Anda di halaman 1dari 26

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI-TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL,

TEORI KONFLIK, TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK, SERTA TEORI


STRUKTURASI

Disusun sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah: Sosiologi Pendidikan

Dosen Pengampuh:

Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : HADIANI
NIM : L1C018031
Fakultas&Prodi : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Prodi
Sosiologi
Semester : semester 5

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI


UNIVERSITAS MATARAM
T.A. 2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan tugas Sosiologi Pendidikan dengan tepat waktu.
Terima kasih saya sampaikan atas bimbingan Bapak Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos
sebagai dosen pengampuh Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan yang telah memberikan
kesempatan untuk menyusun tugas ini, dan berbagai pihak yang telah membantu dalam
menyususn tugas ini. Saya menyadari bahwa tugas ini jauh dari kata sempurna, kritik dan
saran yang membangun tentu saya terima.
Besar harapan saya tugas ini akan memberi manfaat kepada semua kalangan
masyarakat dan menambah wawasan bagi para pembaca yang hendak mendalami
pengetahuan tentang sosiologi pendidikan.

Penyusun, Mataram, 14 Oktober 2020

Nama: HADIANI
NIM: L1C018031

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. Pendidikan dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural

BAB II. Pendidikan dalam Perspektif Teori Konflik

BAB III. Pendidikan dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik

BAB IV. Pendidikan dalam Perspektif Teori Strukturasi

KESIMPULAN DAN ANALISIS KRITIS

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

3
BAB I

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL


Pendidikan dari bahasa adalah perbuatan mendidik (hal, cara dan sebagainya) dan
berarti pula pengetahuan tentang mendidik atau pemeliharaan (latihan-latihan dan
sebagainya) badan, dan batin (Poerwadarminto, 1991:250). Para pakar biasanya
menggunakan istilah tarbiyah, dalam bahasa arab. Penggunaan kata tarbiyah untuk arti
pendidikan (education) merupakan pengertian yang sifatnya ijtihad (interpretable) (Nata,
2012:21). Hal yang sama diungkapkan oleh Abdul Mujib bahwa: Pendidikan dalam bahasa
arab biasanya memakai istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, irsyad, dan tadris (Mujib,
2006:10). Adapun pendidikan dari segi istilah antara lain adalah:Pendidikan sebagai setiap
usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada
pendewasaan anak itu, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau
yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari dan
sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa (Hasbullah, 2001:2). Hal
senada juga dikatakan bahwa: Pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing
mengarahkan potensi hidup manusia yang beruopa kemampuan-kemampuan dasar dan
kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya
sebagai makhluk individual dan sosial serta hubunganya dengan alam sekitar di mana ia
hidup (Arifin, 1993:54). Dalam hal ini Herman H Home dalam Arifin, mengatakan bahwa
Pendidikan harus dipandang sebagai suatu proses penyesuaian diri manusia secara
timbal balik dengan alam sekitar, dengan sesama manusia dan dengan tabiat tertinggi
kosmos (Arifin, 1993:12). Kalau kita liat dari segi masa depan maka pendidikan juga
terdapat proses humanissai seperti yang dikatakan oleh Idris bahwa:Pendidikan pada
hakekatnya menyangkut masa depan, peradaban manusia dan proses humanisasi
(memanusiakan manusia) (Idris, 2012:2). Selanjutnya Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak
Pendidikan Nasional seperti yang dikutip oleh Abudin Nata, beliau mengatakan bahwa
pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan
batin, karakter), pikiran (intelect) dan tumbuh anak antara yang satu dengan lainya saling
berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehiduipan anak-anak
yang kita didik selaras dengan dunianya (Nata, 2012:43). Adapun rumusan pendidikan
mempunyai inti: pendidikan adalah pemanusiaan anak dan pendidikan adalah

4
pelaksanaan nilai-nilai (Driyakara, 1980:18). Dalam Undang-Undang tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas tahun 2003) dinyatakan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengembalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang
Sisdiknas, 2003:2). Teori struktural fungsional melihat masyarakat sebagai sebuah
keseluruhan sistem yang bekerja untuk menciptakan tatanan dan stabilitas sosial. Teori ini
sering disebut juga perspektif fungsionalisme, dicetuskan oleh Emile Durkheim. Durkheim
banyak mengkaji tentang tatanan sosial dan bagaimana masyarakat dapat hidup
harmonis. Fungsionalisme fokus pada struktur sosial yang levelnya makro. Beberapa
tokoh sosiologi yang terpengaruh oleh teori fungsionalisme Durkheim diantaranya, Talcott
Parsons dan Robert K. Merton.
Teori fungsional adalah faham positivism yang berasumsi sesuatu dapat
diobservasikan dan diukur secara empiris (aliran ini di pengaruhi oleh ilmu-ilmu dalam dan
eksak). mereka berpendapat bahwa fakta sosial bersifat objektif yang efeknya dapat
diobservasi. Dan bukan sebagai tujuan praksis. Analisa teri funsional bertujuan untuk
menmukan hukum-hukum universal dan bukan mencari keunikan. Dengan demikian teori
fungsional berhadapan dengan cakupan populasi yang sangat luas, sehingga tidak
mungkin untuk mengambil secara keseluruhan sebagai sumber data. Untuk menkaji
secara realitas universal dapat diambil sejumlah sampel yang mewakili. Dengan kata lain
keterwkilan menjadi sangat penting. Kajian fungsional menekankan upaya menemukan
hubungan kausal dan korelasi antar fenomena, maka metode penelitian ini mengarah
kepada pemekaian tehnik kuantitatif. Dengan sendirinya, metode survey lebih
memungkinkan penelitian mencari penjelasan korelasi antar fenomena, dan juga metode
eksperimen menjadi penguji hubungan kausalitas antar fenomena. Kedua metode tersebut
menjadi popular di mata para eksponen teori structural fungsional.
Dalam penelitian survey maupun eksperimen, penelitian yang beroperasidalam
ranah pengetahuan nomotetik ini akan merasa sangat terbantu dengan dukungan simulasi
computer. Teknik reduksi data, pembuatan sekala, dan analisa static. Hal itu sangat
sangat diperlukan dalam penelitian kuantitatif baik dari survey maupun eksperimen yang
menghendaki pengukuran yang tepat. Dapat mengarah kepada temuan yang memiliki
validasi eksternal maupun internal, akurasi dan tingkat konstan nilai atau nilai reabilitas

