Anda di halaman 1dari 9

PERANAN PENGAMALAN PANCASILA DALAM

ERA GLOBALISASI

OLEH

MADE WISNU JULIARTA PUTRA

042268647

Program Study : Manajemen

UPBJJ Denpasar
PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang mempunyai dasar ideologi negara yaitu Pancasila.
Pancasila lahir dari sebuah perjanjian luhur berdasarkan hasil musyawarah para pendiri bangsa
dan negara Indonesia dalam sidang BPUPKI yang dilaksanakan selama dua kali masa
persidangan, yaitu pada 29 Mei - 1 Juni 1945 dan 10-16 Juni 1945. Presiden Soekarno saat
berpidato dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, mengatakan mengenai pentingnya Bangsa
Indonesia memiliki sebuah "philosofische gronslaag" atau filosofi dasar yang memuat pandangan
tentang dunia dan kehidupan.

Sejak pertama kali ditetapkan sebagai dasar negara oleh PPKI pada 18 Agustus 1945,
tepat satu hari setelah Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekannya, Pancasila dianggap
sebagai pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang mampu menyatukan Bangsa Indonesia.
Keberagaman suku, ras, bahasa, dan agama, keberadaannya dapat dipertanggung jawabkan baik
secara moral maupun kultur social.
Oleh sebab itu, Pancasila kemudian menjadi norma dasar dalam penyelenggaraan
bernegara yang memiliki kedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum tertinggi,
menjadi pandangan hidup bagi Bangsa Indonesia, dan jiwa yang mencerminkan kepribadian
Bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi norma dasar dalam penyelenggaraan
bernegara, sekaligus menjadi sumber dari segala sumber hukum yang menjadi cita-cita bersama
Bangsa Indonesia.
KAJIAN PUSTAKA

Pancasila merupakan lima dasar negara yang harus dijadikan pedoman bagi setiap Warga
Indonesia, segala aturan dan norma-norma yang ada harus sesuai dengan nilai yang terkandung
pada Pancasila. Pancasila yang merupakan dasar filsafat negara dapat berfungsi sebagai jiwa
bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, tujuan hidup bangsa dan pedoman hidup
bangsa. Sehingga di era globalisasi ini kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa menjaga
kepribadian bangsa tersebut sebagai kepribadian Bangsa Indonesia di saat banyak sekali
pengaruh dari internasional di berbagai bidang kehidupan. Dengan tidak melakukan tindakan-
tindakan anarkis yang dapat memecahkan persatuan dan kesatuan negara kita. Tetapi sebaliknya,
kebaikan-kebaikanlah yang harus kita tunjukan dimata dunia dengan cara menjadi negara yang
damai, bersatu dan memiliki kepribadian yang nyata dan memperbanyak prestasi. Kita perlu
meningkatkan lagi penghayatan dan pengamalan kita terhadap Pancasila, agar tetap terjaga
eksistensinya di masyarakat yang sedang merasakan era globalisasi ini, karena inilah kepribadian
negara kita.
PEMBAHASAN

Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dengan keunikan serta ciri khas
yang berbeda jika dibandingkan dengan budaya dari negara-negara lain. Kebudayaan lokal
Indonesia yang sangat beranekaragam tersebut, seharusnya dapat dijadikan sebagai suatu
kebanggaan sekaligus tantangan untuk dapat dipertahankan serta diwarisi kepada generasi
selanjutnya.
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan semakin
derasnya arus globalisasi, perlahan budaya asli Indonesia mulai terlupakan. Akibatnya, tidak
jarang Bangsa Indonesia khususnya kaum muda lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin
dinilainya lebih modern (kekinian) dibandingkan dengan budaya lokal.
Pancasila lahir dari sebuah perjanjian luhur berdasarkan hasil musyawarah para pendiri
bangsa dan negara Indonesia dalam sidang BPUPKI yang dilaksanakan selama dua kali masa
persidangan, yaitu pada 29 Mei-1 Juni 1945 dan 10-16 Juni 1945. Presiden Soekarno pada saat
berpidato dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, mengatakan mengenai pentingnya bangsa
Indonesia memiliki sebuah filosofi dasar yang memuat pandangan tentang dunia dan kehidupan.
Menurut Soekarno, dasar negara dan ideologi nasional tersebut, merupakan suatu hal
yang abadi yang harus tetap dipertahankan selama berdirinya negara. Ungkapan dari presiden
pertama sekaligus proklamator Republik Indonesia tersebut, jelas memperlihatkan mengenai
pentingnya dasar negara dan ideologi nasional sebagai landasan berdiri dan tegaknya sebuah
negara.
Oleh sebab itu, perumusan dasar Negara Indonesia dilakukan melalui penggalian yang
mendalam terhadap pandangan hidup dan falsafah hidup Bangsa Indonesia yang
mencerminankan nilai-nilai peradaban, kebudayaan, dan keluhuran budi yang mengakar dan
teranyam dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Hal itu pulalah yang kemudian menjadi landasan
dari lahirnya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi Bangsa Indonesia.
Dasar Negara
Sejak pertama kali ditetapkan sebagai dasar negara oleh PPKI pada 18 Agustus 1945,
tepat satu hari setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekannya, Pancasila dianggap sebagai
pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang mampu menyatukan Bangsa Indonesia dengan
keberagaman suku, ras, bahasa, dan agama, sehingga keberadaannya dapat
dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun kultur sosial. Moral dalam arti tidak
bertentangan dengan nilai-nilai agama yang berlaku di Indonesia, kultur sosial berarti
mencerminankan nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia. Ideologi bangsa dan Negara Indonesia
adalah Pancasila yangterdapat di dalam Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18
Agustus 1945, serta digali dari kehidupan bangsa dan diterima oleh PPKI pada tanggal 1 Juni
1945.
Keampuhan Pancasila sebagai ideologi negara bergantung kepada nilai yang dikandung
yang dapat memenuhi serta menjamin segala aspirasi hidup dan kehidupan, secara pribadi,
sebagai mahluk sosial dan sebagai warga negara dengan kodrat dan iradat Tuhan Yang Maha
Esa.
a. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa)
Sila pertama ini merupakan nilai yang tertinggi, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Rangkaian nilai itu tidak identik dengan agama, melainkan berkaitan erat, serta
merupakan perwujudan dari semua agama untuk mempersatukan kehidupan
beragama dalam menegakkan tanas.
b. Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab berarti menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela
kebenaran dan keadilan.
c. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia)
Manusia Indonesia menempatkan persatuan dan kesatuan, serta kepentingan
keseluruhan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, serta
sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
d. Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan Perwakilan)
Manusia Indonesia sebagai warga negara dan anggota Masyarakat Indonesia
mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Hal ini berarti bahwa pada
dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain.
Sebelum diambil keputusan terlebih dahulu diadakan musyawarah sehingga
keputusan itu diusahakan secara mufakat.
e. Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia)
Dengan kedudukan, hak dan kewajiban yang sama maka diciptakan keadilan sosial
dalam kehidupan Masyarakat Indonesia. Selanjutnya perlu dipupuk sikap suka
memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan, tidak menggunakan hak
miliknya untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain dan
merugikan orang lain.
Manusia Indoensia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai eprjuangan utama dalam
kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan dan pengamalannya harus dimulai dari setiap warga
negara. Manusia dan Bangsa Indonesia harus menjamin kelstarian dan kelangsungan hidup
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila maka ketahanan di bidang ideologi
merupakan penentu di dalam aspek-aspek kehidupan nasional, hal ini terbukti dengan adanya
peristiwa-peristiwa pada masa yang lampau. Pihak-pihak tertentu mencoba mengganti Pancasila
sebagai ideologi atau falsafah bangsa dan Negara RI dengan ideologi atau filsafah lain, akan
tetapi selalu gagal. Pada akhirnya, kita tetapkan tanggal 1 Oktober sebagai hari Kesaktian
Pancasila. Oleh karena itu, ketahanan di bidang ideologi ini harus dibina, dihayati dan diamalkan
secara benar dan utuh.
Oleh sebab itu, Pancasila kemudian menjadi norma dasar dalam penyelenggaraan
bernegara yang memiliki kedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum tertinggi,
menjadi pandangan hidup bagi Bangsa Indonesia, dan jiwa yang mencerminkan kepribadian
Bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi norma dasar dalam penyelenggaraan
bernegara, sekaligus menjadi sumber dari segala sumber hukum yang menjadi cita-cita hukum
dan cita – cita bersama Bangsa Indonesia.
Sebagai Ideologi atau pandangan hidup, nilai-nilai Pancasila merupakan pedoman dan
pegangan dalam pembangunan bangsa dan negara, agar tetap berdiri kokoh dan mengetahui arah
dalam memecahkan berbagai masalah seperti ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial-budaya
dan lain sebagainya. Sebagai jiwa dan kepribadian Bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila
mencerminkan kepribadian Bangsa Indonesia, sebab nilai dasarnya merupakan hasil kristalisasi
dari nilai budaya Bangsa Indonesia asli bukan diambil dari bangsa lain, yang mencerminkan
garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.
Perkembangan Zaman
Ketika Pancasila yang telah ditetapkan sebagai dasar negara dan pandangan hidup
Bangsa Indonesia dihadapkan pada banyaknya persoalan yang mendera Bangsa Indonesia,
terlebih dengan semakin cepatnya perkembangan zaman yang diimbangi oleh derasnya arus
globalisasi. Pengaruh masuknya budaya asing di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang
dikuti tanpa adanya penyaringan kaidah, merupakan salah satu penyebab semakin terkikisnya
nilai-nilai Pancasila dan rasa nasionalisme Bangsa Indonesia.
Pancasila seakan terlupakan sebagai sebuah dasar negara dan ideologi nasional yang
seharusnya dijunjung tinggi oleh semua masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari semakin
banyaknya tindakan dan perilaku masyarakat Indonesia yang jauh dari nilai-nilai yang
mencerminkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional Bangsa Indonesia.
Dari beberapa dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi yang tidak mencerminkan nilai-
nilai budaya Bangsa Indonesia, dapat dilihat pada beberapa aktivitas kehidupan masyarakat
Indonesia saat ini. Hal tersebut terlihat dari perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin
modern dan konsumtif, pudarnya nilai-nilai gotong royong, munculnya sikap individualisme, dan
terbentuknya sikap materialistis serta sekularisme. Selain itu, arus globalisasi seakan telah
mampu menciptakan hubungan interpersonal masyarakat Indonesia menjadi lebih individualistik,
mementingkan diri sendiri, dan pragmatis.
Bangsa Indonesia kini cenderung pragmatis sebagai akibat dari pengaruh persoalan gaya
hidup global yang sudah merasuk ke dalam kesadaran pola hidup mereka. Selain itu, pemahaman
nasionalisme bangsa mulai berkurang, di saat negara membutuhkan soliditas dan persatuan
hingga sikap gotong royong, sebagian kecil masyarakat terutama yang ada di perkotaan justru
lebih mengutamakan kelompok, golongannya, bahkan negara lain dibandingkan kepentingan
negaranya.
Tantangan Globalisasi
Di era globalisasi, dunia ibarat menjadi sebuah komunitas global yang hidup dan saling
berinteraksi satu dengan yang lainnya, tidak memandang apakah negara tersebut maju atau
berkembang, desa atau pun kota, semuanya akan saling berinteraksi. Globalisasi ibarat sebuah
keniscayaan waktu yang mau tidak mau harus dihadapi oleh setiap negara manapun dibelahan
bumi ini, tidak terkecuali oleh Bangsa Indonesia. Ia mampu memberikan paksaan kepada setiap
negara untuk membuka diri dalam segala bidang kehidupan, seperti ekonomi, budaya, ilmu
pengetahuan, dan teknologi.
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, setiap negara dituntut untuk selalu lebih maju
mengikuti setiap perkembangan demi perkembangan, yang terkadang jauh dari sebuah
keteraturan. Pihak yang diuntungkan dalam situasi tersebut, tentunya adalah negara-negara maju
yang memiliki tingkat kemapanan dan kemampuan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan
dengan negara-negara berkembang.
Selain itu, globalisasi mampu menciptakan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan
antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia. Akibatnya, tidak jarang banyak pengaruh yang
masuk dari luar baik yang memiliki nilai positif maupun negatif. Perkembangan globalisasi,
mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap nilai-nilai yang telah berkembang di
masyarakat. Bahkan dalam konteks yang lebih luas, globalisasi mampu menghancurkan nilai-
nilai yang telah ada di masyarakat, seperti nilai sosial-budaya, ideologi, agama, politik, dan
ekonomi.
Globalisasi telah memberikan tantangan baru yang mau tidak mau harus di hadapi dan di sikapi
oleh semua elemen masyarakat. Era keterbukaan sudah mulai mengakar kuat di era globalisasi
seperti sekarang ini, sehingga identitas nasional adalah salah satu bagian mutlak yang harus
dipegang agar tidak hilang dan terbawa arus globalisasi. Untuk dapat mangatasi dampak-dampak
yang ditimbulkan sebagai akibat dari globalisasi tersebut, maka Pancasila sebagai pandangan
hidup dan dasar negara harus tetap menjadi pijakan dalam bersikap karena Pancasila yang
dijadikan sebagai dasar negara dan ideologi nasional Bangsa Indonesia, memiliki posisi yang
abadi di dalam jiwa Bangsa Indonesia. Permasalahan yang paling utama dihadapi oleh Pancasila
terutama mengenai masalah penghayatan dan pengamalannya.
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari artikel yang saya buat di atas dapat saya simpulkan bahwa Pancasila memiliki
peranan yang sangat amat penting di tengah kemajuan zaman yang tidak bisa kita kendalikan ini.

SARAN
Di tengah era globalisasi yang melaju cepat seperti sekarang ini, kita harus pintar-pintar
memfillter kebudayaan, gaya hidup atau yang lainnya yang datang dari luar Indonesia. Alat atau
pedoman yang harus kita gunakan untuk memfilterisasi diri kita yaitu Pancasila. Mengingat
bahwa Pancasila merupakan dasar dari Negara Indonesia yang kelima baitnya sangat
mencerminkan kehidupan kita di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Modul Pendidikan Kewarganegaraan MKDU4111


Buku Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi