Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ANALISIS KONFLIK

MANAJEMEN KEPERAWATAN
Dosen : Debby Yulianti Maria, S.Kg., MMR

DISUSUN OLEH:
YESITA NURDIASTI (04174544)
B/KP/VII

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2020
ANALISIS KONFLIK

Kasus:
Ns. Dahliah (25 th) lulus pendidikan S1 Keperawatan langsung bekerja di Rumah
Sakit (RS Segar) tahun pertama bekerja Ns. Dahlia ditempatkan di ruang belimbing, yaitu
ruang rawat inap penyakit dalam dan berperan sebagai perawat pelaksana. Tahun kedua ia
menduduki posisi sebagai ketua TIM di ruangan yang sama. Kemudian pada tahun ke tiga ia
menjadi kepala ruangan di ruangan tersebut. Rumah sakit segar merupakan RSU tipe C
dengan Kapasitas 250 TT, jumlah perawat 200 orang dengan latar belakang pendidikan 60 %
SPK, 38% DIII keperwatan dan 2 % S1 keperawatan, BOR saat ini 60 % sejak menjabat
sebagai kepala Ruangan NS. Dahlia banyak mengalami pengalaman yang kurang
menyenangkan, Misalnya : banyak komentar-komentar tidak sedap tentag dirinya yang ia
dengar (ada staf perawat) yang mengatakan bahwa ia masih muda, belum banyak pengalaman
belum senior, belum mengetahui seluk beluk RS Segar dan Ruang belimbing, tidak mungkin
dapat melakukan sesuatu untuk ruang belimbing). Namun demikian, walaupun banyak yang
tidak mendukung, masih ada juga beberapa perawat yang mendukung Ns. Dahlia.

A. PENYELESAIAN KONFLIK
1. Pengkajian
a. Analisis situasi
1) Identifikasi jenis konflik: Dari kasus dapat diketahui bahwa jenis konflik
tersebut ialah konflik vertikal (interpersonal), dimana konflik terjadi antara
atasan dengan staf perawat, dan yang terlibat dalam konflik tersebut lebih
dari 2 orang.
2) Pengumpulan data/fakta: Dari kasus fakta yang terjadi yaitu banyak
komentar-komentar tidak baik yang didengar Ketua Tim dari Staf Perawat
Pelaksana. Perawat Pelaksana mengatakan bahwa Ketua Tim masih muda,
belum banyak pengalaman belum senior, belum mengetahui seluk beluk
RS Segar dan Ruang belimbing, tidak mungkin dapat melakukan sesuatu
untuk ruang belimbing.
3) Keterlibatan dan peran masing-masing: keterlibatan nya yaitu karena
adanya hubungan pekerjaan. Sedangkan untuk perannya yaitu sebagai Ns.
Dahlia sebagai Ketua Tim dan Perawat Pelaksana sebagai Staf di bangsal
belimbing Rumah Sakit Segar.
b. Analisis dan mematikan isu yang berkembang
1) Jelaskan masalah dan prioritas: masalah pada kasus tersebut adalah tentang
status jabatan dalam suatu pekerjaan di bangsal belimbing rumah sakir
segar. Selain itu terdapat ketegangan antara kelompok, perbedaan
pandangan status jabatan, hambatan komunikasi. Prioritas masalah terletak
pada masalah perbedaan pandangan status jabatan Ns. Dahlia.
2) Tentukan masalah utama: masalah utama pada kasus yaitu perbedaan
pandangan status jabatan Ns. Dahlia di bangsal belimbing rumah sakir
segar.
c. Menyusun tujuan
1) Jelaskan tujuan spesifik yang akan dicapai: tidak terdapat perbedaan
pandangan terkait status jabatan antar Ketua Tim dan Perawat Pelaksana,
tidak terjadi ketegangan antar Ketua Tim dan para staf perawat, dan tidak
terjadi hambatan komunikasi.
2. Identifikasi
a. Mengelola perasaan
1) Diharapkan Ketua Tim dan Perawat Pelaksana dalam menyelesaikan
permasalahan tidak emosional.
2) Diharapkan Ketua Tim dan Perawat Pelaksana dalam pelaksanaan
menejemen konflik dapat bersikap kooperatif dapat bekerjasama dan
berpartisipasi.
3. Intervensi
a. Menciptakan kontak dan membina hubungan antara Ketua Tim dan Perawat
Pelaksana.
b. Menumbuhkan rasa percaya dan penerimaan antara Ketua Tim dan Perawat
Pelaksana.
c. Melakukan diskusi dan musyawarah, diharapkan Ketua Tim dan Perawat
dapat saling mengutarakan masalah.
d. Menumbuhkan komunikasi yang efektif antara Ketua Tim dan Perawat.

B. STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK


Strategi penyelesaian konflik pada kasus ialah menggunakan strategi
Collaborating karena dengan cara ini Ketua Tim dan Perawat Pelaksana akan sama-
sama memperoleh hasil yang memuaskan, karena mereka justru bekerja sama secara
sinergis dalam menyelesaikan persoalan, dengan tetap menghargai kepentingan setiap
pihak. Singkatnya, kepentingan kedua pihak tercapai (menghasilkan win-win
solution) dengan begitu diharapkan Perawat Pelaksana dapat menghargai jabatan Ns.
Dahlia, dan Ns. Dahlia sebagai Ketua Tim dapat bekerja secara baik karena tidak ada
masalah dengan stafnya. Sehingga Ketua Tim dan Perawat Pelaksana solid dalam
menjalankan pekerjaan serta akan tercipta koordinasi, kolaborasi dan kerjasama yang
Profesional.