Anda di halaman 1dari 32

BAB IV

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kota Pekanbaru

4.1.1 Sejarah Kota Pekanbaru

Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang

pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang

mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian

perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian

disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi muara sungai Siak.

Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya melainkan

Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan

Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah

menetap di Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit

berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut

terletak di sekitar Mesjid Raya sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah

mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang.

Usaha yang telah dirintis tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda

Muhammad Ali di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23

Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima

Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi

"Pekan Baharu" selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru.

78
Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan

"PEKAN BAHARU", yang dalam bahasa sehari-hari disebut PEKANBARU.

Perkembangan selanjutnya tentang pemerintahan di Kota Pekanbaru

selalu mengalami perubahan, antara lain sebagai berikut :

1. SK Kerajaan Besluit van Her Inlanche Zelf Bestuur van Siak No.1 tanggal

19 Oktober 1919, Pekanbaru bagian dari Kerajaan Siak yang disebut District.

2. Tahun 1931 Pekanbaru masuk wilayah Kampar Kiri dikepalai oleh

seorang Controleur berkedudukan di Pekanbaru.

3. Tanggal 8 Maret 1942 Pekanbaru dikepalai oleh seorang Gubernur Militer

disebut Gokung, Distrik menjadi Gun dikepalai oleh Gunco.

4. Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 No.103

Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kota b.

5. UU No.22 tahun 1948 Kabupaten Pekanbaru diganti dengan Kabupaten

Kampar, Kota Pekanbaru diberi status Kota Kecil.

6. UU No.8 tahun 1956 menyempurnakan status Kota Pekanbaru sebagai

kota kecil.

7. UU No.1 tahun 1957 status Pekanbaru menjadi Kota Praja.

8. Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25 tanggal 20 Januari 1959

Pekanbaru menjadi ibukota Propinsi Riau.

9. UU No.18 tahun 1965 resmi pemakaian sebutan Kotamadya.

10. UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebutan Kotamadya

berubah menjadi Kota.

Kota Pekanbaru berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1987

tanggal 7 September 1987, terdiri dari 8 wilayah kecamatan dari 5 kecamatan

79
yang ada sebelumnya, dengan luas wilayah 446,5 Km2, setelah diadakan

pengukuran dan pematokan oleh Badan Pertanahan Nasional Riau, luas Kota

Pekanbaru selanjutnya di verifikasi menjadi 632,26 Km2.

Dengan meningkatnya kegiatan pembangunan menyebabkan

meningkatnya kegiatan penduduk disegala bidang yang pada akhirnya

meningkatkan pula tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap penyediaan

fasilitas dan utilitas perkotaan serta kebutuhan lainnya. Untuk lebih terciptanya

tertib pemerintahan dan pembinaan wilayah yang cukup luas, maka dibentuklah

Kecamatan baru dengan Perda Kota Pekanbaru No. 3 Tahun 2003 menjadi 12

Kecamatan dan Kelurahan baru dengan Perda Kota Pekanbaru No. 4 Tahun 2003

menjadi 58 Kelurahan (Badan Pusat Statistik, 2017).

4.1.2 Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kota Pekanbaru terletak antara 101°14'-101°34' Bujur Timur dan 0°25'-

0°45' Lintang Utara. Dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar 5-50 meter.

Permukaan wilayah bagian utara landai dan bergelombang dengan ketinggian

berkisar antara 5-11 meter. Adapun batas wilayah Kota Pekanbaru adalah sebagai

berikut :

a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten

Kampar

b. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan Kabupaten

Pelalawan

c. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten

Pelalawan

d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Kampar

80
Kota Pekanbaru terdiri dari 12 Kecamatan dan 58 Kelurahan, dengan luas

632,26 km2. Luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 4.1

berikut ini.

