebih
lanjut untuk meraih cita-cita hidup sukses-bahagia dunia-akhirat, maka
yang pertama dan paling utama dipersiapkan adalah mental kita. Karena,
tanpa kesiapan mental, maka apa pun yang kita dapatkan, alih-alih
memberi nilai positif pada diri kita, justru bisa menjadi bumerang bagi
diri kita sendiri.
Sebagai contoh, seseorang yang tidak siap mental menjadi orang
kaya, misalnya, maka ketika kekayaan datang kepadanya, dia akan
gagap menghadapi kenyataan yang ada. Bisa jadi kendaraan yang
dinaikinya berharga ratusan juta atau mungkin miliaran rupiah, tetapi
mental pengendaranya tidak lebih baik dari sopir angkot yang biasa ugal-
ugalan di jalan. Pakaian yang dikenakannya bermerek, tetapi perilakunya
seperti preman pasar. Rumah yang ditempatinya sangat mewah, tetapi
tidak ada aura kedamaian terpancar dari dalam rumah tersebut. Inilah
tipikal manusia modern dewasa ini. Secara lahiriah ingin kelihatan wah,
tetapi secara batiniah tidak siap mental. Tampilan luar kelihatan
memesona, tetapi sesungguhnya di balik tampilan luar itu, tersimpan
keburukan yang menyedihkan.
Untuk itu, persiapan mental untuk sukses dunia-akhirat itu
sangat penting. Seseorang yang siap mental untuk sukses, maka dia
sudah mengantisipasi jika suatu ketika kesuksesan benar-benar hadir
dalam hidupnya. Dia tidak akan menjadi tinggi hati karena kelimpahan
materi, pun tidak menjadi jumawa ketika berilmu pengetahuan luas, juga
tidak angkuh ketika jabatan prestisius dapat direngkuh. Meski karirnya

4
menjulang tinggi, tetapi dia tetap rendah hati. Meski kesuksesan hidup
berhasil digapai, dia tidak lupa diri. Meski telah ‗menyentuh‘ langit, tetapi
kaki tetap menginjak bumi. Inilah tipikal manusia yang siap mental
untuk sukses hidup di dunia.
Demikian juga halnya seseorang yang siap mental untuk sukses
akhirat. Dia tidak akan pernah merasa hebat, meski ibadahnya dahsyat.
Dia tidak menjadi sok suci meski akhlaknya terpuji. Dia tidak bangga diri
meski banyak orang memberi sanjung puji. Singkatnya, dia tidak pernah
merasa menjadi orang yang baik amalnya. Dia selalu merasa menjadi
orang yang penuh dosa, sedikit amalnya, dan kurang dekat dengan
Tuhannya. Sehingga dia akan terus menerus berusaha untuk
memperbaiki dirinya. Inilah kualitas mental orang yang siap sukses
akhirat. Baginya, biarlah Tuhan yang menilai dan memberi apresiasi atas
amal ibadah yang dia lakukan. Dia tidak peduli apakah orang akan
memuji atau mencaci. Yang terpenting baginya adalah ridla Ilahi.
Buku “Success Ways to Excellent Life (5 Langkah Menuju Sukses
Dunia-Akhirat)” ini merupakan salah satu upaya penulis untuk mengajak
kita semua menyiapkan mental untuk sukses dalam menjalani hidup di
dunia ini dan di akhirat nanti.
Melalui karya sederhana ini, dengan dipandu wahyu Ilahi serta
teladan Nabi, disertai kisah penuh hikmah dan inspirasi, penulis
mengajak kita semua untuk menapaki langkah demi langkah menujuk
kesuksesan dan kebahagiaan abadi.
Penulis memetakan lima langkah, yang insya Allah akan
mengantarkan kita semua menuju sukses dalam menjalani kehidupan di
dunia ini dan di akhirat kelak.
Kelima langkah tersebut adalah: Memperkokoh pondasi iman,
membekali diri dengan ilmu, mewujudkan dengan amal, menghiasi
dengan ikhlas, dan menyempurnakan dengan istiqamah.
Dengan menapaki langkah demi langkah tersebut, menjadikan
hidup lebih terarah, mudah, berkah, lepas dan lebih bermakna. Dan yang
paling penting, kelima langkah tersebut, semoga mengantarkan kita

5
semua menuju sukses-bahagia-berkah dalam menjalani kehidupan di
dunia dan akhirat.
Penulis sadar sepenuh hati bahwa karya sederhana ini masih jauh
dari sempurna. Untuk itu, kritik, saran, komentar, tanggapan ataupun
kesan terhadap buku ini sangat saya harapkan. Pembaca dapat
menyampaikan testimoni terhadap buku ini melalui email:
didijunaedi_hz@yahoo.com, atau melalui kotak pesan (inbox) di akun
facebook saya: Didi Junaedi.
Akhirnya, penulis ucapkan: Selamat menapaki langkah demi
langkah menuju sukses dunia-akhirat.

Brebes, 9 September 2013

Didi Junaedi

6
Langkah Pertama

7
Perkokoh Pondasi Iman

Mengawali pembahasan tentang iman, saya ingin mengajukan


beberapa pertanyaan. Pertanyaan ini ditujukan kepada saya secara
pribadi dan juga pembaca sekalian. Apa yang mendasari kita sehingga
mau melakukan aktivitas ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji serta
ibadah-ibadah lainnya? Lalu apa pula alasan kita sehingga rela
menyediakan waktu untuk sholat, berlapar-lapar puasa, mengeluarkan
uang untuk berzakat dan membayar biaya perjalanan ibadah haji yang
tidak sedikit jumlahnya?
Dengan hati dan pikiran yang jernih, maka kita akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sebuah jawaban: Iman. Ya,
karena iman kita mau menjalankan ibadah. Karena iman pula kita rela
mengalokasikan waktu khusus untuk sholat, tahan berlapar-lapar puasa,
tidak sayang mengeluarkan harta kita dalam jumlah besar untuk
berzakat dan menunaikan ibadah haji. Imanlah yang mendasari itu
semua. Iman menjadi motivasi terbesar bagi seseorang dalam
menjalankan aktivitas ibadah.
Pertanyaannya kemudian, apa sebenarnya pengertian iman?
Mengapa kekuatannya begitu dahsyat sehingga mampu menggerakkan
seseorang untuk melakukan aktivitas ibadah di tengah godaan dunia
yang begitu menyilaukan? Mari kita sama-sama cari jawabannya.

Menyatunya hati, lisan dan tindakan


Jika kita merujuk pada beberapa kitab tauhid, maka akan kita
dapati keterangan bahwa pengertian iman secara bahasa adalah:
membenarkan, menampakkan kekhusyuan dan iqrar (pernyataan atau
pengakuan). Adapun pengertian iman secara istilah adalah:
―Membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, melaksanakan
dengan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan
kemaksiatan.‖

8
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam konsep
iman, ada tiga hal penting yang saling terkait erat satu sama lain, yaitu;
hati, lisan dan perbuatan (amal). Ketiga hal tersebut tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Jika salah satu saja dari ketiga hal tersebut
hilang, maka tidak sempurna iman seseorang. Bahkan, pendapat yang
lebih keras mengatakan bahwa tidak disebut beriman seseorang, jika
salah satu dari ketiga aspek iman itu hilang dalam dirinya.
Iman adalah menyatunya hati, lisan dan tindakan. Iman adalah
sinergi antara keyakinan dalam hati, pengikraran dengan lisan dan
pembuktian dengan perbuatan. Iman merupakan bentuk ketaatan, baik
bathin maupun zhahir. Singkatnya, iman adalah keteguhan hati dalam
memegang prinsip keyakinan, yang terwujud melalui sikap berupa
pengakuan secara lisan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah pemahaman mayoritas ulama salafush shalih. Dalam
al-Qur-an, ketika Allah menyebut kata iman hampir selalu diiringi dengan
amal shalih.

          

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih,


bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal."
(Q.S. Al-Kahfi: 107).

Dalam ayat lain ditegaskan,

          

     

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada


dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi
kesabaran." (Q.S. Al-Ashr: 1-3).

9
Allah Swt juga berfirman,

       

"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan


amal-amal yang dahulu kalian kerjakan." (Q.S. Az-zukhruf: 72).

Intinya, iman dan amal shalih itu saling terkait, tidak pernah
terpisah antara satu dengan lainnya. Iman tanpa amal, ibarat pohon tak
berbuah. Iman tanpa amal hanyalah sebuah kemunafikan. Sedangkan
amal tanpa iman, sia-sia belaka.
Allah sangat membenci orang yang hati, ucapan dan tindakannya
tidak sejalan. Allah sangat murka kepada orang yang lain di bibir, lain di
hati, lain pula di tindakan.

         

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan


apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff: 3)

Dalam ayat lain ditegaskan,

             

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah


penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta.” (Q.S. Al-Baqarah: 10)

Orang-orang yang beriman akan selalu menjaga hati, lisan dan


tindakannya agar terus tertuju hanya kepada Allah semata. Orang-orang
yang beriman yakin betul akan janji Allah berupa kebahagiaan di akhirat
berupa surga bagi mereka yang tetap konsisten menjaga keimanannya.
Orang –orang yang beriman juga percaya sepenuh hati bahwa kelak,
dengan amal shalih yang dikerjakannya mereka dapat berjumpa dengan

10
Allah Swt. Inilah Kebahagiaan yang sesungguhnya dan sangat dinantikan
oleh setiap mukmin.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi setiap mukmin selain
berjumpa dengan Allah Swt. Inilah alasan yang mendasari kenapa orang-
orang mukmin rela menyediakan waktu untuk sholat, berlapar-lapar
puasa, mengeluarkan uang untuk berzakat dan membayar biaya
perjalanan ibadah haji yang tidak sedikit jumlahnya, serta ibadah-ibadah
lainnya.
Kekuatan iman yang terhunjam di dalam hati sanubari seorang
mukmin begitu dahsyat sehingga mampu menembus batas-batas logika.
Tak ada yang bisa menghalanginya untuk beribadah kepada Allah.
Bahkan seluruh aktivitas hidupnya dipersembahkan hanya untuk Allah
Swt.

         

―Katakanlah: ―Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan


matiku hanyalah bagi Allah, Tuhan semesta alam. " (Q.S. Al-
An'am: 162)

Energi iman mampu menjadikan seseorang teguh memegang


prinsip serta keyakinan, tegar dalam menghadapi segala bentuk ujian
hidup, serta mampu mengalahkan semua yang menjadi penghalang
seseorang merengkuh cita-cita mulianya, yakni mendapatkan ridla Allah
Swt.
Inilah hakekat iman yang sesungguhnya. Iman yang tidak
sekedar basa-basi belaka. Iman yang tertancap dan mengakar dalam hati
seseorang, iman yang setegar batu karang di dasar lautan. Mudah-
mudahan kita semua dapat memilikinya.

11
Karakter Seorang Mukmin

           

         

           

   

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka


yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka, dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah
iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. Yaitu
orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian
dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang
yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan
ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal: 2-4)

Pernahkah kita tergetar hatinya ketika nama Allah disebut?


Apakah kita merasa bertambah imannya ketika mendengar ayat-ayat
Allah dilantunkan? Sudahkah kita berserah diri (tawakkal) hanya kepada
Allah? Sudahkah kita mendirikan shalat? Senangkah kita berbagi
kebahagiaan dengan bersedekah kepada orang lain?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah parameter
keimanan kita. Jika hati kita bergetar ketika disebut nama Allah, jika
iman kita bertambah ketika mendengarkan ayat-ayat Allah, jika kita
hanya berserah diri kepada Allah, jika kita selalu mendirikan shalat, jika
kita senang berbagi kebahagiaan dengan orang lain dengan cara
bersedekah, maka kita benar-benar menjadi seorang mukmin sejati
seperti disebut dalam rangkaian ayat di atas.

12
Tetapi sebaliknya, jika hati kita tidak tergetar sedikit pun ketika
nama Allah di sebut, jika iman kita cenderung ajeg, biasa-biasa saja
ketika ayat-ayat Allah dikumandangkan, jika kita tidak berserah diri
kepada Allah, bahkan cenderung meyakini selain Allah sebagai tempat
meminta, berlindung dan berharap, jika kita enggan mendirikan shalat,
malas dan tidak mau berbagi kebahagiaan dengan orang lain, maka
kualitas keimanan kita benar-benar dipertanyakan. Layakkah kita disebut
mukmin. Pantaskah kita mengaku sebagai orang yang beriman?

 Bergetar Hatinya karena Asma Allah


Setiap kali nama Allah disebut, maka saat itu hati orang-orang
mukmin akan begetar mendengarnya. Ibarat sang pencinta yang selalu
rindu pada kekasih yang dicintainya dan berharap selalu bertemu
dengannya, maka ketika nama sang kekasih disebut bergetarlah hatinya,
seolah-olah sang kekasih hati berada di dekatnya.
Begitu pula gambaran seorang mukmin yang selalu rindu pada
Allah Swt. Ketika asma Allah disebut, hatinya akan bergetar hebat,
jantungnya berdegup kencang, dan perasaannya sulit untuk diungkapkan
dengan kata-kata. Ia betul-betul menikmati indahnya asma Allah. Ia
akan segera menyambutnya dengan penuh suka cita.
Ketika azan berkumandang, misalnya, seorang mukmin akan
merasa terpanggil untuk memenuhi seruan mulia tersebut. Karena dalam
lantunan azan terdapat asma Allah yang begitu indah dan mampu
menggetarkan hatinya. Ia akan bergegas menyucikan dirinya dengan
berwudlu agar bisa segera ‗berjumpa‘ dengan Tuhannya. Ia tidak akan
berlama-lama menunggu sampai azan selesai. Ia sudah tidak sabar
untuk menikmati kesyahduan dan keskhusyuan berkomunikasi dengan
Allah Swt., Sang Kekasih hatinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang mukmin selalu takjub dan
terpesona sekaligus tergetar jiwanya ketika mendengar asma Allah
diucapkan.

13
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar Ibn al-Khaththab berjalan
sendirian menyusuri padang rumput. Dari kejauhan terlihat sekawanan
kambing dengan seorang penggembala di dekatnya. Umar menghampiri
penggembala tersebut dengan tujuan ingin menguji seberapa besar
keimanan sang penggembala itu.
Beberapa saat kemudian, terjadilah dialog antara Umar dengan
sang penggembala. ―Wahai anak muda, bolehkah saya membeli seekor
kambing yang sedang kau gembalakan ini?‖ tanya Umar.
―Maaf Tuan, kambing-kambing ini milik majikan saya. Silakan
Tuan bertemu langsung dengan majikan saya jika ingin membeli kambing
tersebut. Saya siap mengantar Tuan menemui majikan saya‖, jawab si
penggembala.
―Oh, tidak usah, saya ingin beli sekarang. Jumlah kambingya kan
cukup banyak. Bagaimana kalau saya beli satu sekor, terus uangnya buat
kamu. Bilang saja sama majikan kamu kalau ada srigala yang memangsa
seekor kambing miliknya. Lagian, majikan kamu kan tidak tahu‖, bujuk
Umar.
―Maaf Tuan, memang majikan saya tidak tahu, tapi di mana
Allah? Apakah Dia tidak melihatnya. Saya takut berbuat dosa. Karena
Allah Maha Melihat.‖ Jawab si penggembala dengan tegas.
Umar pun terkejut, seketika hatinya bergetar, jantungnya
berdegup kencang mendengar asma Allah disebut. Dia yang semula
bermaksud menguji keimanan sang penggembala, justru kini tidak bisa
berkata-kata selain merasakan goncangan hebat dalam dirinya. Dia pun
semakin yakin, jika asma Allah disebut dengan penuh keyakinan dan
keikhlasan hati akan mampu menggetarkan hati dan jiwa seseorang yang
benar-benar beriman kepada Allah.

 Bertambah Imannya karena Ayat-ayat Allah


Kita semua mafhum bahwa kualitas keimanan seseorang dapat
bertambah dan berkurang sesuai kondisi yang melingkupinya. Menurut
beberapa keterangan ayat ataupun hadis dinyatakan bahwa iman dapat

14
bertambah dan berkurang. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan.

Beberapa ayat ataupun hadis dimaksud adalah sebagai berikut:

            

      

"Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah


imannya, sedang mereka merasa gembira." (QS. at-Taubah :
124)

            

        

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-


orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di
samping keimanan mereka (yang telah ada)..." (QS. al-Fath : 4)

     

" Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya." (QS.


al Muddatstsir : 31)

Rasulullah Saw bersabda, ―Iman itu lebih dari tujuh puluh atau
lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha
Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari
jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.‖ (HR. Al-Bukhari-
Muslim)

15
Dari keterangan hadis ini, jelaslah bahwa iman memiliki cabang-
cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman
ini bertingkat-tingkat dan memiliki derajat keutamaan yang berbeda,
sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu Imam At-Tirmidzi
memuat bab dalam sunannya: ―Bab Kesempurnaan, bertambah dan
berkurangnya iman‖.
Ketika menjelaskan hadis ini, para ulama hadis menyatakan
bahwa hadis ini secara tegas dan jelas menunjukkan iman itu bertambah
dan berkurang sesuai dengan tingkat pelaksanaan ajaran Islam yang
dilakukan oleh seseorang.
Disadari bersama bahwa dalam menjalankan syariat Islam, setiap
orang berbeda beda kualitasnya. Ada yang mengamalkan syariat dengan
penuh ketulusan, betapa pun beratnya amalan tersebut. Ada yang
mengamalkannya dengan terus berusaha memperbaiki kualitas
amalannya.Pun ada yang mengamalkan ala kadarnya, yang penting
sudah menggugurkan kewajiban.
Pertanyaannya kemudian adalah: Apa yang menyebabkan iman
itu bertambah, serta apa pula yang menyebabkan iman itu berkurang?
Dari sejumlah literatur tentang masalah akidah, hemat penulis,
ada dua hal utama yang mempengaruhi fluktuasi keimanan kita.
Pertama, faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri kita; dan
kedua, faktor eksternal, yaitu yang berasal dari luar diri kita.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bertambah dan
berkurangnya keimanan sesorang adalah sebagai berikut:
Pertama, faktor internal. Keinginan kuat dalam diri seseorang
untuk meningkatkan kualitas keimanan, menjadi faktor utama
bertambahnya iman seseorang. Seseorang yang sadar bahwa dirinya
masih memiliki kadar keimanan yang sangat minim, akan berusaha
meningkatkan kualitas keimanannya dengan beragam cara. Dia akan
semakin mendekatkan dirinya kepada Allah melalu serangkaian aktivitas
ibadah. Dia juga akan terus menambah wawasannya tentang masalah
keimanan (akidah), ibadah, muamalah melalui majelis-majelis ilmu,
melalui bacaan, melalui diskusi keagamaan dan lain sebagainya. Intinya,

16
ada kemauan yang kuat yang berasal dari dalam dirinya untuk
meningkatkan kualitas keimanannya. Sebaliknya, hilangnya semangat
atau ruh kesadaran dalam diri bahwa imannya harus terus dipupuk,
menjadikan seseorang abai dan tidak peduli dengan kualitas
keimanannya. Walhasil, baginya tidak penting apakah yang dilakukannya
sesuai atau justru melanggar aturan agama. Perkara halal haram itu
nomor sekian, yang penting terpenuhi segala cita-citanya. Dia juga tidak
tertarik untuk menambah pengetahuannya tentang agama. Intinya, tidak
ada niatan sedikit pun dalam dirinya untuk meningkatkan kualitas
keimanannya.
Kedua, faktor eksternal. Lingkungan sosial tempat seseorang
tinggal, teman-teman sepergaulan, baik di rumah, di tempat kerja,
maupun di komunitasnya akan sangat mempengaruhi kualitas
keimanannya. Ketika seseorang tinggal di lingkungan yang agamis,
relijius, taat pada ajaran agama, maka kemungkinan bertambahnya
keimanan sangatlah besar. Teman sekantor, rekan sepergaulan, serta
komunitas yang baik dan peduli terhadap ajaran agama akan sangat
berpengaruh kepada kualitas keimanan seseorang. Sebaliknya,
lingkungan yang buruk, teman yang tidak peduli terhadap ajaran agama,
serta komunitas yang jauh dari nilai-nilai agama akan menjadikan
seseorang hanyut dan terbawa arus untuk abai terhadap aturan agama.
Walhasil, keimanan yang ada dalam dirinya pun kian hari kian menyusut.
Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 2 disebutkan bahwa di antara ciri orang-
orang yang beriman adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah
imannya. Maksud ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman As-
Sa‘di dalam kitab tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman adalah bahwa
seorang mukmin, ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur‘an akan
memperhatikan dengan seksama, menghadirkan hatinya untuk
mentadaburi maknanya, mengingat kealpaannya dan berjanji dalam
dirinya untuk selalu berbuat baik (amal shalih), maka pada saat itulah ia
bertambah imannya. Inilah hakekat dari bertambahnya keimanan karena
ayat-ayat Allah.

17
 Berserah Diri Hanya kepada Allah
Kita semua maklum bahwa banyak hal yang mewarnai perjalanan
hidup kita. Suatu ketika kita merasa bahagia, tetapi di saat yang lain kita
merasa menderita. Kadang kita diliputi kegembiraan, tetapi tidak jarang
pula kita dihinggapi kesedihan. Bahagia dan derita, gembira dan sedih
adalah dua sisi kehidupan yang akan selalu hadir menyertai kita, kapan,
dan di mana pun kita berada.
Di saat bahagia hadir, mungkin semuanya akan terasa baik-baik
saja. Di saat gembira menyapa, semua keadaan terasa berjalan sesuai
yang kita inginkan. Tetapi begitu derita dan duka menghampiri hidup
kita, semua terasa gelap, langit seakan runtuh, bumi seolah berhenti
berputar. Kita merasa sepi di tengah keramaian, sendiri di tengah hiruk
pikuk kehidupan, terasing dalam pusaran jagat manusia yang hilir mudik
silih berganti.
Di saat-saat seperti inilah, ketika kesedihan, kekecewaan serta
kesengsaraan menyelimuti kehidupan kita, kita butuh tempat untuk
bersandar, mengadu dan memohon pertolongan agar seluruh persoalan
hidup segera menemui jalan keluar.
Ironisnya, tidak setiap kita menempuh jalan serta cara yang tepat
untuk menghalau dan menghilangkan kesedihan serta kesusahan hidup
yang tengah kita alami. Ada di antara saudara-saudara kita yang ketika
ditimpa kemalangan hidup justru mengambil ‗jalur alternatif‘ dengan
menempuh cara-cara yang seringkali tidak rasional, tidak mencerminkan
sikap orang yang beragama. Mereka lebih memilih dukun, paranormal
dan sejenisnya sebagai tempat mengadu dan meminta pertolongan, atau
pergi ke tempat-tempat hiburan, menghabiskan malam dengan ditemani
beberapa botol minuman, dengan dalih menghilangkan beban hidup.
Padahal agama sudah mengajarkan kepada kita solusi terbaik
menghadapi segala persoalan hidup. Ya, dengan mengadukan,
menyandarkan, memohon dan menyerahkan segala problematika hidup
ini kepada Allah Swt. disertai ikhtiar tiada henti, niscaya semua persoalan
hidup yang membebani kita akan mendapat jalan keluarnya.

18
Berserah diri atau dalam bahasa agama disebut tawakkal adalah
kunci utama untuk membuka pintu pertolongan sekaligus melapangkan
jalan keluar atas setiap persoalan yang kita hadapi. Bukankah Al-Qur‘an
mengajarkan kepada kita untuk mengabdikan seluruh aktivitas
kehidupan yang kita jalani hanya kepada Allah Swt semata? Bukankah
Allah sangat senang kepada hamba-hamba-Nya yang berserah diri
kepada-Nya?
Beberapa keterangan ayat suci menegaskan hal tersebut. QS. Al-
An‘am: 162 menegaskan:

         

―Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya


untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Dalam Q.S. Ali Imran: 159 Allah Swt. Juga menyatakan:

          

“Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka


bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang–orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Rasullullah Saw bersabda : ―Akan masuk surga dari umatku tujuh


puluh ribu orang tanpa hisab dan siksa, mereka adalah orang orang yang
tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan
sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal
kepada Rabb mereka.” ( H.R. Muslim ).
Beberapa keterangan dari al-Qur‘an dan Hadits di atas
menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk selalu bertawakal kepada
Allah dalam segala urusan, dalam segala kondisi.

19
Pertanyaannya kemudian, apa sebenarnya pengertian tawakal?
Bagaimana konsep tawakal yang benar menurut ajaran Islam?
Secara bahasa, tawakal berasal dari Bahasa Arab ―tawakkala‖
yang berarti: bersandar, berserah diri, mewakilkan.
Adapun secara istilah, tawakal biasa dipahami dengan
penyerahan sesuatu kepada Allah atau menggantungkan urusan diri
kepada Allah setelah berikhtiar.
Menurut Imam Al Ghazali, tawakal adalah: ”menyandarkan diri
kepada Allah SWT dalam menghadapi setiap kepentingan, bersandar
kepada Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati ketika ditimpa bencana,
dengan jiwa yang tenang dan hati yang tentram.”
Kisah berikut mungkin akan memperjelas pengertian serta konsep
tawakal yang benar menurut ajaran Islam.
Suatu ketika, ada seseorang yang datang ke masjid dengan
membawa unta. Sesampainya di halaman masjid, unta tersebut dibiarkan
saja tanpa diikat. Lalu, Nabi Saw. bertanya, ―mengapa tidak kamu ikat
untamu itu?‖ Orang tersebut menjawab, ‖aku telah bertawakal kepada
Allah.‖ Lalu Nabi Saw bersabda: ‖Ikatlah terlebih dahulu (untamu),
setelah itu bertawakallah‖.
Dari kisah tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa
pengertian tawakal menurut ajaran Islam adalah penyerahan diri atas
segala urusan kepada Allah, setelah sebelumnya didahului ikhtiar.
Dengan demikian konsep yang benar tentang tawakal adalah
berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, ketika seluruh daya dan
upaya telah dikerahkan melalui proses ikhtiar.
Orang yang bertawakal, harus mengembalikan masalah yang
dihadapinya kepada Allah setelah benar-benar berikhtiar. Ia berserah diri
karena memang semua usaha sudah dilakukan secara maksimal. Apapun
hasil akhir dari ikhtiar yang telah dilakukannya, akan diterimanya dengan
sikap tawakal.

20
Orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan yang sungguh-
sungguh dalam bertawakal kepada Allah tentu akan selalu berusaha
bersikap atau berprilaku takwa. Jika dia Istiqamah dalam ketakwaannya,
pasti Allah akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan
keperluannya.
Ironisnya, banyak orang yang keliru memahami konsep tawakal.
Mereka mengira bahwa tawakal itu adalah pasrah bongkokan,
menyerahkan semua urusannya kepada Allah, tanpa diiringi dengan
ikhtiar. Sehingga, banyak dari mereka yang menginginkan hidup
berkecukupan secara ekonomi, tetapi tidak mau bekerja. Ada yang ingin
menguasai suatu cabang ilmu tertentu, tetapi tidak mau belajar, hanya
mengharap wangsit dari langit. Dan ada pula yang terus menerus
berharap mendapatkan jodoh yang baik, sesuai dengan kriterianya,
tetapi tidak ada usaha untuk mendapatkannya. Ini semua adalah
pemahaman yang salah.
Mereka salah memahami ayat yang menyatakan,

       

―Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya.‖ (Q.S. al-Thalaq: 3)

Dalam ayat ini Allah berjanji akan memberikan kecukupan kepada


orang-orang yang bertawakal, termasuk dalam hal rizki. Apakah
kemudian seseorang yang berdiam diri, tidak ada usaha untuk
menjemput rizki, tidak bekerja, lalu tiba-tiba memperoleh rizki dari
langit? Apakah orang yang berharap mendapat jodoh tetapi tidak pernah
berusaha mendapatkannya akan menemukan jodohnya? Tentu tidak
demikian. Orang yang ingin terpenuhi kebutuhannya harus bekerja, sama
halnya orang yang ingin punya istri atau suami tentu harus berusaha
untuk mendapatkannya. Jadi, Allah memberikan rizki kepada seseorang
jika dia mau berusaha mencarinya dengan kerja keras. Pun demikian

21
halnya, Allah akan memberikan jodoh kepada seseorang jika dia mau
berusaha untuk mendapatkannya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah
dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian
seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi dengan perut
kosong dan pulang sore dengan perut kenyang”. (HR. al-Tirmidzi)
Hadis ini menerangkan bahwa binatang saja, dalam hal ini burung,
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus pergi dari sarangnya di pagi
hari, dan baru kembali ke sarangnya di sore hari. Burung tidak tinggal
diam di sarang menunggu makanan datang dari langit. Dia berusaha
untuk menjemput rizki Allah. Dan Allah pun memberikan rizki kepadanya.
Apalagi manusia, yang dikarunia akal dan kelebihan lainnya, tentu
harus lebih giat lagi usaha untuk mendapatkan rizki dari Allah. Tidak
mungkin hanya dengan berdiam diri di rumah tanpa ada usaha untuk
mencari atau menjemput rizki, Allah akan menurunkannya dari langit.
Sesuatu yang mustahil terjadi. Allah akan menghargai kerja keras
hambanya dalam mencari dan menjemput rizki-Nya.
Inilah sesungguhnya konsep tawakal yang benar menurut ajaran
Islam. Usaha maksimal disertai doa, kemudian hasil akhir diserahkan
sepenuhnya kepada Allah. Inilah tawakkal. Singkatnya, ikhtiar adalah
awal perjalanan, sementara tawakkal adalah akhir dari perjalanan.
Dengan demikian, tawakal adalah salah satu bentuk berpikir positif
yang diajarkan Islam. Sesuai hukum alam, pikiran positif akan
menghasilkan sesuatu yang positif pula.
Berikut saya sebutkan beberapa dampak positif yang dihasilkan oleh
sikap tawakal:
1. Perwujudan dari keimanan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
2. Menguatkan jiwa dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
3. Mendatangkan ketenangan jiwa.
4. Melahirkan kepuasan batin.
5. Menumbuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu kembali kepada Allah.

