Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

LAPORAN AUDIT
(TUGAS AUDITING 1)

DISUSUN OLEH :

NAMA : HARIYANTO JOLO

STAMBUK : 201830061

JURUSAN : AKUNTANSI

KELOMPOK : 4 (EMPAT)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BONGAYA


MAKASSAR
(STIEM BONGAYA MAKASSAR)
2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum’alaikum Wr. Wb

Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua

Segala puja dan puji kepada tuhan yang maha esa, tidak lupa shalawat serta salam tercurah
kepada bimbingan kita Rasulullah SWT

Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan mata
kuliah ‘’AUDITING 1’’

Dengan kesadaran makalah yang membahas tentang ‘’LAPORAN AUDIT’’ ini masih
memerlukan penyempurnaan terutama pada bagian isi, semoga pembaca bisa memberikan bentuk
kritik yang bersifat konstruktif dan saran demi penyempurnaan makalah ini. Apabila terdapat banyak
masalah atau kesalahan pada makalah ini, saya memohon maaf, semoga tuhan yang maha esa selalu
melindungi kita dari marabahaya.

Makassar, 13 Oktober 2020

(HARIYANTO JOLO)
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………………………………….

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………………………

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………………

A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………………….


B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………………………………..

A. Laporan Audit Standar Tanpa Pengecualian ……………………………………………….


B. Laporan Gabungan Tentang Laporan Keuangan Dan Pengendalian Internal Atas
Pelaporan Keuangan …………………………………………………………………………………..
C. Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan Atau Modifikasi
Kata-kata …………………………………………………………………………………………………….
D. Penyimpanan Dari Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian ……………………..
E. Materialitas …………………………………………………………………………………………………
F. Pembahasan Tentang Kondisi Yang Memerlukan Penyimpangan ………………..
G. Proses Pengambilan Keputusan Auditor Untuk Laporan Audit …………………….
H. Dampak E-Commerce Terhadap Pelaporan Audit ………………………………………..

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………………………………….

A. Kesimpulan ………………………………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………………………..


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum mempelajari prosedur audit secara mendalam,perlu difahami lebih dahulu isi


laporan audit, agar dapat diikuti kemana auditingdiarahkan. Isi laporan audit diarahkan. Isi
laporan baku terkait pada format yang telah ditetapkan oleh ikatan Akuntasi Indonesia (IAI)  dan
menyajikan isi laporan yang akan dipakai untuk menjelaskan makna setiap kalimat yang ada di
dalam laporan.
Laporan audit juga merupakan media yang dipakai oleh ouditor dalam berkomunikasi
dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut aouditor menyatakan pendapatnya
mengenai kewajiban laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut disajikan dalam suatu
laporan tertulis yang umumnya berupa audit baku. Laporan ini sangatlah penting sekali dalam
suatu audit atau proses atestasi lainya karena laporan menginformasikan pemakai informasi
mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Dan suatu pandangan
pemakai, laporan dianggap sebagai produk utama yang diperoleh. Dari satu pandang pemakai
laporan sebagai produk utama dari proses atastasi. Standar profesianal akutan publik (SPAP)
mengharuskan dibuatnya laporan setiap kali laporan akuntan publik dikaitkan laporan keuangan.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan Laporan Audit Standar Tanpa Pengecualian ?
2. Jelaskan Laporan Gabungan Tentang Laporan Keuangan Dan Pengendalian Internal Atas
Pelaporan Keuangan ?
3. Jelaskan Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan Atau
Modifikasi Kata-kata ?
4. Jelaskan Penyimpanan Dari Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian ?
5. Apa yang di maksud coba jelaskan Materialitas ?
6. Jelaskan Pembahasan Tentang Kondisi Yang Memerlukan Penyimpangan ?
7. Jelaskan Proses Pengambilan Keputusan Auditor Untuk Laporan Audit ?
8. Jelaskan Dampak E-Commerce Terhadap Pelaporan Audit ?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Laporan Audit Standar Tanpa Pengecualian

