Anda di halaman 1dari 18

Hipertensi Krisis

1. Pengertian (definisi) Adalah sejumlah kondisi kelainan klinis dengan atau


tanpa kelainan organ lain, yang disebabkan oleh
hipertensi arterial.
2. Anamnesis  Pusing, kepala berat
 Nyeri dada
 Cepat lelah
 Berdebar-debar
 Sesak nafas
 Tanpa keluhan
 Kelemahan atau kelumpuhan sebagian atau
seluruh anggota gerak tubuh.
3. Pemeriksaan Fisik TD sistolik > 180 mmHg atau TD diastolic 110 mm
4. Kriteria Diagnosis 1. Pemeriksaan fisik: Sesuai criteria JNC VII
2. Fototoraks : Kardiomegali
3. ECG : LVH, perubahan segmen ST
4. Echocardiografi :LVH, disfungsi diastolik +
sistolik.
5. Diagnosis Kerja Krisis hipertensi (emergensi/urgensi).
6. Diagnosis Banding 1. Cephalgia
2. Anxietas
3. CKD
4. Sindroma koroner akut
5. CVD.
7. Pemeriksaan 1. EKG
Penunjang 2. Rontgen dada
3. Lab.: Hb, Ht, Leuko, Cr, Ur, GDS, Na+, K+,),
OGTT (bila belum diketahui DM), urinalisa
4. Skrining hipertensi endokrin
5. USG abdomen: ginjal
6. Echocardiografi
7. CT- scan kepala.
8. Terapi 1. Nitrat(IV)
2. CCB (IV)
3. ACE inhibitor/ARB
4. Diuretik: Tiazid
5. Beta blocker
6. Calcium channel blocker
7. Alpha blocker
8. Central blocker
9. MRA
10. Vasodilator direk.
9. Edukasi 1. Edukasi jenis penyakit dan perjalanannya
2. Edukasi pengobatan
3. Edukasi Nutrisi/pola hidup.
10. Prognosis Ad vitam : malam
Ad sanationam : malam
Ad fungsional : malam.
11. Indikator Medis 80% pasien dirawat mencapai target MAP 25-30%

1
dengan menggunakan anti hipetensi intravena.
12. Kepustakaan 1. O’Rouke., Walsh, Fuster. Hurst’s The Heart
Manual Of Cardiology.12th Ed. McGraw-Hill.
2009. (O’Rouke, et al., 2009)
2. Sudoyo, W. Aaru, Bambang Setiyohadi. Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta:
FKUI.2007.c (Sudoyo, et al., 2006)
3. Isselbacher, J Kurt. Harrison Prinsip-Prinsip
Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume . Jakarta:
EGC. 2000. (Isselbacher, 2000).

NSTEMI
1. Pengertian Adalah sindroma klinik yang disebabkan oleh oklusi
(definisi) parsial atau emboli distal arteri koroner,tanpa elevasi
segmen ST pada gambaran EKG.
2. Anamnesis  Nyeri dada substernal
 Lama lebih dari 20 menit
 Keringat dingin
 Dapat disertai penjalaran kelengan kiri, punggung,
rahang dan ulu hati
 Terdapat salah satu atau lebih faktor risiko:
kencing manis, kolesterol, darah tinggi,
keturunan.
3. Pemeriksaan Fisik Umumnya dalam batas normal, kecuali ada komplikasi
dan atau komorbiditi.
4. Kriteria Diagnosis 1. Memenuhi kriteria anamnesis
2. Pemeriksaan EKG:
 Tidak ada elevasi segmen ST
 Ada perubahan segmen ST atau gelombang
T
3. Terdapat peningkatan abnormal enzim CKMB
dan/atau Troponin.
5. Diagnosis Kerja Sindrom Koroner Akut ( SKA) tanpa elevasi segmen ST.
6. Diagnosis Banding 4. Stroke
5. Gagal jantung.
7. Pemeriksaan 6. EKG
Penunjang 7. Laboratorium: Hb, Ht,Leko, Trombo, Natrium,
Kalium, Ureum, Kreatinin, Gula darah sewaktu,
SGOT, SGPT, CK-MB, dan hs Troponin atau
Troponin
8. Rontgen Thoraks AP
9. Ekokardiografi.
8. Terapi 1. Fase Akut di UGD:
a. Bed rest total
b. Oksigen 2-4L/menit
c. Pemasangan IV FD
d. Obat-obatan:
 Aspilet 160mg kunyah