22
 Mendirikan Shalat
Perbedaan mendasar antara orang mukmin dengan orang kafir
adalah shalat. Jika seseorang meninggalkannya, maka dia telah kafir.
Demikian disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Saw.
Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 3 yang penulis sebut di awal tulisan ini,
secara jelas Allah menunjukkan bahwa diantara ciri seorang mukmin
yang sesungguhnya adalah mendirikan shalat.
Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud dari
mendirikan shalat pada ayat ini adalah melaksanakan shalat baik secara
lahir maupun batin. Secara lahir, yakni dengan memenuhi syarat dan
rukun shalat, melaksanakannya dengan penuh khusyu dari awal hingga
akhir shalat. Adapun secara batin maknanya adalah ada dampak positif
dari ibadah shalat yang dilakukan, yakni mampu mencegah seseorang
dari perbuatan keji dan munkar.
Dengan demikian, ibadah shalat yang dilakukan seorang mukmin
tidak sekedar menggugurkan kewajiban, tetapi memberi makna yang
sangat dalam, yakni mampu memberi pengaruh positif dalam kehidupan
sehari-hari yang dijalaninya.
Mari kita sejenak melihat kenyataan yang ada. Banyak di antara
kita, atau mungkin diri kita sendiri, yang begitu rajin menjalankan shalat,
tetapi tidak ada dampak sedikit pun dari shalat yang mereka atau kita
lakukan.
Setiap saat panggilan suara adzan berkumandang, banyak di
antara kita yang bergegas untuk memenuhi panggilan tersebut. Kita
bersegera menemui sang Khalik untuk beraudiensi dan berkomunikasi
dengan-Nya. Tetapi setelah shalat usai dikerjakan. Tidak sedikit di antara
kita yang juga bergegas dan bersegera memenuhi panggilan nafsu
duniawi kita, panggilan hasrat materi kita, yang tidak jarang sangat
bertolak belakang dengan nilai-nilai shalat yang kita kerjakan.
Ketika berada di dalam masjid, di tempat-tempat ibadah, di
majelis-majelis ilmu, kita terlihat begitu khusyu dan serius menjalankan
ibadah, mengkaji ilmu agama, mendengarkan tausiyah dari para ustadz.
Tetapi begitu kita berada di luar masjid, jauh dari tempat ibadah, tidak

23
berada di majelis ilmu, begitu mudahnya kita melakukan perbuatan yang
jauh dari nilai-nilai agama, bahkan melanggar aturan agama.
Bagaimana sikap, perilaku dan ucapan kita ketika berada di
pasar, di kantor, di jalan, di tempat-tempat umum, apakah sudah
mencerminkan nilai-nilai ibadah shalat kita? Hanya kita yang bisa
menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban atas pertanyaan tersebut
adalah cerminan dari kualitas keimanan kita. Seberapa besar tingkat
keimanan kita, bisa diukur setidaknya dari perilaku, sikap serta ucapan
kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika perilaku, sikap serta ucapan kita
menunjukkan nilai-nilai ibadah shalat yang kita lakukan, maka berarti
kita sudah benar-benar mendirikan shalat. Tetapi jika tidak, maka kita
belum menjadi mukmin yang sesungguhnya.

 Membiasakan sedekah
Ciri khas seorang mukmin sejati lainnya, yang termaktub dalam
Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 3 tersebut adalah kebiasaannya untuk
menyalurkan sebagian rezeki yang dimilikinya di jalan Allah. Kebiasaan
berinfak untuk kepentingan agama dan sosial menjadi ciri khas seorang
mukmin sejati. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain, berupa memberi
sedekah kepada orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin serta
anak-anak yatim adalah salah satu sikap mulia seorang mukmin sejati.
Dalam Q.S. Ali Imran: 133-134 disebutkan bahwa di antara ciri
orang bertakwa (muttaqin) adalah orang yang gemar berinfak,
bersedekah di jalan Allah, berbagi rezeki dengan orang-orang yang
membutuhkan, baik di saat lapang maupun sempit.
Allah Swt memberikan kelimpahan pahala bagi orang-orang yang
mau menafkahkan hartanya di jalan Allah. Dalam Q.S. Al-Baqarah: 261
Allah Swt menegaskan,

            

             

24
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di
jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh
butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji. Allah melipat gandakan
bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas karunia-
Nya dan Maha Mengetahui.”

Kebiasaan sedekah ini akan menjadikan seseorang jauh dari sikap


kikir dan tamak. Dia akan selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah
berikan kepadanya. Dia tidak akan merasa bahwa harta kekayaan yang
dimilikinya adalah murni miliknya. Dia sadar sepenuhnya bahwa semua
yang dimilikinya hanyalah titipan Allah yang bersifat sementara, yang
suatu saat bisa saja hilang dan pasti akan dia tinggalkan. Dia akan
menjaga amanat Allah itu dengan sebaik-baiknya, sehingga kelak ketika
dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah, dengan penuh percaya
diri dia akan mempertanggung jawabkan amanat yang telah diembankan
kepadanya.
Dalam banyak riwayat hadits juga disebutkan bahwa sedekah
adalah cara paling ampuh untuk melindungi diri kita dari segala mara
bahaya yang setiap saat dapat menimpa kita. Dalam salah satu
sabdanya, Rasulullah Saw menyatakan, “Sesungguhnya sedekah itu
dapat memadamkan kemarahan Allah dan menolak ketentuan yang
buruk.” (HR. Tirmidzi)
Penulis ingin berbagi sebuah kisah nyata berkaitan dengan
masalah sedekah ini, yang dampaknya seperti disebutkan hadis di atas,
yaitu mampu menolak ketentuan yang buruk.
Kisah nyata ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya pada
akhir ramadhan. Dalam kisah yang akan penulis ceritakan nanti, terlihat
jelas bahwa sedekah mampu mengubah takdir, menyembuhkan penyakit
yang menurut perhitungan medis sudah tidak dapat diobati sama sekali.
Adalah tetangga penulis, sebut saja namanya Hj. Hamidah. Beliau
sudah menderita sakit yang cukup parah, yaitu kanker otak studium tiga.
Beliau sudah berobat ke sana ke mari, dari satu rumah sakit ke rumah

25
sakit lain. Dan terakhir, beliau dirawat cukup intensif di sebuah rumah
sakit ternama di Jakarta.
Setelah melalui perawatan di rumah sakit tersebut selama
beberapa bulan. Alih-alih membaik, justru kondisi penyakit Hj. Hamidah
semakin parah. Dari hasil pemeriksaan dokter, disimpulkan bahwa
kondisi kanker yang diderita beliau sudah menjalar ke seluruh tubuh.
Dokter hanya mengatakan kepada anggota keluarga yang
mendampinginya bahwa secara medis, sudah tidak ada lagi yang bisa
dilakukan. Kemudian dokter menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada
keluarga pasien. Apakah tetap mau dirawat dengan hasil pemeriksaan
yang sudah dijelaskan, ataukah mau dibawa pulang.
Kemudian pihak keluarga pasien pun bermusyawarah. Hasil dari
musyawarah tersebut menyatakan bahwa lebih baih baik tetap dirawat di
rumah sakit, dengan penanganan dokter, sambil mencari solusi alternatif
lainnya.
Di tengah kondisi yang demikian kritis, ternyata ada inisiatif dari
pasien, yang masih bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga yang
mendampinginya. Beliau, yang kebetulan adalah orang kaya dan memiliki
beberapa hektar sawah di kampungnya, berniat untuk mewakafkan satu
hektar sawahnya untuk diberikan kepada sebuah lembaga pendidikan
Islam di daerahnya.
Akhirnya, pihak keluarga yang tengah mendampingi pasien di
Jakarta menghubungi keluarga yang ada di kampung dan menceritakan
maksud baik sang pasien.
Singkat cerita, pihak keluarga di kampung kemudian
mengumpulkan pengurus lembaga pendidikan tersebut dengan maksud
menyerahkan sawah dari Hj. Hamidah untuk diwakafkan.
Setelah proses ijab kabul atau serah terima dari pihak keluarga
kepada pengurus lembaga pendidikan tersebut selesai. Kemudian pihak
keluarga menghubungi kerabat yang ada di rumah sakit untuk
menginformasikan bahwa proses serah terima wakaf sudah dilaksanakan.

26
Dari sinilah kemudian sebuah keajaiban terjadi. Sungguh janji
Allah itu benar adanya. Sehari berselang dari proses serah terima wakaf
tersebut, ketika diadakan pemeriksaan kembali oleh dokter yang
menangani Hj. Hamidah, hasil yang didapatkan sungguh di luar dugaan.
Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan kepada pihak keluarga dan
pasien dengan takjub dan hampir-hampir tidak percaya. Karena, sehari
sebelumnya hasil pemeriksaan menunjukkan kanker ganas pasien sudah
menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi, sekarang hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa tidak didapatkan penyakit apa pun dalam tubuh
pasien. Subhanallah.
Dokter yang masih terheran-heran dengan hasil tersebut
kemudian melakukan pemeriksaan ulang yang lebih intensif lagi hingga
beberapa kali. Dan hasil yang didapatkan tetap sama, yaitu kondisi fisik
pasien sangat normal, tidak didapati penyakit apa pun dalam tubuhnya.
Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, akhirnya dokter pun
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang telah dilakukan
pasien atau pihak keluarga hingga bisa seperti ini. Akhirnya, pihak
keluarga pun menceritakan bahwa kemarin baru saja pasien mewakafkan
satu hektar sawahnya dikampung untuk sebuah lembaga pendidikan
Islam. Dari penjelasan pihak keluarga tersebut, sang dokter pun mafhum
bahwa keajaiban yang terjadi pada pasien karena wakaf atau sedekah
dalam jumlah besar yang telah dikeluarkannya.
Dari kisah nyata tersebut, jelaslah bahwa sedekah merupakan
salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengubah takdir.
Sungguh Allah tidak pernah ingkar janji.
Sedekah juga merupakan salah satu wujud rasa empati serta
kepedulian terhadap sesama manusia (hablun min al-nas). Dan Allah
sangat mencintai hamba-Nya yang mau berbuat baik dan menolong
sesama.
Rasulullah Saw. bersabda, “Allah akan selalu menolong hamba-
Nya, selama hamba-Nya mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Dalam kalimat lain Rasulullah Saw juga pernah menyampaikan,

27
“Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan
menyayangimu.” (HR. Bukhari)
Salah satu wujud kasih sayang kita kepada sesama adalah
dengan kesediaan kita bersedekah kepada orang-orang yang
membutuhkan. Yakinlah, bahwa sedekah yang kita berikan kepada
mereka, yakni orang-orang yang membutuhkan, selain dapat
menghadirkan kasih sayang Allah, juga secara psikologis dapat
menjadikan kita lebih bahagia.
Haidar Bagir dalam buku Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan
mengungkapkan sebuah kisah menarik, berupa percobaan sosial yang
dilakukan oleh Oprah Winfrey, seorang host ternama yang menjadi
pemandu acara ―Oprah Show‖. Dia mengumpulkan sekitar 100 orang
untuk melakukan sebuah percobaan tentang dampak berbagi (sedekah).
Mereka diminta menabung sebagian uang yang biasa digunakan untuk
rekreasi. Tabungan tersebut kemudian diberikan kepada orang-orang
yang membutuhkan. Beberapa bulan kemudian, 100 orang tersebut
dikumpulkan dan ditanya, apakah ada yang berubah dalam kehidupan
mereka? Jawabannya, mereka merasakan bahwa hidup mereka lebih
bahagia setelah berbagi dengan orang lain.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa berbagi rezeki, memberi
bantuan, serta menolong orang lain akan melahirkan kebahagiaan dalam
diri kita.
Hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah Saw. Suatu ketika
Rasulullah saw ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Beliau
menjawab, "Memasukkan rasa bahagia pada seorang Mukmin, kamu
menghilangkan rasa laparnya, menutupi ketelanjangannya, dan
memenuhi kebutuhannya. (HR. Thabrani)
Dengan demikian, mukmin sejati adalah mereka yang senang
memberi pertolongan yang membutuhkan, mengulurkan bantuan kepada
mereka yang tengah dihimpit persoalan, memberi kemudahan kepada
mereka yang sedang ditimpa kesulitan, serta menghadirkan kedamaian
kepada mereka yang tengah dilanda kemalangan. Intinya, mukmin sejati

28
adalah mereka yang selalu menghadirkan rasa bahagia kepada orang
lain.

Mukmin itu Menakjubkan!


Suatu ketika Rasulullah Saw menyatakan, “Sungguh
menakjubkan kondisi orang beriman! Semua urusannya baik. Dan yang
demikian tidak dapat dirasakan oleh siapa pun selain orang beriman. Jika
ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik
baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. Dan bersabar
itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan, ada dua hal yang menjadikan seorang
mukmin itu menakjubkan. Dan dua hal itu tidak dimiliki oleh selain
mukmin. Kedua hal tersebut adalah: syukur dan sabar.
Ya, syukur dan sabar adalah kata kunci yang menjadikan seorang
mukmin istimewa di hadapan Allah Swt. Dalam sejumlah ayat-Nya, Allah
Swt berulang kali menyebut dua sikap ini sebagai kunci kebahagiaan di
dunia dan akhirat.
Dalam Q.S Ibrahim: 7 Allah Swt. menegaskan,

          

 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya


jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat)
kepada-Mu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
pasti azab-Ku sangat berat.”

Pada ayat tersebut, sikap syukur menjadi kunci kebahagiaan,


yaitu berupa ditambahnya nikmat Allah. Seorang mukmin adalah orang
yang pandai bersyukur atas nikmat Allah. Dia tidak pernah mengeluh,
apalagi mempertanyakan keadilan Allah tentang nikmat. Dia selalu
bersyukur dalam segala kondisi. Dia sadar betul bahwa apa yang
diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik menurut Allah.

29
Dalam QS. Al-Baqarah: 172 disebutkan,

          

   

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang


baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah
kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu
menyembah.“
Pada ayat ini, Allah Swt. menunjukkan bahwa salah satu bukti
kesungguhan seorang hamba menyembah Allah adalah dengan
bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
Rasulullah Saw, dalam salah satu hadisnya menyatakan,
“Setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan memuji Allah, maka
tidak sempurnalah perbuatan itu.” (HR. Abu Dawud)
Dari beberapa keterangan ayat dan hadis di atas, jelaslah bahwa
syukur adalah cara paling efektif untuk meraih kebahagiaan hidup berupa
kelimpahan nikmat serta karunia-Nya. Syukur juga menjadi bukti nyata
kesungguhan seorang hamba beribadah serta mengabdi kepada Allah.
Adapun berkaitan dengan sabar, yang juga merupakan ciri
seorang mukmin sejati, sejumlah ayat dan hadis menjelaskannya dengan
gamblang.
Dalam Al-Qur‘an banyak ayat yang berbicara mengenai
kesabaran. setidaknya ada 103 kali kata sabar disebut dalam Al-Qur‘an,
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sabar bagi seorang mukmin di
hadapan Allah Swt.
Di dalam Q.S. Al-Baqarah: 153 Allah Swt menyatakan,

           

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada


Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar.”

30
Pada ayat 155-157 Q.S. Al-Baqarah diberitakan kabar gembira
bagi orang-orang yang sabar.

        

           

           

  

“...Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang


sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk.”

Dalam ayat lain di Q.S. Al-Baqarah: 177, Allah Swt memuji


orang-orang yang sabar:

          

   

“…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan


dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar
imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S.
Al-Baqarah: 177)

Berkaitan dengan masalah sabar ini, Rasulullah Saw menegaskan


dalam sejumlah hadisnya. “…Dan kesabaran merupakan cahaya yang
terang…” (HR. Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, “…dan tidaklah

31
seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada
kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
Sejumlah ayat dan hadis yang berbicara tentang masalah sabar
tersebut menunjukkan bahwa sikap sabar merupakan sikap mulia yang
sangat dicintai Allah. Sikap sabar ini juga menunjukkan bahwa seorang
hamba menyadari keterbatasan dirinya. Dia mengakui bahwa ada Dzat
yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seseorang yang bisa bersikap
sabar akan menyadari bahwa manusia hanya berusaha, Allahlah yang
menentukan. Dengan sikap sabar ini, maka seorang hamba akan benar-
benar menjalin kedekatan emosional dengan Sang Khalik, yakni Allah
Swt.
Kedua sikap yang penulis uraikan ini, yakni syukur dan sabar,
menjadikan seorang mukmin istimewa di hadapan Allah. Syukur dalam
segala kondisi, baik dalam lapang maupun sempit, serta sabar dalam
setiap keadaan, baik dikala mudah ataupun sulit.

Engkau Beriman, Maka Engkau Diuji

          

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya


dengan mengatakan: "Kami telah beriman", dan mereka tidak
diuji?” (Q.S. Al-Ankabut: 2)

Di antara cara Allah untuk membuktikan keimanan seseorang


adalah dengan menghadirkan ujian kepadanya. Ya, ujian adalah salah
satu cara untuk megukur kadar keimanan seseorang.
Rangkaian ayat ke-2 dalam Q.S. Al-Ankabut di atas menegaskan
hal tersebut. Setiap orang yang telah mengikrarkan diri bahwa dia
seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji oleh Allah Swt dengan
beragam bentuk ujian untuk membuktikan keimanannya tersebut.
Ada orang yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji
dengan sakit yang tak kunjung sembuh. Ada yang diuji dengan
ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Ada yang diuji dengan

32
sulitnya mendapatkan jodoh. Dan ada pula yang diuji dengan tidak
memiliki keturunan.
Beraneka ragam bentuk ujian yang Allah hadirkan kepada setiap
manusia yang mengatakan dirinya beriman kepada Allah tersebut,
merupakan cara untuk mengukur seberapa besar dan seberapa tinggi
tingkat keimanannya.
Menyikapi beragam ujian tersebut, ada orang yang tetap teguh
pada keimanannya. Alih-alih mengeluh, meratapi nasib, mengutuk
keadaan, menyesali kondisi yang tengah dialaminya, dia justru menjadi
seorang mukmin yang semakin kuat dan tangguh keimanannya. Dia
yakin sepenuh hati bahwa beragam ujian yang Allah hadirkan
mengandung hikmah serta pelajaran berharga dalam hidupnya. Kesulitan
ekonomi yang dialaminya, justru menjadikannya semakin rajin dan giat
berusaha dengan terus berdoa kepada Allah untuk diberikan kelapangan
rezeki. Kehilangan orang-orang yang dicintainya justru menyadarkannya
bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Karena setiap
manusia pasti akan meninggalkan dunia fana ini. Sakit yang dideritanya,
semakin meanambah keimanannya. Karena dia juga yakin bahwa dengan
sakitnya itu Allah mengajarkan betapa manusia tidak punya daya dan
kekuatan apa pun selain kekuatan yang Allah berikan kepadanya.
Kesulitan dalam menadapatkan pasangan hidup, menjadikan seorang
mukmin sadar bahwa Allahlah yang menentukan segalanya. Dan
ketidakhadiran buah hati yang dinanti selama ini menjadikannya semakin
kuat beribadah kepada Allah dan menyerahkan semua urusannya
kepada-Nya. Dia menyadari bahwa tidak mudah menjaga amanat. Dia
berbaik sangka kepada Allah dengan meyakini setulus hati bahwa pasti
ada rencana terbaik yang telah Allah siapkan untuknya.
Di sisi lain, ada orang yang menyikapi segala ujian dan cobaan
yang menimpanya dengan mengeluh, meratapi keadaan, mengutuk
nasib, bahkan tidak jarang mempertanyakan keadilan Allah. Dia tidak
sabar dengan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedih
berkepanjangan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya, terus
berkeluh kesah dengan sakit yang dideritanya, menyesali sulitnya

33
mendapatkan jodoh, serta menggugat keadilan Allah karena tidak
hadirnya keturunan. Dia berburuk sangka kepada Allah. Dia hanya fokus
melihat sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak memperhatikan apa yang
telah dimilikinya. Padahal, kalau dia mau berpikir jernih, nikmat yang
telah Allah berikan kepadanya jauh lebih besar daripada ‗kekurangan‘
yang ada padanya. Seandainya dia menghitung nikmat Allah yang sangat
besar itu, pasti dia tidak akan bisa menghitungnya. Kalaulah dia mau
terus menerus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya,
maka pasti Allah akan menambah nikmat-Nya kepadanya.
Inilah dua kondisi berbeda dalam menyikapi ujian dan cobaan
hidup, yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dua kondisi
tersebut mencerminkan tingkat keimanan seseorang.
Mereka yang tetap teguh (istiqamah) pada keimanannya,
meskipun badai ujian dan cobaan datang silih berganti menghadangnya,
akan semakin tinggi kualitas keimanannya. Malaikat akan ‗turun‘
membantunya dan memberinya kabar gembira atas usahanya
mempertahankan keimanan dalam dirinya.

           

       

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami


ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka
(istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa
sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.” (Q.S. Fushshilat: 30)

Sedangkan mereka yang berputus asa atas ujian yang


menimpanya, Allah samakan mereka dengan orang-orang kafir yang
terputus dari rahmat Allah.

34
               

"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.


Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan
kaum yang kafir." (Q.S. Yusuf: 87).

Diriwayatkan dari Ibn ‗Abbas r.a., bahwa ada seorang lelaki yang
berkata: "Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?" Rasulullah saw.
menjawab, 'Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan
berputus asa dari rahmat Allah'." (HR. Al-Bazzar)
Dari sejumlah ayat dalam al-Qur‘an, dapat dipahami bahwa
ketika Allah menghadirkan ujian dan cobaan kepada manusia, pada
hakekatnya Allah sedang melihat siapa di antara mereka yang paling baik
amalnya.

            

―Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,


siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun.‖ (QS. Al Mulk: 2)

Fudhail bin ‗Iyadh ketika memaknai kalimat “ahsanu „amalan”,


mengatakan bahwa maksudnya kalimat tersebut adalah ashwabuhu wa
akhlashuhu, yaitu yang paling benar dan ikhlas amalnya.
Dalam ayat lain disebutkan,

            

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji


kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu
dikembalikan." (Q.S. al-Anbiya': 35).

35
Ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah, "Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan", mengatakan
bahwa Allah Swt akan menguji kita, kadang-kadang dengan musibah-
dan kadang-kadang dengan kenikmatan, sehingga Allah akan melihat
siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan
siapa yang berputus asa. Hal ini sesuai yang ditegaskan oleh Ibnu Abbas
r.a., "Kami akan menguji kamu dengan kesusahan dan kemakmuran,
kesehatan dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram,
ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan."
Dengan sejumlah keterangan tersebut di atas, jelaslah bahwa
ujian pasti akan datang dalam beragam bentuk kepada setiap manusia,
lebih-lebih kepada mereka yang telah mengikrarkan diri beriman kepada
Allah Swt.
Dari beragam ujian dan cobaan tersebut, dapat diketahui siapa di
antara manusia yang paling baik amalnya, yaitu siapa yang paling teguh
menjaga keimanannya, dan siapa yang mudah goyah bahkan runtuh
keimanannya.
Ingatlah bahwa karena engkau telah menyatakan diri sebagai
orang yang beriman, maka engkau pasti akan diuji. Demikian kira-kira
pesan al-Qur‘an kepada kita.

Dengan Iman Hidup Menjadi Terarah


Iman, hemat penulis, laksana kompas yang akan menunjukkan
arah dan tujuan hidup seseorang. Dengan iman, seseorang akan
menjalani hidup ini dengan penuh kehati-hatian. Dia tidak akan berani
mengambil jalan hidup yang tidak sesuai dengan yang telah ditunjukkan
oleh imannya. Dia khawatir, jika mengambil jalan yang melenceng dari
jalan iman, maka dia tidak akan sampai pada tujuan utama yang hendak
dicapainya, yakni kebahagiaan hidup di akhirat kelak.
Iman akan menjadi guide yang akan mengarahkan seseorang
pada jalan yang lurus (al-shirat al-mustaqim). Iman akan membimbing
seseorang menuju jalan Allah (sabilullah). Iman akan mengantarkan

36
seseorang pada jalan-jalan kedamaian dan keselamatan (subul al-
salam).
Tanpa iman, seseorang yang berilmu bisa menjadi tinggi hati.
Tanpa iman, seseorang yang kaya bisa menjadi sombong dan bakhil.
Tanpa iman, seseorang yang tengah berkuasa akan semena-mena.
Tanpa iman, seseorang yang tengah menikmati puncak kesuksesan akan
terlena. Tanpa iman, seseorang akan mudah mengikuti bujuk rayu setan.
Tanpa iman, seseorang akan gampang tergoda tipu daya iblis. Tanpa
iman, amal seseorang akan sia-sia.
Singkatnya, tanpa iman, seseorang akan menapaki kehidupan ini
tanpa arah. Sebaliknya, dengan iman hidup menjadi terarah.

37
Langkah Kedua

38
Bekali dengan Ilmu

Kokohnya pondasi iman seseorang, tidak akan berarti banyak


tanpa dibekali dengan ilmu yang memadai. Iman adalah dasar pijakan
seseorang melangkah dan menjalani kehidupan ini. Sedangkan ilmu
adalah cahaya yang akan menerangi langkah seseorang menapaki jalan
kehidupan ini menuju tujuan akhirnya.
“Law laa al-„ilm lakaana an-naasu ka al-bahaaim”, kalaulah bukan
karena ilmu, niscaya manusia seperti binatang. Demikian bunyi sebuah
ungkapan hikmah dalam bahasa Arab, yang menunjukkan betapa
pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia.
Memang, pada kenyataannya perbedaan paling mendasar antara
manusia dengan makhluk Allah yang lain terletak pada anugerah akal
yang diberikan Allah kepada manusia. Ini yang menjadi ciri khas manusia
dibanding binatang. Binatang tidak diberi akal, hanya diberi nafsu serta
insting (naluri), sehingga binatang tidak dapat membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah,
mana yang halal dan mana yang haram.
Di sisi lain, selain dilengkapi dengan akal, manusia juga diberi
nafsu. Hal ini juga yang membedakan manusia dengan malaikat. Malaikat
hanya diberi akal tetapi tidak diberi nafsu. Sehingga pantas saja malaikat
selalu tunduk kepada perintah Allah dan tidak pernah melanggar
larangan-Nya.
Kenyataan berbeda terjadi pada manusia. Dengan memiliki dua
perangkat berupa akal dan nafsu, maka manusia dapat menjadi lebih
mulia dari malaikat, karena dia menjalankan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya dengan mengendalikan nafsunya di bawah bimbingan akal,
tetapi juga mungkin bisa menjadi lebih rendah dari binatang, ketika
nafsunya yang mengendalikan akalnya.

39
Satu lagi perangkat yang Allah anugerahkan kepada manusia
untuk menjalani hidup di dunia ini sebagai khalifah-Nya, yakni hati. Hati
ini akan menjadi penyeimbang antara akal dan nafsu. Hati ini
sesungguhnya yang menentukan setiap langkah serta tindakan manusia.
Meski, kadang-kadang, hati yang sudah dibutakan oleh nafsu tidak akan
bisa berbuat banyak. Seseorang akan menyadari kesalahannya dengan
hati yang jernih, ketika sudah merasakan dampak buruk dari perilaku
serta tidakan yang dilakukannya.
Di sinilah posisi akal berperan. Mereka yang menggunakan
akalnya dengan baik, membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang
memadai, akan berpikir beberapa kali jauh ke depan sebelum melakukan
suatu tindakan. ―Fakkir qabla an ta‟zima”, berpikirlah sebelum bertindak,
demikian petuah bijak menganjurkan.
Betapa banyak manusia yang meratap menyesali perbuatannya di
kemudian hari, setelah melakukan tindakan yang tidak sepatutnya
dilakukan. Bahkan, betapa banyak yang akhirnya mendekam di penjara
karena melakukan tindak kejahatan atau kriminal. Hal ini terjadi, karena
mereka tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik sebelum
bertindak. Penyesalan selalu datang terlambat. Sesal kemudian tiada
berguna.
Di sinilah pentingnya ilmu. Dengan ilmu, seseorang menjadi lebih
hati-hati dalam bertindak, dengan ilmu pula seseorang akan menjadi
lebih bijak dan berpikir jauh ke depan sebelum memutuskan untuk
melakukan sesuatu.

Iqra’: Wahyu Pertama yang Mencerahkan


Bagi umat Islam, perintah untuk membekali diri dengan ilmu
pengetahuan sudah didengungkan sejak empat belas abad yang lalu,
tepatnya ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah Saw.
―Iqra‟!”, bacalah! Inilah seruan pertama yang diwahyukan Allah
Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalu malaikat Jibril a.s. Dalam
sejumlah riwayat hadis sahih dijelaskan bahwa ketika Jibril a.s.
memerintahkan Nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis) untuk membaca,

40
secara jujur Nabi mengakui bahwa dirinya tidak bisa membaca.
Kemudian Jibril a.s memeluk erat tubuh Nabi dan kembali
memerintahkan Nabi untuk membaca. Nabi kemudian tetap mengatakan
bahwa dirinya tidak bisa membaca. Hal ini terjadi berulang hingga tiga
kali.
Syeikh Muhammad Abduh dalam Tafsirnya Al-Manar menjelaskan
bahwa atas kuasa (Qudrat) Allah, melalui malaikat Jibril, Nabi diyakinkan
bahwa sejak saat itu, beliau yang ummi, diberi kemampuan untuk dapat
membaca.
Senada dengan pendapat Abduh, Musthafa al-Maraghi, yang juga
merupakan murid dari Syekh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa arti
Iqra yaitu Allah menjadikan engkau (Muhammad Saw) bisa membaca
dengan kehendak-Nya yang tadinya engkau tidak bisa membaca.
Selangkapnya bunyi teks ayat tersebut adalah sebagai berikut:

            

           

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,


Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-‗Alaq: 1-5)

Dalam pandangan penulis, rangkaian ayat pada wahyu pertama


yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. tersebut
merupakan wahyu yang sangat mencerahkan.
Betapa tidak, masyarakat Arab (baca: Makkah) Pra Islam ketika
itu, yang disebut para sejarawan sebagai masyarakat jahiliyah,
masyarakat yang diliputi dengan kebodohan, baik secara akidah, ibadah
maupun ilmu pengetahuan, disadarkan dengan seruan wahyu pertama

41
yang mengajak mereka untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan
(kejahiliyahan).
Sejarawan Muslim kenamaan, Al-Thabari, serta sejarawan lainnya
memperkirakan, pada saat itu hanya ada 17 orang yang melek huruf.
Memang, masyarakat Arab pada waktu itu, menganggap belajar baca-
tulis adalah suatu hal yang sia-sia dan hanya buang-buang waktu saja.
Kondisi demikian ini yang pada gilirannya menyebabkan mereka berpikir
sempit.
Di sinilah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi
menemukan relevansi dan momentumnya.
Perintah Iqra pada ayat tersebut, dimaknai oleh para ulama tafsir
dengan beragam pengertian, diantaranya: membaca, menghimpun,
menelaah, mendalami, meneliti dan menyampaikan.
Selanjutnya, perintah membaca dalam ayat tersebut disandarkan
atas nama Tuhan. ―Iqra bismi Rabbika‖, bacalah dengan nama Tuhanmu.
Makna dari perintah ini adalah bahwa segala aktivitas yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan pada khususnya, seperti: membaca,
memahami, mengkaji dan meneliti, serta aktivitas kehidupan pada
umumnya, harus disandarkan dan diarahkan kepada Allah Swt. Apa pun
aktivitas kita, aktif maupun pasif, harus selalu diniatkan untuk
menggapai ridla Allah Swt., demikian penjelasan mantan Syekh Al Azhar,
Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Al-Qur‟an fi Syahril Qur‟an.
Perintah Iqra pada ayat tersebut diungkapkan dua kali, yaitu
pada ayat pertama dan kedua. Menurut al-Maraghi, perintah Iqra
tersebut diulang, karena membaca tidak akan bisa merasuk ke dalam
jiwa, serta tidak dapat dipahami maknanya melainkan setelah berulang-
ulang dan dibiasakan.
M. Quraish Shihab menegaskan bahwa wahyu pertama itu tidak
menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki
umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik
(dengan nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

42
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna perintah Iqra'
adalah: bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu;
bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang
tertulis maupun yang tidak.
Adapun mengenai pengulangan kalimat perintah Iqra‟ yang
disebutkan dua kali dalam rangkaian ayat tersebut, menurut M. Quraish
Shihab, bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca
tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau
membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal
kemampuan, tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-
ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan
dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga.
Demikian pesan yang dikandung kalimat Iqra' wa rabbuka al-akram
(Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).

 Membuka Jendela Dunia


―Membaca, membuka jendela dunia‖, demikian ungkapan yang
sering kita dengar berkaitan dengan pentingnya aktivitas membaca.
Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang berbunyi:
“Khairu jaliisin fi al-zamaani kitaabun”, sebaik-baik teman di setiap saat
adalah buku. Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna jika
dikaji lebih jauh.
Kita semua mafhum bahwa buku merupakan sumber informasi,
lautan ilmu dan samudera pengetahuan. Dengan meyelaminya, kita akan
mendapatkan hal-hal baru, yang mungkin tidak pernah kita ketahui
sebelumnya selama ini.
Buku ibarat belantara pengetahuan tak berujung, lautan ilmu tak
bertepi dan mayapada informasi tak berkesudahan. Siapa saja yang bisa
masuk menjelajah ke dalamnya, akan menemukan mutiara terpendam
yang tak ternilai. Dan, ketika mutiara itu sudah ditemukan, siapa saja
akan merasa ingin selalu mencari mutiara-mutiara lainnya yang masih
terpendam di balik lembaran-lembaran berjuta-juta buku lainnya.

43
Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku
pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta. Bisa dipastikan, masyarakat
suatu bangsa yang mencintai buku, menjadikannya sebagai menu wajib
yang selalu menyertai dalam aktifitas kesehariannya, membudayakan
aktifitas membaca di setiap saat, akan tampil sebagai bangsa dengan
tingkat peradaban yang tinggi.
Sebaliknya, masyarakat sebuah bangsa yang tidak menaruh
perhatian pada buku, menganggap buku sebagai hal yang remeh-temeh,
tidak membudayakan aktifitas membaca, maka bisa dipastikan, bangsa
tersebut akan menjadi bangsa terbelakang, ketinggalan informasi, gagap
pengetahuan dan miskin peradaban.
Demikian halnya dengan kualitas individu setiap orang.
Seseorang yang peduli terhadap ilmu pengetahuan, tanggap akan
pentingnya informasi, akan membekali dirinya dengan aktivitas
membaca. Dia selalu merasa haus ilmu dan informasi. Dia akan
menyediakan waktu khusus untuk aktivitas membaca ini. Dia juga akan
menyediakan dana khusus untuk membeli buku, majalah, surat kabar
dan segala hal yang berkaitan dengan sumber informasi. Orang-orang
seperti inilah yang akan terus bertahan hidup di tengah pusaran arus
modernisasi dan globalisasi. Kualitas intelektualnya menjadikan mereka
siap menghadapi tantangan zaman. Mereka ini selalu aktual dengan
kondisi zaman, bahkan mungkin kualitas intelektual yang dimilikinya jauh
melampaui zamannya.
Di sisi lain, ada orang-orang yang selalu jauh tertinggal dari
kondisi zaman. Mereka adalah orang-orang yang tidak tanggap terhadap
informasi, tidak peduli dengan ilmu pengetahuan. Mereka tidak pernah
meluangkan waktu untuk membaca. Kehidupan yang dijalaninya statis,
jalan di tempat, bahkan mundur beberapa langkah ke belakang. Zaman
yang terus bergerak maju dengan sangat cepat, tidak mereka imbangi
dengan peningkatan kualitas mental dan intelektual. Mereka gagap
teknologi, informasi dan konteks kekinian. Mereka ini bagaikan makhluk
asing yang hidup di zaman pra sejarah.

44
Singkatnya, dengan membaca, mempelajari dan mengkaji segala
hal yang ada di sekeliling kita, sebagaimana pesan wahyu pertama di
atas, maka akan terbukalah misteri alam ini, akan tersingkap segala
rahasia yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Inilah hakekat dari
membaca yang sesungguhnya. Membaca, membuka jendela dunia.

 Mencerahkan Pikiran, Memperluas Cakrawala


Bagi anda yang rajin mengunjungi toko buku terbesar di
Indonesia, yang memiliki jaringan luas di seluruh pelosok nusantara ini,
tentu tidak asing dengan istilah ―enlightening minds expanding horizons”.
Ya, itu adalah tagline dari Gramedia Bookstore.
Jika diterjemahkan secara bebas, maka arti kalimat tersebut
adalah ―Mencerahkan Pikiran, Memperluas Cakrwala‖. Sebuah ungkapan
singkat namun sarat makna jika kita kaji lebih jauh.
Membaca adalah aktivitas yang akan menjadikan seseorang
menyadari betapa dunia ini begitu luas. Betapa ilmu pengetahuan di
jagad raya ini tak bertepi dan tak berkesudahan. Semakin seseorang
rajin membaca, semakin dia menyadari betapa bodohnya dia. Semakin
seseorang menyadari kebodohannya, semakin pudarlah keangkuhan dan
kesombongannya. Pada gilirannya, semakin seseorang rajin membaca,
semakin tercerahkan pikirannya, semakin luas wawasannya, semakin
kaya pengalamannya. Selanjutnya, semakin intensnya aktivitas
membaca, semakin menjadikan seseorang bersikap dewasa, serta
semakin bijak perilakunya.
Kenyataan berbeda akan kita jumpai pada orang yang malas
membaca. Semakin seseorang malas membaca, semakin merasa pintar
dia, semakin tampak kesomobongannya. Padahal, hakekatnya, ibarat
kata pepatah, ―tong kosong nyaring bunyinya‖, atau ―air beriak tanda tak
dalam‖. Merasa pintar dan sombong justru menunjukkan kebodohannya.
Sok pintar dan sombong itu adalah cara seseorang untuk menutupi
kekurangannya.

45
―Bagaikan katak di dalam tempurung‖, demikian ungkap pepatah
lainnya. Dunia yang begitu luasnya tidak pernah disadarinya, karena si
katak hanya hidup di dalam ruang sempit, dibatasi oleh tempurung. Jadi
dia beranggapan bahwa kehidupan ini hanya seluas tempurung yang
membatasinya itu. Padahal, kehidupan di luar sana sungguh luas dan tak
terbatas.
Aktivitas membaca akan menjadikan seseorang tercerahkan
pikirannya serta terbuka wawasannya. Dengan membaca, seseorang juga
akan luas cakrawalanya, kaya pengalamannya, serta tumbuh
kedewasaannya.
Bagi seorang muslim, membaca seharusnya menjadi aktivitas
harian. Karena, seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, bahwa wahyu
yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Iqra! Bacalah!
carilah pengetahuan, gali informasi, perkaya diri dengan ilmu, lepaskan
diri dari belenggu kebodohan!
Tafsir bebas dari wahyu pertama tersebut adalah bahwa seolah-
olah Allah menyeru kepada setiap manusia: ―Hai manusia, janganlah
kamu menjadi orang yang bodoh dan tidak berpengetahuan. Jadilah
kalian semua orang-orang yang berilmu. Karena dengan ilmu
pengetahuan, maka kalian akan menjadi mulia dan terhormat!‖
―Bacalah dengan nama Tuhanmu!‖, artinya belajarlah beragam
ilmu pengetahuan dengan jalan membaca dengan didasari keimanan dan
ketakwaan kepada Allah. Sehingga ilmu yang kelak didapatkan bisa
memberi manfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.
Khususnya bagi umat Islam. Hendakanya membaca al-Qur‘an
setiap hari disertai terjemahnya. Pahami isinya, hayati maknanya,
kemudian praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur‘an adalah bacaan mulia. Di dalamnya terkandung
beraneka macam ilmu pengetahuan. Lembar demi lembar al-Qur‘an akan
menghadirkan beragam ilmu serta pelajaran bagi umat manusia. Dari
mulai sejarah kehidupan umat-umat terdahulu, kehidupan dan
perjuangan para nabi dan rasul dalam menegakkan ajaran tauhid, kisah-
kisah penuh hikmah dari orang-orang saleh, pelajaran berharga dari

46
mereka yang membangkang dan berakhir dengan kehancuran, beraneka
ragam ilmu pengetahuan alam; tentang bumi, langit, gunung, lautan
juga angkasa raya serta planet-planet di tata surya kita.
Al-Qur‘an juga menjelaskan kepada kita tentang masalah hukum,
baik yang berkaitan dengan hukum ibadah ritual-individual, maupun
ibahadah sosial berupa mua‘amalah, hubungan antar manusia. Al-Qur‘an
juga berbicara tentang masalah akhlak, jiwa manusia (psikologi), dan
juga tentang masalah sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga masalah
kesehatan. Tidak lupa juga al-Qur‘an berbicara tentang masa depan, dari
mulia kiamat, kondisi di alam kubur (barzakh), hari kebangkitan (yaum
al-ba‟ts), hari perhitungan (yaum al-hisab), surga dan neraka, hingga
keadaan di akhirat nanti. Kesemua hal tersebut dijelaskan dalam al-
Qur‘an. Maka tepatlah jika al-Qur‘an kemudian disebut dengan istilah
kitab petunjuk (al-huda), penawar (asy-syifa‟), nasihat (al-mau‟izah),
penjelas (al-bayan), mulia (al-majid), dan istilah-istilah lainnya sesuai
dengan fungsi dan peran al-Qur‘an dalam kehidupan ini.
Dengan membaca al-Qur‘an serta memahami maknanya,
seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menjalani hidup dan
kehidupan ini, serta ketenangan batin dan ketentraman jiwa.
Tidak cuma membaca al-Qur‘an, bahkan sekedar mendengarnya
saja pun dapat melahirkan ketenangan batin serta ketentraman jiwa
pendengarnya. Hal ini sebagaimana dibuktikan oleh sejumlah penelitian
ilmiah baru-baru ini.
Adalah Dr. Al-Qadhi, peneliti dari Amerika Serikat, melalui
penelitian ilmiahnya yang panjang di klinik besar Florida, AS, berhasil
membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Quran
seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun tidak, dapat
merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Lebih lanjut menurut Dr. Al-Qadhi, pengaruh umum yang
dirasakan oleh orang-orang yang menjadi objek penelitiannya, setelah
mereka mendengarkan bacaan al-Qur‘an adalah penurunan depresi,
kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, serta menangkal berbagai
macam penyakit.

47
Penelitian dokter ahli jiwa ini ditunjang dengan bantuan peralatan
elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung,
ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.
Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran
berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan
penyembuhan penyakit. (Dikutip dari indonesiarayanews.com)
Jauh sebelum penelitian terbaru tentang efek bacaan al-Qur‘an
tersebut, dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan pada
Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984 silam,
disimpulkan bahwa Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan
sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Penelitian lain tentang manfaat membaca al-Qur‘an, seperti
dilansir oleh indonesiarayanews.com, dilakukan oleh Muhammad Salim
yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya adalah 5
orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang
tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak
diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya yaitu, Al-Qur‘an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi,
yakni membacakan Al-Quran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab
yang bukan dari Al-Quran. Dari riset tersebut, responden mendapatkan
ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Quran dan
mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab
yang bukan dari Al-Qur‘an.
Suatu karunia yang sangat besar bagi umat Islam dengan
memiliki pedoman hidup, yakni al-Qur‘an. Disamping membacanya
adalah ibadah yang bernilai pahala, memahami maknanya, serta
menagamalkan isinya, akan menghadirkan ketenangan jiwa dan
keberkahan hidup.
Membaca, mendengar, menghayati serta mengamalkan nilai-nilai
ajaran al-Qur‘an dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ),
emosional (EQ), serta spiritual (SQ).

48
 Posisi Mulia Ilmuwan (Ulama)
Ada sebuah kalimat hikmah (bijak) yang menyebutkan, “al-„alimu
kabirun wa in kana shaghiran, wa al-jahilu shagirun wa in kana
syaiykhan. Orang yang berilmu itu besar, mulia kedudukannya, meskipun
usianya masih muda. Sedangkan orang yang tidak berilmu (bodoh) itu
kecil dan rendah kedudukannya, meskipun usianya sudah tua.
Dalam Q.S. Al-Mujadilah: 11, Allah Swt. menegaskan bahwa
posisi seorang ilmuwan--- dalam bahasa agama sering disebut dengan
istilah ulama--- yang dilandasi dengan pondasi keimanan yang kuat
sangat tinggi dan mulia di sisi Allah.

            

 
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Betapa mulia dan tingginya derajat orang-orang mukmin yang


berilmu, hingga Allah pun menyebutkan dalam firman-Nya ini.
Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, dan
menempatkan posisi ilmuwan pada tingkatan yang utama. Sejumlah
ayat al-Qur‘an dan hadits menegaskan hal itu.

        

"Katakanlah: “Apakah sama orang yang berilmu dengan orang


yang tidak berilmu?"‖ (QS. Az Zumar:9).

      

"Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang


melihat?"” (QS. Al An'am:50).

49
      

"Katakanlah: “Apakah sama kegelapan dengan cahaya?"” (Ar


Ra'd:16).
Pertanyaan retorik dalam rangkaian ayat-ayat tersebut memiliki
satu jawaban yang pasti: Tentu tidak sama antara orang berilmu dan
tidak, antara orang buta dan melihat, antara gelap dan cahaya.
Ibnul Qayyim al-Jawziyah rahimahullah dalam Miftah Dar al-
Sa‟adah menjelaskan bahwa Allah Swt. menafikan unsur kesamaan
antara ulama dengan selain mereka, sebagaimana Allah menafikan unsur
kesamaan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Dalam Q.S. Az-
Zumar:9 dikatakan,

         

“Katakan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan


orang yang tidak berilmu.”

Dalam Q.S. al-Hasyr: 20 Allah menegaskan,

           

“Tidak sama antara penduduk neraka dan penduduk surga”.

Hal ini menunjukkan tingginya posisi ulama dan kemuliaan


mereka.
Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw juga menegaskan,
“Ulama adalah pewaris para Nabi”. (HR. Tirmidzi). Menurut Al-Hafidz Ibn
Hajar al-‗Asqalani, hadis ini dikuatkan oleh ayat yang berbunyi,

        

50
―Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang
Kami pilih di antara hamba-hamba kami.‖ (Q.S. Fathir: 32).

Yang dimaksud dengan kalimat orang-orang yang Kami pilih


dalam ayat tersebut adalah para ulama.

Kemuliaan lainnya dari ulama adalah bahwa mereka merupakan


hamba-hamba Allah yang selalu takut kepada-Nya. Dan ini menjadi ciri
khas orang-orang yang berilmu. Q.S. Fathir: 28 menjelaskan hal
tersebut,

      

―Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-


Nya, hanyalah ulama‖.

Adapun pada kenyataannya, banyak di antara orang-orang yang


memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, tetapi perilaku mereka justru
jauh dari rasa takut kepada Allah, maka sesungguhnya mereka itu,
menurut para ulama, bukanlah ilmuwan atau ulama yang sebenarnya.
Bahkan, Imam al-Ghazali, menyebut para ulama yang sikapnya justru
jauh dari nilai-nilai ajaran agama, jauh dari rasa takut kepada Allah
dengan istilah „ulama su‟ (ulama jahat).
Imam al-Ghazali dalam Ihya‟ „Ulumuddin membagi ulama menjadi
dua kategori, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah
ulama yang ‗menjual‘ ilmunya untuk ‗membeli‘ kenikmatan duniawi.
Sedangkan ulama akhirat adalah ulama yang ‗menanam‘ ilmunya untuk
‗menuai‘ kebahagiaan akhirat. Dunia dalam pandangan ulama akhirat
hanya sebagai alat (wasilah), bukan tujuan. Klasifikasi ulama ini
tampaknya merujuk pada satu hadis Nabi Saw: “Manusia yang paling
berat azabnya di akhirat adalah ulama yang tidak bermanfaat ilmunya”
(HR. al-Thabrani).

51
Berdasarkan hadis tersebut di atas, maka lahirlah istilah ulama
su‘ (ulama jahat), yakni ulama yang terpedaya dan terlena oleh
kenikmatan duniawi sesaat, seperti Bal‘am bin Ba‘ura, seorang ulama
Bani Israil yang doanya mustajabah, tetapi kemudian tersesat karena
membantu kaumnya untuk mengalahkan Nabi Musa as sebagaimana
disebutkan dalam Q.S al-A‘raf: 175. Adapun istilah ulama akhirat
didasari oleh firman Allah swt Q.S. Fathir: 28 yang penulis sebut di awal
tulisan ini, ―Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-
hamba-Nya, hanyalah ulama‖.

 Investasi Tak Kenal Rugi


Investasi secara umum dimaknai sebagai penanaman suatu
modal untuk mendapatkan keuntungan. Istilah investasi ini lazim kita
jumpai dalam dunia bisnis. Ketika seseorang berharap mendapatkan
keuntungan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka salah
satu cara yang ditempuhnya adalah dengan menginvestasikan modalnya
pada suatu usaha atau bisnis tertentu. Atau, bisa juga dia
menginvestasikan modalnya untuk membeli barang-barang yang
diperkirakan nilai jualnya di masa mendatang akan selalu naik, seperti;
properti, tanah, sawah, ladang, kebun dan lain sebagainya.
Kesemua hal yang saya sebutkan di atas adalah investasi dalam
bentuk materi atau fisik. Padahal, kehidupan ini tidak melulu fisik atau
materi. Ada sisi lain dari kehidupan ini yang tidak kalah pentingnya,
bahkan lebih penting dari yang bersifat materi atau fisik tersebut, yaitu
investasi dalam bentuk non-materi, yang akan memperkaya kualitas diri
dan pribadi kita. Investasi yang saya maksud adalah ilmu.
Ya, ilmu adalah investasi tak kenal rugi. Investasi yang pasti dan
selalu akan mendatangkan keuntungan. Jika investasi harta atau modal,
sangat mungkin kita akan mengalami kerugian karena banyak hal. Bisa
karena salah perhitungan, karena faktor lain seperti bencana alam,
misalnya, sehingga properti yang kita miliki rusak atau hancur. Atau juga
karena kejadian di luar prediksi kita, seperti kebakaran, misalnya,
sehingga investasi berupa materi yang kita miliki musnah, atau karena

52
perusahaan tempat kita menanamkan modal gulung tikar dan bangkrut.
Singkatnya, investasi berupa materi tidak menjamin keuntungan secara
pasti.
Sedangkan investasi non-materi, dalam hal ini ilmu pengetahuan
menjamin orang yang berinvestasinya merasakan keuntungan.
Penjelasan tentang hal ini dapat kita simak dari dialog serta diskusi
antara Imam Ali bin Abi Thalib dengan beberapa orang yang datang
kepadanya untuk menanyakan tentang perbedaan antara ilmu dan harta.
Kita semua mafhum bahwa Ali bin Abi Thalib, salah seorang
khalifah rasyidah, yang juga menantu Rasulullah Saw, dikenal sebagai
seorang alim yang cerdas dan dalam ilmunya. Rasulullah Saw. menyebut
dirinya sendiri sebagai madinatul „ilmi (kota ilmu), sedangkan Ali bin Abi
Thalib disebut sebagai babul „ilmi (pintu / gerbang ilmu).
Suatu ketika Imam Ali ditanya oleh sekelompok orang yang ingin
menguji kecerdasannya. Mereka mengajukan satu pertanyaan yang
sama, tapi menghendaki jawaban yang berbeda.
Ada sepuluh pertanyaan yang sama yang diajukan oleh sepuluh
orang, tetapi dijawab dengan sepuluh jawaban yang berbeda.
Pertanyaan tersebut adalah tentang perbedaan antara ilmu dan
harta. Berikut penjelasan Imam Ali tentang perbedaan antara keduanya:

1. Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta warisan si
Qorun.
2. Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta haruslah kita yang
menjaganya.
3. Pemilik ilmu punya banyak teman, sedangkan pemilik harta punya
banyak musuh.
4. Jika ilmu dipergunakan akan bertambah, sedangkan harta
dipergunakan akan berkurang.
5. Ilmu takkan pernah tercuri, sedangkan harta mudah dicuri.
6. Pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat, sedangkan
pemilik harta akan disebut pelit dan rakus.
7. Ilmu itu abadi, sedangkan harta akan musnah.

53
8. Ilmu akan menyinari hati, sedangkan harta akan mengeraskan hati.
9. Pemilik ilmu akan diberi syafa‘at di akhirat, sedangkan pemilik harta
akan dihisab.
10. Pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya, sedangkan
pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya.

Dari keterangan Ali Bin Abi Thalib tersebut, jelaslah bahwa


memiliki investasi berupa ilmu itu jauh lebih mulia dan bermanfaat
daripada harta. Ilmu adalah investasi tak kenal rugi.

 Selama Hayat di Kandung Badan


Upaya pencarian ilmu pengetahuan itu tidak dibatasi oleh waktu,
faktor usia ataupun jenis kelamin. Setiap kita mengemban tugas dan
kewajiban moral untuk terus mencari dan menggali ilmu pengetahuan
sepanjang hayat kita masih di kandung badan.
Rasulullah Saw menegaskan tentang kewajiban mencari ilmu
dalam sejumlah hadisnya. Di antara yang sangat populer adalah hadis
yang menyebutkan, “Menuntut ilmu itu kewajiban setiap muslim dan
muslimah.” (HR. Ibn Majah)
Ada sebuah hadis lain tentang kewajiban menuntut ilmu, yang
menunjukkan bahwa tidak ada batasan umur serta waktu dalam
menuntut ilmu. Hadis yang dimaksud berbunyi, “Carilah ilmu dari ayunan
sampai ke liang lahat”.
Adalah John Dewey, seorang tokoh pendidikan dari Barat
menawarkan konsep pendidikan yang tidak mengenal kata, ―terlalu dini‖,
―terlalu tua‖, atau ―terlambat‖ untuk memulainya. R.S. Peters, dalam
bukunya sendiri ―The Philosophy of Education―, menegaskan bahwa pada
hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan
manusia terus meningkat. Konsep yang ditawarkan oleh John Dewey dan
R.S Peter kemudian dikenal dengan istilah long life education atau
pendidikan sepanjang hayat.

54
Sebetulnya konsep yang ditawarkan oleh John Dewey dan RS.
Peter tersebut telah lebih dulu dikenal oleh Islam melalui hadis di atas.
Dari kenyataan ini, terlihat jelas bahwa Islam, sejak kelahirannya, ketika
masyarakat Arab masih disebut jahiliyah, bahkan tidak beradab, sudah
sangat visioner. Robert N Bellah, seorang sosiolog dari Amerika bahkan
menyebut, masyarakat Islam dengan ajarannya, terlampau modern
untuk zamannya.
Pengakuan obyektif ilmuwan barat tersebut menunjukkan betapa
Rasulullah dengan risalah yang dibawanya, benar-benar menjadikan
masyarakat ketika itu untuk menjadi manusia-manusia yang cerdas,
berilmu pengetahuan, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman.
Dalam pendangan Islam, tuntutan untuk menggali ilmu
pengetahuan adalah sebuah kewajiban moral setiap manusia. Hal ini
dikarenakan, pada saat seseorang lahir ke muka bumi ini, dia tidak
mengetahui apa-apa. Tetapi kemudian Allah membekali manusia dengan
pendengaran penglihatan dan hati untuk digunakan secara maksimal
dalam mencari ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Nahl:
78,

          

     

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan


tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Ayat ini, meski tidak menunjukkan secara jelas perintah mencari


ilmu pengetahuan, tetapi di ujung ayat yang menyebutkan agar kamu
bersyukur, dipahami oleh para ulama tafsir sebagai perintah untuk
memanfaatkan secara maksimal ketiga perangkat yang Allah berikan
kepada umat manusia, yakni, pendengaran, penglihatan dan hati.

