Anda di halaman 1dari 11

CRITICAL JOURNAL REVIEW

“Pengaruh Pendapatan Desa dan Alokasi Dana Desa Terhadap Belanja Desa dan
Kemiskinan”

Pengaruh Pendapatan Asli Desa, Dana Desa, dan Alokasi Dana Perimbangan
Desa Terhadap Belanja Desa (Studi Kasus pada Desa di Kabupatem Bandung
Tahun 2017”

Matkul : Akuntansi Keuangan Desa

Dosen Pengampu :

Dr. Nasirwan, M.Si

Gaffar Hafiz Sagala, S.Pd, M.Si

Disusun oleh :

Kelompok 6

Sukma Yuningsih 7173142033

Sefti Anggi Piona 7171142024

Rindu Simanjuntak 7173342044

Kelas B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
Jurnal Nasional 1

Judul Pengaruh Pendapatan Desa dan Alokasi Dana Desa


Terhadap Belanja Desa dan Kemiskinan
Jurnal Jurnal Riset Akuntansi Multiparagdima
Volume dan halaman Vol.5. No.2
Tahun 2018
ISSN P-ISSN 2339-0492, e-ISSN 2599-1469
Penulis Ratna Sari Dewi
Ova Novi Irama
Reviewer Sukma Yuningsih
Sefti Anggi Piona
Rindu Simanjuntak
Tanggal 20 Mei 2020
ABSTRAK PENELITIAN
Tujuan Penelitian Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
langsung dan tidak langsung dari pendapatan desa dan
alokasi dana desa terhadap pengeluaran anggaran
belanja desa dan kemiskinan.
Subjek Penelitian Responden penelitian yang merupakan sampel
populasi, adalah 81 pemerintah desa di Provinsi
Sumatera Utara.
Assesment Data Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengn
metode regresi linier berganda dengan menggunakan
program SPSS
Kata Kunci Expenditure budged, Income, Poverty, Village fund
PENDAHULUAN
Latar Belakang Kemiskinan merupakan isu sentral bagi setiap negara
di dunia, khususnya bagi negara berkembang. Karena
itu pengetasan kemiskinan dan penciptaan
kesejahteraan bagi rakyat merupakan salah satu
tujuan pembangunan suatu negara. Berbagai pemikiran
maupun konsep-konsep tentang kemiskinan sudah
dikaji dan diadaptasi diberbagai negara berkembang
namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di
Sumatera Utara bila dibandingkan dengan provinsi
lainnya di Indonesia pada September 2015 berada
sedikit di bawah persentase penduduk miskin
Indonesia. Namun demikian persentase penduduk
miskin di Sumatera Utara masih cukup tinggi
menempati ke-17 dari 34 Provinsi. Berdasarkan data di
atas diperlukan terobosan dalam mengurangi
kemiskinan di desa.
Salah satu aspek yang ikut berperan dalam
pengembangan desa adalah keuangan desa dan asset
desa. Keuangan desa berkaitan dengan hak dan
kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang,
sedangkan asset desa adalah barang milik desa yang
berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh
atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
atau perolehan hak lainnya yang sah.
Belanja desa berdasarkan peraturan Menteri Dalam
Negeri Republik Indonesia Nomor 113 tahun 2014,
tentang pengelolaan keuangan desa adalah semua
pengeluaran dari rekening desa yang merupakan
kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang
tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh
desa. Besarnya alokasi belanja desa harus disesuaikan
dengan pendapatan desa yang diperoleh. Makin besar
pendapatan desa maka akan semakin besar pula belanja
desa yang bisa digunakan untuk pembangunan desa.
Dengan meningkatnya belanja desa pada tiap tahunnya
akan mengakibatkan pembangunan sarana prasarana
desa dan dusun pada tahuntahun yang akan datang juga
meningkat secara signifikan (Hoesada, 2014).
METODE PENELITIAN
Langkah Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif
kuantitatif dan bersifat asosiatif, yaitu penelitian yang
menghubungkan dua variabel atau lebih.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
data sekunder, yaitu laporan APBDes dan kemiskinan
dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016. Data
diambil di kantor Badan Pusat Statistik Sumatera Utara
dan juga melalui website www.bps.go.id. Teknik
