Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

Ika Sri Wariyastuti/ 1806269972

A. Anatomi dan Fisiologi Ginjal


a. Anatomi Ginjal

Ginjal merupakan sepasang struktur berwarna merah kecoklatan dan berbentuk


kacang yang seukuran kepalan tangan. Ginjal terletak di bawah tulang rusuk
palsu, diruang retroperitoneal (di belakang peritoneum di luar rongga
peritoneal) pada dinding posterior abdomen dari vertebra toraks ke-12 sampai
ke vertebra lumbal ke-3 pada orang dewasa (Smeltzer & Bare, 2012; White et
al.,2013). Ginjal orang dewasa beratnya 120 gr hingga 170 g, panjang 12 cm
(sekitar 4,5 inci), lebar 6 cm, dan tebal 2,5 cm. Ginjal dilindungi dengan baik
oleh tulang rusuk, otot, fasia Gerota, lemak perirenal, dan kapsul ginjal yang
mengelilingi setiap ginjal.

Ginjal terdiri dari dua bagian yaitu parenkim ginjal dan pelvis ginjal. Parenkim
ginjal dibagi menjadi korteks dan medula. Korteks berisi glomeruli, tubulus
proksimal dan distal, duktus pengumpul kortikal dan kapiler peritubular.
Medula menyerupai piramida berbentuk kerucut. Piramida terletak dengan alas
menghadap ke permukaan cekung ginjal dan puncak menghadap ke hilus, atau
pelvis. Setiap ginjal berisi sekitar 8-18 piramida. Piramid akan mengalirkan ke
4-13 minor kalik yang selanjutnya akan menuju 2-3 kalik mayor yang terbuka
langsung ke pelvis (Smeltzer & Bare, 2012).

Pelvis ginjal berbentuk seperti corong yang berfungsi sebagai saluran yang
menghubungkan ginjal dengan ureter. Pelvis merupakan tempat masuk arteri
renalis dan keluarnya vena renalis. Arteri renalis membelah menjadi pembuluh
darah yang lebih kecil yaitu arteriol aferen yang akan membentuk glomerulus
yang bertanggungjawab pada filtrasi glomerulus. Darah meninggalkan
glomerulus melalui arteriol eferen dan mengalir kembali ke vena cafa inferior
melaui kapiler dan venul (Smeltzer & Bare, 2012)
Setiap ginjal terdiri dari 1 juta nefron, unit fungsional ginjal. Setiap ginjal
mampu memberikan fungsi ginjal yang cukup apabila salah satu ginjal
mengalami kerusakan. Nefron terdiri dari glomerulus mengandung arteriol
aferen dan eferen, kapsul Bowman, tubulus proksimal, lengkung Henle,
tubulus distal, dan duktus pengumpul. Nefron secara struktural dibagi menjadi
dua jenis: kortikal dan juxtamedullary. Kortikal nefron terletak di kortek ginjal
dan kortek juxtamedullari berdekatan dengan medula (Smeltzer & Bare, 2012).
Glomerulus terdiri dari tiga lapisan penyaringan: endotel kapiler, membran
basal, dan epitel. Membran glomerulus secara normal memfiltrasi cairan dan
molekul kecil namun membatasi lewatnya molekul yang lebih besar, seperti sel
darah dan albumin. Fungsi ginjal mulai menurun sekitar 1% setiap tahun
dimulai sekitar usia 30 (Smeltzer & Bare, 2012).
b. Fisiologi Ginjal
Ginjal berfungsi memproduksi urin yang normalnya terdiri dari 95% air dan 5%
produk limbah nitrogen yang terdiri dari urea, asam urat, kreatinin, elektrolit yang
berlebih, pospat, hormon, racun dan pigmen empedu. Ginjal berfungsi untuk
membuang produk sampah, membuang sisa metabolisme obat, keseimbangan
cairan dan elektrolit, memproduksi hormon untuk mengatur tekanan darah,
memproduksi bentuk aktif vitamin D dan membantu produksi sel darah merah
(White e al., 2013).
Proses pembentukan urin
Tiga proses pembentukan urin adalah filtrasi glumerulus, reabsorbsi tubulus dan
sekresi tubulus.
1. Filtrasi glumerulus
Proses ini dimulai ketika arteriol aferen melewati glomerulus dan difiltrasi
dalam kapsula Bowman. Normalnya jumlah darah yang masuk ke ginjal sekitar
1200 ml/mnt. Pada proses ini normalnya 20% darah akan tersaring, sisanya
80% akan keluar melalui arteriol eferen. Rata-rata sekitar 125 ml cairan akan
terfiltrasi di glomerulus setiap menit. Jumlah tersebut sama dengan 180
liter/hari. Filtrat terdiri dari air, elektrolit dan molekul kecil, dimana molekul
yang lebih besar tetap berada dalam aliran darah. Filtrasi yang efisien
bergantung pada aliran darah cukup yang mempertahankan tekanan yang
konsisten melalui glomerulus. Banyak faktor yang dapat mempegaruhi aliran
dan tekanan darah diantaranya hipotensi, penurunan tekanan onkotik dalam
darah, dan peningkatan tekanan di tubulus ginjal akibat obstruksi (Sherwood,
2012; Smeltzer & Bare, 2012).
2. Reabsorbsi tubulus
Sewaktu filtrat (hasil filtrasi) melewati tubulus proximal, bahan-bahan yang
bermanfaat bagi tubuh dikembalikan ke plasma kapiler peritubulus secara
selektif permiable. Dari sekitar 180 liter/hari yang disaring, sekitar 178,5 liter
akan direabsorbsi. Sisa 1,5 liter akan dialirkan ke pevis ginjal sebagai urin
(Sherwood, 2012).
3. Sekresi tubulus
Sekresi tubulus merupakan pemindahan bahan-bahan dari kapiler peritubulus
kedalam lumen tubulus. Proses ini merupakan rute kedua masuknya bahan dari
tubulus ginjal dari darah. Sekresi tubulus merupakan mekanisme untuk
mengeluarkan bahan dari plasma secara cepat dengan mengekstraksi sejumlah
tertentu dari 80% plasma yang tidak terfiltrasi dikapiler peritubulus. Filtrat
terkonsentrasi di tubulus distal dan duktus pengumpul di bawah pengaruh
hormon antidiuretik (ADH) dan menjadi urin, yang kemudian masuk ke pelvis
ginjal (Sherwood, 2012; Smeltzer & Bare, 2012).

