Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN

“Distribusi dan Eksresi Tetes Mata Kloramfenikol “

NAMA : M.RIZKY MAHFUZI

NIM : 1811102415063

KELAS :B

DOSEN PENGAMPU:

IKA AYU MENTARI, S.Farm. M. Farm . Apt

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN FARMASI PROGRAM STUDI


FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul
Distribusi dan Eksresi Tetes Mata Kloramfenikol

B. Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami distribusi dan ekskresi obat
yang diberikan atau dipakai secara topikal (tetes mata)

C. Tinjauan Pustaka
Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan
tubuh dan jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah,
afinitas (kekuatan penggabungan) terhadap jaringan, dan efek pengikatan
dengan protein. Ketika obat di distribusi di dalam plasma, kebanyakan
berikatan dengan protein (terutama albumin) dalam derajat (persentase)
yang berbeda-beda. Obat-Obat yang lebih besar dari 80% berikatan dengan
protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan tinggi dengan protein.
Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi dengan protein adalah
diazepam (Valium): yaitu 98% berikatan dengan protein. Aspirin 49%
berikatan dengan protein clan termasuk obat yang berikatan sedang dengan
protein. Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat
selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat
yang bebas atau yang tidak berikatan dengan protein yang bersifat aktif
dan dapat menimbulkan respons farmakologik. Dengan menurunnya kadar
obat bebas dalam jaringan, maka lebih banyak obat yang berada dalam
ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk menjaga
keseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas. (Nuryati, 2017)
Ekskresi obat artinya eliminasi atau pembuangan obat dari tubuh.
Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat
jugadapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara),
kulit dan traktusintestinal. Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah
ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk
metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan
cara eliminasi obat melalui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3
(tiga) proses, yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus, dan
reabsorpsi pasif di sepanjang tubulus. Fungsi ginjal mengalami
kematangan pada usia 6-12 bulan, dan setelah dewasa menurun 1% per
tahun. Organ ke dua yang berperan penting, setelah ginjal, untuk ekskresi
obat adalah melalui empedu ke dalam usus dan keluar bersama feses.
Ekskresi melalui paru terutama untuk eliminasi gas anastetik umum .
(Noviani, N. dkk., 2017)
Tetes mata merupakan sediaan steril yang dapat berupa larutan
ataupun suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan pada
obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Obat
yang telah terbuka dan dipakai tidak boleh disimpan lebih dari 30 hari
untuk digunakan lagi, karena obat mungkin sudah terkontaminasi kuman.
Penggunaan obat tetes mata tidak boleh digunakan lebih dari 1 orang. (
Fiona,L. dkk., 2015)
Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas, namun dapat
menyebabkan efek samping hematologik yang berat jika diberikan secara
sistemik. Oleh karena itu, obat ini sebaiknya dicadangkan untuk
penanganan infeksi yang mengancam jiwa, terutama akibat Hemophilus
influenzae dan demam tifoid. Kloramfenikol juga digunakan pada fibrosis
sistik untuk mengatasi infeksi pernafasan karena Burkholderia
cepacia yang resisten terhadap antibiotik lain. Sindrom Grey baby dapat
terjadi setelah pemberian dosis tinggi pada neonatus dengan metabolisme
hati yang belum matang. Untuk menghindarkan hal ini dianjurkan untuk
melakukan monitoring kadar plasma. Kloramfenikol juga tersedia dalam
bentuk tetes mata dan tetes telinga. (BPOM RI, 2015)
Terdapat empat gugus yang dapat dideteksi dari kloramfenikol,
yaitu gugus fungsi O-H, gugus C-H aromatik, C-H dan C-C aromatik.
Gugus-gugus fungsi tersebut merupakan gugus -gugus yang terdapat pada
struktur kimia kloramfenikol. (Abdassah, M. dkk., 2016)
BAB II

A. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Water bath
2. Tabung reaksi
3. Pipet tetes
b. Bahan
1. Obat Tetes Mata Kloramfenikol
2. Saliva
3. Urine
4. Serbuk zn
5. Larutan cacl
6. Air
7. Etanol
8. Na asetat anhidrat
9. Benzoil klorida
10. Fecl3
11. Hcl encer

