Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMASETIKA DASAR

PERCOBAAN VIII (SYRUP) (RESEP NOMOR 8.1,8.2,8.3,8.4)

OLEH :

DEMITHA DARIUS (181148201021)

DOSEN PEMBIMBING :

HABEL ROY SULO, M.Si., Apt.

LABORATORIUM FARMASETIKA DASAR

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

STIKES DIRGAHAYU SAMARINDA

TAHUN AKADEMIK 2018/2019


LEMBAR PENGESAHAN

Judul Laporan : Percobaan VIII Syrup

Nama Mahasiswa : Demitha Darius

Kelas : 1A Farmasi

Telah disahkan dan disetujui pada :

Hari : Senin

Tanggal : 07 Januari 2019

Nama Mahasiswa Dosen Pembimbing

Demitha Darius Habel Roy Sulo, M.Si.,Apt

NIM: 181148201021
PERCOBAAN VIII SYRUP

I. Tinjauan pustaka
- Sediaan Sirup
Dalam Farmakope Indonesia edisi III, Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang
mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain,kadar sakarosa,C12H22O11,tidak kurang
dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%. Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula
atau perngganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat (Ansel,
1989).
Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar
tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa
dalam sirop adalah 64-66% , kecuali dinyatakan lain (Syamsuni, 2007). Sirop adalah
larutan pekat gula atau gula lain yang cocok yang di dalamnya ditambahkan obat atau
zat wewangi, merupakan larutan jerni berasa manis. Dapat ditambahkan gliserol,
sorbitol, atau polialkohol yang lain dalam jumlah sedikit, dengan maksud selain untuk
menghalangi pembentukan hablur sakarosa, juga dapat meningkatkn kelarutan obat
(Anonim, 1978).
Sirupi adalah sediaan cairan kental untuk pemakaian dalam yang minimal
mengandung 50% sukrosa. Penambahan bahan obat atau sari tumbuhan dapat
merupakan komponen lainnya dari sirupi.
Kandungan sakarosa dari sirup yang tercantum dalam Farmakope terletak antar 50
dan 65%, akan tetapi umumnya diantara 60 dan 65%.
Dalam larutan gula yang jenuh (kira – kira 66%) tidak memungkinkan pembentukan
jamur oleh karena dengan larutan berkonsentrasi tinggi, air yang diperlukan bagi
perkembngbiakan micro organisme akan dihisap melalui proses osmosis. Atas dasar
daya tahannya itulah, sediaan berkonsentrasi tinggi dinilai paling baik, meskipun harus
pula memperhatikan bahwa tingginya kandunagn gulan dari sirup dapat menyebabkan
berkurangnya kelarutan bahan oabt tertentu di dalamnya (Voight, 1995).

- Komponen Sirup
1. Zat aktif : zat aktif adalat zat utama / zat yang berkhasiat dalam sediaan sirup.

2. Pelarut : Pelarut adalah cairan yang dapat melarutkan zat aktif atau biasa disebut
sebagai zat pebawa. Contoh pelarut adalah air, gliserol, propilenglikol,etanol,eter,
dll.
3. Pemanis : pemanis merupakan zat tambahan dalam suatu sirup, pemanis
ditambahkan untuk memberikan rasa manis pada sirup. Karena sirup identik dengan
rasa manis. Contoh dari pemanis adalah sukrosa.
4. Zat penstabil : zat penstabil dimaksudkan untuk menjaga agar sirup dalam keadaan
stabil cuontoh dari zat penstabil adalah antioksidan, pendapar, pengkompleks, dll .
5. Pengawet : pengawet ditambahkan pada sediaan sirup bertujuan agar sirup tahan
lama dan bisa di pakai berulang- ulang. Penambahan pengawet biasanya pada
sediaan dengan dosis berulang.
6. Pewarna : pewarna adalah zat tambahan untuk sediaan sirup atau biasa disebut
corigen coloris. Pewarna ditambahkan jika diperlukan. Penambahan pewarna
biasanya agar sediaan menjadi lebih menarik dan tidak berwarna pucat. ewarna yang
digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam
syrup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan
keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan.
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisten dengan rasa. Ada beberapa alasan
mengapa syrup itu berwarna, yaitu : lebih menarik dalam faktor estetikanya dan
untuk menutupi kestabilan fisik obat.
7. Pengental : penambahan pengental kedalam sediaan sirup hanya jika diperlukan saja.
8. Pewangi : pewangi ditambahkan hanya jika diperlukan saja, bertujuan agar obat
berbau harum dan menutupi bau zat aktif yang kurang sedap. Contoh dari pewangi
adalah essen straw, oleum rosae, dll.
9. Perasa : penambahan perasa ini hanya jika diperlukan, ditambahkan jika sediaan
sirup yang akan di berikan pada pasien kurang enak atau terlalu pahit.
10. Pengisotonis : biasanya ditambahkan pada sediaan steril.

- Jenis Jenis Sirup

Ada 3 macam sirup yaitu:

1. Sirup  Simpex

Mengandung  65%  gula  dalam  air  nipagin  0,25%  b/v

2. Sirup  Obat

Mengandung  satu  atau  lebih  jenis  obat  dengan  atau  tanpa  zat  tambahan.
3. Sirup Pewangi

Mengandung  pewangi  atau  zat  pewangi  lain,  tidak  mengandung  obat.

Contoh : sir thyamin.

- Keuntungan Dan Kerugian Sirup

Keuntungan Sirup

 Sesuai untuk pasien yang susah menelan obat dengan sediaan padat. Contohnya : anak –
anak, lanjut usia, dan parkinson.
 Dapat menarik keinginan pasien untuk minum obat, karena rasanya yang enak dan
baunya yang sedap. Sehingga anak – anak tidak takut untuk minum obat.
 Sesuai untuk bahan obat yang bersifat higroskopis.
 Merupakan campuran yang homogen.
 Dosis dapat diubah ubah pembuatannya
 Mempunyai rasa manis
 Obat lebih mudah diabsopsi dalam tubuh

Kerugian sirup

 Tidak semua obat bentuk sediaan sirup ada di pasaran.


 Sediaan sirup jarang yang isinya zat tunggal, pada umumnya campuran atau kombinasi
beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya tidak di butuhkan oleh pasien
tersebut.
 Tidak bisa untuk sediaan yang sukar larut dalam air (biasanya di buat suspensi atau
eliksir) eliksir kurang di sukai oleh dokter anak karena mengandung alkohol, suspensi
stabilitasnya lebih rendah tergantung formulasi dan suspending agent yang di gunakan.
 Tidak bias untuk bahan obat yang berbentuk minyak (minyak/oil biasanya di bentuk
emulsi yang mana stabilitas emulsi juga lebih rendah.
 Tidak ssesuai untuk bahan obat yang tidak stabil.
 Harga relaatif mahal karena memerlukan khusus dan kemasan yang khusus pula.

- Cara Penyimpanan Sediaan Sirup


1. Sebaiknya di simpan di tempat sejuk.
2. Sebaiknya tidak terkena sinar matahari langsung.
3. Tutup rapat penutup pada botol sirup.
- Cara Pembuatan Sirup

Prosedur pembuatan :

1. Air sebagai pelarut atau pembawa harus dididihkan, kemudian didinginkan dalam
keadaan tertutup.
2. Penimbangan zataktif & bhnpembantu yg diperlkan
3. Pembuatan sirupus simpleks sebagai pengental & pemanis (sukrosa yg tlh ditimbang
dilarutkan dalam sebagian air, panaskan hingga larut, kemudian disaring)
4. Zat aktif dan bahan pembantu berbentuk serbuk dihaluskan dalam mortir.
5. Melarutkan zat aktif dengan cara penambahan zat aktif sedikit-sedikit ke dlm sejumlah
volme pelarut, sambil diaduk sampai larut sempurna.
6. Bahan pembantu dilarutkan dengan cara yang sama ke dalam sebagian pelarut yang
diperlukan, volue pelarut ditentukan berdasarkan kelarutan eksipien yang ditambahkan.
7. Campurkan bahan-bahan yang sudah larut satu per satu, dan aduk sampai homogen.
8. Penambahan flavour dalam keadaan terlarut dalam pelarut yang dapat bercampur dengan
pelarut yang digunakan.
9. Tambahkan sisa pelarut sampai volume sediaan yang dibuat.
10. Masukkan ke dalam botol coklat yang telah ditara sebelumnya, penambahan volume
larutan yang ditara di dalam botol disesuaikan dengan kekentalan larutan yang dibuat.
Botol sediaan diberi etiket, brosur, dikemas dan disimpan di tempat yang terlindung dari
cahaya.
II. Pembuatan sediaan
a) Resep 8.1

Keterangan resep

- R = Recipe (ambillah)
- m.f. syrup = Misce fac syrup
(campur dan buatlah syrup)
- s.t.dd.1.cth = signa ter de die
unum cochlear tea (tandai 3×
sehari 1 sendok teh)

b) Resep standar :

c) Skrining resep (administrasi, farmasetika)


Administrasi
- Inscriptio : Ada
- Nama dan alamat dokter : Ada
- SIP dokter : Ada
- Invocatio : Ada
- Praescriptio : Ada
- Ordinatio : Ada
- Signatura : Ada
- Subscriptio : Tidak ada
- Nama dan alamat pasien : Ada
- Umur pasien : Ada

Farmasetika

- Bentuk sediaan : Paracetamol (tablet)


Kekuatan sediaan : 500 mg
Stabilitas : Terhidrolisis pada ph minimal 5-7, stabil pada tempratur 45°C
(dalam bentuk serbuk). Dapat terdegradasi oleh quinominim dan
terbentuk warna pink, coklat dan hitam, relatif stabil terhadap
oksidasi, menyerap uap air dalam jumlah tidak signifikan pada suhu
25°C dan kelembaban tinggi dibandingkan menggunakan povidon.
Inkompatibilitas : Incompabilitas terhadap permukaan nyilon dan rayon
- Bentuk sediaan : Gliserol (cair)
Kekuatan sediaan :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :
- Bentuk sediaan : Propilenglikol (cair)
Kekuatan sediaan :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :
- Bentuk sediaan : Sorbitol sol (cair)
Kekuatan sediaan :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :
- Bentuk sediaan : Aethanolum (cair)
Kekuatan sediaan :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :
- Bentuk sediaan : Syrup Simplek (cair)
Kekuatan sediaan :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :

d) Permasalahan
Paraf dokter tidak ada
Usul meminta paraf pada dokter sebelum mengerjakan resep
e) Penggolongan obat