55
Al-Maraghi, dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa makna dari
kalimat ―agar kamu bersyukur”, adalah sebuah harapan agar manusia
mengunakan nikmat karunia yang Allah berikan berupa ketiga perangkat
tersebut (pendengaran, penglihatan dan hati) dengan maksimal untuk
kebaikan mereka di dunia. Yakni untuk mencari bekal ilmu pengetahuan,
dengan jalan mendengar, melihat dan memperhatikan alam semesta ini
dan segala yang melingkupinya, sehingga dapat menjalani kehidupan
dengan baik. Selain itu, nikmat Allah berupa indera juga untuk mengabdi
dengan penuh ketaatan kepada Allah Swt.
Perintah untuk mencari ilmu pengetahuan sepanjang hayat di
kandung badan, juga dimaksudkan agar manusia terhindar dari
kekeliruan dan kesesatan dalam menjalani kehidupan ini.
Allah Swt secara tegas mengingatkan kepada kita untuk tidak
melakukan suatu perbuatan yang tidak kita ketahui ilmunya.

              

  

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai


pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya” (QS al-Isra: 36).

Demikian jelas keterangan dari sejumlah ayat dan juga hadis


yang penulis sebutkan berkaitan dengan perintah menuntut ilmu
sepanjang hayat. So, tidak ada kata terlambat dalam mencari ilmu. Tidak
ada kata terlalu dini atau terlalu tua dalam mencari ilmu. Tidak ada
batasan usia, jenis kelamin dan tempat dalam mencari ilmu
pengetahuan. Mencari ilmu adalah kewajiban setiap manusia, kapan pun
dan di manapun serta dengan cara apapun yang dinilai baik. Proses
pencarian ilmu berakhir hanya ketika kita sudah masuk ke liang lahat.

56
Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis

     

“…Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan”.(Q.S. Al-Qalam: 1).

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Kitab Tafsirnya Al-Durr al-


Mantsur fi Tafsir al-Ma‟tsur, ketika menafsirkan ayat pertama surah al-
Qalam tersebut, mengutip riwayat hadis dari Ibn Abbas, bahwa
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan
oleh Allah adalah qalam (pena), kemudian Allah berkata kepadanya,
Tulislah! Pena pun menjawab, Wahai Tuhan apa yang harus aku tulis.
Allah menjawab, tulislah qadar (ketentuan). Maka, sejak saat itu
berlakulah ketentuan-ketentuan Allah hingga hari kiamat.
Dari rangkaian ayat di atas, jelaslah betapa pentingya pena,
hingga Allah Swt pun bersumpah dengannya. Menurut Ibn Katsir, kata
“wa al-Qalami‖, secara lahiriyah berarti demi pena yang digunakan untuk
menulis. Seperti firman Allah pada Q.S. Al-‗Alaq: 4,

   

"Dia yang mengajarkan dengan qalam (pena)".

Lebih lanjut, Ibn Katsir kalimat Wa al-Qalami (demi pena) adalah


sumpah (qasam) Tuhan pertama dalam Al-Qur‘an yang turun tidak lama
setelah lima ayat pertama dalam surat al-‗Alaq.
Dalam al-Quran, secara eksplisit kata ‗qalam‟, yang berarti pena
disebut sebanyak tiga kali, yaitu pada Q.S. Al-‗Alaq: 4, Q.S. Al-Qalam: 1,
dan Q.S. Luqman: 27.
Ada ulama yang berpendapat bahwa al-Qalam bermakna pena
tertentu, seperti pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menulis
takdir baik dan buruk manusia, serta segala kejadian yang tercatat dalam
Lauh Mahfuz, atau pena yang digunakan oleh para sahabat untuk
menuliskan al-Qur‘an, dan pena yang digunakan untuk menuliskan amal
baik dan amal buruk yang dilakukan manusia.

57
M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memaknai al-Qalam
dengan pena serta alat tulis apa pun termasuk komputer. Pemaknaan
seperti ini, menurut penulis lebih tepat karena sejalan dengan kata
perintah iqra‟ (bacalah).
Kita semua mafhum bahwa ketika Allah bersumpah dengan
sesuatu, maka tentu ada pesan yang ingin disampaikan melalui ‗sesuatu‘
yang dijadikan sumpah tersebut. Demikian halnya ketika Allah Swt.
bersumpah dengan qalam (pena).
Para ulama tafsir mengungkapkan bahwa sesuatu yang dijadikan
sumpah oleh Allah adalah sesuatu yang mulia, bernilai dan bermakna.
Dalam hal ini, ketika Allah bersumpah dengan qalam, maka
sesungguhnya, menurut mayoritas ulama tafsir, Allah ingin menunjukkan
kepada kita semua betapa pentingnya qalam (pena) dalam kehidupan
kita.
Dengan pena, ilmu pengetahuan di jagad raya ini bisa tersebar ke
seluruh penjuru dunia, yakni dengan ditulis, dibukukan dan diterbitkan.
Dengan pena pula para ilmuwan mengabadikan karya-karya besar
mereka, yang pada gilirannya menghadirkan pencerahan dan
pencerdasan bagi masyarakat.
Bisa dibayangkan jika di dunia ini tidak ada pena atau alat tulis
lainnya. Semua ilmu pengetahuan yang pernah ada di muka bumi ini
akan sirna ditelan zaman. Karena, begitu seorang ilmuwan meninggal,
tidak ada lagi ilmu yang bisa disampaikan. Hal ini disebabkan karena ilmu
yang dimilikinya tidak diabadikan melalui karya-karya tulis mereka.
Tepat sekali ungkapan Imam Asy-Syafii yang menyatakan, “ilmu
itu buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali
yang kuat. Termasuk kebodohan jikau kamu memburu kijang, kemudian
setelah itu kamu biarkan ia terlepas begitu saja.”
Pepatah latin mengatakan, scripta manent verba volant. Tulisan
akan abadi, sedangkan ucapan akan hilang.
Semakin jelas betapa pentingnya pena dalam kehidupan ini.
Proses pencerdasan dan pencerahan umat manusia tidak bisa dipisahkan
dari peran pena yang digunakan oleh para ulama untuk menghasilkan

58
karya-karya besar mereka. Beragam ilmu pengetahuan dari masa ke
masa yang masih terekam jelas melalui karya-karya bersejarah tersebut,
hingga saat ini masih terus dikaji oleh para ilmuwan. Ada jalinan erat
antar ilmuwan dari generasi ke generasi. Semua itu bisa terjadi karena
adanya peran qalam dalam proses transformasi pengetahuan.

 Menulis: Investasi Dunia-Akhirat


Salah satu aktivitas mulia yang bisa menjadi investasi (bekal) kita
hidup di dunia ini dan di akhirat nanti adalah menulis. Mengapa
demikian? Mari kita lihat kenyataan sejarah. Sejarah dunia ini digerakkan
dan dibentuk oleh manusia-manusia besar, tokoh-tokoh hebat yang
pernah hadir di muka bumi ini. Dan di antara para manusia besar dan
tokoh hebat tersebut, sebagian besar meninggalkan warisan (baca:
investasi) berupa karya monumental yang merekam pemikiran besar
serta tindakan hebat mereka.
Dalam khazanah Islam, berderet nama-nama besar yang pernah
mengisi panggung sejarah kehidupan umat manusia dengan beragam
prestasi membanggakan, khususnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Untuk sekedar menyebut beberapa contoh: ada al-Kindi, filosof
Muslim pertama; al-Ghazali Sang Hujjatul Islam dengan karya
monumentalnya Ihya „Ulumuddin yang masih terus dikaji hingga saat ini;
Ibn Sina (Avicenna), ahli dalam bidang kedokteran, yang menjadi
rujukan para sarjana Eropa dan Barat dalam bidang kedokteran; Ibn
Rusyd (Averroes), seorang filosof, dokter, juga faqih, memiliki sejumlah
karya dalam kajian filsafat, kedokteran dan fiqh, di antaranya
ensiklopedia kedokteran yang diberi judul Kulliyyat fi al-Thibb. Dalam
bidang fiqh menulis Bidayatul Mujtahid, sedangkan dalam bidang filsafat,
beliau menulis banyak buku komentar atas pemikiran aristoteles.
Beberapa nama ulama, filosof, dan juga faqih yang penulis
sebutkan di atas hanyalah sedikit contoh dari sekian banyak ulama Islam
yang berhasil memberi warna positif pada sejarah peradaban dunia.
Nama-nama mereka masih terus dikenang. Karya-karya mereka masih
terus dipelajari, didiskusikan dan dikaji oleh sarjana-sarjana muslim dan

59
non-muslim di Timur dan Barat. Mereka berhasil sukses seperti itu
karena memiliki investasi berupa pemikiran besar, tindakan hebat serta
karya nyata yang hingga saat ini masih bisa dinikmati oleh generasi
berikutnya. Investasi mereka tersebut mewujud dalam bentuk karya tulis
berupa buku, manuskrip serta tulisan-tulisan yang mungkin masih
tercecer dan belum diterbitkan dalam sebuah buku utuh.
Inilah yang saya sebut dengan investasi dunia. Tulisan yang
sudah berumur ratusan tahun masih bisa dinikmati dari generasi ke
generasi.
Dalam catatan sejarah peradaban Islam disebutkan bahwa pada
masa keemasan Islam, khususnya pada masa dinasti Abbasiyah, yang
ketika itu dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid pada abad IX M dan
kemudian diteruskan oleh puteranya, Al-Makmun, Baghdad sebagai Ibu
Kota negara menjadi mercusuar ilmu pengetahuan. Pada saat itu
dibangun perpustakaan kelas dunia yang bernama Baitul Hikmah.
Khalifah ketika itu mengumpulkan para ilmuwan dari berbagai belahan
dunia untuk menyukseskan proyek besar berupa penerjemahan karya-
karya asing ke dalam bahasa Arab dalam berbagai bidang ilmu; filsafat,
kedokteran, matematika, astrologi, dan berbagai bidang ilmu lainnya.
Khalifah tidak sekedar menjadikan Baitul Hikmah sebagai tempat
untuk melakukan penerjemahan besar-besaran karya-karya asing
semata, tetapi juga menjadikan Baitul Hikmah sebagai lembaga riset
dunia. Di dalamnya dilakukan serangkaian penelitian dan eksperimen
ilmiah, diskusi, bahkan sebagai tempat kuliah para ilmuwan dari berbagai
penjuru negeri.
Semakin maraknya usaha penerjemahan karya-karya asing ke
dalam bahasa Arab, ditambah lagi dengan hasil kajian ilmiah dari
berbagai bidang ilmu pengetahuan di Baitul Hikmah, kemudian Khalifah
berinisiatif untuk mendirikan lembaga penerbitan. Hasil-hasil karya
terjemahan serta riset para ilmuwan dan ulama dibubukan. Berat
bukunya ditimbang dengan emas oleh khalifah kemudian hasilnya
diberikan kepada penulisnya sebagai tanda jasa. Demikian besar

60
perhatian dan antusiasme khalifah kepada ilmu pengetahuan dan para
ilmuwan.
Dari Baitul Hikmah ini kemudia lahir para pakar ilmu dari berbagai
bidang. Di antaranya; ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah, Imam
Malik, Imam Syafi‘i, dan Imam Ahmad. Dalam bidang teologi dan filsafat
muncul nama-nama seperti al-Kindi, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Ibn
Maskawih dan lain-lain. Dalam bidang kimia, muncul nama al-
Khawarizmi. Dalam bidang kedokteran lahir seorang Ibn Sina, dan masih
banyak lagi ilmuwan muslim lainnya yang fenomenal lahir dari Baitul
Hikmah ini. Mereka semua masing-masing memiliki karya-karya
monumental di bidangnya.
Karya-karya besar dari para ilmuwan muslim ini pada gilirannya
memancarkan cahaya peradaban yang begitu terang di Timur (baca:
Dunia Islam), dan pada akhirnya menyinari seluruh penjuru dunia,
termasuk dunia Barat.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa karya tulis ilmiah berupa
buku merupakan investasi dunia, yang dapat mencerahkan peradaban
umat manusia. Juga dalam pengertian yang lebih sempit, yakni
memberikan dampak finansial berupa materi bagi para penulisnya,
seperti disebutkan di atas, bahwa khalifah memberikan jasa kepada para
penulis dengan menimbang berat buku karya mereka dengan emas.
Semakin banyak buku yang mereka hasilkan, maka semakin besar pula
materi yang didapatnya. Tetapi tentu, dalam hal ini materi bukanlah
tujuan utama, tetapi sumbangsih pemikiran demi kemajuan peradaban
adalah yang lebih utama.
Dalam konteks Indonesia, banyak intelektual muslim yang
mampu melahirkan karya-karya Best Seller, yang terjual puluhan bahkan
ratusan ribu eksemplar, malah ada yang hingga satu juta eksemplar.
Pembaca tentu tidak asing dengan nama-nama seperti: M. Quraish
Shihab dengan karya monumentalnya Tafsir Al-Misbah, juga karya-karya
beliau lainnya yang masuk kategori best seller seperti: Membumikan Al-
Qur‟an, Wawasan Al-Qur‟an, Mukjizat Al-Qur‟an dan buku-buku lainnya
seputar Al-Quran. Nama lain yang juga tidak asing adalah Komaruddin

61
Hidayat dengan karya best sellernya, Psikologi Kematian. Dalam ranah
novel Islami ada nama yang sangat populer, yakni Habiburrahman el-
Shirazy dengan Ayat-Ayat Cinta-nya, juga novel islami lainnya seperti
Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, dan karya-beliau
lainnya yang hampir semuanya best seller. Dan masih banyak lagi nama-
nama lain dari kalangan sarjana muslim yang karya-karyanya menghiasi
rak best seller di sejumlah toko buku di Indonesia.
Dari sisi materi, tentu royalti yang mereka dapatkan tidak bisa
dikatakan sedikit, karena mencapai angka ratusan juta hingga miliaran
rupiah. Inilah yang saya sebut, menulis adalah investasi dunia.
Dari hasil royalti buku yang mereka dapatkan, ada di antara
mereka yang kemudian mendirikan penerbitan buku sendiri, membuat
yayasan sosial, mendirikan sekolah, pesantren, serta lembaga studi
keagamaan. Inilah investasi dunia, yang akan mencerdaskan,
mencerahkan sekaligus menyejahterakan umat manusia. yang kelak
akan menjadi ladang amal dan berbuah menjadi investasi akhirat.
Setelah kita memahami bahwa menulis merupakan investasi
dunia, yang dapat melahirkan cerahnya peradaban umat manusia, juga
dapat berdampak pada perolehan materi bagi penulisnya, maka
selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah bahwa nilai dari aktivitas
menulis ini akan jauh lebih bermakna, ketika motivasi dan orientasi kita
adalah akhirat (baca: ibadah).
Apapun aktivitas kita, termasuk aktivitas menulis, jika kita
orientasikan dalam rangka ibadah untuk mendapat ridla Allah di akhirat
kelak, maka nilai (baca: pahala) dari aktivitas menulis kita akan jauh
lebih besar dari sekedar materi yang kita dapat ketika hidup di dunia ini.
Dalam Q.S. Asy-Syura: 20, Allah Swt menegaskan,

             

         

62
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan
Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang
menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu
bagian pun di akhirat.”

Janji Allah Swt dalam ayat di atas sangat jelas, bahwa jika setiap
aktivitas kita di dunia ini diniatkan untuk ibadah, mengharap ridla Allah,
mendamba kebahagiaan di akhirat, maka Allah akan menambah
keuntungan, kebaikan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Tetapi,
jika aktivitas kita di dunia ini hanya diniatkan untuk mendapatkan
kesenangan di dunia semata, maka Allah akan memberi kita sebagian—
para ulama tafsir menambahkan keterangan: ‗sebagian kecil‘--- dari
kesenangan di dunia, dan di akhirat kita tidak mendapatkan apa pun.
Alangkah malangnya nasib orang-orang yang orientasi hidupnya hanya
berharap kesenangan dunia semata. Kelak mereka akan menyesal di
akhirat. Na‟udzu billahi min dzalika.
Berkaitan dengan aktivitas menulis ini, alangkah mulianya jika
niat utama seseorang menulis adalah untuk mengharap ridla Allah Swt.
Niat inilah yang mendasari para ulama salafussalih dalam melahirkan
karya-karya besarnya, yang kemudian mampu mencerahkan dan
mencerdaskan umat.
Kita pun bisa melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan
oleh para ulama masa lalu yang tulus dan ikhlas dalam niat
mencerdaskan umat melalui karya-karya mereka.
Dengan ilmu yang kita miliki, apa pun latar belakang pendidikan,
sosial, ekonomi dan budaya kita, kita dapat memberikan sumbangsih
pemikiran melalui tulisan-tulisan kita. Apalagi, di era informasi seperti
saat ini, ketika beragam ilmu pengetahuan dapat dengan mudah kita
akses melalui internet. Ditambah lagi, dunia perbukuan dan penerbitan
semakin semarak. Sungguh sebuah kesempatan emas bagi kita untuk
berkarya, sekaligus beramal shalih dengan berbagai pengetahuan yang
kita miliki.

63
Inilah ladang amal yang bisa menjadi investasi akhirat kita. Jika
buku yang kita tulis dan terbit, kemudian dapat memberi manfaat kepada
para pembaca, insya Allah pahala dari tulisan kita itu akan terus mengalir
kepada kita, meski kita sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sungguh sebuah
kenikmatan tak terhingga, jika kita kelak di akhirat mendapatkan passive
income berupa pahala dari karya kita ketika di dunia.

 Kaya Hati, Kaya Ilmu, Kaya Harta


Dalam pandangan penulis, ada tiga macam kekayaan yang harus
dimiliki oleh setiap mukmin agar dapat hidup sukses dan bahagia dunia-
akhirat. Ketiga macam kekayaan tersebut adalah: kaya hati, kaya ilmu,
kaya harta.
Pertama, kaya hati. Rasulullah Saw. dalam sebuah kesempatan,
sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. pernah menegaskan,
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun
kaya (ghina‟) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain, Nabi Saw. pernah menyampaikan nasehat
kepada Abu Dzar al-Ghifari: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau
memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghani)?”
―Betul,‖ jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau
memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” ―Betul,‖ Abu Dzar
menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau bersabda,
“Sesungguhnya yang namanya kaya (ghani) adalah kayanya hati (hati
yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati
yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban)
Sebuah nasehat yang sangat mulia dari manusia mulia. Beliau
menegaskan bahwa berlimpahnya materi bukan jaminan kebahagiaan
seseorang, jika hatinya miskin rasa syukur. Dia akan terus merasa
kurang dari yang telah dimilikinya. Orang-orang seperti ini bukanlah
orang kaya yang sesungguhnya.

64
Kekayaan hakiki yang bisa membawa kebahagiaan adalah kaya
hati. Yakni orang yang meski tidak memiliki banyak harta, tetapi hatinya
selalu dipenuhi rasa syukur atas apa yang telah ia miliki. Inilah orang
kaya sesungguhnya. Meski tidak berkelimpahan harta, tetapi rasa
syukurnya membuat ia merasa cukup atas nikmat yang telah Allah
anugerahkan kepadanya. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah
qanaah, menerima pemberian Allah dengan lapang dada.

Orang yang kaya hati, tidak sedih dan gundah dengan apa pun
yang menimpanya. Ketika musibah datang, dia bersabar. Ketika rezeki
menghampiri dia bersyukur. Tidak ada pikiran negatif yang hadir dalam
benaknya atas semua ketentuan Allah Swt.
Intinya, orang yang kaya hati dimulai dari sikap selalu ridho dan
menerima segala ketentuan Allah Swt. Ia tahu dan yakin sepenuh hati
bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik.
Orang yang kaya hati tidak pernah merasa hina dan rendah diri di
hadapan manusia. Dia hanya merasa hina dan rendah diri di hadapan
Allah. Dia memandang kedudukan setiap manusia sama. Tidak ada beda
antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat, direktur dan kondektur.
Semua manusia sama derajatnya. Hanya iman dan takwa yang
membedakannya. Dia akan menghormati siapa pun yang dia jumpai. Dia
akan bersikap ramah kepada setiap orang. Inilah wujud nyata dari
kekayaan hati yang dimilikinya.
Kedua, kaya ilmu. Setelah seseorang memiliki kekayaan hati, yang
akan menjadikannya sebagai orang yang selalu bersyukur atas karunia
Allah, serta memperlakukan orang lain dengan sikap lembut dan santun,
maka kekayaan selanjutnya yang akan semakin menguatkan pribadinya
adalah kaya ilmu.
Ya, kaya ilmu akan menjadikan seseorang lebih arif, bijak dan
tenang menghadapi pelbagai persoalan hidup. Karena dia sangat yakin
bahwa setiap persoalan pasti ada solusinya.

65
Orang yang kaya ilmu memiliki seribu satu cara dalam menghadapi
persoalan. Dia selalu melihat peluang di setiap masalah yang dihadapi.
Sedangkan orang yang miskin ilmu, selalu kehabisan cara dalam
menghadapi setiap persoalan yang menimpanya. Dia selalu melihat
banyak masalah dalam setiap peluang yang hadir di hadapannya.
Di dalam al-Qur‘an banyak sekali pertanyaan retorik tentang
apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Apakah
sama orang buta dengan orang yang melihat? Apakah sama cahaya
dengan kegelapan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat jelas: tidak
sama! Orang berilmu mampu menerangi dirinya dan orang lain dengan
ilmunya, sedangkan orang bodoh tidak mampu menerangi dirinya sendiri,
apalagi menerangi orang lain. Bahkan, bisa jadi dia menyesatkan dirinya,
dan sangat mungkin juga menyesatkan orang lain karena kebodohannya.
Kaya ilmu sangat mulia, miskin ilmu sangat hina. Allah Swt.
mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Rasulullah Saw pun
secara tegas mengatakan, “Jadilah orang yang berilmu dan jangan
menjadi orang yang bodoh.”
Aktivitas ibadah yang kita lakukan, seperti shalat, tadarrus al-
Qur‘an, puasa, zakat, haji serta ibadah-ibadah lainnya, tidak akan
bernilai apa-apa jika kita tidak memiliki ilmu tentang tata cara
pelaksanaan (kaifiyyat) ibadah-ibadah tersebut.
Kehidupan kita di dunia ini, serta kehidupan di akhirat kelak hanya
akan berakhir dengan penyesalan dan kekecewaan, jika kita
menjalaninya tanpa ilmu.
Hidup di dunia ini perlu ilmu. Hidup di akhirat kelak pun perlu ilmu.
Hidup di dunia-akhirat perlu ilmu. Ilmu adalah cahaya yang akan
menyinari pribadi seseorang dalam hidupnya, di dunia ini dan di akhirat
nanti.
Singkatnya, setelah kaya hati, maka kekayaan berikutnya yang
harus dimiliki seorang mukmin adalah kaya ilmu. Dengan memiliki
kekayaan berupa ilmu pengetahuan, seorang mukmin akan mendapatkan
posisi mulia di mata manusia dan juga di mata Allah Swt.

66
Ketiga, kaya harta. Kekayaan selanjutnya yang hendaknya dimiliki
oleh seorang mukmin, untuk melengkapi dua kekayaan sebelumnya,
berupa kaya hati dan kaya ilmu adalah kaya harta.
Jika kita cermati lebih jauh tentang ajaran Islam, maka akan kita
dapatkan banyak sekali keterangan, baik dari al-Qur‘an maupun Hadis
Nabi Saw. yang menganjurkan, atau lebih tepatnya mengharuskan umat
Islam menjadi orang kaya. Mengapa demikian? Mari kita buktikan
kebenaran pernyataan tersebut.
Dari lima rukun Islam, hanya syahadat yang tidak memerlukan
biaya dalam proses pelaksanaannya. Keempat rukun Islam lainnya, yaitu
sholat, zakat, puasa dan haji, semuanya membutuhkan biaya serta dana
dalam proses pelaksanaannya.
Pertama, shalat. Dalam banyak literatur fikih disebutkan, bahwa di
antara syarat sahnya shalat adalah sucinya pakaian yang dikenakan
seseorang, serta tempat yang digunakannya untuk shalat. Untuk sampai
pada tahap suci itu, tentu tidak bisa diabaikan tentang bagaimana agar
pakaian serta tempat yang kita gunakan itu dalam kondisi suci. Pakaian
yang kita kenakan harus dicuci dengan bersih. Mushalla, masjid atau
ruang ibadah di rumah kita juga harus selalu terjaga kesucian dan
kebersihannya. Dan semua itu butuh biaya, meski tidak terlalu banyak.
Dengan demikian, untuk dapat melaksanakan shalat sesuai syarat
sahnya shalat pun membutuhkan biaya.
Kedua, zakat. Ibadah yang satu ini sudah barang tentu
membutuhkan dana. Dalam istilah fikih, ada banyak macam zakat yang
harus dikeluarkan oleh seseorang sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
dan sesuai dengan kondisi orang tersebut. Ada zakat fitrah, yang
merupakan kewajiban bagi setiap individu. Ada zakat mal, yaitu zakat
harta jika sudah mencapai kadar yang ditentukan oleh syariat. Ada zakat
tijarah, yaitu zakat perdagangan. Ada zakat profesi, yaitu bagi mereka
yang memiliki penghasilan cukup besar dari profesi yang dijalankannya,
seperti dokter, pengacara, developer, notaris, dan beberapa profesi
lainnya yang memberikan penghasilan yang tinggi.

67
Selain perintah zakat, dalam Islam dikenal juga istilah infak,
sedekah dan wakaf. Jika zakat itu wajib hukumnya, maka infak, sedekah
dan wakaf itu adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan, dalam
beberapa ayat al-Qur‘an dijelaskan pahala sedekah itu hingga tujuh ratus
kali lipat, bahkan lebih. Hal ini seperti ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah:
261,

            

             

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang


menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.”

Untuk dapat menunaikan zakat, berinfak, bersedekah dan


berwakaf, tentu kita harus memiliki harta yang tidak sekedar cukup
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Dengan demikian, semakin
jelas bahwa sebagai seorang muslim, untuk semankin menguatkan
keimanan kita dengan melakukan amal saleh tersebut, maka kita harus
kaya.
Ketiga, Puasa. Ibadah puasa, yang seharusnya menjadikan kita
lebih hemat, karena dari siang hingga sore hari kita tidak makan dan
minum, tetapi pada kenyataannya justru menjadikan pengeluaran kita
semakin bertambah. Mengapa demikian? Karena pada umumnya, para
ibu rumah tangga akan menyajikan menu tambahan dalam berbuka
puasa. Menu tambahan yang menjadi ciri khas pada saat berbuka,
seperti kurma, kolak, es buah dan menu-menu khas ramadhan lainnya
mudah kita jumpai di rumah-rumah keluarga muslim yang tengah
menjalankan ibadah puasa.

68
Dengan demikian, maka wajar jika pengeluaran di bulan puasa
justru meningkat dibanding pada bulan-bulan lainnya. Kenyataan ini,
sekali lagi menegaskan tentang pentingnya seorang muslim menjadi
kaya. Dengan kekayaan harta yang kita miliki, maka pelaksanaan ibadah
puasa yang kita jalani akan lebih khusyuk dan khidmat, karena kita tidak
pusing memikirkan biaya yang harus kita keluarkan selama menjalankan
ibadah puasa di bulan suci ramadhan.
Keempat, Haji. Ibadah yang satu ini sudah barang tentu
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya Perjalanan Ibadah Haji
(BPIH) atau Ongkos Naik Haji (ONH) yang tiap tahun meningkat hingga
mencapai sekitar dua puluh lima juta rupiah (th 2013), dan kemungkinan
akan terus meningkat, tidak mungkin bisa dipenuhi oleh mereka yang
notabene tidak memiliki harta kekayaan yang cukup.
Menunaikan ibadah haji ke tanah suci hanya mimpi di siang
bolong, bagi mereka yang tidak memiliki dana untuk membayar BPIH
atau ONH. Mungkin ada cara-cara lain untuk menunaikan ibadah haji
dengan tidak mengeluarkan modal sepeser pun alias gratis, tetapi itu
hanyalah pengecualian pada kasus-kasus tertentu saja. Pada umumnya,
ketika seseorang berniat untuk melaksanakan ibadah haji, maka ia harus
memiliki bekal yang cukup, salah satunya adalah biaya atau ongkos naik
haji, juga biaya hidup untuk keluarga yang ditinggalkan.
Dari sejumlah kenyataan pelaksanaan ibadah di atas, jelaslah
bahwa prosesi ibadah-ibadah tersebut tidak bisa dilepaskan dari masalah
dana atau biaya yang melingkupinya. Untuk itu, sekali lagi, umat Islam
itu harus kaya.
Setelah kita mencermati prosesi ibadah ritual yang tidak bisa
dilepaskan dari masalah dana serta biaya dalam proses pelaksanaannya,
selanjutnya mari kita lihat bagaimana aktivitas kehidupan kita sehari-hari
yang juga tidak bisa dilepaskan dari masalah dana atau keuangan.
Dalam sebuah keluarga, misalnya, yang terdiri dari ayah, ibu
serta anak-anak, akan terlihat jelas betapa masalah finansial menjadi
sangat penting.

69
Untuk memenuhi kebutuhan primer berupa sandang, pangan dan
papan, maka sebuah keluarga harus sehat secara ekonomi. Kebutuhan
hidup sehari-hari, dari mulai biaya kebutuhan pokok untuk konsumsi,
pendidikan, kesehatan, sosial dan yang lainnya membutuhkan dana yang
tidak sedikit. Belum lagi kebutuhan tak terduga, yang mungkin saja
memerlukan biaya yang besar, jika tidak dipersiapkan dengan baik, maka
akan mengganggu kondisi ekonomi keluarga.
Dengan demikian jelas, bahwa Islam sangat menganjurkan
umatnya untuk menjadi orang kaya, dalam arti kuat secara finansial,
sehingga proses pelaksanaan ibadah bisa berjalan lebih khusyu dan
khidmat, kebutuhan hidup sehari-hari terpenuhi, biaya pendidikan,
kesehatan, dan sosial tercukupi, serta masa depan anak-anak dan
keluarga pun terjamin.
Rasulullah Saw pernah menyatakan dalam sabdanya, “Orang
mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin
yang lemah”. (H.R. Muslim)
Kata ―kuat‖ dalam hadis tersebut dimaknai oleh para ulama
dengan kuat dalam segala hal, baik akidah, ibadah, mu‘amalah, akhlak,
maupun mal (harta).
Al-Qur‘an pun berpesan agar kita tidak meninggalkan anak
keturunan kita dalam kondisi lemah. Demikian ditegaskan dalam Q.S.
An-Nisa: 9,

          

    

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang


seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

70
Senada dengan pemaknaan ulama terhadap hadis tentang
mukmin yang kuat, penjelasan para ulama tafsir tentang ayat ini, ketika
memaknai kata ―lemah‖ (dhi‟afan), yang harus dikhawatirkan oleh setiap
kita adalah mencakup segala hal dalam kehidupan ini, yaitu lemah
akidahnya, ibadahnya, mu‘amalahnya, akhlaknya, juga lemah
ekonominya.
Dari keterangan al-Qur‘an dan Hadis di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa orang mukmin yang kuat, termasuk secara finansial
akan memberikan dampak positif bagi dirinya, keluarganya dan juga
lingkungannya. Karena harta serta kekayaan yang dimilikinya akan dia
gunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan. Sebaliknya, orang
mukmin yang lemah hanya akan menjadi beban bagi keluarga, serta
lingkungannya. So, jadilah mukmin yang Kaya. Kaya hati, kaya ilmu dan
kaya harta.

 Menabur Pengetahuan Menuai Pahala


“Man yazra‟ yahsud”, siapa yang menanam akan menuai.
Demikian ungkap salah satu kalimat hikmah dalam bahasa Arab. Kalimat
hikmah nan singkat itu, sarat makna jika kita kaji lebih jauh.
Siapa pun yang melakukan suatu aktivitas, maka akan mendapat
hasil dari aktivitas yang dilakukannya itu. Seseorang yang mempunyai
kebiasaan positif, maka ia akan memperoleh sesuatu yang positif.
Demikian sebaliknya, seseorang yang memilki kebiasaan negatif akan
memperoleh sesuatu yang negatif.
Seseorang yang menabur benih-benih kebaikan semasa
hidupnya, insya Allah kelak di akhirat akan menuai hasil berupa panen
pahala atas kebaikan yang dilakukannya. Pun sebaliknya, siapa yang
menabur benih-benih kejahatan selama hidupnya, maka kelak ia akan
memanen dosa atas kejahatan yang pernah dilakukannya ketika di dunia.
Di antara benih-benih kebaikan yang akan menghasilkan panen
raya pahala di akhirat adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Seorang alim, ilmuwan yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk
menabur benih-benih ilmu pengetahuan untuk mencerdaskan umat,

71
dengan didasari semangat ikhlas beribadah karena Allah, maka kelak di
akhirat ia akan menuai pahala atas kebaikan yang dilakukannya ketika
hidup di dunia.
Para guru, dosen, ustadz, kiyai yang memiliki ilmu pengetahuan
dan mau mengajarkannya kepada para murid, mahasiswa serta santrinya
dengan ketulusan niat lillahi ta‟ala, insya Allah kelak ia akan
mendapatkan passive income berupa aliran nilai pahala atas jasa-jasanya
mencerdaskan dan mencerahkan umat ketika di dunia, meskipun jasad
mereka sudah berkalang tanah alias meninggal dunia.
Rasulullah Saw menegaskan, ―Jika seseorang meninggal dunia,
maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariah, ilmu
yang bermanfaat, serta doa anak yang saleh (HR. Muslim)
Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa salah satu amal atau nilai
pahala yang tidak terputus, meski seseorang telah meninggal dunia
adalah ilmu yang pernah diajarkannya dan masih memberi manfaat bagi
orang lain.
Maksud dari ilmu yang bermanfaat adalah, ilmu yang pernah
disampaikan seseorang kepada orang lain, baik dengan cara lisan,
berupa ceramah, memberikan materi kuliah, mengajar, ataupun dengan
cara tulisan, yaitu dengan jalan menulis buku, hingga si dai, dosen, guru,
ustadz ataupun kyai tersebut meninggal dunia, tetapi ilmu yang
disampaikannya tersebut masih terus memberikan manfaat kepada orang
lain.
Dari keterangan ini jelaslah bahwa menyampaikan ilmu kepada
orang lain, tidak sekedar bisa memberikan pencerahan dan pencerdasan,
tetapi juga dapat menjadi ladang amal untuk mendapatkan pahala.
Dengan demikian ungkapan di atas yang menyatakan, siapa menabur
pengetahuan akan menuai pahala adalah benar adanya.

 Menyejarah Bersama Karya


Betapa bahagianya ketika kelak kita sudah meniggalkan dunia
yang fana ini, ada warisan sejarah yang bisa kita tinggalkan untuk anak
cucu kita, bahkan untuk umat manusia.

72
Pernahkah kita bayangkan, seratus tahun bahkan seribu tahun
yang akan datang, ketika jasad kita sudah berkalang tanah, fisik kita
sudah tidak ada lagi di dunia ini, tetapi nama kita tetap harum, terus
disebut dan diperbincangkan orang karena karya-karya kita tetap dapat
dinikmati dari generasi ke generasi.
Alangkah nikmatnya, jika ide-ide kita, ilmu pengetahuan yang
kita miliki kemudian kita tuangkan dalam sebuah karya berupa buku,
masih bisa dinikmati oleh generasi demi generasi sepeninggal kita. Lebih-
lebih jika karya-karya kita tersebut dapat memberi manfaat secara luas
untuk umat manusia. Sungguh sebuah kenikmatan tak terhingga.
Para pembaca tentu tidak asing lagi dengan nama-nama seperti:
Imam Asy-Syafi‘i, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Ghazali.
Mereka adalah tokoh-tokoh ulama Muslim yang hingga kini namanya
tetap harum, dikenal dan dikenang, meskipun mereka sudah wafat
berabad-abad lamanya. Apa pasal? Ya, ide-ide serta pemikiran mereka
tetap ‗hidup‘ hingga saat ini, bahkan mungkin hingga berabad-abad yang
akan datang karena mereka menuliskan ide-ide besar serta pemikiran-
pemikiran mereka melalui karya tulis berupa buku atau kitab, yang
hingga kini masih terus dapat kita nikmati.
Siapa yang tidak kenal dengan Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim. Siapa yang tidak kenal dengan Ihya ‗Ulumuddin. Siapa yang
tidak kenal dengan Al-Umm dan Al-Risalah? Karya-karya besar dari para
ulama besar di bidangnya yang sampai saat ini menjadi kajian ilmiah
para sarjana, baik Muslim maupun Non Muslim, di Timur dan di Barat.
Sungguh, sebuah prestasi luar biasa yang telah ditorehkan oleh para
ulama masa lalu.
Mereka telah menyejarah bersama karya monumental mereka.
Mereka telah mengabadi bersama buah pikiran mereka yang dituangkan
dalam sejumlah karya.
Tepat sekali ungkapan dalam bahasa latin yang menyebutkan,
―scripta manent verba volant”, tulisan akan abadi, ucapan akan hilang.
Mereka inilah, yang menurut penulis, akan terus mendapat passive
income, berupa aliran pahala di rekening amal mereka, karena warisan

73
ilmiah yang mereka tinggalkan berupa karya yang mencerahkan dan
mencerdaskan umat manusia. Meski jasad mereka berkalang tanah,
namun amal yang mereka tinggalkan mampu memberi nilai pahala terus
menerus.
Alasan ini pula yang mendorong dan menyemangati saya untuk
terus berusaha melahirkan karya-karya berupa buku dengan bidang
kajian yang menarik minat saya, yaitu seputar masalah keagamaan
dengan tinjauan al-Qur‘an dan Hadits.
Saya berharap, suatu saat kelak, ketika Allah sudah memanggil
saya ke hadirat-Nya, ketika jatah hidup saya sudah berakhir, ketika Izrail
sudah datang untuk mencabut nyawa saya, saya bisa meninggalkan
dunia ini dengan tenang. Karena saya telah meninggalkan jejak sejarah,
warisan intelektual berupa karya tulis, buku, yang mudah-mudahan akan
menjadi ‗investasi akhirat‘ saya, yang akan terus mengalirkan passive
income berupa pahala sebagai bekal untuk berjumpa dengan Sang Khalik
Yang Maha Mengetahui („Aliim) dan Maha Bijaksana (Hakiim), yakni Allah
Swt.
Inilah di antara cita-cita besar saya dalam hidup ini. Saya ingin
menyejarah dan mengabadi bersama karya. Saya ingin, suatu saat nanti,
meski sudah meninggalkan dunia ini, nama saya tetap dikenang dan
dikenal oleh generasi-generasi setelah saya melalui karya-karya saya.
Sungguh betapa bahagianya saya jika cita-cita itu dapat
terwujud. Semoga Allah memperkenankan cita-cita saya tersebut. Amiin.

Dengan Ilmu Hidup Menjadi Mudah


Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berpesan, “Barangsiapa
yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa
yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa
yang menginginkan kedua-duanya (dunia-akhirat) hendaklah dengan
ilmu”.

74
Pesan Imam Asy-Syafi‘i tersebut sangat tepat. Siapa pun yang
menginginkan kebaikan, kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia ini
dan di akhirat kelak harus mengetahui cara (baca: ilmu) untuk
mencapainya.
Seseorang yang menginginkan kehidupan ekonominya baik,
harus memiliki ilmu tentang cara mendapatkan kehidupan ekonomi yang
baik. Ia harus memahami bagaimana untuk memperoleh penghasilan
yang cukup, bahkan berlebih untuk memenuhi segala kebutuhan
hidupnya. Ia juga harus mengerti cara untuk terus meningkatkan
penghasilannya itu. Tanpa ilmu yang cukup tentang masalah ekonomi,
bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya, seseorang akan kesulitan menjalani hidup ini.
Beragam cara yang ditempuhnya untuk mendapatkan
penghasilan yang baik, jika tidak didasari dengan ilmu, hanya akan
buang-buang waktu tenaga dan pikiran. Tetapi jika dilandasi ilmu, maka
usaha yang dijalankan untuk memperoleh penghasilan yang cukup,
hanya menunggu waktu saja.
Seseorang yang berharap kehidupan rumah tangganya berjalan
harmonis, harus memahami ilmu tentang bagaimana membina rumah
tangga yang harmonis itu. Ia harus membekali diri dengan pengetahuan
tentangnya. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang bagaimana
membina rumah tangga yang baik, maka kegagalan demi kegagalan
dalam membina rumah tangga akan terus dijumpainya. Keharmonisan
yang diharapkan tidak akan kunjung menyapa. Tetapi dengan bekal ilmu
yang cukup, insya Allah cita-cita untuk mewujudkan kehidupan rumah
tangga yang bahagia akan segera terlaksana.
Pun seseorang yang menginginkan hubungan dengan lingkungan
sosialnya berjalan dengan rukun dan damai, harus mengerti tentang
aturan, tata krama serta etika dalam pergaulan dengan lingkungan
sosialnya. Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, demikian ungkap
sebuah pepatah. Di mana kita tinggal, maka disitu kita harus beradaptasi
dengan lingkungan sosial kita. Dengan memahami norma-norma sosial
yang berlaku di masyarakat, kebiasaan-kebiasaan yang berjalan di

75
lingkungan sosial kita, maka kita akan mudah untuk bisa menyesuaikan
diri. Dengan demikian, maka jalinan hubungan kita dengan lingkungan
sosial akan berjalan dengan baik, harmonis, rukun dan damai.
Demikian juga halnya ketika seseorang menginginkan kebaikan
dan kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Ia harus memiliki bekal
pengetahuan yang cukup untuk dapat mencapai cita-citanya itu. Ia harus
memahami ajaran agamanya dengan baik. Ia juga harus menyiapkan
bekal untuk perjalanan panjangya di akhirat kelak sesuai dengan
petunjuk yang sudah diajarkan oleh agamanya itu. Hanya dengan
memahami cara mencapai kehidupan akhirat yang baik dan bahagia
itulah, seseorang akan dapat mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan di
akhirat kelak.
Singkatnya, segala keinginan, harapan dan cita-cita kita untuk
dapat hidup bahagia dunia-akhirat harus didasari dengan ilmu. Dengan
ilmu, maka hidup kita akan terasa mudah. Tanpa ilmu hidup akan terasa
susah.

76
Langkah Ketiga

77
Wujudkan dengan Amal

Iman yang kokoh, ilmu yang memadai, masih belum berarti apa-
apa jika tidak disertai dengan amal berupa tindakan nyata dalam
kehidupan sehari-hari.
Jika dirumuskan, maka akan tergambar seperti ini: (Iman +
Ilmu) – Amal = 0. Betapapun teguhnya keimanan seseorang, ditambah
penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi, tidak akan memberikan
dampak apa pun, serta tidak akan bernilai apa pun jika minus amal alias
tidak ada wujud nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya.
Iman dan ilmu selalu dikaitkan dengan amal. Sejumlah ayat al-
Qur‘an dan juga Hadis menegaskan betapa eratnya hubungan antara
iman dan amal saleh. Pun betapa eratnya jalinan antara ilmu dan amal.
Di dalam al-Qur‘an, Allah Swt selalu menyandingkan kalimat
amanu dan „amilu ash-shalihat. Iman dan amal saleh menjadi satu
kesatuan yang tak terpisahkan.
Hal ini dapat dilihat, misalnya pada Q.S. al-‗Ashr: 1-3,

          

     

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada


dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi
kesabaran.”

78
Hal senada disebutkan dalam Q.S. At-Taghabun: 9,

          

          

“….dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal


saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan
memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-
sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan
yang besar.”
Demikian jug terdapat dalam Q.S. Al-Kahfi: 88,

            

 

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka


baginya pahala yang terbaik sebagai balasan dan akan kami
titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-
perintah kami".

Selain beberapa ayat yang penulis sebutkan di atas, masih


banyak lagi ayat lain, yang menyandingkan antara iman dan amal saleh
sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Rasulullah Saw, dalam sebuah kesempatan, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar pernah menyatakan, “Tidak
diterima iman tanpa amal dan amal tanpa iman”.
Dari beberapa keterangan ayat dan hadis di atas, jelaslah bahwa
hubungan antara iman dan amal sangat erat satu sama lain, tidak bisa
dipisahkan. Iman menuntut bukti nyata berupa amal, sedangkan amal
hanya akan bernilai di hadapan Allah jika didasari oleh iman.

79
Amal: Bukti Iman
Pengertian iman menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana
disebutkan Al-Hafizh Ibn Rajab dalam kitabnya Jami‟ al-„Ilmi wa al-
Hikam, adalah: “membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan
dan mengamalkan dengan anggota badan”.
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa ada tiga hal yang saling
berkait kelindan berkenaan dengan masalah iman. Pertama, hati
meyakini dan membenarkan. Kedua, lisan mengucapkan. Dan ketiga,
anggota badan mengamalkan.
Tidak dikatakan iman, jika hanya meyakini dalam hati serta
mengucapkan dengan lisan, tetapi tidak mengamalkannya dalam
tindakan nyata.
Iman menuntut bukti. Dan bukti iman adalah amal. Sejumlah
riwayat hadis menegaskan hal tersebut.
Rasulullah Saw menyatakan, “Tidak disebut beriman salah
seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai saudaranya
sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata
yang baik atau diam; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; Dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan
tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits lain juga menegaskan, Rasulullah Saw mengingatkan,
“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubah
dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya mengubah
dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang
demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)
Sejumlah hadis yang penulis kutip di atas, menunjukkan bahwa
iman seseorang hanya akan bermakna dan bernilai jika disertai dengan
perbuatan atau amal. Hanya omong kosong dan bualan belaka ketika
seseorang mengaku beriman, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak
terlihat sama sekali bukti keimanannya berupa amal saleh.

80
Ciri seorang mukmin sejati, seperti dijelaskan dalam beberapa
hadits tersebut adalah tercermin jelas dalam sikap dan perilaku
kesehariannya.
Hubungan yang dia bangun dengan sesama manusia, baik kepada
saudara, kerabat, tetangga maupun tamu sangat baik dan harmonis.
Ketika ada saudara yang meminta bantuannya, dia tidak sungkan untuk
mengulurkan tangannya. Hidup bertetangga dan bermasyarakat yang
dijalaninya selalu terlihat damai, karena saling menghormati. Ketika ada
tamu datang berkunjung ke rumahnya, dia sangat menghormati dan
memuliakannya. Dan ketika melihat ada kemungkaran di sekitarnya, dia
akan segera tanggap untuk mengubahnya.
Para sahabat Nabi memberikan teladan yang sangat baik
berkaitan dengan masalah amal yang menunjukkan bukti keimanan ini.
Sahabat Abu Thalhah al-Anshari, misalnya. Ketika ia mendengar
Rasulullah saw menerima wahyu Q.S Ali- Imran: 92 yang menyatakan,

              

 

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang


sempurna), sebelum kamu menginfaq-kan sebagian harta yang kamu
cintai…”, sejurus kemudian ia mendatangi Rasulullah Saw dan
menyerahkan kebun kurma yang sangat dicintainya.
Begitu juga halnya dengan Abu Dahdah al-Anshari, yang memiliki
kebun yang berisi 600 pohon kurma. Ketika ia mendengar bahwa telah
turun wahyu,

            

    

81
“Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah?
Maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan
berlipat ganda‖, maka ia langsung mendatangi Rasulullah saw. untuk
menyerahkan kebun miliknya untuk di‘pinjam‘kan kepada Allah.
Inilah di antara bukti nyata keimanan seseorang. Iman yang dia
yakini dalam hati, dia nyatakan dalam ucapan, diwujudkan dalam
tindakan nyata berupa amal saleh.

Amal: Buah Ilmu


“Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tak berbuah”. Kalimat hikmah ini
sangat tepat menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki ilmu,
tetapi tidak ada manfaat dari ilmu yang dimilikinya. Ia tidak beramal
dengan ilmunya itu. Bahkan, bisa jadi ilmu yang dimilikinya tidak
memberikan hidayah baginya.
Padahal Rasulullah Saw, secara tegas mengingatkan,
―Barangsiapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya,
niscaya ia akan bertambah jauh dari Allah Swt.
Ya, seseorang yang memiliki ilmu, tetapi tidak bertambah baik
perilakunya, tidak semakin taat ibadahnya, tidak lebih rajin amaliyahnya,
maka ia justru akan semakin jauh dari Allah.
Inilah salah satu makna dari ungkapan di atas, bahwa ilmu tanpa
amal bagikan pohon tak berbuah.
Sedangkan seseorang yang berilmu, kemudian dia beramal
dengan ilmu yang dimilikinya, maka dia akan diberi ilmu oleh Allah, yang
belum pernah diketahui sebelumnya. Hal ini seperti ditegaskan dalam
sebuah hadis yang bersumber dari Anas bin Malik, “Barangsiapa
mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan
kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.”
Pengertian lain tentang makna ungkapan bijak tersebut adalah,
jika seseorang yang memiliki ilmu, kemudian dia hanya asyik dengan
dirinya sendiri, tidak pernah mau untuk berbagi ilmu kepada orang lain,
enggan untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain, maka ilmu yang

82
dimilikinya ibarat pohon yang rindang, namun tidak menghasilkan buah,
yang bisa memberi manfaat kepada orang lain.
Kualitas ilmu seseorang justru akan semakin baik dan meningkat,
ketika ia iringi dengan ketulusan berbagi ilmu dengan orang lain. Ilmu
akan berkembang ketika diajarkan kepada orang lain. Sebaliknya, ilmu
akan mandeg ketika hanya dimiliki sendiri.
Ilmu harus diamalkan. Ilmu yang diamalkan ibarat pohon yang
rindang dengan buah yang lebat, sehingga bisa memberi manfaat kepada
sesama manusia.
Setelah kita memahami tentang pentingnya seseorang yang
berilmu untuk bermal dengan ilmunya, maka hal lain yang tidak kalah
pentingnya adalah bahwa seseorang harus beramal dengan ilmu. Artinya,
dalam hal apa pun, baik masalah ibadah maupun muamalah, seseorang
harus mendasarinya dengan ilmu. Ibadah tanpa ilmu hanya akan
menyesatkan pelakunya. Pun bermuamalah tanpa ilmu, hanya akan
menimbulkan kesalahpahaman.
Dengan demikian, maka amal seseorang harus dilandasi dengan
ilmu. Amal tanpa ilmu hanya akan melahirkan kesia-siaan belaka. Di
sinilah pentingnya seseorang untuk terus belajar dan meningkatkan
kualitas intelektualnya.
Proses pencarian ilmu pengetahuan ini tidak dibatasi ruang dan
waktu, bahkan usia. Kapan pun, di mana pun, dan usia berapa pun
seseorang harus terus meng‘update‘ dirinya dengan ilmu pengetahuan.
Tanpa memperbarui ilmu pengetahuan, seseorang akan tertinggal dan
menjadi manusia yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.

MLM Pahala
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang menyeru kepada
petunjuk (kebaikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana
pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi
pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada
kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang

83
mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.”
(HR. Muslim).
Dalam dunia Multi Level Marketing (MLM), kita mengenal istilah
Upline dan Downline. Upline biasanya merujuk kepada individu yang
mensponsori individu lain (downline) bergabung dalam satu jaringan
yang sama. Adapun downline adalah individu atau sekelompok orang
yang menjadi anggota suatu jaringan melalui afiliasi upline tersebut.
Upline akan terus mendapat aliran keuntungan atau komisi,
ketika para downlinenya bekerja menjalankan bisnis yang telah dibangun
bersama itu, tanpa mengurangi jatah keuntungan atau komisi yang
didapatkan oleh downline. Pun Upline tidak akan mendapat apa-apa,
ketika para downlinenya diam tidak bergerak menjalankan bisnisnya.
Ilustrasi ini terasa tepat untuk menjelaskan maksud hadis di atas.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut dijelaskan,
bahwa seseorang yang menjadi sponsor dalam hal kebaikan, kemudian
diikuti oleh orang lain, maka dia akan mendapatkan pahala seperti
pahala-pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun
pahala mereka.
Inilah yang penulis istilahkan dengan MLM pahala. Sang sponsor
akan terus mendapat aliran pahala dari amal saleh yang dilakukan oleh
orang lain, yang telah mengikuti jejaknya, sebagai penggerak dan
sponsor utama dalam melakukan amal saleh pertama kali. Dan itu akan
terus berlanjut, meski si sponsor utama sudah meninggal dunia.
Sungguh, suatu nikmat tak terhingga, ketika seseorang tetap
mendapat passive income berupa aliran pahala ke rekening amalnya,
karena kebaikan yang pernah dilakukannya dan kemudian diikuti oleh
orang lain sepeniggalnya.
Sebaliknya, seseorang yang menjadi sponsor kejahatan, dan
kemudian kejahatan yang dilakukannya itu diikuti oleh orang lain, maka
dia akan mendapatkan aliran dosa, seperti dosa orang-orang yang
melakukannya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun, meskipun dia
sudah meninggal dunia.

84
Dalam hadits lain, Rasulullah Saw menegaskan, “Apabila
seseorang meninggal dunia, maka putuslah amalnya kecuali tiga hal:
sedekah jariah (amal yang pahalanya selalu mengalir), ilmu yang
bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim).
Dari keterangan hadits di atas dapat dipahami, bahwa Rasulullah
Saw mengajarkan kepada kita cara terbaik untuk berinvestasi amal, yang
akan terus kita nikmati hasil dari amal tersebut, meskipun kita telah
meninggal dunia. Pertama, sedekah; kedua, memiliki ilmu yang
bermanfaat; dan ketiga, memiliki anak saleh yang selalu mendoakan
kita.
Sedekah adalah cara efektif agar kita terus menerus mendapat
limpahan pahala, meskipun kita telah meninggal dunia. Ketika kita
bersedekah untuk pembangunan masjid, musholla atau madrasah,
misalnya, maka setiap ada orang yang melaksanakan shalat di masjid
atau musholla tersebut, setiap ada siswa atau santri yang belajar di
madrasah tersebut, kita akan terus mendapat aliran pahala dari sedekah
kita.
Demikian halnya dengan ilmu yang bermanfaat. Jika selama
hidup di dunia ini kita mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain,
kepada para santri, para siswa, para mahasiswa, kepada masyarakat,
kemudian mereka mendapat manfaat dari ilmu yang kita ajarkan, maka
aliran pahala pun akan terus kita terima, meskipun kita telah
meninggalkan dunia ini.
Hal yang sama juga terjadi kepada kita, jika kita memiliki anak
yang saleh, yang setiap saat mendoakan kita. Maka, ketika kelak kita
kembali ke haribaan Allah, kita akan tetap mendapat pahala dari anak
saleh yang kita tinggalkan itu.
Betapa indahnya ajaran Islam. Bahkan, ketika seseorang sudah
tidak ada di dunia ini, ia masih tetap dapat menikmati hasi usahanya
berupa amal saleh yang dilakukannya ketika masih hidup di dunia.
Sungguh Allah Maha Adil. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amal
hamba-Nya.

85
Amal yang Mewujud (Tajassum al-A’mal)
Dalam buku The Road to Allah, Jalaluddin Rakhmat
mengungkapkan macam-macam perwujudan amal (tajassum al-a‟mal).
Pertama, amal-amal kita akan membentuk jati diri kita. Amal-
amal buruk akan membentuk jati diri yang buruk. Sebaliknya, amal-amal
baik akan membentuk jati diri yang baik. Seseorang yang terbiasa
melakukan perbuatan buruk, seperti mendendam, memfitnah, dengki,
membunuh, menganiaya, akan jatuh pada jati diri kebinatangan. Dan
kelak, ia akan dibangkitkan dalam wujud jati dirinya itu.
Kedua, amal-amal kita akan diciptakan Tuhan dalam wujud
makhluk yang menyertai kita; sejak alam kubur hingga dibangkitkan
pada hari kiamat nanti. Amal saleh akan mewujud sebagai sosok yang
rupawan, indah dan harum. Kehadirannya akan membuat kita bahagia.
Sedangkan amal buruk akan mewujud sebagai sosok yang menakutkan,
kotor dan bau. Kehadirannya membuat kita ketakutan.
Ketiga, amal-amal kita akan berwujud dalam bentuk dampak atau
akibat. Amal saleh akan muncul dalam akibat-akibat yang baik, dan
sebaliknya, amal-amal buruk akan menimbulkan berdampak buruk.
Setiap manusia akan melihat amalnya masing-masing kelak di
akhirat. Mungkin juga dampak dari amalnya sudah dirasakan ketika di
dunia, seperti pengertian tajassum al-a‟mal yang terakhir. Hal ini
dikuatkan dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Zalzalah: 7-8 yang
menyebutkan,

             

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun,


niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang
mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat (balasan) nya pula”.

86
Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa jati diri kita,
teman setia kita kelak di alam kubur, serta hal-hal yang terjadi pada kita
adalah akibat dari amal-amal kita.
Amal saleh akan membentuk karakter pribadi yang baik,
menciptakan teman setia yang baik dan indah di alam barzakh, serta
menimbulkan dampak yang baik dalam kehidupan kita. Sedangkan amal
buruk akan membentuk karakter pribadi yang buruk, menciptakan teman
yang buruk dan menakutkan di alam kubur, serta mengakibatkan
dampak buruk bagi kehidupan kita.
Jika sudah jelas demikian kenyataannya, masihkah kita memilih
untuk melakukan tindakan (amal) buruk? Jawaban atas pertanyaan
tersebut ada pada diri kita masing-masing. Secara tegas al-Qur‘an sudah
menyatakan, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Fushshilat: 34-35,

         ...     

   

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan…. Dan (sifat-


sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada
orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada
orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pada hakekatnya kita


memiliki dua macam mata: mata lahir (bashar) dan mata batin
(bashirah). Dengan mata lahir, kita hanya akan melihat bentuk lahiriah,
tampilan fisik diri kita dan orang lain di sekitar kita. Ia bukan jati diri kita
atau jadi diri orang lain di sekitar kita. Sedangkan dengan mata batin,
kita dapat melihat jati diri kita dan jati diri orang lain yang sebenarnya.
Dalam istilah Imam Al-Ghazali, dengan bashar kita hanya melihat
khalq (fisik, jasmani), sedangkan dengan bashirah kita dapat melihat
khuluq (wujud ruhani).

87
Dalam pandangan kasat mata atau secara lahir, bisa jadi kita
melihat diri kita atau orang-orang di sekitar kita tampil begitu
memesona, tampan dan cantik, tetapi secara hakiki dengan pandangan
batin, bisa jadi kita dan orang-orang di sekiling kita tak ubahnya
binatang buas yang menakutkan. Dalam alam lahir, mungkin tubuh kita
menebarkan aroma harum parfum yang kita pakai, tetapi sangat
mungkin di alam batin hanya bau busuk bangkai yang meliputi diri kita.
Tubuh kita tampak gagah, tegap dan utuh di alam lahir, bisa jadi di alam
batin, hanya seonggok kerangka yang terkoyak-koyak.
Demikianlah, dalam pandangan batiniah, jati diri kita adalah
wujud dari amal yang kita lakukan.

Dengan Amal Hidup Menjadi Berkah


Sekedar bertanya, apa sih yang kita cari dari hidup ini? Limpahan
materi, popularitas atau status sosial yang tinggi di masyarakat? Atau
semuanya? Jika jawabannya: Ya, maka pertanyaan selanjutnya adalah:
Apakah kesemua itu menjamin hadirnya kebahagiaan dan keberkahan
hidup? Jawaban atas pertanyaan ini adalah: Belum tentu.
Hemat penulis, yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan
dan keberkahan hidup. Dan kebahagiaan serta keberkahan hidup hanya
akan kita dapatkan dengan cara melakukan aktivitas (baca: amal) yang
diridlai Allah Swt.
Apalah artinya harta berlimpah, popularitas menjulang, status
sosial tinggi, tetapi kesemuanya diperoleh dengan cara-cara yang
dilarang Allah. Meski kita merasakan kesenangan, tetapi bersifat
sementara dan semu. Kesenangan seperti ini hanya akan berujung
penderitaan dan kesengsaraan.
Kebahagiaan hakiki dan keberkahan sejati hanya akan didapatkan
oleh orang-orang yang melakukan aktivitas positif, yang dalam bahasa
agama disebut amal saleh dengan mengindahkan aturan-aturan Allah.
Hidup kita, ketika sudah didasari dengan pondasi iman yang
kokoh, dibekali dengan ilmu pengetahuan yang memadai, akan menjadi

88
berkah ketika diwujudkan dengan amal saleh berupa tindakan nyata
dalam kehidupan sehari-hari.
Kekayaan yang hanya dinikmati oleh diri sendiri dan keluarga
saja, misalnya, tidak akan menghadirkan kebahagiaan apalagi
keberkahan. Kekayaan yang akan menghadirkan kebahagiaan dan
keberkahan hidup adalah, ketika orang lain di sekitar kita ikut merasakan
kebahagiaan dari limpahan materi yang kita miliki.
Popularitas serta status sosial yang akan melahirkan kebahagiaan
dan keberkahan hidup adalah, ketika kita mampu membantu orang lain
dengan popularitas serta status sosil yang kita miliki.
Intinya, segala yang melingkupi kehidupan kita, baik berupa
kelimpahan materi, popularitas maupun status sosial, hanya akan
bermakna dan bernilai jika orang-orang di sekeliling kita ikut merasakan
manfaatnya. Semakin besar manfaat yang diperoleh orang lain dari apa
yang kita miliki, semakin bermakna hidup kita. Semakin banyak umat
manusia yang menjadi lebih baik kehidupannya karena kehadiran kita
dengan segala fasilitas yang kita miliki, semakin bahagia dan berkah
kehidupan kita. Singkatnya, dengan amal nyata hidup kita menjadi
berkah.

89
Langkah Keempat

90
Hiasi dengan Ikhlas

 ...        

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Alllah, dengan ikhlas


menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama…”

Keimanan yang menghunjam kuat ke dalam lubuk hati yang


paling dalam, dibekali dengan ilmu yang tinggi, ditambah amal yang
hebat, bisa saja hilang tak berbekas, jika tidak dihiasi dengan sikap
ikhlas.
Ya, kata kunci untuk seluruh aktivitas hidup kita yang
diorientasikan untuk ibadah kepada Allah Swt, hanya akan bermakna dan
bernilai di hadapan-Nya, jika disertai ketulusan hati dan keikhlasan jiwa.
“Inti amal dan penentu diterima-tidaknya suatu amal di sisi Allah
adalah ketulusan niat pelakunya atau sering disebut dengan ikhlas. Amal
tanpa ikhlas bagaikan kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa
buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturunan, dan benih yang
tidak tumbuh.” (Syekh Abu Thalib al-Makki)
Ikhlas dalam pengertiannya yang umum adalah melakukan segala
aktivitas (amal) ibadah tanpa pamrih, tidak berharap apa-apa selain ridla
Allah. Konsentrasi ibadahnya hanya ditujukan kepad Allah semata, tidak
yang lainnya. Parameternya adalah ketulusan niat dari sebelum, selama,
dan sesudah kita beramal. Konsistensi ketulusan niat harus melingkupi
ketiga aspek ini, tidak hanya salah satunya. (Pembahasan tentang
pengertian ikhlas yang lebih luas bisa pembaca dapatkan pada buku
penulis berjudul ―Agar Allah Selalu Menolongmu! Melihat Sisi Baik dari
Setiap Ujian”)

91
Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe
Dalam falsafah Jawa ada istilah Sepi ing pamrih rame ing gawe.
Makna tersirat dari ungkapan sepi ing pamrih adalah bahwa ketika kita
melakukan sesuatu hendaklah didasari oleh ketulusan niat, keikhlasan
hati, bukan karena ada pamrih atau keinginan mendapatkan balasan atau
pujian dari orang lain. Adapun kalimat rame ing gawe, maknanya adalah
terus melakukan amal saleh dengan penuh semangat, kapan pun dan di
mana pun. Jika ditarik ke dalam ajaran Islam, maka ungkapan tersebut
bisa disejajarkan dengan istilah ikhlas. Yakni melakukan amal dengan
tulus hanya mengharap ridla Allah semata, bukan yang lain.
Dengan demikian, jika digabungkan kedua kalimat tersebut,
yakni sepi ing pamrih rame ing gawe, makna filosofisnya adalah
seseorang hendaknya mengawali segala aktivitas (amal)-nya dengan niat
yang tulus, hati yang ikhlas tanpa berharap apa pun dari orang lain, baik
itu berupa pujian atau balasan atas kebaikan yang dilakukannya. Dia
hanya mengharap ridla Allah semata. Dan dia, dengan didasari ketulusan
niat dan keikhlasan hatinya itu, terus menerus berbuat baik, beramal
saleh, kapan pun, dalam kondisi apa pun, dan di mana pun dia berada.
Di dalam Q.S. Al-Zalzalah: 7, Allah Swt menegaskan,

      

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun,


niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”

Dalam Q.S. At-Taubah: 120 juga ditegaskan,

      

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang


yang berbuat baik.”

92
Orang-orang yang ikhlas menghayati betul makna ayat-ayat yang
menerangkan balasan atau pahala orang-orang yang berbuat baik.
Mereka haqqul yaqin, bahwa Allah pasti melihat dan membalas amalnya,
meski orang lain tidak ada yang tahu, atau tidak mau tahu dengan apa
yang dikerjakannya. Mereka tidak ingin amal yang dilakukannya berakhir
sia-sia, tidak mendapat apa-apa dari Allah, jika mereka hanya
mengharap pujian dan balasan orang lain di dunia ini. Mereka memahami
betul makna ayat dalam Q.S. Asy-Syura: 20,

             

         

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan


Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang
menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu
bahagian pun di akhirat”.

Tanamkan Ruh Ikhlas dalam Diri


Sebelum memulai aktivitas (amal), maka yang pertama harus
kita perhatikan adalah nawaitu atau niat kita. Karena, hasil akhir dari
amal kita tersebut tergantung niat yang kita pancangkan sejak awal. Niat
yang tulus, ikhlas karena Allah semata, maka balasannya adalah pahala
berlipat yang telah Allah janjikan dan sediakan. Sebaliknya, jika niat dari
awal sudah bukan karena Allah, maka meskipun amal yang kita lakukan
positif, kita tidak akan mendapatkan apa pun dari Allah, bahkan bisa jadi
karena amal itu diniatkan untuk selain Allah, maka alih-alih berbuah
pahala justru akan menyeret kita ke dalam neraka. Na‟udzu billahi min
dzalika.
Berikut penulis kutipkan sebuah hadis tentang amal positif yang
dilakukan tiga orang, yang alih-alih mendapat balasan berupa pahala dari
Allah, tetapi justru mengantarkan mereka ke neraka.

93
Dalam Kitab Shahih Muslim, diriwayatkan tentang tiga orang yang
kelak pada hari kiamat akan disidangkan di hadapan pengadilan Allah
Swt. Kepada orang pertama Allah bertanya, ―Apa yang kamu lakukan di
dunia?‖ Orang tersebut menjawab, ―Aku membaca al-Quran.‖ Allah
berfirman, ―Kamu bohong. Kamu membaca al-Quran agar dikatakan
bahwa kamu seorang Qari‟, ahli baca al-Quran. Kemudian orang tersebut
diseret dan dilemparkan ke neraka. Kepada orang kedua Allah bertanya
hal yang sama, kemudian ia menjawab, ―Aku menginfakkan dan
menyedekahkan hartaku di jalan Allah.‖ Allah berfirman, ―Kamu bohong.
Kamu berinfak dan bersedekah supaya kamu disebut sebagai
dermawan.‖ Ia juga diseret dan dilemparkan ke neraka. Kepada orang
ketiga, Allah mengajukan pertanyaan yang sama. Ia menjawab, ―Aku
berjihad (berperang) di jalan-Mu.‖ Allah berfirman, ―Kamu bohong. Kamu
berperang supaya dianggap sebagai pemberani.‖ Ia pun diseret dan di
lemparkan ke neraka.
Dari riwayat hadis di atas, dapat diambil sebuah pelajaran
berharga, bawah dari ketiga orang tersebut, meski masing-masing
menjalankan perintah Allah, berupa ibadah yang sangat mulia, tetapi
karena tidak didasari oleh keikhlasan niat karena Allah (lillahi ta‟ala),
maka alih-alih ibadah yang dilakukannya berbuah pahala, justru
mengantarkan mereka ke dalam neraka. Na‟udzu billahi min dzalika.
Untuk menghindari hal tersebut, maka hendaknya kita
menanamkan ruh ikhlas dalam diri, sebelum memulai amal ibadah.
Karena tanpa didasari ruh ikhlas, maka segala aktivitas ibadah yang kita
lakukan akan berakhir dengan kesia-siaan bahkan berujung penderitaan
yang berkepanjangan di akhirat nanti.
Alkisah ada dua orang santri yang berasal dari satu kampung dan
tengah menikmati liburan panjang di kampung halamannya. Ahmad,
sebut saja demikian, santri yang satu ini adalah tipikal santri yang tekun,
rajin, jujur dan penuh ketulusan. Selama libur, dia membantu ayahnya
memanen singkong di kebunnya. Singkong hasil kebunnya sebagian
besar dijual ke pasar dan sebagian lainnya dibagikan ke tetangganya.

94
Dan tak lupa, Ahmad menyisakan singkong untuk diberikan kepada Pak
Kyai ketika kembali ke pesantren nanti.
Di sisi lain, Andi, santri lainnya yang satu kampung dengan
Ahmad menghabiskan masa liburnya dengan bermain. Tak pernah sedikit
pun membantu usaha orang tuanya. Maklum, sebagai anak orang kaya,
Andi sejak kecil biasa dimanja. Seluruh permintaannya selalu dituruti.
Walhasil, dia tumbuh menjadi anak yang manja, tidak pernah mau peduli
dengan jerih payah kedua orang tuanya dalam membangun usaha yang
telah menghidupinya selama ini.
Singkat cerita, masa liburan pun usai. Semua santri kembali ke
pesantren, tak terkecuali Ahmad dan Andi. Setibanya di pesantren,
Ahmad langsung menemui Pak Kyai untuk bersilaturahmi sekaligus
mengantarkan singkong hasil panen di kebun orang tuanya. Pak Kyai
tampak senang menerima oleh-oleh dari Ahmad. Setelah mengucapkan
terima kasih, kemudian beliau masuk ke dalam menemui istrinya dan
menanyakan apakah ada makanan atau yang lainnya untuk membalas
pemberian Ahmad. Istri Pak Kyai mengatakan bahwa tidak ada makanan
atau apa pun untuk membalas pemberian Ahmad. Hanya ada seekor
kambing di kandang belakang rumah. Tanpa pikir panjang, Pak Kyai
kemudian mengambil kambing tersebut untuk diberikan kepada Ahmad
sebagai balasan atas oleh-oleh berupa singkong yang dibawa Ahmad dari
kampungnya.
Mendapat pemberian berupa seekor kambing dari Pak Kyai,
Ahmad pun senang tak terkira. Sembari mengucapkan terima kasih,
Ahmad pamit untuk kembali melakukan kegiatan di pesantren.
Di tengah perjalanan, Ahmad bertemu dengan Andi, teman
sekampungnya yang juga baru datang di pesantren. Andi heran melihat
Ahmad membawa seekor kambing. Dia pun menanyakan dari mana ia
mendapatkan kambing tersebut. Ahmad kemudian menceritakan bahwa
dirinya baru saja bersilaturahmi kepada Pak Kyai dengan membawa oleh-
oleh berupa singkong hasil panen di kebun orang tuanya. Kemudian
ketika mau pulang, Pak Kyai membawa oleh-oleh berupa kambing.

95
Setelah pertemuan tersebut, terbesit sebuah ide di benak Andi.
Dia akan bersilaturahmi ke rumah Pak Kyai dengan membawa oleh-oleh
yang lebih mahal dari Ahmad. Dia berpikir bahwa Ahmad yang hanya
datang membawa singkong saja ketika pulang dibawakan oleh-oleh
berupa kambing. Apalagi kalau dia datang membawa oleh-oleh yang
lebih enak dan lebih mahal dari singkong. Akhirnya, Andi memutuskan
untuk membawa durian ketika silaturahmi kepada Pak Kyai nanti.
Sehari berselang, Andi pun bersilatruahmi kepada Pak Kyai
dengan membawa durian. Setelah bertemu Pak Kyai dan menyerahkan
durian sebagai oleh-olehnya, Andi pun pamit untuk kembali ke pondok.
Sebelum pulang, Pak Kyai meminta Andi untuk menuggu sebentar karena
ada oleh-oleh yang akan diberikan Pak Kyai. Mendengar kata oleh-oleh,
terbayang di benak Andi bahwa dia pasti akan mendapatkan balasan
yang jauh lebih besar dan lebih berharga daripada yang diberikan Pak
Kyai kepada Ahmad.
Setelah menunggu beberapa saat, Pak Kyai pun keluar dengan
membawa singkong untuk diberikan kepada Andi. Betapa kagetnya Andi
ketika melihat yang diberikan Pak Kyai kepadanya adalah singkong. Andi
pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Kyai perihal tersebut.
Dia menanyakan, kenapa Ahmad yang datang membawa singkong,
ketika pulang diberi oleh-oleh berupa kambing, sementara dirinya yang
datang membawa durian, ketika pulang diberi oleh-oleh berupa singkong.
Pak Kyai pun menjelaskan bahwa ketika Ahmad datang dan
membawa singkong, di rumah tidak ada makanan lain untuk diberikan
kepada Ahmad sebagai balasan. Hanya ada seekor kambing di kandang
belakang rumah. Sementara ketika Andi datang membawa durian, di
rumah sudah tidak ada lagi kambing dan makanan lain selain singkong
yang kemarin dibawa Ahmad.
Dari kisah tersebut dapat kita ambil sebuah pelajaran berharga,
bahwa hasil dari sebuah amal atau perbuatan itu tergantung pada niat
dan keikhlasan pelakunya.

96
Ilustrasi kisah di atas, hanya menggambarkan balasan sebuah
perbuatan ketika di dunia. Adapun balasan amal serta perbuatan di
akhirat tentu lebih adil lagi. Karena Allah Mahamengetahui niat dari para
hamba-Nya.

Siapakah Al-Mukhlashin ?
Di dalam al-Qur‘an terdapat dua istilah yang menggambarkan
kondisi orang-orang yang ikhlas. Pertama, al-Mukhlishun; dan kedua,
al-Mukhlashun.
Kata mukhlish dan mukhlash berasal dari akar kata yang sama,
yaitu akhlasha-yukhlisu, berarti tulus, jernih, bersih, dan murni. Dari
akar kata tersebut lahir kata mukhlish, jamaknya al-mukhlishun, berarti
orang yang setulus-tulusnya mengikhlaskan diri di dalam upaya
mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. Perkataan,
pikiran, dan segenap tindakanya hanya tertuju kepada Allah Swt.
Dari kata akhlasha juga lahir kata mukhlash, jamaknya al-
mukhlasin, berarti orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga
bukan dirinya lagi yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlishin)
tetapi Allah Swt yang proaktif untuk memberikan keihlasan. Jika mukhlis
masih sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas, sedangkan mukhlash
sudah tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam posisi ikhlas.
Keikhlasan sudah merupakan bagian dari habit dan kehidupan sehari-
harinya.
Seorang mukhlish masih sadar akan keikhlasannya. Pada posisi
ini masih riskan untuk diperdaya provokasi iblis karena masih menyadari
dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan mukhlash, iblis sudah menyerah dan
tidak bisa lagi berhasil mengganggunya karena langsung di back up oleh
Allah Swt.
Demikian penjelasan Prof. Nasaruddin Umar tentang perbedaan
makna al-Mukhlishin dan al-Mukhlashin, yang penulis kutip dari
situs:www.pustakaafaf.com

97
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa untuk mencapai derajat
ikhlas, seseorang harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan
segala hasrat serta keinginan yang bersifat materi-duniawi ketika
melakukan amal-ibadah. Ketika seseorang sudah mampu menafikan
segala keinginan duniawi berupa pujian ataupun balasan dari manusia
pada saat melakukan amal saleh, ia akan mencapai posisi mukhlish.
Pada saat mencapai posisi mukhlish ini, seseorang masih belum
bisa terbebas dari godaan iblis yang berusaha menggelincirkan
keikhlasannya itu. Karena, pada saat itu ia masih menyadari posisi
keikhlasannya. Maka, upaya selanjutnya agar ia bisa naik menuju maqam
mukhlash adalah terus-menerus memohon perlindungan kepada Allah,
seraya terus menerus melakukan amal saleh, tanpa berharap apa pun
kecuali ridla Allah, sehingga pada gilirannya Allah akan memback up-nya,
melindunginya dari bujuk rayu iblis yang berusaha menghancurkan
keikhlasannya.

Iblis Pun Tak Berkutik


Dalam Q.S. Al-Hijr: 39-42 digambarkan dialog antara Allah
dengan Iblis,

           

          

          

Iblis berkata: " Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan


bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah
bagi mereka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash (terpilih)
di antara mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus
(menuju) kepada-Ku.” Sesungguhnya kamu (iblis) tidak kuasa

98
atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang sesat.”

Dari dialog antara Allah Swt dengan Iblis la‘natullah ‗alaihi yang
direkam oleh rangkaian ayat al-Qur‘an di atas, tergambar jelas bahwa
Iblis bersumpah untuk menyesatkan seluruh umat manusia. Ia akan
menjadikan kejahatan tampak indah di mata manusia. Ia akan
mengelabui manusia dengan bujuk rayunya agar manusia mengikuti
jalan sesatnya. Sebagian besar manusia akan mengiikuti bujuk rayu Iblis
tersebut, kecuali hamba-hamba Allah yang Mukhlashin. Yaitu, mereka
yang sudah mencapai derajat (maqam) ikhlas yang sangat tinggi. Mereka
ini tidak akan bisa diperdaya oleh godaan serta bujuk rayu Iblis. Iblis
tidak akan berkutik, tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang-orang
yang penuh ketulusan hati, keikhlasan jiwa, yang hanya mengharap ridla
Allah semata atas segala amal yang dilakukannya.
Alkisah, dahulu ada seorang ulama yang begitu gigihnya memerangi
segala bentuk kemusyrikan. Dia tidak pernah berkompromi dengan siapa
saja yang melakukan aktivitas yang dianggapnya syirik atau
menyekutukan Allah.
Suatu waktu, ketika ulama tersebut tengah berjalan-jalan melewati
suatu perkampungan, dia melihat kerumunan orang yang mengelilingi
sebuah pohon besar. Dia amati dari jauh, ternyata orang-orang yang
berada di sekeliling pohon besar tersebut sedang menengadah, layaknya
orang yang sedang berdoa. Sementara di bawah pohon tersebut banyak
sekali terdapat sesaji berupa makanan dengan berbagai jenis dan
macamnya. Sang ulama langsung mengambil sebuah kesimpulan bahwa
orang-orang tersebut tengah berbuat syirik, yaitu melakukan aktivitas
pemujaan dan permohonan kepada pohon tersebut. Hatinya berontak,
tidak rela melihat orang-orang berbuat kemusyrikan. Satu-satunya cara
untuk menghilangkan kemusyrikan tersebut adalah dengan menebang
pohon itu, demikian gumamnya dalam batin. Dia pun segera pulang ke
rumah untuk mengambil kapak guna menebang pohon tersebut.

99
Setelah mendapat kapak, sang ulama kembali ke tempat
tersebut. Hari sudah mulai gelap. Orang-orang yang tadi berkerumun
sudah kembali ke rumah masing-masing. Inilah saat yang tepat untuk
menebang pohon kemusyrikan itu, demikian ucapnya dalam batin. Tanpa
pikir panjang, ulama itupun mulai menebang pohon kemusyrikan itu.
Ketika dia tengah menebang pohon tersebut, muncullah sosok iblis
penunggu pohon tersebut mencegahnya, ―tunggu dulu, jangan ditebang
pohon ini‖. Sang ulama pun terkejut, ―siapa kamu?‖ tanya sang ulama.
―Akulah penunggu pohon ini‖, jawab si iblis. ―Jangan kau halangi aku
menebang pohon ini. Pohon ini adalah sumber kemusyrikan‖, bentak
sang ulama. Karena si iblis tetap melarangnya, maka terjadilah
pertarungan sengit antara keduanya. Dengan ijin Allah, karena
keikhlasan niat sang ulama, iblis itupun kalah dan bertekuk lutut kepada
sang ulama.
Kisah tersebut penulis kutip dari buku penulis berjudul ―Agar
Allah Selalu Menolongmu; Melihat Sisi Baik dari Setiap Ujian” pada sub
bab ikhlas tanpa batas.

Dengan Ikhlas Hidup Terasa Lepas


Kita tentu sering mendengar keluhan orang-orang di sekitar kita,
atau mungkin diri kita sendiri, tentang beratnya menjalani kehidupan ini.
Kondisi ekonomi yang sulit, harga-harga kebutuhan pokok yang melonjak
tinggi seiring dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), biaya
pendidikan dan kesehatan yang mahal, serta berbagai persoalan
kehidupan lainnya yang semakin menambah penderitaan.
Ya, hidup memang terasa susah, jika kita menghadapinya dengan
keluh kesah. Hidup pun akan terasa berat jika iman dalam diri ini tidak
kuat. Hidup akan terasa sulit menghimpit jika cara pandang kita terhadap
hidup ini terlalu sempit. Sebaliknya, hidup akan terasa mudah jika kita
menjalaninya dengan penuh gairah. Hidup akan terasa nikmat jika iman
dan ilmu kita kuat. Hidup akan terasa bebas dan lepas jika kita
menghadapinya dengan ikhlas.

100
Ikhlas dalam menjalani hidup, dengan pengertian bahwa kita
sadar sepenuhnya, ada yang Mahamengatur kehidupan ini, yaitu Allah
Swt. Kita berhak untuk menyusun rencana sesuai dengan keinginan kita,
tetapi jangan lupa, ada yang Mahamemutuskan, Mahamenentukan
apakah rencana kita bisa berjalan dengan sukses ataukah tidak. Dialah
yang Mahamengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, Dialah
Allah Swt.
Mungkin dalam pandangan kita, rencana yang sudah kita susun
secara matang adalah yang terbaik buat kita, dan pasti sukses. Tetapi,
jika tidak ada ijin dari Yang Mahamenentukan, Mahamemutuskan, yakni
Allah Swt, maka rencana yang sudah kita susun secara matang tersebut
sangat mungkin gagal berantakan.

             

       

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik


bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui”, demikian diungkapkan dalam Q.S. Al-Baqarah:
216.

Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah, bisa
jadi itu sesuatu yang buruk bagi kita menurut Allah. Sebaliknya, apa
yang kita anggap buruk, bisa jadi itu yang terbaik buat kita menurut
Allah.
Dalam buku The Science & Miracle of Zona Ikhlas, Erbe Sentanu,
sang penulis buku menguraikan secara apik sisi ilmiah sikap ikhlas
disertai keajaiban-keajaiban yang melingkupi pelakunya.
Menurut Erbe Sentanu, sikap ikhlas akan membuat seseorang
secara alami lebih powerful. Orang yang secara sadar atau tidak
menjadikan ikhlas sebagai strategi hidupnya akan selalu diliputi
kedamaian, kebahagiaan, kesuksesan dan kemuliaan. Hal ini terjadi,

101
menurut Erbe Sentanu, karena ketika seseorang ikhlas berserah diri
sesungguhnya ia sedang menyelaraskan pikiran dan perasaannya dengan
kehendak Ilahi, yang menghasilkan kolaborasi niat yang luar biasa pada
level kuantum di zona ikhlas. Saat itu terjadi, kemudahan dari Tuhan
yang berupa keajaiban seringkali hadir dengan sendirinya.
Mengutip sejumlah penelitian ilmiah tentang dunia Quantum,
yaitu sebuah ‗dunia‘ yang tak berlokasi dan tak mengenal ruang dan
waktu, Erbe Sentanu menyimpulkan bahwa zona ikhlas ada di dunia ini,
yaitu dunia kuantum. Di zona yang tak berlokasi namun terpadu (unified)
ini rasa keterpisahan dan perbedaan semakin tak kentara. Rasa mengalir
ini membuat kita lebih inovatif, mudah mendapatkan solusi sekaligus
merasakan kebahagiaan. Itulah mengapa, seseorang yang diliputi
perasaan ikhlas dalam dirinya akan merasakan kehidupan yang damai,
tenang dan bahagia. Lebih dari itu, seseorang yang selalu menjaga
perasaan ikhlasnya akan mendapatkan keajaiban-keajaiban dalam
hidupnya.
Berikut penulis kutipkan salah satu kisah keajaiban yang dialami
seorang pejuang keikhlasan, sebagaimana diungkapkan dalam buku Erbe
Sentanu tersebut.
Sebut saja namanya Umi, seorang Janda dengan dua anak asal
Ciamis yang mengadu nasib di Jakarta. Pada saat lebaran ia ingin pulang
kampung, tetapi ada satu kendala yang dihadapinya, yaitu tidak punya
kendaraan pribadi untuk mudik lebaran.
Ia kemudian teringat Pak Herlambang, tetangga kompleksnya
yang berkelimpahan harta dan baik orangnya. Ia bermaksud meminjam
salah satu mobilnya untuk pulang kampung. Setelah mempertimbangkan
secara matang, ia pun menemui pak Herlambang untuk mengutarakan
maksudnya tersebut.
Pak Herlambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya
kepada Umi, bahkan diambilkan mobil yang paling muda tahunnya,
dengan harapan tidak ada kendala di perjalanan nanti.