B. Prosedur Kerja
1. Diberikan 2 tetes OTM pada konjutiva mata
2. Dikosongkan kandung kemih dan di ambil sampel saliva, (kontrol)
sebelum diberi OTM
3. Dikumpulkan sampel saliva: 2 menit selama 20 menit, Urin: 5, 30, 60,
90, 120 menit
4. Dilarutkan saliva dan urin dalam 1 ml etanol
5. Di tambahkan 3ml campuran dari 1 bagian larutan CaCl dan 9 bagian
air
6. Ditambahkan 50 mg serbuk Zn
7. Dipanaskan di atas waterbath selama 10 menit, endapan di tuangkan di
tabung reaksi
8. Ditambahkan 10 mg Na Asetat anhidrat dan 2 tetes benzoil klorida,
dikocok selama 10 menit
9. Ditambahkan 0,5 ml larutan fecl3, jika perlu tambahkan HCl encer qs;
hasil + ditandai perubahan warna violet sampai dengan ungu
BAB III
Hasil Pengamatan
A. Data Saliva
Saliva
Perlakuann Hasil
Kontrol Negatif
2 menit Negatif
4 menit Negatif
6 menit Negatif
80 menit Negatif
10 menit Negatif
12 menit Negatif
14 menit Negatif
16 menit Negatif
18 menit Negatif
20 menit Negatif

B. Data Urin
Urin
Perlakuan Hasil
Kontrol Negatif
5 menit Negatif
30 menit Negatif
60 menit Negatif
90 menit Positif
120 menit Positif
BAB IV
Pembahasan
Faktor yang mempengaruhi Distribusi obat ialah: Karakteristik jaringan(
aliran darah, koefisien partisi, kelarutannya dalam lemak), Status penyakit yang
dapat mempengaruhi fisiologi, dan ikatan obat protein (Aslam, M. dkk., 2005)
Sediaan obat mata (optalmika) adalah tetes mata (oculoguttae), salep mata
(oculenta), pencuci mata (colyria) dan beberapa bentuk pemakaian yang khusus
(lamella, penyemprot mata) serta bentuk depo yang dapat digunakan untuk mata
utuh atau terluka. Obat mata digunakan sebagai obat dengan efek lokal. Sediaan
farmasi untuk obat mata dapat berupa salep dan larutan, keduanya merupakan
sediaan farmasi dengan sterilitas yang harus terjamin. Larutan obat mata adalah
larutan steril, bebas partikel asing dan merupakan sediaan yang dikemas
sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. (Fiona, L., dkk., 2015)
Obat Tetes Mata memiliki kelemahan yaitu waktu kontak yang singkat
dengan kornea mata serta tidak nyaman digunakan. In situ gel dibuat untuk
mengatasi kelemahan atau kekurangan yang terkait dengan drug delivery system
(Sistem Penghantaran Obat) dan memiliki potensi yang besar untuk dijadikan
sebagai ocullar therapy karena memiliki waktu kontak yang lama dengan kornea
mata. (Yusuf, L. dkk., 2019).
Adapun kelebihan obat tetes mata Tidak mengganggu penglihatan ketika
digunakan Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun salep
dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan, salep yang
obat-obatnya larut dalam air. (Yusuf, L. dkk., 2019).
Mekanisme OTM untuk masuk ke sistemik dengan adanya rasa pahit
ditenggorokan yang dirasakan setelah meneteskan obat ke mata, disebabkan
karena masuknya tetesan ke dalam duktus nasolakrimalis. Saluran duktus
nasolakrimalis berhubungan dengan saluran di belakang hidung yang bermuara ke
gastrointestinal melalui tenggorokan, sehingga menyebabkan rasa pahit di
tenggorokan. Adanaya rasa pahit di tenggorokan dan menuju ke saluran
gastrointestinal, menandakan terjadinya absorbasi obat tetes mata secara sistemik
(masuknya obat ke sistem peredaran darah). (Sari, A, S., 2019)
Formulasi sediaan topikal tradisional untuk mata (tetes mata) memiliki
ketersediaan hayati yang rendah karena cepat dieliminasi sebelum mencapai
kornea, absorpsi konjungtiva, kekeringan cairan mata karena gravitasi, lakrimasi
terinduksi, dan pergantian normal air mata. Hal ini mengarahkan pada
penggunaan obat yang pekat secara berulang untuk menghasilkan efek terapi. Tipe
obat pulse-entry seperti tetes mata, suspensi, dan salep dapat digantikan dengan
penghantaran obat yang lebih terkontrol, diperlambat, dan berkelanjutan
menggunakan sistem penghantaran obat okular yang pengeluarannya dikontrol.
Sediaan penyisipan okular merupakan sediaan steril berbentuk solid dan
semisolid, dengan ukuran dan bentuk yang sesuai, serta didesain untuk dapat
disisipkan di belakang kelopak mata atau diletakkan di atas mata untuk
menghantarkan efek obat secara topikal atau sistemik. Sediaan ini merupakan
sistem polimer yang tidak larut atau terdispersi. Sediaan ini lebih baik dalam hal
pengeringan dan aliran air mata dibandingkan formulasi sediaan mata yang lain
dan menghasilkan pengeluaran obat yang reliabel pada konjungtiva kuldesak.
(Abdassah, M., 2015)
Farmakokinetika kloramfenikol Diserap dengan cepat.kadar puncak dalam
darah tercapai hingga 2 jam dalam darah. Untuk anak biasanya diberikan dalam
bentuk ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit. Bentuk
ester ini akan mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol.
Farmakodinamik Chloramphenicol dan metabolitnya bekerja terutama pada
subunit 50S ribosom bakteri, dengan supresi aktivitas enzim peptidyltransferase.
Hal ini akan menghambat sintesis protein membran mitokondria, yang akan
menyebabkan supresi respirasi mitokondria dan proliferasi sel. Chloramphenicol
dapat menyebabkan supresi sumsum tulang yang reversibel. Hal ini karena
chloramphenicol dilaporkan memiliki potensi menginduksi efek toksik pada
mitokondria sel yang dalam proses pematangan atau sel eukariot yang
berproliferasi cepat. (Jamilah, 2015)
Sampel diambil secara bertahap agar lebih mudah dalam menganalisis
dalam sampel saliva sendiri maupun dari urin sendiri agar data analisis lebih
akurat.

Dari Hasil Percobaan ini dari data Saliva (kontrol) dari menit ke 2, 4, 6, 8,
10, 12, 14, 15, 16, 18, 20 didapatkan hasil yang negatif. Adapun juga hasil yang
didapatkan dari hasil urin dari menit ke 5, 30, 60, didapatkan hasil negatif,
sedangkan menit ke 90 dan 120 didapatkan hasil positif
BAB V

Penutup

A. Kesimpulan

Dari Hasil Percobaan ini dari data Saliva (kontrol) dari menit ke 2, 4, 6, 8,
10, 12, 14, 15, 16, 18, 20 didapatkan hasil yang negatif. Adapun juga hasil
yang didapatkan dari hasil urin dari menit ke 5, 30, 60, didapatkan hasil
negatif, sedangkan menit ke 90 dan 120 didapatkan hasil positif

B. Saran

Praktikan Harus lebih berhati hati dalam melakukan praktikum dan


menganalisa distribusi dan eksresi OTM kloramfenikol
Daftar Pustaka

1. Fional L Yulinar, 2015, TINGKAT PENGETAHUAN


MASYARAKAT DI DAERAH JOYOBOYO TENTANG
PENYAKIT MATA DAN SEDIAAN OBAT MATA

2. Jamilah, 2015, EVALUASI KEBERADAAN GEN CATP


TERHADAP RESISTENSI KLORAMFENIKOL PADA
PENDERITA DEMAM TIFOID, UIN, Makassar

3. Lutfiah Yusuf, Iyan Sopyan., 2019. IN SITU GEL OPTALMIK,


PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI, FAKULTAS
FARMASI, Universitas Padjadjaran.

4. Marline Abdassah, 2016, PROFIL PERMEASI IN VITRO GEL


MATA KLORAMFENIKOL PADA MEMBRAN
KORNEA MATA KELINCI DENGAN METODE SEL
DIFUSI FRANZ, Farmaka 1 Volume 13 Nomor 4

5. Mohamed Aslam, 2005, FARMASI KLINIS (CLINICAL


PHARMACY) MENUJU PENGOBATAN RASIONAL DAN
PENGHARGAAN PILIHAN PASIEN.

6. Nita Noviani, 2017, BAHAN AJAR KEPERAWATAN GIGI,


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

7. Nuryati, 2017, BAHAN AJAR REKAM MEDIS DAN INFORMASI


KESEHATAN (RMK), Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.

8. Sari Alimah Sanjaya, 2019, EVALUASI KETERSEDIAAN DAN


PERILAKU PENGGUNAAN OBAT TETES MATA PADA
PENGUNJUNG APOTEK. Universitas Sanata Dharma.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai