Anda di halaman 1dari 5

ES301 KOMUNIKASI BISNIS DAN KETERAMPILAN PRESENTASI

TUGAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA


NEGARA JEPANG

Disusun oleh:
Kelompok 5

Andi Triwahyudi 1652254


Astrid Arnisa Yunita 1752903
Bramantyo Adhi 1652246
Cynthia Callista 1652018
Rizky Dwinata 1852011
Vella Nurul H P S 1552209
Vincent Harjanto 1852041

Kelas:
MG-H

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MARANATHA
2020
 Komunikasi Bisnis Negara Jepang
Dalam dunia bisnis internasional, berbisnis dengan orang Jepang dikenal suit. Hal
ini dilatarbelakangi oleh budaya komunikasi konteks tinggi yang dianut Jepang.
Metode pengenalan budaya komunikasi bisnis Jepang disebut Kurasu katsudou yakni
Orientasi grup, budaya hierarki dalam perusahaan, dan budaya hourenso.
Pada dasarnya Orang Jepang senang berkelompok, dalam dunia bisnis Jepang
saat seorang memperkenalkan diri maka ia akan menyebutkan nama institusinya
sebelum namanya sendiri. Orang Jepang sebenarnya ingin diakui keberadaannya
sebagai anggota suatu instansi dari pada membawa identitas diri. Budaya orientasi
Grup dapat disisipkan pada pembelajaran jikoshoukai (perkenalan diri) dan meishi
koukan (pertukaran kartu nama).
Hierarki dalam perusahaan tercermin dalam penyebutan jabatan di belakang nama
orang, misal seorang bernama Tanaka yang memiliki jabatan kepala bagian atau
Buchou akan dipanggil Tanaka Buchou. Penyebutan jabatan perusahaan di Jepang
hanya akan disematkan kepada orang-orang yang memiliki jabatan seperti kachou
(kepala seksi), Buchou dan sachou (kepala perusahaan).
Hourensou merupakan kependekan dari Houkoku (laporan), renraku (kontak),
dan soudan (diskusi). Mengingat masyarakat Jepangadalah masyarakat yang
berorientasi pada grup maka Hourensou merupakan budaya komunikasi yang sangat
penting dalam sebuah tim.
Dalam houkoku seseorang dituntut untuk selalu melaporkan kemajuan suatu
pekerjaan yang diberikan, Renraku memfokuskan pada pentingnya membangun
komunikasi mengenai suatu pekerjaan, dan soudan membahas mengenai pentingnya
berkonsultasi ketika menemukan kesulitan.

 Produk/Jasa yang Cocok Dipasarkan pada Negara Jepang


Menurut kami Produk yang cocok untuk dipasarkan di negara Jepang
adalah Produk kecantikan karena sudah banyak dikenali oleh orang banyak
bahwa daya saing paling tinggi produk kecantikan antara Korea dengan
Jepang. Seiring dengan aspek budaya lainnya yang masuk dari Cina dan
Korea, seperti beragam bentuk rias seperti warna pipi dan bedak wajah mulai
dipergunakan di Jepang. Bedak muka Jepang pertama diproduksi oleh seorang
pendeta Budha, bedak itu sukses memikat hati Permaisuri Jepang sehingga
kemudian ditetapkan sebagai tren hingga menjadi tren kosmetik Jepang yang
mendunia.
Sejarah produk kecantikan di Jepang :
Produk-produk kecantikan Jepang sudah mulai melepaskan diri dari pengaruh
model-model Cina dan menciptakan estetika tersendiri, seperti rambut panjang lurus,
wajah dengan bedak putih dan alis dicat ulang. Terlepas dari transformasi ini,
sebagian besar make-up hanya tersedia untuk kaum elit tertentu saja. Bedak muka
putih digunakan untuk membuat kulit menjadi berwrana putih pucat, secara artistik
seringkali membuat kontras terhadap warna alami kulit di sekitarnya yang dengan
perlahan menimbulkan kontur tepi pada di leher bawah dan di bawah garis rambut.
Sementara itu bibir wanita Jepang pada masa itu seringkali dic at dengan dasar putih
dan dibuat lebih kecil dan sedikit lebih tinggi dari bentuk bibir alami. Selama era Edo
ini wanita Jepang sangat menyukai penggunaan bedak wajah untuk mendatangkan
efek kulit sempurna. Itulah standar wanita cantik Jepang saat itu populer.
Dan di awal-awal abad ke-20, standar kecantikan di Jepang mulai bergeser.
Wanita Jepang kemudian mulai menyukai penggunaan make praktis yang cepat tapi
nyaman. Hal ini karena kemajuan emansipasi wanita Jepang di masyarakat terutama
kiprah mereka di tempat kerja . Dunia barat kemudian mempengaruhi Jepang
semenjak 1920 sehingga emulsi kosmetik dan variasi produk perawatan kulit mulai
muncul di pasaran. Bedak dan lipstik wajah mulai dijual dalam ragam warna yang
lebih luas selain warna putih dan merah tradisional. Terutama setelah Perang Dunia II,
estetika Jepang menjadi sangat dipengaruhi oleh media massa Barat, terutama majalah
dan film Amerika.
Kesimpulan :
Dapat dilihat si sini bahwa hampir seluruh kaum hawa di negara Jepang
menyukai dan menggunakan produk kencatikan karena selain untuk menambah
kepercayaan diri juga dapat menjadi produk yang dapat dijualkan dalam jumlah yang
besar. Menurut kami pemasaran produk kecantikan terbilang cukup mudah dan dapat
menjangkau target pasar yang luas karena diminati oleh kaum hawa baik dalam negri
maupun luar negri sehingga dapat menjadi sumber pendapatan bagi negara Jepang.

 Cara Mengkomunikasikan Produk/Jasa pada Negara Jepang


Menurut kami cara untuk mengkomunikasikan atau mempromosikan barang atau
jasa di Jepang baiknya secara online, karena di Jepang sendiri teknologinya sudah
sangat maju, pada jaman sekarang, media koran sudah kurang sekali peminatnya,
karena dengan dilakukannya komunikasi secara online memiliki keunggulan seperti
mudah dan aman. Sekarang sudah banyak platform e- commerce yang beredar
didunia. Bahkan jaman sekarang para pedagang bisa menjual dan memasarkan
produknya di media sosial, dengan hadirnya di media sosial, para calon konsumen
tidak perlu repot – repot mencari produk yang di inginkan di toko offline.

Produk kecantikan di Jepang saat ini sangat digandrungi, karena hampir semua
wanita pasti membeli produk kecantikan untuk mempercantik diri. Catatan
menunjukkan bahwa wanita menghabiskan banyak waktu merias wajah dan kosmetik
yang diarahkan untuk menonjolkan keindahan alami kulit. Di Jepang sendiri
mengenakan riasan dianggap etiket yang bagus. Bahkan wanita diharapkan
menggunakan riasan dari pagi hingga malam. Pada tahun-tahun berikutnya juga,
perubahan terbesar yang terjadi di dunia kosmetik di Jepang adalah memiliki warna
kulit yang lebih alami. Ketika oshiroi berwarna muncul pada paruh kedua era Meiji,
wanita Jepang menyadari bahwa kosmetik yang melengkapi warna kulit mereka
sendiri sudah dapat ditemukan. Di era Shōwa, warna bergradasi untuk diterapkan
pada kulit muncul di pasaran dan wanita dapat memilih rona yang paling mendekati
dengan warna kulit mereka.
Produk kecantikan di Jepang sangat dibutuhkan setiap wanita Jepang apalagi
produk seperti cushion, concealer dan bedak lainnya karena wanita di Jepang banyak
menginginkan makeup yang membuat kulitnya terlihat terang dan putih. Tomizawa
Yōko, seorang peneliti di Pola Research Institute of Beauty and Culture, menjelaskan
akar afinitas untuk warna putih alami. “Warna kulit yang ingin dicapai oleh orang
Jepang bukanlah putih susu tetapi tembus cahaya, seperti batu yang dipoles. Sejak
zaman Edo, wanita telah bersusah payah untuk mencapai hal ini. ” terdapat buku
Miyako fūzoku kewaiden (Buku Pegangan Kosmetik di Ibukota) yang diterbitkan
pada tahun 1813 dan tetap menjadi patokan untuk kecantikan.
Transformasi dalam sikap wanita Jepang terhadap makeup telah membawa
perubahan yang cukup besar dalam produk kecantikan. Sejak 1980-an, konsumen
menjadi tertarik pada produk apa yang dibuat, bagaimana mereka bekerja, dan
mengapa mereka efektif. Perubahan pola pikir dilambangkan oleh sebuah salinan
iklan terkenal dari akhir 1980-an: “Kosmetik mulai berbicara dalam bahasa sains.”
Mode anti-penuaan saat ini juga dianggap memiliki akar ilmiah yang kuat.
 Sejarah Kecantikan Jepang
Sejarah kecantikan Jepang sudah dimulai dari dahulu kala di zaman kuno, namun
seiring berjalannya waktu ada pengaruh dari Cina dan Korea masuk ke dalamnya,
seperti warna pipi dan bedak muka. Bedak muka Jepang pertama kali diproduksi oleh
seorang pendeta Buddha dan berhasil menarik hati Permaisuri Jepang, yang kemudian
ditetapkan sebagai tren dan menjadi tren kosmetik Jepang yang mendunia.
Pada tahun 794-1185 (periode Heian), produk kecantikan Jepang berusaha
menciptakan estetikanya sendiri dan melepaskan diri dari pengaruh Cina. Jepang
menciptakan tren rambut panjang lurus, wajah dengan bedak putih, dan alis yang dicat
ulang. Selain hal-hal tersebut, produk kecantikan lainnya masih terbatas pada
kalangan tertentu saja.
Bersamaan dengan itu ada standar kecantikan yang tidak biasa menginvasi
Jepang, yaitu menghitamkan gigi (ohaguro). Gigi yang hitam pekat dianggap cantik
dan menjadi standar kecantikan sampai abad ke-19.
Pada tahun 1600-1868, Jepang mulai fokus pada cara yang tepat dalam menggunakan
kosmetik dengan berpusat pada tiga palet warna, yaitu:
- Merah = untuk bibir dan cat kuku
- Putih = bedak muka
- Hitam = penghitam gigi dan pensil alis
Bedak muka yang putih sudah menjadi tren kosmetik di Jepang, di mana secara
artistik pemakaiannya sering membuat kontras terhadap warna kulit asli di sekitar
pemakaian bedak tersebut. Di Jepang pada masa itu juga tren dengan bibir yang
dilukis, dasarnya dicat putih kemudian dilukis bentuk bibir yang lebih kecil tetapi
lebih tinggi dari bibir aslinya dengan warna merah.
Pada awal abad ke-20, standar kecantikan Jepang mulai bergeser, mereka lebih
menyukai kosmetik yang praktis. Hal tersebut disebabkan oleh kemajuan emansipasi
wanita di Jepang terutama akan kiprah mereka di tempat kerja.
Sejak 1920, Jepang mulai dipengaruhi oleh dunia barat sehingga variasi mulai
bermunculan, bedak dan lipstik mulai dijual dalam beragam warna yang lebih luas,
tidak hanya warna tradisional Jepang saja (putih dan merah).