Anda di halaman 1dari 43

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PASIEN LANSIA

DENGAN PENYAKIT DEGENERATIF (DIABETES MELITUS)


Dosen Pembimbing : Yeni Isnaeni, S.Kep., Ns., M.Kep.

DISUSUN OLEH :
1. Tiana putri ladjamu (04174537)
2. Uwla nurlailla (04174540)
3. Widowati galuh pramesti (04174542)
4. Wilya sinta frisca tanjung sari (04174543)
5. Yesita Nurdiasti (04174544)

B/KP/VII

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN STIKES SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
Keperwatan Gerontik, dengan tepat pada waktunya. Salawat dan taslim
senantiasa tercurah kepada junjugan kita Nabi besar Muhammad SAW,
keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang senantiasa bertasbih
sepanjangmasa.
Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai Asuhan Keperawatan
Keluarga Pada Lansia Dengan Penyakit Degeneratif (Hipertensi). Diharapkan
makalah ini dapat memberikan informasi mengenai perkembangan
Keperawatan Dunia dan Indonesia.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.

Yogyakarta, September2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI
COVER ............................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I .................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ............................................................................................... 4
A. LATAR BELAKANG .............................................................................. 4
B. RUMUSAN MASALAH .......................................................................... 5
C. TUJUAN .................................................................................................. 5
BAB II ................................................................................................................. 6
TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 7
A. KONSEP MEDIS LANSIA ...................................................................... 7
1. Definisi Lansia....................................................................................... 7
2. Penyebab Terjadinya Penuaan Pada Lansia ............................................ 7
3. Perubahan Lansia PadaSistemEndokrin . Error! Bookmark not defined.
4. Patofisiologi Penyakit Diabetes Akibat Penuaan .................................... 7
5. Karakteristik Penyakit Diabetes Mellitus Pada Lansia ............................ 8
6. Pencegahan Penyakit Diabetus Melitus Pada Lansia .............................. 9
B. KONSEP KEPERAWATAN GERONTIK ............................................. 10
1. Pengkajian ........................................................................................... 10
2. Diagnosa keperawatan ......................................................................... 12
3. Intervensi ............................................................................................. 13
BAB III............................................................................................................. 24
TINJAUAN KASUS .......................................................................................... 24
A. PENGKAJIAN ....................................................................................... 24
B. ANALISA DATA .................................................................................. 30
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN............................................................. 32
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN ...................... 35
BAB IV ............................................................................................................. 38
PEMBAHASAN ................................................................................................ 38
A. TAHAP PENGKAJIAN ......................................................................... 38
B. TAHAP DIAGNOSA KEPERAWATAN ............................................... 39
C. TAHAP INTERVENSI .......................................................................... 40
D. TAHAP IMPLEMENTASI .................................................................... 41
E. EVALUASI ............................................................................................ 41
BAB V............................................................................................................... 42
PENUTUP ......................................................................................................... 42
A. KESIMPULAN ...................................................................................... 42
B. SARAN .................................................................................................. 42
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 43

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam
kehidupan manusia. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai
dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai
dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh
darah, pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut
disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur
dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Pada usia lanjut terjadi perubahan
anatomik-fisiologik dan dapat timbul pula penyakit-penyakit pada sistem endokrin
khususnya penyakit diabetes mellitus. Perubahan tersebut pada umumnya
berpengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya
akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan
berpengaruh pada activity of daily living (Fatmah, 2010). Usia harapan hidup
lansia di Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status kesehatan, status
gizi, tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang semakin
meningkat sehingga populasi lansia pun meningkat.
Penyakit DM sering terjadi pada kaum lanjut usia. Diantara individu yang
berusia >65 tahun, 8,6 % menderita DM tipe II. Angka ini mencakup 15 %
populasi pada panti lansia (Steele, 2008). Laporan statistik dari International
Diabetik Federation menyebutkan, bahwa sudah ada sekitar 230 juta orang pasien
DM. Angka ini terus bertambah hingga 3 % atau sekitar 7 juta orang tiap
tahunnya. Dengan demikian, jumlah pasien DM diperkirakan akan mencapai 350
juta orang pada tahun 2025 dan setengah dari angka tersebut berada di Asia,
terutama India, Cina, Pakistan, dan Indonesia (Tandra, 2007).
Kasus Diabetes Mellitus (DM) sebanyak 28.858 kasus diderita usia 45-64
tahun, yang terdiri 4.438 DMTI (Diabetes Mellitus Tergantung Insulin) atau DM

4
tipe 1 dan 24.420 DMTTI (Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin) atau DM
tipe 2. Sedangkan usia >65 tahun terdapat 11.212 kasus DM, yang terdiri 3.820
DMTI (Diabetes Mellitus Tergantung Insulin) atau DM tipe 1 dan 7.392 DMTTI
(Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin) atau DM tipe 2 (Profil Kesehatan
Kota Semarang, 2010).
Diabetes melitus pada lanjut usia umumnya adalah diabetes tipe yang tidak
tergantung insulin (NIDDM). Prevalensi diabetes melitus makin meningkat pada
lanjut usia. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus di beberapa negara
berkembang akibat peningkatan kemakmuran di negara yang bersangkutan
dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain peningkatan pendapatan perkapita dan
perubahan gaya hidup terutama di kota besar menyebabkan peningkatan
prevalensi penyakit degeneratif.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Lansia?
2. Apa Penyebab Terjadinya Penuaan Pada Lansia?
3. Bagaimana Perubahan Lansia Pada Sistem Endokrin?
4. Bagaimana Patofisiologi Penyakit Diabetes Mellitus Akibat Penuaan?
5. Apa Karakteristik Penyakit Diabetes Melitus Pada Lansia?
6. Bagaimana Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus Pada Lansia?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan Keluarga Gerontik Dengan Penyakit
Diabetes Melitus?

C. TUJUAN
1. Umum
Mampu memberikan asuhan kperawatan pada lansia secara profesional
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian keperawatan keluarga gerontik pada Ny.S
dengan diabetes mellitus.
b. Menganalisa masalah kesehatan keluarga Ny.S dengan diabetes

5
mellitus.
c. Merencanakan tindakan keperawatan berdasarkan kebutuhan keluarga
Ny.S dengan diabetes mellitus.
d. Melakukan tindakan keperawatan dalam pencegahan, penyembuhan
dan pemulihan berdasarkan masalah yang dialami keluarga Ny.S
dengan diabetes mellitus.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan pada keluarga
Ny.S dengan diabetes mellitus.