2
 Clopidogrel (untuk usia <75 tahun dan
tidak rutin mengkonsumsi clopidogrel)
berikan 300 mg atau Ticagrelor 180mg
 Nitrat sublingual 5mg, dapat diulang
sampai 3 (tiga) kali jika masih ada keluhan,
dilanjutkan Nitrat iv bila keluhan persisten
 Morfin 2-4 mg iv jika masih nyeri dada
e. Monitoring jantung
f. Stratifikasi risiko di IGD untuk menentukan
strategi invasif:
- Pasien risiko sangat tinggi sebaiknya
dikerjakan PCI dalam 2 jam dengan
mempertimbangkan ketersediaan tenaga
dan fasilitas cathlab. Kriteria risiko
sangat tinggi bila terdapat salah satu
kriteria berikut:
 Angina berulang
 Syok kardiogenik
 Aritmia malignant (VT, VF,TAVB)
 Hemodinamik tidak stabil
- Pasien dengan peningkatan enzim
jantung namun tanpa kriteria risiko
sangat tinggi di atas, dirawat selama 5
hari dan dapat dilakukan PCI saat atau
setelah pulang dari rumah sakit dengan
mempertimbangkan kondisi klinis dan
ketersediaan tenaga dan fasilitas
cathlab.
- Pasien tanpa perubahan EKG dan
kenaikan enzim, dilakukan iskemik
stress test: Treadmil ltest,
Echocardiografi Stress test, Stress test
perfusion scanning atau MRI. Bilai
skemik stress test negatif, boleh
dipulangkan
2. Fase Perawatan Intensif di CVC (2x24 jam):
a. Obat-obatan:
 Simvastatin 1x20-40mg atau Atorvastatin
1x20-40mg atau rosuvastatin 1 x 20 mg
jika kadar LDL di atas target
 Aspilet 1x80-160 mg
 Clopidogrel 1x75mg atau Ticagrelor
2x90mg
 Bisoprolol 1x5-10mg jika fungsi ginjal
bagus, atau Carvedilol 2x 12,5 mg jika
fungsi ginjal menurun, dosis dapat di
uptitrasi; diberikan jika tidak ada kontra
indikasi
 Ramipril1 x 10 mg atau Lisinopril 1x 10,

3
Captopril 3x25mg atau jika LV fungsi
menurun EF <50% dan diberikan jika
tidak ada kontra indikasi
 Jika intoleran dengan golongan ACE-I
dapat diberikan obat golongan ARB:
Candesartan 1 x 16, Valsartan 2x80 mg
 Obat pencahar 2xIC (7) Diazepam 2x5
mg
 Heparinisasi dengan:
 UF heparin bolus 60 Unit/kgBB,
maksimal 4000 Unit, dilanjutkan dengan
dosis rumatan 12 unit/kgBB maksimal
1000 Unit/jam atau Enoxaparin 2x60 mg
SC (sebelumnya dibolus 30mg iv di
UGD) atau Fondaparinux 1x2,5 mg SC.
b. Monitoring kardiak
c. Puasa 6 jam
d. Diet Jantung I1800 kkal/24 jam
e. Total cairan 1800 cc/24 jam f. Laboratorium:
profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL,
trigliserid) dan asam urat
3. Fase perawatan biasa
a. Sama dengan langkah 2 a-f(diatas)
b. Stratifikasi Risiko untuk prognostik sesuai
skala prioritas pasien (pilih salah satu) : 6
minutes walk test, Treadmill test,
Echocardiografi Stress test, Stress test
perfusion scanning atau MRI \
c. Rehabilitasi dan Prevensi sekunder.
9. Edukasi 1. Edukasi gizi dan pola makan
2. Edukasi faktor risiko
3. Edukasi gaya hidup sehat
4. Edukasi obat-obatan.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam.
11. Indikator Medis 80% Pasien dengan elevasi segmen ST kurang dari 12 jam
dilakukan reperfusi primer (PCI/ Fibrinolitik).
12. Kepustakaan 1. Panduam Pelayan Medik, PAPDI, 2009
(Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM,
2004)
2. O’Rouke., Walsh, Fuster. Hurst’s The Heart
Manual Of Cardiology.12th Ed. McGraw-Hill.
2009. (O’Rouke, et al., 2009)
3. Isselbacher, J Kurt. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu
Penyakit Dalam Edisi 13 Volume . Jakarta: EGC.
2000. (Isselbacher, 2000).

