Anda di halaman 1dari 17

PENYAKIT BERCAK DAUN OLEH Cercospora carotae PADA TANAMAN

WORTEL (Daucus carota L.)

PAPER

OLEH

EKA ALLISA SHALSABILLA


190301135
AGROTEKNOLOGI lllA

LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB PENYAKIT


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
PENYAKIT BERCAK DAUN OLEH Cercospora carotae PADA TANAMAN
WORTEL (Daucus carota L)

PAPER

OLEH

EKA ALLISA SHALSABILLA


190301135
AGROTEKNOLOGI lllA

Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memenuhi Komponen Penilaian di
Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Penyakit Program Studi
Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB PENYAKIT


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul paper ini adalah “Penyakit Bercak Daun Oleh Cercospora carotae

Pada Tanaman Wortel (Daucus carota L.)” yang merupakan salah satu syarat

untuk dapat memenuhi Komponen Penilaian di Laboratorium Dasar Perlindungan

Tanaman Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Sumatera Utara,

Medan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ir. Lahmuddin Lubis ;

Ir. Hasanuddin, MS.; Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr;Dr. Lisnawita, SP.,

M.Si.; Irda Safni, SP.,MCP,Ph.D selaku dosen pembimbing mata kuliah Dasar

Perlindungan Tanaman. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada abang dan

kakak asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.

Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk

itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

kesempurnaan paper ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih. Semoga paper ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan

Medan, Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i

DAFTAR ISI ………………………………………………………….......…..ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang……………………………………………....……….....1
Tujuan Penulisan……………………………………………….....…....2
Kegunaan Penulisan………………………………………………........3

PENYAKIT NEMATODA SISTA KUNING OLEH Globodera rosthociensis


PADA TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.)
Pengertian Bercak Daun……………………....…...………...................4
Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Cercospora carotae………5
Gejala Penyakit Bercak Daun………………….……............................6
Pengendalian Penyakit Bercak Daun………….........................……….8

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Wortel merupakan tanaman sayuran berumbi yang banyak dikembangkan

di Indonesia terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan sayur. Namun

demikian, dengan berkembangnya teknologi pangan serta semakin pesatnya

kemajuan bidang kesehatan, kini wortel dimanfaatkan sebagai bahan minuman,

pewarna makanan dan sebagai ramuan obat tradisional. Sejalan dengan

peningkatan kebutuhan wortel di Indonesia, pemerintah terus berupaya

meningkatkan produksi wortel dalam negeri. Menurut catatan Badan Pusat

Statistik produksi wortel di Indonesia dari tahun 2009 hingga 2011 meningkat.

Pada tahun 2009 produksi wortel tercatat 358 014 ton dengan luas 24 095 ha,

tahun 2010 dan 2011 meningkat menjadi 403 827 ton dengan luas 27 149 ha dan

526 917 ton dengan luas 33 228 ha (BPS, 2012).

Budidaya tanaman wortel di Indonesia memiliki berbagai kendala yang

berkaitan dengan produktivitas dan kualitas hasil panen. Selama periode antara

2009 dan 2011 terjadi penurunan produktivitas di beberapa sentra produksi wortel

di Indonesia seperti Jawa Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara yaitu masing-

masing dari 19.39 ton/ ha menjadi 17.19 ton/ ha, 21.20 ton/ ha menjadi 18.72 ton/

ha dan 12.63 ton/ ha menjadi 6.24 ton/ ha (BPS, 2012).

Wortel (Daucus carota L.) merupakan tanaman sayuran umbi biennial

berbentuk semak. Sayuran jenis ini mudah dijumpai diberbagai tempat dan dapat

tumbuh sepanjang tahun baik penghujan maupun kemarau. Wortel memiliki

batang pendek yang hampir tidak tampak. Akarnya berupa akar tunggang yang

berubah bentuk dan fungsi menjadi bulat dan memanjang. Tanaman wortel dapat
2

tumbuh optimal di daerah bersuhu dingin atau berada dipegunungan dengan syarat

ketinggian sekitar 1200 m dpl. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa

sekumpulan pelepah pada tangkai daun yang muncul dari pangkal umbi bagian

atas, yang mirip dengan daun seledri (Dwipoyono et al., 2012).

Wortel merupakan jenis sayuran yang menyehatkan untuk tubuh manusia

sehingga perlu dibudidayakan lebih banyak lagi untuk kesejahteraan dan

memenuhi kebutuhan manusia. Selain enak dan digemari oleh banyak masyarakat

sebagai bahan untuk membuat aneka macam masakan, wortel pula dapat

digunakan sebagai bahan kosmetik serta berkhasiat obat sebagai penyembuh

berbagai macam penyakit, karena di dalam umbi wortel mengandung senyawa

beta karoten yang dapat menimbulkan kekebalan tubuh terhadap penyakit

(Cahyono, 2002).

Beberapa penyakit pada tanaman wortel yang telah dilaporkan adalah

penyakit Aster yellow (fitoplasma dan spiroplasma), penyakit hawar daun

(Cercospora carotae, Alternaria dauci), busuk sklerotinia (Sclerotinia), busuk

mahkota (Rhizoctonia carotae), bercak berongga pada wortel (Phytium violae)

(David dan Raid 2002), Crown gall (Agrobacterium tumefaciens), Carrot virus Y

(CarVY) (Latham et al. 2004) dan puru akar (Meloidogyne spp.) (McDonald et al.

2008).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Penyakit Bercak

daun oleh Cercospora carotae Pada Tanaman wortel (Daucus carota L.)
3

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Dasar Perlindungan

Tanaman Sub Penyakit Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara


PENYAKIT BERCAK DAUN OLEH Cercospora carotae PADA
TANAMAN WORTEL (Daucus carota L.)

Pengertian Bercak Daun


Bercak daun cercopsora merupakan penyakit yang umum dijumpai pada

berbagai tanaman sepeti cabai, terong, tomat, kacang tanah, selada, seledri,

anggur, mawar, dan sebagainya. (Direktorat Jendral Perkebunan, 2003).

Cercospora adalah genus jamur ascomycete. Sebagian besar spesies tidak

memiliki tahap seksual yang diketahui, dan ketika tahap seksual diidentifikasi, ia

berada dalam genus Mycosphaerella. Sebagian besar spesies dari genus ini

menyebabkan penyakit tanaman, dan membentuk bercak daun. (Michereff et al,

2011).

Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Cercospora sp. yang awalnya

berupa bercak nekrotik kecil pada permukaan daun, lalu berkembang menjadi

bercak tidak beraturan dan menghasilkan konidia dalam jumlah banyak Jika

bercak ini terlalu banyak aktivitas fotosintesis akan terganggu dan menurunkan

hasil panen cabai merah tersebut. Penyakit bercak daun Cercospora sp. dapat

mengakibatkan kerusakan tanaman hingga 50% lebih jika tidak dikendalikan

(Moekasan dan Prabaningrum, 2012)

jamur Cercospora sp. memiliki spora berwarna abu-abu dan berbentuk

oval dengan panjang 40– 60µm dan lebar 6–8µm. Memiliki miselium yang

berseptat dan berwarna hialin. Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh

Cercospora sp. sering terjadi di lahan pertanaman yang sangat lembab

(kelembaban dapat lebih dari 90%) (Yullia, 2011).


5

Bercak daun cercospora berbentuk oblong (bulat) sirkuler dengan bagian

tengah berwarna abu-abu tua dan cokelat tua di bagian luarnya. Adapun

ukurannya 0.25 cm. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit bintik mata

kodok karena bintik tersebut berbentuk mata kodok. Saat berukuran lebih besar,

bercak mengering dan retak dan akhirnya bagian yang terserang akan rontok

(Panggabean, 2011).

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Cercospora carotae

Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit adalah kelembapan

udara yang tinggi seperti pada saat musim hujan, persemaian terlalu gelap,

peneduh terlalu rimbun, dan penyinaran matahari yang terlalu kuat pada buah

(Hindayana et al, 2002).

Proses infeksi diduga terjadi pada daun dalam kondisi basah. Kondisi suhu

yang agak tinggi (25 ºC - 30ºC) disertai kondisi kelembapan yang tinggi dapat

memacu proses perkembangan dan infeksi penyakit bercak daun pada tanaman

kopi (Meliyana, Wardana, & Syarief, 2019).

Hujan merupakan salah satu agen penyebaran konodia patogen, hal ini

dikarenakan meningkatnya kelembapan yang disebabkan oleh hujan akan

berpengaruh pada daya hidup atau proses infeksi konodia patogen pada tanaman.

Hujan juga dapat menurunkan efektivitas fungisida dalam pencucian kandungan

bahan aktif pada fungisida yang digunakan.(Suhardi,2007).


6

Jamur membentuk konidium pada kedua sisi daun, meskipun lebih banyak

pada sisi atas. Konidium jamur terebut mengakibatkan penyakit bercak daun di

pencarkan oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan penting

yang jauh lebih besar dibanding dengan faktor-faktor lainnya. Cercospora butuh

waktu 23 hari untuk intensitas penyakit agar dapat meningkat 10 kali. Diudara

konidium jamur tersebut paling banyak pada tengah hari (Nasir.2010).

Umumnya penyakit bercak daun cercospora berkembang lebih baik pada

musim kemarau. Meskipun belum diketahui secara pasti varietas-varietas yang

tahan dan rentan terhadap penyakit ini, tetapi kenyataan di lapangan sering

menunjukkan reaksi yang sangat beragam Kandungan unsur hara terutama

nitrogen dan kalium sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit ini

(Sumartini, 2008).

Gejala Penyakit Bercak Daun

Gejala Cercospora carotae adalah pada daun terjadi becak-becak bulat atau

memanjang. Becak-becak memanjang lebih banyak terdapat di tepi daun. Daun

mengeriting, karena bagian yang sakit tidak mengikuti pertumbuhan daun. Bercak

yang semula klorotis, pusatnya segera menjadi nekrotis yang dikelilingi dengan

tepi klorotis yang tidak berbatas jelas. Jika kelembaban rendah bercak berwarna

coklat muda. Jika kelembaban tinggi becak berwarna lebih tua dan tampak keabu-

abuan karena terbentuknya konidiofor dan konidium. Infeksi terjadi melalui mulut

kulit (Semangun, 2000).


7

Gejala serangan pada daun terdapat bercak-bercak bulat, cokelat

kemerahan, atau cokelat tua, berbatas jelas, dan konsentris. Pada bercak yang tua

terdapat pusat berwarna putih kelabu, sering tampak seperti tepung hitam yang

merupakan konidium jamur (Susniahti,2005).

Gejala bercak daun awal pada umumnya ditandai oleh bercak bulat

berwarna coklat tua yang dikelilingi oleh lingkaran halo berwarna kekuningan

pada permukaan atas daun. Bercak daun akhir bercaknya lebih bulat, ukurannya

lebih kecil dan berwarna lebih gelap (hitam) pada permukaan bawah daun.

Lingkaran halo yang terdapat pada bercak daun awal dipengaruhi oleh inang dan

lingkungan (Nasir ,2010).

Menurut sifatnya gejala penyakit dapat dibedakan menjadi dua yaitu gejala

morfologi dan gejala histologi. Gejala morfologi adalah penyimpanagan pada

tanaman yang mudah dikenali dengan panca indra (lihat,raba,cium). Sedangkan

gejala histologi adalah penyimpangan pada tanaman yang dapat diketahui melalui

pemeriksaan mikroskop terhadap jaringan tanaman yang sakit. (Haryono, 2006).

Gejala serangan berupa bercak melingkar dengan pusat abu-abu cerah dan

tepi cokelat kemerahan. Bercak awalnya berukuran kecil akhirnya secara perlahan

membesar. Pada bagian pinggiran daun terdapat bercak berwarna lebih tua (sering

berwarna kecoklatan) dari berwarna coklat di bagian tengahnya (Direktorat

Perlindungan Perkebunan, 2004)


Pengendalian Penyakit Bercak Daun 8

Pengendalian penyakit bercak daun dapat dilakukan dengan cara : (1)

Pengendalian dengan fungisida kimia, misalnya fungisida mancozeb seperti

Dhitane dan Delsene.; (2) Kelembapan dikurangi dengan mengurangi penyiraman,

menjarangkan atap penaung sehingga sinar matahari dapat langsung masuk.; (3)

Sanitasi dengan menggunting daun yang sakit kemudian dibakar atau

dibenamkam di dalam tanah.; (4) Penyakit pada buah dapat dikurangi dengan

mengatur peneduh (Sastrahidayat, 2005).

Pengendalian penyakit Cercospora dapat dilakukan dengan cara Atur

kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara yaitu, pengaturan drainase dan

jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi,

terutama pada musim hujan, Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi.

Selanjutnya, segera cuci tangan setelah memegang tanaman sakit. Usahakan tidak

memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian

tanaman yang sakit, Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain

yang bukan famili Solanaceae atau tanaman inang lainnya (DPJ,2002).

Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Antracol

70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP,

Topsin M70 WP, Previcur N, Starmyl 25 WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325

EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan,

baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga

gabungan keduanya (Semangun, 2000).


9

Selama ini pengendalian penyakit bercak daun cercospora hanya dapat

dilakukan dengan penyemprotan fungisida. Pengendalian dengan 3 kali

penyemprotan yaitu pada fase anakan maksimum, awal pembungaan dan awal

pengisian dengan fungisida benomil, mankozeb, carbendazim, atau difenoconazol

dengan dosis 1 cc per 1 liter air, dengan volume semprot 500 liter per ha, dapat

menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora dan menekan

kehilangan hasil panen sampai dengan 30% (Suhardi, 2007).

Pengendalian penyakit bercak daun cercospora adalah dengan penanaman

varietas tahan dan perbaikan kondisi tanaman.Pemupukan N, P, dan K yang

mencukup kebutuhan tanaman sangat efektif menekan perkembangan penyakit.