B. Definisi CKD
CKD adalah gangguan fungi ginjal yang irreversible dan progresif, dimana terjadi
kegagalan mempertahankan keseimbangan metabolisme, cairan dan elektrolit
sehingga mengakibatkan uremia atau azotemia (retensi urea dan sampah nitrogen
dalam darah (Smeltzer & Bare, 2012). Menurut The National Kidney Foundation,
CKD merupakan kerusakan ginjal dengan laju filtrasi glumerulus kurang dari 60
ml/menit/1,73 dalam 3 bulan (Lewis,2014).

Etiologi dari CKD dapat disebabkan oleh penyakit sistemik, seperti diabetes
mellitus, hipertensi, glomerulonefritis kronis, pielonefritis, obstruksi saluran kemih,
lesi herediter, seperti pada penyakit ginjal polikistik; gangguan pembuluh darah;
infeksi; obat-obatan; atau agen beracun (Smeltzer & Bare, 2012).
C. Tanda Gejala CKD

Menurut Smelzer & Bare (2012), tanda dan gejala terdiri dari:
- Sistem kardiovaskular: hipertensi, edema paru, gagal jantung, dan perikarditis.
- Sistem Integumen: Pruritus (paling umum), warna kulit abu-abu seperti
perunggu, kulit kering dan licin, ekimosis, purpura, kuku tipisa dan rapuh.
- Sistem Pencernaan : anorexia, mual, muntah, dan cegukan.
- Sistem neurologis : gangguan tingkat kesadaran, sulit konsentrasi, kejang dan
otot berkedut (twiching).
- Sistem pernafasan: dahak kental; refleks batuk yang tertekan; nyeri pleuritik;
sesak napas; takipnea; Respirasi tipe Kussmaul; pneumonitis uremik; "Uremik
paru-paru".
- Hematologi: Anemia; trombositopenia
- Reproduksi: Amenore; atrofi testis; infertilitas; penurunan libido
- Musculoskeletal: Muscle cramps; kehilangan kekuatan otot; osteodistrofi ginjal;
sakit tulang; patah tulang.
Kategori CKD menurut National Kidney Foundation adalah ( Dongoes, 2014)
1. Stage 1 : Kerusakan ginjal ditandai dengan albuminuria GFR masih normal
(>90 ml/mnt/1,73 m2). Disfungsi ginjal muncul: namun, mungkin tidak
terdiagnosis karena kurangnya gejala.
2. Stage 2 : Kerusakan ginjal dengan GFR 60-80 ml/mnt/1,73 m2, sedikit
peningkatan ureum/creatinin dan bisa tidak bergejala,
3. Stage 3 : Kerusakan ginjal dengan GFR 30-59 ml/mnt/1,73 m2, terjadi
gangguan cairan dan elektrolit.
4. Stage 4: Penurunan GFR yang parah (15 hingga 29 mL / mnt / 1,73 m2) dan /
atau albuminuria yang sangat tinggi (> 300 mg / 24 jam). Rujukan yang tepat
untuk ke nepgrologis untuk tindakan dialisis.
5. Stage 5 : GRF <15 mL / mnt / 1,73 m2, atau dengan dialisis. Klien memiliki
asidosis metabolik, komplikasi kardiovaskular seperti perikarditis, ensefalopati,
neuropati, dan banyak manifestasi lainnya yang menunjukkan penyakit stadium
akhir.
D. Patofisiologi
Terlepas dari etiologi yang berbeda-beda namun apabila CKD telah berkembang,
respon yang dilakukan oleh ginjal akan sama. Pertama-tama ginjal akan beradaptasi
dengan meningkatkan laju filtrasi nefron yang tersisa atau disebut hiperfiltrasi
adaptif. Sehingga pasien yang menderita CKD ringan masih memiliki hasil ureum
dan kreatinin yang hampir normal atau normal. Selain itu terdapat homeostasis
tambahan yang umumnya terjadi pada tubulus ginjal yang membuat konsentrasi
elektrolit seperti natrium, kalium, calsium, fosfor dan cairan tubuh tetap berada
dalam rentang normal (Gulati, 2018).
Hiperfiltrasi adaptif pada awalnya bermanfaat untuk mempertahankan homeostasis,