4
Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue
1. Pengertian Adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue,
(definisi) yang ditularkan oleh nyamuk.
2. Anamnesis  Demam tinggi, mendadak, terus menerus selama
2-7 hari
 Manifestasi perdarahan
 Nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital
 Mual, muntah, nyeri ulu hati
 Nyeri menelan, batuk, pilek
 Pada kondisi syok, merasa lemah, gelisah, atau
penurunan kesadaran
 Pada bayi demam tinggi dapat menimbulkan
kejang.
3. Pemeriksaan Fisik 1. Demam dengue:
 Suhu > 37,5 derajat celcius
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed (+)
2. Demam berdarah dengue:
 Suhu > 37,5 derajat celcius
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed (+)
 Hepatomegali/splenomegali
 Efusi pleura dan asites
 Hematemesis atau melena.
4. Kriteria Diagnosis 1. Demam dengue:
 Suhu > 37,5 derajat celcius
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed (+)
2. Demam berdarah dengue:
 Suhu > 37,5 derajat celcius
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed (+)
 Hepatomegali/splenomegali
 Efusi pleura dan asites
 Hematemesis atau melena
Laboratorium:
a. Peningkatan kadar hematokrit bersamaan
dengan penurunan cepat jumlah trombosit
b. Hematokrit awal tinggi
Kriteria diagnosis laboratoris:
 Probable dengue
 Confirmed dengue.
5. Diagnosis Kerja Demam dengue/ Demam berdarah dengue.
6. Diagnosis Banding 1. Demam karena infeksi virus (influenza, chikungunya,

5
dan lain-lain)
2. ITP
3. Demam tifoid.
7. Pemeriksaan 1. Darah perifer lengkap, yang menunjukkan:
Penunjang - Trombositopenia (<100.000)
- Kebocoran Plasma
 Peningkatan Ht >20% dari nilai standar
data
 Populasi menurut umur
 Ditemukan adanya efusi pleura
 Hipoalbuminemia, hipoproteinemia
- Leukopenia <4.000
2. Serologi dengue, yaitu IgM dan IgG anti-dengue,
yang titernya dapat terdeteksi setelah hari ke-5
demam.
8. Terapi 1. Terapi simptomatik dengan analgetik antipiretik
(Paracetamol 3x500-1.000mg)
2. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi.

9. Edukasi 10. Prinsip konseling pada demam berdarah dengue


adalah memberikan pengertian kepada pasien da
keluarganya tentang perjalanan penyakit dan tata
laksananya, sehingga pasien dapat mengerti
bahwa tidak ada obat/medika mentosa untuk
penanganan penyakit, terapi hanya bersifat
suportif dan mencegah perburukan penyakit.
Penyakit akan sembuh sesuai dengan perjalanan
alamiah penyakitnya
11. Modifikasi gaya hidup, melakukan kegiatan 3M:
menguras, mengubur, menutup. Meningkatkan
daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan

6
bergizi dan melakukan olahraga secara teratur.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsional : dubia ad bonam.
11. Indikator Medis 1. Keluhan berkurang
2. Lama hari dirawat tergantung dari fase penyakit.
12. Kepustakaan 1. Kemenkes RI, 2006. Pedoman Tata laksana
Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Kemenkes RI
2. Chen K. Pohan, H.T, Sinto, R. Diagnosis dan
Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue.
Medicinus. Jakarta 2009: Vol 22; p.3-7
3. WHO. Dengue Haemorrhagic Fever: diagnosis,
treatment, prevention and control. 2nd Edition.
Ganeva. 1997.

Gastroenteritis Akut (Kolera dan Giardiasis)


1. Pengertian Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan
(definisi) usu halus yang ditandai dengan diare dengan frekuensi 3 kali
atau lebih dalam waktu 24 jam. Apabila diare . 30 hari disebut
kronis. WHO mendefinisikan diare akut sebagai diare yang
biasanya berlangsung selama 3-7 hari tetapi dapat pula
berlangsung selama 14 hari.
2. Anamnesis  BAB lembek atau cair dapat bercampur darah atau
lendir dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu
24 jam
 Mual dan muntah serta tenesmus
 Demam
 Riwayat makanan dan minuman yang kurang
higienenya, berpergian ke daerah wabah diare,
intoleransi laktosa (terutama pada bayi), makanan
iritatif, jamu-jamuan, dan riwayat pemakaian obat-
obatan lain.
Pada pasien anak ditanyakan secara jelas gejala diarenya:
 Perjalanan penyakit dari BABnya
 Faktor resiko penyebab diare
 Gejala penyerta, sakit perut, kembung, banyak gas,
gagal tumbuh
 Riwayat berpergian, tinggal di tempat penitipan anak
merukan resiko untuk diare.
3. Pemeriksaan 1. Vital sign
Fisik 2. Mencari tanda-tanda utama dehidrasi
3. Pernapasan yang cepat indikasi adanya asidosis
metabolik
4. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat
hipokalemia
5. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena adanya perfusi
dan capilarry refill dapat menentukan derajat dehidrasi
yang terjadi

