Anda di halaman 1dari 30

7

BAB II
KAJIAN TEORETIS, KERANGKA PIKIR, DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS

A. Kajian Teoretis
1. Model Sains, Teknologi, dan Masyarakat (STM)
dalam Pembelajaran Fisika
a. Pengertian STM
Model sains teknologi masyarakat sebagai suatu program pendidikan
untuk pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahu 1985. pada tahun
1986, model STM mulai diperkenalkan di Program Pasca Sarjana IKIP
Bandung, sebagai salah satu mata kuliah. Sedangkan penelitian di kelas baru
dilaksanakan pada tahun 1994.1 Sains teknologi masyarakat sebagai suatu
perubahan yang utama di dalam pendidikan ilmu pengetahuan.2 Jadi, dalam
pendidikan ilmu pengetahuan sains teknologi masyarakat merupakan suatu
proses pembelajaran yang dapat mengubah cara berpikir siswa.
Istilah Sains Teknologi Masyarakat diterjemahkan dari bahasa Inggris
“Science Techology Society (STS)”, yaitu pada awalnya dikemukakan oleh
John Ziman dalam bukunya Teaching and Lerning about Science and Society.
Pembelajaran Science Technology Society berarti menggunakan teknologi
sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.3 jadi, dalam pembelajaran
menggunakan sains teknologi masyarakat bahwa teknologi dapat digunakan
sebagai penghubung/penerapan antara sains dan masyarakat sehingga siswa
dapat memahami apa yang telah dipelajari.
Menurut James E. Hollenbeck, STS means teaching and learning in
the context of human experience.4 STM dipandang sebagai proses
pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia.

1
Anna Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005).
h. 111.
2
Elif Bakar, dkk, Preservice Science Teachers Belifes About Science-Technology And Their
Impilication In Society, Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education,
Volume 2, Number 3, December 2006. h. 19.
3
Anna Poedjiadi, Op.Cit., h. 99.

7
8

Dalam model ini siswa diajak untuk meningkatkan kreatifitas, sikap ilmiah,
menggunakan konsep, dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.5 Definisi
lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE dalam Sabar Nurohman
bahwa STM merupakan “an interdisciplinary approach which reflects the
widespread realization that in order to meet the increasing demands of a
6
technical society, education must integrate across disciplines”. Dengan
demikian, pembelajaran dengan model STM haruslah diselenggarakan dengan
cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami
berbagai hubungan yang terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat.
Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem
politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi
terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam
pengembangan pembelajaran di era sekarang ini. Menurut Robert E. Yeger
ada 5 bidang dalam model pembelajaran, yaitu: 1) konsep, 2) proses, 3)
aplikasi, 4) kreativitas, dan 5) sikap.7
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa model
STM adalah suatu pembelajaran yang dimaksudkan untuk mengetahui,
dimana ilmu (sains) dapat menghasilkan teknologi untuk perbaikan
lingkungan sehingga bermanfaat bagi masyarakat, dan bagaimana situasi
sosial atau isu yang berkembang di masyarakat mengenai lingkungan dan
teknologi mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi, yang
memberikan sumbangan terbaru bagi ilmu pengetahuan.

b. Model STM pada Pendekatan


Konstruktivisme

4
James Edward Hollenbeck,(1998) Scince, Technology and Society:an American
Approach to Environmental Education in Practice in Lowa Schools, (Europe: A Plenary
Presentation to the Foundation for Environmental), h. 6.
5
Glen S. Aikenhead, Research Into STS Science Education, (Canada : University of
Sasakatchewan 2005),. 385.
6
Sabar Nurohman, Penerapan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat (STM)
Dalam Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills Peserta Didik, (Pendidikan
Fisika FMIPA UNY).
7
Robert E. Yeger, Assessment Results with the Science/Technology/Society Approach,
Oktober 1999,. h. 35
9

Model STM merupakan sebuah model pembelajaran yang merujuk


pada pendekatan konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan cara belajar
yang menekankan peranan siswa dalam membentuk pengetahuannya
sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan
siswa tersebut dalam membentuk pengetahuannya.8 Teori yang dikenal dengan
constructivist theories of leraning menyatakan bahwa siswa harus menemukan
sendiri dan mentransformasi informasi kompleks, mengecek informasi baru
dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu apabila tidak lagi
sesuai. 9
Perkembangan konstruktivisme dalam belajar tidak terlepas dari usaha
keras Jean Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh ini menekankan bahwa
perubahan kognitif kearah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang
sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang
diterima melalui proses ketidakseimbangan (dissequilibrium). Selain itu, Jean
Piaget dan Vygotsky juga menekankan pada pentingnya lingkungan sosial
dalam belajar dan dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam
belajar kelompok akan dapat meningkatkan pengubahan secara konseptual.
Hakekat dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus
menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Pengetahuan tidak dapat begitu
saja dipindahkan dari otak seseorang (guru) ke kepala orang lain (siswa).
Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan
menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka. Tanpa pengalaman,
seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman disini tidak harus
pengalaman fisik, tetapi bisa diartikan juga pengalaman kognitif dan mental.
Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya
(misconseptions), menunjukkan bahwa pengetahuan itu tidak dapat begitu saja
dipindahkan, melainkan harus dikonstruksikan atau paling sedikit
diinterpretasikan sendiri oleh siswa.

8
Pristiadi Utomo, Pembelajaran Fisika dengan pendekatan SETS. http.//Ilmuan
Muda.Wordpress.com. Diakses tanggal 24 Februari 2010.
9
Muhammad Faiq Dzaki, Teori Konstruktivisme,
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/teori-konstruktivisme_06.html.
10

Selama dua puluh tahun terakhir ini, konstruktivisme telah banyak


diterapkan di Amerika, Eropa dan Australia. Prinsip-prinsipnya adalah sebagai
berikut, yaitu a) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara
personal maupun sosial, b) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke
murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar, c) siswa
aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
menuju konsep yang lebih rinci, lengkap sesuai dengan konsep ilmiah, dan d)
guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses
konstruksi siswa berjalan mulus.10
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran menurut konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan
siswa dalam mengkoordinasikan pengalaman mereka dengan cara
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui interaksi dengan
lingkungannya. Tujuan pendidikan konstruktivisme adalah menghasilkan
individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan tiap
persoalan yang dihadapi
Berdasarkan masalah atau isu di masyarakat yang ditemukan oleh
siswa, guru mengarahkan dengan suatu pendekatan dalam pembelajaran
sehingga siswa dapat mengkontruksi pengetahuannya sendiri, misalnya
dengan eksperimen atau diskusi. Dengan cara ini guru telah menerapkan
paham konstruktivisme dalam pembelajaran, yang dewasa ini sedang diminati
para pendidik dan dijadikan dasar pembelajaran melalui model STM.

c. Tujuan Model STM


Berdasarkan pengertian STM sebagaimana diungkapkan di bagian
sebelumnya, maka dapat diungkapkan bahwa yang menjadi tujuan model
STM adalah untuk menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal
pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-
masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan

10
Pristiadi Utomo, Op.Cit. h. 12.
11

sehubungan dengan keputusan yang diambilnya (NSTA, 1991).11 Menurut


Zudan K. Prasetyo, salah satu tujuan dari model STM adalah agar sekolah
mengacu pada kurikulum yang dikaitkan dengan masalah-masalah sehari-hari
yang ada di masyarakat sebagai dampak dari penerapan teknologi.12
Menempatkan pembelajaran sains dalam suatu konteks lingkungan dan
kehidupan masyarakat yang dikaitkan dengan teknologi akan membuat sains
dan teknologi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan nyata semua siswa.
Tujuan utama pendidikan sains dengan model STM adalah Mempersiapkan
siswa menjadi warga negara dan warga masyarakat yang memiliki suatu
kemampuan dan kesadaran untuk:
1) Menyelidiki, menganalisa, memahami, dan menerapkan
konsep-konsep/prinsip-prinsip dan proses sains dan teknologi pada situasi
nyata.
Dalam hakikatnya pembelajarn model STM terutama dalam fisika
adalah suatu pembelajaran yang mengaitkan antara isu/masalah yang ada
dalam keterkaitannya antara sains, teknologi dan masyarakat. Untuk itu dalam
model pembelajaran ini siswa diharapkan mampu menelidiki, menganalisi dan
memahami isu/masalah tersebut.
2) Melakukan perubahan.
Pembelajaran model STM merupakan model pembelajaran yang
menjembatani anata sains, teknologi, dan masyarakat sehingga dengan adanya
model pembelajaran ini siswa mampu melakukan perubahan dalam
pembelajaran sehari-hari terutama pmata pelajaran fisika.
3) Membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mendasar tentang
isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi yang memiliki komponen sains
dan teknologi.

11
Purwanto,(2008) Upaya Mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple
Inelligences) Peserta Didik SMK Melalui Penerapan Pendekatan STM Dalam Pembelajaran
Fisika, (Yogyakarta, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta), h. 6.
12
Zhudan k. Prasetyo,(2006) Kapita Selekta Pembelajaran Fisika, (Jakarta: Universitas
Terbuka, 2006), h. 4.32.
12

Dalam pembelarannya siswa diusahakan mampu mengambil keputusan


mengenai isu/masalah-masalah yang ada dalam kaitannya dengan sain
teknologi masayarakat.
4) Merencanakan kegiatan-kegiatan baik secara individu maupun kelompok
dalam rangka pengambilan tindakan dan pemecahan isu-isu atau masalah-
masalah yang sedang dihadapi.
Perencanaan kegiatan dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan
baik secara individu maupun secara kelompok sehingga nantinya siswa dapat
memahami mata pelajaran tersebut dan dapat menerapkannya di lingkungan
kehidupan sehari-hari.
5) Bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan tindakannya.13
Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, maka dapat disederhanakan
bahwa model STM dikembangkan dengan tujuan agar: 1) peserta didik
mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam
kelas, 2) peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/prespektis untuk
menyikapi berbagai isu/situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan
pandangan ilmiah, dan 3) peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai
warga masyarakat yang memiliki tanggungjawab sosial.

d. Karakteristik Model STM


Berdasarkan dengan tujuan model STM, Heath seperti yang di kutip
oleh La Maronta Golib menyatakan bahwa secara operasional pembelajaran
dengan model STM memiliki karakteristik, yaitu:
1) Diawali dengan isu-isu/masalah-masalah yang sedang beredar serta
relevan dengan ruang lingkup isi/materi pelajaran dan perhatian, minat, atau
kepentingan siswa.
2) Mengikutsertakan siswa dalam pengembangan sikap dan keterampilan
dalam pengambilan keputusan serta mendorong mereka untuk
mempertimbangkan informasi tentang isu-isu sains dan teknologi.

13
La Maronta G, (2002) Pendekatan STM dalam Pembelajaran Sains di Sekolah, Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, h. 47.
13

3) Mengintegrasikan belajar dan pembelajaran dari banyak ruang lingkup


kurikulum
4) Memperkembangkan literasi sains, teknologi , dan sosial.14

Menurut Yager dalam Hidayat seperti yang dikutip oleh Arnie


Fajar program STM pada umumnya memiliki karakteristik/ciri-
ciri sebagai berikut: 1) identifikasi masalah-masalah setempat
yang memiliki kepentingan dan dampak, 2) penggunaan
sumber daya setempat untuk mencari informasi yang dapat
digunakan dalam memecahkan masalah, 3) keikutsertaan yang
aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan
untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-
hari, 4) Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap
siswa, 5) suatu pandangan bahwa isis daripada sains bukan
hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasi siswa dalam tes,
6) penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains
dan teknologi, 7) kesempatan bagi siswa untuk berperan
sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan
isu-isu yang telah diidentifikasi, dan 8) identifikasi bagaimana
sains dan teknologi berdampak dimasa depan.15

Model STM dalam pembelajaran IPA merupakan perekat yang


mempersatukan sains, teknologi, dan masyarakat. Isu-isu sosial dan teknologi
yang terdapat di masyarakat merupakan karakteristik kunci dari model STM.16
Melalui model STM, para siswa belajar IPA dalam konteks pengalaman nyata,
yang mencakup penerapan sains dan teknologi.Bentuk korelasi hubungan
timbal balik antar unsur-unsur sains-teknologi-masyarakat dapat dilihat pada
gambar berikut: SAINS