Tabel 4.1
Luas Wilayah Kota Pekanbaru Menurut Kecamatan Tahun 2016

No Kecamatan Luas (Km2) Presentase (%)


1 Tampan 59,81 9,46
2 Payung Sekaki 43,24 6,84
3 Bukit Raya 22,05 3,49
4 Marpoyan Damai 29,74 4,70
5 Tenayan Raya 171,27 27,09
6 Lima Puluh 4,04 0,64
7 Sail 3,26 0,52
8 Pekanbaru Kota 2,26 0,36
9 Sukajadi 3,76 0,59
10 Senapelan 6,65 1,05
11 Rumbai 128,85 20,38
12 Rumbai Pesisir 157,33 24,88
Jumlah 632,26 100,00
Sumber : BPS Kota Pekanbaru alam Angka, 2017

Untuk melihat lebih jelasnya mengenai kondisi geografis dan batas

wilayah Kota Pekanbaru dapat dilihat pada gambar 4.1 Peta Administratif Kota

Pekanbaru dibawah ini.

81
4.1.3 Kondisi Fisik Wilayah

4.1.3.1 Topografi

Kota Pekanbaru terletak pada bagian ketinggian 10 – 50 meter di atas

permukaan laut. Kawasan pusat kota dan sekitarnya relatif datar dengan

ketinggian rata-rata antara 10-20 meter di atas permukaan laut. Sedangkan

kawasan Tenayan dan sekitarnya umumnya mempunyai ketinggian antara 25 - 50

meter di atas permukaan laut. Kawasan yang relatif tinggi dan berbukit terutama

dibagian utara kota, khususnya di Kecamatan Rumbai dan Rumbai Pesisir dengan

ketinggian rata-rata sekitar 50 meter di atas permukaan laut.

Sebagian besar wilayah Kota Pekanbaru (44%) mempunyai tingkat

kemiringan lereng datar dengan luas 38.624 Ha, yang terdiri dari 2 (dua) kelas

kemiringan lereng yaitu kemiringan lerengnya 0 – 2% dengan luas 27.818 Ha dan

sekitar 10.806 Ha kemiringan lereng 2 – 8% yang sesuai untuk pengembangan

pembangunan kota. Kemiringan 0 – 2% ini terletak di daerah bagian Selatan,

sedangkan kemiringan lereng 2 – 8% terletak menyebar di bagian Tenggara Kota

Pekanbaru dan sebagian lagi di daerah Utara. Wilayah kota yang agak landai

hanya sekitar 17%, landai (21%), dan sangat landai (13%).

Untuk kemiringan 26 – 40% yang merupakan daerah agak curam

mempunyai luasan terkecil yaitu 2.917 Ha, yang terletak di daerah Utara dan

daerah Tenggara Kota Pekanbaru, tepatnya di Kecamatan Rumbai, Rumbai

Pesisir, dan Kecamatan Tenayan Raya. Lahan dengan kondisi morfologi demikian

umumnya cenderung memiliki faktor pembatas yang cukup tinggi terutama untuk

kegiatan terbangun, oleh karena itu pada lokasi dengan tipikal kemiringan seperti

ini pengembangannya lebih diarahkan sebagai kawasan konservasi.

83
4.1.3.2 Klimatologi

Kota Pekanbaru mempunyai iklim tropis dengan suhu udara maksimum

berkisar antara 31,00C-33,40C dengan suhu udara minimum berkisar antara

23,40C-24,40C. Curah hujan antara 73,9-584,1 mm/tahun. Kelembaban

maksimum berkisar antara 85,5%-93,2% dan kelembaban minimum berkisar

antara 57,0-67,7%.

4.1.3.3 Geologi

Kota Pekanbaru terdiri dari sesar mendatar dengan arah umum Barat

Laut-Tenggara, lipatan Sinklin dan Antiklin dengan arah penunjaman berarah

relatif Timur Laut-Barat Daya. Struktur-struktur geologi tersebut masuk dalam

sistem patahan Sumatera, sementara itu sesar-sesar mendatar ini termasuk dalam

sistem patahan Semangko, diduga terjadi pada Kala Miosen Tengah. Struktur

geologi dengan skala regional misalnya Sesar Semangko yang relatif berarah

Barat Laut-Tenggara atau relatif searah dengan Pulau Sumatera dapat berfungsi

sebagai pemicu terjadinya gempa di sepanjang/disekitar zona sesar tersebut.

