Anda di halaman 1dari 9

PENGUASAAN PRIBADI (Personal Mastery)

Mastery berarti suatu pribadi dari individu yang kreatif (proaktif), bukan reaktif. Individu proaktif pada
umumnya mempunyai visi pribadi. Tindakan yang dia lakukan tidak mengikuti arus atau didikte oleh
pengaruh lingkungan luar, tetapi memiliki kebebasan untuk bertindak berdasarkan pengetahuan dan
keyakinannya sendiri. Senantiasa terjadi ketegangan dalam mencapai visi pribadi tersebut. Ada
perasaan tidak berdaya ketika akan bekerja menuju visi pribadi.

Personal mastery adalah individu yang mampu mengelola tegangan kreatif (creative tension) antara
keinginan untuk mencapai visi pribadi terhadap hambatan perasaan tidak berdaya. Individu dituntut
untuk secara terus menerus belajar untuk mengelola tegangan kreatif. Untuk itu, diperlukan anggota-
anggota organisasi yang terus belajar, mengembangkan keterampilan dan kompetensinya. Pembelajaran
secara terus-menerus akan terjadi apabila dipicu oleh semangat keingintahuan setiap orang itu sendiri.
Pembelajaran akan terjadi apabila dimotivasi oleh semangat untuk meningkatkan kapasitas atau
keahliannya. Untuk itu, setidaknya ada dua langkah penting yang harus dilakukan. Pertama, setiap
orang didorong untuk memiliki visi. Kedua, mereka disadarkan tentang realitas kekinian yang
dimilikinya (current reality).

Disiplin Penguasaan Pribadi meliputi sederetan praktek dan prinsip-prinsip. Tiga elemen utamanya
adalah: (a). visi pribadi, (b). tegangan kreatif, dan (c). komitmen pada kebenaran.

a. Visi Pribadi. Umumnya setiap orang memiliki cita-cita dan tujuan, namun tanpa pemahaman visi
yang nyata. Mungkin anda mendambakan rumah yang lebih bagus, pekerjaan yang lebih baik, atau
segmen pasar yang lebih besar untuk produk anda. Semua ini adalah contoh dari pencurahan perhatian
pada alat bukan pada hasil. Misalnya, mungkin anda mendambakan segmen pasar yang lebih besar dan
menguntungkan agar perusahaan anda tetap mandiri sesuai dengan kebenaran tujuan yang anda
tetapkan sebelumnya. Cita-cita akhir memiliki nilai yang paling utama, sedangkan yang lain merupakan
alat pencapaian tujuan akhir yang bisa berubah-ubah seiring dengan perubahan waktu. Kemampuan
mencurahkan perhatian pada keingin-keinginan akhir adalah pondasi penguasaan pribadi. Visi berbeda
dengan tujuan. Visi adalah gambaran tetap dari masa depan yang dicita-citakan, sedangkan tujuan
bersifat lebih abstrak. Namun, visi tanpa dibarengi dengan pemahaman tujuan, sama halnya dengan
angan-angan belaka.

b. Tegangan Kreatif. Ada kesenjangan yang tak terhindarkan diantara visi seseorang dengan kenyataan
yang ada sekarang. Misalnya anda ingin membuka perusahaan namun anda kekurangan modal.
Kesenjangan mematahkan semangat kita, namun kesenjangan itu sendiri sebenarnya sumber daya
kreatif. Kesenjangan ini memompa tegangan kreatif. Hanya ada dua cara untuk menyeimbangkan
tegangan diantara kenyataan dan visi. Entah visi akan menarik kenyataan kedalamnya, atau kenyataan
menggusur visi ke bawah. Sebagian orang dan perusahaan seringkali memilih pilihan yang terakhir,
karena mudah untuk "menyatakan kemenangan" dan berpaling dari masalah. Cara itu melepaskan kita
dari ketegangan. Namun, cara-cara tersebut merupakan dinamika kompromi dan kebiasaan lama.
Sesungguhnya, orang-orang yang kreatif memanfaatkan kesenjangan diantara apa yang mereka
inginkan dan apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan daya perubahan. Mereka ini tetap teguh
dengan kebenaran visi mereka.

c. Komitmen pada Kebenaran. Kemauan pantang-mundur untuk membuka diri dari cara-cara kita
menutup dan membohongi diri sendiri, dan kemauan untuk menantang cara-cara kerja sesuatu,
merupakan ciri-ciri orang yang memiliki tingkat Penguasaan Pribadi yang tinggi. Pencarian kebenaran
tersebut membawa mereka kepada pendalaman kesadaran bahwa ada struktur yang berpengaruh dan
menciptakan peristiwa. Kesadaran ini sangat berpengaruh pada kemampuan mereka dalam mengubah
struktur sehingga tercapai hasil yang mereka cari.

