Anda di halaman 1dari 15

PENDIDIKAN DALAM PERSEPEKTIF TRORI-TEORI

FUNGSIONAL STRUKTURAL, TEORI KONFLIK, TEORI


INTRAKSIONISME SIMBOLIK, SERTA TEORI STRUKTURASI

Disusun Sebagai Tugas Terstruktur Mata Kuliah: Sosiologi Pendidikan

Dosen Pengampu:

Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I.,M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : Muhammad Hasim As Ari

NIM : L1C017057

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

UNIVERSITAS MATARAM
T.A. 2020-2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul Pendidikan Dalam Persepektif Trori-Teori
Fungsional Struktural, Teori Konflik, Teori Intraksionisme Simbolik,
Serta Teori Strukturasi ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk


memenuhi tugas pada mata kuliah sosiologi pendidikan. Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.

Penyusun,

Mataram, 16 Oktober 2020

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………… i


KATA PENGANTAR ……………………………………………… ii

DAFTAR ISI ………………………………………………………...iii


BAB I. Pendidikan dalam Persfektif Teori Fungsional
Struktural……………………………….....………….. 1
BAB II. Pendidikan dalam Persfektif Teori Konflik……………. 3

BAB III. Pendidikan dalam Persfektif Teori Interaksionalisme


Simbolik ……………………………………………….. 4

BAB IV. Pendidikan dalam Persfektif Teori Strukturasi……… 5


KESIMPULAN DAN ANALISIS KRITIS ……………………… iv

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… v

iii
BAB I

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI FUNGSIONAL


STRUKTURAL

Dalam buku Manajemen Pendidikan Mutu berbasis Sekolah


yang dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum,
Dirjen Dikdasmen, Depdiknas (1999:6-7) diungkapkan beberapa
indikator yang menjadi karesteristik dari konsep MPBS sekaligus
mereflaksikan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak
antara lain;
1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
2. Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai
3. Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat
4. danya harapan yang tinggi dari personil sekolah (kepala sekolah,
guru, dan staf lainnya, termasuk siswa) untuk berprestasi,
5. Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai
tuntutan IPTEK
6. Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap
berbagai aspek akademik dan administrative, dan pemanfaatan
hasilnya untuk penyempurnaan dan atau perbaikan mutu,
7. Adanya komunikasi dan dukungan insentif dar orang tua siswa
dan masyarakat lainnya.
Dapat menyimpulkan bahwa praktek teori struktural-
fungsional yang mengedepankan integrasi, maka tanggung
jawab dan peran masing-masing pihak harus selalu menjadi
prioritas dalam rangka membangun intergrasi solid di sekolah
terutama yang erat kaitannya dengan peningkatan mutu
pendidikan .
Anilisis SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats)
merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk
membantu sekolah mengungkapkan dan mengidentifikasi
permasalahan.Pentingnya analisis SWOT dilakukan agar dapat
diketahui kekuatan dan kelemahan yang melekat dalam
lingkungan internal system itu sendiri, serta peluang dan
tantangan yang dating dari lingkungan eksternal system
tersebut. Berbagai hasil studi empirik menunjukkan bahwa suatu
manajemen itu akan berhasil jika mampu mengoptimalkan
pemberdayaan dan pemanfaatan kekuatan dan peluang yang
dimilikinya serta mampu meminimalkan intensitas pengaruh
factor kelemahan dan hambatan disertai upaya untuk
memperbaiki atau mengatasinya (syamsuddin, 2000:5)
Disini, penulis perlu menjelaskan juga bahwa untuk
membahas lebih rinci sejauh mana sosiologi mambahas tentang
kependidikan dan begitu juga sebaliknya, maka dalam disini
kami sedikit akan memberikan informasi mengenai pendidikan
dalam sosiologi. Namun ruang lingkup bahasannya terbatas
pada lembaga pendidikan itu sendiri.
Menurut Stalcup:

1. Educational sociology; yakni merupakan aplikasi prinsip-prinsip


umum dan penemuan-penemuan sosiologi bagi
pengadministrasian dan/atau proses pendidikan. Pendekatan ini
berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip sosiologi pada
lembaga pendidikan sebagai suatu unit sosial tersendiri.
2. Sociology educational, merupakan analisis terhadap proses-
proses sosiologi yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Takanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu
sendiri.

1
BAB II

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI KONFLIK

Selain teori struktural fungsional, dalam sosiologi juga dikenal


adanya teori konflik yang berupaya memahami konflik dari sudut
pandang ilmu sosial.Teori konflik di kembangkan oleh Max Weber,
beliau dikenal sebagai ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman,
juga dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan
administrasi negara modern. Teori Konflik adalah sebuah teori yang
memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses
penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi
akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang
berbeda dengan kondisi semula. Max Weber berpendapat bahwa
konflik timbul dari stratifikasi sosial dalam masyarakat.Setiap
stratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh manusia
dan kelompoknya.Weber berpendapat bahwa relasi-relasi yang
timbul adalah usaha-usaha untuk memperoleh posisi tinggi dalam
masyarakat.Weber menekankan arti penting kekuasaan atau Power
dalam setiap tipe hubungan sosial.Power (kekuasaan) merupakan
generator dinamika sosial yang mana individu dan kelompok
dimobilisasi atau memobilisasi.Pada saat bersamaan power
(kekuasaan) menjadi sumber dari konflik, dan dalam kebanyakan
kasus terjadi kombinasi kepentingan dari setiap struktur sosial
sehingga menciptakan dinamika konflik (Novri Susan, 2009;
42).Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori konflik ini lahir
sebagai sebuah antithesis dari teori strukural fungsional yang
memandang pentingnya keteraturan dalam masyarakat. 

Teori konflik melihat sekolah sebagai wahana melestarikan


struktur dominasi.Apa yang terjadi dalam masyarakat tidak akan
berubah melalui sekolah, tetapi justru mempertahankan apa yang
telah ada dalam masyarakat. Menurut teori konflik, relasi-relasi yang
terjadi di sekolah adalah usaha-usaha untuk memperoleh posisi yang
dominan dalam masyarakat. Sehingga menurut teori ini, keberadaan
sekolah tidak akan memberikan banyak peran dalam merubah sistem
dalam masyarakat. Adanya stratifikasi dalam masyarakat yang
menerangkan adanya kelompok dominan atas kelompok yang lain
tidak akan mampu dirubah melalui sekolah. Yang terjadi justru
sekolah ikut berperan dalam mempertahankan dominasi kelompok
atas kelompok yang lainnya.Apa yang terjadi di sekolah adalah upaya
mempertahankan struktur dominasi dengan pendekatan yang sangat
birokratis. Wujud konkrit dari dominannya teori konflik dalam praktek
penyelenggaraan sekolah antara lain; Kelas anak yang pintar
dipisahkan dengan kelas anak yang kurang pintar; siswa yang pandai
berhitung dipisahkan dengan siswa yang tidak pandai berhitung,
siswa yang senang dengan pelajaran eksakta dipisahkan dengan
siswa yang senang dengan pelajaran bahasa dan ilmu-ilmu sosial;
siswa dengan latar belakang nilai yang tinggi hanya dikelompokkan
dengan siswa yang memiliki nilai yang tinggi pula; anak-anak dari
keluarga miskin dipisahkan dari anak-anak dari keluarga kaya, ada
kelas akselerasi dan ada pula kelas regular, dan lain sebagainya. Hal
ini menunjukkan bahwa di sekolah tidak ditemukan situasi yang
nyaman untuk belajar.Yang terjadi adalah melanggengkan konflik,
ada diskriminasi, perlakukan yang tidak adil, bahkan ekspoitatif
(ketika anak dipaksa mencintai perhitungan padahal lebih senang
dengan tarian atau olah raga).Pendekatan yang digunakan sangat
positifistik yang menjadikan siswa sangat kaku dengan situasi dan
lingkungan sekolah yang dia masuki.

2
BAB III

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI INTRAKSIONISME


SIMBOLIK

Dalam teori George Herbert Mead, fungsi symbol adalah


memungkinkan terbentuknya pikiran, proses mental dan lain
sebagainya.

A. Mind (Pikiran)
George Herbert Mead memandang akal budi bukan sebagai
satu benda, melainkan sebagai suatu proses social. Sekali pun ada
manusia yang bertindak dengan skema aksi reaksi, namun
kebanyakan tindakan manusia melibatkan suatu proses mental, yang
artinya bahwa antara aksi dan reaksi terdapat suatu proses yang
melibatkan pikiran atau kegiatan mental.
Pikiran juga menghasilkan suatu bahasa isyarat yang disebut
symbol. Simbol – simbol yang mempunyai arti bisa berbentuk gerak
gerik atau gesture tapi juga bisa dalam bentuk sebuah bahasa. Dan
kemampuan manusia dalam menciptakan bahasa inilah yeng
membedakan manusia dengan hewan.Bahasa membuat manusia
mampu untuk mengartikan bukan hanya symbol yang berupa gerak
gerik atau gesture, melainkan juga mampu untuk mengartikan symbol
yang berupa kata – kata. Kemampuan ini lah yang memungkinkan
manusia menjadi bisa melihat dirinya sendiri melalui perspektif orang
lain dimana hal ini sangatlah penting dalam mengerti arti – arti
bersama atau menciptakan respon yang sama terhadap symbol –
symbol suara yang sama. Dan agar kehidupan social tetap bertahan,
maka seorang actor harus bisa mengerti symbol – symbol dengan arti
yang sama, yang berarti bahwa manusia harus mengerti bahasa
yang sama. Proses berpikir, bereaksi, dan berinteraksi menjadi
mungkin karena symbol – symbol yang penting dalam sebuah
kelompok social mempunyai arti yang sama dan menimbulkan reaksi
yang sama pada orang yang menggunakan symbol – symbol itu,
maupun pada orang yang bereaksi terhadap symbol – symbol itu.
Mead juga menekankan pentingnya fleksibilitas dari mind (akal
budi). Selain memahami symbol-simbol yang sama dengan arti yang
sama, fleksibilitas juga memungkinkan untuk terjadinya interaksi
dalam situasi tertentu, meski orang tidak mengerti arti dari symbol
yang diberikan. Hal itu berarti bahwa orang masih bisa berinteraksi
walaupun ada hal – hal yang membingungkan atau tidak mereka
mengerti, dan itu dimungkinkan karena akal budi yang bersifat
fleksibel dari pikiran.
Simbol verbal sangat penting bagi Mead karena seorang
manusia akan dapat mendengarkan dirinya sendiri meski orang
tersebut tidak bisa melihat tanda atau gerak gerik fisiknya.
Konsep tentang arti sangat penting bagi Mead. Suatu
perbuatan bisa mempunyai arti kalau seseorang bisa menggunakan
akal budinya untuk menempatkan dirinya sendiri di dalam diri orang
lain, sehingga dia bisa menafsirkan pikiran – pikirannya dengan tepat.
Namun Mead juga mengatakan, bahwa arti tidak berasal dari akal
budi melainkan dari situasi social yang dengan kata lain, situasi social
memberikan arti kepada sesuatu.
B. Self (Diri)
Mead menganggap bahwa kemampuan untuk memberi
jawaban pada diri sendiri layaknya memberi jawaban pada orang lain,
merupakan situasi penting dalam perkembangan akal budi. Dan
Mead juga berpendapat bahwa tubuh bukanlah riri, melinkan dia baru
menjadi diri ketika pikran telah perkembang. Dalam arti ini, Self
bukan suatu obyek melainkan suatu proses sadar yang mempunyai
kemampuan untuk berpikir, seperti :

a. Mampu memberi jawaban kepada diri sendiri seperti orang lain yang
juga memberi jawaban.

b. Mampu memberi jawaban seperti aturan, norma atau hokum yang


juga memberi jawaban padanya.

c. Mampu untuk mengambil bagian dalam percakapan sendiri dengan


orang lain.

d. Mampu menyadari apa yang sedang dikatakan dan kemampuan


untuk menggunakan kesadaran untuk menentukan apa yang garus
dilakukan pada fase berikutnya.

Bagi Mead, Self mengalami perkembangan melalui proses


sosialisasi, dan ada tiga fase dalam proses sosialisasi tersebut.

3
Pertama adalah Play Stage atau tahap bermain.Dalam fase atau
tahapan ini, seorang anak bermain atau memainkan peran orang –
orang yang dianggap penting baginya. Contoh ktika seorang anak
laki – laki yang masih kecil suka akan bermain bola, maka dia
meminta dibelikan atribut yang berhubungan degan bola dan brmain
dengan atribut tersebut serta berpura – pura menjadi pesepak bola
idolanya. Fase kedua dalam proses sosialisasi serta proses
pembentukan konsep tentang diri adalah Game Stage atau tahap
permainan, dimana dalam tahapan ini seorang anak mengambil
peran orang lian dan terlibat dalam suatu organisasi yang lebih tinggi.
Contoh Anak kecil yang suka bola yang tadinya hanya berpura – pura
mengambil peran orang lain, maka dalam tahapan ini anak itu sudah
berperan seperti idolanya dalam sebuah team sepak bola anak, dia
akan berusaha untuk mengorganisir teamnya dan bekerjasama
dengan teamnya. Dengan fase ini, anak belajar sesuatu yang
melibatkan orang banyak, dan sesuatu yang impersonal yaitu aturan
– aturan dan norma – norma. Sedang fase ketiga adalah generalized
other, yaitu harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, standar-standar
umum dalam masyarakat. Dalam fase ini anak-anak mengarahkan
tingkah lakunya berdasarkan standar-standar umum serta norma-
norma yang berlaku dalam masyarakat.Contoh anak tadi dalam fase
ini telah mengambil secara penuh perannya dalam masyarakat.Dia
menjadi pesepak bola handal dan dalam menjalankan perannya
sudah punya pemikiran dan pertimbangan. Jadi, dalam fase terakhir
ini, seorang anak menilai tindakannya berdasarkan norma yang
berlaku dalam masyarakat.

C. ·I and Me
Inti dari teori George Herbert Mead yang penting adalah
konsepnya tentang “I” and “Me”, yaitu dimana diri seorang manusia
sebagai subyek adalah “I” dan diri seorang manusia sebagai obyek
adalah “Me”.“I” adalah aspek diri yang bersifat non-reflektif yang
merupakan respon terhadap suatu perilaku spontan tanpa adanya
pertimbangan.Dan ketika didalam aksi dan reaksi terdapat suatu
pertimbangan ataupun pemikiran, maka pada saat itu “I” berubah
menjadi “Me”.
Mead mengemukakan bahwa seseorang yang menjadi “Me”,
maka dia bertindak berdasarkan pertimbangan terhadap norma-
norma, generalized other, serta harapan-harapan orang lain.
Sedangkan “I” adalah ketika terdapat ruang spontanitas, sehingga
muncul tingkah laku spontan dan kreativitas diluar harapan dan
norma yang ada.
D. Society (Masyarakat)
Masyarakat dalam konteks pembahasan George Herbert
Mead dalam teori Interaksionisme Simbolik ini bukanlah masyarakat
dalam artian makro dengan segala struktur yang ada, melainkan
masyarakat dalam ruang lingkup yang lebih mikro, yaitu organisasi
social tempat akal budi (mind) serta diri (self) muncul. Bagi Mead
dalam pembahasan ini, masyarakat itu sebagai pola-pola interaksi
dan institusi social yang adalah hanya seperangkat respon yang
biasa terjadi atas berlangsungnya pola-pola interaksi tersebut, karena
Mead berpendapat bahwa masyarakat ada sebelum individu dan
proses mental atau proses berpikir muncul dalam masyarakat.
Jadi, pada dasarnya Teori Interasionisme Simbolik adalah
sebuah teori yang mempunyai inti bahwa manusia bertindak
berdasarkan atas makna – makna, dimana makna tersebut
didapatkan dari interaksi dengan orang lain, serta makna – makna itu
terus berkembang dan disempurnakan pada saat interaksi itu
berlangsung.
BAB IV

4
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TEORI STRUKTURASI

Teori Strukturasi Anthony Gidens menyatakan bahwa individu


adalah agen-agen sosial dengan kemampuan dapat merombak
struktur sosial yang ada.Individu yang berperan sebagai agen sosial
setidaknya memiliki kepribadian kuat sehingga tidak hanya memberi
warna terhadap struktur sosial yang ada tetapi juga dapat merubah
struktur yang ada. Pendidikan memiliki tujuan untuk membekali
individu dengan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
sehinggamampumeningkatkan kualitas dirinya.

Pendidikan yang berkaitan erat dengan anak didik, tentu saja


dapat dikategorikan sebagai pencetak agen-agen sosial dimasa
depan. Anak didik yang berperan sebagai agen sosial  perlu untuk
dipersiapkan. Tugas keluarga, guru, sekolah, pemerintah, dan
masyarakat berkewajiban untuk melancarkan proses pencapaian
tujuan pendidikan. Keunikan setiap anak didik sudah sepantasnya
dipandang sebagai sesuatu kelebihan yang dimiliki dalam upayanya
menjadi seorang agen sosial.
KESIMPULAN DAN ANALISIS KRITIS
5

Teori Konflik adalah sebuah teori yang memandang bahwa


perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai
yang membawa perubahan.

Fungsi symbol adalah memungkinkan terbentuknya pikiran,


proses mental dan lain sebagainya. Pendidikan memiliki tujuan untuk
membekali individu dengan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
sehinggamampumeningkatkan kualitas dirinya.
v
DAFTAR PUSTAKA

https://antromaster.blogspot.com/2017/07/aplikasi-teori-fungsional-
struktural.html

http://larudiwakatobi.blogspot.com/2016/05/wajah-sekolah-antara-
teori-struktural.html

https://kikyo.blog.uns.ac.id/2010/04/03/teori-interaksionisme-simbolik/

https://masdwihatmoko.blogspot.com/2016/11/melihat-pendidikan-
dari-kacamata-teori.html

moraref.kemenag.go.id/documents/article/97406410605861337/down
load
File Format: PDF/Adobe Acrobat

https://www.slideshare.net/Ani_Mahisarani/teoriteori-sosiologi-
pendidikan

journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/auladuna/article/download/882/852

File Format: PDF/Adobe Acrobat


https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/download/.../182
72

https://www.researchgate.net/.../323909873_PENDIDIKAN_DALAM
_

https://id.wikipedia.org/wiki/Fungsionalisme_strukturalRSPEKTI
F_STRUKTURAL_FUNGSIONAL

journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/auladuna/article/download/882/852
vi