5
yang tinggi. Teknis ini dilkukan dengan menentukan hipotesis terlebih dahulu, jika hal itu
dilakukan dilakukan dengan baik, maka penelitian structural funsional akan dapat
melakukan verivikasi data ked an dari lapangan.
Para penganut pandangan structural fungsional percaya bahwa pendidikan dapat
digunakan sebagai jembatan untuk menciptakan tertib sosial. Pendidikan dijadikan
sebagai media sosialisasi kepada generasi muda untuk mendapatkan pengetahuan,
perubahan perilaku dan penguasaan tata nilai yang diperlukan sebagai anggota
masyarakat.
Auguste Comte (1798-1857) yang dikenal sebagai bapak sosiologi yang
memelopori filsafat positivistic, berpendapat bahwa pengetahuan dan masyarakat dalam
proses transisi secara evolusi. Tugas sosiologi disini untuk memahami faktor-faktor yang
diperlukan dalam evolusi masyarakat. Semuanya itu nantinya bertujuan untuk
menciptakan tertib sosial yang baru. Pendidikan lah yang digunakan sebagai tempat untuk
mengembangkan tradisi pengetahuan positivistic, sehingga siswa dapat
berpikir positive sehingga segala sesuatu dapat dijelaskan dengan sebab-akibat.Evolusi
tertib social melalui tiga tahap yaitu; tahap teologis, tahap metafisik dan tahap ilmiah.
Comte percaya bahwa masyarakat selalu tumbuh melalui tiga tahap sesuai dengan tingkat
kompleksitas masyarakat.
Namun dalam perkembangannya perspektif structural fungsionalis mengalami
kemerosotan. Colomny (1990) menyimpulkan bahwa teori fungsional telah berubah
menjadi tradisi. Istilah Struktural Fungsional dalam teorinya menekankan pada keteraturan
(orde). Dalam teori ini, masyarakat dipandang sebagai suatu system social (social system)
yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbangan.
Teori ini mempunyai asumsi bahwa setiap tatanan (struktur) dalam system sosial akan
berfungsi pada yang lain, sehingga bila fungsional yang tidak ada, maka struktur itu tidak
akan ada atau akan hilang dengan sendirinya. Semua tatanan adalah fungsional bagi
suatu masyarakat. Dalam arti demikian, maka teori ini cenderung memusatkan kajiannya
pada fungsi dari suatu fakta social (social fact) terhadap fakta social lain.

Masyarakat adalah suatu system yang secara keseluruhan terdiri dari bagian-
bagian yang saling tergantung. Keseluruhan system yang utuh menentukan bagian-
bagian. Artinya, bagian yang satu tidak dipahami secara parsial dan terpisah kecuali
dengan mempertahankan hubungan dengan system keseluruhan yang lebih luas.

6
• Bagian-bagian harus dipahami dalam kaitannya dengan fungsinya terhadap
keseimbangan sistem keseluruhan, sehingga bagian-bagian tersebut menunjukkan gejala
saling tergantung dan saling mendukung untuk memelihara keutuhan system.
• Tiap-tiap masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat
dan mantap, berintegrasi satu sama lain dengan baik. Orang lebih banyak bekerja sama
dari pada menentang, biarpun telah terjadi pergantian dari pemerintah yang lama ke yang
baru.
• Tiap-tiap masyarakat mempunyai fungsi dalam rangka mewujudkan ketahanan dan
kelestarian sistem. Hal ini karena dilatarbelakangi oleh suatu kesesuaian faham
(consensus) diantara anggotanya mengenai nilai-nilai tertentu.
Comte berpendapat bahwa sosiologi adalah studi tentang strata sosial (struktur)
dan dinamika sosial (proses/fungsi). Didalam membahas struktur masyarakat disebutkan
bahwa masyarakat adalah organisme hidup. Fungsionalisme Struktural tidak hanya
berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu tentang keteraturan masyarakat, tetapi juga
memantulkan asumsi-asumsi tertentu tantang hakikat manusia. Didalam fungsionalisme,
manusia diperlakukan sebagai abstraksi yang menduduki status dan peranan yang
membentuk lembaga-lembaga atau struktur-struktur sosial. Didalam perwujudannya yang
ekstrim, fungsionalisme struktural secara implisit memperlakukan manusia sebagai pelaku
yang memainkan ketentuan-ketentuan yang telah dirancang sebelumnya, sesuai dengan
norma-norma atau aturan-aturan masyarakat. Didalam tradisi pemikiran Durkheim untuk
menghindari reduksionisme (fenomena alamiah yang diciutkan dalam suatu hal yang lebih
kecil)
psikologis, para anggota masyarakat dipandang sebagai hasil yang ditentukan oleh
norma-norma dan lembaga-lembaga yang memelihara norma-norma itu.
Parsons melihat masyarakat adalah sistem sosial yang dilihat secara total.
Bilamana sistem sosial sebagai sebuah sistem parsial, maka masyarakat itu dapat berupa
setiap jumlah dari sekian banyak sistem yang kecil-kecil, misalnya keluarga, sistem
pendidikan, dan lembaga-lembaga keagamaan.
Kita dapat menghubungkan individu dengan sistem sosial dan menganalisanya melalui
konsep status (struktur) dan peranan (fungsi). Status adalah kedudukan dalam sistem
sosial, seperti guru, ibu , atau presiden, dan peranan adalah perilaku yang diharapkan
atau perilaku normatif yang melekat pada status guru, ibu, atau presiden itu. Dengan kata
lain dalam sistem sosial, individu menduduki suatu tempat (status), dan bertindak

7
(peranan) sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem. Misalnya,
status sebagai seorang suami mengandung peranan normatif yakni mencari nafkah yang
baik. Peranan sebagai suami adalah statusnya sebagai suami dari istri.

