Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang                                            

Status kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap masa depan kesejahteraan janin

dan merupakan suatu cerminan dari keadaan janin yang aktual.  Status kesehatan dipengaruhi

oleh berbagai faktor yang tidak semua ibu mengetahuinya.  Bukan hanya faktor fisik ibu yang

dapat dinilai dengan status kesehatan, melainkan juga sehat dalam arti ibu tidak merasa terpaksa

mempersiapkan segala sesuatu untuk kehamilannya (faktor sosbud dan ekonomi).  Dengan

begitu sangat perlu bagi para tenaga kesehatan untuk memahami seluruh kebutuhan ibu dalam

masa antenatal, intranatal dan postnatal yang akan sangat menunjang proses persalinan nanti.  

B. Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kehamilan

2. Mengetahui seberapa besar pengaruh faktor-faktor sosial budaya, ekonomi dalam menjaga

kehamilan

3. Mengetahui apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil

4. Mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ibu hamil 


C. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Faktor apa saja yang memengaruhi masa kehamilan?

2. Seberapa besar pengaruh faktor lingkungan,sosial budaya, ekonomi dalam menjaga

kehamilan?

3. Apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil?  

4. Bagaimana faktor lingkungan, sosial budaya, ekonomi memengaruhi kesehatan ibu hamil?

D. Metode Penulisan

Penulisan makalah ini menggunakan metode pengkajian secara cermat dan sistematik dengan

penjabaran dan penjelasan. Kami mendapat dari sumber buku milik pribadi dan internet sehingga

makalah ini dapat disusun dengan baik. 

E. Manfaat Penulisan

Adapun Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :

 ▪ Menambah wawasan dan pengetahuan

▪ Mengetahui faktor lingkungan, sosial, budaya, ekonomi yang berpengaruh pada kehamilan 

 ▪ Penulisan makalah ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran baik untuk individu

maupun kelompok.
BAB II

TINJAUAN TEORI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEHAMILAN

A. Faktor Lingkungan dan Adat Istiadat

Lingkungan adat ini meliputi berbagai kegiatan yang dilakukan secara turun temurun sejak

dahulu ada dan dijaga baik proses dan tata caranya hingga sekarang yang tentunya dikhususkan

pada ibu hamil. Kegiatan tersebut diantaranya adalah :

1.Mitos

Mitos ialah suatu kepercayaan yang melekat pada disuatu lingkungan masyarakat tetentu

pada daerah tertentu. Mitos bersifat local atau hanya pada daerah tertentu yang memegang teguh

kepercayaan tersebut, kadang mitos berupa larangan atau hal yang harus dihindari karena mereka

parcaya bila hal tersebut dilakukan akan berdampak pada kehidupan mereka atau akan terjadi hal

buruk pada mereka. Di Indonesia, utamanya di pedesaan daerah Jawa berlaku begitu banyak

mitos (larangan) seputar kehamilan yang beredar di masyarakat. Dari segi makanan, keseharian,

tindak tanduk, ataupun semua hal yang berkaitan dengan keseharian si ibu hamil ataupun si

jabang bayi. Tradisi ini amat kuat diterapkan oleh masyarakat. Beberapa mitos bahkan dipercaya

sebagai amanat / pesan dari nenek moyang yang jika tidak ditaati akan menimbulkan dampak /

karma yang tidak menyenangkan.


Padahal jika dinalar dengan akal sehat, diteliti dari segi medis, maupun dari segi aqidah, banyak

mitos yang tidak berhubungan. Walaupun maksud dari nenek-nenek moyang semuanya adalah

baik tetapi tidak semua dari nasehat atau pantangan kehamilan yang diberitahukan itu benar

secara medis maupun ilmiah. Kebanyakan hanya berdasarkan mitos atau kepercayan saja

daripada kenyataannya.

Pada dasarnya tujuan dari orang-orang terdahulu menciptakan mitos bermacam-macam

tentang kehamilan hanyalah supaya si Ibu hamil maupun suaminya dapat menjaga kehamilan

dengan baik. Tujuannya untuk menyiapkan kehamilan yang sehat. Sehingga bisa menghindari

hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama yang berkaitan dengan kebiasaan, konsumsi bahan

makanan, dan sebagainya.

2.      Tradisi masa kehamilan :

• Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab, jika itu dilakukan, bisa

menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu.

Fakta: Tentu saja tak demikian. Cacat janin disebabkan oleh kesalahan/kekurangan gizi,

penyakit, keturunan atau pengaruh radiasi. Sedangkan gugurnya janin paling banyak disebabkan

karena penyakit, gerakan ekstrem yang dilakukan oleh ibu (misal benturan) dan karena

psikologis (misalnya shock, stres, pingsan). Tapi, yang perlu diingat, membunuh atau

menganiaya binatang adalah perbuatan yang tak bisa dibenarkan.

• Membawa gunting kecil / pisau / benda tajam lainnya di kantung baju si Ibu agar janin

terhindar dari marabahaya


Fakta: Hal ini justru lebih membahayakan apabila benda tajam itu melukai si Ibu.

• Ibu hamil tidak boleh keluar malam, karena banyak roh jahat yang akan mengganggu janin.

Fakta: secara psikologis, Ibu hamil mentalnya sensitif dan mudah takut sehingga pada malam

hari tidak dianjurkan bepergian.

Secara medis-biologis, ibu hamil tidak dianjurkan keluar malam terlalu lama, apalagi larut

malam. Kondisi ibu dan janin bisa terancam karena udara malam kurang bersahabat disebabkan

banyak mengendapkan karbon dioksida (CO2).

• Ibu hamil tidak boleh benci terhadap seseorang secara berlebihan, nanti anaknya jadi mirip

seperti orang yang dibenci tersebut.

Fakta: Jelas ini bertujuan supaya Ibu yang sedang hamil dapat menjaga batinnya agar tidak

membenci seseorang berlebihan.

• Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya jadi kembar siam.

Fakta: Secara medis-biologis, lahirnya anak kembar dempet / kembar siam tidak dipengaruhi

oleh makanan pisang dempet yang dimakan oleh ibu hamil. Jelas ini hanyalah sebuah mitos.

• “Amit-amit” adalah ungkapan yang harus diucapkan sebagai "dzikir"-nya orang hamil ketika

melihat peristiwa yang menjijikkan, mengerikan, mengecewakan dan sebagainya dengan harapan

janin terhindar dari kejadian tersebut.

Fakta: Secara psikologis, perilaku tersebu justru dapat berujung pada ketakutan yang tidak

bermanfaat.
• Ngidam adalah perilaku khas perempuan hamil yang menginginkan sesuatu, makanan atau sifat

tertentu terutama di awal kehamilannya. Jika tidak dituruti maka anaknya akan mudah

mengeluarkan air liur.

• Dilarang makan nanas, nanas dipercaya dapat menyebabkan janin dalam kandungan gugur.

Fakta: Secara medis-biologis, Getah nanas muda mengandung senyawa yang dapat melunakkan

daging. Tetapi buah nanas yang sudah tua atau disimpan lama akan semakin berkurang kadar

getahnya. Demikian juga nanas olahan. Yang pasti nanas mengandung vitamin C (asam

askorbat) dengan kadar tinggi sehingga baik untuk kesehatan.

• Jangan makan buah stroberi, karena mengakibatkan bercak-bercak pada kulit bayi.

Fakta: Tak ada kaitan bercak pada kulit bayi dengan buah stroberi. Yang perlu diingat, jangan

makan stroberi terlalu banyak, karena bisa sakit perut. Mungkin memang bayi mengalami infeksi

saat di dalam rahim atau di jalan lahir, sehingga timbul bercak-bercak pada kulitnya.

• Jangan makan ikan mentah agar bayinya tak bau amis.

Fakta: Bayi yang baru saja dilahirkan dan belum dibersihkan memang sedikit berbau amis darah.

Tapi ini bukan lantaran ikan yang dikonsumsi ibu hamil, melainkan karena aroma (bau) cairan

ketuban. Yang terbaik, tentu saja makan ikan matang. Karena kebersihannya jelas terjaga

ketimbang ikan mentah.

Jangan minum air es agar bayinya tak besar. Minum es atau minuman dingin diyakini

menyebabkan janin membesar atau membeku sehingga dikhawatirkan bayi akan sulit keluar.