Laporan audit standar tanpa pengecualian untuk perusahaan publik meliputi tiga paragraf. Judul
laporan, alamat, nama kantor akuntan, dan tanggal laporan audit adalah serupa bagi perusaaan publik.
Paragraf pertama adalah paragraf pendahuluan dan menunjukkan bahwa audit telah dilaksanakan serta
laporan keuangan telah diaudit. Paragraf ruang lingkup serupa dengan paragraf kedua menurut
tanggung jawab auditor dan menunjukkan bahw audit dirancang untuk memberikan kepastian yang
layak bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material. Paragraf ketiga merupakan
paragraf pendapat.
Berikut ini delapan bagian dari laporan audit standar tanpa pengecualian, sebagai berikut:
a.      Judul laporan
Standar auditing mensyaratkan bahwa laporan harus diberi judul yang mengandung
kata independen. Kewajiban mencantumkan kata independen dimaksudkan untuk memberi
tahu para pemakai laporan bahwa audit tersebut dalam segala aspeknya dilaksanakan secara
tidak memihak atau tidak bias.
b.    Paragraf pendahuluan
Paragraf pertama laporan menunjukkan bahwa kantor akuntan publik bersangkutan
telah melaksanakan audit, yang membedakan laporan audit dari laporan kompilasi atau
laporan review.
c.     Tanggung jawab manajemen
Judul dan paragraf ini menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung
jawab manajemen.
d.    Tanggung jawab auditor
Paragraf pertama menyatakan bahwa audit telah dilaksanakan sesuai dengan standar
auditing yang berlaku umum di A.S. Paragraf kedua menguraikan ruang lingkup audit dan
bukti audit yang dikumpulkan. Paragraf ketiga menunjukkan auditor yakin bahwa bukti audit
yang tepat dan telah mencukupi telah diperoleh demi mendukung pendapat auditor.
e.    Paragraf pendapat
Paragraf terakhir dalam laporan audit standar menyatakan kesimpulan auditor
berdasarkan hasil audit. Bagian laporan ini begitu penting, sehingga sering kali keseluruhan
laporan audit dinyatakan secara sederhana sebagai pendapat auditor.
f.      Nama dan Alamat KAP
Nama mengidentifikasi kantor akuntan publik (KAP) atau praktisi yang melakukan audit.
Selain itu, kota dan negara bagian lokasi KAP itu harus dicantumkan.
g.    Tanggal laporan audit
Tanggal yang tepat untuk dicantumkan pada laporan audit adalah ketika auditor
menyelesaikan prosedur audit di lokasi pemeriksaan. Tanggal ini merupakan hal yang
penting bagi para pemakai laporan karena menunjukkan hari terakhit dari tanggung jawab
auditor untuk mereview peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal laporan
keuangan.

Laporan audit standar tanpa pengecualian diterbitkan bila kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
a. Semua laporan – neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas pemegang saham,
dan laporan arus kas – sudah termasuk dalam laporan keuangan.
b. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan auditor telah melaksanakan
penugasan audit ini dengan cara yang memungkinkannya untuk menyimpulkan bahwa audit
telah dilaksanakan sesuai dengan standar auditing.
c. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum atau kerangka kerja akuntansi lainnya yang sesuai.
d. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah
paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan audit.

B. Laporan Gabungan Tentang Laporan Keuangan Dan Pengendalian Internal Atas Pelaporan
Keuangan

Laporan gabungan tentang laporan keuangan dan pengendalian internal atas laporan keuangan
menyajikan baik laporan keuangan maupun laporan manajemen tentang pengendalian internal atas
laporan keuangan:

 Paragraf pendahuluan, ruang lingkup, dan pendapat dimodifikasi untuk menyertakan


referensi pada laporan manajemen tentang pengendalian internal atas pelaporan keuangan dan
ruang lingkup pekerjaan auditor serta pendapat tentang pegendalian internal atas laporan
keuangan.
 Paragraf pendahuluan dan pendapat mengacu pada kerangka kerja yang digunakan untuk
mengevaluasi pengendalian internal.
 Laporan itu menyertakan paragraf sesudah paragraf sesudah ruang lingkup yang
menetapkan pengendalian internal atas laporan keuangan.
 Laporan itu juga menyertakan paragraf tambahan sebelum paragraf pendapat yang
menyatakan keterbatasan yang melekat dari pengendalian internal.
 Meski pendapat audit atas laporan keuangan mencakup banyak periode pelaporan, asersi
manajemen tentang eefektivitas pengendalian internal adalah untuk akhir tahun fiskal yang paling
baru.

C. Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan Atau Modifikasi
Kata-kata

Penyebab paling penting dari penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi katakata pada
laporan wajar tanpa pengecualian standar yaitu:

1. Tidak ada aplikasi yang konsisten dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP)
2. Keraguan yang substansial mengenai going concern
3. Auditor setuju dengan penyimpangan dari prinsip akuntansi yang dirumuskan
4. Penekanan pada suatu hal atau masalah
5. Laporan yang melibatkan auditor lain

Keempat laporan yang pertama memerlukan penjelasan, hanya laporan yang pembuatannya
melibatkan auditor lain yang memerlukan modifikasi kata-kata
Perubahan yang memerlukan paragraf penjelasan jika perubahan tersebut material yaitu
perubahan prinsip akuntansi, perubahan entitas pelaporan, dan koreksi kesalahan yang melibatkan
prinsip-prinsip akuntansi. Sedangkan perubahan yang tidak perlu dimasukkan dalam laporan audit yaitu
perubahan estimasi, koreksi kesalahan yang tidak menyebabkan prinsip akuntansi, variasi format dan
penyajian informasi keuangan, serta perubahan yang terjadi akibat transaksi atau peristiwa yang sangat
berbeda.
Peraturan 203 dari Kode Perilaku Profesional AICPA menyatakan dalam situasi tidak biasa,
penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum mungkin tidak memerlukan pendapat wajar
dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar, tetapi untuk menjustifikasi pendapat wajar tanpa
pengecualian auditor harus yakin dan menyatakan serta menjelaskan dalam satu atau beberapa
paragraf terpisah pada laporan audit. apabila akuntan publik mengandalkan KAP lain untuk pelaksanaan
sebagian audit, maka KAP utama memiliki 3 alternatif, yaitu:
1. Tidak memberikan referensi dalam laporan audit; apabila tidak ada referensi ynag diberikan
auditor lainnya, maka pendapat wajar tanpa pengecualian standar akan diberikan kecuali ada
situasi lain yang mengharuskan adanya penyimpanga.
2. Memberikan referensi dalam laporan (Laporan dengan modifikasi kata-kata), laporan yang tepat
untuk diterbitkan apabila tidak praktis untuk mereview pekerjaan auditor lain, atau apabila
proporsi laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lain material terhadap keseluruhan laporan.
3. Mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian; bergantung pada materialitas, diperlukan
jika auditor utama tidak ingin memikul tanggungjawab apapun atas pekerjaan auditor lain.

D. Penyimpanan Dari Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian


1. Ruang lingkup audit (pembatasan ruang lingkup)
Apabila auditor tidak dapat mengumpulkan bukti yang mencukupi untuk menyimpulkan apakah
laporan keuaangan telah disajikan sesuai GAAP/PSAK, maka terjadi pembatasan ruang lingkup
audit. penyebab pembatasan ada 2, yaitu pembatasan 1 oleh klien dan pembatasan yang
disebabkan oleh situasi yang berada di luar kendali klien atau auditor.
2. Laporan keuangan tidak sesuai rinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (penyimpangan
GAAP)
3. Auditor tidak independen Independensi umumnya ditentukan oleh Peraturan 101 dari aturan
Kode Perilaku Profesional.

Laporan pendapat wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan akibat pembatasan ruang lingkup
audit atau kelalaian untuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penggunaan kualifikasi atau
pengecualian atas pendapat audit saja terbatas pada situasi laporan keuangan tidak disajikan sesuai
GAAP.

1. Pendapat tidak wajar, digunakan hanya apabila auditor yakin bahwa laporan keuangan secara
keseluruhan mengandung salah saji yang material sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi
keuangan sesuai GAAP.
2. Menolak memberikan pendapat, diterbitkan apabila auditor tidak dapat meyakinkan diri sendiri
bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar. Menolak memberi
pendapat akan timbul jika terdapat pembatasan ruang lingkup audit atau ada hubungan yang
tidak independen antara auditor dengan klien.
Tingkat Materialitas terdiri dari 3 tingkatan yaitu:
1. Jumlahnya tidak material, jika ada salah saji dalam laporan keuangan tetapi cenderung tidak
mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan, hal tersebut dianggap tidak material,
karena itu pendapat wajar tanpa pengecualian layak diterbitkan.

2. Jumlahnya material tetapi tidak memperburuk laporan keuangan secara keseluruhan, terjadi jika
salah saji dalam laporan keuangan akan mempengaruhi keputusan para pemakai laporan, tetapi
laporan keuangan secara keseluruhan tetap disajikan secara wajar dan karenanya masih berguna.

3. Jumlahnya sangat material atau begitu pervasif sehingga kewajaran keseluruhan laporan
keuangan diragukan, jika terwujud tingkat materialitas yang tertinggi, maka auditor harus
menolak memberikan pendapat atau memberikan pendapat tidak wajar, tergantung pada kondisi
yang ada. Saat menentukan apakah pengecualian tersebut terhadap bagian laporan keuangan
yang berbeda. Misklasifikasi antara kas dan piutang usaha hanya mempengaruhi kedua akun
tersebut. Di pihak lain, kelalaian mencatat 1 penjualan yang material dikatakan sangat pervasif
karena hal itu mempengaruhi akunakun seperti penjualan, piutang usaha, dan akun-akun yang
terkait.
Dalam aplikasinya, pemutusan materialitas aktual merupakan pertimbangan yang sulit dalam
situasi tertentu. Evaluasi terhadap materialitas tergantung pada situasi melibatkan kegagalan untuk
mengikuti GAAP atau pembatasan ruang lingkup audit.

E. Materialitas

Materialitas adalah sebagai:“Besarnya suatu penghapusan atau salah saji informasi keuangan
yang, dengan memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan yang dilakukan oleh orang
yang mengandalkan pada informasi  tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau
salah saji tersebut.”Dari definisi materialitas di atas mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan
baik (1) kedaan yang berkaitan dengan entitas dan (2) kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan
kepercayaan atas laporan keuangan auditing. Sebagai contoh, suatu jumlah yang material dalam
laporan keuangan entitas tertentu mungkin tidak material dalam laporan keuangan entitas lain yang
memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga, kemungkinan terjadi perubahan materialitas
dalam laporan keuangan dalam entitas tertentu dari periode akuntansi yang satu ke perode akuntansi
yang lain. Oleh karena itu, auditor dapat menyimpulkan bahwa tingkat materialitas akun modal kerja
harus lebih rendah bagi perusahaan yang memiliki current ratio 4 : 1. Dalam mempertimbangkan
kebutuhan informasi pemakai informasi keuangan, semestinya harus dianggap, sebagai contoh, bahwa
pemakai informasi keuangan adalah para investor yang perlu mendapatkan informasi memadai sebagai
dasar untuk pengambilan keputusan mereka.
Dalam audit atas laporan keuangan, audit tidak dapat memberikan jaminan bagi klien atau
pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat. Audit tidak dapat
memberikan jaminan karena ia tidak memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang diaudit
dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas,digolongkan,
dan dikompilasi secara mestinya ke dalam laporan keuangan. Jika auditor diharuskan untuk
memberikan jaminan mengenai keakuratan laporan keuangan auditan, hal ini tidak mungkin dilakukan,
karena akan memerlukan waktu dan biaya yang jauh melebihi manfaat yang dihasilkan. Di samping itu,
tidaklah mungkin seseorang menyatakan keakuratan laporan keuangan (yang berarti ketepatan semua
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan), mengingat bahwa laporan keuangan sendiri berisi
pendapat, estimasi, dan pertimbangan tersebut tidak tepat atau akurat seratus persen.
Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan, auditor memberikan kekayakinan berikut ini :
1. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan
keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.
2. Auditor dapat memberikan kekayakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit kompeten
yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan
auditan.
3. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat (atau memberikan informasi
dalam hal terdapat perkecualian), bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan disajikan
secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan dan kecurangan.
Dengan demikian ada dua konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan oleh auditor: konsep
materialitas dan konsep risiko audit. Karena auditor tidak memeriksa setiap transaksi yang dicerminkan
dalam laporan keuangan, maka ia bersedia menerima beberapa jumlah kekeliruan kecil.
Konsep materialitas menunjukan seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh auditor agar
pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh salah saji tersebut. Berapa jumlah kekeliruan atau
salah saji yang auditor bersedia untuk menerimanya dalam laporan keuangan, namun ia tetap dapat
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian karena laporan keuangan tidak berisi salah saji
material. Konsep risiko audit menunjukan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah
pendapatnya atas laporan yang sebenarnya berisi salah saji material.