Pendidikan Dalam Perspektif Struktural Fungsional


Gejala-gejala dan kondisi pendidikan tidak pernah dapat dilepaskan dari sistem
sosial. Dalam hal ini khususnya pendidikan Islam dalam nilai-nilai sosial harus
menciptakan hubungan yang interaktif dan senantiasa menanamkan nilai-nilai sosial.
Sedangkan dalam menerapkan nilai-nilai sosial dimasyarakat mengandung cara-cara
edukatif (Mujamil Qomar, 2013:111). Pengelompokan serta penggolongan yang terdapat
di masyarakat mempunyai peran, bentuk serta fungsi, konsep-konsep tersebut yang di
pakai landasan dalam teori struktural fungsional.. teori ini mempunyai ektrimisme yang
terintegrasi dalam semua even dalam sebuah tatanan fungsional.
Bagi suatu masyarakat, sehingga berimplikasi terhadap bentuk kepaduan dalam
setiap sendi-sendi struktur dalam wilayah fungsional masyarakat. Pendidikan dalam era
global saat ini juga mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk struktur
maupun startifikasi sosial. Dalam perspektif teori struktural fungsional mempunyai
relevansi dengan pemikiran Emile Durkheim dan Weber, karena dua pakar sosiologi klasik
ini terkenal dalam bidang fungsional stryuktural. Kemudia fungsional strukural dipengaruhi
oleh karya dari Talcott Parson dan juga Merton, dua orang ahli sosiologi kontemporer
yang sangat terkenal. Teori Struktural Fungsional tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan
maupun masyarakat. Stratifikasi yang berada di masyarakat mempunyai fungsi.
Ekstrimisme teori ini adalah mendarah dagingnya asumsi bahwa semua even dalam
tatanan adalah fungsional bagi suatu masyarakat.
Berbicara tentang masyarakat maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dengan
“integrasi” --satu kesatuam yang utuh, padu (Dahlan, 2001:264). Hal ini seperti yang telah
dikemukakan Talcott Parsons dalam pengertian Sosiologi Pendidikan, yang berarti bahwa
struktur dalam masyarakat mempunyai keterkaitan atau hubungan satu dengan yang lain.
Pendidikan khususnya, tidak bisa dipisahkan dengan struktur yang terbentuk oleh
pendidikan itu sendiri. Demikian pula, pendidikan meruipakan alat untuk mengembangkan
kesadaran diri sendiri dan kesadaran sosial (Wahyu, 2006:1). Fungsionalisme Struktural
tidak hanya berlandaskan pada sumsi-asumsi tertentu tentang keteraturan masyarakat,
tetapi juga memantulkan asumsi-asumsi tertentu tentang hakikat manusia. Di dalam

8
fungsionalisme, manusia diperlakukan sebagai abstaksi yang menduduki status dan
peranan yang membentuk lembaga-lembaga atau struktur sosial.
Didalam perwujudanya yang ekstrim, fungsionalisme struktural secara implisit
memperlakukan manusia sebagai pelaku yang memainkan ketentuan-ketentuan yang
telah dirancang sebelumnya, sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan masyarakat.
Di dalam tradisi pemikiran Durkheim untuk menghindari reduksionisme, yaitu fenomena
alamiah yang diciutkan dalam suatu hal yang lebih kecil (Dahlan, 2001:659). Psikologis
para nggota masyarakat dipandang sebagai hasil yang ditentukan oleh norma-norma dan
lembaga-lembaga yang memelihara norma-norma itu (Poloma, 2007:43). Kita dapat
menghubungkan individu dengan sistem sosial dan menganalisisnya melalui konsep
status (stuktur) dan peran (fungsi). Status adalah kedudukan dalam sistem sosial (Poloma,
2007:171). Peran pendidikan dalam teori struktural fungsional antara lain adalah:
a) Pendidikan dalam peranan kelompok. Peranan kelompok yang ada diharapkan
dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan sesorang, hal ini akan membiasakan
kebutuhan dan kepentingan serta mendekatkan harapan para anggota. Peristiwa
ini diharapkan dapt menjadikan suatu asosiasi atau lapiran, strata maupun struktur
masyarakat, baik secara kasta, golongan, statifikasi, kedaerahan, kelompok dan
lain sebagainya di lingkungan masyarakata tertentu.
b) Pendidikan dalam masyarakat.

Anggota masyarakat jika sesuai dengan perananya akan membatasi mengenai


peranan (fungsi): misalnya sebagai orang tua, anggota militer, usahawan, pembentuk
serikat kerja, konsumen, produsen, penduduk dan lain sebagainya. Hal tersebut
mempunyai guna dan manfaat dalam pengendalian masyarakat, masing-masing akan
mengetahui batas-batas kewenanganya, sehingga dalam kehidupan bermasyarakat tidak
akan terjadi konflik serta benturan peranan satu dengan yang lainya, karena berjalan
sesuai dengan fungsi masing- masing.
1. Pendidikan dalam Status Kelompok Stuktural Sosial. Struktur masyarakat jika
dilihat dari persilangan yang terjadi terdapat:
(a) Kesukuan /Kedaerahan
(b) Kelas Sosial/ Strata (struktur / lapisan ) masyarakat
(c) Status Pekerjaan / Jenjang jabatan dalam bagian masyarakat.

9
Ada beberapa suku yang hidup dalam masayarakat tertentu, masing-masing dari
masayarakat itu menunjukkan dan merasakan adanya ikatan suatu geografis maupun
kebudayaan tertentu yang senada dan berlaku secara turun menurun serta para
anggotanya dilahirkan, dikembangkan dan bertahan dalam kelngsungan hidupnya
(viabilitas) persilangan-persilangan yang terjadi akan mewujudkan rasa kedaerahan.
Kelas-kelas sosial merasakan juga adanya ikatan, tujuan, tuntutan, gerakan maupun
jenjang, mereka akan mengadakan persilangan antara masing-masing keals dan akan
mewujudkan segmentasi maupun pembentukan bagian yang semakin besar, dalam hal ini
berbentuk lapisan masyarakat dan memupunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidup
masyarakat.

