Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Masyarakat Madani (dalam bahasa Inggris: civil society) dapat diartikan
sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan
memaknai kehidupannya. Kata madani  sendiri berasal dari bahasa arab yang
artinya civil atau civilized (beradab). Masyarakat Madani pada prinsipnya
memiliki multimakna, yaitu masyarakat yang demokratis, menjunjung tinggi
etika dan moralitas, transparan, toleransi, berpotensi, aspiratif, bermotivasi,
berpartisipasi, konsisten memiliki bandingan, mampu berkoordinasi, sederhana,
sinkron, integral, mengakui, emansipasi, dan hak asasi, namun yang paling
dominan adalah masyarakat yang demokratis.
Masyarakat madani adalah kelembagaan sosial yang akan melindungi
warga negara dari perwujudan kekuasaan negara yang berlebihan. Bahkan
Masyarakat madani tiang utama kehidupan politik yang demokratis. Sebab
masyarakat madani tidak saja melindungi warga negara dalam berhadapan
dengan negara, tetapi juga merumuskan dan menyuarakan aspirasi masyarakat.
Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang bagaimana ciri-ciri masyarakat
madani, pilar penegak masyarakat madani dan prasayarat negara dikatakan
masyarakat mandani.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja ciri-ciri masyarakat madani?
2. Apa saja pilar penegak masyarakat madani?
3. Apa saja prasayarat negara dikatakan masyarakat mandani?

1
C. TUJUAN
1. Mendeskripsikan ciri-ciri masyarakat madani
2. Mendeskripsikan pilar penegak masyarakat madani
3. Mendeskripsikan prasayarat negara dikatakan masyarakat mandani

D. MANFAAT PENULISAN MAKALAH


Penulis berharap makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca untuk
dijadikan sebagai bahan tambahan pengetahuan seputar hal-hal yang
berhubungan dengan ciri-ciri masyarakat madani, pilar penegak masyarakat
madani, prasayarat negara dikatakan masyarakat mandani.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. CIRI-CIRI MASYARAKAT MADANI


Pada uraian Hikam yang mengambil pemikiran seorang ahli politik
Prancis Alexis de Tocqueville dikemukakan mengenai ciri-ciri masyarakat
madani sebagai berikut: (Hikam: 1996)
1. Kesukarelaan. Masyarakat madani bukanlah suatu masyarakat paksaaan tetapi
yang mempunyai komitmen bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama.
2. Keswasembadaan. Artinya masyarakat madani tidak tergantung kepada
negara, juga tidak tergantung kepada lembaga-lembaga atau organisasi lain.
Keanggotaan masyarakat madani adalah keanggotaan yang penuh percaya diri
dan bertanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakatnya.
3. Kemandirian tinggi terhadap negara. Masyarakat madani adalah manusia-
manusia yang percaya diri sehingga tidak tergantung kepada perintah orang
lain termasuk negara. Negara adalah kesepakatan bersama sehingga tanggung
jawab yang lahir dari kesepakatan tersebut adalah juga tuntutan dan tanggung
jawab dari masing-masing anggota. Inilah negara yang berkedaulatan rakyat.
4. Kepatuhan terhadap nilai-nilai hukum yang dipatuhi bersama. Masyarakat
madani adalah masyarakat yang mengakui supremasi hukum.
Menurut Bahmuller, ciri-ciri atau karakteristik masyarakat madani atau
masyarakat sipil diantaranya yaitu: (Qadri Azizi: 2004)
1. Adanya integrasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok,
di dalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
2. Adanya penyebaran kekuasaan di dalam masyarakat sehingga kepentingan-
kepentingan yang mendominasi masyarakat dapat dibatasi atau dikurangi
dengan adanya beberapa kekuatan alternatif.
3. Adanya keanggotaan berbagai organisasi volunter yang menyumbang
berbagai masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah sehingga
kepentingan individu dan Negara dapat dijembatani.

3
4. Adanya peningkatan dan perluasan kesetiaan, kepercayaan, sehingga setiap
anggota masyarakat mengakui keterkaitannya satu sama lain dan
mementingkan kepentingan umum.
5. Adanya kebebasan bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan lembaga-
lembaga sosial dengan beragam perspektif.
Sementara itu Nurcholis Madjid dalam sudut pandang lain mengemukakan
ciri-ciri masyarakat madani sebagai berikut: (Nurcholish Madjid: 1999 )
1. Semangat egalitarianisme atau kesetaraan.
2. Penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi, bukan prestise seperti
keturunan kesukuan, ras, dan lain-lain.
3. Keterbukaan.
4. Partisipasi seluruh anggota masyarakat.
5. Penentuan kepemimpinan melalui pemilihan
B. PILAR PENEGAK MASYARAKAT MADANI
Maksud dari pilar penegak masyarakat madani adalah institusi-institusi
yang menjadi bagian dari social control yang fungsinya mengkritisi kebijakan-
kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi
masyarakat yang tetindas. Dalam penegakan masyarakat madani, pilar-pilar
tesebut menjadi prasyarat mutlak bagi terwujudnya kekuatan masyarakat madani
seperti:
a) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
LSM yaitu suatu institusi sosial yang dibentuk oleh swadaya
masyarakat yang tugasnya adalah membantu dan memperjuangkan aspirasi
dan kepentingan masyarakat yang tertindas. Selain itu juga LSM dalam
konteks masyarakat madani juga betugas mengadakan pemberdayaan kepada
masyarakat mengenai hal-hal seperti advokasi, pelatihan dan sosialisasi
program-program pemberdayaan masyarakat.
b) Pers
Dalam kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan warga negaranya
Pers merupakan institusi yang penting dalam penegakkan masyarakat madani

