Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

Permenkes Tentang Registrasi dan Praktek Bidan

DOSEN PEMBIMBING: NIASTI LASMY ZAEN SST,M,Kes

DI SUSUN OLEH : KELOMPOK I

ARMIATI

AFIFAH INDRIANI

PRODI DIII KEBIDANAN

UNIVERSITAS RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

TAHUN AJARAN : 2019/2020


KATA PENGANTAR
Saya haturkan puji dan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas etikolegal yang bertemakan “Permenkes
Tentang Regristrasi dan Praktek Bidan”
Dalam penyusunan makalah ini, kami telah melalui beberapa proses, memperdalam
materi dengan mengambil dari beberapa sumber buku kemudian menghubungkan dengan
study literatur.
Atas terselesainya makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini. Akhirnya, kami sangat menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami sebagai penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun, agar dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya
dapat lebih baik lagi.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

A. Latar belakang .......................................................................................

B. Rumusan masalah ..................................................................................

C. Tujuan penulisan ....................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................

A. efinisi bidan ...........................................................................................

B. Pengertian Bidan Indonesia ..................................................................

c. Kepmenkes RI nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 ..............................

BAB III CONTOH KASUS ....................................................................

-Permenkes registrasi dalam praktik kebidanan ........................................

BAB IV .....................................................................................................

Pembahasan kasus ......................................................................................

-pasalnya .....................................................................................................

-penanganannya ..........................................................................................

BAB V ........................................................................................................

Kesimpulan .................................................................................................

Saran ...........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Bidan merupakan suatu profesi yang mana dalam setiap asuhan dan tindakan yang
dilakukan memiliki sebuah tanggung jawab yang besar. Apabila seorang bidan melakukan
suatu kesalahan yang dilakukan, maka ia akan mendapatkan sanksi dan hukuman yang telah
ditetapkan oleh pemenkes.
Dalam melakukan tindakan–tindakan tersebut, selain melakukan sesuai dengan standar
bidan juga harus memperhatikan norma, etika profesi, kode etik profesi dan hukum profesi
dalam setiap tindakannya.

1.2    Rumusan Masalah


Mengetahui permenkes tentang regristrasi dan praktek bidan yang meliputi, pengertian
bidan, pelaporan dan regristrasi, masa bakti, praktek bidan, wewenang bidan, pencatatan dan
pelaporan, pembinaan dan pengawasan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan tentang surat
pengawasan dan ijin praktek bidan.
1.3    Manfaat dan Tujuan
untuk memenuhi tugas etika profesi dalam kebidanan serta  menambah wawasan mengenai
permenkes tentang registrasi dan praktek bidan. Di samping itu memberikan informasi
mengenai peraturan mentri kesehatan tentang registrasi dan praktek bidan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Bidan
Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara
serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri
itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang
dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post
partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawanya sendiri serta asuhan pada bayi
baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal
pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan
gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting
dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga
termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan
persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari ginekologi, keluarga
berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah
perawatan atau tempat-tempat lainnya.

Pengertian Bidan Indonesia :


Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan
yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah
Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister,
sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi unttk menjalankan praktik kebidanan.
Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang
bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama
masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab
sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup
upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan
akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-
daruratan.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya
kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus
mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada
kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.
Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah
Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

Pengertian peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang di bentuk


atau di tetapkan oleh lembaga negaraatau pejabat negara yang berwewenang dan mengikat
secara umum

Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam
memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah :
1. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam Undang – Undang maupun peraturan
pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional
dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM), FIGO
dan WHO.
2. Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa
peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program
pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA,
Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap
individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk
berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses
fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medic.
5. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola
dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
6. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur,
ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan
persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan
kesehatan.
9. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
10. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka
meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang professional dan interaksi social serta asas
penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
11. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung
sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata
masyarakat.

2.2 Pelaporan dan Regristrasi


Kepmenkes RI nomor 900/MENKES/SK/VII/2002
PELAPORAN DAN REGISTRASI

Pasal 2
(1)   Pimpinan penyelenggaraan pendidikan bidan wajib menyampaikan laporan secara tertulis
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi mengenai peserta didik yang baru lulus, selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan setelah dinyatakan lulus.
(2)   Bentuk dan isi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam formulir I
terlampir.