F. Pembahasan Tentang Kondisi Yang Memerlukan Penyimpangan

Kategori utama pembatasan ruang lingkup audit ada 2, yaitu : pembatasan yang disebabkan oleh
klien, dan pembatasan oleh kondisi-kondisi yang berada di luar kendali klien dan auditor. Bila ada
pembatasan ruang lingkup maka responsnya ialah menerbitkan pendapat wajar tanpa pengecualian,
kualifikasi ruang lingkup dan pendapat audit, atau menolak memberikan pendapat tergantung
materialitasnya. Pembatasan yang disebabkan oleh klien perlu dipertimbangkan kemungkinan bahwa
manajemen kemungkinan berusaha mencegah ditemukannya informasi yang slaah saji.
Jika jumlahnya sangat material yang harus diterbitkan ialah menolak memberikan pendapat,
bukannya pendapat wajar dengan pengecualian, auditor hanya perlu menggunakan 3 paragraf. Jika
auditor tahu bahwa laporan keuangan dapat menyesatkankarena tidak disiapkan sesuai GAAP dan klien
tidak bersedia mengkoreksi salah saji itu, harus menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian atau
pendapat tidak wajar. Peraturan 203 dalam Kode Perilaku Profesional memperkenankan penyimpangan
dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum apabila auditor yakin bahwa ketaatan pada prinsip
tersebut akan menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan.
Jika auditor auditor tidak dapat memenuhi persyaratan independensi maka penolakan
memberikan pendapat harus dilakukan walaupun semua prosedur audit yang dianggap perlu dalam
situasi tersebut telah dilaksanakan. Tidak adanya independensi akan mengesampingkan semua
pembatasan ruang lingkup audit lainnya. Sehingga, tidak ada alasan lain untuk menolak memberikan
pendapat disinggung kembali. Akibatnya laporan audit ini merupakan laporan audit 1 paragraf.

G. Proses Pengambilan Keputusan Auditor Untuk Laporan Audit


1. Menentukan apakah ada kondisi yang memerlukan penyimpangan dari laporan wajar tanpa
pengecualian standar Auditor mengidentifikasi kondisi-kondisi yang ada ketika mereka
melaksanakan audit dan mencantumkan informasi tentang kondisi itu dalam file audit sebagai
bahan diskusi 1 guna pelaporan audit. laporan audit wajar tanpa pengecualian diterbitkan jika
kondisikondisi tersebut tidak ada.
2. Memutuskan materialitas untuk setiap kondisi Apabila ada kondisi yang memerlukan
penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian standar, auditor mengevaluasi pengaruh
potensialnya terhadap laporan keuangan.
3. Memutuskan jenis laporan audit yang tepat untuk kondisi tertentu berdasarkan tingkat
materialitas Memutuskan jenis pendapat yang tepat dengan menggunakan alat bantu pembuat
keputusan.
4. Menuliskan laporan audit Sebagian KAP memiliki template komputer yang berisi kata-kata yang
tepat untuk situasi berbeda guna membantu penuliskan laporan audit, selain itu ada partner yang
memliki kemampuan khusus menulis atau mereview seluruh laporan audit sebelum diterbitkan.
Berikut situasi yang membutuhkan lebih dari 1 modifikasi dalam pelaporan:
a. Auditor tidak independen dan mengetahui bahwa perusahaan tidak mengikuti prinsip
akuntansi yang berlaku umum
b. Terdapat pembatasan ruang lingkup audit
c. Keraguan yang substansial tentang kemampuan perusahaan untuk terus bertahan dan
informasi penyebabnya tidak diungkapkan secara memadai di catatan kaki
d. Penyimpangan terhadap GAAP dan prinsip akuntansi lainnya dengan tidak konsisten
dengan tahun sebelumnya.

H. Dampak E-Commerce Terhadap Pelaporan Audit


Kebanyakan perusahaan publik memberikan akses ke informasi keuangan melalui websitenya
seperti laporan keuangan tertentu perusahaan yang telah diaudit termasuk laporan auditor. Menurut
standar auditing yang berlaku saat ini, auditor tidak diwajibkan untuk membaca informasi dalam situs
elektronik. Standar auditing menyatakan bahwa situs elektronik adalah sarana untuk mendistribusikan
informasi dan bukan dianggap “dokumen” seperti istilah yang digunakan dalam standar auditing.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam mengkomunikasikan
kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan keuangan yang di audit. Dalam
menerbitkan laporan audit, auditor harus memenuhi empat standar pelaporan yang ditetapkan
dalam standar auditing yang berlaku umum.
Ada lima pokok tipe laporan Audit yang diterbikan oleh auditor adalah:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas yang ditambahkan dalam laporan
Audit bentuk baku (Unqualified opinion explanatory language)
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)
4. Pendapat tidak wajar (adverse Opinion)
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion)
Kondisi yang menyebabkan penyimpangan, kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan
auditor menerbitkan laporan. Penyimpangan dari laporan tergolong dalam salah satu dari dua
kategori berikut :
a. Laporan standar dengan bahasa penjelasan
b. Jenis-jenis pendapat lain.
DAFTAR PUSTAKA

Alvin A, Arens., K. Loebbecke, James. 2003. Auditing. Jakarta : Selaba Empat


Heri, 2011.Dasar-Dasar Pemeriksaan Akutansi.Jakarta : Kencana
http://adasemuua.blogspot.co.id/2015/05/materialitas-dan-risiko-audit-by-sani.html
Johnson Kell, Boynton. 2003. Modern Auditing. Jakarta : Erlangga
Mulyadi.2002.Auditing. Jakarta : Selamba Empat
Sukirno, Agus. 2012. Petunjuk Pratis Pemeriksaan Akutan Oleh Akutan Public.Jakarta :
Salamba Empat

Boynton Johnson Kell, Modern Auditing, (Jakarta : Erlangga,2003), hal. 73


Agus Sukirno, Petunjuk Pratis Pemeriksaan Akutan Oleh Akutan Public, (Jakarta :Salamba
Empat,2012), hal. 74-75
Heri, Dasar-Dasar Pemeriksaan Akutansi,(Jakarta :Kencana,2012), hlm. 2
Boynton Johnson Kell, Modern Auditing, (Jakarta : Erlangga,2003), hal. 53
Ibid., hal. 73-77
Arens Alvin A. and james K. loebbecke, Auditing, (Selaba Empat,2003, hlm. 36-37
Mulyadi,Auditing,(Jakarta : Selamba Empat,2002), hlm. 19
Heri, Dasar-Dasar Pemeriksaan Akutansi,(Jakarta : kencana,2011),hlm. 5
Arens.Alvin A. and james K. loebbecke, Auditing, (Selaba Empat,2003), hlm 38
Agus Sukirno, Petunjuk Pratis Pemeriksaan Akutan Oleh Akutan Public, (Jakarta :Salamba
Empat,2012), hal. 76
Mulyadi,Auditing, ( Jakarta : Selamba Empat,2002), hlm. 22
http://adasemuua.blogspot.co.id/2015/05/materialitas-dan-risiko-audit-by-sani.html
1
[13]13Boynton Johnson Kell, Op.,Cit, hal. 78