TEKNOLOGI MASYARAKAT

Gambar 2.1 Interaksi sains-teknologi-masyarakat17

14
Ibid., h. 51.
15
Arnie Fajar, Portofolio Dalam Pembelajaran IPS, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya
2004). h. 25-26
16
I Wayan Sadia, Pengembangan Buku Ajar IPA Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP) Berwawasan Sains-Teknologi-Masyarakat, (Singaraja: Aneka Widya, 1999) h. 26.
17
La Maronta G, Loc.Citt.,
14

Gambar di atas menunjukkan bahwa sains, teknologi, dan masyarakat


sangat erat hubungannya. Siswa berinteraksi dengan lingkungan sosial
(masyarakat), lingkungan alam (dipelajari dengan sains), dan lingkungan
buatan (teknologi). Teknologi ini diciptakan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Teknologi dan sains saling melengkapi, sebab sains
merupakan pengetahuan yang sistematis tentang alam dimana manusia hidup
sedangkan teknologi merupakan metode sistematis yang dilakukan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari beberapa karakteristik di atas, dapat disimpulkan bahwa
karakteristik utama model STM adalah pengungkapan masalah atau isu sosial
teknologi diawal pembelajaran. Pembelajaran mengutamakan keaktifan siswa
sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilisator saja. Pengungkapan
permasalahan di awal pembelajaran dapat membantu siswa mengkonstruksi
pengetahuan serta mengenalkan peranan sains dalam kehidupan kepada siswa.
Dengan menganalisis permasalahan yang dihadirkan, diharapkan siswa dapat
membuat suatu keputusan. Belajar dari suatu yang nyata akan membentuk
siswa memahami materi pelajaran. Robert E Yager dan Rustaman Roy
mengemukakan 4 perbandingan kontras antara STM yang dikemukakan oleh
NSTA terhadap pengajaran tradisional seperti terlihat pada tebel 2.118
Tabel 2.1 Perbedaan Model Pembelajaran STM
dengan Model Pembelajaran Tradisional
No Model Pembelajaran STM Model Pembelajaran Tradisional
1 Identifikasi masalah dengan Pembelajaran menggunakan buku
minat/pengaruh yang kuat terhadap teks
pembelajaran
2 Menggunakan sumber daya lokal Menggunakan buku teks dalam
untuk mengatasi masalah mengatasi masalah
3 Siswa dengan aktif mencari informasi Siswa bersikap pasif dalam
pembelajaran
4 Pusat pembelajaran siswa ada pada Pusat pembelajaran siswa hanya
diri pribadi serta keingintahuan yang pada informasi yang diberikan

18
Robert E. Yager and Rustam Roy, STS: Most Pervasive and Most Radical of Reform
Appoarches to “Science” Education, The University of Lowa and Pennsylvania State University,
2000. h. 9.
15

kuat

Rumansyah dan Irhasyuarna merangkum perbedaan antara


pembelajaran sains dengan pendekatan STM dan pembelajaran sains lainnya
seperti terlihat pada tabel 2.2. 19
Tabel 2.2 Perbedaan Pembelajaran Model STM
dengan Pembelajaran Sains Lainnya
No. Pembelajaran sains
Pembelajaran pendekatan STM
lainnya
1. Sesuai dengan kurikulum dan berkaitan Konsep berasal dari teks
dengan permasalahan yang dihadapi sesuai kurikulum
masyarakat serta berusaha menjawab
permasalahan tersebut.
2. Multidisipliner, melibatkan berbagai aspek Monodisipliner dan
dan keilmuan dalam pembelajarannya diajarkan secara terpisah
3. Topik /arah /fokus ditentukan siswa atau oleh Topik /arah /fokus
isu /masalah yang ada di lingkungan sekitar ditentukan oleh guru
4. Pembelajaran dimulai dengan aplikasi sains Pembelajaran dimulai dari
(teknologi) dalam masyarakat konsep, prinsip, kemudian
contoh
5. Guru berperan sebagai fasilisator Guru sebagai pemberi
informasi
6. Menggunakan sumber daya yang ada di Menggunakan sumber daya
lingkungan yang ada di sekolah
7. Tugas utama siswa adalah mencari, Tugas utama siswa adalah
mengolah dan menyimpulkan memahami isi buku teks

e. Tahap Pembelajaran STM


Model STM terdiri dari serangkaian tahap pembelajaran.
Keterlaksanaan setiap tahap sangat mendukung dan menentukan keberhasilan
pembelajaran secara keseluruhan. Pembelajaran STM banyak menggunakan
sumber belajar yang ada dimasyarakat yang berhubungan dengan materi dan

19
Rumansyah dan irhasyuarna, Prospek Penerapan Pendekatan Sains-Teknologi-
Masyarakat (STM) Dalam pembelajaran Kimia Di Kalimantan Selatan , Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan. No. 029 Tahun Ke-7,, h. 195.
16

permasalahan teknologi yang akan dikaji. Pembelajaran bersifat fleksibel


karena guru leluasa untuk menerapkan berbagai strategi dan metode belajar.
Hal ini memungkinkan pendekatan STM melatih pola pikir yang divergen,
kerja kelompok diskusi kelas yang berpusat pada siswa, pemecahan masalah,
simulasi, pengambilan keputusan, dan debat dengan menggunakan sumber
belajar yang ada di masyarakat. Tahapan pembelajaran STM pada model STM
terdiri dari:
1. Pendahuluan
Tahap ini membedakan STM dengan pendekatan pembelajaran yang
lainnya. Pada tahap ini dikemukakan isu atau masalah yang ada di masyarakat.
Siswa diharapkan dapat menggali masalah sendiri, namun apabila guru tidak
mendapatkan tanggapan dari siswa, maka masalah dapat saja dikemukakan
oleh guru. Guru memfasilitasi siswa untuk lebih mendalami permasalahan.
Dalam tahap ini guru melakukan apersepsi berdasarkan kenyataan yang
dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat juga melakukan
eksplorasi melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan diluar kelas
secara berkelompok. Pengungkapan masalah pada awal pembelajaran
memungkinkan siswa mengkonstruksi pengetahuannya sejak awal.
Selanjutnya kostruksi pengetahuan ini akan terus dibangun dan dikokohkan
pada tahap pembentukan dan pemantapan konsep.

2. Pembentukan konsep
Pada tahap pembentukan konsep guru dapat melakukan berbagai
metode pembelajaran misalnya demonstrasi, diskusi, bermain peran, dan
sebagainya. Pendekatan STM juga memungkinkan diterapkannya berbagai
pendekatan seperti pendekatan ketrampilan proses, pendekatan sejarah,
pendekatan kecakapan hidup, dan pendekatan lainnya. Selama melakukan
berbagai aktivitas pada tahap pembentukan konsep siswa diharapkan
mengalami perubahan konsep menuju arah yang benar sampai pada akhirnya
konsep yang dimiliki sesuai dengan konsep para ilmuwan. Pada akhir tahap
pembentukan konsep, siswa telah dapat memahami apakah analisis terhadap
17

masalah yang disampaikan pada awal pembelajaran telah sesuai dengan


konsep para ilmuwan.
3. Aplikasi konsep
Berbekal pemahaman konsep yang benar siswa diharapkan dapat
menganalisis isu dan menemukan penyelesaian masalah yang benar. Konsep-
konsep yang telah dipahami siswa dapat menggunakan produk teknologi
listrik dengan benar karena menyadari bahwa produk-produk listrik tersebut
berpotensi menimbulkan kebakaran atau bahaya yang lain, misalnya bahaya
akibat terjadinya hubungan arus pendek. Contoh yang lain siswa menjadi
hemat dalam menggunakan beraneka sumber energy. Dalam kehidupan
sehari-hari setelah mengetahui terbatasnya energy saat ini.
4. Pemantapan Konsep
Pada tahap ini, guru melakukan pelurusan terhadap konsepsi siswa
yang keliru. Pemantapan konsep ini penting untuk dilakukan mengingat sangat
besar kemungkinan guru tidak menyadari adanya kesalahan konsepsi pada
tahap pembelajaran sebelumnya. Pemantapan konsep penting sebab
mempengaruhi retensi materi siswa.
5. Evaluasi
Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan
belajar dan hasil belajar yang telah diperoleh siswa. Berbagai kegiatan
penilaian dapat dilakukan mengingat beragamnya hasil belajar yang diperoleh
siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan STM.
18

Alur pembelajaran STM dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini.20

Tahap 1 Pendahuluan:
Inisiasi/invitasi/apersepsi/ Isu/masalah
eksplorasi thd siswa

Pembentukan/ Pemantapan konsep


Tahap 2 pengembangan
konsep

Aplikasi konsep dalam Pemantapan konsep


Tahap 3 kehidupan: penyelesaian
masalah atau analisis isu

Pemantapan
Tahap 4
konsep

Tahap 5 Penilaian

20
Anna Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005).
h. 126.
19

Gambar 2.2. Model Pembelajaran STM (Poedjiadi, A. 2006)

Jadi, tujuan yang ingin dicapai dari model STM dalam pembelajaran
adalah model interdisiplin ilmu dalam pembelajaran sains, memberikan siswa
pengetahuan tentang keadaan dunia yang sebenarnya, memberikan
kesempatan siswa untuk membentuk pemahaman yang kritis tentang
hubungan sains, teknologi dan masyarakat, dan mengembangkan kapasitas
dan kepercayaan diri siswa untuk mengaplikasikan sains dalam kehidupan
sehari-harinya.

2. Konsep
a. Pengertian Konsep dalam Pembelajaran
Mempelajari fisika pada dasarnya menguasai kumpulan hukum, teori,
prinsip dan tau rumus yang terbangun oleh konsep sesuai kajiannya. Konsep
merupakan buah pemikiran seseorang yang dinyatakan dalam definisi
sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori.
Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi dan
berpikir abstrak.21 Jadi, konsep disini merupakan sesuatu yang nyata sehingga
nantina siswa dapat memahami pembelajaran tersebut.
Dua tujuan utama dari pendidikan adalah meningkatkan ingatan dan
transfer. Ingatan didefinisikan sebagai kacakapan untuk menerima,
menyimpan dan menerima kesan-kesan.22 Sedangkan transfer dalam belajar
atau yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) mengandung arti
pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi kesituasi lainnya
(Reber 1998).23 Kata “pemindahan keterampilan” tidak berkonotasi hilangnya

21
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 71.
22
Ibid, h. 128.
23
Muhibbin Syah, PsikologiBelajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 159.
20

keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan


keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi diatas harus
dipahami sebagai pemindahan pengaruh keterampilan melakukan sesuatu
terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu lain.24
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ingatan merupakan
suatu kemampuan untuk mengingat atau memanggil kembali materi yang
telah diperoleh dengan cara yang hampir sama seperti saat belajar, sedangkan
transfer adalah kemampuan menggunakan materi yang telah diperoleh untuk
memecahkan masalah baru, menjawab pertanyaan baru atau untuk
mempermudah mempelajari materi baru.
Konsep merupakan dasar bagi proses-proses untuk memecahkan
masalah. Menurut Sutarto, konsep secara sederhana dapat dimengerti sebagai
katagaori suatu rangsangan (stimulus) berdasarkan atribut-atribut yang
dimilikinya.25 Dengan terkonsepnya rangsangan oleh siswa dengan baik
diharapkan siswa dengan mudah menemui dan memunculkan kembali dalam
bentuk konsep pada situasi dan kondisi yang lain. Jadi, konsep dapat diartikan
menurut penulis sebagai sesuatu fakta, peristiwa dan pengalaman melalui
generalisasi yang merupakan sesuatu gagasan atau ide.
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content
objectives) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip
utama. Konsep kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut harus dimilki dan
dikuasai siswa secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan.26
Kemampuan individu dalam mengkonsep rangsangan baru memiliki
tingkatan yang berbeda-beda, yang disebut tingkatan pencapaian konsep.
Klausimer mengkategorikan tingkat pencapaian konsep menjadi 4 (empat)

24
Ibid.
25
Sutarto, Buku Ajaran Fisika dengan Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika sebagai Alat
Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11 (054), 2005, h. 327
26
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika dan Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasisi
Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press), h. 14.
21

yaitu : tingkat konkrit, tingkat identitas, tingkat klasifikatoris dan tingkat


formal.27
1) Tingkat konktir, yaitu tingkat menghafal hingga
diskriminasi, pada tingkat ini individu akan merespon
rangsangan bila rangsangan telah dikenal sebelumnya.
2) Tingkat identitas, pada tingkat ini individu telah
dapat merespon rangsangan baru berdasarkan konsep-konsep
rangsangan sejenis yang telah dikenal sebelumnya.
3) Tingkat klasifikatoris, pada tingkat ini individu
akan nampak telah dapat mengenal kesetaraan dua atau lebih
rangsangan yang berbeda dari kelas yang sama, walaupun pada
saat itu mereka belum dapat menentukan criteria atribut atau
menentukan nama konsep rangsangan tersebut.
4) Tingkat formal, pada tingkat ini individu sudah
memiliki kemampuan untuk menentukan atribut-atribut yang
membatasi konsep suatu rangsangan, dengan demikian pada
tingkat ini mereka mampu mengkonsep, mendeskriminasi,
memberi nama atribut-atribut, dan mengevaluasi rangsangan.

Penguasaan konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah


penguasaan konsep dalam ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom
yang merupakan penguasaan bahan pelajaran yang berkenaan dengan
kemampuan berfikir setelah pembelajaran.
Bloom dan kawan-kawannya seperti yang dikutip oleh Suharsimi
Arikunto menyusun konsep taraf kompetensi kognitif ke dalam enam jenjang
atau tingkatan yang kompelksitasnya bertingkat.28
1. Mengingat berupa kemampuan untuk mempelajari fakta serta mengingat
kembali materi-ide-prinsip yang sudah dipelajari,
2.Pemahaman berupa kemampuan untuk menjelaskan ide dan konsep,
3.Penerapan yaitu kemampuan menggunakan materi yang sudah dipelajari
dalam situasi baru dan dunia nyata,
4.Menganalisa berupa kemampuan untuk menguraikan materi kedalam
bagian-bagian dan melihat hubungannya termasuk klasifikasi analisa dan
membedakan bagian-bagian,
5.Sintesis berupa kemampuan untuk menyesuaikan keputusan atau
27
Sutarto, Op.Cit.,h. 332.
28
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT Bumi Aksara
2006),. h. 117-120
22

serangkaian tindakan,
6.Evaluasi adalah kemampuan untuk membangkitkan produk baru, ide atau
cara pandang terhadap sesuatu.
Cara paling objektif untuk memperoleh kebenaran suatu konsep adalah
dengan menggunakan metode ilmiah. Suatu konsep dikatakan objektif jika
dapat dikonfirmasikan dengan kenyatannya, artinya symbol yang ada dalam
konsep tersebut dapat dileusuri keberadaanya di alam nyata.29 Dari beberapa
pengertian di atas, penguasaan konsep dapat diartikan kemampuan mengingat,
memahami, menerapkan, menganalisis, dan menilai ide atau buah piker
seseorang atau sekelompok orang tentang alam nyata yang diperolehnya dari
fakta peristiwa, dan pengalaman.
Adapun prosedur yang harus dilakukan dalam mengajarkan konsep,
yaitu sebagai berikut .
1. Tetapkan perilaku yang diharapkan diperoleh oleh siswa
setelah mempelajari konsep.
2. Mengurangi banyaknya atribut yang terdapat dalam konsep
yang kompleks dan menjadi atribut-atribut dominant.
3. Menyediakan mediator verbal yang berguna bagi siswa.
4. Memberikan contoh-contoh yang positif dan negative
mengenai konsep.
5. Menyajikan contoh-contoh.
6. Sambutan siswa dan penguatan ( reinforcement).
7. Menilai belajar konsep.30

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penguasaan Konsep


Banyak faktor yang mempengaruhi penguasan konsep terhadap suatu
konsep pembelajaran, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Dalam
memperbaiki penguasaan konsep siswa tidak akan terlepas dari faktor intern

29
http://pkab.wordpress.com/2008/06/21/discovery-inquiry-sts-fisika/
Di akses tanggal 20 April 2009
30
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta :
PT. Bumi Aksara). h. 165 - 169
23

siswa itu sendiri. Guru yang merupakan faktor ekstern dapat membantu
meningkatkan penguasaan konsep siswa, karena guru dianggap sebagai salah
satu sumber belajar dan sumber informasi serta dapat diajak untuk
berkomunikasi secara langsung tentang permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh siswa.
Motivasi dan minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran juga sangat
mempengaruhi proses pembelajarn. Siswa yang memilki motifasi dan minat
yang tinggi terhadap kegiatan pembelajaran, akan lebih mudah menerima
pelajaran yang akan mempengaruhinya terhadap penguasaan konsep tertentu.
Siswa akan bekerja lebih keras jika mereka mempunyai minat dan perhatian
pada pembelajanya.
Dalam kaitannya dengan motivasi, guru harus mampu membangkitkan
motivasi belajar siswa. Misalnya memberikan tugas yang jelas dan dapat
dimengerti, memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi siswa,
dan hukuman secara efektif dan tepat guna.
Selain itu, dalam kegiatan belajar mengajar guru harus menggunakan
media yang tepat dan variasi metode pembelajaran agar konsep yang dipelajari
siswa mudah dimengerti.
Dengan menggunakan media pembelajaran dapat mempermudah proses
belajar siswa. Selain itu, penggunaan media pembelajaran bertujuan agar
proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien untuk tercapainya tujuan.
Dengan media yang tepat, mempermudah guru menyampaikan suatu konsep
tertentu dan siswa lebih mudah menerima dan mendapatkan suatu konsep
tertentu.

3. Sifat Konsep Energi


a. Usaha
Usaha alias Kerja yang dilambangkan dengan huruf W (Work-bahasa
inggris), digambarkan sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh Gaya (F) ketika Gaya
bekerja pada benda hingga benda bergerak dalam jarak tertentu. Hal yang paling
sederhana adalah apabila Gaya (F) bernilai konstan (baik besar maupun arahnya)
24

dan benda yang dikenai Gaya bergerak pada lintasan lurus dan searah dengan arah
Gaya tersebut.31
Secara matematis, usaha yang dilakukan oleh gaya yang konstan
didefinisikan sebagai hasil kali perpindahan dengan gaya yang searah dengan
perpindahan.

Persamaan matematisnya adalah :

W = Fs cos 0 = Fs (1) = Fs

W adalah usaha alias kerja, F adalah besar gaya yang searah dengan
perpindahan dan s adalah besar perpindahan.

Apabila gaya konstan tidak searah dengan perpindahan, sebagaimana


tampak pada gambar di bawah, maka usaha yang dilakukan oleh gaya pada benda
didefinisikan sebagai perkalian antara perpindahan dengan komponen gaya yang
searah dengan perpindahan. Komponen gaya yang searah dengan perpindahan
adalah F cos

Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

31
Mikrajudin, IPA Terpadu SMP dan MTS, (Jakarta: Erlangga 2007). h. 33.
25

Hasil perkalian antara besar gaya (F) dan besar perpindahan (s) di atas
merupakan bentuk perkalian titik atau perkalian skalar. Karenanya usaha masuk
dalam kategori besaran skalar. Pelajari lagi perkalian vektor dan skalar kalau
dirimu bingun… Persamaan di atas bisa ditulis dalam bentuk seperti ini:32

BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS


Usaha (W) joule erg
Gaya (F) newton dyne
− meter cm
Perpindahan ( x )

Perlu anda pahami dengan baik bahwa sebuah gaya melakukan usaha
apabila benda yang dikenai gaya mengalami perpindahan. Jika benda tidak
berpindah tempat maka gaya tidak melakukan usaha. Agar memudahkan
pemahaman anda, bayangkanlah anda sedang menenteng buku sambil diam di
tempat. Walaupun anda memberikan gaya pada buku tersebut, sebenarnya anda
tidak melakukan usaha karena buku tidak melakukan perpindahan. Ketika anda
menenteng atau menjinjing buku sambil berjalan lurus ke depan, ke belakang atau
ke samping, anda juga tidak melakukan usaha pada buku. Pada saat menenteng
buku atau menjinjing tas, arah gaya yang diberikan ke atas, tegak lurus dengan
arah perpindahan. Karena tegak lurus maka sudut yang dibentuk adalah 90o. Cos
90o = 0, karenanya berdasarkan persamaan di atas, nilai usaha sama dengan nol.
Contoh lain adalah ketika dirimu mendorong tembok sampai puyeng… jika
tembok tidak berpindah tempat maka walaupun anda mendorong sampai banjir
keringat, anda tidak melakukan usaha. Kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah
gaya tidak melakukan usaha apabila gaya tidak menghasilkan perpindahan dan
arah gaya tegak lurus dengan arah perpindahan.

b. Energi

32
Dedi Hidayat, Prinsip-prinsip Fisika, (Jakarta: Yudistira, 2000). h. 243.
26

Segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari


membutuhkan energi. Untuk bertahan hidup kita membutuhkan energi yang
diperoleh dari makanan. Setiap kendaraan membutuhkan energi untuk bergerak
dan energi itu diperoleh dari bahan bakar. Hewan juga membutuhkan energi untuk
hidup, sebagaimana manusia dan tumbuhan.
Energi merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam fisika.
Konsep yang sangat erat kaitannya dengan usaha adalah konsep energi. Secara
sederhana, energi merupakan kemampuan melakukan usaha. Definisi yang
sederhana ini sebenarnya kurang tepat atau kurang valid untuk beberapa jenis
energi (misalnya energi panas atau energi cahaya tidak dapat melakukan kerja).
Definisi tersebut hanya bersifat umum. Secara umum, tanpa energi kita tidak
dapat melakukan kerja. Sebagai contoh, jika kita mendorong sepeda motor yang
mogok, usaha alias kerja yang kita lakukan menggerakan sepeda motor tersebut.
Pada saat yang sama, energi kimia dalam tubuh kita menjadi berkurang, karena
sebagian energi kimia dalam tubuh berubah menjadi energi kinetik sepeda motor.
Usaha dilakukan ketika energi dipindahkan dari satu benda ke benda lain. Contoh
ini juga menjelaskan salah satu konsep penting dalam sains, yakni kekekalan
energi. Jumlah total energi pada sistem dan lingkungan bersifat kekal alias tetap.
Energi tidak pernah hilang, tetapi hanya dapat berubah bentuk dari satu bentuk
energi menjadi bentuk energi lain.
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak jenis energi. Energi kimia
pada bahan bakar membantu kita menggerakan kendaraan, demikian juga energi
kimia pada makanan membantu makhluk hidup bertahan hidup dan melakukan
kerja. Dengan adanya energi listrik, kita bisa menonton TV atau menyalakan
komputer sehingga bisa bermain game sepuasnya. Ini hanya beberapa contoh dari
sekian banyak jenis energi dalam kehidupan kita. Misalnya ketika kita
menyalakan lampu neon, energi listrik berubah menjadi energi cahaya. Energi
listrik juga bisa berubah menjadi energi panas (setrika listrik), energi gerak (kipas
angin) dan sebagainya. Banyak sekali contoh dalam kehidupan kita, dirimu bisa
memikirkan contoh lainnya. Secara umum, energi bermanfaat bagi kita ketika
energi mengalami perubahan bentuk, misalnya energi listrik berubah menjadi
27

energi gerak (kipas angin), atau energi kimia berubah menjadi energi gerak (mesin
kendaraan).
Pada kesempatan ini kita akan mempelajari dua jenis energi yang
sebenarnya selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yakni energi potensial
dan energi kinetik translasi. Energi potensial dapat berubah bentuk menjadi energi
kinetik ketika benda bergerak lurus dan sebaliknya energi kinetik juga bisa
berubah bentuk menjadi energi potensial. Total kedua energi ini disebut energi
mekanik, yang besarnya tetap alias kekal.

Energi Kinetik.
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh setiap benda yang
bergerak. Energi kinetik suatu benda besarnya berbanding lurus dengan massa
benda dan kuadrat kecepatannya.33
Ek = ½ m v2
Ek = Energi kinetik ; m = massa benda ; v = kecepatan benda

SATUAN
BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS
Energi kinetik (Ek) joule erg
Massa (m) Kg gr
Kecepatan (v) m/det cm/det
Usaha = perubahan energi kinetik.
W = ∆ Ek = Ek2 – Ek1

ENERGI POTENSIAL GRAFITASI

33
Ibid, h. 250.
28

Energi potensial grafitasi adalah energi yang dimiliki oleh suatu benda
karena pengaruh tempatnya (kedudukannya). Energi potensial ini juga disebut
energi diam, karena benda yang diam-pun dapat memiliki tenaga potensial.
Sebuah benda bermassa m digantung seperti di bawah ini.

m
g

Jika tiba-tiba tali penggantungnya putus, benda akan jatuh.


Maka benda melakukan usaha, karena adanya gaya berat (w) yang menempuh
jarak h.
Besarnya Energi potensial benda sama dengan usaha yang sanggup
dilakukan gaya beratnya selama jatuh menempuh jarak h.
Ep = w . h = m . g . h
Ep = Energi potensial , w = berat benda , m = massa benda ; g = percepatan
grafitasi ; h = tinggi benda
SATUAN
BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS
Energi Potensial (Ep) joule erg
Berat benda (w) newton dyne
Massa benda (m) Kg gr
Percepatan grafitasi (g) m/det2 cm/det2
Tinggi benda (h) m cm
Energi potensial grafitasi tergantung dari :
percepatan grafitasi bumi
kedudukan benda
massa benda
ENERGI POTENSIAL PEGAS.
29

Energi potensial yang dimiliki benda karena elastik pegas.


Gaya pegas (F) = k . x
Ep Pegas (Ep) = ½ k. x2
k = konstanta gaya pegas ; x = regangan
Hubungan usaha dengan Energi Potensial :
W = ∆ Ep = Ep1 – Ep2
ENERGI MEKANIK
Energi mekanik (Em) adalah jumlah antara energi kinetik dan energi potensial
suatu benda.
Em = Ek + Ep

HUKUM KEKEKALAN ENERGI MEKANIK.


Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Jadi energi itu
adalah KEKAL.
Em1 = Em2
Ek1 + Ep1 = Ek2 + Ep2

ENERGI

Bentuk Energi EK, EP, EM Perubahan Energi Hukum Kekekalan


Energi

4. Motivasi Belajar
Woodwort seperti dikutip oleh Wina Sanjaya mengatakan: “motive is a set
predisposes the individual of certain activities and for seeking certain goals”.
Suatu motif adalah suatu set yang bisa membuat individumelakukan kegiatan-
kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.34 Dengan demikian, perilaku atau

34
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta:Kencana Prenada Media, 2006), h.27.
30

tindakan yang ditunjukkan seseorang dalam upaya mencapai tujian tertentu sangat
trergantung dari motivasi yang dimiliknya.
Motif dan motivasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Motivasi merupakan penjelmaan dari motif yang dapat dilihat dari perilaku yang
ditunjukkan seseorang. Hilgard mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan
yang terdapat pada diri seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan
kegiatan tertentu untuk mencapai tujian tertentu.
Menurut Mc. Donald seperi dikutip oleh Sardiman dalam bukunya
interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, motivasi adalah perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului
dengan tangggapan terhadap adanya tujuan. Berdasarkan pengertian ini terlihat
bahwa dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu:35
a. Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap individu
manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi
dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia.
b. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa (feeling), afeksi seseorang. Dalam
hal ini motivasi rel;evan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan
emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah suatu keadaan atau kondisi yang mendorong makhluk untuk bertingkah
laku atau bertindak ke arah tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pembelajaran dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang
diterapkan dalam kegiatan belajar. Menurut Hudoyo, motivasi belajar adalah
dorongan untuk mempelajari sesuatu dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki
pengertian yang lebih mendalam dalam bidang tersebut untuk
mengerahmendapatkan kepandaian.36 Dari pengertian motivasi belajar yang
dikemukakan para ahli, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu

35
Sardiman A. M, interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2007), h. 73.
36
”Motivasi Belajar” artikel diakses pada 19 Desember 2007 dari
http://www.damandiri.or.id/file/naniktunpabsbab2.pdf, h. 28.
31

dorongan atau kehendak untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang
timbul karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Pembahasan macam-macam motivasi, hanya akan dibahas dari dua sudut
pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang
disebut “motivasi intrinsik” dan motivasi yang berawal dari luar diri seseorang
yang disebut “motivasi ekstrinsik”.
1) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinya
tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu.37
Motivasi intrinsik juga dapat diartikan sebagai motivasi yang timbul dari
dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar.
Misalnya: keinginan untuk memahami suatu konsep; keinginan untuk
memperoleh pengetahuan, keinginan untuk memperoleh keterampilan, dan
sebagainya.
Apabila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dari dalam dirinya,
maka ia secara sadar akan melakukan sesuatu kegiatan yang tidak memerlukan
motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat
diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik
selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran
yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajajari akan dibutuhkan dan
sangat berguna di masa mendatang.
Siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi
orang yan gterdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu.
Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai yaitu belajar,
karena tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan dan menjadi seorang
ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan,
kebutuhan yang berisikan keharusan menjadi orang yang terdidik dan
berpengetahuan. Jadi, memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri
dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial.
37
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), Cet.1,
h.149
32

2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena
adanya perangsang dari luar atau motivasi yang datangnya dari luar individu.
Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan
belajarnya diluar faktor-faktor situasi belajar. Anak didik belajar karena hendak
mencapai tujuan yang terletak diluar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk
mencapai angka tinggi, diploma, gelar, dan sebagainya.38
Perlu ditegaskan bahwa motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang
tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan
agar anak didik mau belajar. Hal ini disebabkan karena kemungkinan besar
keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah dan juga mungkin komponen komponen
lain dalam proses pembelajaran ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga
diperlukan motivasi intrinsik.
Berdasarkan penjelasan macam-macam motivasi belajar di atas, baik
motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, kedua-duanya merupakan
pendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang timbul
karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Namun,
tentunya agar aktifitas dalam belajar tersebut memberikan kepuasan atau ganjaran
di akhir kegiatan belajar, maka sebaiknya motivasi yang mendorong siswa untuk
belajar adalah motivasi intrinsik.

5. Hasil Penelitian Relevan


Berdasarkan hasil penelitian yang berhubungan dengan penerapan model
sains teknologi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut:
I Made Wirata dalam penelitiannya yang berjudul “Implementasi
Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) dengan Bantuan Diagnosis-
Preskriptif dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Fisika Pada Siswa
Kelas I SLTP Negeri 5 Singaraja”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
terjadina peningkatan hasil belajar siswa dan siswa sudah cukup memahami, dan

38
Ibid., h.151
33

mengenal berbagai perkembangan isu-isu sains, teknologi dan sosial, terutama


yang terkait erat dengan keadaan lingkungan di sekitar siswa.39
Ida Bagus Putu Arnyana dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan
Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi Kelas III
Cawu 3 SMU Negeri 4 Singaraja Tahun Pelajaran 1998/1999”. Fokus masalah
yang terdapat dalam penelitian ini dikarenakan kurangnya pemahaman siswa
mengenai pembelajaran biologi karena dirasakan mata pelajaran biologi sebagai
beban yang harus diingat, dihafal, dipahami, dan tidak dirasakan maknanya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga minat dan motivasi belajar siswa masih sangat
rendah. Untuk itu peneliti menggunakan model STM dalam pembelajaran biologi.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang
disebabkan oleh motivasi belajar siswa yang tinggi.40
I Made Rideng dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat Terhadap
Hasil Belajar Siswa SLTP”. Hasil penelitiannya adalah kualitas proses belajar
mengajar untuk kelompok yang diajar dengan model pembelajaran IPA dengan
pendekatan sains teknologi dan masyarakat lebih baik dibandingkan dengan
kelompok yang diajar dengan pendekatan konvensional. skor rata-rata masing-
masing hasil pengamatan 2,96 dan 1,84 untuk skala 1-4. 41
Ni Ketut Rapi dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan
Literasi Sains dan Teknologi Siswa Melalui Pembelajaran IPA Dengan
Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat di SLTP”. Temuan-temuan penelitian
ini menunjukkan bahwa: (1) tingkat penguasaan siswa kelas eksperimen terhadap
konsep-konsep IPA adalah cukup, sedangkan kelas kontrol adalah kurang sekali.
(2) literasi sains dan teknologi siswa kelas eksperimen berkualitas lebih dari
39
I Made Wirata, Implementasi Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) dengan
Bantuan Diagnosis-Preskriptif dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Fisika Pada
Siswa Kelas I SLTP Negeri 5 Singaraja, Aneka Widya STKIP Singaraja, No. 3 TH. XXXIII Juli
2000.
40
Ida Bagus Putu Arnyana, Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam
Pembelajaran Biologi Kelas III Cawu 3 SMU Negeri 4 Singaraja Tahun Pelajaran 1998/1999,
Aneka Widya STKIP Singaraja, No. 3 TH. XXXIII Juli 2000.
41
I Made Rideng,(2000) Pengaruh Model Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains
teknologi dan masyarakat Terhadap Hasil Belajar SIswa SLTP, Aneka Widya STKIP Singaraja,
no 4 TH. XXIII Januari. h.56
34

cukup, sedangkan kelas kontrol adalah kurang. (3) pendekatan STM lebih efektif
daripada pendekatan konvensional dalam pembelajaran konsep suhu dan kalor. 42

B. Kerangka Pikir
Konsep-konsep fisika merupakan konsep yang cukup sulit untuk
dipelajari dan dipahami oleh siswa karena bersifat abstrak, oleh karena itu
diperlukan metode yang menarik minat para siswa agar konsep fisika mudah
diserap dan dipahami oleh setiap siswa. Rendahnya penguasaan atau
pemahaman tidak terlepas dari penggunaan metode, model, atau pendekatan
pembelajaran yang digunakan oleh para pendidik.
Salah satu model pengajaran yang tepat untuk membuat siswa
memahami terhadap konsep-konsep atau prinsip-prinsip fisika, dan juga
menanamkan pemahaman siswa terhadap teknologi yang berkaitan dengan
konsep tersebut, dan kemungkinan penggunaanya di dalam masyarakat atau
dalam kehidupan sehari-sehari yaitu melalui model STM.
Dalam model STM peserta didik mampu menghubungkan realitas
sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas, peserta didik mampu
menggunakan berbagai jalan untuk mensikapi berbagai situasi yang
berkembang di dalam masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah dan peseta
didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki
tanggung jawab sosial.
Dengan demikian dapat diduga bahwa model STM akan dapat
mempertinggi pencapaian penguasaan konsep fisika siswa.

42
Ni Ketut Rapi, Pengembangan Literasi Sains dan Teknologi Siswa Melalui
Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat di SLTP, Aneka Widya
STKIP Singaraja, no 1 TH. XXII Januari 1999. h.175
35

Masalah:
D 1. Kemajuan IPTEK yang tidak diimbangi dengan pengetahuan awal siswa
mengenai sains (fisika)
2. Pembelajaran Usaha dan energy masih belum bersifat kontekstual
3. Penguasaan konsep peserta didik pada topic Usaha dan Energi masih
rendah
3

Siswa kurang termotivasi belajar fisika

Model pembelajaran yang mengaitkan antara sains, teknologi, dan masayarakat

1. Menjembatani antara sains teknologi masyarakat


2. Memecahkan isu/masalah yang ada dalam masyarakat
3. Siswa lebih cepat menguasai konsep pembelajaran

Motivasi siswa meningkat

Penguasaan konsep siswa meningkat

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir

C. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis penelitian
dirumuskan sebagai berikut: Terdapat pengaruh penerapan model STM
terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa.
36