Nama obat Penggolongan Logo


Paracetamol Obat bebas
Gliserol Obat bebas
Propilenglikol Obat bebas
Sorbitol sol Obat bebas
Aethanolum Obat bebas
Syrup simplek Obat bebas

f) Uraian bahan
1. Paracetamol
- Nama latin : Acetaminophenum
Nama lain : Asetaminofen
Nama dagang : Paracetamol
- Pemerian : Hablur atau serbuk putih; tidak berbau; rasa pahit.
- Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13
bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.
- Identifikasi : A. Larutkan 100 mg dalam 10 ml air, tambahkan 0,05 ml larutan
besi (III) klorida P; terjadi warna biru violet.
B. Larutkan 200 mg dalam 4 ml piridina P, tambahkan 500 mg
paranitrobenzoilklorida P, didihkan selama 2 sampai 3 menit,
dinginkan, tuangkan dalam 40 ml air sambil diaduk. Cuci endapan
berturut-turut dengan 30 ml air, dengan 30 ml larutan natrium
karbonat P 1% b/v dan dengan 30 ml air; hablurkan kembali
dengan etanol (95%) P; suhu lebur hablur lebih kurang 210.
C. Larutkan 50 mg dalam 100 ml metanol P; pada 1 ml tambahkan 1
ml asam klorida 0,1N kemudian mentol P secukupnya hingga
100,0 ml. Serapan-2 cm larutan pada 249 nm lebih kurang 0,90.
D. Didihkan 100 mg dengan 1 ml asam klorida P selama 3 menit,
tambahkan 10 ml air, dinginkan; tidak berbentuk endapan.
Tambahkan 0,05 ml kalium bikromat 0,1 N; terjadi perlahan-
lahan warna violet yang tidak berubah menjadi merah
(perbedaan dari fenasetina).
- Indikasi/kegunaan : Analgetikum; antipiretikum
- DL : Sekali 500 mg, sehari 500 mg - 2 g
- Expired date : Januari 2020

2. Gliserol
- Nama latin : Glycerolum
Nama lain : Gliserol
Nama dagang : Gliserin
- Pemerian : Cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna; tidak berbau; manis
diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada
suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak
berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang
20 ̊ .
- Kelarutan : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P praktis tidak
larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.
- Identifikasi : A. Panaskan dengan kalium bisulfat P; terjadi uap merangsang.
B. Jika dibakar dengan sedikit natrium tetraborat P diatas nyala api,
terjadi nyala hijau.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

3. Propilenglikol
- Nama latin : Propylenglycolum
Nama lain : Propilenglikol
Nama Dagang : Propilenglikol
- Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau; rasa agak manis;
higroskopik.
- Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan
kloroform P; larut dalam 6 bagian eter P; tidak dapat campur dengan
eter minyaktanah P dan dengan minyak lemak.
- Identifikasi : A. Panaskan perlahan-lahan dengan kalium bisulfat P; terjadi uap
berbau enak. Lanjutkan pemanasan hingga kering; tidak terjadi bau
akrolein.
B. Refluks 500 mg dengan 3,6 g trifenilmetilklorida P dan 5 ml
piridina P di atas tangas air selama 1 jam, dinginkan, larutkan dalam
100 ml aseton P hangat. Tambahkan 100 mg arang jerap P, campur,
saring. Uapkan filtrat hingga lebih kurang 50 ml, biarkan selama 1
malam pada suhu lebih kurang 4 ̊. Saring, keringkan hablur dengan
aliran udara; suhu lebur hablur lebih kurang 176 ̊.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan, pelarut.
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

4. Sorbitol
- Nama latin : Sorbitolum
Nama lain : Sorbitol
Nama dagang : Sorbitol
- Pemerian : Serbuk, butiran atau kepingan; putih; rasa manis; higroskopik.
- Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P,
dalam metanol P dan dalam asam asetat P.
- Identifikasi : Pada larutan 5 g dalam 4 ml, tambahkan 7 ml metanol P, 1 ml
benzaldehida P dan 1 ml asam klorida P. Kocok dalam pengocok
mekanik hingga terbentuk hablur. Saring dengan pengisapan,
larutkan hablur dalam 20 ml air mendidih yang mengandung 1 g
natrium bikarbonat P, saring selagi panas, dinginkan filtrat. Saring
dengan pengisapan, cuci dengan 5 ml campuran metanol P dan air
volume sama, keringkan di udara; suhu lebur hablur antara 174 ̊ dan
179 ̊.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

5. Aethanolum
- Nama latin : Aethanolum
Nama lain : Etanol
Nama dagang : Alkohol
- Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak;
bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala
biru yang tidak berasap.
- Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
- Identifikasi : A. Campur 5 tetes dalam gelas kimia kecil dengan 1 ml larutan
kalium permanganat P dan 5 tetes asam sulfat encer P, tutup segera
dengan kertas saring yang dibasahi dengan larutan segar yang dibuat
dengan melarutkan 100 mg natrium nitroprusida P dan 500 mg
piperazina hidrat P dalam 5 ml air; terjadi warna biru intensif pada
kertas saring yang setelah beberapa menit menjadi lebih pucat.
B. Pada 5 ml larutan 0,5 % b/v, tambahkan1 ml natrium hidroksida
0,1 N, kemudian tambahkan perlahan-lahan 2 ml larutan iodum P;
tercium bau iodoform dan terbentuk endapan kuning.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

6. Syrup Simplek
- Nama latin : Sirupus Simplex
Nama lain : Sirop Gula
Nama dagang : Syrup Simplek
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna.
- Kelarutan :-
- Identifikasi :-
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

g) Perhitungan dosis
Perhitungan BJ larutan :
10 ml
BJ larutan : × 100% = 16,6 % ≈ 1,3 g/ml
60 ml
h) Penimbangan bahan
1. Paracetamol : 125 mg/cth ≈ 5 ml
2. Gliserol : 10 ml
3. Propilenglikol : 10 ml
4. Sorbitol Sol : 10 ml
5. Aethanolum : 5 ml
6. Syrup Simplek : 10 ml
7. Aqua : 60 ml – (5 ml + 10 ml + 10 ml + 10 ml + 5 ml + 10 ml)
= 60 ml – 50 ml
= 10 ml

i) Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbangan
3. Ditimbang paracetamol 125 mg masukan ke dalam botol tambahkan aethanolum 70% 10
ml lalu kocok ad larut
4. Diukur propilenglikol 10 ml masukan ke dalam botol kocok ad homogen
5. Diukur gliserol 10 ml masukan ke dalam botol kocok ad homogen
6. Diukur sorbitol sol 70% masuka ke dalam botol kocok ad homogen
7. Diukur syrup simplek 10 ml masukan ke dalam botol kocok ad homogen
8. Diukur aqua 10 ml masukan kebotol ad batas kaliberasi kocok ad homogen
9. Diberi etiket putih dan label KD
10. Diberikan kepada pasien beserta informasi obat (PIO)