102
Singkat cerita, setelah seminggu di kampung halamannya,
Ciamis, Umi pun kembali ke Jakarta. Umi tidak segera mengembalikan
mobil pinjamannya itu kepada Pak Herlambang dengan alasan masih
kotor. Dia berencana esok hari sebelum dikembalikan, anaknya diminta
untuk mencucinya terlebih dahulu biar tampak bersih.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Esok hari,
mobil yang diparkir di halaman rumahnya hilang. Umi dan keluarganya
pun panik. Dia tidak tahu harus ngomong apa ke Pak Herlambang perihal
hilangnya mobil tersebut. Dia sudah pasrah untuk dimarahi, dicaci maki
bahkan jika disuruh mengganti mobil itu.
Selepas shalat Isya, dengan wajah penuh ketakutan dengan
disertai deraian air mata, Umi menghadap Pak Herlambang dan
menceritakan peristiwa yang dialaminya. Di luar dugaan, ternyata Pak
Herlambang tidak marah mendengar penuturan Umi perihal mobilnya
yang hilang. Dia malah menenangkan Umi dengan mengatakan bahwa
mobilnya sudah diasuransikan. Ketika Umi tetap menawarkan untuk
mengganti mobilnya, meskipun dengan cara mencicil tiap bulan, Pak
Herlambang justru mengatakan tidak usah. Sungguh, Umi benar-benar
merasa bersyukur dan berterima kasih atas sikap Pak Herlambang yang
demikian baik tersebut.
Tidak berapa lama, Pak Herlambang mengurus asuransi mobilnya
yang hilang tersebut dan kemudian mendapat uang ganti ruginya.
Dengan uang tersebut kemudian Pak Herlambang mendatangi dealer
mobil untuk membeli mobil baru sebagai ganti mobilnya yang hilang.
Pada saat membeli mobil baru itulah, sikap ikhlas Pak
Herlambang berbuah keajaiban. Ternyata pada saat itu tengah ada
promo bagi setiap pembeli mobil di dealer tersebut. Pak Herlambang
mendapatkan kupon undian untuk memenangkan hadiah utama berupa
mobil terbaru.
Satu bulan berselang, pihak dealer menelepon Pak Herlambang
menginformasikan bahwa nomor undian Pak Herlambang memenangkan
hadiah utama berupa satu unit mobil terbaru. Subhanallah…

103
Sungguh, janji Allah itu nyata. Berkat keikhlasan hati dan
ketulusan jiwa Pak Herlambang menerima musibah berupa mobilnya
yang hilang, Allah menggantinya dengan lebih baik. Dari peristiwa
tersebut, Pak Herlambang akhirnya memiliki dua mobil baru, yakni mobil
yang dibelinya dari uang asuransi, dan mobil dari undian promo dealer
tersebut.
Maka, menghadapi segala kenyataan hidup yang kita jalani ini
dengan ikhlas dan penuh kesadaran, bahwa rencana Allah pasti yang
terbaik akan membuat hati kita tenang, dada kita lapang dan hidup kita
terasa lepas.

104
Langkah Kelima

105
Sempurnakan dengan Istiqamah

Kehidupan kita akan mencapai puncak kesuksesan dan


kebahagiaan ketika memiliki iman yang kuat, ilmu yang hebat, amal
yang dahsyat, disertai sikap ikhlas dan disempurnakan dengan istiqamah.
Kata terakhir yang penulis sebut akan menjadikan seseorang
tetap teguh berada pada jalan kebaikan yang sudah dipilihnya.
Ibnu Manzur dalam Kamus Lisan al-„Arab menjelaskan bahwa
secara bahasa (literal), istiqamah bermakna i‟tidal (lurus), istiwaa (lurus
dan setimbang).
Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, al-Jami‟ li Ahkam al-
Qur‟an menerangkan bahwa istiqamah adalah tegak lurus atau konsisten
untuk selalu menaati Allah Swt, baik dalam keyakinan, perkataan dan
perbuatan, kemudian tetap dalam kondisi semacam itu secara terus-
menerus".
Istiqamah dalam pengertian kita biasa dimaknai dengan sikap
konsisten, teguh memegang prinsip, terus-menerus, kontinu,
berkesinambungan dalam melakukan suatu amal. Dan istiqamah ini
menjadi ciri mulia dan bernilainya suatu amal saleh di hadapan Allah Swt.
Rasulullah Saw menegaskan, "Amalan yang paling di cintai oleh
Allah adalah amalan yang terus-menerus (kontinu) walaupun sedikit."
(HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut secara tegas dikatakan bahwa kualitas amal
yang sangat dicintai Allah Swt adalah keterjagaannya,
kesinambungannya, mudawamah-nya. Amal terbaik adalah yang
meskipun sedikit, tetapi dikerjakan dengan istiqamah, terus menerus.
Daripada dalam jumlah yang banyak, tetapi hanya sekali waktu saja.
Ilustrasi sederhana tentang hal ini adalah bahwa ketika kita
tadarus (membaca) al-Qur‘an, misalnya, maka jauh lebih baik beberapa
ayat yang kita baca, tetapi rutin kita lakukan setiap hari, daripada sekali
baca 1-2 Juz, kemudian berhenti tidak membacanya lagi di lain waktu.

106
Istiqamah adalah kata kunci yang menunjukkan tingkat keimanan
seseorang. Kita mengenal istilah fluktuasi atau pasang surut keimanan.
Ada ungkapan yang menyebutkan, “al-iimaanu yaziidu wa yanqushu”,
iman itu bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Untuk menjaga keimanan kita tetap stabil, bahkan bisa naik
terus-menerus adalah dengan menjaga sikap istiqamah. Teguh dan tetap
pada prinsip dalam berakidah, menjalankan ibadah serta muamalah
sesuai dengan koridor syariah.

Istiqamah Hati, Lisan dan Tindakan


Ada tiga hal yang saling terkait erat satu sama lain dalam diri
seseorang, yang akan menentukan kualitas imannya. Tiga hal tersebut
adalah: Hati, lisan dan tindakan.
Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Setiap orang harus
berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqamah di jalan
Allah, jalan yang lurus (ash-shirat al-mustaqim), yakni Islam.
Hati yang sering disebut dengan istilah qalb, mengandung arti
bolak-balik. Dengan demikian, hati sangat mudah untuk goyah dan
berubah-ubah. Sekali waktu kita begitu semangat menjalankan ibadah, di
lain waktu kita bermalas-malasan untuk melaksanakan ibadah. Karena
ketidak ajegan hati kita dalam beribadah inilah, sehingga kita dianjurkan
untuk selalu berdoa, memohon kepada Allah agar diberi ketetapan hati
dalam ketaatan kepada-Nya. Rasulullah Saw senantiasa memperbanyak
mengucapkan “Wahai yang membolak- balik hati, tetapkanlah hatiku
pada agamamu.” (HR. Tirmidzi)
Jika Rasulullah yang ma‘shum saja terus menerus berdoa
memohon kepada Allah agar diberi kemantapan serta ketetapan hati
pada ketaatan kepada Allah, apalagi kita yang kualitas keimanannya jauh
di bawah Rasulullah Saw.
Dalam sebuah hadisnya Rasulullah Saw juga berpesan,
"Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila
segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan

107
apabila segumpal daging itu buruk, maka akan buruklah semuanya,
ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan
Muslim).
Di dalam al-Qur‘an disebutkan duapuluh macam atau jenis hati
manusia dengan beragam karakteristiknya. Berikut penulis jelaskan
secara singkat keduapuluh macam hati manusia dengan beragam
karakteristiknya tersebut menurut al-Qur‘an:

1. Qalbun salim, yaitu hati yang sehat, bersih (selamat). Artinya hati
yang sehat, bersih dan selamat dari kekufuran dan kemunafikan. Hati

yang ikhlas lillahi ta‟ala. Termaktub dalam Q.S. Asy-Syu‘ara: 89. ‫إ ِِلا‬
‫َمنْ أَ َتى للاَ ِب َق ْلب َسلٌِم‬ , ―...kecuali orang-orang yang menghadap Allah

dengan hati yang bersih.”

2. Qalbun munib, yaitu hati yang selalu kembali dan bertaubat kepada

Allah. Termaktub di dalam Q.S. Qaf: 33. ِ ٌْ ‫مانْ َخشِ ًَ الرا حْ َم َن ِب ْال َغ‬
‫ب‬
‫َو َجآ َء ِب َق ْلب ُّمنٌِب‬ , ―...(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang

Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang
dengan hati yang bertaubat.”

3. Qalbun mukhbit, yaitu hati yang tunduk dan tenang. Termaktub di

dalam Q.S. Al-Haj: 54. َ ‫ٌِن أُو ُتوا ْالع ِْل َم أَ ان ُه ْال َح ُّق مِن را ِّب‬
‫ك‬ َ ‫َولِ ٌَعْ لَ َم الاذ‬
‫ت لَ ُه قُلُو ُب ُه ْم‬
َ ‫ َفٌ ُْإ ِم ُنوا ِب ِه َف ُت ْخ ِب‬, “Dan agar orang-orang yang telah diberi
ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur‟an itulah yang hak dari Tuhan-mu
lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya.”

4. Qalbun wajil, yaitu hati yang takut kepada Allah serta khawatir kalau
amalnya tidak diterima Allah, serta tidak selamat dari siksa (api)

neraka. Termaktub dalam Q.S. Al-Mukminun: 60. ‫ون‬ َ ‫و َِالاذ‬


َ ‫ٌِن ٌ ُْإ ُت‬
َ ‫ َمآ َءا َت ْوا َوقُلُو ُب ُه ْم َو ِجلَة أَ ان ُه ْم إِلَى َرب ِِّه ْم َرا ِجع‬, “Dan
‫ُون‬ orang-orang yang

108
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan
kembali kepada Tuhan mereka.”
5. Qalbun taqiy, yaitu hati yang selalu mengagungkan syiar-syiar Allah.

Termaktub di dalam Q.S. Al-Hajj: 32. ‫ك َو َمن ٌُ َع ِّظ ْم َش َعائ َِر اللاـ ِه‬
َ ِ‫ذ َِِل‬

ِ ‫ َفإِ ان َها مِن َت ْق َوى ْالقُلُو‬, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa
‫ب‬
mengagungkan syi‟ar-syi‟ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari
ketakwaan hati.”

6. Qalbun mahdiy, yaitu hati yang ridla dengan ketetapan (qadla) dan
takdir (qadar) Allah, serta berserah diri kepada Allah atas segala
urusan yang menimpanya. Termaktub dalam Q.S. At-Taghabun: 11.

‫لل ٌَ ْه ِد َق ْل َب ُه َوللا ُ ِب ُك ِّل َشىْ ء َعلٌِم‬ ِ ‫اب مِن مُّصِ ٌ َبة إِلا ِبإِ ْذ ِن‬
ِ ‫للا َو َمن ٌ ُْإمِن ِبا‬ َ ‫ص‬َ َ‫ َمآأ‬,
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali
dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.”

7. Qalbun muthmainun, yaitu hati yang tenang karena mengesakan


Allah dan mengingat-Nya. Termaktub dalam Q.S. Ar-Ra‘du: 28.

ُ‫للا َت ْط َمئِنُّ ْالقُلُوب‬


ِ ‫للا أَلَ ِب ِذ ْك ِر‬
ِ ‫ٌِن ا َم ُنوا َو َت ْط َمئِنُّ قُلُو ُبهُم ِب ِذ ْك ِر‬
َ ‫الاذ‬, ― (yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-
lah hati menjadi tenteram.”

8. Qalbun hayy, yaitu hati yang memahami ‗ibrah dari kisah-kisah umat
terdahulu yang Allah ceritakan dalam al-Qur‘an. Seperti disebutkan

dalam Q.S. Qaf: 37. ‫ان لَ ُه َق ْلب أَ ْو أَ ْل َقى ال اسم َْع‬ َ ِ‫إ ِِنا فًِ َذل‬
َ ‫ك لَ ِذ ْك َرى لِ َمن َك‬
‫َوه َُو َش ِهٌد‬ , “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar

terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau


yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

109
9. Qalbun maridl, yaitu hati yang mengandung penyakit, seperti
kemunafikan serta keraguan akan kebenaran. Hati yang di
dalamnya terdapat kejahatan serta syahwat kepada yang haram.

Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah: 10. ِ ُ‫فًِ قُل‬


‫وب ِهم‬
‫ضا‬ ‫ م َارضُ ُِ َف َزا َد ُه ُم ا‬,
ً ‫للاُ َم َر‬ “Dalam hati mereka ada penyakit,

lalu Allah menambah penyakitnya itu…”

10. Qalbun a‟ma, yaitu hati yang tidak bisa melihat dan memahami
kebenaran serta pelajaran yang telah Allah berikan melalui ayat-

ayat-Nya. Seperti disebutkan dalam Q.S. Al-Hajj: 46. ‫أ َِ َفلَ ْم ٌَسِ ٌرُوا‬
َ ‫ون ِب َهآ أَ ْو َءا َذان ٌَسْ َمع‬
‫ُون ِب َها َفإِ ان َها‬ َ ُ‫ون لَ ُه ْم قُلُوب ٌَعْ ِقل‬ َ ‫ض َف َت ُك‬ ِ ْ‫فًِ ْاألَر‬
ِ ‫ص ُد‬
‫ور‬ ُّ ‫صا ُر َولَكِن َتعْ َمى ْالقُلُوبُ الاتًِ فًِ ال‬ َ ‫ لَ َتعْ َمى ْاألَ ْب‬, “Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga
yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada.”

11. Qalbun laahiy, yaitu hati yang lalai terhadap al-Qur‘an, karena
disibukkan oleh syahwat kepada dunia. Sebagaimana diungkapkan

dalam Q.S. Al-Anbiya‘: 3. ‫لَ ِه ٌَ ًة قُلُو ُب ُه ْم‬ , “Hati mereka dalam

keadaan lalai.”

12. Qalbun aatsim, yaitu hati yang berdosa, karena menyembunyikan


persaksian yang benar. Seperti dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah:

283. َ ُ‫َولَ َت ْك ُتمُوا ال اش َها َد َة َو َمن ٌَ ْك ُت ْم َها َفإِ ان ُه َءا ِث ُمُِ َق ْل ُب ُه َوللاُ ِب َما َتعْ َمل‬
‫ون‬
ُِ‫ َعلٌِ ُم‬, “…Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan

persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka

110
sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

13. Qalbun mutakabbir, yaitu hati yang sombong dan enggan mengakui
keesaan Allah, tidak taat kepada-Nya, serta banyak berbuat zalim.

Seperti ditegaskan dalam Q.S. ‫للا ِب َغٌ ِْر‬


ِ ‫ت‬ ِ ‫ون فًِ َءا ٌَا‬ َ ُ‫ٌِن ٌ َُجا ِدل‬
َ ‫الاذ‬
‫ك ٌَ ْط َب ُع للاُ َعلَى ُك ِّل‬
َ ِ‫ٌِن َءا َم ُنوا َك َذل‬ ِ ‫س ُْل َطان أَ َتا ُه ْم َكب َُر َم ْق ًتا عِ ن َد‬
َ ‫للا َوعِ ن َد الاذ‬
ِ ‫ َق ْل‬, “(Yaitu)
‫ب ُم َت َكبِّر َجباار‬ orang-orang yang memperdebatkan ayat-

ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar
kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang
beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang
sombong dan sewenang-wenang.”

14. Qalbun ghalizh, yaitu hati yang keras dan kasar, yang hilang darinya
kelembutan dan kasih sayang. Sebagaimana termaktub dalam Q.S.

Ali Imran: 159. ‫ب‬ ًّ ‫نت َف‬


ِ ‫ظا َغلٌِ َظ ْال َق ْل‬ َ ‫ِنت لَ ُه ْم َولَ ْو ُك‬ ِ ‫َف ِب َما َرحْ َمة م َِّن‬
َ ‫للا ل‬
َ ‫لَن َفضُّوا ِمنْ َح ْول‬
‫ِك‬ , ―Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu

berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap


keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu.”

15. Qalbun makhtum, yaitu hati yang tidak bisa mendengar petunjuk
dan tidak dapat memahaminya. Seperti ditegaskan dalam Q.S. Al-

Jatsiyah: 23. َ َ‫ْت َم ِن ا ات َخ َذ إِلَ َه ُه َه َواهُ َوأ‬


‫ضلا ُه للاُ َعلَى عِ ْلم َو َخ َت َم َعلَى‬ َ ٌ‫أَ َف َر َء‬
َ‫ص ِر ِه غِ َش َاو ًة َف َمن ٌَ ْهدٌِ ِه مِن َبعْ ِد للاِ أَ َفل‬
َ ‫َس ْم ِع ِه َو َق ْل ِب ِه َو َج َع َل َعلَى َب‬
َ ‫ َت َذ اكر‬, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
‫ُون‬
hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas

111
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk
sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?”

16. Qalbun qasiy, yaitu hati yang keras membatu, tidak mau beriman.

Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Maidah: 13. ‫َف ِب َما َن ْقضِ ِهم‬
‫مٌِّ َثا َق ُه ْم لَ َع انا ُه ْم َو َج َع ْل َنا قُلُو َب ُه ْم َقاسِ ٌَ ًة‬ , “(Tetapi) karena mereka

melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati


mereka keras membatu...”

17. Qalbun ghafil, yaitu hati yang lalai dari mengingat Allah, serta
mengikuti hawa nafsunya semata. Seperti ditegaskan dalam Q.S. al-
ً ‫فُ ُر‬
Kahf: 28. ‫طا‬ ُ‫ان أَ ْم ُره‬
َ ‫ َولَ ُتطِ عْ َمنْ أَ ْغ َف ْل َنا َق ْل َب ُه َعنْ ِذ ْك ِر َنا َوا ات َب َع َه َواهُ َو َك‬,
“…Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami
lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan
adalah keadaannya itu melewati batas.

18. Qalbun aghlaf, yaitu hati yang tertutup, tidak bisa ditembus oleh
nasihat serta ajaran Rasulullah Saw. Sebagaimana dijelaskan dalam

Q.S. al-Baqarah: 88. ‫َو َقالُوا قُلُو ُب َنا ُغ ْلف َبل لا َع َن ُه ُم ا‬


ً‫للاُ ِب ُك ْف ِر ِه ْم َف َقلٌِل‬
َ ‫مااٌ ُْإ ِم ُن‬
‫ون‬ , ―Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi

sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran


mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

19. Qalbun zaigh, yaitu hati yang menyimpang dari kebenaran dan
cenderung pada kesesatan. Hal ini termaktub dalam Q.S. Ali ‗Imran:

7. ‫ُون َما َت َشا َب َه ِم ْن ُه ا ْب ِت َغآ َء ْال ِف ْت َن ِة َوا ْب ِت َغآ َء‬ َ ‫َفؤ َماا الاذ‬
ِ ُ‫ٌِن فًِ قُل‬
َ ‫وب ِه ْم َز ٌْ ُغُِ َف ٌَ ات ِبع‬
‫ َتؤْ ِوٌلِ ِه‬, ―Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat
yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-
cari takwilnya.”

112
20. Qalbun murib, yaitu hati yang selalu ragu-ragu. Sebagaimana

ditegaskan dalam Q.S. At-Taubah: 45. َ ‫ك الاذ‬


َ ‫ٌِن لٌَ ُْإ ِم ُن‬
‫ون‬ َ ‫إِ انما َ ٌَسْ َت ْئ ِذ ُن‬
‫ون‬ ْ ‫لل َو ْال ٌَ ْو ِم ْاألَخ ِِر َوارْ َتا َب‬
َ ‫ت قُلُو ُب ُه ْم َف ُه ْم فًِ َرٌ ِْب ِه ْم ٌَ َت َر اد ُد‬ ِ ‫ ِبا‬,
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian,
dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang
dalam keragu-raguannya.”

Hati adalah raja. Jika hati cenderung kepada kebaikan, maka


seluruh anggota tubuh akan mengikuti kata hati. Sebaliknya, ketika hati
cenderung kepada kejahatan, seluruh anggota tubuh pun akan
mengikutinya. Maka, hati-hatilah dengan hati kita. Mari kita berusaha
semaksimal mungkin untuk mengistiqamahkan hati kita dalam kebaikan.
Setelah kita berusaha mengistiqamahkan hati untuk terus berada
di jalan Allah, maka langkah selanjutnya yang tidak kalah pentingnya
adalah mengistiqamahkan lisan untuk tetap pada kebaikan dan
kebenaran.
Rasulullah Saw menegaskan, “Barangsiapa beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaknya berkata baik atau diam…”. (HR. Bukhari)
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa di antara tanda keimanan
seseorang adalah menjaga lisan. Pesan Rasulullah Saw dalam hadis
tersebut menunjukkan bahwa hanya ada dua cara untuk menjaga lisan
kita, yaitu: Pertama, berkata baik; dan kedua, diam. Pesan sederhana ini
mengandung makna yang sangat dalam jika kita kaji lebih jauh.
Seorang mukmin sejati adalah mereka yang selalu menghiasi
lisannya dengan ucapan-ucapan yang baik. Dalam suatu kesempatan,
Rasulullah Saw menyatakan bahwa di antara cara untuk mencapai
kebahagiaan adalah dengan senantiasa membasahi bibir kita dengan
dzikir (lisanun dzakirun).

113
Makna dzikir di sini adalah mengucapkan kalimat-kalimat
thayyibah, seperti mengesakan Allah (la ilaha illallah), mensucikan Allah
(subhanallah), memuji Allah (alhamdulillah), mengagungkan Allah
(Allahu Akbar), memohon ampun kepada Allah (astaghfirullah) serta
kalimat-kalimat thoyyibah lainnya yang dapat mengingatkan kita kepada
Allah Swt.
Makna lain dari dzikir, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‘an
adalah: al-Qur‘an. Ya, adz-dzikru adalah nama lain dari al-Qur‘an,
sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An-Nahl: 44,

ِ ‫ّي لِلن‬
‫َّاس َمانُِّزَل إِلَْي ِه ْم َولَ َعلَّ ُه ْم يَتَ َف َّك ُرو َن‬ ِ ِّ ‫الزب ِر وأَنزلْنآ إِلَيك‬
َ ِّ َ‫الذ ْكَر لتُب‬ َ ْ َ َ َ ُُّ ‫ات َو‬
ِ َ‫بِالب يِّ ن‬
َ
}44{

―(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan


(mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu adz-
dzikr (Al-Qur'an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.”

Pada ayat sebelumnya, yaitu Q.S. An-Nahl: 43 disebutkan,

             

  

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad),


melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka;
maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak
mengetahui.”

Jika ayat ke-43 surat An-Nahl ini dikaitkan dengan ayat ke-44-
nya, maka yang dimaksud dengan 'ahli dzikir' itu adalah ahl al-Qur'an,
atau orang yang mengerti dan paham tentang Al-Qur'an, demikian
dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya.

114
Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Munawi
dalam kitabnya Faidh al-Qadir (Syarah al-Jami‟ ash-Shaghir karya Imam
As-Suyuthi), menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan majelis dzikir
adalah : tadabbur al-Qur‘an dan mempelajari agama.
Dari beberapa keterangan di atas, dapat dipahami bahwa makna
lain dari dzikir adalah al-Qur‘an. Dengan demikian, maka lisanun
dzakirun adalah lisan yang selalu dihiasi dengan bacaan ayat-ayat suci
al-Qur‘an.
Seorang mukmin hendaknya istiqamah dalam mengucapkan
kalimat-kalimat yang baik (thayyibah) dan juga istiqamah dalam
membaca, mempelajari dan memahami serta mengamalkan al-Qur‘an.
Jika tidak bisa mengatakan kalimat-kalimat yang baik, atau jika
berkata justru akan membuat sakit hati orang lain, memperkeruh
suasana, menimbulkan persoalan di kemudian hari, maka akan lebih baik
bagi seorang mukmin untuk diam. Seorang mukmin sejati mengetahui
kapan dia berkata-kata dan kapan dia harus diam.
Inilah makna dari istiqamah lisan. Hanya menggunakan lisan
untuk kebaikan dan kebenaran, dan menjaganya dari keburukan dan
kesalahan.
Dalam sebuah ungkapan bijak disebutkan, lidah tidak bertulang,
tetapi tajamnya melebihi pedang. Dalam ungkapan yang lain juga
disebutkan, ucapan mampu menembus apa yang tidak dapat ditembus
oleh jarum.
Dua ungkapan penuh hikmah tersebut menunjukkan bahwa
betapa pentingnya peran ucapan. Ucapan seseorang yang meyejukkan,
menentramkan dan mendamaikan akan menghadirkan ketenangan dan
keteduhan pada hati orang yang mendengarnya. Sedangkan ucapan yang
kasar dan menyakitkan akan melahirkan kegelisahan bahkan kebencian
pada hati orang yang mendengarnya.
Al-Qur‘an mengajarkan kepada kita bagaimana sebaiknya kita
berkomunikasi dengan orang lain. Apa yang harus kita ucapkan agar
orang yang kita ajak bicara itu mampu memahami dengan baik ucapan

115
kita. Lebih dari itu, agar ucapan kita mampu menghadirkan rasa nyaman
dan tentram pada diri mereka.
Di dalam al-Qur‘an terdapat beberapa macam istilah ucapan
(qaulan). Setidaknya ada enam bentuk ucapan (qaulan) yang diajarkan
al-Qur‘an agar komunikasi antara kita dengan orang lain berjalan baik.
Berikut penulis jelaskan secara singkat keenam model ucapan (qaulan)
tersebut:

1. Qaulan karima, yaitu ucapan yang mulia, yang menghadirkan


penghormatan bagi yang diajak bicara. Sebagaimana disebutkan

dalam Q.S Al-Isra‘: 23: ٍّ ُ‫فَ ََل تَقُلْ لَهُ َما أ‬


‫ف َو ََل تَ ْنهَرْ هُ َما َوقُلْ لَهُ َما قَ ْى اَل‬
‫ َك ِري اما‬, “... janganlah kamu mengatakan „ah‟ kepada mereka (orang
tua), jangan pula kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia!”

2. Qaulan ma‟rufa, yaitu ucapan yang baik dan diterima oleh norma-
norma yang berlaku di masyarakat. Di samping itu, menurut M.
Quraish Shihab, Qaulan ma‟rufa adalah ucapan yang pantas dengan
latar belakang dan status seseorang. Seorang pendidik, ustadz,
tokoh agama hendakanya bertutur kata yang santun, karena
memang pantasnya seperti itu. Hal ini seperti ditegaskan dalm Q.S.

Al-Ahzab: 32. َ ‫ٌَا ِن َسآ َء ال ان ِبًِّ لَسْ ُتنا َكؤ َ َحد م َِّن ال ِّن َسآ ِء إِ ِن ا ات َق ٌْ ُتنا َفلَ َت ْخ‬
‫ضعْ َن‬
‫ ِب ْال َق ْو ِل َف ٌَ ْط َم َع الاذِي فًِ َق ْل ِب ِه َم َرض َوقُ ْل َن َق ْولً ماعْ رُو ًفا‬, “Hai isteri-isteri
Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan
ucapkanlah perkataan yang baik.”

3. Qaulan baligha, yaitu ucapan yang fasih, efektif, tepat sasaran, tidak
bertele-tele dan mampu menghunjam dan berbekas dalam hati

mereka. Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. an-Nisa‘: 63. َ ‫أُِ ْول ِئ‬
‫ك‬

116
‫وب ِه ْم َفؤَعْ ِرضْ َع ْن ُه ْم َوعِ ْظ ُه ْم َوقُل لا ُه ْم فًِ أَ ن ُفسِ ِه ْم‬
ِ ُ‫ٌِن ٌَعْ لَ ُم للاُ َما فًِ قُل‬
َ ‫الاذ‬
‫ َق ْولً َبلٌِ ًغا‬, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui
apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari
mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada
mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.“

4. Qaulan Sadida, yaitu ucapan yang jelas, terang, benar, baik dari sisi
isi atau materi pembicaraannya amaupun dari sisi redaksinya. Hal

ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. An-Nisa: 49. ‫ٌِن لَ ْو‬ َ ‫َو ْل ٌَ ْخ‬
َ ‫ش الاذ‬
َ ‫ َت َر ُكوا ِمنْ َخ ْلف ِِه ْم ُذرِّ ٌ ًاة ضِ َعا ًفا َخافُوا َعلٌَ ِْه ْم َف ْل ٌَ اتقُوا‬,
‫للا َو ْل ٌَقُولُوا َق ْولً َسدٌِ ًدا‬
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar”.

5. Qaulan layyina, yaitu ucapan yang lemah lembut, santun, dengan


suara yang penuh keramahan sehingga mampu menyentuh hati
orang yang diajak bicara. Seperti dijelaskan dalam Q.S. Thaha: 44.

‫ َفقُولَ َل ُه َق ْولً لا ٌِّ ًنا لا َعلا ُه ٌَ َت َذ اك ُر أَ ْو ٌَ ْخ َشى‬, “Maka berbicaralah kamu

berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir‟aun) dengan kata-kata


yang lemah-lembut…”

6. Qaulan Maysura, yaitu ucapan yang mudah dimengerti, dipahami dan


dicerna oleh orang yang kita ajak bicara. Sebagaimana ditegaskan

dalam Q.S. Al-Isra: 28. ‫ك‬ َ ‫ضنا َع ْن ُه ُم ا ْب ِت َغآ َء َرحْ َمة مِّن را ِّب‬
َ ‫َوإِماا ُتعْ ِر‬
‫ َترْ جُو َها َفقُل لا ُه ْم َق ْولً ام ٌْسُورً ا‬, ”Dan jika kamu berpaling dari mereka
untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan,
maka katakanlah kepada mereka ucapan yang mudah”.

117
Demikianlah al-Qur‘an mengajarkan kepada kita untuk
mengucapkan kata-kata yang mulia, baik, benar, mudah dipahami
dengan bahasa yang santun dan lemah lembut.
Dengan mengistiqamahkan lisan kita untuk berkata yang mulia,
baik, benar, mudah dipahami dengan bahasa yang santun dan lemah
lembut inilah, maka kita akan dipandang mulia di sisi Allah dan terhormat
di mata manusia.
Selanjutnya, untuk semakin menyempurnakan keimanan dan
ketakwaan kita, setelah kita mampu mengistiqamahkan hati dan lisan,
maka kita harus berusaha untuk mengistiqamahkan tindakan.
Makna mengistiqamahkan tindakan artinya bahwa kita melakukan
aktivitas positif (amal saleh) dengan terus menerus, berkesinambungan.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas, bahwa sesungguhnya amal
yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (kontinu) meskipun
sedikit.
Membaca al-Qur‘an beberapa ayat, tetapi dilakukan terus-
menerus setiap hari, jauh lebih baik dan dicintai Allah daripada membaca
al-Qur‘an beberapa juz namun hanya dilakukan sekali waktu dan tidak
dilanjutkan pada waktu-waktu lainnya.
Kebiasaan bersedekah yang dilakukan secara rutin, meski dalam
jumlah yang tidak besar jauh lebih baik daripada bersedekah dalam
jumlah besar dan hanya sekali dilakukan. Pun demikian halnya dengan
amalan-amalan positif lainnya, akan jauh lebih bermakna ketika
dilakukan secara istiqamah, terus menerus dan berkelanjutan.
Syahdan, ada seorang Tukang tambal ban. Lima tahun yang lalu
seringkali terkena penertiban, sebab lapaknnya atau tempat usahanya
berada di tepi jalan. Suatu ketika, di pagi hari, ada seorang temannya
yang mampir ke tempatnya.
Ketika mereka tengah asyik ngobrol, tiba-tiba seorang pengemis
datang meminta diberi sedekah. Si Tukang tambal ban merasa terganggu
dengan kehadiran pengemis tersebut. Dia menolaknya, dan pengemis
itupun berlalu. Demikian berturut-turut hingga ada beberapa pengemis
yang selalu ditolaknya.

118
Kawannya bertanya. "Disini banyak pengemis yang datang ya?.‖
"Wah, kalau dituruti, sehari bisa puluhan orang. Saya selalu menolak
mereka. Buat apa mengajari orang malas.‖ Jawab si Tukang tambal itu
ketus. Kawannya diam sejenak. Lalu berkomentar, "Kalau boleh saya
ngasih saran, sebaiknya jika ada pengemis yang datang, jangan ditolak.
Meskipun cuma seratus perak, berikanlah kepadanya!.‖
Si tukang tambal ban tersenyum kecut dan menanggapi dengan
sikap dingin. "Pengemis sekarang bukanlah orang yang benar-benar
miskin. Di daerahnya, mereka meiliki rumah besar, ternak banyak dan
sawah luas. Mengemis dibuat sebagai mata pencaharian. Jika menuruti
pengemis, bisa bangkrut aku. Sedangkan sejak pagi tak satupun
kendaraan yang berhenti untuk mengisi angin ataupun minta ditambal.‖
Temannya berusaha menasehati dengan bijak,‖berpikir begitu
boleh-boleh saja. Tetapi saya tetap yakin bersedekah itu lebih
bermanfaat dan menguntungkan diri sendiri. Aku menggemarkan diri
bersedekah sudah beberapa tahun lalu.‖
"Kamu berbicara begitu karena memang sudah pantas melakukan
sedekah, sebab penghasilanmu besar, punya mobil dan rumah bagus.
Sedangkan diriku!? hanyalah seorang tukang tambal ban, tidak lebih dan
tidak kurang!‖ tandas si Tukang tambal ban.
"Aku dulu juga seperti dirimu.. Kau tahu kan? Kehidupanku carut
marut. Sekarang makan, besok harus hutang ke tetangga. Tetapi aku
tidak pernah berhenti bersedekah. Maaf, ini bukan pamer ataupun
membanggakan diri, tetapi maksudku berbagi pengalaman denganmu.
Setiap ke masjid, aku selalu memasukan uang meskipun hanya recehan.
Setiap ada pengemis datang selalu kuberi jika memang masih ada uang,
tetapi kalau lagi tidak ada …air minum saja juga sudah sangat senang.
Itu kulakukan secara istiqomah, dan sungguh, aku mengalami sebuah
kejadian luar biasa. Rejekiku sangat lancar. Setiap ada rencana selalu
berhasil, setiap transaksi selalu sukses. Apa saja yang kulakukan selalu
membawa berkah hingga kamu lihat sendiri seperti sekarang ini.‖ kata
temannya itu menambahkan.

119
Si tukang tambal ban tidak segera menjawab. Dia tampaknya
sedang berpikir. Temannya lalu berkata lagi, "memberi sedekah tidak
harus kepada pengemis. kamu bisa mengulurkan tanganmu kepada
sanak saudara atau siapa saja, asalkan ikhlas.‖
"Benar… dan sedekah yang lebih tinggi harganya ialah ketika
dirimu dalam keadaan sempit. Jangan menunggu kaya baru bersedekah.
Saat sekarang ini kamu harus memulainya,‖ begitu temannya dengan
sangat bijak dan mengena memberikan saran.
Si tukang tambal ban mulai bisa menangkap makna memberi,
dari kata-kata temannya tadi, terutama kondisi dulu yang menyatakan
kalau dirinya juga berawal dari orang yang tidak punya karena tidak
punya pekerjaan tetap. Maka dia pantas dipercaya karena keadaanya
memang sudah mapan dibandingkan dengan dirinya.
Keesokan harinya si Tukang tambal ban mulai menyediakan uang
recehan. Selama uang recehan masih ada, ia tidak pernah menolak
pengemis yang datang. Kecuali jika sudah habis jatahnya baru ia
menolaknya. Bahkan setiap pergi ke masjid dia tidak pernah melupakan
sedekah ke kotak infaq.
Semenjak itu rejekinya lancar. Setiap hari sejak pagi hingga
petang sambung menyambung motor yang berhenti minta ditambalkan
ataupun sekedar mengisi angin. Bahkan dua keponakannya yang
menganggur diajaknya membantu pekerjaan itu.
Sekarang si Tukang tambal ban telah memiliki tabungan. Dari
tabungannya dia mampu menyewa tempat dan membangunnya
meskipun tidak permanen. Sehingga dia kini bisa bekerja dengan tenang
karena tidak harus dikejar-kejar polisi pamong praja.
Seiring waktu, si Tukang tambal ban tidak hanya melayani jasa
menambal atau mengisi angin. tetapi berkembang menjadi sebuah usaha
ban kanisir. Bahkan dia mempunyai puluhan pelanggan perusahaan jasa
angkutan. Kalau dulu dia menerima uang recehan dari pelanggannya.
Sekarang dia menerima cek dari perusahaan sebagai pembayaran ban
kanisir. Anak buahnya semakin bertambah.

120
Keadaan hidup si tukang tambal ban telah mapan. Dia bisa
membeli rumah dan mobil. Setiap tahun zakat malnya dibagikan di
kampung halamannya untuk orang-orang miskin dan yatim piatu. Bahkan
dia telah berangkat haji bersama istrinya.
Si Tukang tambal ban berhasil membuka tabir misteri keajaiban
sedekah. Sekarang dia benar-benar percaya bahwa sedekah itu sangat
memberikan manfaat yang luar biasa seperti saran temannya dulu yang
diawalnya dia tanggapi dengan sikap dingin. Subhanallah… (Cerita ini
penulis kutip dari blog: http://cintaistiqomah.do.am, dengan sedikit
perubahan redaksi kalimatnya)
Inilah makna dari istiqamah dalam tindakan. Menjaga konsistensi
untuk tetap melakukan amal saleh sepanjang waktu adalah perkara yang
tidak mudah. Pelbagai rintangan dan hambatan dari dalam diri dan luar
diri kita akan terus datang silih berganti menguji keistiqamahan kita
dalam melakukan tindakan positif atau amal saleh.
Rasulullah Saw suatu ketika didatangi seseorang yang kemudian
berkata, ―Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang
tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.‖ Kemudian Rasulullah
Saw menjawab, ―Katakanlah, ‗Aku beriman kepada Allah, kemudian
istiqamahlah.‖
Maksud dari kalimat: ―Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah
perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau‖ adalah:
ajarkanlah kepadaku suatu perkataan tentang pengertian Islam yang
jelas bagiku, sehingga aku tidak perlu lagi menanyakan maknanya
kepada orang lain dan aku akan mengerjakannya. Kemudian Nabi
Menjawab, Katakanlah, Aku beriman kepada Allah , kemudian
istiqamahlah.
Begitu jelasnya Rasulullah Saw mengungkapkan bahwa setelah
kita mengikrarkan diri beriman kepada Allah Swt., maka selanjutnya
yang harus kita lakukan adalah istiqamah, konsisten dan konsekuen
terhadap apa yang telah kita katakan tersebut. Wujud nyata dari sikap
istiqamah ini adalah keberlangsungan dan kesinambungan amal salaeh
kita dalam kehidupan sehari-hari. Nilai keimanan kita ditentukan oleh

121
sikap istiqamah kita. Jika kita teguh pada prinsip, ajeg dan konsisten
dalam amaliyah nyata, maka berarti kita telah menunjukkan sebagai
orang yang istiqamah dalam tindakan. Sebaliknya, jika kita mudah
goyah, tidak teguh pendirian, tidak konsisten terhadap amal ibadah yang
kita lakukan, maka berarti sikap istiqmah itu telah hilang dari diri kita.
Untuk itu, agar kita tetap istiqamah di jalan Allah, baik dalam
hati, lisan maupun tindakan, maka kita harus menjaga beberapa sikap
berikut ini:
Pertama, muraqabah. Yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah. Kita
meyakini bahwa Allah selalu hadir dalam kehidupan kita, kapan pun, di
mana pun dan dalam kondisi apa pun kita. Perasaan muraqabah ini akan
menjadi benteng dan perisai bagi diri kita untuk tidak melakukan
perbuatan yang dilarang oleh Allah. Karena kita yakin, sekecil apa pun
perbuatan yang kita lakukan, pasti akan dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Allah Swt.
Kedua, muhasabah. Yaitu selalu introspeksi diri terhadap apa
yang telah kita lakukan. Sikap ini akan menjadikan kita sebagai orang
yang selalu hati-hati terhadap apa yang akan dan telah kita lakukan.
Terhadap apa yang akan kita lakukan, kita akan menata niat agar apa
yang akan kita lakukan betul-betul ikhlas karena Allah. Adapun terhadap
yang telah kita lakukan, kita selalu memohon kepada Allah agar Allah
meridlainya, juga menjaga keikhlasan hati kita setelah melakukannya.
Ketiga, mujahadah. Yaitu selalu berusaha dengan penuh
kesungguhan untuk membentuk jiwa agar tetap taat kepada Allah Swt.
Sikap ini akan membentuk pribadi kita sebagai seorang mukmin yang
tangguh, tidak mudah goyah dalam mempertahankan prinsip keimanan.
Betapa pun berat dan sulitnya jalan yang ditempuh dalam
mempertahankan prinsip tersebut, seorang mujahid akan mampu
melewatinya dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran agama.

122
Dan Malaikat pun Turun
Di dalam Q.S. Fushshilat: 30 Allah Swt menegaskan,

           

       

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami


ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka
(istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa
sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.”

Berkaitan dengan ayat di atas, Ibn Katsir menjelaskan bahwa


orang-orang yang istiqamah adalah mereka yang mengikhlaskan amal
semata-mata karena Allah, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan
syari‘at Allah.
Lebih lanjut, Ibn Katsir menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan
bahwa para malaikat akan turun kepada orang-orang yang istiqamah
ketika kematian menjemputnya, ketika berada di alam kubur dan ketika
dibangkitkan.
Para malaikat itu menenangkan jiwa orang-orang mukmin yang
istiqamah pada keimanannya, dengan memberikan rasa aman dari
ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan rasa sedih akibat
berpisah dengan sanak keluarganya, dan mengatakan bahwa Allah
adalah pengganti dari semua yang ditinggalkannya itu. Para malaikat
juga memberikan kabar gembira berupa ampunan ataas dosa dan
kesalahan yang telah diperbuat, serta mengabarkan bahwa amalnya
diterima Allah Swt. Dan yang tidak kalah menggembirakan adalah kabar
tentang surga yang dijanjikan, yang belum pernah dilihat mata, belum
pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.
Inilah penjelasan Ibn Katsir tentang ayat tersebut.

123
Betapa bahagianya orang-orang yang istiqamah di jalan yang
lurus (ash-shirat al-mustaqim), yakni jalan yang Allah ridlai, jalan iman
dan taqwa. Malaikat akan bersama mereka, sejak kematian menjemput,
ketika berada di alam barzakh, hingga hari ketika mereka dibangkitkan.
Tak henti-hentinya para malaikat menenangkan jiwa-jiwa mereka,
menentramkan batin-batin mereka, menghilangkan rasa sedih dan
gelisah, menunjukkan pintu kebahagiaan berupa surga yang dijanjikan.
Para malaikat juga menjadi pelindung orang-orang yang
istiqamah di jalan Allah, ketika mereka menjalani kehidupan di dunia ini
dan di akhirat kelak.

Sedikit demi Sedikit, Terus Menerus


Kita tentu akrab dengan ungkapan: sedikit demi sedikit lama-
lama menjadi bukit. Atau ungkapan lain yang menyatakan: perjalanan
seribu mil dimulai dari langkah pertama.
Ungkapan pertama mengandung makna bahwa segala sesuatu
jika dilakukan secara kontinu, terus menerus, meskipun hanya sedikit
demi sedikit, maka tanpa terasa akan menjadi sesuatu yang besar.
Seseorang yang membiasakan diri menabung, misalnya, meskipun dalam
jumlah yang tidak terlalu besar, tetapi rutin dilakukan tiap hari, maka
seiring berjalannya waktu, pada saatnya nanti dia akan mendapati
tabungannya dalam jumlah besar.
Inilah ilustrasi sederhana tentang amal kita. Ketika kita
membiasakan diri untuk bersedekah, misalnya, meskipun dalam jumlah
yang tidak terlalu besar, tetapi jika dilakukan rutin, terus menerus, maka
kelak, insya Allah kita akan mendapati pahala yang besar di sisi Allah
Swt. Dan, ketika kita sudah membiasakan sedekah, maka tidak ada lagi
rasa berat dalam diri kita untuk mengeluarkannya, meskipun dalam
jumlah yang besar. Hal ini karena kita sudah terbiasa melakukannya.
Inilah amalan yang paling dicintai Allah. Amalan yang dikerjakan secara
rutin, terus menerus, meskipun sedikit.

124
Ada kisah menarik tentang sesuatu yang meski kelihatannya
sederhana, tetapi jika terjadi terus menerus, berulang kali, dalam waktu
yang lama, mampu memberi dampak yang luar biasa.
Alkisah, ada seorang santri yang sudah bertahun-tahun belajar,
tetapi merasa selalu mudah lupa terhadap pelajaran yang diajarkan oleh
para guru kepadanya. Meski termasuk santri yang rajin, tetapi dia selalu
tertinggal jauh dari teman-teman sekelasnya. Kondisi demikian
membuatnya frustrasi, sehingga dia memutuskan untuk keluar dari
sekolah. Dia pun meminta ijin kepada gurunya untuk tidak bersekolah
lagi.
Dalam kegundahan hatinya meninggalkan madrasah tempat dia
belajar, turun hujan lebat yang memaksanya untuk berteduh di dalam
sebuah gua. Di dalam gua itulah sebuah pelajaran berharga ia dapatkan,
yang kelak jalan mengubah hidupnya.
Di dalam gua tersebut dia memperhatikan tetes demi tetes air
yang jatuh tepat di atas sebuah batu. Setelah dia amati, ternyata batu
yang kena tetesan air itu berlubang. Dia pun tertegun takjub sambil
bergumam dalam hati. Bagaimana mungkin batu yang keras itu bisa
berlubang hanya karena tetesan air yang tidak seberapa kuatnya. Dia
pun merenung. Akhirnya dia berkesimpulan bahwa batu yang keras itu
dapat berlubang karena tetesan yang jatuh di atasnya terjadi terus
menerus dalam jangka waktu yang lama.
Dari peristiwa sederhana tersebut dia tersadar bahwa betapa pun
kerasnya sesuatu jika ditempa terus menerus pasti akan menjadi lunak.
Batu yang sangat keras saja bisa lunak berlubang hanya karena tetesan
air yang terjadi terus menerus, apalagi otak manusia yang tidak sekeras
batu. Dia yakin bahwa dengan ketekunan, kesabaran dan keikhlasan,
maka otaknya akan bisa menyerapa semua pelajaran yang diajarkan oleh
para gurunya.
Akhirnya, dia pun kembali ke madrasah tempat dia belajar. Dia
meminta ijin kepada sang guru untuk diperkenankan kembali belajar di
madrasah tersebut. Dia ceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya
ketika berteduh dari derasnya hujan di dalam gua. Melihat keseriusan

125
dan semangat yang tinggi dari muridnya tersebut, maka sang guru pun
mengijinkannya untuk kembali belajar di madrasah tersebut.
Sejak saat itu, perubahan besar pun terjadi pada diri si santri
tersebut. Dia yang sebelumnya selalu tertinggal dari murid-murid lain di
kelasnya, kini menjadi yang tercerdas di antara murid-murid yang ada.
Pada akhirnya, sejarah mencatatnya sebagai salah satu ulama besar
yang pernah lahir ke muka bumi ini. Karya-karyanya pun memberi
kontribusi yang sangat besar dan masih bisa kita jumpai hingga saat ini.
Dialah al-Hafizh Ibn Hajar Al-‗Asqalani. Ulama besar yang hidup pada
akhir abad ke-8 Hijriah hingga pertengahan abad ke-9 Hijriah. Salah satu
karyanya yang sangat populer adalah Bulughul Maram min Adillati al-
Ahkam, yang menjadi rujukan di hampir seluruh pesantren di Indonesia,
dan mungkin juga di negara-negara Islam di dunia.
Kisah tetesan air yang terus menerus dan berlangsung lama
hingga mampu membuat lubang pada batu yang keras, bisa diibaratkan
dengan sikap istiqamah dalam melaksanakan suatu ibadah. Meski ibadah
yang kita lakukan terlihat sederhana, tetapi jika kita lakukan secara
rutin, terus menerus dalam jangka waktu yang lama hingga akhir hayat
kita, maka insya Allah akan ada dampak yang sangat besar pada diri
kita, baik ketika di dunia ini, lebih-lebih kelak ketika di akhirat.
Inilah gambaran makna dari ungkapan yang pertama, yaitu
sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
Adapun ungkapan kedua mengandung makna bahwa segala
sesuatu itu dimulai dari langkah pertama, dari yang kecil terlebih dahulu.
Jika kita ingin mengkhatamkan al-Qur‘an yang berjumlah 30 Juz, 114
surat, dan 6236 ayat itu, maka kita bisa memulai menghafal al-Fatihah
terlebih dahulu, kemudian berlanjut ke Juz ‗Amma, yang berisi surat-
surat pendek, kemudian baru dilanjutkan ke surat-surat berikutnya, yaitu
al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah dan seterusnya hingga
khatam.

126
Langkah pertama adalah kunci keberhasilan kita dalam
melaksanakan suatu pekerjaan. Semua karya-karya besar yang pernah
ada bisa terwujud karena dimulai dengan tindakan yang sederhana
terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah
selanjutnya secara konsisten dan serius.
Sikap sabar, tekun, sungguh-sungguh dan kontinu dalam
melakukan setiap aktivitas inilah yang biasa disebut dengan istilah
istiqamah.

Dengan Istiqamah Hidup Lebih Bermakna


Istiqamah, sebagaimana dijelaskan pada pembahasan di awal
adalah sikap konsisten seseorang dalam menjalankan aktivitas ibadah,
baik ibadah mahdlah, ibadah-ibadah utama, seperti shalat, puasa, zakat,
haji, dan yang lainnya, maupun ibadah ghairu mahdlah, ibadah-ibadah
tambahan, seperti bermu‘amalah, bekerja mencari nafkah, menolong
sesama dan yang lainnya.
Memelihara sikap istiqamah ini bukanlah perkara mudah. Harus
benar-benar didasari oleh kekuatan dari dalam diri kita, dilandasi oleh
ketulusan niat dan diperkuat oleh keyakinan bahwa apa yang kita
lakukan pasti dilihat oleh Yang Mahamelihat, dan akan terlihat di akhirat
kelak. Sekecil apa pun amal kita, baik atau buruk, pasti akan kita jumpai
hasil akhirnya di akhirat kelak.
Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh aktivitas positif atau
amal saleh yang dilakukannya. Semakin berkualitas amalnya, semakin
berkualitas hidupnya. Semakin berkualitas hidupnya, maka semakin
bermakna kehidupan yang dijalaninya.
Untuk dapat sampai pada kondisi tersebut, maka seseorang harus
meningkatkan kualitas amal disertai dengan kuantitas atau frekuensinya.
Pada titik inilah, istiqamah menjadi kata kunci yang sangat penting bagi
kehidupan seseorang. Dengan istiqamah, hidup akan lebih bermakna.

127
Sampai Ke Tujuan

128
Sukses Dunia-Akhirat

Hidup Terarah, Mudah, Berkah, Lepas dan Lebih Bermakna


Setelah melewati langkah demi langkah perjalanan panjang nan
melelahkan, kini tibalah kita di tujuan akhir perjalanan, yakni kesuksesan
hidup dunia-akhirat.
Inilah sesungguhnya tujuan hidup kita. Sebagaimana yang terus
menerus kita panjatkan dalam doa kita. Rabbana atina fi al-dunya
hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qina „adzaba al-nar. Ya Tuhan kami,
karuniakanlah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, dan
jauhkanlah kami dari siksa (api) neraka.
Rangkaian doa yang selalu kita panjatkan itu, yang sering disebut
juga dengan doa sapu jagat, adalah visi dan misi hidup kita. Ya, apa lagi
yang kita harapkan selain kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia ini
dan di akhirat nanti. Semua keinginan, harapan serta cita-cita kita sudah
terangkum dalam rangkaian doa yang sangat indah itu.
Untuk dapat meraih kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat,
tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Ada usaha, kerja keras,
perjuangan serta pengorbanan yang harus kita lakukan.
Dalam pandangan penulis, setidaknya ada lima langkah---
sebagaimana telah penulis uraikan di dalam buku ini--- yang harus kita
tempuh untuk dapat meraih tujuan hidup sukses-bahagia dunia-akhirat,
yaitu: memperkokoh pondasi iman, membekali diri dengan ilmu,
mewujudkan dengan amal, menghiasi amal dengan ikhlas dan
menyempurnakannya dengan istiqamah.
Sekedar merangkum apa yang sudah penulis uraikan dari awal
hingga akhir buku ini, untuk menarik benang merah dari kelima langkah
tersebut, penulis mencoba untuk menjelaskannya secara singkat.
Langkah pertama, memperkokoh pondasi iman. Ibarat sebuah
bangunan. Iman adalah pondasi. Pijakan awal sebelum melangkah pada
tahap-tahap selanjutnya. Jika pondasi kokoh dan kuat, maka bangunan

129
akan berdiri tegak, tahan terhadap goncangan yang mungkin akan
menerpanya. Sebaliknya, jika iman lemah, maka perjalanan kehidupan
selanjutnya akan sulit. Pondasi yang rapuh akan membuat bangunan di
atasnya mudah roboh. Iman juga ibarat kompas yang akan mengarahkan
tujuan hidup kita. Dengan mengikuti jalan iman, maka arah dan tujuan
hidup kita menjadi jelas. Dengan iman, hidup akan lebih terarah.
Langkah kedua, membekali diri dengan ilmu. Setelah iman kokoh,
langkah selanjutnya adalah menguatkan diri dengan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah cahaya yang akan menerangi jalan hidup
seseorang. Ilmu pengetahuan juga yang akan menjadikan segala urusan
kita menjadi lebih mudah. Sebuah ungkapan bijak disampaikan oleh
Imam Asy-Syafi‘i: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka
hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat
hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-
duanya (dunia-akhirat) hendaklah dengan ilmu”. Singkatnya, dengan
ilmu hidup menjadi mudah.
Langkah ketiga, mewujudkan dengan amal. Iman dan ilmu tanpa
amal tidak akan berdampak apa-apa bagi kehidupan ini. Iman tanpa
amal itu omong kosong. Dan ilmu tanpa amal laksana pohon tak
berbuah. Sejumlah ayat al-Qur‘an menyandingkan antara iman dan amal.
Bukti keimanan seseorang tercermin dalam amalnya. Iman baru
dikatakan sempurna jika disertai amal saleh. Pun demikian halnya
dengan ilmu. Ilmu disebut bermanfaat jika disertai dengan amal. Artinya,
mengamalkan ilmu yang dipahaminya dalam kehidupan sehari-hari, juga
mengamalkan dalam arti membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada
orang lain. Rasulullah Saw. menegaskan, “Siapa yang beramal dengan
ilmunya, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu yang belum diketahuinya.”
Amal adalah cara untuk menjadikan hidup kita lebih berkah.
Langkah keempat, menghiasi amal dengan ikhlas. Ikhlas adalah
kunci utama diterimanya amal seseorang. Betapa pun baik dan
banyaknya amal yang kita lakukan, akan menjadi sia-sia belaka jika tidak
disertai dengan ikhlas. Ikhlas, secara umum dimaknai dengan ketulusan
jiwa dan kepasrahan batin kepada Allah Swt. Setiap yang kita lakukan,

130
dengan dilandasi ikhlas karena Allah, maka akan mendatangkan sikap
tenang dan damai. Karena kita tidak berharap apa pun kepada selain
Allah. Ikhlas menjadikan seseorang bersikap lepas dalam menjalani hidup
ini.
Langkah kelima, menyempurnakan dengan istiqamah. Setelah kita
landasi diri dengan iman yang kokoh, ilmu yang kuat, amal yang hebat
disertai sikap ikhlas, maka yang terakhir harus kita jaga adalah sikap
istiqamah, yaitu terus-menerus secara konsisten berada di jalan yang
lurus, jalan yang diridlai Allah. Kita jadikan amaliyah kita bersifat
langgeng (mudawamah), tidak berhenti di tengah jalan. Dengan sikap
istiqamah dalam kebaikan (amal saleh) ini, maka hidup kita akan
menjadi bermakna.
Kelima langkah ini, jika dapat kita jalani dengan baik, insya Allah
hidup yang kita jalani akan terarah, mudah, berkah, lepas dan Lebih
bermakna. Singkatnya, kita akan meraih hidup sukses dan bahagia di
dunia dan akhirat.

131