Secara umum kondisi tanah di Kota Pekanbaru mempunyai daya pikul (T

tanah) antara 0,7 kg/cm2 - 1 kg/cm2, kecuali di beberapa lokasi yang berdekatan

dengan anak sungai (T tanah) antara 0,4 kg/cm 2 - 0,6 kg/cm2. Kedalaman efektif

tanahnya (top soil) sebagian besar kurang dari atau sama dengan 50 cm yang

terdapat di bagian tengah. Kedalaman efektif tanah 50 – 75 cm terdapat di bagian

Selatan dan kedalaman lebih dari 100 cm terdapat di bagian Utara Kota

Pekanbaru.

84
4.1.3.4 Hidrologi

Kondisi hidrologi di Kota Pekanbaru dibedakan menjadi 2 (dua) bagian

yaitu kondisi hidrologi air permukaan dan air tanah.

1. Hidrologi air permukaan pada umumnya berasal dari sungai–sungai

yang mengalir di Kota Pekanbaru yaitu Sungai Siak, mengalir dari Barat ke

Timur dengan panjang 300 Km dan kedalaman 29 meter serta lebar 100-400

meter yang mempunyai anak sungai seperti: Sungai Umban Sari, Air Hitam,

Sibam, Setukul, Pengambang, Ukai, Sago, Senapelan, Limau, dan Tampan.

2. Hidrologi air tanah kurang baik sebagai air minum, khususnya

hidrologi air tanah dangkal dari Formasi Petani. Sedangkan untuk air tanah

dangkal dari Formasi Minas memiliki potensi ketersediaan air yang cukup

banyak, mengingat kondisi batuan Formasi Minas memiliki permeabilitas dan

porositas yang tinggi.

Aliran Sungai di Kota Pekanbaru di antaranya sebagai berikut :

a) Sungai Siak, dengan lebar rata-rata 96 meter dan kedalaman rata-rata 8 meter,

dipengaruhi oleh pasang surut air laut, kecepatan aliran rata-rata 0,75 liter/detik

b) Sungai Senapelan, merupakan penampung utama bagi wilayah sebelah Barat

Jl. Jendral Sudirman dan sebelah utara Jalan Tuanku Tambusai, dengan lebar

rata-rata 3-4 meter

c) Sungai Sail, merupakan penampung utama bagi wilayah sekitar Pasar Laket

yang dibatasi Jl. Pelajar di sebelah barat, Jl. Pepaya di sebelah timur, Jl.

Mangga di sebelah utara dan Jl. Tuanku Tambusai di selatan

d) Sungai Sago, merupakan penampung bagi wilayah sebelah barat Jl. Sudirman,

Sungai Lunau, Sungai Tanjung Datuk I dan II.

85
4.1.4 Kependudukan

Dari tahun ke tahun jumlah penduduk yang ada di seluruh wilayah di

Indonesia terus mengalami peningkatan. Begitu juga dengan perkembangan

penduduk yang terjadi di Kota Pekanbaru. Menurut data Kota Pekanbaru dalam

angka 2017, jumlah penduduk Kota Pekanbaru tahun 2015 adalah sebesar

1.038.118 jiwa kemudian mengalami peningkatan dimana tercatat pada tahun

2016 jumlah penduduk di Kota Pekanbaru menjadi 1.064.566 jiwa. Untuk lebih

jelas mengenai jumlah dan perkembangan penduduk dapat dilihat pada tabel 4.2

dibawah ini.

Tabel 4.2
Jumlah, Perkembangan dan Kepadatan Penduduk Kota Pekanbaru
Tahun 2016
Luas Jumlah Penduduk Kepadatan
No Kecamatan Wilayah Penduduk
2015 2016
(Km2) (Jiwa/(Km2)
1 Tampan 59,81 250.963 269.062 4.499
2 Payung Sekaki 43,24 90.495 60.665 2.097
3 Bukit Raya 22,05 101.772 103.114 4.676
Marpoyan
4 29,74 131.064 131.245 4.413
Damai
5 Tenayan Raya 171,27 152.984 158.519 926
6 Lima Puluh 4,04 41.418 41.437 10.257
7 Sail 3,26 21.471 21.479 6.589
8 Pekanbaru Kota 2,26 25.088 25.094 11.104
9 Sukajadi 3,26 47.330 47.364 12.597
10 Senapelan 6,65 36.527 36.548 5.496
11 Rumbai 20,38 67.423 67.523 524
12 Rumbai Pesisir 157,33 71.583 72.516 461
Jumlah 632,26 1.038.118 1.064.566 1.684
Sumber : Pekanbaru Dalam Angka, 2017

Jumlah penduduk tertinggi di Kota Pekanbaru terdapat di Kecamatan

Tampan dengan jumlah penduduk 269.062 jiwa sedangkan yang terendah terdapat

di Kecamatan Sail dengan jumlah penduduk 21.471 jiwa. Adapun peta kepadatan

penduduk Kota Pekanbaru dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut ini.

86
4.1.5 Penggunaan Lahan

Jenis Penggunaan lahan di Kota Pekanbaru terdiri dari 2 (dua) yakni

penggunaan lahan terbangun dan non terbangun. Lahan terbangun umumnya

berupa lahan yang dimanfaatkan secara fisik untuk bangunan, sedangkan lahan

non terbangun umumnya berupa lahan pertanian dan tanah kosong.

Luas lahan terbangun (built-up areas) sekitar 24% dari luas wilayah kota

dan dimanfaatkan sebagai kawasan perumahan (sekitar 73% dari luas areal

terbangun), pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, industri, militer,

bandara, dan lain-lain. Luas areal belum terbangun (non-built up areas) adalah

sekitar 76% dari luas wilayah kota saat ini yang merupakan kawasan lindung,

perkebunan, semak belukar, dan hutan. Areal ini sebagian besar terdapat di

wilayah utara kota (Rumbai dan Rumbai pesisir), Tenayan Raya dan sekitarnya.

Tabel 4.3
Penggunaan Tanah Kota Pekanbaru Tahun 2006
No Jenis Penggunaan Tanah Luas (Ha)
A Lahan Terbangun (built up areas)
1 Kawasan Perumahan 10.914,44
2 Kawasan Pemerintahan 100,23
3 Kawasan Pendidikan 282,30
4 Kawasan Perdagangan 666,07
5 Kawasan Industri 1.794,94
6 Militer 134,93
7 Bandara 276,00
8 Lain-lain 723,07
Jumlah A: 14.891,98
B Lahan Tidak Terbangun (non-built up areas)
1 Kawasan Lindung 2.605,75
2 Kawasan Perkebunan 18.372,33
3 Kawasan Semak Belukar 2.622,45
4 Hutan 48.334,02
Jumlah B: 63.226,00
Jumlah A + B 63.226,00
Sumber : Draft Revisi RTRW Kota Pekanbaru, 2012

88
4.2 Gambaran Umum Kecamatan Tampan

4.2.1 Administrasi Kecamatan Tampan

Kecamatan Tampan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di

wilayah selatan Kota Pekanbaru yang terdiri atas 125 RW dan 600 RT. Luas

wilayah Kecamatan Tampan adalah 59,81 km2 dengan luas masing-masing

kecamatan adalah sebagai berikut :

a) Kelurahan Simpang Baru : 23,59 km2

b) Kelurahan Sidomulyo Barat : 13,69 km2

c) Kelurahan Tuah Karya : 12,09 km2

d) Kelurahan Delima : 10,44 km2

Adapun batas-batas administratif wilayah Kecamatan Tampan adalah

sebagai berikut :

a) Sebelah timur : Berbatasan dengan Kecamatan Marpoyan Damai

b) Sebelah barat : Berbatasan dengan Kecamatan Kampar

c) Sebelah utara : Berbatasan dengan Kecamatan Payung Sekaki

d) Sebelah selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Kampar

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai letak dan batas wilayah

Kecamatan Tampan dapat dilihat pada Gambar 4.4 Peta Orientasi Kecamatan

Tampan dan Gambar 4.5 Peta Administrasi Kecamatan Tampan Berikut ini.

90
4.2.2 Kependudukan

Berdasarkan pada data Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017 tercatat

bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Tampan pada tahun 2016 adalah 269.062

93
jiwa dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di Kelurahan Tuah Karya dengan

jumlah penduduk 99.013 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 8.190 jiwa/

km2, sedangkan jumlah penduduk terkecil di kecamatan ini terdapat di Kelurahan

Delima dengan jumlah penduduk 47.549 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk

4.555 jiwa/ km2. Jumlah penduduk di Kecamatan Tampan ini merupakan jumlah

penduduk terbesar yang ada di Kota Pekanbaru.

Tabel 4.4
Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Tampan Tahun 2016

Jumlah Jumlah
Luas Kepadatan
No Kelurahan Penduduk Rumah
Km2 (Jiwa/km2)
(Jiwa) Tangga
1 Simpang Baru 23,59 60.844 13.169 2.579
2 Sidomulyo Barat 13,69 61.656 12.448 4.504
3 Tuah Karya 12,09 99.013 20.551 8.190
4 Delima 10,44 47.549 9.128 4.555
Jumlah 59.81 269.062 55.296 4.499
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

Dilihat dari distribusi jumlah penduduk menurut jenis kelamin di

Kecamatan Tampan ini tercatat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar bila

dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-laki

yakni 138.304 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan yakni 130.758 jiwa.

Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah penduduk menurut jenis kelamin di

Kecamatan Tampan dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini.

Tabel 4.5
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Tampan Tahun
2016

No Kelurahan Jumlah Penduduk Jumlah

94
Laki-Laki Perempuan

1 Simpang Baru 29.828 31.016 60.844


2 Sidomulyo Barat 31.461 30.195 61.656
3 Tuah Karya 52.753 46.260 99.013
4 Delima 24.262 23.287 47.549
Jumlah 138.304 130.758 4.499
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

Jumlah Penduduk di Kecamatan Tampan Tahun 2016 (Jiwa)

47.55 60.84 Simpang Baru


Sidomulyo Barat
Tuah Karya
99.01 61.66
Delima

Gambar 4.6
Distribusi Jumlah Penduduk di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sumber : Hasil Analisis Tabel

95
4.2.3 Ketersediaan Sarana

4.2.3.1 Sarana Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu fasilitas yang mencerdaskan bangsa, oleh

sebab itu berhasil atau tidaknya pembangunan suatu bangsa di pengaruhi oleh

tingkat pendidikan penduduk tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan

penduduk akan membawa pengaruh positif bagi masa depan berbagai kehidupan.

Dilihat dari fungsi dan perannya sebagai pusat pendidikan, maka kelengkapan

fasilitas pendidikan turut menunjang pemerintah dalam mempersiapkan sumber

daya manusia yang handal dan berkualitas.

Berdasarkan pada data Kecamatan Tampan dalam Angka 2017, jumlah

sarana pendidikan di Kecamatan Tampan adalah sebanyak 180 unit dengan

rincian 67 TK, 55 SD, 28 SMP, 13 SMA dan 17 SMK. Untuk lebih jelasnya

mengenai sarana pendidikan di Kecamatan Tampan dapat dilihat pada tabel 4.6

berikut ini.

Tabel 4.6
Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Tampan Tahun 2016

Sarana Pendidikan Jumlah


No Kelurahan
TK SD SMP SMA SMK

1 Simpang Baru 20 13 9 4 5 51
2 Sidomulyo Barat 11 13 4 2 1 31
3 Tuah Karya 22 19 9 4 8 62
4 Delima 14 10 6 3 3 36
Jumlah 67 55 28 13 17 180
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

96
Sarana Pendidikan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
TK SD SMP SMA SMK
22
20 19

13 13 14
11 10
9 9 8
6
4 5 4 4 3 3
2 1

Simpang Baru Sidomulyo Barat Tuah Karya Delima


Gambar 4.8
Distribusi Sarana Pendidikan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sumber : Hasil Analisis Tabel 4.6

Berdasakan pada tabel dan grafik diatas dapat dilihat bahwa distribusi

sarana pendidikan terbesar terdapat di Kelurahan Tuah Karya dengan 62 unit

sarana pendidikan yang terdiri dari 22 TK, 19 SD, 9 SMP, 4 SMA dan 8 SMK.

Sedangkan jumlah sarana pendidikan terkecil terdapat di Kelurahan Sidomulyo

Barat dengan 31 unit sarana pendidikan yang terdiri dari 11 TK, 13 SD, 4 SMP, 2

SMA dan 1 SMK. Berikut beberapa contoh sarana pendidikan yang terdapat di

Kecamatan Tampan.

(a) (b)
Gambar 4.9
Foto Sarana Pendidikan di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

97
4.2.3.2 Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan merupakan salaha satu unsur terpenting dalam

kehidupan masyarakat. Keberadaan sarana kesehatan bertujuan untuk

memperbaiki pola hidup masyarakat, memberikan pengetahuan dan pemahaman

mengenai kesehatan serta mencari solusi penyembuhan terhadap penyakit yang

dialami masyarakat.

Jumlah sarana kesehatan di Kecamatan Tampan yakni 92 unit dengan

rincian 42 unit poliklinik, 2 unit puskesmas/pustu, 5 unit rumah sakit, 7 unit

rumah sakit bersalin, dan 36 unit praktek dokter. Jumlah sarana kesehatan terbesar

terdapat di Kelurahan Simpang Baru dengan 30 unit sarana kesehatan, sedangkan

ketersediaan sarana kesehatan terkecil terdapat di Kelurahan Sidomulyo Barat

dengan 14 unit sarana kesehatan. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah dan

distribusi sarana kesehatan di Kecamatan Tampan dapat dilihat pada tabel 4.7

berikut ini.

Tabel 4.7
Jumlah Sarana Kesehatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016

Sarana Kesehatan Jumlah


Kelurahan RS Prakte
No
Poliklinik Puskemas RS Bersali k
n Dokter
1 Simpang
17 1 2 3 7 30
Baru
2 Sidomulyo
6 - - 2 6 14
Barat
3 Tuah
13 - 2 2 4 21
Karya
4 Delima 6 1 1 - 19 27
Jumlah 42 2 5 7 36 92
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

98
Sarana Kesehatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Poliklinik Puskesmas RS
RS Bersalin Praktek Dokter
19
17

13

7
6 6 6
4
3
2 2 2 2
1 1 1
0 0 0 0

Simpang Baru Sidomulyo Barat Tuah Karya Delima

Gambar 4.10
Distribusi Sarana Kesehatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sumber : Hasil Analisis Tabel 4.7

(a) (b)

Gambar 4.11
Foto Sarana Kesehatan di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

99
4.2.3.3 Sarana Peribadatan

Sarana peribadatan merupakan suatu tempat dimana berlangsungnya

kegiatan peribadatan untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat. Kehidupan

dan kerukunan umat beragama ini akan semakin baik apabila tersedia fasilitas

peribadatan yang memadai. Berdasarkan pada data Kecamatan Tampan dalam

Angka 2017, tercatat jumlah ketersediaan sarana peribadatan di Kecamatan

Tampan tahun 2016 yakni 250 unit dengan rincian 162 unit masjid, 76 unit

surau/langgar, 8 unit gereja dan 1 unit vihara. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada tabel berikut.

Tabel 4.8
Jumlah Sarana Peribadatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sarana Kesehatan
No Kelurahan Surau/ Jumlah
Masjid Gereja Vihara
Langgar
1 Simpang Baru 51 28 6 - 85
2 Sidomulyo Barat 33 18 - - 51
3 Tuah Karya 48 25 - - 73
4 Delima 30 8 2 1 41
Jumlah 162 79 8 1 250
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

Sarana Peribadatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016


Masjid Surau/Langgar Gereja Vihara

51 48

33 30
25 25
18
6 8
0 0 0 0 0 2 1

Simpang Baru Sidomulyo Barat Tuah Karya Delima


Gambar 4.12
Distribusi Sarana Peribadatan di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sumber : Hasil Analisis Tabel 4.8

100
Adapun beberapa sarana peribadatan di Kecamatan Tampan dapat dilihat

pada gambar 4.12 berikut ini.