Individu dalam masyarakat yang telah mencukupi umur haruslah bekerja sesuai
dengan bidang dan kemampuan masing-masing. Kenyataan ini menunjukkan interaksi
antar sesama yang mempunyai status pekerjaan yang sama atau mirip sehingga dapat
menimbulkan pertukaran pengalaman, penegetahuan, pikiran serta gagasan-gagasan
penting. Persilangan-persilangan status pekerja/pekerjaan akan melahirkan jenjang
pekerjaan yang lebih besar dalam masyarakat (Kreimers, 1984:33).

2. Pendidikan Dalam fungsi-fungsi Masyarakat.


Dalam lembaga menyelenggarakan berbagai macam fungsi, dalam lembaga
keluarga memperhatiakan dan memberikan perlindungan keluarga satu dengan
yang lain, menyelenggarakan fungsi-fungsi ekonomi, ayah ibu dan kakak juga
berfungsi sebagai pengganti guru ketika berada di rumah, memberikan gizi dan
obat-obatan serta gizi maupun pelayanan sosial-sosial lainya.

Lembaga pendidikan didorong untuk melakukan manajemen transformatif, model dan


gaya kepemimpinan yang diharapkan dan diperlukan di saat globlalisasi ini adalah dengan
“gaya kepemimpinan transformatif”. Lembaga pendidikan seharusnya mempunyai
indikator dalam mengimplementasikan manajemenya. Hal ini seperti yang diungkapkan
oleh Muhyi Batu Bara bahwa Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah itu menjadi
konsep dan juga merefleksikan dan peran serta tanggung jawab masing-masing pihak
antara lain:
1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
2. Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai

10
3. Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat
4. Adanya harapan yang tinggi dari personil sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf
lainya, termasuk siswa)
5. Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai dengan tuntutan
IPTEK
6. Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek
akademik dan administrative, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan
dan atau perbaikan mutu
7. Adanya komunikasi dan dukungan insentif dan orang tua siswa dan masyarakat
lainya.

11
BAB II
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI KONFLIK

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural


fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini
adalah pemikiran Karl Marx.Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak.
Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.

Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan
perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia
menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup,
terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai
kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis,
kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.
Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness)
dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap
terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong
terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum
proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.

Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis
dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat
mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan
konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan
selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah
mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga
melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga
membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini
menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan
subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.

Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan
sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam
masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial
disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu,

12
masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu
ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.

Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya,


keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh
karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat
dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori
konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dah.

Pendidikan dalam perspektif teori konflik


Memahami Marx menegani startifikasi sosial tidak lain harus melihat teori klas yaitu
“Sejarah peradaban umat manusia dari dahulu sampai sekarang adalah sejarah pertikaian
dan konflik antar klas.” Marx selalu melihat bahwa hubungan manusia terjadi dari adanya
hubungan posisi masing-masing terhadap sarana produksi. Marx berkeyakinan bahwa
posisi dalam struktur sangat mendorong dalam upaya memperbaiki nasib mereka dengan
ditunjukkan adanya klas borjuis dan klas buruh. Dari penjelasan tersebut menurut sosiolog
pendidikan beraliran Marxian menawarkan bahwa masalah pertentangan klas menjadi
objek kajia (pendidikan). Dari mereka ada poin-poin yang diajukan, pertama bahwa
pendidikan difokuskan pada perubahan yang dibangun dan tumbuh tanpa adanya tekanan
dari klas dominan atau penguasa, yaitu dengan perubahan akan penyadaran atas klas
dominan. Kedua pendidikan diarahkan sebagai arena perjuangan klas, mengajarkan
pembebasan, kesadaran klas, dan perlawanan terhadap kaum borjuis.

Teori konflik dan implikasinya dalam pendidikan

 Masyarakat Pendidikan Prioritas Kebijakan Strategi Perencanaan

 Konflik dan eksploitasi

 Kekuasan dan ketentuan untuk memelihara tertib social

 Pendidikan sebagai kepanjangan kekuatan kelompok dominan

 Perjuangan terus menerus antara kelompok dominan dan subordinat

13
 Memutuskan hubungan antara organisasi atau struktur sekolah dan ekonomi

 Pendidikan tercipta terti social hirarkis

 Ubah struktur sekolah atau kerja masyarakat

 Pengembangan kesadaran dan perlawanan diajarkan di sekolah

 Bebaskan kurikulum dari ideology dominas

 Kembangka pendidikan sebagai pembebasan


Dalam teori konflik ini begitu jelas dominasi kaum Borjuis pemegang kendali dan
kebijakan, mereka dengan gampang memperoleh status sosial dalam masyarakat.
Sebagai contoh ditahun 90-an ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa selama
tahun 90-an kebelakang teryata pendidikan ditentukan oleh status ekonomi para orangtua.
Sehingga paling tidak fakta bahwa teori konflik berlaku di Indonesia.
Teori konflik sangat berguna dalam rangka menjelaskan situasi yang meliputi konflik,
namun sedikit sekali mengaitkan dalam masalah kurikulum dengan kapitalisme dan sedikit
sekali data empirik yang bisa dijadikan landasan klaim teoritik yang diajukan. Teori ini
tidak dapat menjelaskan sejumlah kenyataan yang terjadi di beberapa segmen
masyarakat yang ternyata bisa membangun sistem sosial yang harmoni dan mengalami
kesatuan yang begitu kuat. Menurut pengkritik teori ini bahwa teori konflik hanya mengajak
masyarakat besifat pesimistik. Pandanganya bersifat deterministik yang seolah tidak ada
ruang lagi bagi individu untuk meretas kendala yang bersifat struktural.