pengambilan sampel dilakukan melalui purposive
sampling, yaitu yang memiliki kriteria tertentu dalam
pengambilan sampel. Kriteria yang digunakan yaitu
pemerintah desa kabupaten provinsi Sumatera Utara
yang memiliki data APBDes dan data kemiskinan
selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 2014 sampai
dengan tahun 2016, dengan jumlah sampel 81
pemerintah desa kabupaten provinsi Sumatera Utara.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan
metode analisis regresi linier berganda dengan
menggunakan program SPSS. Metode yang digunakan
untuk menganalisis data pada penelitian ini yaitu:
a. Statistik deskriptif; dalam hal ini menurut
Ghozali (2011) statistik deskriptif memberikan
gambaran suatu data yang dilihat dari nilai
rata-rata (mean), ukuran penyebaran data dari
rata-ratanya (standar deviasi), nilai maksimum
dan minimum.
b. Pengujian asumsi klasik; yaitu pengujian
asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas,
uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.
c. Pengujian Hipotesis; yaitu melalui uji f (Uji
Simultan) dan Uji Parsial (uji t).
d. Analisis Jalur
Hasil Penelitian Koefisien jalur pengaruh langsung (direct effect)
pendapatan desa (X1) terhadap kemiskinan (Y2)
sebesar 0,297, sedangkan pengaruh tidak langsung
(indirect effect) pendapatan desa (X1) terhadap
kemiskinan (Y2) melalui belanja desa (Y1) sebesar
-0,167. Artinya, Pengaruh langsung > pengaruh tidak
langsung (0,297 > -0,167). Dari analisis ini, maka
dapat disimpulkan bahwa belanja desa (Y1), bukanlah
merupakan variabel intervening diantara pendapatan
desa (X1) terhadap Kemiskinan (Y2).
Koefisien jalur pengaruh langsung (direct effect)
alokasi dana desa (X2) terhadap Kemiskinan (Y2)
sebesar 0,325, Sedangkan pengaruh tidka langsung
(indirect effect) alokasi dana desa (X2) terhadap
kemiskinan (Y2) melalui belanja desa (Y1) sebesar
-0,001. Artinya, pengaruh langsung > pengaruh tidak
langsung (0,325 > -0,001), maka belanja desa (Y1)
bukanlah variabel intervening diantara alokasi dana
desa (X2) terhadap kemiskinan (Y2).
Memandang hasil korelasi sebagaimana dikemukakan
di atas, maka sebagai saran atau masukan yang dapat
diberikan kepada pemerintah desa diharapkan dapat
meningkatkan pendapatan desa yang akhirnya nanti
dapat digunakan oleh aparat desa dalam membangun
masyarakat lebih mandiri dan juga dapat digunakan
untuk belanja desa.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan desa, maka
aparat desa sesunggunya dapat meningkatkannya
dengan cara membangun ataupun meningkatkan Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui BUMDes ini
diharapkan secara otomatis akan meningkatkan
pendapatan desa. Peningkatan pendapatan desa melalui
BUMDes ini bisa dilakukan oleh pemerintah desa
dengan cara memberikan pelatihan, pembinaan dan
pengembangan kepada masyarakat desa. Kegiatan
tersebut dapat dilakukan baik melalui pelatihan soft
skill, pelatihan untuk membuka usaha kecil,
menyiapkan lapangan kerja dan lain sebagainya yang
melibatkan masyarakat desa dalam pembangunan desa.
Alokasi dana desa yang diperoleh pemerintah desa
dapat digunakan semaksimal mungkin dalam
meningkatkan pembangunan desa yang akhirnya dapat
mengentaskan kemiskinan di desa tersebut, melalui
penggunaan belanja desa.
ANALISIS JURNAL
Kekuatan Penelitian  Hasil penelitian dari penelitian ini cukup lengkap
dengan memaparkan langsung tabel tabel yang
dibutuhkan untuk menganalisis hasilnya
Kelemahan Penelitian  Dalam penelitian ini tidak jelas bagaimana caara
yang dilakukan dalam melakukan penelitin inikarena
tidak dipaparkan bagaimana langkah yng digunakan
untuk mendapatkan setiap data dan hasil penelitian
 Hasil penelitian yang ada di dalam jurnal ini tidak di
lengkapi dengan simpulan singkat sehingga sedikit
sulit untuk memahaminya.
Jurnal Nasional 2