j) Indikasi obat/khasiat resep obat


Analgetikum dan antipiretikum

k) Etiket obat

l) Pemberian Informasi Obat


Nama pasien dan umur pasien : Jons Papa (5 th)
Aturan pakai : 3 × sehari 1 sendok teh sesudah makan
Indikasi : Anti demam dan anti nyeri
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Pemakaian obat : Per oral

a) Resep 8.2
Keterangan resep

- R = Recipe (ambillah)
- m.f la syrup = misce fac lege
artis syrup (campur dan buatlah
sesuai aturan sirup)
- s.o.n.1.C = signa omni noctem
unam cochlear (tandailah 1 ×
sehari 1 sendok makan malam
hari)

b) Resep standar : -

c) Skrining resep (administrasi, farmasetika)


Administrasi
- Inscriptio : Ada
- Nama dan alamat dokter : Ada
- SIP dokter : Ada
- Invocatio : Ada
- Praescriptio : Ada
- Ordinatio : Ada
- Signatura : Ada
- Subscriptio : Tidak ada
- Nama dan alamat pasien : Ada
- Umur pasien : Tidak ada

Farmasetika
- Bentuk sediaan : Paracetamol (tablet)
Kekuatan sediaan : 500 mg
Stabilitas : Terhidrolisis pada ph minimal 5-7, stabil pada tempratur 45°C
(dalam bentuk serbuk). Dapat terdegradasi oleh quinominim dan
terbentuk warna pink, coklat dan hitam, relatif stabil terhadap
oksidasi, menyerap uap air dalam jumlah tidak signifikan pada suhu
25°C dan kelembaban tinggi dibandingkan menggunakan povidon.
Inkompatibilitas : Incompabilitas terhadap permukaan nyilon dan rayon.
- Bentuk sediaan : CTM (tablet/kapsul)
Kekuatan sediaan : 4 mg
Stabilitas : Mengalami peruraian pada suasana asam
Inkompatibilitas : -
- Bentuk sediaan : GG (tablet/sirup)
Kekuatan sediaan : 100 mg
Stabilitas : Cendrung menggumpal saat penyimpanan. Disimpan dalam wadah
tertutup rapat
Inkompatibilitas : -

d) Permasalahan
Paraf dokter tidak ada
Usul meminta paraf pada dokter sebelum mengerjakan resep

e) Penggolongan obat

Nama obat Penggolongan Logo


PCT Obat bebas
CTM Obat bebas terbatas
GG Obat bebas terbatas
Syrup simplex Obat bebas
aquadest Obat bebas

f) Uraian bahan
1. Paracetamol
- Nama latin : Acetaminophenum
Nama lain : Asetaminofen
Nama dagang : Paracetamol
- Pemerian : Hablur atau serbuk putih; tidak berbau; rasa pahit.
- Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13
bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.
- Identifikasi : A. Larutkan 100 mg dalam 10 ml air, tambahkan 0,05 ml larutan
besi (III) klorida P; terjadi warna biru violet.
B. Larutkan 200 mg dalam 4 ml piridina P, tambahkan 500 mg
paranitrobenzoilklorida P, didihkan selama 2 sampai 3 menit,
dinginkan, tuangkan dalam 40 ml air sambil diaduk. Cuci endapan
berturut-turut dengan 30 ml air, dengan 30 ml larutan natrium
karbonat P 1% b/v dan dengan 30 ml air; hablurkan kembali
dengan etanol (95%) P; suhu lebur hablur lebih kurang 210.
C. Larutkan 50 mg dalam 100 ml metanol P; pada 1 ml tambahkan 1
ml asam klorida 0,1N kemudian mentol P secukupnya hingga
100,0 ml. Serapan-2 cm larutan pada 249 nm lebih kurang 0,90.
D. Didihkan 100 mg dengan 1 ml asam klorida P selama 3 menit,
tambahkan 10 ml air, dinginkan; tidak berbentuk endapan.
Tambahkan 0,05 ml kalium bikromat 0,1 N; terjadi perlahan-
lahan warna violet yang tidak berubah menjadi merah
(perbedaan dari fenasetina).
- Indikasi/kegunaan : Analgetikum; antipiretikum
- DL : Sekali 500 mg, sehari 500 mg - 2 g
- Expired date : Januari 2020

2. CTM
- Nama latin : Chlorpheniramini maleas
Nama lain : Klorofeniramini maleat
Nama dagang : CTM
- Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.
- Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol (95%) P dan 10
bagian kloroform P; sukar larut dalam eter P.
- Identifikasi : A. Spektrum serapan ultraviolet larutan 0,002 % b/v dalam asam
sulfat 0,1 N setebal 2 cm pada daerah panjang gelombang antara 230
nm dan 350 nm menunjukkan maksimum hanya pada 265 nm;
serapan pada 265 nm lebih kurang 0,85.
B. Lakukan Kromatografi lapis tipis yang tertera pada
Kromatografi, menggunakan silikagel G/F-254 P sebagai zat jerap,
panaskan lempeng pada suhu 105° selama 30 menit. Sebagian fase
bergerak digunakan campuran 5 bagian volume etilasetat 3 bagian
volume metanol P dan 2 bagian volume asam asetat encer P.
Totalkan terpisah masing-masing 2 ul larutan dalam kloroform P
yang mengandung (1) 0,5 % b/v zat uji dan (2) 0,5 % b/v
klorfeniramina maleat PK. Angkat lempeng, biarkan kering di
udara, amati dengan lampu ultraviolet 254 nm. Dua bercak utama
yang diperoleh dengan larutan (1) sesuai dengan bercak yang
diperoleh dengan larutan (2). Semprot lempeng dengan larutan
kalium iodobismutat encer P. Bercak utama yang diperoleh dari
larutan (1) sesuai dengan bercak yang diperoleh dari larutan (2).
C. Larutan 500 mg dalam 5 ml air, tambahkan 2 ml amonia P. Sari 3
kali, tiap kali dengan 5 ml kloroform P. Uapkan lapisan air hingga
kering, tambahkan 0,2 ml asam sulfat encer P dan 5 ml air. Sari 4
kali dengan 25 ml eter P. Uapkan kumpulan sari eter dengan
mengalirkan udara panas; suhu lebur sisa lebih kurang 130°.
- Indikasi/kegunaan : Antihistaminikum
- DM : Sehari 40 mg
- Expired date : Januari 2020

3. GG
- Nama latin : Glycerylis Guaiacolas
Nama lain : Gliseril Guaiakolat
Nama dagang : GG
Pemerian : Serbuk hablur; putih hingga agak keabuan; hampir tidak berbau atau
berbau lemah; rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam air, dalam etanol (95 %) P. Dalam kloroform P,
dalam gliserol P dan dalam propilenglikol P.
Identifikasi : Pada 5 mg tambahkan 1 tetes formaldehida P dan beberapa tetes
asam sulfat P, campur; terjadi warna merah kersen tua sampe ungu.
- Indikasi/kegunaan : Ekspektoran
- DL : Sekali 100 mg - 200 mg
- Expired date : Januari 2020

4. Syrup Simplek
- Nama latin : Sirupus Simplex
Nama lain : Sirop Gula
Nama dagang : Syrup Simplek
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna.
- Kelarutan :-
- Identifikasi :-
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

g) Perhitungan dosis
Perhitungan BJ larutan
10 g
BJ larutan : × 100% = 10%
100 g
Jika BJ kurang dari 16,67% = 1 g/ml
CTM
DM : 1 × P = -
1H = 40 mg
DT : 1 × P = 1 mg
1H = 1 × 1 mg = 1 mg
% dosis: 1 × P = -
1 mg
1H = × 100% = 2,5% (TOD)
40 mg

h) Penimbangan bahan
1. Paracetamol : 125 mg
2. GG : 25 mg
3. CTM : 1 mg
4. Syrup Simplek : 10 ml
5. Aquadest : 100 – (0,125 g + 0,025 g + 0,001 g)
= 100 – 0,151 g
= 99,849 g
i) Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbangan
3. Ditimbang PCT 125 mg dimasukkan ke botol
4. Diukur aquadest 99,849 g dimasukan sebagian kedalam botol kocok ad larut
5. Ditimbang GG 25 mg masukan ke dalam botol kocok ad homogen
6. Ditimbang CTM 1 mg masukan ke botol kocok ad homogen
7. Diukur syrup simplek dimasukan kedalam botol kocok ad homogen
8. Ditambahkan sisa aquadest ke botol kocok ad homogen
9. Diberi etiket putih dan label KD
10. Diberikan kepada pasien beserta informasi obat (PIO)

j) Indikasi obat/khasiat resep obat


Antipiretik, analgetik, batuk dan antiimflasmasi

k) Etiket obat

l) Pemberian Informasi Obat


Nama pasien dan umur pasien : Hj. Rippa
Aturan pakai : 1 × sehari 1 sendok makan malam hari
Indikasi : Anti demam, nyeri, batuk, alergi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Pemakaian obat : Per oral

a) Resep 8.3

Keterangan resep
- R = Recipe (ambillah)
- m.f syrup = misce fac syrup
(campur dan buatlah syrup)
- st dd cth 1 = signa ter de die
cochlear tea unam (tandai 3 ×
sehari 1 sendok teh)

b) Resep standar :
OBH (FMS hal 23)
- Succ Liquir 10
- Ammon Shlorid 6
- S.a.s.a 6
- Aq. dest ad 300
s. 4-5 d.d.c

c) Skrining resep (administrasi, farmasetika)


Administrasi
- Inscriptio : Ada
- Nama dan alamat dokter : Ada
- SIP dokter : Ada
- Invocatio : Ada
- Praescriptio : Ada
- Ordinatio : Ada
- Signatura : Ada
- Subscriptio : Tidak ada
- Nama dan alamat pasien : Ada
- Umur pasien : Ada
Farmasetika

- Bentuk sediaan : Succ Liq (serbuk)


Kekuatan sediaan : -
Stabilitas :-
Inkompatibilitas : -
- Bentuk sediaan : Ammon Shlorid (serbuk)
Kekuatan sediaan : -
Stabilitas :-
Inkompatibilitas : -

d) Permasalahan
Paraf dokter tidak ada
Usul meminta paraf pada dokter sebelum mengerjakan resep

e) Penggolongan obat

Nama obat Penggolongan Logo


Succus Liquiritae Obat Bebas
Amonium Chlorida Obat Bebas
S.A.S.A Obat Bebas
Aquadest Obat Bebas

f) Uraian bahan
1. Succus Liquiritae
- Nama latin : Glycyrrhizae Succus
Nama lain : Ekstrak Akarmanis
Nama dagang : Succus Liquiritae
- Pemerian : Batang terbentuk silinder atau bongkah besar, lian, agak mengkilap
hitam coklat tua, atau serbuk berwarna coklat; bau lemah khas, rasa
manis, khas.
- Kelarutan :-
- Identifikasi : A . Larutkan 1 bagian dalam 10 bagian air, tambahkan asam sulfat
encer P; terbentuk endapan yang dengan penambahan amonia encer
P berlebihan larut.
B. Larutkan 1 bagian dalam 10 bagian air, tambahkan larutan
kalsium klorida P; terbentuk endapan.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

2. Ammon Shlorid
- Nama latin : Ammonii Chloridum
Nama lain : Amonium Klorida
Nama dagang : Ammon Shlorid
- Pemerian : Serbuk butir atau hablur;putih , tidak berbau ; rasa asin dan dingin ;
higroskopik.
- Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserol P ;lebih mudah larut
dalam air mendidih ; agak sukar larut dalam etanol ( 95%) P.
- Identifikasi : Menunjukkan reaksi Amonium dan Klorida yang tertera pada reaksi
identifikasi.
- Indikasi/kegunaan : Ekspektoran
- DM : Sehari 8 g
- Expired date : Januari 2020

3. S.a.s.a
- Nama latin : Solutio Ammonae Spirituola Anista
Nama lain : Spiritus Ammoniae Anista
Nama dagang : S.a.s.a
- Pemerian : Zat cair,mula-mula tak berwarna kelamaan menjadi kuning muda,
bau kuat.
- Kelarutan :-
- Identifikasi :-
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

4. Aquades
- Nama latin : Aqua Destilata
Nama lain : Air Suling
Nama dagang : Aquades
- Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
- Kelarutan :-
- Identifikasi :-
- Indikasi/kegunaan : -
- DM :-
Expired date :-

g) Perhitungan dosis

Perhitungan Bj larutan
6g g
Bj larutan = ×100 %=10 % <16,67 %=1
60 g ml
Amonium klorida
= 1 ×=−¿
= 1H = 10 g
DM = 1 ×=−¿
5
1H = ×10 g=2,94 g
5+12
g
1,2 g ×5 ml × 1
DT : 1 ml
×=
60 ml
= 0,1 g 100 mg
1,2 g ×5 ml × 1 g /ml
1H = 3 ×=
60 ml
= 0,3 g 300 mg
% Dosis 1×=−¿
300 mg
1H ¿ ×100 %=10,20 % TOD
2,94 mg

h) Penimbangan bahan
10 g
1. Succus Liq = ×60 g=2 g
300 g
6g
2. Amonium Chlorida ¿ ×60 g=1,2 g
300 g

6g
3. S.a.s.a ¿ ×60 g=1,2 g
300 g

4. Aquadest Ad = 300 g – ( 2 g + 1,2 g + 1,2 g )


= 300 g – 4,4 g
= 295.6 g

i) Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbangan dan dikalibrasi botol
3. Ditimbang succus liq sebanyak 2 g , dimasukkan ke dalam mortir di tambahkan air
panas sama banyak (2 ml) di gerus sambil di tambah dengan air sampai larut, masukkan
ke dalam botol (metode gerus , tuang )
4. Ditimbang Amonium sebanyak 1,2 g , dimasukkan kedalam mortir ditambah , aquadest
5 ml digerus sampai larut , masukkan kedalam botol dikocok sampai homogen
5. Ditimbang S.a.s.a sebanyak 1,2 g menggunakan kaca arloji , dimasukkan ke dalam
mortir di gerus sampai larut,masukkan ke dalam botol di kocok sampai homogen
6. Dimasukkan sisa aquadest kedalam botol sampai batas kalibrasi di kocok sampai
homogen
7. Diberi etiket putih dan label kd
8. Diserahkan kepada pasien beserta PIO

j) Indikasi obat/khasiat resep obat


Ekspektoran

k) Etiket obat

l) Pemberian Informasi Obat


Nama pasien dan umur pasien : Bintang (5 th)
Aturan pakai : 3 × sehari 1 sendok teh
Indikasi : Ekspektoran
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Pemakaian obat : Per oral

a) Resep 8.4

Keterangan resep
- R = Recipe (ambillah)
- S.t.d.d.cth 1 = signa ter de die
cochleas tea unam (tandai 3 ×
sehari 1 sendok teh)

b) Resep standar : -

c) Skrining resep (administrasi, farmasetika)


Administrasi
- Inscriptio : Ada
- Nama dan alamat dokter : Ada
- SIP dokter : Ada
- Invocatio : Ada
- Praescriptio : Ada
- Ordinatio : Ada
- Signatura : Ada
- Subscriptio : Tidak ada
- Nama dan alamat pasien : Ada
- Umur pasien : Ada

Farmasetika

- Bentuk sediaan : Papaverin HCl (serbuk)


Kekuatan sediaan : -
Stabilitas : Toksisitas dan papaverin HCl memiliki efek spasmolitk pada otot
polos
Inkompatibilitas : -
- Bentuk sediaan : Sir Thymi (cair)
Kekuatan sediaan : -
Stabilitas :-
Inkompatibilitas : -

d) Permasalahan
Paraf dokter tidak ada
Usul meminta paraf pada dokter sebelum mengerjakan resep

e) Penggolongan obat

Nama obat Penggolongan Logo


Cotrimoksazol Obat Keras

Papaverin HCl Obat Keras

PGS Obat Bebas


Sir. Thymi Obat Bebas
Aquadest Obat Bebas

f) Uraian bahan
1. Papaverin HCl
- Nama latin : Papaverini Hydrohloridum
Nama lain : Papaverina Hidroklorida
Nama dagang : Papaverin HCl
- Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit, kemudian
pedas..
- Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 0 bagian air dan dalam lebih kurang 120
bagian etanol (95%) P, larut dalam kloroform P, praktis tidak larut dalam eter P.
- Identifikasi : A. Larutkan 10 mg dalam 10 ml asam sulfat P, panaskan hinga suhu
160° terjadi warna violet
B. Menunjukkan reaksi klorida yang tertera pada reaksi identifikasi
C. Larutkan lebih kurang 20 mg dalam 9 m air yang telah ditambah
amonia encer P, biarkan terbentuk endapan, saring cuci endapan
dengan air, suhu lebur endapan lebih kurang 146°.
- Indikasi/kegunaan : Spasmolitikum
- DM : Sekali 200 mg, sehari 600 mg
- Expired date : Januari 2020

2. Sir Thymi
- Nama latin : Thymi Herba
Nama lain : Herba Timi
Nama dagang : Sir Thymi
- Pemerian : Bau aromatik; rasa pedas
- Kelarutan :-
- Identifikasi : Panaskan hati-hati sejumlah serbuk; terjadi sublimasi yang dengan
larutan fosfomolibdat asam sulfat P berwarna biru dan dengan
larutan diazobenzensulfonat basa P berwarna jingga.
- Indikasi/kegunaan : Ekspektoran
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

3. Cotrimoksazol
- Nama latin : Trimoxazoli Compressi
Nama lain : Tablet trimoksazol
Nama Dagang : Cotrimoksazol
- Pemerian :-
- Kelarutan :-
- Identifikasi : Lakukan Kromatografi lapis tipis yang tertera pada Kromatografi,
menggunakan silikagel-GP sebagai zat jerap dan campur 19 bagian
volume kloroform P dan 1 bagian volume metanol-GP sebagai fase
bergerak. Totalkan terpisah masing-masing 5 ul larutan (1) yang
diperoleh dengan mengocok sejumlah serbuk tablet setara dengan
400 mg sulfametoksazol dengan 20 ml metanol P kemudian disaring
(2) sulfametoksazol PK 2 % b/v dalam metanol P; (3) trimetoprim
PK 0,4 % b/v dalam metanol P. Angkat lempeng, keringkan di
udara, semprot dengan larutan kalium tetraiodobismutat (II) encer P.
Salah satu bercak utama yang diperoleh dari larutan (1) sesuai
dengan bercak yang diperoleh dari larutan (2) dan bercak utama
lainnya sesuai dengan bercak yang diperoleh dari laritan (3).
- Indikasi/kegunaan : -
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

4. PGS
- Nama latin : Pulvis Gumosis Semen Gestelp Gompoeder
Nama lain : Serbuk Gom Majemuk
Nama Dagang : PGS
- Pemerian : Serbuk putih tidak berwarna
- Kelarutan :-
- Identifikasi : A. Menunjukkan reaksi Glukosa yang tertera pada reaksi
identifikasi.
B. Jika larutan diuapkan hingga tinggal separo, menunjukkan reaksi
natrium dan sitrat yang tertera pada reaksi identifikasi.
- Indikasi/kegunaan : Zat tambahan
- DM :-
- Expired date : Januari 2020

g) Perhitungan dosis
10
DM 1X = x 200 mg=100 mg
20
10
1H = x 600 mg=300 mg
20

15 Ml
DT 1X = x 10 mg=1,5 mg
100 Ml
15 Ml
1H = 3 × x 10 mg=4,5 mg
100 Ml

1,5mg
% Dosis 1X ¿ × 100 %=1,5 % ( TOD )
100mg
4,5 mg
% Dosis 1H ¿ ×100 %=1,5 % ( TOD )
300 mg
h) Penimbangan bahan
1. Cotrimoksazol = 5 tab
2. Papaverin HCl = 5 tab
2
3. PGS = ×100 mg=2mg
100
Air untuk PGS = 7 ×7 ml=14 ml
4. Sir. Thymi = 10 ml
5. Aquadest ad = 100 – (2,4 g + 0,05 g + 0,002 g + 14 ml +10 ml)
= 100 – 26,452
= 73,548 ml

i) Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbangan
3. Ditimbang PGS sebanyak 2 mg dimasukkan kedalam mortir ditambahkan 14 ml
aquadest kemudian digerus sampai terbentuk mucilago, masukkan kedalam botol
4. Diambil Cotrimoksazol 5 tab dimasukkan dalam mortir gerus ada halus
5. Diambil papaverin HCl sebanyak 5 tab dimasukkan kedalam mortir digerus sampai
homogen.
6. Dimasukkan campuran bahan kedalam botol ditambahkan sebagian aquadest kemudian
dikocok.
7. Diukur Sir thymi 10 ml masukkan ke dalam botol kemudian dikocok.
8. Dimasukkan sisa aquadest kedalam botol sampai batas kalibrasi kemudian dikocok .
9. Diberi etiket putih dan label KD
10. Diberikan kepada pasien beserta informasi obat (PIO)

j) Indikasi obat/khasiat resep obat


Antibiotik dan spasmolitikum

k) Etiket obat
l) Pemberian Informasi Obat
Nama pasien dan umur pasien : Melani (10 th)
Aturan pakai : 3 × sehari 1 sendok teh habiskan
Indikasi : Antibiotik
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Pemakaian obat : Per oral

III. Pembahasan

Resep 8.1
Dalam resep 8.1, yaitu membuat sediaan berupa sirup. Bahan yang digunakan dalam resep
ini ialah Paracetamol, Gliserol, Propilenglikol, Sorbitol Sol 70%, Aethanolum, Syr.Simplek, dan
Aqua.

Bahan-bahan aktif pada resep ini yaitu Paracetamol. Paracetamol memiliki fungsi sebagai
analgetikum dan antipiretikum atau anti demam dan nyeri. Bahan tambahan yaitu Gliserol,
Propilenglikol, Sorbitol Sol 70%, Aethanolum, Syr.Simplek, dan Aqua.

Cara pengerjaan resep terlebih dahulu siapkan alat dan bahan lalu disetarakan timbangan
lalu timbang PTC dimasukan kedalam botol tambah aethanolum kocok ad larut kemudian diukur
propilenglikol masukan ke botol kocok ad homogen diukur gliserol masukan ke botol kocok ad
homogen lalu diukur sorbitol sol 70% masukan ke botol kocok ad homogen lalu diukur syr.simplek
masukan ke botol kocok ad homogen terakhir diukur aqua dimasukan ke botol ad batas kaliberasi
kocok ad homogen. Diberi etiket putih dan label KD lalu diberi kepada pasien beserta informasi
obat (PIO).

Resep 8.2

Dalam resep 8.2, yaitu membuat sediaan berupa sirup. Bahan yang digunakan dalam resep
ini ialah Paracetamol, GG, CTM, Syr.Simplek, dan Aqua.

Bahan-bahan aktif pada resep ini yaitu Paracetamol, GG, dan CTM. Paracetamol memiliki
fungsi sebagai analgetikum dan antipiretikum atau anti demam dan nyeri. GG memiliki fungsi
sebagai ekspektoran atau untuk batuk. CTM memiliki fungsi sebagai antihistaminikum atau anti
alergi. Bahan tambahan yaitu Syr.Simplek dan Aqua.

Cara pengerjaan resep terlebih dahulu siapkan alat dan bahan lalu disetarakan timbangan
lalu timbang PTC dimasukan kedalam botol lalu diukur aquadest dimasukan ke botol sebagian
kocok ad larut kemudian ditimbang GG masukan kebotol kocok ad homogen selanjutnya ditimbang
CTM masukan ke botol kocok ad homogen lalu diukur syr.simplek masukan ke botol kocok ad
homogen terakhir tambahkan sisa aquadesr ke botol ad batas kaliberasi lalu kocok ad homogen.
Diberi etiket putih dan label KD lalu diberi kepada pasien beserta informasi obat (PIO).

Resep 8.3
Dalam resep 8.3, yaitu membuat sediaan berupa sirup. Bahan yang digunakan dalam resep
ini ialah Succ Liq, Ammon Shlorid, S.a.s.a, dan Aquadest.

Bahan-bahan aktif pada resep ini yaitu Ammon Shlorid. Ammon Shlorid memiliki fungsi
sebagai ekspektoran atau untuk batuk berdahak. Bahan tambahan yaitu Succ Liq, S.a.s.a dan
Aquadest.

Cara pengerjaan resep terlebih dahulu siapkan alat dan bahan lalu disetarakan timbangan
lalu timbang Succ liq dimasukan kedalam mortir tambahkan air panas sama banyak (2 ml) digerus,
sambil ditambahkan air sampai larut lalu masukan ke botol lalu ditimbang Ammon shlorid masukan
ke mortir tambahkan aquadest gerus ad larut lalu masukan kebotol kocok ad homogen kemudian
timbang S.a.s.a menggunakan kaca arloji masukan ke mortir gerus ad larut lalu masukan botol
kocok ad homogen selanjutnya masukan sisa aquadest ke botol ad batas kaliberasi kocok ad
homogen. Diberi etiket putih dan label KD lalu diberi kepada pasien beserta informasi obat (PIO).

Resep 8.4

Dalam resep 8.4, yaitu membuat sediaan berupa sirup. Bahan yang digunakan dalam resep
ini ialah Cotrimoksazol, Papaverin HCl, PGS, Sir Thymi dan Aquadest.

Bahan-bahan aktif pada resep ini yaitu Cotrimoksazol dan Papaverin HCl. Cotrimoksazol
memiliki fungsi sebagai antibiotik. Papaverin HCl memiliki fungsi sebagai spasmolitikum. Bahan
tambahan yaitu PGS, Sir Thymi dan Aquadest.

Cara pengerjaan resep terlebih dahulu siapkan alat dan bahan lalu disetarakan timbangan
lalu timbang PGS dimasukan kedalam mortir tambahkan aquadest digerus ad membentuk mucilago,
masukan ke botol lalu diambil cotrimoksazol masukan mortir gerus ad halus lalu diambil papaverin
HCl masukan mortir gerus ad homogen kemudian masukan campuran bahan dalam mortir ke botol
tambahkan sebagian aquadest lalu kocok selanjutnya masukan sir thymi kebotol lalu kocok terakhir
masukan sisa aquadest kebotol ad batas kaliberasi lalu kocok. Diberi etiket putih dan label KD lalu
diberi kepada pasien beserta informasi obat (PIO).
IV. Simpulan
1. Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan
lain,kadar sakarosa,C12H22O11,tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%.
2. Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau perngganti gula dengan atau tanpa
penambahan bahan pewangi dan zat obat (Ansel, 1989).
3. Resep 8.1 mempunyai komposisi bahan yaitu Paracetamol, Gliserol, Propilenglikol,
Sorbitol Sol 70%, Aethanolum, Syr Simplek, dan Aqua. Dan memiliki indikasi sebagai
obat analgetikum dan antipiretikum atau anti demam dan nyeri.
4. Resep 8.2 mempunyai komposisi bahan yaitu Paracetamol, GG, CTM, Syr Simplek dan
Aquadest. Dan memiliki indikasi sebagai obat anti demam, nyeri, batuk dan alergi.
5. Resep 8.3 mempunyai komposisi bahan yaitu Succ Liq, Ammon Shlorid, S.a.s.a dan
Aquadest. Dan memiliki indikasi sebagai obat batuk berdahak.
6. Resep 8.4 mempunyai komposisi bahan yaitu Cotrimoksazol, Papaverin HCl, PGS, Sir
Thymi dan Aquadest. Dan memiliki indikasi sebagai obat antibiotik dan spasmolitikum.
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta:Anggota IKAPI Universitas Gadja Mada.

Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, DepKes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi
III. Jakarta:DepKes R.

Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, DepKes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi
IV.Jakarta:Depkes RI.

Anief, M. 2004.Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek.Yogyakarta:UGM Press.