Pasal 3
(1) Bidan yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan registrasi
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimanainstitusi pendidikan berada guna
memperoleh SIB selambat-lambatnya1(satu) bulan setelah menerima ijazah bidan.
(2) Kelengkapan registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain meliputi :
a. fotokopi Ijazah Bidan;
b. fotokopi Transkrip Nilai Akademik;
c. surat keterangan sehat dari dokter;
d. pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar;
(3) Bentuk permohonan SIB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Formulir II
terlampir.
Pasal 4
(1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi atas nama Menteri Kesehatan melakukan registrasi
berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 untuk menerbitkan SIB.
(2) SIB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
atas nama Menteri Kesehatan, dalam waktu selambatlambatnya 1(satu) bulan sejak
permohonan diterima dan berlaku secara nasional.
(3) Bentuk dan isi SIB sebagaimana tercantum dalam Formulir III terlampir.

Pasal 5
(1)   Kepala Dinas Kesehatan Propinsi harus membuat pembukuan registrasi
mengenai SIB yang telah diterbitkan.
(2)   Kepala Dinas Kesehatan Propinsi menyampaikan laporan secara berkala
kepada Menteri Kesehatan malalui Sekretariat Jenderal c.q Kepala Biro
Kepegawaian Departemen Kesehatan dengan tembusan kepada organisasi
profesi mengenai SIB yang telah diterbitkan untuk kemudian secara berkala
akan diterbitkan dalam buku registrasi nasional.
Pasal 6
(1)      Bidan lulusan luar negeri wajib melakukan adaptasi untuk melengkapi persyaratan
mendapatkan SIB.
(2)      Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada sarana pendidikan yang
terakreditasi yang ditunjuk pemerintah.
(3)      Bidan yang telah menyelesaikan adaptasi diberikan surat keterangan selesai adaptasi oleh
pimpinan sarana pendidikan.
(4)      Untuk melakukan adaptasi bidan mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi.
(5) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dengan melampirkan :
a. Fotokopi Ijazah yang telah dilegalisir oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi;
b. Fotokopi Transkrip Nilai Akademik yang bersangkutan.
(6) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) menerbitkan rekomendasi untuk melaksanakan adaptasi.
(7) Bidan yang telah melaksanakan adaptasi, berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 dan Pasal 4.
(8) Bentuk permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sebagaimana tercantum dalam
Formulir IV terlampir.

Pasal 7
(1)      SIB berlaku selama 5 Tahun dan dapat diperbaharui serta merupakan dasar untuk
menerbitkan SIPB.
(2)      Perbaharuan SIB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Dinas.
Kesehatan Propinsi dimana bidan praktik dengan melampirkan antara lain:
a. SIB yang telah habis masa berlakunya;
b. Surat Keterangan sehat dari dokter;
c. Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.

2.3 Masa Bakti


Kepmenkes RI nomor 900/MENKES/SK/VII/2002
Pasal 8
Masa bakti bidan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
2.4 Wewenang Bidan
Kepmenkes 900/Menkes/SK/VII/2002
Dalam menangani kasus seorang bidan diberi kewenangan sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Indonesia No:900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek
bidan,yang disebut dalam BAB V praktik bidan antara lain:
Pasal 14
Bidan dalam menjalankan praktiknya berwenang untuk memberikan pelayanan yang
meliputi:
a. Pelayanan kebidanan
b. Pelayanan keluarga berencana
c. Pelayanan kesehatan masyarakat

pasal 15
a. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a ditujukan kepada ibu
dan anak.
b. Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pranikah, prahamil, masa kehamilan, masa
persalinan, masa nifas, menyusui, dan masa antara (periode interval).
c. Pelayanan kebidanan kepada anak diberikan pada masa bayi baru lahir, masa bayi, masa anak
balita dan masa pra sekolah.

Pasal 16
Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi:
a. Penyuluhan dan konseling
b. Pemeriksaan fisik
c. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
d. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens,
hiperemesis gravidarum tingkat I, preeklamsi ringan dan anemi ringan
e. Pertolongan persalinan normal
f. Pertolongan persalinan abnormal, yang mencakup letak sungsang, partus macet kepala di
dasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan post partum, laserasi jalan
lahir, distosia karena inersia uteri primer, post term dan preterm
g. Pelayanan ibu nifas normal
h. Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup ratensio plasenta, renjatan, dan infeksi ringan
i. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan
tidak teratur dan penundaan haid.
Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi:
a. Pemeriksaan bayi baru lahir
b. Perawatan tali pusat
c. Perawatan bayi
d. Resusitasi pada bayi baru lahir
e. Pemantauan tumbuh kembang anak
f. Pemberian imunisasi
g. Pemberian penyuluhan.

Pasal 17
            Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah tersebut, bidan
dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit ringan bagi ibu dan anak sesuai
dengan kemampuannya.
Pasal 18
Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaskud dalam Pasal 16 berwenang
untuk :
a. Memberikan imunisasi.
b. Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan, dan nifas.
c. Mengeluarkan placenta secara manual.
d. Bimbingan senam hamil.
e. Pengeluaran sisa jaringan konsepsi.
f. Episiotomy.
g. Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat II.
h. Amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm.
i. Pemberian infuse.
j. Pemberian suntikan intramuskuler uterotonika, antibiotika, dan sedative.
k. Kompresi bimanual.
l. Versi ekstraksi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya.
m. Vacum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul.
n. Pengendalian anemi.
o. Meningkatkan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu.
p. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia.
q. Penanganan hipotermi.
r. Pemberian minum dengan sonde/pipet.
s. Pemberian obat-obat terbatas, melalui lembaran permintaan obat sesuai dengan Formulir VI
terlampir.
t. Pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian.

Pasal 19
            Bidan dalam memberikan pelayanan keluarga berencana sebagaimana dimaksud
dalam pasal 14 huruf b berwenang untuk:
a. Memberikan obat dan alat kontrasepsi oral, suntikan, dan alat kontrasepsi dalam rahim, alat
kontrasepsi bawah kulit dan kondom
b. Memberikan penyuluhan/konseling pemakaian kontrasepsi
c. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim
d. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi bawah kulit tanpa penyulit
e. Memberikan konseling untuk pelayanan kebidanan, keluarga berencana dan kesehatan
masyarakat.

Pasal 20
            Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan, masyarakat sebagaimana dimaskud
dalam pasal 14 huruf c berwenang untuk :
a. Pembinaan peran serta masyarakat dibidang kesehatan ibu dan anak
b. Memantau tumbuh kembang anak
c. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
d. Melaksanakan deteksi dini, melaksanakan petolongan pertama, merujuk dan memberikan
penyuluhan Infeksi Menular Seksual (IMS), penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) serta penyakit lainnya.

Pasal 21
a. Dalam keadaan darurat bidan berwenang melakukan pelayanan kebidanan selain kewenangan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 14.
b. Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
2.5 Pencatatan dan Pelaporan
Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010
Sebagaimana telah ditetapkan oleh Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010 tentang izin
dan penyelenggaraan praktik bidan pada bab VI pasal 20 mengenai pencatatan dan pelaporan.
Yang mana bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 20
1) Dalam melakukan tugasnya bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan
pelayanan yang diberikan.
2)       Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kePuskesmas wilayah tempat
praktik.
3)       Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk bidan yang bekerja
di fasilitas pelayanan kesehatan. 

Kepmenkes RI NO. 900/Menkes/2002


Sebagaimana telah ditetapkan oleh Kepmenkes RI NO.900/MENKES/2002  tentang
Registrasi dan Praktik Bidan pada bab VI pasal 27 mengenai pencatatan dan pelaporan, yang
mana bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 27
1) Dalam melakukan tugasnya bidan wajib melakukan pencacatan dan pelaporan sesuai dengan
pelayanan yang diberikan.
2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan ke puskesmasdan tembusan
keepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat
3) Pencatatan dan peaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran IV
keputusan ini.

2.6 Pembinaan dan Pengawasan


Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010
Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek bidan
pada Bab V pasal 20 sampai pasal 24 mengenai pembimbingan dan pengawasan. Yang mana
bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 20
1)      Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan dan
mengikutsertakan organisasi profesi.
2)      Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk
meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien dan melindungi masyarakat terhadap
segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Pasal 21
1)      Menteri, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota melakukan
pembinaan dan pengawasan dengan mengikut sertakan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia,
Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi, organisasi profesi dan asosiasi institusi pendidikan yang
bersangkutan.
2)      Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) diarahkan untuk
meningkatkan  mutu pelayanan,  keselamatan pasien  dan melindungi masyarakat terhadap 
segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
3)      Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota harus melaksanakan pembinaan dan pengawasan 
penyelenggaraan praktik bidan.
4)      Dalam pelaksanaa ntugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota harus membuat pemetaan tenaga bidan praktik  mandiri dan
bidan di desa serta  menetapkan dokter puskesmas terdekat untuk pelaksanaan tugas
supervise terhadap bidan di wilayah tersebut. 

Pasal 22
1)      Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan wajib melaporkan bidan yang bekerja dan yang
berhenti  bekerja di fasilitas pelayanan kesehatannya pada tiap triwulan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota dengan tembusan kepada organisasi profesi. 

Pasal  23
1)      Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Menteri,
pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten / kota dapat memberikan
tindakan administrative kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
penyelenggaraan praktik dalam Peraturanini.
2)      Tindakan administrative sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a.       Teguran lisan;
b.      Teguran tertulis;
c.       pencabutan SIKB / SIPB untuk sementara paling lama 1 (satu) tahun ; atau
d.       pencabutan SIKB / SIPB selamanya.

Pasal  24
1)     

Pemerintahdaerahkabupaten/kotadapatmemberikansanksiberuparekomendasipencabutansurati
zin/STR kepadakepaladinaskesehatanprivinsi/majelistenagakesehatan Indonesia (MTKI)
terhadapbidan yang melakukanpraktiktanpamemiliki SIPB ataukerjatanpamemiliki SIKB
sebagaimanadimaksuddalampasal 3 ayat (1) dan (2).
2)      Pemerintahdaerah  kabupaten/kotadapatmengenakansanksiteguranlisan, 
teguransementara/tetapkepadapimpinanfasilitaspelayanankesehatan yang
mempekerjakanbidan yang tidakmempunyai SIKB.

Kepmenkes RI NO.900/MENKES/SK/VII/2002
       Kepmenkes RI NO. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan pada
Bab VIII pasal 31 sampai pasal 41 mengenai pembimbingan dan pengawasan. Yang mana
bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 31
1)      Bidan wajib mengumpulkan sejumlah angka kredit yang besarnya ditetapkanoleh organisasi
profesi.
2)      Angka kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikumpulkan dari angkakegiatan
pendidikan dan kegiatan ilmiah dan pengabdian masyarakat.
3)      Jenis dan besarnya angka kredit dari masing-masing unsur sebagaimanadimaksud pada ayat
(2) ditetapkan oleh organisasi profesi.
4)      Organisasi profesi mempunyai kewajiban membimbing dan mendorong paraanggotanya
untuk dapat mencapai angka kredit yang ditentukan.
Pasal 32
Pimpinan sarana kesehatan wajib melaporkan bidan yang melakukan praktik dan yang
berhenti melakukan praktik pada saran kesehatannya kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada organisasi profesi.

Pasal 33
1)      Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau organisasi profesi terkait melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap bidan yang melakukanpraktik diwilayahnya.
2)      Kegiatan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat dilakukan
melalui pemantauan yang hasilnya dibahas secara periodiksekurang-kurangnya 1(satu) kali
dalam 1(satu) tahun.

Pasal 34
Selama menjalankan praktik seorang Bidan wajib mentaati semua peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Pasal 35
1) Bidan dalam melakukan praktik dilarang :
a. Menjalankan praktik apabila tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam izin
praktik.
b.      Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standarprofesi.
2)  Bagi bidan yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat ataumenjalankan tugas
didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain,dikecualikan dari larangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir a.

Pasal 36
1)      Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat memberikan peringatanlisan atau tertulis
kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadapKeputusan ini.
2)      Peringatan lisan atau tertulis sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diberikanpaling banyak
3(tiga) kali dan apabila peringatan tersebut tidak diindahkan,Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dapat mencabut SIPB Bidan yangbersangkutan.

Pasal 37
Sebelum Keputusan pencabutan SIPB ditetapkan, KepalaDinas KesehatanKabupaten/Kota
terlebih dahulu mendengarpertimbangan dari Majelis DisiplinTenaga Kesehatan (MDTK)
atau Majelis Pembinaan dan Pengawasan EtikaPelayanan Medis (MP2EPM) sesuai peraturan
perundang-undangan yangberlaku.

Pasal 38
1)      Keputusan pencabutan SIPB disampaikan kepada bidan yang bersangkutandalam waktu
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung sejakkeputusan ditetapkan.
2)      Dalam Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disebutkan lamapencabutan SIPB.
3)      Terhadap pencabutan SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapatdiajukan keberatan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dalam waktu 14(empat belas) hari setelah
Keputusan diterima, apabila dalam waktu 14(empat belas) hari tidak diajukan keberatan,
maka keputusan tersebutdinyatakan mempunyai kekuatan hukum tetap.
4)      Kepala Dinas Kesehatan Propinsi memutuskan ditingkat pertama dan terakhirsemua
keberatan mengenai pencabutan SIPB.
5)      Sebelum prosedur keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)ditempuh, Pengadilan Tata
Usaha Negara tidak berwenang mengadilisengketa tersebut sesuai dengan maksud Pasal 48
Undangundang Nomor 5Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara.

Pasal 39
Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan setiap pencabutan SIPB kepada
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempatdengan tembusan kepadaorganisasi profesi
setempat.

Pasal 40
1)      Dalam keadaan luar biasa untuk kepentingan nasional Menteri Kesehatandan/atau atas
rekomendasi organisasi profesi dapat mencabut untuksementara SIPB bidan yang melanggar
ketentuan peraturan  perundangundangan yang berlaku
2)      Pencabutan izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya diproses sesuai
dengan ketentuan Keputusan ini.

Pasal 41
1)     Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
membentuk Tim/Panitia yang bertugas melakukan pemantauan pelaksanaan praktik bidan di
wilayahnya.
2)     Tim/Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur pemerintah, Ikatan Bidan
Indonesia dan profesi kesehatan terkait lainnya

2.7 Ketentuan Pidana


 Kepmenkes RI NO.900/MENKES/SK/VII/2002
       Kepmenkes RI NO. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan pada
Bab IX pasal 42 sampai pasal 44 mengenai ketentuan pidana, yang mana bunyi pasal tersebul
ialah :
Pasal 42
Bidan yang dengan sengaja :
a. Melakukan praktik kebidanan tanpa mendapatpengakuan/adaptasisebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6dan/atau;
b. Melakukan praktik kebidanan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
c. Melakukan praktik kebidanan tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25 ayat (1) ayat (2);dipidana sesuai ketentuan Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 1996tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 43
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan yang tidak melaporkan bidan sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 32 dan/atau mempekerjakan bidan yang tidak mempunyaiizin praktik, dapat
dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan Pasal 35 PeraturanPemerintah Nomor 32 Tahun
1996 tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 44
1. Dengan tidak mengurangi sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42,Bidan yang
melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang diatur dalamKeputusan ini dapat dikenakan
tindakan disiplin berupa teguran lisan, tegurantertulis sampai dengan pencabutan izin.
2. Pengambilan tindakan disiplin sebagaimana dimaksudpada ayat (1)dilaksanakan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.8 Ketentuan Peralihan Tentang Surat Penugasan dan Ijin Praktek
Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010
Kepmenkes RI NO. 1464/Menkes/X2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek
bidan pada Bab VI pasal 25 sampai pasal 28 mengenai ketentuan peralihan tentang surat
penugasan dan ijin praktek. Yang mana bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 25
1)      Bidan yang telah mempunyai SIPB berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor  900 /
Menkes / SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan dan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/149/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik
Bidan dinyatakan telah memiliki SIPB berdasarkan Peraturan ini sampai dengan masa
berlakunya berakhir.
2)      Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperbaharui SIPB apabila Surat Izin
Bidan yang bersangkutan telah habis jangka waktunya, berdasarkan Peraturan ini. 
Pasal 26
Apabila Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dan Majelis Tenaga Kesehatan
Provinsi (MTKP) belum dibentuk dan / atau belum dapat melaksanakan tugasnya. maka,
registrasi bidan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan. 

Pasal 27
Bidan yang telah melaksanakan kerja di fasilitas pelayanan kesehatan sebelum ditetapkan
Peraturan ini harus memiliki SIKB berdasarkan Peraturan ini paling selambat-lambatnya 1
(satu) tahun sejak Peraturan ini ditetapkan.

Pasal 28
Bidan yang berpendidikan di bawah Diploma III (D III) Kebidanan yang menjalankan praktik
mandiri harus menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan ini selambat-lambatnya 5 (lima)
tahun sejak Peraturanini ditetapkan. 

Kepmenkes RI NO.900/MENKES/SK/VII/2002
       Kepmenkes RI NO. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan pada
Bab XI pasal 45 mengenai ketentuan perlihan, yang mana bunyi pasal tersebul ialah :
Pasal 45
1)      Bidan yang tidak mempunyai surat penugasan dan SIPB berdasarkan Peraturan Mentri
Kesehatan no 572/Menkes/Per/VI/1996 tentang registrasi dan praktek bidan dianggap telah
memiliki SIB dan  SIPBberdasarkan ketentuan.
2)      SIB dan SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 5 (lima) tahun dan apabila
telah habis, maka masa berlakunya dapat di perbaharui sesuai ketentuan keputusan ini.
BAB III
CONTOH KASUS DALAM PERMENKES REGISTRASI
DALAM PRAKTIK KEBIDANAN

Ny.A datang ke BPM tanggal 1 juli 2020 pada pukul 10.000 wib keluarga datang
bersama anaknya perempuan dengan berkendaraan bersepeda motor,dengan keluhan
pasien bahwa air ketuban sudah pecah dan setelah di vt/periksa dan VTT oleh bidan
pasien sudah pembukaan 8 dan RR:24,ND 100,TD:200 mmhg karna bidan tersebut
baru berkerja di bpm tersebut dia ingin sekali membantu pasien tersebut dengan
tindakan tersendirinya tanpa memberitahu bidan lainnya dengan kondisi ibu tersebut
dan tanpa memikirkan keselamatan pasien,setelah 20 menit kemudian pasien kejang-
kejang dan di lihat oleh bidan lainnya di periksa lagi TD: 250 mmhg dan bidan pun
sibuk untuk merujuk ke RS dan sampai ke RS pasienpun tidak tertolong lagi karna
keterlambatan dalam mengatasi kasus ibu tersebut.setelah itu bidan lainnya menyalah
kan bidan yg memeriksa ibu tersebut karna yang di lakukannya sangat-sangat salah
dan keluarga pasien menuntut bidan tersebut karna sudah melakukan tindakan yang
membahayakan dan membuat keluarga pasien tidak tertolong lagi.
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Kasus tersebut di kenai dengan pasal tersebut
Pasal 35
1) Bidan dalam melakukan praktik dilarang :
a. Menjalankan praktik apabila tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam izin
praktik.
b.      Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standarprofesi.
2)  Bagi bidan yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat ataumenjalankan tugas
didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain,dikecualikan dari larangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir a.

Penanggulangan dalam kasus ini adalah bahwa bidan sudah mencelakakan /meregut nyawa orang
maka kelalaian ini merupakan kelalaian serius dan dapat di katakan sudah mengarah ke
bentuk pidana.
Yaitu menurut yusufhanafih tolak ukur “culfa lata”.yaitu
1.bertentangan dengan hukum,
2. akibat dapat di bayangkan
3.perbuatan dapat di persalahkan.
BAB V
KESIMPULAN
Setelah mempelajari TENTANG permenkes registrasi dalam praktik kebidanan
bahwa kami sebagian penulis menyimpulkan bahwa setiap bidan dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari senantiasa menghayati dan mengamalkan peran sebagai bidan Indonesia
yang berkwalitas dan menaatti peraturan perundang –undangan/permenkes, dengan praktik
kebidanan

SARAN
Sebagai bidan kita harus memperhatikan ,menghayati dan mengamalkan peraturan
permundang-undangan/permenkes dalam praktek kebidanan agar nantinya tidak terjadi
pelanggaran dan dapat menjalankan tugas kita sesuai peraturan pemerintah ataupun standar
praktek kebidanan.
Daftar Pustaka
1. Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu, Jakarta, 2007.
2. Sarwono P. Ilmu Kebidanan, Jakarta, 2007.
3. Estiwidani, Meilani, Widyasih, Widyastuti, Konsep Kebidanan. Yogyakarta, 2008.
4. Syofyan,Mustika,et all.50 Tahun IBI Bidan Menyongsong Masa Depan Cetakan ke-III Jakarta: PP IBI.2004.