Strategi mengembangkan Penguasaan Pribadi

Para pelaku bisnis, banyak yang mengakui bahwa di antara semua disiplin pembelajaran, Penguasaan
Pribadilah yang paling menjadi perhatian mereka. Mereka bukan hanya ingin meningkatkan
kemampuan mereka sendiri, namun juga meningkatkan kemampuan orang lain di sekitar mereka.
Mereka mengakui bahwa organisasi berkembang seiring dan sejalan dengan para anggotanya. Beberapa
diantara mereka mengetahui prinsip utama disiplin ini: tak seorang pun bisa meningkatkan Penguasaan
Pribadi orang lain. Kita hanya bisa menciptakan kondisi yang mendorong dan mendukung orang-orang
yang ingin meningkatkan Penguasaan Pribadi mereka sendiri.

Mengapa kita harus menawarkan dorongan semangat dan dukungan itu? Karena pembelajaran tidak
akan berlangsung lama kecuali dipicu oleh minat dan rasa ingin tahu yang besar dari orang itu sendiri.
Bilamana pemicunya tidak ada, orang-orang akan patuh menerima pelatihan apa pun yang diberikan.
Dampak dari latihan itu berlangsung sementara, namun tanpa komitmen, orang-orang yang dilatih itu
akan berhenti menerapkan ketrampilan baru tersebut. Sebaliknya, jika pembelajaran dikaitkan dengan
visi seseorang, maka orang itu akan berupaya keras mempertahankannya agar pembelajaran dapat terus
berlangsung. Namun, sayangnya ketimbang mendorong "motivasi intrinsik," banyak perusahaan
cenderung merintanginya. Misalnya, ada setumpuk formulir dan daftar persyaratan, setiap kali
seseorang ingin mengejar pelatihan untuk diri mereka sendiri; atau mungkin ada kebijakan dan sikap
yang mematahkan semangat untuk berbicara secara terbuka tentang realitas saat ini, atau secara samar
melemahkan upaya untuk menyuarakan visi pribadi yang besar.

Robert Fritz mendesain sebuah proses tiga-tahap dalam rangka membawa orientasi "kreatif" kedalam
kehidupan: menyuarakan visi pribadi, melihat realitas saat ini dengan jernih, dan membuat komitmen
untuk menciptakan hasil-hasil yang diinginkan.

Percakapan dalam Diri. Penerapan pokok Penguasaan Pribadi mencakup pembelajaran untuk
mempertahankan visi pribadi dan gambaran jernih tentang realitas saat ini yang berada di hadapan kita.
Dengan melakukan hal ini, kita akan membangkitkan kekuatan dalam diri kita sendiri yang disebut
"tegangan kreatif." Tegangan, menurut sifat alaminya, memerlukan penyelesaian, dan sebagian besar
penyelesaian alami terhadap tegangan ini adalah dengan mendekatkan realitas kita pada apa yang kita
inginkan. Cara demikian ini ibaratnya seperti memasang pita karet diantara kedua kutub visi kita dan
realitas saat ini.

Orang-orang yang yakin bahwa visi itu penting, yang bisa melihat dengan jelas bahwa mereka harus
mengubah kehidupan mereka untuk mengejar keberhasilan, dan yang berkomitmen pada diri sendiri
terhadap apapun yang dihasilkan, umumnya merasa tertantang. Secara sadar maupun tak sadar, mereka
telah mengasimilasikan visi tersebut pada tahapan yang banyak mengubah perilaku mereka. Mereka
memiliki rasa kesabaran yang kuat baik terhadap diri mereka sendiri maupun dunia dan perhatian yang
lebih pada apa yang sedang berlangsung di sekitar mereka. Kesemuanya ini membuahkan pemahaman
yang terus-menerus tentang energi dan antusiasme, yang (seringkali setelah penundaan) membawa
hasil nyata, yang selanjutnya dapat memperkokoh energi dan antusiasme tersebut.

Kita tidak mungkin bisa memerintahkan diri kita sendiri dengan serta-merta untuk memahami kerangka
pemikiran ini, namun disiplin Penguasaan Pribadi menjelaskan bahwa sebagai individu kita bisa
memupuk cara berpikir yang secara bertahap bisa mengarahkan kita kepadanya. Semakin sering kita
mempraktikkan cara berpikir ini, semakin mampu dan besar rasa percaya diri kita, dan semakin besar
pula kesadaran kita akan tegangan yang bisa menarik kita ke depan jika kita memupuknya.

Beberapa orang berpendapat, "Saya tidak akan pernah mewujudkan visi saya, karena latar belakang
saya. Saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang saya inginkan." Atau mereka
merasa, "Saya hanya bisa mendorong diri saya sendiri ke arah visi saya jika keadaan memburuk," atau
"Semuanya terserah saya untuk mendorong ke depan melalui kemauan keras, melawan rintangan-
rintangan yang menghadang di hadapan saya." Seperti yang ditulis oleh Fritz, semua ketakutan ini
merupakan manifestasi dari "tegangan emosional" keyakinan dasar bahwa kita tidak layak atau tidak
berdaya untuk memenangkan aspirasi terdalam kita. Bagaimanakah cara kita mengatasi tegangan
emosional? Bukan dengan menyangkalnya bahwa itu ada, melainkan dengan mencoba melihatnya
secara lebih jernih, hingga kita bisa memahami bahwa tegangan emosional sesungguhnya juga
merupakan bagian dari realitas kita saat ini.

Penguasaan Pribadi mengajarkan agar kita tidak menurunkan visi kita, walaupun visi itu tampaknya
tidak mungkin. Penguasaan Pribadi juga mengajarkan kepada kita bahwa isi visi itu sendiri tidaklah
begitu penting. "Yang penting bukanlah isi visinya," kata Robert Fritz. "Namun apa yang dilakukan
oleh visi tersebut." Ada banyak kisah tentang orang-orang yang mencapai keberhasilan luar biasa
dengan visi yang luar biasa di mana hasil-hasil tersebut ternyata berbeda dengan maksud semula
mereka.

Penguasaan Pribadi juga mengajarkan kita untuk tidak menyerah dalam memandang dunia seperti apa
adanya, sekalipun itu membuat kita merasa tidak nyaman. Melihat realitas saat ini dengan lebih
seksama dan lebih jernih adalah salah satu pekerjaan yang paling sulit dari disiplin ini. Hal ini
menuntut kemampuan untuk bertanya kepada diri anda sendiri, bukan saja dalam masa-masa tenang
namun juga dalam masa-masa sulit, "Apa yang sedang terjadi saat ini? Mengapa kenyataan yang saya
hadapi begitu sulit?"

Akhirnya, Penguasaan pribadi mengajarkan kita untuk memilih. Memilih adalah tindakan yang berani:
mengambil hasil dan tindakan yang akan menentukan nasib anda.

Mempraktikkan Penguasaan Pribadi adalah seperti mengadakan percakapan dalam diri kita sendiri. Di
dalam diri kita ada sesuatu yang menyuarakan impian-impian tentang apa yang kita inginkan pada
masa yang akan datang. Akan tetapi, suara yang lain membentuk cara pandang kita (sering kali bersifat
ancaman) terhadap dunia di sekitar kita. Suara ketiga yang seringkali samar adalah kemauan untuk
menyatakan, "Saya telah memilih apa yang saya inginkan dan percaya bahwa saya akan
menciptakannya." Dalam disiplin ini, kita berusaha untuk mendengar semua aspek ini secara jelas,
karena kita tahu bahwa kekuatan yang menarik diri kita ke arah visi kita, timbul akibat hubungan antar
komponen tersebut.
Pemimpin sebagai Pelatih. Menumbuhkan tegangan kreatif secara terbuka (dengan membangun visi
bersama di satu pihak, dan membantu orang lain melihat sistem tersebut serta model mental dari
realitas saat ini di lain pihak) bisa menggerakkan seluruh organisasi ke depan, karena organisasi
didorong oleh tegangan kreatif masing-masing individu. Langkah pertama dalam belajar menciptakan
tegangan berskala lebih besar itu adalah dengan belajar membangkitkan serta mengelola tegangan
kreatif dalam diri anda sendiri.

Harus diakui bahwa gagasan untuk mendorong Penguasaan Pribadi di tempat kerja, secara naluriah
sulit diterima oleh beberapa pemimpin. Ada perasaan, biasanya tersembunyi, bahwa visi pribadi tidak
sesuai dengan tujuan kelembagaan. Selama jam kerja kantor, para karyawan dituntut berdedikasi
sepenuhnya kepada perusahaan. Yang melegakan banyak orang, sikap paternalistik ini terbukti tidak
persuasif dan tidak efektif. Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh seorang manajer senior untuk mendorong
Penguasaan Pribadi dalam diri orang lain? Kami menyarankan agar mengambil peran sebagai pelatih.
Tidak ada pelatih yang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa kecuali jika para pemainnya
mempunyai hasrat intrinsik untuk mencapai sesuatu. Namun dengan adanya hasrat intrinsik itu, seorang
pelatih bisa memperpanjang upaya dan pemahaman yang tidak mudah diakses sendiri oleh individu.

Tugas pertama pelatih adalah membuat model peningkatan kemampuan pribadi yang telah berkembang
ketika anda mulai menerima dan membangkitkan tegangan kreatif. Selama proses visi bersama, secara
tak terelakkan seseorang akan bertanya kepada pemimpin senior: "Baiklah, bagaimana perasaan anda
secara pribadi tentang ke mana kita seharusnya beranjak?"

Jika, sebagai pemimpin, anda tidak mempunyai pemahaman yang mendalam tentang visi anda, anda
tidak akan mampu mendorong orang lain untuk menciptakan visi mereka sendiri atau
mempertimbangkan visi anda. Demikian halnya juga, jika anda tidak bisa menguraikan realitas saat ini
dengan jelas, maka kredibilitas anda akan rendah ketika anda mengajak orang lain melihatnya bersama.

“Pemimpin bertanggung jawab untuk mengejar Penguasaan Pribadi," kata Alain Gauthier, "bukan
hanya demi kepentingan dirinya sendiri, melainkan demi setiap orang dalam organisasi. Jika pemimpin
tersebut tidak mempunyai tingkat pengetahuan diri sendiri, dan pemahaman diri sendiri, maka
risikonya adalah bahwa ia mungkin menggunakan organisasi untuk mengatasi sakit sarafnya sendiri.
Hal ini bisa membawa dampak yang luar biasa terhadap diri orang lain."

Tugas melatih Penguasaan Pribadi meliputi tindakan membantu seseorang untuk melihat betapa visi
mereka sendiri tertutup oleh kekhawatiran apakah visi tersebut mungkin atau tidak. "Itukah yang benar-
benar anda inginkan? Jika anda bisa mewujudkannya, akankah anda mengambilnya?" Atau, bisa berupa
tindakan membantu orang lain untuk mengembangkan gambaran yang lebih baik tentang apa
sebenarnya yang terjadi pada realitas saat ini. "Apa yang sedang berlangsung saat ini, pada waktu ini?"
Ketika orang-orang belajar melatih secara lebih efektif, teknik-tekniknya bergerak naik turun dalam
organisasi, karena pelatihan, seperti sebagian besar metode penguasaan pribadi, paling baik dipelajari
melalui keteladanan.

Apa yang diharapkan dari praktek Penguasaan Pribadi

Apakah anda dan organisasi anda siap dengan hal ini? Coba anda bayangkan sebuah organisasi yang
penuh dengan orang-orang yang bekerja dengan antusias, karena mereka tahu bahwa mereka akan
berkembang dan maju, dan berkemauan untuk memenuhi visi dan sasaran organisasi yang lebih besar.
Ada kemudahan, penghargaan, dan sedikit upaya dalam menyelesaikan berbagai hal. Pekerjaan
mengalir tanpa rintangan diantara tim dan bagian. Setiap orang merasa senang dan bangga dengan
setiap aspek organisasi misalnya, mereka berbicara secara terbuka, saling merenungkan gagasan satu
sama lain, dan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap bagian-bagian di sekitar mereka. Banyak
energi yang mengisi organisasi ini setiap hari, yang merampungkan pekerjaan dalam jumlah besar, dan
yang membawa kegembiraan dalam bekerja.

Apakah skenario ini mendatangkan semangat atau menakutkan? Jika anda tidak ingin orang-orang
bergairah, memiliki perhatian dan fokus terhadap pekerjaan mereka, maka jangan mempraktikkan
disiplin yang berkekuatan besar ini. Disiplin ini akan menuntut sesuatu yang tidak lazim kepada setiap
orang, khususnya para pemimpin senior. Beberapa upaya organisasi pembelajaran bermula dengan baik
di sini; sedangkan yang lain harus melakukannya secara bertahap, dengan membiarkan orang-orang
menemukan seperangkat cara di setiap proses evolusi.

Memperlakukan emosi dengan hormat. Bekerja dengan Penguasaan Pribadi berarti memasuki dunia
hati nurani. Mengembangkan visi pribadi berarti menguras sumur pengharapan dan aspirasi, termasuk
kerinduan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, dan hasrat untuk mempunyai
kehidupan yang penuh kebahagiaan.

Menentukan pilihan dan melihat secara seksama realitas saat ini sama halnya dengan memancing emosi
yang telah lama terkubur agar mencuat kembali ke permukaan. Cara ini mungkin mendatangkan
perasaan tertekan pada mulanya, seperti: "Saya tidak ingin mengetahui seberapa besarkah saya
membenci kehidupan saya saat ini, dan saya tidak ingin terbebani dengan mencoba memperbaikinya."
Cara ini mungkin juga memberikan semangat kepada seseorang: "Saya selalu berpikir bahwa dunialah
yang menyebabkan hal itu terjadi pada diri saya. Sekarang saya menyadari bahwa saya sendirilah yang
menentu¬kannya." Tidak satu pun dari emosi diatas dapat dikatakan buruk, namun ketika emosi itu
muncul ke permukaan, setiap orang harus siap menerimanya.

Berinvestasi dalam Penguasaan Pribadi. Dalam rangka menciptakan kondisi yang bisa
mengembangkan kapasitas setiap individu untuk menciptakan apa yang mereka pedulikan, setiap
organisasi harus menginvestasikan lebih banyak waktu, tenaga, dan uang daripada yang diperkirakan
oleh sebagian besar manajer masa kini. Di antara para pekerja Amerika, hanya kurang dan 13 persen
yang pernah menerima pelatihan ekstensif tentang cara-cara yang lebih layak untuk melaksanakan
pekerjaan mereka (dibandingkan dengan "penataran" yang asal-asalan). Maka, tidaklah mengherankan
jika hanya sedikit dari mereka yang merasa bahwa manajemen perusahaan memiliki perhatian pada
pengembangan kemampuan pribadi mereka. Penguasaan Pribadi mengandung arti kemauan untuk
menginvestasikan apa saja yang diperlukan dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang dapat
mendorong para karyawan memberikan sumbangsih yang bermutu tinggi kepada organisasi.

Memikirkan kembali model motivasi tradisional. Para manajer seringkali berpaling kepada Penguasaan
Pribadi karena mereka bosan dengan bentuk-bentuk motivasi tradisional. Beberapa diantara mereka
telah tergantung pada penghargaan dan penghukuman. Para manajer lainnya telah menghabiskan waktu
bertahun-tahun dengan menggunakan rasa-takut dan pesimisme untuk memotivasi orang. Mereka
selalu menyampaikan sedikit kabar buruk tentang sulitnya lingkungan di sekitar mereka. Sebagaian
besar orang-orang merespons insentif yang diberikan untuk jangka waktu pendek, dan mereka mungkin
akan merespons masa-masa sulit jauh lebih sungguh-sungguh, karena mereka berusaha menarik
bersama dengan seluruh daya-upaya, sepanjang mereka beranggapan bahwa kesulitan tersebut masih
riil. Namun begitu mereka menyadari bahwa insentif ini ditujukan untuk memanipulasi mereka, maka
mereka akan segera berhenti di tengah perjalanan.