(a) (b)

(c)

Gambar 4.13
Foto Sarana Peribadatan di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

101
4.2.3.4 Sarana Perekonomian

Sebagian besar kepala rumah tangga di Kecamatan Tampan bekerja pada

sektor perdagangan, sebanyak 26.152 kepala rumah tangga atau 49,5 persen

bekerja pada sektor perdagangan, 21,58 persen bekerja pada sektor jasa dan

selebihnya bekerja pada sektor-sektor yang lain. Berdasarkan pada data

Kecamatan Tampan dalam Angka 2017, tercatat bahwa jumlah sarana

perekonomian di Kecamatan Tampan tahun 2016 yakni sebanyak 4.001 unit yang

terdiri dari 3 unit pasar, 32 unit bank, 1.610 unit toko, dan 2.356 unit warung/kios.

Tabel 4.9
Jumlah Sarana Perekonomian di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sarana Kesehatan Jumlah
No Kelurahan BUUD Warung/
Pasar Bank Toko
/ KUD Kios
1 Simpang Baru - - 8 497 611 1.116
2 Sidomulyo
1 - 5 347 569 922
Barat
3 Tuah Karya 2 - 8 286 628 924
4 Delima - - 11 480 548 1.039
Jumlah 3 0 32 1.610 2.356 4.001
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

Sarana Perekonomian di Kecamatan Tampan Tahun 2016


Pasar BUUD/KUD Bank Toko Warung/Kios
611 628
569 548
497 480
347
286

0 0 8 1 0 5 2 0 8 0 0 11

Simpang Baru Sidomulyo Barat Tuah Karya Delima


Gambar 4.14
Distribusi Sarana Perekonomian di Kecamatan Tampan Tahun 2016
Sumber : Hasil Analisis Tabel 4.9

102
(a) (b)

Gambar 4.15
Foto Sarana Perekonomian di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

4.2.4 Ketersediaan Prasarana

4.2.4.1 Jaringan Jalan

Menurut UU No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan, jalan merupakan suatu

prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun yang meliputi segala bagian

jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan lainnya yang

diperuntukkan bagi sistem lalulintas. Jalan menjadi aksesibilitas utama bagi

masyarakat untuk melakukan aktivitasnya.

Secara keseluruhan wilayah Kecamatan Tampan telah terpenuhi akan

ketersediaan jaringan jalan dengan dominasi jenis jalan aspal. Dapat dilihat pada

tabel 4.10 bahwa panjang jalan yang sudah diaspal yakni sepanjang 178,83 km,

jalan diperkeras sepanjang 38,37 km dan jalan tanah sepanjang 38,31 km.

103
Tabel 4.10
Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan Jalan (km) Tahun 2016

Jenis Permukaan Jalan


No Kelurahan, Jalan Jalan Jalan
Aspal Diperkeras Tanah
1 Simpang Baru 48,45 10,70 6,80
2 Sidomulyo Barat 41,27 9,60 9,60
3 Tuah Karya 46,50 10,37 10,37
4 Delima 42,61 7,70 8,55
Jumlah 178,83 38,37 38,31
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

(a) (b)

(c)

Gambar 4.16
Foto Jaringan Jalan di Kecamatan Tampan

104
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

4.2.4.2 Jaringan Listrik

Jaringan listrik merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Segala

aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan

dengan jaringan listrik. Semua barang elektronik memerlukan energi listrik dalam

penggunaannya, seperti kulkas, TV, AC, mesin cuci, setrika dan lain-lain.

Secara keseluruhan Kecamatan Tampan telah terpenuhi akan jaringan

listrik hal ini ditandai dengan tersedianya jaringan listrik untuk permukiman,

untuk kegiatan komersila dan lain sebagainya.