namun akan menyebabkan kerusakan glomerulus pada nefron yang tersisa yang
dimanifestasikan dengan proteinuria dan insufisiensi ginjal yang progresif.
Proteinuri akan menyebabkan kadar albumin dalam darah turun sehingga akan
menimbulkan udem pada wajah dan kaki. Kerusakan yang irreversible ini akan
mengakibatkan CKD yang berat (Gulati, 2018).

Pada kondisi CKD terjadi penurunan laju filtrasi yang akan mengaktifasi juxta
glomerulus untuk melepaskan renin yang mengubah angiotensinogen di hepar
menjadi angitensin 1, angiotensi 1 akan diubah menjadi angiotensin 2 dengan
bantuan angiotensine converting enzym (ACE) yang berasal dari permukaan paru.
Angiotensin 2 kan menyebabkan merangsang sistem syaraf simpatis,
vasokonstriktor atreriol, merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan
aldosteron dan menstimulus kelenjar pituitary posterior untuk mensekresi anti
diuritik hormone (ADH). Semua proses tersebut menyebabkan retensi cairan dan
garam sehingga
Ginjal berfungsi mengekskresi kelebihan asam dalam tubuh dengan mengeluarkan
ion hidrogen ke dalam urin untuk mengatur keseimbangan asambasa, cairan dan
elektrolit. Namun, kondisi CKD yang semakin parah akan menyebabkan akumulasi
substansi biokimia dalam darah yang akan menyebabkan retensi sampah
metabolisme seperti blood urea nitrogen dan kreatinin, retensi air dan garam yang
menyebabkan udem pada wajah, kaki dan kongesti vaskuler, hiperkalemia, asidosis
metabolik.
Penurunan fungsi ginjal menyebabkan kurangnya vitamin D yang diubah dalam
bentuk aktif sehingga menyebabkan gangguan kalsium dan fospor yang berakibat
pada metabolisme tulang yang akan mempengaruhi pertumbuhan, nyeri tulang
(kram) dan deformitas tulang yang dikenal dengan osteodystrofi (Lewis, 2014).
Overload cairan dapat meningkatkan tekanan kapiler paru sehingga akan
menyebabkan edema paru. Pasien akan timbul sesak nafas dan terjadi gangguan
pertukaran gas. Penurunan fungsi ginjal akan menyebabkan penurunan ekskresi
hidrogen dan absorbsi HCO3 sehingga akan menyebabkan asidosis metabolik yang
dapat ditandai dengan hiperventilasi.
Peningkatan BUN menyebabkan rentang hidup dari eritrosit memendek dan
produksi eritopoetin juga menurun sehingga akan menimbulkan anemia (White et
al., 2013). Pada CKD juga rentan terjadi perdarahan karena kecacatan fungsi
trombosit yang menyebabkan gangguan agregasi platelet dan gangguan
pembentukan faktor 3, selain itu pasien CKD juga rentan terhadap infesi karena
gangguan fungsi leukosit dan penurunan sistem imun (Lewis, 2013).
E. Tatalaksana Medis
1. Untuk mengatasi komplikasi
1) Hipertensi, diberikan anti-hipertensi antara lain betablocker, ACE inhibitor,
Angiotensin Receptor Blocker (ARB),
2) Kelebihan cairan, diberikan diuretik diantaranya adalah Furosemid (Lasix),
Bumetanid (Bumex)
3) Peningkatan trigliserida, diatasi dengan Gemfibrozil
4) Hiperkalemia diatasi dengan Kayexalate, Natrium Polisteren Sulfanat
5) Hiperurisemia diatasi dengan Allopurinol
6) Osteodystrofi diatasi dengan Dihidroksiklkalsiferol, alumunium hidroksida
7) Kelebihan fosfat dalam darah diatasi dengan kalsium karbonat, kalsium
asetat, alumunium hidroksida
8) Mudah terjadi perdarahan diatasi dengan desmopresin, estrogen
9) Ulserasi oral diatasi dengan antibiotic.

2. Terapi simptomatik
1) Asidosis metabolik: Terapi alkali (sodium bikarbonat) harus segera
diberikan intravena bila pH ≤ 7,35 atau serum bikarbonat ≤ 20 mEq/L
2) Anemia: Transfusi darah misalnya Packed Red Cell (PRC) merupakan
salah satu pilihan terapi alternatif, murah, dan efektif.
3. Terapi Pengganti Ginjal

Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal Akronik stadium 5,


yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa
hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal.
Indikasi Haemodialisa (AEIOU):
1) Asidosis metabolik (A=asidosis), pada asidosis metabolic atau perubahan
pH darah menjadi asam memerlukan hemodialysis, pH darah < 7,2.
2) Ketidak seimbangan elektrolit (E=elektrolit), kondisi seperti
hiperkalemia, dimana kadar kalium atau potassium dalam darah meningkat
maka menjadi indikasi dilakukan hemodialisis. Terutama tingginya kalium
atau potassium yang terdeteksi dengan perubahan EKG.
3) Keracunan akut (I=ingesti), dimana terdapat substansi asing yang bersifat
toksik masuk ke tubuh maka dapat dihilangkan dengan hemodialisa. Contoh
keracunan atau intoksikasi yang dapat ditangani dengan hemodialisa adalah
penggunaan obat lithium.
4) Overload cairan (O=overload), dimana dalam tubuh terdapat kelebihan
cairan yang mana tidak dapat tertangani dengan pemberian diuretik.
5) Uremia (u=uremia), dimana kadar urea dan sisa metabolisme meningkat di
darah. Meningkatnya uremia ini dapat berasal dari komplikasi peradangan
pada pericardium jantung (pericarditis), ensefalopati, dan penyakit pada
saluran cerna termasuk perdarahan didalamnya.

4. Terapi Nutrisi dan Cairan


Intervensi nutrisi sangat diperlukan dalam CKD untuk mengatur intake protein,
cairan dan garam. Konsumsi protein dikurangi karena dapat memperberat
fungsi ginjal. Rekomendasi intake protein yang disarankan adalah 1,2
gr/kgbb/hari. Sedangkan rekomendasi jumlah cairan tergantung urine output
pasien. Secara umum 600 ml (dari insensible loss) ditambah dengan jumlah urin
hari sebelumnya diperbolehkan pada pasien CKD (Lewis, 2013)

Lewis, 2013
F. Asuhan Keperawatan.