Sayangnya, pada waktu itu manajemen seringkali terseret ke dalam dinamika “Menggeser Beban,”
yakni kehilangan kemampuan mendasarnya untuk memotivasi orang lain secara tulus, dan oleh
karenanya mereka semakin tergantung pada penghargaan dan hukuman, dan pidato-pidato tentang rasa-
takut dan pesimisme. Secara bertahap, upaya pengenalan secara terus-menerus motivasi baru akan
melindas sinisme yang hampir tidak bisa dihilangkan dalam organisasi tersebut.
Pada tahap ini, beberapa manajer memutuskan untuk membangun “aspirasi” dan “inspirasi” dengan
mempromosikan Penguasaan Pribadi. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri bahwa mereka bisa
menangkap lebih banyak lalat dengan madu daripada dengan cuka. Namun perubahan peraturan
permainan tersebut tetap tidak berjalan lancar. Sinisme biasanya memburuk; para anggota perusahaan
curiga bahwa pengejaran penguasaan pribadi hanyalah permainan belaka. Mengapa hal ini tidak
berhasil? Karena upaya Penguasaan Pribadi tergantung pada penyingkiran asumsi-asumsi bahwa
kebanyakan orang sangat termotivasi dengan uang, pengakuan, dan ketakutan. Sebaliknya, anda harus
berasumsi bahwa dalam lingkup yang tepat, orang-orang akan berkontribusi secara penuh dan membuat
komitmen yang kuat karena mereka ingin belajar, melakukan pekerjaan yang baik demi pekerjaan itu
sendiri, dan diakui sebagai manusia. Sikap ini mungkin sulit diubah. Salah satu pendekatannya adalah
dengan memulai upaya membentuk visi bersama yang mendalam secara simultan, di mana anda
mengizinkan para karyawan untuk berbicara tentang upaya Penguasaan Pribadi seperti apa sajakah
yang akan menyumbang terjadinya evolusi pada keseluruhan organisasi.

Dimanapun anda, mulailah dari sini. Penguasaan Pribadi menawarkan pilihan bagi orang-orang yang
merasa bahwa mereka ingin mengubah organisasi mereka, namun tidak bisa berbuat banyak pada posisi
mereka. Anda selalu bisa bergerak, sebagai seorang individu, untuk mengembangkan Penguasaan
Pribadi anda.

Praktek Penguasaan Pribadi

Penguasaan Pribadi memerlukan banyak praktik. Hanya 10 sampai 15 persen dari semua partisipan
yang menghadiri program-program pelatihan yang bisa secara konsisten menerapkan pengetahuan dan
keahlian yang mereka pelajari itu di tempat kerja. Biasanya, mereka menjadi semakin lemah dalam
menerapkannya dan akhirnya terhenti sama sekali. Di bawah situasi-situasi yang menekan, mereka
tidak bisa membangkitkan energi untuk menguasai dan menerapkan keahlian-keahlian baru, jadi
mereka kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama untuk melakukan berbagai hal. Organisasi bisa
membantu dengan menyediakan kesempatan terstruktur untuk mempraktikkannya. Misalnya,
mengadakan rapat mingguan dengan membicarakan visi dan realitas saat ini akan memberikan struktur
pembentukan dan pembicaraan kembali tegangan kreatif. Orang-orang bisa saling memanfaatkan
sebagai suatu sumber daya. Mereka bisa saling melatih dalam menyuarakan dan memperkaya visi
mereka, berdasarkan apa yang penting bagi mereka. Mereka bisa belajar lebih banyak tentang realitas
saat ini dari pengalaman-pengalaman saat ini, dan mengembangkan proyek-proyek eksperimen kecil
yang mengungkapkan kekuatan dan batas-batas keahlian kreatif mereka sendiri.
Praktik Penguasaan Pribadi dipusatkan pada pergeseran pandangan orang tentang hubungan mereka
dengan dunia. Dalam istilah Robert Fritz, pergeseran tersebut berangkat dari sikap yang "reaktif"
(merespons terhadap peristiwa), menjadi "kreatif" (menciptakan masa depan yang anda inginkan).
Ketika orang-orang mempraktikkan Penguasaan Pribadi, mereka mulai masuk ke dalam orientasi
ketiga: "saling tergantung," di mana mereka dan dunia saling berhubungan secara harmonis kata
Charlotte Roberts . Pergeseran antar orientasi merupakan hal yang sangat penting, karena hal itu
mempengaruhi aspek kemampuan seseorang untuk berpartisipasi dalam membangun organisasi
pembelajaran.