Di dalam buku “Sosiologi Pendidikan” juga disebutkan bahwa kelas bawah tidak akan
sama memperoleh pendidikan di banding dengan klas menegah dan atas, sebagai misal
pembelajaran yang pernah dimiliki oleh klas tengah tidak akan pernah dimenegrti oleh klas
bawah, karna adaya perbedaan pengalaman yang dia daaptkan. Kedua, dalam realitasnya
klas bawah tidak akan semudah memperoleh pendidikan dibading klas menengah yang
dengan gampang tanpa alih-alih taggung jawab lain dalam mempeolehnya. Ketiga,
realitas Negara bahwa segala pengetahuan ditentukan oleh penguasa, karenanya klas
proletar yang notabenya sebagai objek dari kebijakan mendapatkan keilmuan tidak sesuai

14
dengan fakta yang ada, sekaligus merupakan bukan termasuk bukan bagain dari
keinginan siswa dan keahliannya.

Upaya-upaya masyarakat dalam meredam benturan di dalam masyarakatnya


seringkali dihargai sebagai sebuah kebijaksanaan yang harus dihargai. Seringkali muncul
asumsi bahwa di dalam setiap kebijaksanaan yang dibuat terdapat nilai-nilai gotong
royong dan kekeluargaan dalam masyarakat dan oleh karenanya hal tersebut selayaknya
dilestarikan. Namun tersirat, di dalam dinamika kehidupan masyarakat seringkali ditemui
fakta adanya gurat-gurat kekecewaan dari mereka yang terpangkas hak-haknya. Meski
secara realita tidak menunjukkan adanya sebuah masalah, namun dalam realita seringkali
muncul lisan yang menyinggung ketidakpuasan terhadap apa yang diperoleh. Kondisi
tersebut menempatkan mereka berada dalam posisi berlawanan, berhadap-hadapan
dengan konsensus masyarakat secara keseluruhan.
Keadaan demikian dapat dimaknai dalam dua hal. Pertama, potensi konflik sudah masuk
dalam dinamika kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan
keadaan yang disebut “normal” dalam masyarakat, kualitas hubungan antar masyarakat
menurun dan muncul pengelompokan-pengelompokan dalam masyarakat. Makna kedua
adalah telah terjadi konflik laten. Kelompok-kelompok dalam masyarakat berdiri karena
adanya pertentangan wacana dan pandangan dalam melihat sebuah isu. Untuk
memahami realitas tersebut menarik untuk membawanya dalam bahasan strategi konflik
guna merumuskan kebijaksanaan dalam arti yang sebenarnya.

15
BAB III

PENDIDIKAN DALAM PERDPEKTIF TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK


Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran
George Harbert Mead (1863- 1931). Mead dilahirkan di Hadley, satu kota kecil di
Massachusetts. Karir Mead berawal saat beliau menjadi seorang professor di kampus
Oberlin, Ohio, kemudian Mead berpindah pindah mengajar dari satu kampus ke kampus
lain, sampai akhirnya saat beliau di undang untuk pindah dari Universitas Michigan ke
Universitas Chicago oleh John Dewey. Disinilah Mead sebagai seseorang yang memiliki
pemikiran yang original dan membuat catatan kontribusi kepada ilmu sosial dengan
meluncurkan “the theoretical perspective” yang pada perkembangannya nanti menjadi
cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”, dan sepanjang tahunnya, Mead dikenal sebagai ahli
sosial psikologi untuk ilmu sosiologis. Mead menetap di Chicago selama 37 tahun, sampai
beliau meninggal dunia pada tahun 1931 (Rogers. 1994: 166).

Teori Interaksi Simbolik yang masih merupakan pendatang baru dalam studi ilmu
komunikasi, yaitu sekitar awal abad ke-19 yang lalu. Sampai akhirnya teori interaksi
simbolik terus berkembang sampai saat ini, dimana secara tidak langsung SI merupakan
cabang sosiologi dari perspektif interaksional (Ardianto. 2007: 40). Interaksi simbolik
menurut perspektif interaksional, merupakan salah satu perspektif yang ada dalam studi
komunikasi, yang barangkali paling bersifat ”humanis” (Ardianto. 2007: 40). Dimana,
perspektif ini sangat menonjolkan keagungan dan maha karya nilai individu diatas
pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap individu di
dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah sosial masyarakatnya,
dan menghasilkan makna ”buah pikiran” yang disepakati secara kolektif. Dan pada
akhirnya, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh setiap
individu, akan mempertimbangkan sisi individu tersebut, inilah salah satu ciri dari
perspektif interaksional yang beraliran interaksionisme simbolik. Teori interaksi simbolik
menekankan pada hubungan antara symbol dan interaksi, serta inti dari pandangan
pendekatan ini adalah individu (Soeprapto. 2007). Banyak ahli di belakang perspektif ini
yang mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep
sosiologi.

16
Implikasi dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau ilmu dan
metodologi berikut ini, antara lain: Teori Sosiologikal Modern (Modern Sociological Theory)
menurut Francis Abraham (1982) dalam Soeprapto (2007), dimana teori ini menjabarkan
interaksi simbolik sebagai perspektif yang bersifat sosial-psikologis. Teori sosiologikal
modern menekankan pada struktur sosial, bentuk konkret dari perilaku individu, bersifat
dugaan, pembentukan sifat-sifat batin, dan menekankan pada interaksi simbolik yang
memfokuskan diri pada hakekat interaksi. Teori sosiologikal modern juga mengamati pola-
pola yang dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan oleh hubungan sosial, dan
menjadikan interaksi itu sebagai unit utama analisis, serta meletakkan sikap-sikap dari
individu yang diamati sebagai latar belakang analisis. Perspektif interaksional
(Interactionist perspective) merupakan salah satu implikasi lain dari interaksi simbolik,
dimana dalam mempelajari interaksi sosial yang ada perlu digunakan pendekatan tertentu,
yang lebih kita kenal sebagai perspektif interaksional (Hendariningrum. 2009). Perspektif
ini menekankan pada pendekatan untuk mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial
masyarakat, dan mengacu dari penggunaan simbol-simbol yang pada akhirnya akan
dimaknai secara kesepakatan bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.