4
karena dapat mengkritisi dan menjadi bagian dari social control yang dapat
menganalisa serta mempublikasikannya dan kemudian pers menyajikan berita
secara objektif dan transparan. (Azyumardi Azra: 2008)
c) Supremasi Hukum
Supremasi Hukum juga membantu tegaknya masyarakat madani karena
memberikan jaminan dan perlindungan terhadap segala bentuk penindasan
individu dan kelompok yang melanggar norma-norma hukum dan segala
bentuk penindasan hak asasi manusia sehingga terpola bentuk kehidupan
yang civilized.
d) Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi juga merupakan bagian dari tegaknya masyarakat
madani karena merupakan bagian dari kekuatan sosial dan untuk menyalurkan
aspirasi masyarakat dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah
yang dilakukan oleh mahasiswa pada jalur yang benar dan memposisikan diri
pada realitas yang betul-betul objektif yang menyuarakan kepentingan
masyarakat.
e) Partai
Partai Politik yang merupakan suatu tempat bagi warga Negara untuk
dapat menyalurkan aspirasi politiknya dan ekspresi politik warga negara.
(Azyumardi Azra: 2008). Menurut Carl J. Friedrich mendefiniskan bahwa
partai politik adalah sekompok manusia yang terorganisir sekelompok
manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau
mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya
dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya
kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil. Sedangkan menurut Sigmund
Neumann mengatakan bahwa Partai politik adalah organisasi dari aktivis-
aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan. pemerintahan serta
merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau
golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. (Miriam Budiarjo:
2008)

5
C. PRASAYARAT NEGARA DIKATAKAN MASYARAKAT MADANI

Dalam mewujudkan masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasyarat


dalam penegakkan masyarakat madani agar terbentuk menjadi sebuah
masyarakat yang mandiri, sehingga dengan kemandirian tersebut masyarakat
tidak terlalu bergantung pada Negara. Ada beberapa unsur dan persyaratan
budaya yang harus dilalui menuju terbentuknya sebuah masyarakat madani
seperti :
1. Adanya Wilayah Publik yang Luas
Free Public Sphere adalah ruang publik yang bebas sebagai sarana
untuk mengemukakan pendapat warga masyarakat. Di wilayah ruang publik
ini semua warga Negara memiliki posisi dan hak yang sama untuk
melakukan transaksi sosial dan politik tanpa rasa takut dan terancam oleh
kekuatan-kekuatan di luar civil society. (Komaruddin Hidayat: 2006)
Ruang publik yang berlokasi antara negara dan masyarakat madani
memainkan peran dalam menjembatani dua benua yang cenderung terpisah.
Diruang publik itu dapat berlangsung berbagai tataran diskusi yang intensif
tentang berbagai isu kepentingan umum, dari ruang publik yang bebas itu
segala pandangan kritis, segala keinginan dan kesepakatan masyarakat
dikomunikasikan kepada negara melalui berbagai media massa. Dengan
kata lain, membangun masyarakat madani identik dengan memperluas
jangkauan suara rakyat melalui partisipasi mereka dalam berbagai kegiatan
yang terorganisasi dan karena itu memiliki cukup kekuatan dalam
melakukan transaksi dengan negara.
Ruang publik secara institusional, termasuk media massa, tempat-
tempat pertemuan umum, parlemen dan sekolah-sekolah dan juga
perwujudan dari kelompok-kelompok masyarakat madani sendiri. Tujuan
akan terciptanya masyarakat yang mandiri dan ruang publik yang bebas
itulah yang merupakan tujuan proses gerakan-gerakan pro demokrasi.
Menurut Hikam, kehadiran civil society sebagai masyarakat yang mandiri,
tergantung proses yang bisa mengalami pasang surut, kemajuan dan