Dalam Doengoes, 2014 data yang mungkin ditemukan pada pengkajian pasien
dengan Chronic Kidney Diseases (CKD) adalah sebagai berikut:

Pengkajian fisik

Aktivitas/Istirahat Sirkulasi
 Kelelahan ekstrem, Riwayat Hipertensi
kelemahan, malaise
Palpitasi, nyeri dada (angina)
 Gangguan tidur : insomnia,
gelisah, mengantuk. ditandai dengan :
 Ditandai dengan : Kelemahan  Hipertensi, distensi vena jugularis
otot, penurunan rentang gerak (JVD)
(ROM)  Pitting edema pada kaki, tungkai,
dan tangan.
 Disritmia jantung
 Friksi perikardial jika terdapat
perikarditis uremik.
 Pembesaran hati, limpa dan jantung
 Kulit pucat, abu-abu, tembaga.
 Kecenderungan berdarah.
Integritas Ego Eliminasi
- Faktor stress : finansial relationship Frekuensi berkemih, oliguria, anuria
- Perasaan tidak berdaya dan putus asa (gagal jantung lanjut)
- Ditandai dengan : Penyangkalan, Kembung, perut diare, atau sembelt.
kecemasan, ketakutan, kemarahan, dan - Ditandai dengan : perubahan warna urn
perubahan lepribadian. (kuning) pekat, merah, coklat ), Oliguria,
bisa menjadi anuria

Nutrisi dan cairan Nyaman / Nyeri

- Kaji status nutrisi dan balance cairan  Nyeri pinggang, sakit kepala, kram

- Penmbahan Berat badan yang cepat dan otot atau sakit kaki — lebih buruk di

penurunan BB. malam hari


 Ditandai dengan : Menjaga, perilaku
- Anoreksia
terganggu, gelisah.
- Mulas, mual, muntah, rasa logam yang
tidak enak di mulut
- Penggunaan diuretic

Ditandai dengan :

o Distensi perut, asites, pembesaran


hati (stadium akhir)
o Perubahan turgor dan kelembaban
kulit
o Edema
o Ulserasi gusi, perdarahan gusi, lidah
 Napas amoniak

 Kehilangan otot, penurunan lemak


subkutan, penampilan yang lemah

Respirasi Seksual

 Napas pendek, dispnea malam tiba- Penurunan libido, amenorrhea,


tiba infertilitas
 Batuk dengan atau tanpa sputum Disfungsi ereksi
 Ditandai dengan :

Takipnea, dispnea, peningkatan


Interaksi Sosial
kecepatan dan kedalaman (respirasi
Kussmaul mungkin berhubungan dengan Kesulitan yang ditimbulkan oleh
asidosis metabolik) kondisi, seperti tidak dapat bekerja,
mempertahankan kontak sosial, atau
Batuk yang produktif dari dahak
fungsi peran dalam keluarga
berwarna merah muda (edema paru)

Keamanan Discharge Planning

o Kulit gatal, sering tergores Mungkin memerlukan perubahan atau


o Infeksi baru atau berulang bantuan dengan obat-obatan, perawatan,
 Kecenderungan berdarah persediaan; angkutan; ibu rumah tangga
atau tugas perawatan

Kebutuhan Belajar

 Riwayat keluarga penyakit polikistik,


nefritis herediter, kalkulus urin,
keganasan
 Riwayat hipertensi atau diabetes yang
tidak terkontrol (risiko tinggi untuk
gagal ginjal), paparan racun, seperti
obat nefrotoksik, overdosis obat, racun
lingkungan
 Penggunaan saat ini atau baru-baru ini
dari antibiotik nefrotoksik,
penghambat enzim
angiotensinconverting (ACE), agen
kemoterapi, logam berat, obat
antiinflamasi nonsteroid (NSAID),
agen radiokontras

Diagnosa Keperawatan

a. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urin, retensi cairan dan natrium
sekunder terhadap penurunan fungsi urin.

b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d katabolisme protein,


pembatasan intake, anoreksia, mual,muntah

c. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan


volume cairan, ketidakseimbangan elektrolit

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, uremia, penurunan fungsi


ginjal,dan prosedur dialisis.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek uremia, gangguan status
metabolik, edema, kulit kering, pruritus.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia.

Prioritas Diagnosa Keperawatan:

a. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urin, retensi cairan dan natrium
sekunder terhadap penurunan fungsi urin.
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d katabolisme protein,
pembatasan intake, anoreksia, mual,muntah

c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, uremia, penurunan fungsi


ginjal,dan prosedur dialisis.
Intervensi Keperawatan.

Diagnosa Keperawatan Kriteria hasil Intervensi

Kelebihan Volume Cairan NOC: 1. Awasi denyut jantung,


TD, dan CVP.
Keseimbangan Cairan
Rasional: Takikardia
(0601)
dan hipertensi terjadi
-Tekanan darah karena (1) kegagalan
normal,intake output ginjal untuk
seimbang, BB stabil, mengeluarkan urine, (2)
Elektrolit dan hematokrit pembatasan cairan
perbaikan, tidak ada berlebihan selama
peningkatan JVP, tidak ada mengobati
edema, tidak ada konfusi hipovolemia/hipotensi
dan pusing atau perubahan fase
oliguria gagal ginjal,
dan/atau perubahan pada
sistem renin-
angiotensin.

2. Catat pemasukan dan


pengeluaran akurat.
Termasuk cairan
"tersembunyi" seperti
antibiotik. Ukur
kehilangan GI dan
perkirakan kehilangan
tak kasat mata, contoh
berkeringat.
Rasional: Perlu untuk
menentukan fungsi
ginjal, kebutuhan
penggantian cairan, dan
penurunan risiko
kelebihan cairan.

3. Rencanakan
penggantian cairan pada
pasien, dalam pem-
batasan multipel.
Berikan minuman yang
disukai sepanjang 24
jam. Berikan bervariasi
contoh panas, dingin,
beku.
Rasional: Untuk
menghindari kebosanan
dan mencegah rasa haus.
4. Timbang berat badan
tiap hari dengan alat dan
pakaian yang sama
Rasional: Penimbangan
berat badan harian
adalah pengawasan
status cairan terbaik.
Peningkatan berat badan
lebih 0,5 kg/hari diduga
ada retensi cairan.
5. Kaji kulit, wajah, area
tergantung untuk edema.
Evaluasi derajat edema
(pada skala +1 sampai
+4).
Rasional: Edema terjadi
terutama pada jaringan
yang tergantung pada
tubuh, contoh tangan,
kaki, area lumbosakral.
BB dapat meningkat
sampai 4,5 kg cairan
sebelum edema pitting
terdeteksi.
6. Auskultasi paru dan
bunyi jantung.
Rasional: Kelebihan
cairan dapat
menimbulkan edema
paru dan GJK
dibuktikan oleh
terjadinya bunyi napas
tambahan jantung ekstra.
7. Berikan obat sesuai
indikasi:
 Diuretik, contoh
furosemid (Lasix),
mannitol (Osmitrol):
 Antihipertensif,
contoh klonidin
(Catapres); metildopa
(Aldomet); prazosin
(Minipress).

Rasional: Diberikan dini


pada fase oliguria pada
GGA pada upaya
mengubah ke fase
nonoliguria, untuk
melebarkan lumen
tubular dan debris,
menurunkan
hiperkalemia, dan
meningkatkan volume
urine adekuat. Diberikan
untuk mengatasi
hipertensi dengan efek
berbalikan dari
penurunan aliran darah
ginjal, dan/atau
kelebihan volume
sirkulasi.
8. Monitor hasil lab:
Ureum, kreatinin urin,
Na
serum, kalium serum,
Hb/ Ht, BUN
Rasional: Kelebihan
cairan berdampak pada
keseimbangan
elektrolit, penurunan
Hb/Ht, CCT dan
peningkatan BUN.
Ketidakseimbangan nutrisi: NOC: Manajemen nutrisi (1100)
kurang dari kebutuhan Status nutrisi (1004): 1. Kaji status nutrisi :
tubuh. penurunan berat badan,
asupan makanan
nilai laboratorium:
meningkat, hidrasi adequat, elektrolit,
energi meningkat, Tidak ureum/creatinin,
Hb,albumin).
ada penurunan berat badan
Rasional : Data dasar
diperlukan untuk
memonitor dan
mengevaluasi
keefektifan intervensi.
2. Kaji pola nutrisi pasien:
kesukaan makanan,
kebiasaan makan dan
kalori/jumlah makanan
Rasional: Pola diet
dahulu an sekarang akan
mempertimbangkan
perencanaan makan.
3. Kaji faktor-faktor yang
menyebabkan tidak mau
makan: mual, muntah
Rasional: informasi
mengenai penyebab
dapat membantu
mengatasi masalah dan
meningkatkan asupan
makanan
4. Berikan makanan
kesukaan pasien
Rasional: meningkatkan
intake makanan.
5. Cukupi asupan protein :
susu, daging, telur
Rasional: keseimbangan
nitrogen positif
diperlukan untuk
pertumbuhan dan
penyembuhan
6. Berikan snack tinggi
kalori, rendah protein,
dan rendah kalium
diantara makanan utama
Rasional: membantu
asupan makanan dan
mengurangi pembatasan
makanan
7. berikan makanan sedikit
tapi sering
Rasional: porsi kecil
membantu intake
makanan
8. ciptakan lingkungan
yang nyamaan
Rasional: membantu
meningkatkan nafsu
makan.
9. Pertahankan oral
hygiene
Rasional: mengurangi
ketidaknyamanan dan
mencegah stomatitis.
Manajemen cairan (4120)

1. Monitor status hidrasi


(membran mukosa
lembab).
Rasional : memonitor
tanda-tanda dehidrasi
dan intake yang kurang
terkait mual muntah.
2. Tingkatkan masukan
oral (dengan sedotan, jus
buah, teh manis).
Rasional: membantu
meningkatkan asupan
cairan
3. Observasi intake dan
output cairan
Rasional: memonitor
keseimbangan cairan.
Manajemen elektrolit
(2000)

1. Berikan makanan tinggi


natrium sesuai
kebutuhan
Rasional: meningkatkan
asupan natrium
2. Monitor manifestasi
gstrointestinal, neurologi
dan kardiovaskuler.
Rasional: menetukan
intervesi yang tepat
3. Monitor natrium secara
berkala
Rasional: mengevaluasi
kondisi dan intervensi
4. kolaborasi pemberian
infus Nacl hipertonis
(3%-5%) 12 cc/jam
Rasional: meningkatkan
kadar natrium darah
Intoleransi aktivitas NOC: Manajemen energi (0180)

Toleransi terhadap aktivitas 1. Kaji aktivitas yang


membuat kelelahan
(0005) Rasional:
mengidentifikasi dan
TTV selama aktivitas membantu mengatasi
stabil, sesak dan lelah saat masalah yang membuat
lemas
aktivitas berkurang,
2. Perbaiki status fisiologis
kemudahan dalam (anemia dan asupan
melakukan ADL nutrisi kurang) sebagai
masalah utama.
Rasional: anemia
mengurangi oksigenasi
jaringan sehingga
mengakibatkan
kelelahan, kurang nutrisi
mengakibatkan
berkurangnya energi
yang menyebabkan
kelelahan.
3. Monitor asupan nutrisi
Rasional: mengetahui
sumber energi yang
adequat
4. Anjurkan periode
aktivitas dan istirahat
secara bergantian
Rasional: untuk
menghemat energi dan
mengurangi rasa
kelelahan
Bantuan perawatan diri
(1800)
1. Berikan bantuan ADL
dan ambulasi
Rasional: mencegah
lemas dan kelelahan
pasien
2. Monitor perawatan diri
secara mandiri
Rasional: mengetahui
aktivitas mana yang
dapat dilakukan pasein
dan memberikan
bantuan pada aktifitas
yang tidak bisa
dilakukan

DAFTAR PUSTAKA

Black, JM., Hawks,J .(2014). Medical surgical nursing, Clinical management for
continuity of car. Singapore : Elsevier.
Bulecheckk, G.M., Butcer, H.K. Dochterman, J.McC., Wagner, C.M. (2013).
Nursing Interventions Classification (6th Ed.). Missouri: Elsevier Mosby
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., & Murr, A.C. (2014). Nursing Care Plan:
Guidelines for Individualizing Client Care Across the Life Span 9th Edition.
USA: FA Davis Company.
Herdman, T.H., Kamitsuru, S. (2018). NANDA International Nursing Diagnoses:
Definitions & Classification 2018–2020 (10th Ed.). Oxford: Wiley Blackwell

Lewis, S.L., Dirksen, R.S., Heitkemper, M.M., Bucher, L., Harding, M.M. (2014).
Medical-Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical
Problems Ninth Edition. Missouri: Elsevier Mosby

Smeltzer, C.Z. et al (2010) Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical –Surgical


Nursing 12th Ed. Philadelphia: Lippincot
White, L. , Duncan,G., Baumle, W. (2013). Medical Surgical Nursing 3rd Ed. New
York: Delmar.