Judul Pengaruh Pendapatan Asli Desa, Dana Desa, dan


Alokasi Dana Perimbangan Desa Terhadap
Belanja Desa (Studi Kasus Pada Desa di
Kabupaten Bandung Tahun 2017)
Jurnal Jurnal AKSARA public
Volume dan halaman Volume 2 No 4 Hal 190 - 202
Penulis -Mutiara Alya Shofa Irawan
- Sri Rahayu
- Wiwin Aminah
Reviewer Sefti Anggi Piona
Sukma Yuningsih
Rindu Simanjuntak
Tanggal 20 Mei 2020
ABSTRAK PENELITIAN
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana pengaruh Pendapatan Asli Desa, Dana
Desa dan Alokasi Dana Perimbangan Desa baik
secara simultan maupun parsial terhadap Belanja
Desa di Kabupaten Bandung pada Tahun 2017
Subjek Penelitian Laporan keuangan desa di kabupaten bandung
pada tahun 2017
Assesment data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan analisis statistik deskriptif,
analisis regresi berganda, pengujian kelayakan
regresi dan pengujian hipotesis.
Kata Kunci Pendapatan Asli Desa (PADesa), Dana Desa
(DD), Alokasi Dana Perimbangan Desa (ADPD)
dan Belanja Desa
PENDAHULUAN
Latar Belakang Dalam menjalankan otonomi daerah, pemerintah
mengeluarkan kebijakan baru mengenai otonomi
daerah, yakni dengan pemberlakuan UU Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan
UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Dengan dasardasar peraturan tersebut kemudian
diterbitkan UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.
Tujuan diterbitkannya UU Desa ini untuk
mengatur penyelenggaraan pemerintahan Desa
karena Desa memiliki hak asal usul dan hak
tradisional dalam mengurus dan mengatur
perkembangan Desa. Untuk menjalankan otonomi
daerah pemerintah pusat mengharapkan
pemerintah Desa dapat berperan dalam
memberikan kontribusi dalam pembangunan skala
nasional.
Berdasarkan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Belanja
Desa adalah semua pengeluaran dari rekening
Desa yang merupakan kewajiban Desa dalam satu
tahun anggaran yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh Desa dan
dipergunakan dalam rangka mendanai
penyelenggaraan kewenangan Desa. Darwanto
dan Yustikasari (2007) menyatakan bahwa
pemanfaatan anggaran belanja seharusnya
dialokasikan untuk hal-hal produktif, misalnya
untuk pembangunan.Dalam hal ini sumber-sumber
dana yang digunakan untuk membiayai Belanja
Desa diantaranya terdiri dari Pendapatan Asli
Desa (PADesa), Dana Desa (DD), Alokasi Dana
Perimbangan Desa (ADPD).
Menurut UU Nomor 6 Tahun 2014 Pendapatan
Asli Desa adalah pendapatan yang berasal dari
kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan
kewenangan skala lokal Desa. Rusmita (2016)
mengatakan bahwa pendanaan diharapkan dapat
digali melalui sumber pendanaan sendiri yaitu
PAD. Namun kenyataannya, transfer dari
pemerintah pusat merupakan sumber dana utama
pemerintah daerah untuk membiayai operasi
utamanya sehari-hari atau belanja daerah.
Dana Desa mengacu pada Permendagri Nomor
113 Tahun 2014 adalah dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
Kajian Teori Belanja Desa
Menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
belanja desa meliputi semua pengeluaran dari
rekening desa yang merupakan kewajiban desa
dalam satu tahun anggaran yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh desa.
UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014
menjelaskan bahwa belanja desa diprioritaskan
untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang
disepakati dalam Musyawarah Desa dan sesuai
dengan prioritas Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerintah. Menurut Pasal 8 ayat 3 Permendagri
Nomor 113 Tahun 2014 Belanja desa
diklasifikasikan berdasarkan kelompok, kegiatan,
serta jenis.
Pendapatan Asli Desa
Menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
pendapatan desa meliputi semua penerimaan uang
melalui rekening desa yang merupakan hak desa
dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu
dibayar kembali oleh desa. Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2014 menjelaskan pendapatan asli
Desa adalah pendapatan yang berasal dari
kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan
kewenangan skala lokal Desa. Kelompok
pendapatan asli desa berdasarkan Pasal 9 ayat 3
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 terdiri atas
jenis hasil usaha, hasil asset, swadaya, partisipasi
dan gotong royong dan lain-lain pendapatan asli
desa.
Dana Desa
Menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
dana desa adalah dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat.Menurut
UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 besaran
alokasi anggaran yang peruntukannya langsung ke
desa pun ditentukan 10 % dari dan diluar dana
transfer daerah (ontop) secara bertahap, anggaran
yang bersumber dari APBN dihitung.
Alokasi Dana Perimbangan Desa
Menurut Peraturan Bupati Bandung Nomor 7
Tahun 2017 tentang Pedoman Pengelolaan
Alokasi Dana Perimbangan Desa di Kabupaten
Bandung alokasi dana perimbangan desa adalah
dana yang dialokasikan oleh pemerintah
kabupaten untuk desa yang bersumber dari dana
bagi hasil pajak daerah kepada desa, dana bagi
hasil retribusi daerah kepada desa dan bagian dari
alokasi dana desa yaitu dari dana perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh
kabupaten setelah dikurangi dana alokasi khusus.
Rincian Besaran Alokasi Dana Perimbangan Desa
ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Pencairan
dana bagi hasil pajak daerah, dana bagi hasil
retibusi daerah dan Alokasi Dana Desa dilakukan
bertahap sesuai pembagian dua tahap dalam satu
tahun anggaran.
METODE PENELITIAN
Langkah Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif.
Tujuan penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dan verifikatif. Tipe penyelidikan adalah
penelitian kausal dan berdasarkan keterlibatan
peneliti tidak mengintervensi data. Jenis data
dalam penelitian adalah data cross section.
Populasi dalam penelitian ini adalah laporan
keuangan desa di Kabupaten Bandung pada tahun
2017. Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus
yamane atau slovin, dengan hasil 162 desa yang
dijadikan sampel. Teknik analisis yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan analisis
statistik deskriptif, analisis regresi berganda,
pengujian kelayakan regresi dan pengujian
hipotesis. Persamaan analisis regresi berganda
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut: 𝑌 = 𝑎 + 𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2 + 𝛽3𝑋3 + 𝑒
Keterangan: 𝑌 : Belanja Desa
𝑎 : Konstanta
𝛽1 − 𝛽3: Koefisien regresi, n = 1,2 dan 3
𝑋1 : Pendapatan Asli Desa
𝑋2 : Dana Desa
𝑋3 : Alokasi Dana Perimbangan Desa
𝑒 : Epsilon atau Variabel kontrol
Hasil Penelitian a. Pendapatan Asli Desa memiliki nilai
minimum sebesar Rp224.693 yang
dimiliki oleh Desa Kopo dan nilai
maksimum sebesar Rp963.272.500 yang
dimiliki oleh Desa Alamendah. Nilai rata-
rata dari Pendapatan Asli Desa sebesar
Rp58.329.064,65 dengan standar deviasi
sebesar 97.950.381,632, dimana rata-rata
lebih kecil daripada nilai standar deviasi,
sehingga data Pendapatan Asli Desa ini
bersifat bervariasi atau tidak berkelompok.
b. Dana Desa memiliki nilai minimum
sebesar Rp660.334.900 yang dimiliki oleh
Desa Ciaro dan nilai maksimum sebesar
Rp1.129.708.000 yang dimiliki oleh Desa
Tenjolaya. Nilai rata-rata dari Dana Desa
sebesar Rp918.655.030,68 dengan standar
deviasi sebesar 60.664.540,268, dimana
nilai standar deviasi jauh lebih kecil
dibandingkan dengan nilai rata-rata
sehingga data Dana Desa bersifat
kelompok.
c. Alokasi Dana Perimbangan Desa memiliki
nilai minimum sebesar Rp184.963.300
yang dimiliki oleh Desa Ciaro dan nilai
maksimum sebesar Rp1.293.963.600 yang
dimiliki oleh Desa Cimekar. Nilai rata-rata
dari Alokasi Dana Perimbangan Desa
sebesar Rp1.016.690.028,62 dengan
standar deviasi sebesar 101.160.315,145,
dimana nilai standar deviasi jauh jauh
lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-
rata sehingga data Alokasi Dana
Perimbangan Desa bersifat kelompok.
d. Belanja Desa memiliki nilai minimum
sebesar Rp908.722.900 yang dimiliki oleh
Desa Ciaro dan nilai maksimum sebesar
Rp3.412.631.800 yang dimiliki oleh Desa
Alamendah. Nilai rata-rata dari Belanja
Desa sebesar Rp2.222.893.990,70 dengan
standar deviasi 221.356.682,682, dimana
nilai standar deviasi jauh jauh lebih kecil
dibandingkan dengan nilai rata-rata
sehingga data Belanja Desa bersifat
kelompok.
e. Secara simultan Pendapatan Asli Desa,
Dana Desa, dan Alokasi Dana
Perimbangan Desa berpengaruh terhadap
Belanja Desa.
f. Pendapatan Asli Desa memiliki pengaruh
positif signifikan secara parsial terhadap
Belanja Desa.
g. Dana Desa memiliki pengaruh positif
signifikan secara parsial terhadap Belanja
Desa.
h. Alokasi Dana Perimbangan Desa memiliki
pengaruh positif signifikan secara parsial
terhadap Belanja Desa.
ANALISIS JURNAL
Kekuatan Penelitian  Kajian teori yang dimuat dalam penelitian ini
sangat baik singkat padat dan tepat sehingga
mudah dipahami oleh semua pembaca
 Hasil dasri penelitian ini dijelaskam dengan
baik dan diberikan penjelasan dari setiap tabel
dan angka dari hasil penelitian kemudian dari
penjelasan yahg panjang tersebut juga di
berikan kesimpulan yang baik sehingga
mempermudah para pembaca
Kelemahan Penelitian Langkah penelitian dari jurnal ini tidak
diuraikan dengan jelas sehingga pembaca tidak
mengetahui bagaimana langkah yang digunakan
dalam penelitian ini.