Fakta: Sebenarnya, yang menyebabkan bayi besar adalah makanan yang bergizi baik dan faktor

keturunan. Minum es tak dilarang, asal tak berlebihan. Karena jika terlalu banyak, ulu hati akan
terasa sesak dan ini tentu membuat ibu hamil merasa tak nyaman. Lagipula segala sesuatu yang

berlebihan akan selalu berdampak tak baik.

• Wanita hamil dianjurkan minum minyak kelapa (satu sendok makan per hari) menjelang

kelahiran. Maksudnya agar proses persalinan berjalan lancar.

Fakta: Ini jelas tidak berkaitan. Semua unsur makanan akan dipecah dalam usus halus menjadi

asam amino, glukosa, asam lemak, dan lain-lain agar mudah diserap oleh usus.

3.  Upacara Adat Masa Kehamilan

a.  Upacara Mengandung Empat Bulan

Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3

bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut

hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan

kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil.

Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan

menginjank empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh

pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini

mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya

agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.

b. Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban

Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu

mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang

melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu
yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat

puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung

sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini

biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan

surat Maryam.

Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan

yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang

hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara

bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan

dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena

pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar

(licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh

wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung

dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya

elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang

dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat

rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-

anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan

talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil

menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran,

belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah

rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.


c.  Upacara Mengandung Sembilan Bulan

Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan.

Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir

dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai

simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos

ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.

d. Upacara Reuneuh Mundingeun

Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih

dari sembilan bulan,bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan

yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting.

Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti

kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung

beurang sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau,

cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat

seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang

memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung

beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah

jarang dilaksanakan.
4. Adat budaya

a. Masyarakat batak :

Bila ada bayi lahir dirumah sendiri, si ayah akan langsung membelah kayu dengan suara

yang sangat keras dan akan membuka jendela dapur lbar-lebar dengan tujuan kayu yang tadi

dibelah lalu dibakar supaya asapnya membumbung tinggi. Ini menjadi pertanda bahwa di rumah

tersebut ada sebuah kehidupan baru

b. Agama lain

Adat atau budaya agama lain hampir sama atau serupa dengan agama islam tergantung

lingkungan agama tersebut misalnya agama selain islam juga mengadakan syukuran bila

kehamilan telah mencapai usia 4 bulan atau 7 bulan. Hanya saja bila dalam islam acara

tasyakuran diisi dengan bacaat do’a-do’a yang ada dalam al-qur’an, agama lain dibacakan do’a-

do’a menurut kepercayaan mereka

B. Faktor Lingkungan Sosial

1. Gaya hidup

adalah pola kegiatan masyarakat yang terjadi di lingkungan masyarakat. Gaya hidup

masyarakat sekarang terutama didaerah perkotaan yang serba sibuk dan terburu-buru yang telah

terjadi sekarang akan memperbesar kemungkinan bahkan kadang-kadang menyebabkan secara

langsung aspek kehamilan yang sangat mengganggu si ibu. Aspek yang mengganggu itu seperti

mual muntah, keletihan yang dapat membuat si ibu letih dan tentu saja sangat mengganggu

kegiatan dan aktivitas si ibu


2. Perokok

Merokok adalah suatu kegiatan yang akan sangat merugikan bagi ibu. Merokok akan

mengganggu pertumbuhan janin dan dapat menurunkan BL. Selain dapat menurunkan BB bayi

dalam kandungan karena terganggu perkembangan dan pertumbuhannya, merokok juga dapat

menjadikan persalinan preeferm, dan kematian perinatal. Faktor lingkungan yang mendukung

akan dan paling tidak menurunkan kebiasaan merokok.

3. Dukungan dari suami dan keluarga

Dukungan dari keluarga amat penting untuk kestabilan psikis ibu. Terutama dukungan

dari suami. Dukungan yang ibu perlukan tidak hanya dari suami, hendaknya dari keluarga dan

lingkungan sekitar ibu hamil. Karena bila tidak ada dukungan ibu akan merasa stress dan stress

tersebut dapat mengganggu kesehatan ibu dan mengganggu perkembangan janin.

2.3 Fasilitas Kesehatan

  Fasilitas kesehatan yang lengkap akan mendukung dalam target penurunan AKI dan AKB

  Fasilitas kesehatan di tingkat desa PUSTU, pondok bersalin yang disediakan untuk bidan

PTT

  Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah kelurahan biasanya kurang lengkap sehingga pada

pelaksanaannya apabila ada ibu hamil yang memerlikan tindakan kegawat daruratan

  Dirujuk ke rumah sakit yang ada di wilayah kabupaten dimana mempunyai fasilitas

perlengkapan alat yang lebih lengkap, dan tenaga medis, dokter spesialis lebih banyak
  Untuk itu sebagai bidan harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang luas agar

dalam memberikan pelayanan pada masyarakat setidaknya bisa memberikan pertolongan

pertama pada tindakan kegawat daruratan

Adanya fasilitas kesehatan yang memadai akan sangat menguntungkan kualitas pelayanan

kepada ibu hamil. Deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyulit akan lebih tepat, sehingga

langkah antisipatif akan lebih cepat diambil. Fasilitas kesehatan ini sangat menentukan atau

berpengaruh terhadap upaya penurunan angka kesehatan ibu (AKI).

Pemanfaatan pelayanan antenatal care dan sejumlah ibu hamil di Indonesia belum sepenuhnya

sesuai dengan pedoman yang di tetapkan. Hal ini cenderung menyulitkan tenaga kesehatan

dalam melekukan pembinaan pemeliharaan kesehatan ibu hamil secara teratur dan menyeluruh,

termasuk deteksi dini terhadap faktor resiko kehamilan yang penting segera di tangani. Fasilitas

kesehatan

Kurangnya pemanfaatan antenatal care oleh ibu hamil ini berhubungan dengan faktor-faktor:

A.    Predis posisi (predis porsing factors)

Terwujud dalam pendidikan umlah anak, pendidikan suami, sikap, umur, pekerjaan, pendataan,

pengetahuan ibu hamil dan sebagaimnya.

B.     Pemungkin atau pendukung (enabling factors)

Terwujud dalam jarak fisik lokasi, biaya antenatal care, fasilitas pelayanan antenatal care, waktu

tunggu dan sebagainya.

C.     Penguat (reinforcing factors )


terwujud dalam perilaku petugas pelayanan antenatal care, sikap petugas pelayanan antenatal

care, sikap tokoh masyarakat.

Dampak dari kurangnya pembinaan pemeliharaan kesehatan ibu hamil akan menimbulkan

kerugian tidak saja pada ibu hamil itu sendiri tetapi juga pengaruh buruk bagi anak yang akan

dilahirkan

Penyebab kematian ibu di Indonesia antara lain :                            

1.      Perdarahan

2.       Infeksi dan eklamsia

3.       Anemia

4.      Terlalu muda atau tua,sering dan banyak

Macam-macam fasilitas kesehatan :

A.    PUSKESMAS

Puskesmas adalah pusat kesehatan masyarakat yang bertempat di kecamatan dimaksudkan

sebagai pengganti keberadaan rumah sakit dan klinik2 kesehatan yang bertanggung jawab atas

kesehatan rakyat.

Sasaran pelayanan di klinik keperawatan adalah kasus-kasus yang memerlukan asuhan

keperawatan yang terdiri dari :

1.      Sasaran prioritas
Sasaran prioritas individu adalah usia lanjut, penderita penyakit menular (a.l TB

Paru, Kusta, Malaria, Demam Berdarah, Diare, Ispa,/Penumonia), penderita

penyakit degeneratif. Sasaran prioritas ini kemudian akan dilakukan tindak lanjut

dengan kunjungan rumah untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit,

ketidak teraturan minum obat, dan meminimalkan bertambah buruknya kondisi

pasien karena faktor lain di lingkungan tempat tinggal.

2.      Sasaran non prioritas

Adalah sasaran yang perlu mendapatkan asuhan keperawatan sebagai bagian

yang tidak terpisahkan dari pelayanan pengobatan ataupun pelayanan kesehatan

lainnya. Antara lain : jahit luka, perawatan luka, ganti balutan, kontrol pasca

operasi, perawatan luka bakar, pembersihan kotoran ditelinga, circumcisi/kithan,

pemasangan kateter, pemeriksaan rekam jantung, oksigenasi, dan tindakan lain

sesuai dengan ketersediaan sarana di masing-masing Puskesmas.

Masyarakat golongan ekonomi lemah selalu diidentikkan dengan kelompok orang miskin.

Pengidentifikasian ini didasarkan pada rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan, rendahnya

tingkat kesehatan, rendahnya tingkat produktivitas dan minimnya permodalan menjadi faktor

yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendapatan, rendahnya daya tabung dan juga rendahnya

posisi tawar dengan pihak luar. Masing-masing seperti mata rantai yang membentuk lingkaran

kemiskinan yang tidak berujung pangkal, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan

pendapatan per kapita.

Tipe rumah sakit di Indonesia terdiri dari :

1.      Rumah sakit umum


2.       Rumah sakit terspesialisasi

3.       Rumah sakit penelitian atau pendidikan

4.       Rumah sakit lembaga atau perusahaan

5.       Klinik

Perubahan kelas rumah sakit dapat saja terjadi sehubungan dengan turunnya kinerja rumah sakit

yang ditetapkan oleh menteri kesehatan Indonesia, melalui keputusan Dirjen Pelayanan Medik.

Sasaran pelayanan / macam-macam pelayanan yang diberikan :

1.      Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis

2.      Pelaksanaan pelayanan medis tambahan, pelayanan penunjang medis

3.      Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman

4.      Melaksanakan pelayanan medis khusus

5.      Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan

6.      Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi

7.      Melaksanakan pelayanan kedokteran social

8.      Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan

9.      Melaksanakan pelayanan penyuluhan rawat jalan

10.   Atau rawat darurat dan rawat tinggal.


2.4   Ekonomi

Tingkat social ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik dan

psikologis ibu hamil. Pada ibu hamil dengan tingkat social ibu hamil yang baik otomatis akan

mendapatkan kesejahteraan fisik dan psikologis yang baik pula. Status gizi pun akan meningkat

karena nutrisi yang didapatkan berkualitas, selain itu ibu tidak akan terbebani secara psikologis

mengenai biaya persalinan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari setelah bayinya lahir.

  Sosial ekonomi menentukan bagaimanakah seseorang dalam memilih fasilitas dalam

pelayanan kesehatan

  Banyak masyarakat di indonesia yang mempunyai sosial ekonomi di bawah garis kemiskinan

  Dalam pengambilan keputusan sering terjadi keterlambatan sehingga berdampak kefatalan

dan kematian

  Program pemerintah yaitu: adanya ASKES untuk para PNS, JPKM, ASESKIN

  Diharapkan dapat meringankan beban dari segi pembiayaan masyarakat

Ada pula bila ibu tinggal ditempat yang kumuh, dan rumah kontrakan yang sempit. Keadaan ini

sangat tidak nyaman bagi ibu, dan pada akhirnya akan membuat ibu stress dan tergaggu

psikisnya.

Keadaan ibu hamil yang ada pada posisi :


1.      Ekonomi bawah

2.      Ekonomi tengah

3.      Ekonomi atas

Meliputi kondisi kesehatan, frekuensi ANC, tempat periksa,dan asupan nutrisi selama hamil

ialah sebagai berikut :

a)      Ibu hamil dari ekonomi bawah

Kondisi kesehatan ibu hamil dari ekonomi bawah biasanya kurang. Ini bisa disebabkan karena

kurangnya fasilitas kesehatan yang tersedia atau karena kurangnya dana bagi ibu dan bisa juga

karena kurangnya pengetahuan si ibu untuk menjaga kesehatannya. Frekuensi ANC bagi ibu

hamil yang berasal dari ekonomi bawah ini, jarang atau bahkan tidak memeriksakan

kehamilannya karena keterbatasan dana, dan pengetahuan ibu untuk memeriksakan kondisi

kehamilannya. Ibu mungkin akan berkunjung ke rumah bidan untuk memeriksakan kondisi

kehamilanya bila merasakan adanya hal yang tidak beres pada kehamilannya. Asupan nutrisi ibu

hamil ini tentunya kurang karena janin yang ada di kandungan membutuhkan banyak sekali

nutrisi sdangkan untuk makan pun hanya bisa satu kali sehari.

b)      Ibu hamil dari ekonomi menengah

Kondisi kesehatan ibu hamil dari ekonomi menengah umumnya cukup. Ini disebabkan karena

baik dari fasilitas kesehatan yang tersedia atau karena dana bagi ibu yang memadai bgi iu untuk

memeriksakan kehamilannya dan bisa juga karena ibu berpengetahuan untuk menjaga

kesehatannya. Frekuensi ANC bagi ibu hamil yang berasal dari ekonomi menengah ini, cukup

rutin setiap trimesternya untuk memeriksakan kondisi kehamilannya. Biasanya si ibu akn
memeriksakan kehamilannya di bidan. Asupan nutrisi ibu hamil ini cukup bagi janin yang ada di

kandungan, janin membutuhkan banyak sekali nutrisi. Ibu akan berusaha untuk bisa memenuhi

kebutuhan nutrisi bagi janinnya karena dengan terpenuhinya nutrisi janin, janin akan

berkembang maksimal.

c)      Ibu hamil dari ekonomi atas

Kondisi kesehatan ibu hamil dari ekonomi atas umumnya baik. Ini disebabkan karena baik dari

fasilitas kesehatan yang tersedia atau dana bagi ibu yang memadai bagi ibu untuk memeriksakan

kehamilannya dan karena ibu berpengetahuan untuk menjaga kesehatannya. Frekuensi ANC bagi

ibu hamil yang berasal dari ekonomi atas ini, rutin setiap trimesternya untuk memeriksakan

kondisi kehamilannya. Ibu akan memeriksakan kondisi kehamilannya ke bidan atau dokter

spesialis kandungan. Asupan nutrisi ibu hamil ini cukup bagi janin yang ada di kandungan, janin

membutuhkan banyak sekali nutrisi. Ibu akan berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan nutrisi

bagi janinnya karena dengan terpenuhinya nutrisi janin, janin akan berkembang maksimal. Selain

asupan nutrisi, ibu hamil dari ekonomi atas ini juga melakukan senam hamil untuk menjaga

kehamilannya baik dan berharap nantinya saat persalinan akan mudah.

BAB III

PENUTUP

3.1.  Kesimpulan

       Faktor Lingkungan


Faktor ini memengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan

tentu saja ekonomi yang akan memengaruhi keadaan wanita hamil jadi ibu yang sedang hamil

sebaiknya mempersiapkan diri sebaik mungkin agar persalinan dapat berjalan dengan baik dan

harud diperhatikan faktor lingkungan yang mendukung dan baik , adat yang merugihkan bagi ibu

hamil yang dapat membuat kondisi ibu tersebut menjadi kurang baik seperti tidak boleh makan

ikan karena menurut mitos ikan dapat membuat gatal pada ibu dan fasilitas yang mendukung

karena bila fasilitas tidak mendukung seperti jauhnya puskesmas atau tiidak adanya bidan maka

akan berakibat fatal karena pertolongan yang akan dilakukan akan lama karena jauhnya fasilitas

kesehatan.

3.2          Saran

3.2.1        Saran untuk masyarakat

Masyarakat diharapkan dapat memahami betapa pentingnya mengetahui faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi kesehatan ibu dan janin jadi masyarakat harus dapat berfikir realistis bahwa

kebiasaan adat yang kurang baik atau bahkan dapat merugihkan jangan ditiru.

3.2.2        Saran untuk ibu hamil

Ibu hamil diharap dapat memilih yang terbaik bagi kondisi bayi dan janin ibu sendiri jangan

mengikuti adat yang dapat merugihkan bagi si ibu dan bayi kebutuhan gizi harus simbang agar

tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan juga faktor lingkungan sangat berperan dalam

kondisi ibu dan bayi hindari polo-pola yang buruk dan ekonomi harus diperhatikan agar saat

terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat ditangani dengan baik


DAFTAR PUSTAKA

Asrinah, dkk.2010. Asuhan Kebidanan Masa Kehamilan. Yogyakarta: Graha Ilmu

MIMS Bidan. Edisi pertama. 2011

http://midwifemala.blogspot.com/2011/02/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

http://pustakabaru.com/index.php?route=product/product&product_id=533