Interaksi simbolik tidak dianggap cukup heuristik (pemaparan melalui proses


pertanyaan-pertanyaan dalam menyelesaikan suatu permasalahan secara sistematis),
sehingga memunculkan sedikit hipotesis yang bisa diuji dan pemahaman yang minim.
Para peneliti interaksi simbolik dianggap kurang terlibat dalam suatu proses penelitian,
sehingga dalam menjelaskan konsep-konsep kunci dari observasi, dimana pada akhirnya
akan menyulitkan si-peneliti dalam melakukan revisi dan elaborasi. Interaksi simbolik
dalam proses penelitian dianggap meremehkan ataupun mengabaikan variabel-variabel
penjelas yang sebenarnya cukup penting, seperti emosi individu yang diteliti. Interaksi
simbolik berhubungan dengan organisasi sosial kemasyarakatan, dimana organisasi
sosial atau struktur menghilangkan prerogative individu. Struktur sosial umumnya
menyangkut dengan masalah kekuasaan, dimana beberapa kelompok memiliki pengaruh
yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok lain dalam mendefinisikan suatu situasi
yang ada, tetapi sekali lagi, para interaksionis tidak mau mengakui adanya ketidaksamaan
kekuasan tersebut. Interaksi simbolik bukanlah suatu teori yang utuh karena memiliki
banyak versi, dimana konsep-konsep yang ada, tidak digunakan secara konsisten. Dan

17
pada akhirnya berdampak pada konsep-konsep seperti I, Me, Self, Role, dan lain
sebagainya menjadi bias dan kabur (tidak jelas).

Ciri khas dari interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam proses saling
menterjemahkan, dan saling mendefinisikan tindakannya, tidak dibuat secara langsung
antara stimulus-response, tetapi didasari pada pemahaman makna yang diberikan
terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan pada
akhirnya tiap individu tersebut akan berusaha saling memahami maksud dan tindakan
masingmasing, untuk mencapai kesepakatan bersama.

Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang berhubungan


dengan meaning, language, dan thought. Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan
tentang pembentukan diri seseorang dan sosialisasinya dalam komunitas (community)
yang lebih besar (Siburian, http://blog.unila.ac. id/rone/mata-kuliah/interaksionisme-
simbolik), yaitu: Meaning (Makna) Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa
perilaku seseorang terhadap sebuah obyek atau orang lain ditentukan oleh makna yang
dia pahami tentang obyek atau orang tersebut. Languange (Bahasa) Seseorang
memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa makna adalah hasil interaksi sosial. Makna tidak melekat pada obyek, melainkan
dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol. Oleh
karena itu, teori ini kemudian disebut sebagai interaksionisme simbolik. Berdasarkan
makna yang dipahaminya, seseorang kemudian dapat memberi nama yang berguna untuk
membedakan satu obyek, sifat, atau tindakan dengan obyek, sifat, atau tindakan lainnya.
Dengan demikian premis Blumer yang kedua adalah Manusia memiliki kemampuan untuk
menamai sesuatu. Simbol, termasuk nama, adalah tanda yang arbitrer. Percakapan
adalah sebuah media penciptaan makna dan pengembangan wacana. Pemberian nama
secara simbolik adalah basis terbentuknya masyarakat. Para interaksionis meyakini
bahwa upaya mengetahui sangat tergantung pada proses pemberian nama, sehingga
dikatakan bahwa Interaksionisme simbolik adalah cara kita belajar menginterpretasikan
dunia. Thought (Pemikiran) Premis ketiga Blumer adalah interaksionisme simbolik
menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation, Secara sederhana proses
menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika
berhadapan dengan sebuah situasi dan berusaha untuk memaknai situasi tersebut.

18
Seseorang memerlukan bahasa untuk berpikir dan berinteraksi secara simbolik. Bahasa
merupakan software untuk menjalankan mind. Penganut interaksionisme simbolik
menyatakan bahwa self adalah fungsi dari bahasa. Tanpa pembicaraan tidak akan ada
konsep diri, oleh karena itu untuk mengetahui siapa dirinya, seseorang harus menjadi
anggota komunitas. I adalah kekuatan spontan yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah
bagian dari diri yang tidak terorganisir. Sementara me adalah gambaran diri yang tampak
dalam the looking-glass dari reaksi orang lain. Me hanya dapat dibentuk melalui interaksi
simbolik yang terus menerus mulai dari keluarga, teman bermain, sekolah, dan
seterusnya. Oleh karena itu, seseorang membutuhkan komunitas untuk mendapatkan
konsep dirinya. Seseorang membutuhkan the generalized other, yaitu berbagai hal (orang,
obyek, atau peristiwa) yang mengarahkan bagaimana kita berpikir dan berinteraksi dalam
komunitas. Me adalah organized community dalam diri seorang individu. Baik manusia
dan struktur social dikonseptualisasikan secara lebih kompleks, lebih tak terduga, dan aktif
jika dibandingkan dengan perspektif-perspektif sosiologis yang konvensional. Disisi ini
masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi,
namun juga menangkap, menginterpretasi, bertindak, dan mencipta. Individu bukanlah
sekelompok sifat, namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah, yang
selalu berada dalam proses menjadi dan tak pernah selesai terbentuk sepenuhnya.
Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka lebih mudah memahami
fenomena sosial melalui pencermatan individu. Ada tiga premis utama dalam teori
interaksionisme simbolis ini, yakni manusia bertin
dak berdasarkan makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang
lain; makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.

Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlangsung


interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling
pokok. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua
unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang
mengajar, interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing, guru
memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses
belajar mengajar, langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang
sudah ditentukan. Interaksonalisme simbolik merupakan dasar pemikiran George Ritzer
(1994) ada 2 pemikiran pokok yaitu pemikiran filsafat pragmatism dan pemikiran

19
behaviorisme psikologi. Teori Interaksonalisme simbolik ini merupakan sisi lain dari
pandangan yang melihat individu sebagai produk yang ditentukan oleh masyarakat.
Interaksonalisme simbolik berasal dari pemikiran Weberian, yang bertolak dari kegiatan
interpretif terhadap subjek individu.Teori interaksonalisme simbolik menggunakan
perspektif pendekatan fenomenologi yang menempatan bahwa kesadaran manusia dan
subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.Interaksonalisme simbolik dalam
sosiologi berfokus pada individu, dengan demikian berusaha menganalisis interaksi antara
individu pada tataran mikro.Secara garis besar Interaksonalisme simbolik oleh Deddy
Mulyana (2001: 71-73), menjadi : Pertama, individu merespons suatu situasi khas yang
bernama situasi simbolik. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial karena makna
tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa.

20
BAB IV

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI STRUKTURASI


Teori strukturasi berusaha mempelajari pandangan-pandangan dualisme antara
obyektivisme dan subyektivisme dalam teori sosial, namun harus dikonseptulisasikan
kembali sebagai dualitas-dualitas struktur. Meskipun teori ini mengakui peran penting
„perubahan linguistik‟, ia bukanlah satu versi hermeneutika atau sosiologi interpretative.
Meskipun juga mengakui bahwa masyarakat bukanlah kreasi subjek-subjek individual,
namun ia jauh dari konsepsi apapun dalam sosiologi structural. Usaha merumuskan suatu
pandangan koheren tentang agensi manusia dan tuntutan struktur merupakan usaha
konseptual yang tidak sedikit. (Giddens, 2010:xix).

Pada teori strukturasi, isu-isu yang menjadi perhatian utama adalah yang
berhubungan dengan hakikat tidakan sosial dan tindakan itu sendiri, bagaimana interaksi
itu dikonseptualisasikan dan hubungannya dengan lembaga-lembaga kemudian
memahami konotasi-konotasi praktis analisis sosial. Maksudnya, focus pada pembahasan
ini adalah usaha agency manusia sekaligus lembaga-lembaga sosial (Giddens, 2004:xx).
Menurut teori strukturasi, bukanlah pengalaman actor individual atau bentuk-bentuk
kesatuan sosial tertentu, melainkan praktik social yang diatur melintasi ruang dan waktu.
(Giddens, dalam Ritzer, 2003:507). Tampak sekali bahwa maksud dari teori strukturasi ini
adalah berusaha untuk mengintegrasikan antara agen dengan struktur. Hubungan mereka
bukanlah sebuah hubungan apa yang mempengaruhi apa maupun apa dipengaruhi apa.
Namun, strukturasi didasarkan pada proposisi bahwa struktur itu selalu membebaskan
dan mengekang (enabling dan constraining),begitu pula dengan agen, agensi dan
kekuasaan.

Teori ini menyatakan bahwa manusia adalah proses mengambilkan dan meniru
beragam sistem sosial. Dengan kata lain, tindakan manusia adalah sebuah proses
memproduksi dan mereproduksi sistem-sistem sosial yang beraneka ragam. Interaksi
antar individu dapat menciptakan struktur yang memiliki range dari masyarakat yang lebih
besar dan institusi budaya yang lebih kecil yang masuk dalam hubungan individu itu
sendiri. Individu yang menjadi komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada
peraturan untuk meraih tujuan mereka dan tanpa sadar menciptakan struktur baru yang

21
mempengaruhi aksi selanjutnya. Hal ini karena pada saat individu itu bertindak dalam
rangka memenuhi kebutuhannya, tindakan tersebut menghasilkan konsekuensi yang tidak
diinginkan (unintended consequences) yang memapankan suatu struktur sosial dan
mempengaruhi tindakan individu itu selanjutnya.

Dalam penerapan konsep utama teori ini, lebih baik jika dimulai dengan
pembahasan tentang pembagian pembagian tentang pembagian pembagian yang telah
memisahkan fungsinalisme dan strutulisme di satu sisi dengan hermeutika dan sisi yang
lain dengan berbagai bentuk sosiologi interpretative. Fungsionalisme dan strukturalisme
memiliki beberapa kemiripan yang jelas, meski ada pertentanga yang menyolok di antara
kedua paham tersebut.

Anggap saja aturan-aturan kehidupan sosial sebagai teknik-teknik atau prosedur-


prosedur yang bisa digeneralisasikan yang diterapkan dalam pembuatan atau reproduksi
praktek-praktek sosial. Aturan-aturan yang dirumuskan yang diberi ekspresi verbal
sebagai kanon hukum, aturan-aturan birokratis, aturan-aturan permainan dan sebagainya
merupakan kodifikasi intepretasi atas aturan-aturan bukannya aturan-aturan itu sendiri.

Aturan-aturan tersebut hendaknya tidak dianggap sebagai sebuah penggambaran


umum melainkan sebagai jenis-jenis khusus yang dirumuskan, bedasarkan formulasi
lahirnya, yang terwujud dalam berbagai kualitas khusus (Giddens, 2011: 27). Kumpulan
pengetahuan seperti itu sifatnya praktis bukannya teoritis. Pengetahuan tentang prosedur
atau penguasaan teknik-teknik melakukan aktivitas sosial dengan demikian bersifat
metodologis.

Maksudnya pengetahuan seperti itu tidak menetapkan seluruh situasi yang


mungkin ditemui seoang aktor dan juga tidak bisa dilakukan olehnya. Namun pengetahuan
memnerikan kapasitas umum untuk menanggapi dan mempengaruhi garis kontinum yang
tak terhingga dari keadaan-keadaan sosial. Pendidikan yang berkaitan erat dengan anak
didik, tentu saja dapat dikategorikan sebagai pencetak agen-agen sosial dimasa depan.
Anak didik yang berperan sebagai agen sosial perlu untuk dipersiapkan. Tugas keluarga,
guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat berkewajiban untuk melancarkan proses

22
pencapaian tujuan pendidikan. Keunikan setiap anak didik sudah sepantasnya dipandang
sebagai sesuatu kelebihan yang dimiliki dalam upayanya menjadi seorang agen sosial.

Kesimpulan

Pendidikan dalam perspektif teori fungsional structural. Teori fungsional adalah faham
positivism yang berasumsi sesuatu dapat diobservasikan dan diukur secara empiris (aliran
ini di pengaruhi oleh ilmu-ilmu dalam dan eksak). mereka berpendapat bahwa fakta sosial
bersifat objektif yang efeknya dapat diobservasi. Dalam penelitian survey maupun
eksperimen, penelitian yang beroperasidalam ranah pengetahuan nomotetik ini akan
merasa sangat terbantu dengan dukungan simulasi computer. Gejala-gejala dan kondisi
pendidikan tidak pernah dapat dilepaskan dari sistem sosial. Dalam hal ini khususnya
pendidikan Islam dalam nilai-nilai sosial harus menciptakan hubungan yang interaktif dan
senantiasa menanamkan nilai-nilai sosial. Pengelompokan serta penggolongan yang
terdapat di masyarakat mempunyai peran, bentuk serta fungsi, konsep-konsep tersebut
yang di pakai landasan dalam teori struktural fungsional.. teori ini mempunyai ektrimisme
yang terintegrasi dalam semua even dalam sebuah tatanan fungsional.Pendidikan dalam
perspektif teori konflik. Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural
fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini
adalah pemikiran Karl Marx.Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak.
Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional. Teori konflik dan
implikasinya dalam pendidikan: Masyarakat Pendidikan Prioritas Kebijakan Strategi
Perencanaan, konflik dan eksploitasi, Kekuasan dan ketentuan untuk memelihara tertib
social, Pendidikan sebagai kepanjangan kekuatan kelompok dominan, Perjuangan terus
menerus antara kelompok dominan dan subordinat, Memutuskan hubungan antara
organisasi atau struktur sekolah dan ekonomi, Pendidikan tercipta terti social hirarkis,
Ubah struktur sekolah atau kerja masyarakat, Pengembangan kesadaran dan perlawanan
diajarkan di sekolah, Bebaskan kurikulum dari ideology dominas, Kembangka pendidikan
sebagai pembebasan.

Pendidikan dalam perspektif teori interaksionisme simbolik. Interaksi simbolik tidak


dianggap cukup heuristik (pemaparan melalui proses pertanyaan-pertanyaan dalam
menyelesaikan suatu permasalahan secara sistematis), sehingga memunculkan sedikit

23
hipotesis yang bisa diuji dan pemahaman yang minim. Ciri khas dari interaksi simbolik
terletak pada penekanan manusia dalam proses saling menterjemahkan, dan saling
mendefinisikan tindakannya, tidak dibuat secara langsung antara stimulus-response, tetapi
didasari pada pemahaman makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain melalui
penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan pada akhirnya tiap individu tersebut akan
berusaha saling memahami maksud dan tindakan masingmasing, untuk mencapai
kesepakatan bersama. Pendidikan dalam perspektif teori strukturalisasi, Teori strukturasi
berusaha mempelajari pandangan-pandangan dualisme antara obyektivisme dan
subyektivisme dalam teori sosial, namun harus dikonseptulisasikan kembali sebagai
dualitas-dualitas struktur. Teori ini menyatakan bahwa manusia adalah proses
mengambilkan dan meniru beragam sistem sosial. Dengan kata lain, tindakan manusia
adalah sebuah proses memproduksi dan mereproduksi sistem-sistem sosial yang
beraneka ragam. Interaksi antar individu dapat menciptakan struktur yang memiliki range
dari masyarakat yang lebih besar dan institusi budaya yang lebih kecil yang masuk dalam
hubungan individu itu sendiri.

24
DAFTAR PUSTAKA

sosiologis.com/teori-struktural-fungsional

http://bayutrisnadi.blogspot.com/2014/04/pendidikan-dalam-perspektif-
struktural_7303.html

https://mananjumati.wordpress.com/2014/09/13/pengertian-sosiologi/

Web: cendekia.pusatbahasa.or.id

wikipedia.org/wiki/Teori_konflik

https://djauharul28.wordpress.com/2011/06/18/pendidikan-dalam-perspektif-struktural-
konflik/

https://sosiologiunsyiah2010.wordpress.com/2011/11/02/perspektif-struktural-konflik/

JURNAL ILMU SOSIAL-FAKULTAS ISIPOL UMA

Core.ac.uk

e-journal.lainsalatiga.ac.id

http://repository.unair.ac.id/82944/1/Skripsi%20Gana%20Royana%20Putri.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/197007111994032-
SITI_NURBAYANI_K/Karya/teori_strukturasi_giddens.pdf

https://argyo.staff.uns.ac.id/2013/02/05/teori-strukturasi-dari-anthony-giddens/

25
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS MATARAM
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
Jl. Majapahit No. 62 Mataram
e-mail : sosiologi@unram.ac.id, Website : www.sosiologi.unram.ac.id

LEMBAR JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)


SEMESTER GANJIL TA. 2020/2021

Mata Kuliah : SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Kelas : SOSIOLOGI A

Hari/tanggal : jumat, 16 oktober 2020

Nama Mhs : HADIANI No. Mhs: L1C018031

PERNYATAAN

Apa yang saya tulis ini sebagai jawaban atas pertanyaan (soal) adalah murni hasil
pemikiran saya sendiri, dan jika nanti ditemukan kesamaan dengan tulisan orang lain, baik
dari sumber (web/situs dan referensi) tertentu atau tulisan saya memiliki kesamaan
dengan tulisan rekan-rekan saya, maka saya siap menerima sanksi yang diberikan oleh
dosen pengasuh matakuliah ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya secara sadar dan
bertanggung jawab.

Tanda tangan

26