Penyemprotan fungisida difenoconazol satu kali dengan dosis 1 cc per satu liter

air volume semprot 400-500 l /ha pada stadium anakan maksimum, menekan

perkembangan penyakit bercak daun cercospora hingga 32,10% (Saleh, 2011)


KESIMPULAN
1. Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Cercospora sp. yang awalnya

berupa bercak nekrotik kecil pada permukaan daun, lalu berkembang

menjadi bercak tidak beraturan dan menghasilkan konidia dalam jumlah

banyak.

2. Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit adalah kelembapan

udara yang tinggi seperti pada saat musim hujan, persemaian terlalu gelap,

peneduh terlalu rimbun, dan penyinaran matahari yang terlalu kuat.

3. Gejala Cercospora carotae adalah pada daun terjadi becak-becak bulat atau

memanjang.

4. Pengendalian penyakit Cercospora dapat dilakukan dengan cara Atur

kelembapan lingkungan pertanaman


DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2002. Wortel: Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius,

Yogyakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2003). Musuh alami, hama, dan penyakit

tanaman kopi. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Rakyat.

Jakarta: Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Bina

Produksi Perkebunan. Departemen Pertanian.

Direktorat Perlindungan Perkebunan (DPP). 2004. Musuh Alami, Hama dan

Penyakit Tanaman Kopi. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan

Rakyat. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Departemen

Pertanian. Jakarta.

DPJ. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. Jakarta: Direktorat

Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan

Departemen Pertanian

Dwipoyono, H.S., Tyasmoro, S.Y., & Nugroho, A. (2012). Pertumbuhan dan

Hasil Tanaman Wortel (Daucus carota L.) yang Ditanam Tumpang Sari

Dengan Tanaman Apel (Malus sylvestris MILL) Dengan Arah Bedengan

Berbeda Di Lahan Miring.

Hindayana, D., Judawi, D., Priharyanto, D., Luther, G.C., Purnayara, G.N.R.,

Mangan, J., Untung, K., Sianturi, M., Mundy, R., & Riyanto. (2002).

Musuh alami, hama, dan penyakit tanaman kopi (p. 52). Proyek
Pengendalian Hama Terpadu. Jakarta: Direktorat Perlindungan

Perkebunan, Direktorat Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian.

McDonald MR, Vandeer Kooi K, Saude C, Tasfaendrias M, Westerveid, Boland

G. 2008. Carrot country. Spring. 16:1–16.

Meliyana, R., Wardana, R., & Syarief, M. (2019). Efikasi Ekstrak Daun Kemangi

(Ocimum basilicum) Terhadap Penyakit Bercak Daun (Cercospora

arachidicola) Pada Tanaman Kacang Tanah. Agriprima, Journal of Applied

Agricultural Sciences, 3(1), 31–40.

Michereff, S.J., Martins, R.B., Noronha, M.A., and Machado, L.P. 2011. Sample

Size For Quantification of Cercospora Leaf Spot in Sweet Pepper. Journal

of Plant Pathology. Brazil. 93(1), 183-186.

Moekasan, TK dan Prabaningrum, L. 2012. Penggunaan Rumah Kasa Untuk

Mengatasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pada Tanaman

Cabai Merah Di Dataran Rendah. J. Hort. 22 (1):65-75. Balai Penelitian

Tanaman Sayuran. Lembang. Bandung

Nasir Saleh. 2010. Optimalisasi Pengendalian Terpadu Penyakit Bercak Daun Dan

Karat Pada Kacang Tanah.Malang(ID): Balai Penelitian Tanaman

Panggabean , E. 2011. Buku Pintar Kopi. 1st edition. Penerbit Agromedia

Pustaka. Jakarta.

Saleh, N., & Hadi, M. (2011). Pengendalian Kimiawi Penyakit Bercak Daun

Coklat Cercospora henningsii Pada Ubi Kayu. Seminar Hasil Penelitian

Tanaman Aneka Kacang Dan Umbi, 610–620.


Sastrahidayat,R.I.2011.EpidemiologiTeoritis Penyakit Tumbuhan.Malang(ID):UB

Press Brawijaya

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Di Indonesia (Edisi

Kedua).

Suhardi. (2007). Efektivitas Fungisida Untuk Pengendalian Penyakit Berdasarkan

Curah Hujan Pada Mawar. Jurnal Hortikultura, 17(4), 355–364.

Sumartini. (2008). Bioekologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun Pada

Kacang Tanah. Buletin Palawija, (16), 18–26.

.Susniahti, N; H. Sumeno; dan Sudrajat. 2005. Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas

Padjadjaran. Bandung.

Yullia, T. 2011. Petunjuk Praktis Bertanam Cabai. Agro Media Pustaka. Jakarta