6
kemunduran, kekuatan dan kelemahan dalam perkembangannya, artinya
mungkin saja suatu saat keberadaan masyarakat madani yang kuat
disebabkan melemahnya posisi negara namun dapat pula sebaliknya
masyarakat madani lemah karena kontrol negara yang kuat. (Adi Suryadi
Culla: 2002)
2. Demokrasi
Demokrasi adalah prasayarat mutlak lainnya bagi keberadaan civil
society yang murni (genuine). Tanpa demokrasi masyarakat sipil tidak
mungkin terwujud. Demokrasi tidak akan berjalan stabil bila tidak mendapat
dukungan riil dari masyarakat. Secara umum demokrasi adalah suatu tatanan
sosial politik yang bersumber dan dilakukan oleh, dari, dan untuk warga
Negara. (Komaruddin Hidayat: 2006)
Masyarakat madani yang kuat akan mampu merangsang tumbuhnya
partisipasi politik dan meningkatkan efektivitas demokrasi sehingga
pengembangan demokrasi akan menuju kearah demokrasi yang substansial,
bukan hanya demokrasi formalitas. Singkatnya, masyarakat madani
memegang peranan penting terhadap kualitas demokrasi sebuah negara,
dapat menjadi arena penting dan intensif untuk menanamkan kepentingan
dan ketrampilan partisipatoris serta menanamkan nilai-nilai yang mendalam
dari sebuah kultur politik Demokratis. (Adi Suryadi Culla: 2002)
3. Toleransi
Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati
perbedaan pendapat. Sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani
untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas
yang dilakukan oleh orang lain yaitu sikap toleran yang memungkinkan
akan adanya kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan
menghormati pendapat. Toleransi menurut Nurcholish Madjid merupakan
persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan kewajiban itu. Azyumardi
Azra pun menyebutkan masyarakat madani juga mengacu ke kehidupan
yang berkualitas dan tamaddun (civility). Civilitas meniscayakan toleransi

7
yaitu kesediaan individu-individu untuk menerima pandangan-pandangan
politik dan sikap politik yang berbeda.
4. Pluralisme
Kemajemukan atau pluralisme merupakan prasayarat lain bagi civil
society. Pluralisme tidak hanya dipahami sebatas sikap harus mengakui dan
menerima kenyataan sosial yang beragam, tetapi harus disertai dengan sikap
yang tulus untuk menerima kenyataan perbedaan sebagai sesuatu yang
alamiah dan rahmat Tuhan yang bernilai positif bagi kehidupan masyarakat.
5. Keadilan social
Keadilan sosial adalah adanya keseimbangan dan pembagian yang
proporsional atas hak dan kewajiban setiap warga Negara yang mencakup
seluruh aspek kehidupan: ekonomi, politik, pengetahuan dan
kesempatan. Dengan pengertian lain, keadilan sosial adalah hilangnya
monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan yang dilakukan oleh
kelompok atau golongan tertentu. (Komaruddin Hidayat: 2006)

8
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ciri-ciri masyarakat madani menurut uraian Hikam sebagai berikut:
kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian, kepatuhan terhadap nilai-nilai
hukum yang dipatuhi bersama. Sedangkan Menurut Bahmuller, ciri-ciri
masyarakat madani antara lain: adanya integrasi antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok, di dalam masyarakat melalui kontrak sosial dan
aliansi social, adanya penyebaran kekuasaan di dalam masyarakat, adanya
keanggotaan berbagai organisasi volunter dan adanya peningkatan dan perluasan
kesetiaan, kepercayaan, serta adanya kebebasan bagi masyarakat dalam
melakukan kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan beragam perspektif.
Sementara itu Nurcholis Madjid dalam sudut pandang lain mengemukakan ciri-
ciri masyarakat madani sebagai berikut: semangat egalitarianisme atau kesetaraan,
penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi, keterbukaan, partisipasi seluruh
anggota masyarakat dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan
Pilar penegak masyarakat madani yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), pers, supremasi hukum, perguruan tinggi dan partai. Prasayarat negara
dikatakan masyarakat madani yaitu dengan adanya wilayah public yang luas,
demokrasi, toleransi, pluralism dan keadilan social.

B. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat, tentunya dalam makalah ini masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran kami harapkan dari para
pembaca, guna memotivasi kami untuk menjadi lebih baik dalam pembuatan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan para pembaca pada umumnya.

9
DAFTAR PUSTAKA

Hikam, Muhammad A.S. 1996. Demokrasi dan Civil Societ. Jakarta: LP3ES.

Azizy, Qodri. 2004. Melawan Golbalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam: Persiapan


SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta.: Gramedia Pustaka.

Azra, Azyumardi.. 2008. Pendidikan Kewargaan: Demokrasi, HAM dan Masyarakat


Madani. Jakarta: Kencana.

Culla, Adi Suryadi. 2002. Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya
dengan Cita-cita Reformasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hidayat, Komaruddin. 2006.  Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat


Madani.Jakarta: ICCE UIN Hidayatullah Jakarta dan The Asia Foundation.

Nurcholish. 1999. Cita-cita Politik Islam Era Reformasi. Jakarta: Paramadina.

10