Anda di halaman 1dari 3

Stereotip dapat dilukiskan seperti "gambaran dalam kepala seseorang" dan terdiri dari

sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok. Padahal, bisa saja gambaran-
gambaran tersebut sebenarnya tidak akurat, karena stereotip merupakan suatu generalisasi
tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa perlu didukung
oleh fakta objektif. Dalam Tugas Pribadi ini saya akan menceritakan kisah saya yang
mengalami ketidaksetaraan gender,cerita yang saya ceritakan ini adalah cerita saya sendiri
dengan gaya bahasa saya sendiri.

Cerita saya mengalami ketidaksetaraan gender sebenarnya sudah dimulai sejak saya
kecil,yaitu ayah saya seringkali membanding-bandingkan saya dengan adik perempuan saya
mulai dari hal-hal kecil seperti,adik saya sering diberikan uang oleh ayah saya,diantar ke
sekolah dengan sepeda motor,diberikan hp/gadget,diles/bimbel sedangkan saya tidak pernah
mendapat itu semua,dan hal itu menimbulkan kecemburuan saya terhadap adik perempuan
akibat dari perbuatan ayah saya tersebut membuat adik saya menjadi manja dan sering
bertindak/berkata sesuka hati terhadap saya,saya pernah berpikir “ apakah semua ayah di
dunia ini mempunyai perilaku yang serupa seperti ayah saya?” kalau iya apakah saya juga
nantinya saya akan menjadi seperti ayah saya?”.

Sementara itu di sekolah juga saya seringkali mengalami kejadian stereotip seperti ketika
terlambat ke sekolah saya dan murid laki-laki lainnya mendapatkan hukuman mencuci wc
sekolah,memotong rumput,memindahkan properti sekolah seperti meja,lemari, da kursi
sedangkan yang perempuannya hanya menyapu koridor dan aula sekolah itupun dikerjakan
ramai-ramai,ditambah yang laki-laki mendapat hukuman fisik seperti push up, sit up dan lari
keliling lapangan sementara perempuan tidak mendapat hukuman fisik.hal-hal berikutnya
juga yang saya rasakan ketika di sekolah adalah beberapa oknum guru yang
menganakemaskan murid yang perempuan ketimbang yang laki-laki,hal ini tampak dari
ketika ada kuis dan bertanya seringkali murid perempuan lebih banyak mendapatkan
kesempatan dibandingkan murid yang laki-laki, saya pun berpikir demikian “ apakah dalam
hal pendidikan pun murid laki-laki selalu merasa terpinggirkan oleh karena stereotip laki-laki
itu pemalas?” untuk sementara saya mengalah pada pikiran saya tersebut dibuktikan murid
perempuan memang lebih rajin daripada murid laki-laki.

Cerita selanjutnya di keluarga saya yaitu saya sebagai anak laki-laki pertama merasa saya
semakin tidak dihargai oleh ayah saya dan ayah saya pun sering bertindak/berkata semena-
mena terhadap saya sementara itu adik saya yang perempuan juga semakin semena-mena
terhadap saya sampai saya tamat SMA pun saya juga diperlakukan seperti itu sampai suatu
ketika ayah saya berkata” kamu kan laki-laki sudah dewasa,sekarang tugasmu adalah mencari
pekerjaan” padahal saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi
mengingat cita-cita saya ingin menjadi seorang dosen,hari-hari berlalu saya ditekan dengan
perkataan itu berulang-ulang yang membuat saya semakin tidak nyaman dan pada akhirnya
saya pun memutuskan untuk merantau ke luar kota dengan tujuan untuk menghindari
pertikaian dengan ayah saya,tepatnya pada tahun 2018 saya merantau ke kota Yogyakarta dan
berkuliah disana, selama saya berkuliah pun saya jarang meminta uang kiriman ke orang tua
karena saya kuliah sambil bekerja,selama saya tinggal di kota Yogyakarta pun saya banyak
mengalami kejadian serupa yaitu ketidakadilan gender mulai dari di tempat saya bekerja di
sebuah motel , dimana yang banyak mendapatkan fasilitas seperti seragam,transportasi
makan siang dari motel itu adalah pegawai perempuan, sementara pegawai laki-laki seperti
saya ini tidak mendapatkan itu semua, untuk mobilisasi dari kos saya ke tempat saya bekerja
saya menggunakan uang pribadi saya,tapi untungnya biaya hidup di kota Yogyakarta yang
bisa dibilang murah jadi untuk transportasi saya menggunakan bus transjogjakarta yang
pulang-perginya saya hanya menghabiskan Rp 7000,- sementara untuk sekali makan saya
menghabiskan sekitar Rp 8000,- dan di tahun 2019 ibu saya menyuruh saya pulang ke
sumatera utara dan menyuruh saya kuliah di Medan,saya pun mengikuti SBMPTN dan lulus
di pilihan pertama yaitu Sosiologi di Universitas Sumatera Utara.

Mungkin itu saja cerita yang pernah saya alami tentang ketidaksetaraan gender yang
kebanyakan adalah diskriminasi gender/stereotip gender dan ada juga beban ganda(beban
banyak).

Analisis saya mengenai pengalaman pribadi saya ini adalah:

Saya sebagai korban dari stereotip tentang laki-laki merupakan sosok yang mandiri
tidak memerlukan perhatian khusus seperti perempuan yang harus
dilindungi,mendapat segala fasilitas padahal hakikatnya gender merupakan sesuatu
yang dibawa dari lahir dan gender itu sendiri tidak mempengaruhi seberapa kuat atau
lemahnya manusia.
Solusi dari saya adalah pada lembaga keluarga dihimbau memberikan sosialisasi sejak
dini kepada anak bahwa laki-laki dan perempuan itu sama dan kepada lembaga
pendidikan seperti sekolah,kampus/universitas maupun lembaga pendidikan non
formal lainnya agar melakukan hal yang sama terlebih lagi di masyarakat guna
menghentikan stereotip yang mengatakan bahwa korban ketidaksetaraan gender
adalah selalu perempuan dan laki-laki adalah pelaku nya kenyataanya justru laki-laki
lah yang mendapat perlakuan yang diskriminatif dari masyakarat.
Adapun faktor yang mempengaruhi ketidaksetaraan gender adalah karena adanya
keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam
berbagai bentuk ketidakadilan denger dalam hidup ini.
Beberapa teori kesetaraan gender Menurut Sasongko (2009) adalah:
a. Teori Nurture
Menurut teori nurture adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah hasil
konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.
Perbedaan itu membuat perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan
kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas.
Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai kelas proletar.
b. Teori Nature
Menurut teori nature adanya pembedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat,
sehingga harus diterima. Perbedaan biologis itu memberikan indikasi dan implikasi
bahwa diantara kedua jenis kelamin tersebut memiliki peran dan tugas yang berbeda.
Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada yang tidak bisa karena
memang berbeda secara kodrat alamiahnya.
c. Teori Equilibrium
Di samping kedua aliran tersebut terdapat kompromistis yang dikenal dengan
keseimbangan (equilibrium) yang menekankan pada konsep kemitraan dan
keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dengan laki-laki. Pandangan ini
tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki-laki, karena keduanya
harus bekerja sama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, bangsa dan Negara