7
6. Pennilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat
ditentukan dengan cara: obyektif yaitu dengan
membandingkan berat badan sebelum dan selama diare.
Pada anak dengan menggunakan kriteria WHO 1995.
Pemeriksaan derajat dehidrasi:
Dehidrasi ringan = 5% x BB(kg)
Dehidrasi sedang = 8% x BB(kg)
Dehidrasi berat = 10% x BB(kg)

Skor penilaian klinis dehidrasi:

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995:

8
4. Kriteria Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis (BAB cair lebih
Diagnosis dari 3 kali sehari) dan pemeriksaan fisik (ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan pemeriksaan konsistensi BAB). Untuk
diagnosis defenitif dilakukan pemeriksaan penunjang.
5. Diagnosis Gastroenteritis Akut (Kolera dan Giardiasis)
Kerja
6. Diagnosis 1. Demam tifoid
Banding 2. Kriptosporidia (pada penderita HIV)
3. Kolitis pseudomembran.
7. Pemeriksaan a. Pemeriksaan feses lengkap
Penunjang b. Analisis elektrolit
c. AGDA bila perlu pada dehidrasi berat dengan asidosis.
8. Terapi 1. Terapi cairan sesuai kan dengan derajat dehidrasi dan
jadwal pemberiannya
2. Obat anti diare yang belum dehidrasi untuk mengurangi
gejala dan antimikroba untuk terapi definitif.
Kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut pada diare akut
apabila ditemukan
1. Diare memburuk atau menetap setelah 7 hari
2. Pasien dengan tanda-tanda toksik dan nyeri pada
abdomen
3. Pasien usia lanjut
4. Muntah yang persisten
5. Perubahan status mental
6. Outbreak pada komunitas
7. Pada pasien immunokompromais.

Kebutuhan oralit per kelompok umur:

9
9. Edukasi Pada kondisi yang ringan, diberikan edukasi kepada keluarga
untuk membantu asupan cairan. Edukasi juga diberikan untuk
mencegah terjadinya GE dan mencegah penularannya.
10. Prognosis Prognosis sangat bergantuk pada kondisi pasien saat datang,
ada/tidaknya komplikasi, dan pengobatannya, sehingga
umumnya prognosis adalah dubia ad bonam pada semua status.
Bila kondisi saat datang dengan dehidrasi berat, prognosis dapat
menjadi dubia ad malam.
11. Indikator a. Keluhan berkurang
Medis b. Tercapainya rehidrasi
12. Kepustakaan 1. Departemen Kesehatan RI. 2011. Pedoman
pemberantasan penyakit diare. Jakarta: Ditjen PPM dan
PL. (Kemenkes RI, 2011)
2. Simadibrata, M. D. Diare akut. In: Sudoyo, A.W.
Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata, M.D. Setiati, S.
Eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5th Ed. Vol I.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
dalam FKUI. 2009: p.548-556.
3. Sansonetti, P. Bergounioux, J. Shigellosis. In: Kasper.
Braunwald. Fauci. Et al. Harrison’s Principles of
Internal Medicine. Vol II. 17thEd. McGraw-Hill. 2009:
962-964. (Braunwald, et al., 2009)
4. Reed, S.L Amoebiasis dan Infection with Free Living
Amoebas. In: Kasper. Braunwald. Fauci. Et al.
Harrison’s Principles of Internal Medicine. Vol I
17thEd. McGraw-Hill 2009: p.1275-1280

10
Demam Tiphoid
4. Pengertia Adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri dari genus
n Salmonella melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
(definisi) kuman.
5. Anamnes  Demam yang meningkat secara perlahan-lahan, lebih rendah
is pada pagi hari dan tinggi terutama pada sore hingga malam
hari.
 Bradikardia relatif (1o C tidak diikuti peningkatan denyut
nadi 8 kali per menit)
 Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung lidah
merah serta tremor)
 Gangguan gastrointestinal: mual, muntah, nyeri ulu hati,
BAB tidak lancer/mencret
 Gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium,
atau psikosis
6. Pemeriks 3. Demam tiphoid:
aan Fisik  Suhu > 37,5 derajat celcius
 Lidah kotor
 Bradikardi relatif
 Hepatomegali/splenomegali
 Nyeri tekan epigasrium
 Bising usus meningkat/nomal.
5. Kriteria  Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis  Hasil darah rutin didapatkan leukosit normal, menurun atau
meningkat >10.000
 Hasil uji Widal:
- Titer aglutinin O yang tinggi ( > 160)
- Titer aglutinin H yang tinggi ( > 160)
- Kenaikan titer 4x lipat
8. Diagnosis Demam typhoid
Kerja
9. Diagnosis 1. Demam dengue
Banding 2. Demam chikungunya,
3. Disentri

10. Pemeriks 1. Darah perifer lengkap, yang menunjukkan:


aan - Leukositosis (>10.000), leukopeni atau normal
Penunjan - Limfositosis
g - Dapat disertai trombositopenia (<150.000)
- Penurunan hemoglobin
2. Serologi uji widal
- Titer aglutinin O yang tinggi ( > 160)
- Titer aglutinin H yang tinggi ( > 160)
- Kenaikan titer 4x lipat
3. Uji Tubex
- Nilai > 6 menunjukan nilai positif (indikasi kuat demam
tifoid)

11
4. Tes Typhidot

5. Pemeriksaan bakteriologis
- Hasil biakan (darah, tinja, cairan empedu, air kemih)
menunjukkan hasil positif
13. Terapi
1. Terapi simptomatik dengan analgetik antipiretik
(Paracetamol 3x500-1.000mg)
2. Pemberian antibiotik

14. Edukasi - Prinsip konseling pada demam tiphoid adalah memberikan


pengertian kepada pasien dan keluarganya tentang perjalanan
penyakit dan tata laksananya,

12
- Menjaga higienitas makanan agar tidak tercemar bakteri
Salmonella
- Minum antibiotic sesuai dosis dan anjuran dari dokter.
15. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsional : dubia ad bonam.
16. Indikator 1. Keluhan berkurang
Medis 2. Lama hari dirawat tergantung dari fase penyakit.
17. Kepustak 1. Widodo D. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit
aan Dalam. Edisi V. Jilid III. Jakarta : Interna Publishing.
2009:2797-2800.
2. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Mei 2006.
www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes /KMK
%20No.%20364%20ttg%20Pedoman%20Pengendalian
%20Demam%20Tifoid.pdf.

13
Sindrom Dispepsia
1. Pengertian (definisi) Dispepsia merupakan sindrom atau kumpulan gejala
atau keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak
nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa,
rasa cepat kenyang, perut rasa penuh atau begah.
2. Anamnesis 1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like
dyspepsia), dengan gejala:
b. Nyeri epigastrium terlokalisasi
c. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian
antasid
d. Nyeri saat lapar
e. Nyeri episodik
2.Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas
(dysmotility-like dyspesia), dengan gejala:
a. Mudah kenyang
b. Perut cepat terasa penuh saat makan
c. Mual
d. Muntah
e. e.Upper abdominal bloating (bengkak perut
bagian atas)
f. Rasa tak nyaman bertambah saat makan
3. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua
tipe di atas)
3. Pemeriksaan Fisik 1. Vital sign, bisa ditemukan takikardi
2. Pada bagian abdomen:
- Inspeksi akan distensi, asites, parut, hernia yang
jelas, ikterus, dan lebam.
- Auskultasi akan bunyi usus dan karekteristik
motilitasnya.
- Palpasi abdomen, perhatikan akan tenderness,
nyeri tekan epigastrium, pembesaran organ
- Perkusi timpani.
4. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan dan pemeriksaan
fisik. Untuk diagnosis defenitif dilakukan pemeriksaan
penunjang.
5. Diagnosis Kerja Sindrom dispepsia
6. Diagnosis Banding - Gastro-oesophageal reflux disease.
- Cholelithiasis or choledocholithiasis.
- Pankreatitis Kronik.
7. Pemeriksaan 1. Barium enema
Penunjang 2. Endoskopi,
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan
endoskopi adalah:
a. CLO (rapid urea test)
b. Patologi anatomi (PA)
c. Kultur mikroorgsanisme (MO) jaringan
d. PCR (polymerase chain reaction)
8. Terapi - Antasid
- Golongan prokinetik (sisaprid, domperidon, dan

14
metoklopramid)
- Penghambat pompa asam (omeperazol, lansoprazol,
dan pantoprazol)
- Antagonis reseptor H2 (simetidin, roksatidin,
ranitidin, dan famotidin)

9. Edukasi - Dianjurkan makan dalam porsi yang lebih kecil


tetapi lebih sering.
- Makanan tinggi lemak dihindarkan
10. Prognosis Prognosis baik.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan bila
terdapat salah satu dari tanda ini, yaitu: Usia 50 tahun ke
atas, kehilangan berat badan tanpa disengaja, kesulitan
menelan, terkadang mual-muntah, buang air besar tidak
lancar dan merasa penuh di daerah perut.
11. Indikator Medis - Keluhan berkurang
- Pola makan teratur
12. Kepustakaan 1. Djojoningrat D. Pendekatan klinis penyakit
gastrointestinal. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu
penyakit dalam, Ed. IV, 2007. Indonesia; Balai
Penerbit FKUI. H. 285
2. Fauci AS, Braunwald, Kasper DL, Hauser SL, Longo
DL, Jameson LJ et al. Peptic ulcer disease in
Harrison’s Principle of Internal Medicine, 17th ed,
Vol.II.2008. USA: Mc Graw Hill Medical, p.287

15
Asma Bronkial
1. Pengertian Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran
(definisi) pernapasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif,
keterbatasan aliran udara yang reversibel dan gejala
pernapasan.
2. Anamnesis 1. Adanya gejala yang episodik, gejala berupa:
- batuk
- sesak napas
- mengi
- rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan
dengan cuaca.
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi asma,
riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi.
3. Pemeriksaan 1. Vital sign, tekanan darah biasanya meningkat,
Fisik frekuensi pernapasan dan denyut nadi juga
meningkat
2. Pada bagian thorax:
- ekspirasi memanjang diserta ronki kering,
mengi.
4. Kriteria Diagnosis ditegakkan berdasarkan dan pemeriksaan fisik.
Diagnosis Untuk diagnosis defenitif dilakukan pemeriksaan penunjang.

5. Diagnosis Kerja Asma Bronkial


6. Diagnosis 1. Bronkitis kronik
Banding 2. Emfisema paru
3. Gagal jantung kiri
4. Emboli paru
7. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Laboratorium

16
Penunjang Darah (terutama eosinofil, Ig E), sputum (eosinofil,
spiral Cursshman, kristal Charcot Leyden).11
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Spirometri
- peningkatan volume ekspirasi paksa detik
pertama (VEP1) dan atau kapasiti vital paksa
(FVC) sebanyak 20% atau lebih sesudah
pemberian bronkodilator.
b. Uji Provokasi Bronkus
- uji provokasi dengan beban kerja (exercise),
hiperventilasi udara dan alergen non-spesifik
seperti metakolin dan histamin.
c. Foto Toraks
- untuk menyingkirkan penyakit lain
- pada serangan asma yang ringan, gambaran
radiologik paru biasanya tidak
memperlihatkan adanya kelainan.
b. Terapi Pengobatan non-medikamentosa
 Penyuluhan
 Menghindari faktor pencetus
 Pengendali emosi
 Pemakaian oksigen
Pengobatan medikamentosa
Pengontrol (Controllers) dan Pelega (Reliever)
 Kortikosteroid inhalasi
 Kortikosteroid sistemik
 Sodium kromoglikat
 Nedokromil sodium
 Metilsantin
 Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi
 Agonis beta-2 kerja lama, oral
 Leukotrien modifiers
 Antihistamin generasi ke dua (antagonis -H1)
 Antikolinergik (ipratropium bromide dan
tiotropium bromide)
 Aminofillin
c. Edukasi - Menghindari faktor pencetus
- Minum obat sesuai dosis dan anjuran dokter
d. Prognosis Prognosis baik.
e. Indikator Medis - Keluhan berkurang
- Wheezing berkurang atau menghilang
f. Kepustakaan 1. Riyanto BS, Hisyam B. Obstruksi Saluran
Pernapasan Akut. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid II. Edisi ke - 4. Jakarta : Pusat

17
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
2006. h 978 – 87.
2. Alsagaff H, Mukty A. Dasar - Dasar Ilmu Penyakit
Paru. Edisi ke – 2. Surabaya : Airlangga University
Press. 2002. h 263 – 300.
3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman
Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. 2003. h
73-5

18