Tabel 4.11
Jumlah Rumah Tangga Menurut Jenis Penerangan Tahun 2016
Jenis Penerangan (KK)
No Kelurahan,
Listrik Minyak Tanah lainnya

1 Simpang Baru 13.169 - -


2 Sidomulyo Barat 12.448 - -
3 Tuah Karya 20.551 - -
4 Delima 9.128 - -
Jumlah 55.296 - -
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

(a) (b)
Gambar 4.17

105
Foto Jaringan Listrik di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)
4.2.4.3 Jaringan Air Bersih

Pada umumnya sumber air bersih di Kota Pekanbaru yakni berasal dari

sumur pompa. Termasuk Kecamatan Tampan jugan mendominasi penggunaan air

bersih yang bersumber dari sumur pompa. Tercatat dalam Kecamatan Tampan

dalam Angka tahun 2016, penggunaan sumur pompa yakni 45.691 KK dan sumur

perigi yakni 9.605 KK.

Tabel 4.12
Jumlah Rumah Tangga Menurut Sumber Air Bersih Tahun 2016

Sumber Air Bersih


No Kelurahan, Leding/ Sumur Sumur
PAM Pompa Perigi
1 Simpang Baru - 11.509 1.660
2 Sidomulyo Barat - 10.634 1.814
3 Tuah Karya - 15.964 4.587
4 Delima - 7.584 1.544
Jumlah - 45.691 9.605
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

4.2.4.4 Jaringan Drainase

Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai

sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan kompenen penting

dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Jaringan drainase

merupakan prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan

ke bangunan resapan air agar tidak terjadi gangguan berupa genangan air di badan

jalan.

106
Kondisi drainase di Kecamatan Tampan didominasi oleh sistem drainase

terbuka dengan ukuran yang relatif kecil, menengah hingga besar. Bentuk

drainase yang ada pada umumnya terbuat dari semen maupun beton, namun masih

terdapat drainase yang terbuat dari tanah yang dapat ditemukan pada jalan-jalan

lingkungan di kecamatan ini. Sistem drainase ini memang sangat cocok ditetapkan

pada sebuah kota agar air yang mengalir di drainase tersebut dapat kendalikan

sehingga pada saat meluap dapat diatasi dengan cepat.

(a) (b)

(c)

Gambar 4.18
Foto Drainase di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

107
4.2.4.5 Persampahan

Masalah persampahan pada suatu wilayah menjadi salah satu masalah

yang cukup kompleks untuk diatasi karena dihambat oleh beberapa faktor seperti

buruknya sistem penanganan persampahan, kurangnya kesadaran masyarakat,

tingginya produksi sampah pada masing-masing rumah dan lain-lain.

Pengelolaan sampah di Kecamatan Tampan ini dikelola oleh pemerintah

Kota Pekanbaru dimana terdapat prasarana persampahan yang tersedia di

kecamatan ini yakni berupa bank sampah dengan nama Bank Sampah Bukit Hijau

Berlian yang terletak di Jalan H.R Soebrantas No. 52. Namun kondisi

persampahan juga sering dijumpai berada pada pinggir-pinggir jalan yang

tentunya mengganggu aktifitas masyarakat sekitar seperti contoh di Jl. Bangau

Sakti berikut ini.

(a) (b)

Gambar 4.19
Foto Persampahan di Kecamatan Tampan
(Sumber: Hasil observasi lapangan, 19 Juli 2018)

108
4.2.5 Penggunaan Lahan

Menurut data Kecamatan Tampan dalam Angka tahun 2017, persentase

penggunaan lahan di Kecamatan Tampan didominasi dengan penggunaan lahan

untuk bangunan/pekarangan dengan persentase penggunaan lahan terbesar

terdapat di Kelurahan Simpang Baru dengan 88,68% sedangkan yang persentase

terkecil terdapat di Kelurahan Delima dengan 76,82%. Untuk lebih jelasnya

mengenai persentase penggunaan lahan di Kecamatan Tampan dapat dilihat pada

tabel 4.13 berikut ini.

Tabel 4.13
Persentase Penggunaan Tanah di Kecamatan Tampan
Tahun 2016 (%)

Persentase Penggunaan Tanah


No Kelurahan, Tanah Tanah Bangunan/
Sawah Kering Perkarangan
1 Simpang Baru - 11,32 88,68
2 Sidomulyo Barat - 20,82 79,18
3 Tuah Karya - 24,65 75,35
4 Delima - 23,18 76,82
Sumber : Kecamatan Tampan dalam Angka, 2017

109