BAB II

6
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS LANSIA
1. Definisi Lansia
Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia.
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari
satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua
merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik
secara biologis, maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami
kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan lambat, dan postur tubuh
yang tidak proforsional (Nugroho, 2008).
2. Penyebab Terjadinya Penuaan Pada Lansia
Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui
proses penuaan. Pada dasarnya berbagai faktor tersebut dapat dikelompokkan
menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal adalah
radikal bebas, hormon yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, sistem
kekebalan tubuh yang menurun dan juga faktor genetik. Sedangkan faktor
eksternal adalah gaya hidup yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, kebiasaan
hidup yang salah, paparan polusi lingkungan dan sinar ultraviolet, stres dan
penyebab sosial lain seperti kemiskinan. Kedua faktor ini saling terkait dan
memainkan peran yang besar dalam penyebab proses penuaan (Uchil Nissa,
2014).
3. Patofisiologi Penyakit Diabetes Akibat Penuaan
Diabetes mellitus adalah “suatu gangguan metabolik yang melibatkan
berbagai sistem fisiologi, yang paling kritis adalah melibatkan metabolisme
glukosa.” Fungsi vaskular, renal, neurologis dan penglihatan pada orang yang
mengalami diabetes dapat terganggu dengan proses penyakit ini, walaupun
perubahan-perubahan ini terjadi pada jaringan yang tidak memerlukan insulin
untuk berfungsi (Stanley, Mickey, 2006).

7
Beberapa kondisi dapat menjadi predisposisi bagi seseorang untuk
mengalami diabetes, walaupun terdapat dua tipe yang dominan. Diabetes
mellitus tergantung insulin (Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)),
atau diabetes tipe I, terjadi bila seseorang tidak mampu untuk memproduksi
insulin endigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Tipe diabetes
ini terutama dialami oleh orang yang lebih muda. Diabetes mellitus tidak
tergantung insulin (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)) atau
diabetes tipe II, adalah bentuk yang paling sering pada penyakit ini. Antara
85-90 % orang dengan diabetes memiliki tipe NIDDM, yang lebih dekat
dihubungkan dengan obesitas daripada dengan ketidakmampuan untuk
memproduksi insulin (Stanley, Mickey, 2006).
NIDDM, bentuk penyakit yang paling sering diantara lansia, adalah
ancaman serius terhadap kesehatan karena beberapa alasan. Pertama,
komplikasi kronis yang dialami dalam hubungannya dengan fungsi
penglihatan, sirkulasi, neurologis, dan perkemihan dapat lebih menambah
beban pada sistem tubuh yang telah mengalami penurunan akibat penuaan.
Kedua, sindrom hiperglikemia hipeosmolar nonketotik, suatu komplikasi
diabetes yang dapat mengancam jiwa meliputi hiperglikemia, peningkatan
osmolalitas serum, dan dehidras, yang terjadi lebih sering di antara lansia
(Stanley, Mickey, 2006).
4. Karakteristik Penyakit Diabetes Mellitus Pada Lansia
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan
karakteristik peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi
akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Glukosa dibentuk
di hati dari makanan yang dikonsumsi dan secara normal bersirkulasi dalam
jumlah tertentu dalam darah. Insulin merupakan suatu hormon yang
diproduksi pankreas yang berfungsi mengendalikan kadar glukosa dalam
darah dengan mengatur produksi dan penyimpanannya (American Diabetes
Assosiation, 2004 dalam Smeltzer&Bare, 2008).
Secara klinis terdapat dua tipe DM yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM
tipe 1 disebabkan karena kurangnya insulin secara absolut akibat proses

8
autoimun sedangkan DM tipe 2 merupakan kasus terbanyak (90-95% dari
seluruh kasus diabetes) yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan
diawali dengan resistensi insulin (American Council on Exercise, 2001;
Smeltzer&Bare, 2008). DM tipe 2 berlangsung lambat dan progresif,
sehingga tidak terdeteksi karena gejala yang dialami pasien sering bersifat
ringan seperti kelelahan, iritabilitas, poliuria,polidipsi dan luka yang lama
sembuh (Smeltzer&Bare, 2008).
5. Pencegahan Penyakit Diabetus Melitus Pada Lansia
a. Pencegahan primer
Pendidikan tentang kebutuhan diet mungkin diperlukan. Suatu
perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% protein, dan 75%
karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes.
Kandungan rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah
arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor insulin
(Stanley, Mickey, 2006).
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes.
Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan
permulaan yang sanga baik untuk para pemula.
b. Pencegahan sekunder
1) Penapisan
Kadar gula darah harus diperiksa secara rutin sebagai
komponen dari penapisan, tetapi hasil yang negatif dalam gejala
ringan yang lain tidak dapat dianggap sebagai suatu kesimpulan. Tes
toleransi glukosa oral pada umumnya dianggap lebih sensitif dan
merupakan indikator yang dapat diandalkan daripada kadar glukosa
darah puasa dan harus dilakukan untuk menentukan diagnosis dan
perawatan awal NIDDM (Stanley, Mickey, 2006).
2) Nutrisi
Perawat yang membantu lansia dalam merencanakan makan
dapat mengambil kesempatan untuk memberikan pendidikan kepada
klien tentang prinsip umum nutrisi yang baik. Perawat dapat

9
mengajarkan klien tentang membaca label untuk menghindari asupan
sehari-hari, memilih sumber-sumber makanan rendah kolesterol, dan
memasukkan serat yang adekuat dalam diet mereka (Stanley,
Mickey, 2006).
3) Olahraga
Untuk lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung
meningkatkan fungsi fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa
darah, meningkatkan stamina dan kesejahteraan emosional, dan
meningkatkan sirkulasi. Walaupun berenang dan berjalan cepat telah
dinyatakan sebagai pilihan yang sangat baik untuk lansia dengan
NIDDM, tipe aktivitas lainnya juga sama-sama bermanfaat.
Khususnya, aerobik yang menawarkan manfaat paling banyak.
Seseorang dengan NIDDM harus melakukan latihan minimal satu
kali setiap 3 hari (Stanley, Mickey, 2006).
4) Pengobatan
Bila intervensi sebelumnya tidak berhasil dalam memodifikasi
kadar gula darah dan gejala-gejala, terapi agens oral dan insulin akan
diperlukan untuk menambah suplai dari tubuh (Stanley, Mickey,
2006).

B. KONSEP KEPERAWATAN GERONTIK


1. Pengkajian
Tujuan :
a. Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
b. Melengkapi dasar – dasar rencana perawatan individu.
c. Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
d. Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.
Meliputi aspek gerontik:
a. Fisik
1) Wawancara
a) Pandangan lanjut usia tentang kesehatan.

10
b) Kegiatan yang mampu di lakukan lanjut usia.
c) Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri.
d) Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan
pndengaran.
e) Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, BAB/BAK.
f) Kebiasaan gerak badan / olahraga /senam lanjut usia.
g) Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna
dirasakan.
h) Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan
kebiasaan dalam minum obat.
i) Masalah-masalah seksual yang telah di rasakan.
2) Pemeriksaan fisik
a) Pemeriksanaan di lakukan dengan cara inspeksi, palpilasi,
perkusi, dan auskultasi untuk mengetahui perubahan sistem
tubuh.
b) Pendekatan yang di gunakan dalam pemeriksanaan fisik,yaitu :
Head to toe.
3) Psikologis
a) Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
b) Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak.
c) Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.
d) Bagaimana mengatasi stress yang di alami.
e) Apakah mudah dalam menyesuaikan diri.
f) Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan.
g) Apakah harapan pada saat ini dan akan datang.
h) Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses
pikir, alam perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam
penyelesaikan masalah.
4) Sosial ekonomi
a) Darimana sumber keuangan lanjut usia
b) Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang.

11
c) Dengan siapa dia tinggal.
d) Kegiatan organisasi apa yang di ikuti lanjut usia.
e) Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya.
f) Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di
luar rumah.
g) Siapa saja yang bisa mengunjungi.
h) Seberapa besar ketergantungannya.
i) Apakah dapat menyalurkan hoby atau keinginannya dengan
fasilitas yang ada.

5) Spiritual
a) Apakah secara teratur malakukan ibadah sesuai dengan
keyakinan agamanya.
b) Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam
kegiatan keagamaan, misalnya pengajian dan penyantunan
anak yatim atau fakir miskin.
c) Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah
dengan berdoa.
d) Apakah lanjut usia terlihat tabah dan tawakal.
2. Diagnosa keperawatan
a. Aspek fisik atau biologis
1) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan tidak mampu dalam memasukkan, memasukan, mencerna,
mengabsorbsi makanan karena factor biologi.
2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu
lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan
kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur
dan cemas.
3) Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan
neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet

12
melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu
mengontrol pengosongan.
4) Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau
kerusakan memori sekunder.
5) Seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang
ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual.
6) Kelemahan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
musculoskeletal dan neuromular.
7) Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik kurang.
8) Risiko kerusakan integritas kulit.
9) Kerusakan memori berhubungan dengan gangguan neurologis.
(NANDA, 2006)
b. Aspek psikososial
1) Koping tidak efektif berhubungan dengan percaya diri tidak adekuat
dalam kemampuan koping, dukungan social tidak adekuat yang
dibentuk dari karakteristik atau hubungan.
2) Isolasi social berhubungan dengan perubhaan penampilan fisik,
peubahan keadaan sejahtera, perubahan status mental.
3) Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan
peran, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
4) Cemas berhubungan dengan perubahan dalam status peran, status
kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi.
5) Resiko kesendirian.
(NANDA, 2006)
c. Aspek spiritual
Distress spiritual berhubungan dengan peubahan hidup, kematian
atau sekarat diri atau orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian
atau pengasingan social, kurang sosiokultural (NANDA, 2006).
3. Intervensi
Intervensi keperawatan (NANDA, 2006)
No Diagnosa keperawatan NOC NIC

13
.
Aspek fisik atau biologis
1. Ketidakseimbangan Status nutrisi Manajemen
nutrisi : kurang dari Setelah dilakukan intervensi ketidakteraturan makan
kebutuhan tubuh keperawatan selama 3x24 (eating disorder
berhubungan dengan jam pasien diharapkan management)
tidak mampu dalam mampu: 1. Kolaborasi dengan
memasukkan, 1. Asupan nutrisi tidak anggota tim kesehatan
memasukan, mencerna, bermasalah untuk memuat
mengabsorbsi makanan 2. Asupan makanan dan perencanaan
karena factor biologi. cairan tidak perawatan jika sesuai.
bermasalah 2. Diskusikan dengan
3. Energy tdak tim dan pasien untuk
bermasalah membuat target berat
4. Berat badan ideal badann, jika berat
badan pasien tdak
sesuia dengan usia
dan bentuk tubuh.
3. Diskusikan dengan
ahli gizi untuk
menentukan asupan
kalori setiap hari
supaya mencapai dan
atau mempertahankan
berat badan sesuai
target.
4. Ajarkan dan kuatkan
konsep nutrisi yang
baik pada pasien
5. Kembangkan

14
hubungan suportif
dengna pasien.
6. Dorong pasien untuk
memonitor diri sendiri
terhadap asupan
makanan dan
kenaikan atau
pemeliharaan berat
badan.
7. Gunakan teknik
modifikasi tingkah
laku untuk
meningkatkan berat
badan dan untuk
menimimalkan berat
badan.
8. Berikan pujian atas
peningkatan berat
badan dan tingkah
laku yang mendukung
peningkatan berat
badan.
2. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan Peningkatan tidur
berhubungan dengan keperawatan selama 2x24 1. Tetapkan pola
insomnia dalam waktu jam pasien diharapkan kegiatan dan tidur
lama, terbangun lebih dapat memperbaiki pola pasien.
awal atau terlambat tidurnya dengan kriteria : 2. Monitor pola tidur
bangun dan penurunan 1. Mengatur jumlah jam pasien dan jumlah
kemampuan fungsi yng tidurnya jam tidurnya.
ditandai dengan penuaan 2. Tidur secara rutin 3. Jelaskan pentingnya
perubahan pola tidur dan 3. Miningkatkan pola tidur selama sakit dan

15
cemas. tidur stress fisik.
4. Meningkatkan kualitas 4. Bantu pasien untuk
tidur menghilangkan situasi
5. Tidak ada gangguan stress sebelum jam
tidur tidurnya.
3. Inkontinensia urin Setelah dilakukan intervensi Perawatan inkontinensia
fungsional berhubungan keperawatan selama 3x24 urin
dengan keterbatasan jam diharapkan pasien 1. Monitor eliminasi
neuromuskular yang mampu : urin.
ditandai dengan waktu 1. Kontinensia urin 2. Bantu klien
yang diperlukan ke toilet 2. Merespon dengan mengembangkan
melebihi waktu untuk cepat keinginan buang sensasi keinginan
menahan pengosongan air kecil (BAK) BAK.
bladder dan tidak mampu 3. Mampu mencapai 3. Modifikasi baju dan
mengontrol pengosongan. toilet dan lingkungan untuk
mengeluarkan urin memudahkan klien ke
secara tepat waktu toilet.
4. Mengosongkan bladder 4. Instruksikan pasien
dengan lengkap untuk mengonsumsi
5. Mampu memprediksi air minum sebanyak
pengeluaran urin 1500 cc/hari.
4. Gangguan proses berpikir Setelah dilakukan intervensi Latihan daya ingat
berhubungan dengan keperawatan selama 2x24 1. Diskusi dengan pasien
kemunduran atau jam pasien diharapkan dan keluarga beberapa
kerusakan memori dapat meningkatkan daya masalah ingatan.
sekunder. ingat dengan kriteria : 2. Rangsang ingatan
1. Mengingat dengan dengan mengulang
segera informasi yang pemikiran pasien
tepat kemarin dengan
2. Mengingat inormasi cepat.

16
yang baru saja 3. Mengenangkan
disampaikan tentang pengalaman
3. Mengingat informasi di masalalu dengan
yang sudah lalu pasien.

5. Seksual berhubungan Fungsi seksual Konseling seksual


dengan perubahan 1. Mengekspresikan 1. Bantu pasien untuk
struktur tubuh/fungsi kenyamanan mengekspresikan
yang ditandai dengan 2. Mengekspresikan perubahan fungsi
perubahan dalam kepercayaan diri tubuh termasuk organ
mencapai kepuasan seksual seiring
seksual. dengan bertambahnya
usia.
2. Diskusikan beberapa
pilihan agar dicapai
kenyamanan.
6. Kelemahan mobilitas Level mobilitas (mobility Latihan dengan terapi
fisik berhubungan dengan level) gerakan (exercise
kerusakan Setelah dilakukan intervensi therapy ambulation)
musculoskeletal dan keperawatan selama 2x24 1. Kosultasi kepada
neuromular. jam diharapkan pasien pemberi terapi fisik
dapat : mengenai rencana
1. Memposisikan gerakan yang sesuai
penampilan tubuh dengan kebutuhan.
2. Ambulasi : berjalan 2. Dorong untuk
3. Menggerakan otot bergerak secara bebas
4. Menyambung namun masih dalam
gerakan/mengkolabora batas yang aman.
sikan gerakan 3. Gunakan alat bantu
untuk bergerak, jika

17
tidak kuat untuk
berdiri (mudah
goyah/tidak kokoh).

7. Kelelahan berhubungan Activity tolerance Energy management


dengan kondisi fisik Setelah dilakukan intervensi 1. Monitor intake nutrisi
kurang. keperawatan selama 2x24 untuk memastikan
jam diharapkan pasien sumber energi yang
dapat: adekuat.
1. Memonitor usaha 2. Tentukan
bernapas dalam respon keterbatasan fisik
aktivitas pasien.
2. Melaporkan aktivitas 3. Tentukan penyebab
harian kelelahan.
3. Memonitor ECG dalam 4. Bantu pasien untuk
batas normal jadwal istirahat.
4. Memonitor warna kulit
8. Risiko kerusakan Kontrol risiko (risk control) Penjagaan terhadap kulit
integritas kulit Setelah dilakukan intervensi (skin surveillance)
keperawatan selama 2x24 1. Monitor area kulit
jam diharapkan pasien yang terlihat
dapat : kemerahan dan
1. Kontrol perubahan adanya kerusakan.
status kesehatan 2. Monitor kulit yang
2. Gunakan support sering mendapat
system pribadi untuk tekanan dan gesekan.
mengontrol risiko 3. Monitor warna kulit.
3. Mengenal perubahan 4. Monitor suhu kulit.
status kesehatan 5. Periksa pakaian, jika
4. Monitor factor risiko pakaian terlihat terlalu

18
yang berasal dari ketat.
lingkungan
9. Kerusakan memori Orientasi kognitif Pelatihan memori
berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi (memory training)
gangguan neurologis. keperawatan selama 2x24 1. Stimulasi memory
jam diharapkan pasien dengan mengulangi
dapat : pembicaraan secara
1. Mengenal diri sendiri jelas di akhir
2. Mengenal orang atau pertemuan dengan
hal penting pasien.
3. Mengenal tempatnya 2. Mengenang
sekarang pengalaman masa lalu
4. Mengenal hari, bulan, dengan pasien.
dan tahun dengan 3. Menyediakan gambar
benar untuk mengenal
ingatannya kembali.
4. Monitor perilaku
pasien selama terapi.
Aspek psikososial
1. Koping tidak efektif Koping (coping) Koping enhancement
berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi 1. Dorong aktifitas
percaya diri tidak adekuat keperawatan selama 3x24 social dan komunitas
dalam kemampuan jam pasien secara konsisten 2. Dorong pasien untuk
koping, dukungan social diharapkan mampu : mengembangkan
tidak adekuat yang 1. Mengidentifikasi pola hubungan.
dibentuk dari koping efektif 3. Dorong berhubungan
karakteristik atau 2. Mengedentifikasi pola dengan seseorang
hubungan. koping yang tidak yang memiliki tujuan
efektif dan ketertarikan yang
3. Melaporkan penurunan sama.

19
stress 4. Dukung pasein untuk
4. Memverbalkan control menguunakan
perasaan mekanisme
5. Memodifikasi gaya pertahanan yang
hidup yang dibutuhkan sesuai.
6. Beradaptasi dengan 5. Kenalkan pasien
perubahan kepada seseorang
perkembangan yang mempunyai latar
7. Menggunakan belakang pengalaman
dukungan social yang yang sama.
tersedia
8. Melaporkan
peningkatan
kenyamanan psikologis
2. Isolasi social Lingkungan keluarga : Keterlibatan keluarga
berhubungan dengan internal (family (family involvement)
perubhaan penampilan environment: interna) 1. Mengidentifikasikan
fisik, peubahan keadaan Setelah dilakukan intervensi kemampuan anggota
sejahtera, perubahan keperawatan selama 3x24 keluarga untuk
status mental. jam pasien secara konsisten terlibat dalam
diharapkan mampu : perawatan pasien.
1. Berpatisipasi dalam 2. Menentukan sumber
aktifitas bersama fisik, psikososial dan
2. Berpatisipasi dalam pendidikan pemberi
tradisi keluarga pelayanan kesehatan
3. Menerima kunjungan yang utama.
dari teman dan anggota 3. Mengidentifkasi
keluarga besar deficit perawatan diri
4. Memberikan dukungan pasien.
satu sama lain 4. Menentukan tinggat
5. Mengekspresikan ketergantungan pasien

20
perasaan dan masalah terhadap keluarganya
kepada yang lain. yang sesuai dengan
6. Mendorong anggota umur atau
keluarga untuk tidak penyakitnya.
ketergantungan
7. Berpatisipasi dalam
rekreasi dan acara
aktifitas komunitas
8. Memecahkan masalah
3. Gangguan harga diri Setelah dilakukan tindakan Peningkatan harga diri
berhubungan dengan intervensi keperawatan 1. Kuatkan rasa percaya
ketergantungan, selama 2x24 jam pasien diri terhadap
perubahan peran, diharapkan akan bisa kemampuan pasien
perubahan citra tubuh dan memperbaiki konsep diri mengndalikan situasi.
fungsi seksual. dengan criteria : 2. Menguatkan tenaga
1. Mengidentifikasi pola pribadi dalam
koping terdahulu yang mengenal dirinya.
efektif dan pada saat 3. Bantu pasien untuk
ini tidak mungkin lagi memeriksa kembali
digunakan akibat persepsi negative
penyakit dan tentang dirinya.
penanganan
(pemakaian alkohol
dan obat-obatan;
penggunaan tenaga
yang berlebihan)
2. Pasien dan keluarga
mengidentifikasi dan
mengungkapkan
perasaan dan reaksinya
terhadap penyakit dan

21
perubahan hidup yang
diperlukan
3. Mencari konseling
profesional, jika perlu,
untuk menghadapi
perubahan akibat
penyakitnya
4. Melaporkan kepuasan
dengan metode
ekspresi seksual
4. Cemas berhubungan Anxiety control Anxiety reduction
dengan perubahan dalam Setelah dilakukan intervensi 1. Bantu pasien untuk
status peran, status keperawatan selama 2x24 menidentifikasi
kesehatan, pola interaksi, jam diharapkan pasien situasi percepatan
fungsi peran, lingkungan, dapat: cemas.
status ekonomi. 1. Memonitor intensitas 2. Dampingi pasien
cemas untuk
2. Melaporkan tidur yang mempromosikan
adekuat kenyamanan dan
3. Mengontrol respon mengurangi
cemas ketakutan.
4. Merencanakan strategi 3. Identifikasi ketika
koping dalam situasi perubahan level
stress cemas.
4. Instuksikan pasien
dalam teknik
relaksasi.
5. Resiko kesendirian Family Coping Family support
Setelah dilakukan intervensi 1. Bantu pekembangan
keperawatan selama 2x24 harapan yang realistis.

22
jam diharapkan pasien 2. Identifikasi alami
dapat: dukungan spiritual
1. Mendemontrasikan bagi keluarga.
fleksibelitas peran 3. Berikan kepercayaan
2. Mengatur masalah dalam hubungan
3. Menggunakan strategi dengan keluarga.
pengurangan stress 4. Dengarkan untuk
4. Menghadapi masalah berhubungan dengan
keluarga, perasan dan
pertanyaan.
6. Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan intervensi Peningkatan citra tubuh
berhubungan dengan keperawatan selama 2x24 1. Bantu pasien untuk
perubahan dan jam pasien diharapkan mendiskusikan
ketergantungan fisik meningkatkan citra perubahan karena
(ketidakseimbangan tubuhnya dengan criteria : penyakit atau
mobilitas) serta 1. Merasa puas dengan pembedahan.
psikologis yang penampilan tubuhnya 2. Memutuskan apakah
disebabkan penyakit atau 2. Merasa puas dengan perubahan fisik yang
terapi. fungsi anggota baru saja diterima
badannya dapat masuk dalam
3. Mendiskripsikan citra tubuh pasien.
bagian tubuh tambahan 3. Memudahkan
hubungan dengan
individu lain yang
mempunyai penyakit
yang sama.
Aspek spiritual
1. Distress spiritual Pengharapan (hope) Penanaman harapan
berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi (hope instillation)
peubahan hidup, keperawatan selama 3x24 1. Mengkaji pasian atau

23
kematian atau sekarat diri jam pasien secara luas keluarga untuk
atau orang lain, cemas, diharapkan mampu : mengidentifikasi area
mengasingkan diri, 1. Mengekspresikan pengharapan dalam
kesendirian atau orientasi masa depan hidup.
pengasingan social, yang positif 2. Melibatkan pasien
kurang sosiokultural. 2. Mengekspresikan arti secara aktif dalam
kehidupan perawatan diri.
3. Mengekspresikan rasa 3. Mengajarkan keluarga
optimis tentang aspek positif
4. Mengekspresikan pengharapan.
perasaan untuk
mengontrol diri sendiri
5. Mengekspresikan
kepercayaan
6. Mengekspresikan rasa
percaya pada diri
sendiri dan orang lain

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN

24
KASUS
Tn. Z berumur 65 tahun adalah seorang kepala keluarga. Tn. Z tinggal dengan istri
(Ny. S ) yang berumur 60 tahun dan anaknya dalan satu rumah. Ny. S sekarang
mengidap penyakit Diabetes Militus.Tn.Z sekarang bekerja sebagai nelayan dan
Ny. S hanya menjaga warung di samping rumahnya.Ny. S jga mengatakan bahwa
dia tidak memiliki penyakit apapun.
1. Pengumpulan data
a. Identitas
Ny.S berumur 60 tahun, jenis kelamin perempuan, sudah kawin,
beragama islam, suku jawa dan berkebangsaan Indonesia.
b. Riwayat pekerjaan dan status ekonomi
Ny. S mengatakan semenjak sakit diabetes tidak bekerja lagi hanya
Ny.S menjaga warung disamping rumahnya. Ny.S bekerja sebagai petani.
pekerjaan Tn.Z sebagai nelayan dan menjual ikan hasil tangkapannya ke
pasar. Pendapatan Ny.S tidak menentu dalam 1 bulan, yaitu ±
350.000/bulan dan pendapatan Tn. Z juga tidak menentu, dalam satu
bulan yaitu sekitar 400.000 Dan anak satu-satunya terkadangmemberi
uang tambahan pada orang tuanya walaupun tidak tiap bulan.
c. Lingkungan tempat tinggal kebersihan dan kerapihan
Rumah Tn.Z merupakan rumah milik pribadi dengan ukuran kurang
lebih 100 m2. Termasuk rumah permanent, berdinding tembok lantainya
dari semen. Mempunyai 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 ruang makan, 1
dapur , 1 kamar mandi dan WC. Saat dilakukan pengkajian ventilasi
rumah sudah mencukupi 10% dari total bangunan dan lingkungannya
tampak kurang bersih, banyak lawa-lawa diventilasi dan jendela.
Penerangan dalam ruangan dirumah Tn.Z kurang terang pada siang
hari dikarenakan jendela rumah jarang dibuka sehingga sirkulasi dalam
ruangan tidak nyaman, keadaan kamar tidur kurang rapi, dapur terlihat
berantakan karena alat-alat dapur tidak disusun dengan rapi, kamar mandi
tampak kotor dan berlumut.
Keluarga memperoleh air minum dari sumur pompa yang ada

25
dirumahnya. Kualitas air jernih dan tidak berbau. Keluarga selalu
memasak air sumur sampai mendidih.Persediaan air mencukupi
kebutuhan keluarga, apabila pompa rusak keluarga berusaha untuk
membeli air minum.
Keluarga mempunyai jamban sendiri, pembuangan tinja melalui
septik tank. Kebiasaan keluarga Tn.Z memelihara jamban tidak
dimanfaatkan dengan baik sehingga jamban menjadi tumpukan sampah,
tidak terpelihara dan berbau.
Keluarga memiliki tempat pembuangan sampah dan biasanya
keluarga membakar sampah dibelakang rumahnya. Pengolahan air limbah
keluarga kurang baik, dibuang langsung ke selokan dan tersumbat akibat
sampah yang dibuang sembarangan.
Lingkungan rumah Ny.S tampak bersih, pekarangan tidak
dimanfaatkan secara maksimal hanya ada beberapa tanaman saja.
d. Riwayat kesehatan
1) Status kesehatan saat ini
Keadaan Ny.S saat ini kurangbaik. Klien mengeluh dengan
penyakitnya, klien mengatakan menderita penyakit diabetes sejak 1
tahun yang lalu, ada luka pada ibu jari kaki sebelah kanan berwarna
merah sekitar 2 cm dan tidak sembuh sejak 3 bulan yang lalu. Luka
sudah diobati, namun belum bisa sembuh sampai sekarang. Ny.S
merasa banyak minum tapi juga banyak kencing walaupun pada
dasarnya Ny.S juga udah sering minum banyak. Klien tampak lemas,
sering ngantuk, berat badan menurun dari 75 kg menjadi 60 kg,
mukosa mulut dan bibir klien kering, pandangan kabur dan klien
cemas dengan kondisinya saat ini. Keluarga mengatakan Ny.S dibawa
berobat ke puskesmas namun penyakitnya tidak bisa sembuh karena
jarang kontrol ke puskesmas.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Tn.Z mengatakan tidak ada penyakit masa lalu dan tidak ada alergi
terhadap makanan, obat-obatan dan tidak pernah anggota keluarga

26
yang mengalami kecelakaan. Ny.S mengatakan jika ada anggota
keluarga yang sakit, Ny.S hanya meminum obat yang ada
diwarungnya dan jika tidak sembuh juga Ny.S baru membawa berobat
ke klinik maupun puskesmas. Keluarga juga mengatakan tidak pernah
dirawat dirumah sakit.
e. Pola fungsional
1) Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
Keluarga mengatakan selalu menjaga kesehatannya tetapi jarang
makan dengan teratur. Klien tidak ada riwayat merokok maupun
minum-minuman keras. Jika anggota keluarga sakit, keluarga
meminum obat yang ada diwarungnya maupun obat yang telah
diresepkan oleh dokter.
2) Nutrisi metabolik
Kebiasaan keluarga untuk makan dan minum setiap anggota
keluarga tidak sama. Ny.S mempunyai kebiasaan makan tidak tentu
kadang 2x atau bisa lebih, suka makan-makanan yang manis. Klien
juga mengatakan tidak suka minum air putih dan lebih suka minum
the yang manis. Ny. S mengatakan setelah mengetahui menderita
diabetes, dia mengurangi makan-makanan yang manis.Klien
mengatakan setiap makan hanya menghabiskan ½ porsi karena takut
gula darah semakin naik. Sedangkan Tn.Z dan anaknya makan
seadanya 3x sehari, kebiasaan minum tergantung aktivitas, ketika
aktivitasnya berat minumnya bisa lebih dari 2 liter perhari, ketika
aktivitasnya biasa hanya minum 4-5 gelas berupa air putih dan air teh.
3) Eliminasi
Ny.S banyak minum sehingga dia sering kali kencing terkadang
sampai 10 kali sedangkan untuk BAB biasanya 1 kali sehari.
4) Aktivitas pola latihan rutinitas
Keluarga mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari,
keramas tiap 2 hari sekali dan ganti pakaian tiap kali selesai mandi.

27
Kegiatan yang biasa dilakukan Ny.S dan Tn.Z adalah jalan-jalan
disekitar rumah sambil berbincang-bincang dengan tetangga dekat
rumah mereka.
5) Pola istirahat dan tidur
Tn.Z jarang sekali tidur siang, karena tiap hari harus melaut. Tidur
siang jamnya tidak tentu dan tidur malam dari pukul 22.00 dan
bangun ketika adzan subuh setelah itu tidak tidur lagi sedangkan Ny.
S jarang tidur siang atau hampir tidak pernah tidur siang, untuk malam
biasanya tidur diatas pukul 21.00 sampai dengan 05.00 WIB dan
setelah itu tidak tidur lagi.
6) Pola kognitif-persepsi
Ny.S mengatakan mata sebelah kiri tidak bisa melihat dengan jelas,
pangangan kabur terutama menjelang malam hari. Klien mengatakan
apabila keluar ruangan atau jalan-jalan di sekitar rumah harus
memegang dinding terlebih dahulu sebagaipegangan. Klien tampak
berjalan sambil memegang dinding atau pakai tongkat. Klien tampak
tidak tahu dan tidak melihat dengan jelas pada saat seseorang datang
kerumah dan menanyakan kepada perawat siapa yang datang. Klien
mengatakan tidak tahu komplikasi dari diabetes mellitus, penyebab
dan perawatan diabetes terutama pada luka yang ada dijari kaki
sebelah kanannya.
7) Persepsi diri-pola konsepsi diri
Ny. S beranggapan bahwa ia mampu merawat keluarganya
walaupun sedang sakit. Ny. S masih tetap semangat meskipun sudah
tua. Ny.S mengatakan tetangga-tetangganya sangat baik kepada
mereka dan mau saling membantu dengan sesama.
8) Pola peran-hubungan
Tn. Z mengatakan perannya sebagai ayah dan suami dikeluarga
sangat penting dan berharga meskipun istri saat ini sedang mengalami
penyakit diabetes. Dan Ny. S sebagai istri hanya bisa membantu untuk
menjaga warung dirumah dan mendapat penghasilan secukupnya,

28
sedangkan An.A yang berperan sebagai anak dan bekerja mengajar
anak SMP dan mau membantu kedua orang tuanya untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.
9) Sexualitas
Ny.S mempunyai 1 orang anak yang sudah dewasa dan belum
menikah. Ny.S sudah tidak pernah melakukan hubungan seksual lagi
karena menderita penyakit diabetes.
10) Koping-pola toleransi stress
Tn.Z mengatakan jika ada kesulitan dalam keluarga, masih mampu
untuk mengatasinya dengan cara bermusyawarah untuk
menyelesaikan masalah dengan anggota keluarga dirumah.
11) Nilai keyakinan
Ny.S menganut agama Islam dan percaya terhadap agama yang
dianutnya. Ny.S mengatakan selalu berdoa kepada Tuhan jika
keluarga ada masalah.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum : compos mentis
2) TTV :
- TD : 130/80 mmhg
- T/P : 36,2o C/82 x/i
- RR : 20 x/i
3) BB/TB : 60 kg/155 cm
4) Kepala :
- Rambut : pendek, lurus dan hitam dan mulai memutih
- Mata : konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik
- Telinga : bersih, tidak ada serumen
- Mulut : kotor dan terdapat karang gigi
- Gigi : tidak lengkap, sudah ada yang berlubang dan
ompong
- Bibir : tampak lembab
- Dad : simetris dan tidak ada pembengkakan

29
- Abdomen : simetris, tidak terdapat nyeri tekan
- Kulit : berwarna sawo matang, dan tidak pucat
- Ekstremitas : Atas: simetris, dan kekuatan otot baik.
Kaki : terdapat luka sebesar 2 cm di jari kanan
sebelah kiri

B. ANALISA DATA
No. Sign sympton Etiologi Problem
1. Ds : Gangguan Kerusakan
- Klien mengatakan ada luka metabolisme integritas kulit
pada ibu jari kaki sebelah
kanan yang tidak sembuh
sejak 3 bulan yang lalu. Luka
sudah diobati, namun sampai
sekarang luka tersebut tidak
sembuh-sembuh.
- Klien mengatakan setelah
mengetahui menderita
diabetes, klien mengurangi
makan-makanan yang manis.
- Klien mengatakan setiap
makan hanya menghabiskan ½
porsi karena takut gula darah
semakin naik.
Do :
- Ditemukan adanya luka pada
ibu jari kaki sebelah kanan
berwarna merah sekitar 2 cm.
- Klien tampak lemas dan sering
ngantuk.
- Berat badan klien menurun

30
dari 75 kg menjadi 60 kg.
- Mukosa mulut dan bibir klien
kering.
2. Ds : Penurunan Resiko terjadi
- Klien mengatakan mata ketajaman cedera
sebelah kiri tidak bisa melihat penglihatan
dengan jelas, pandangan kabur
terutama menjelang malam
hari.
- Klien mengatakan apabila
keluar ruangan atau jalan-jalan
di sekitar rumah harus
memegang dinding terlebih
dahulu sebagai sokongan.
Do :
- Klien tampak tidak tahu dan
tidak melihat dengan jelas
pada saat seseorang datang
kerumah dan menanyakan
kepada perawat siapa yang
datang.
- Klien tampak berjalan sambil
memegang dinding atau pakai
tongkat.
- Penerangan dalam ruangan
dirumah Tn. Z kurang terang
pada siang hari dikarenakan
jendela rumah jarang dibuka.

31
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan metabolik
2. Resiko terjadi cedera berhubungan dengan Penurunan ketajaman
penglihatan

32
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanggal Diagnosa keperawatan NIC NOC Paraf
3 September Kerusakan integritas kulit - Observasi pengetahuan klien Setelah dilakukan tindakan
2020 berhubungan dengan tentang penyakit yang diderita serta keperawtan selama 2 x 24 jam,
gangguan metabolik. pengetahuan mengenai luka yang diharapkan kliendapat mengatasi
dialami ketidaktahuannya dengan kriteria
- Menjelaskan kepada klien tetang hasil :
penyakit yang diderita - Klien mengetahui penyakit dan
- Edukasi klien untuk melakukan luka yang dideritanya
pengobatan secara teratur di - Klien tau cara penanganan luka
pelayanan kesehatan
- Kolaborasi dengan keluarga untuk
melakukan pemeriksaan secara
teratur ke pelayanan kesehatan

33
Tanggal Diagnosa keperawatan NIC NOC Paraf
3 September Resiko terjadi cedera - Observasi tingkat penglihatan klien Setelah dilakukan tindakan
2020 berhubungan dengan - Edukasi keluarga dan klien tentang keperawatan selama 1 x 24 jam
Penurunan ketajaman Pencegahan jatuh diharapkan klien dapat mengatasi
penglihatan - Kolaborasi dengan keluarga klien resiko jatuh dengan kritrera sebagai
untuk mengawasi klien ketika berikut :
berpindah tempat - Berpegang pada benda
sekitar atau pakai tongkat
ketika berpindah tempat
- Meminta bantuan pada orang
sekitar

34
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal Diagnosa keperawatan Jam Implementasi Evaluasi Paraf


3 September Kerusakan integritas kulit 08.00 1. mengobservasi pengetahuan S : - Klien mengatakan sudah
2020 berhubungan dengan klien tentang penyakit yang mengetahui keadaan nya
gangguan metabolik. diderita serta pengetahuan O : - Klien tampak merasa sakit
mengenai luka yang dialami pada lukanya
2. Menjelaskan kepada klien - Klien tidak menjawab semua
tetang penyakit yang diderita pertanyaan dengan
3. mengedukasi klien untuk sempurna.
melakukan pengobatan secara A : Masalah belum teratasi.
teratur di pelayanan kesehatan P : Lanjutkan rencana tindakan.
4. berkolaborasi dengan keluarga
untuk melakukan pemeriksaan
secara teratur ke pelayanan
kesehatan.

35
4 September 09.00 1. mengobservasi pengetahuan S : - Klien mengatakan mengerti
2020 klien tentang penyakit yang diderita sedikit tentang penyakit
serta pengetahuan mengenai luka yang dialaminya.
yang dialami O : - Klien hati-hati dan defektif
2. Menjelaskan kepada klien tetang terhadap lingkungan dan
penyakit yang diderita ruangan.
3. mengedukasi klien untuk A : - Masalah teratasi.
melakukan pengobatan secara P : - Hentikan rencana tindakan
teratur di pelayanan kesehatan
4. berkolaborasi dengan keluarga
untuk melakukan pemeriksaan
secara teratur ke pelayanan
kesehatan.

36
3 Septemeber Resiko terjadi cedera 08.30 - mengobservasi S : Keluarga dan Ny.S hanya dapat
2020 berhubungan dengan tingkatpenglihatan klien menyebutkan bahaya – bahaya yang
Penurunan ketajaman - mengedukasi keluarga dan dapat menyebabkan jatuh
penglihatan klien tentangPencegahan jatuh O : Keluarga dan Ny.S tampak
- Berkolaborasi dengan keluarga memperhatikan saat diberikan
klien untuk mengawasi klien penyuluhan mengenai resiko cedera
ketika berpindah tempat A : masalah teratasi
P:
- Anjurkan kepada Ny.S untuk
beristirahat yang cukup.
- Anjurkan kepada keluarga
dalam memberikan
makanan sesuai diit untuk
penderita diabetes mellitus.

37
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis menerapkan asuhan keperawatan pada gerontik dengan


gangguan diabetes melitus pada Ny. S di Dusun X Desa Percut Kecamatan Sei
Tuan Kabupaten Deli Serdang, mulai tanggal 03September – 5 September 2020
penulis menemukan kesenjangan antara konsep, teoritis dan tinjauan kasus mulai
dari tahap pengkajian sampai tahap evaluasi, dalam pembahasan ini penulis
membahas :

A. TAHAP PENGKAJIAN
Tahap pengkajian kegiatan mengumpulkan data dilakukan melalui observasi
langsung terhadap pasien. Wawancara langsung dengan pasien mampu keluarga
serta melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, dari hasil
pengkajian yang dilakukan, penulis menemukan masalah antara teoritis dengan
kasus di atas yaitu:
- Pengkajian teoritis ditemukan DM pada pasien usia lanjut umumnya terjadi
pada usia > 60 tahun, namun pada kasus ditemukan umur 64 tahun yang
mengalami penyakit DM.
- Pada pengkajian teoritis riwayat masa lalu merupakan salah satu factor
pencetus seseorang terkena penyakit DM, namun penulis tidak ada
menemukan itu pada kasus.
- Pada pengkajian teoritis riwayat pada keluarga merupakan factor gen yang
menyebabkan munculnya sebuah penyakit, dimana salah satunya yaitu
penyakit DM. Namun penulis tidak ada menemukan factor pencetus tersebut
pada kasus.
- Pada pengkajian system penglihatan di teoritis, dilakukan test snelen cart
untuk menentukan ketajaman mata pada seseorang yang mengalami
gangguan, salah satunya yaitu pada lansia. Namun penulis tidak melakukan
tindakan tersebut pada kasus berhubungan karena kurang lengkapnya
persiapan alat-alat saat praktek belajar lapangan, melainkan penulis hanya

38
melakukan secara observasi untuk mengetahui kelainan pada ketajaman
penglihatan pada kasus.
- Pada pengkajian di teoritis ditemukan adanya pengkajian sistem pendengaran,
dimana pada lansia biasanya didapatkan data yaitu penurunan proses
mendengar, tetapi pada tahap pengkajian tinjauan kasus,penulis tidak
menemukan pada kasus.
- Pada proses pengkajian kasus, penulis tidak melakukan pengkajian tes kadar
gula dara karena adanya halangan.Seharusnya pada tahap ini dilakukan tes
kadar gula darah karena bertujuan untuk mengetahui tinggi rendahnya kadar
gula dara pada klien dengan gangguan DM. Sedangkan di tinjauan teoritis
ditemukan adanya tes kadar gula dara dalam menentukan masalah .

a. TAHAP DIAGNOSA KEPERAWATAN


Pada teori penulis menegakkan diagnosa yang di ambil dari beberapa sumber
ada 15 diagnosa, tetapi pada tidak semua diagnosa yang ada pada teori terdapat
pada kasus dan penulis hanya mengambil 3 diagnosa dari 15diagnosa yang
ditegakkan,karena diagnosa yang terdapat pada kasus di sesuaikan dengan data
yang penulis temukan pada kasus.Adapun kesenjangan yang ditemukan penulis ,
yaitu :
- Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,
terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan
fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas.
- Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan
neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet
melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu
mengontrol pengosongan.
- Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan
memori sekunder.
- Seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang ditandai
dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual.

39
- Kelemahan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal
dan neuromular.
- Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik kurang.
- Koping tidak efektif berhubungan dengan percaya diri tidak adekuat dalam
kemampuan koping, dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari
karakteristik atau hubungan.
- Isolasi social berhubungan dengan perubhaan penampilan fisik, peubahan
keadaan sejahtera, perubahan status mental.
- Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,
perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
- Cemas berhubungan dengan perubahan dalam status peran, status kesehatan,
pola interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi.
- Resiko kesendirian.
- Distress spiritual berhubungan dengan peubahan hidup, kematian atau sekarat
diri atau orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan
social, kurang sosiokultural

b. TAHAP INTERVENSI
Pada tahap intervensi tidak semua intervensi yang ada pada teori penulis
terapkan pada intervensi kasus, karena penulis hanya menemukan 3 diagnosa dari
diagnose yang sudah ditegakkan. Sehingga penulis hanya dapat mengangkat 3
intervensi dari 3 diagnosa yang ditemukan pada kasus yaitu:
- Gangguan integritas kulit berhubungan dengan Gangguan system
metabolisme (neuropati perifer)
1. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna,turgor,vaskuler,perhatikan
kemerahan.
2. Pertahankan alas kering dan bebas lipatan
3. Beri perawatan kulit seperti penggunaan lotion
4. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic
5. Motivasi klien untuk menjaga pola makan

40
- Resiko terjadi cidera berhubungan dengan penurunan penglihatan.
1. Hindarkan lantai yang licin
2. Gunakan bed yang rendah
3. Bantu klien dalam memilih aktivitas sehari-hari
4. Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
- Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan Kurang
informasi
1. Jelaskan pada klien penyebab diabetes mellitus.
2. Jelaskan pada klien tanda dan gejala diabetes mellitus
3. Jelaskan pada klien komplikasi diabetes mellitus yang dapat terjadi
4. Jelaskan pada klien cara perawatan pada diabetes mellitus.

c. TAHAP IMPLEMENTASI
Pada tahap implementasi penulis melaksanakan tindakan keperawatan
gerontik sesuai dengan rencana yang disusun menurut diagnose yang telah didapat
pada kasus dan disesuaikan dengan intervensi yang sudah direncanakan. Adapun
kendala yang dialami penulis saat melakukan implementasi ke rumah klien,yaitu
klien sering tidak berada dirumah melainkan klien sering pergi ke rumah
tetangga-tetangganya dan rumah klien yang begitu cukup jauh.

d. EVALUASI
Pada kasus, tahap evaluasi merupakan keberhasilan dan pelaksanaan rencana
keperawatan gerontik dalam memenuhi keperawatan yang diberikan pada klien.
Pada kasus, semua rencana keperawatan yang direncanakan telah berhasil dan
dapat dilakukan dengan baik serta masalah pada klien dapat teratasi dengan baik.
Dimana klien sudah mampu mengerti tentang penyakitnya, resiko terjadinya
cidera,serta sudah dapat melakukan pencegahan pada kulit maupun luka yang ada
pada kaki klien.

41
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah dilakukan tahap-tahap pembuatan asuhan keperawatan pada lansia,
penulis mampu :
a. Melakukan pengkajian terhadap gerontik khususnya pada Ny.S dengan
gangguan diabetes melitus.
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny.S
dengan gangguan diabetes melitus.
c. Menyusun rencana keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny. S
dengan gangguan diabetes melitus.
d. Mengimplementasikan rencana keperawatan yang sudah disusun pada
gerontik khususnya pada Ny.S dengan gangguan diabetes melitus.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny. S
dengan gangguan diabetes melitus.

B. SARAN
1. Semoga dengan dibuatnya asuhan keperawatan ini, mahasiswa dapat
mempergunakannya dalam menambah wawasan tentang asuhan
keperawatan pada gerontik.
2. Bagi mahasiswa diharapkan untuk memperdalam pengetahuan dalam
menerapkan asuhan keperawatan gerontik secara efektif dan efisien baik
teoritis maupun di dalam kasus.
3. Bagi Ny.S selaku sebagai klien agar dapat mengontrol penyakitnya seperti
mengurangi makanan yang banyak mengandung gula serta tidak melakukan
aktivitas yang berlebihan.

42
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Dinkes Kota Semarang. 2010. Profil Kesehatan Kota Semarang. Semarang :
Dinkes Kota Semarang.
Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Erlangga : Jakarta.
NANDA, 2005/2006, Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, Alih Bahasa Budi
Santosa, Prima Medika, NANDA.
Stanley, Mickey dan Patricia Gauntlett Beare. (2006). Buku Ajar Keperawatan
Gerontik, Edisi 2., Jakarta: EGC.
Tandra. (2007). Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
WHO., 2008. Integrated Chronic Disease Prevention and Control. www.who.int.

43