Anda di halaman 1dari 4

PENGHINDARAN PAJAK

Bisnis Indonesia, 24 Maret 2008

JAKARTA: Perusahaan yang akan melakukan merger (penggabungan atau peleburan) dan
pemekaran usaha dapat menggunakan nilai buku, dengan syarat mengajukan permohonan ke
Dirjen Pajak.

Permohonan diajukan dengan melampirkan alasan dan tujuan yang jelas, melunasi seluruh utang
pajak dari setiap badan usaha yang terkait, dan memenuhi syarat tujuan bisnis.

"Aturan merger memang diubah, tapi tidak ada hubungan dengan pajak. Bedanya dalam
Permenkeu yang baru, perusahaan yang akan dimerger tidak perlu dilikuidasi dulu. Ini
kemudahan," kata Dirjen Pajak Darmin Nasution, setelah mendampingi sejumlah menteri
menyerahkan surat pemberitahuan (SPT) PPh Tahunan di Jakarta, pekan lalu.

Kebijakan itu tertuang dalam Permenkeu No. 43/PMK.03/ 2008 tentang Penggunaan Nilai Buku
Atas Pengalihan Harta Dalam Rangka Penggabungan, Peleburan, atau Pemekaran Usaha.
Peraturan yang berlaku mulai 13 Maret 2008 itu menganulir Kepmenkeu No. 422/KMK.04/1998
yang terakhir diubah dengan Permenkeu No. 75/PMK.03/ 2005.

Sesuai dengan UU perpajakan, pengalihan aset dalam rangka merger atau pemekaran wajib
menggunakan nilai pasar, bukan nilai buku. Selisih antara nilai pasar dan nilai buku, merupakan
objek pajak.

Syarat merger atau pemekaran dengan menggunakan nilai buku


 Mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak dengan melampirkan
alasan dan tujuan melakukan merger dan pemekaran usaha
 Melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait

 Memenuhi persyaratan tujuan bisnis (business purpose test)


 WP yang merger dengan menggunakan nilai buku tidak boleh
mengkompensasikan kerugian atau sisa kerugian dari WP yang
menggabungkan diri/WP yang dilebur
 Nilai perolehan harta tersebut sesuai dengan nilai sisa buku dari pihak
atu pihak-pihak yang dilebur
 Penyusutan berdasarkan nilai manfaat yang tercantum pada pembukuan
awal
 Angsuran PPh masa (PPh Pasal 25) dari pihak atau pihak-pihak yang
menerima pengalihan tidak boleh lebih kecil dari jumlah angsuran awal
 Bagi perusahaan yang akan go public, harus sudah mengajukan
pernyataan pendaftaran dan pendaftaran dinyatakan efektif, satu tahun
setelah persetujuan Dirjen terbit
 Jangka waktu dapat diperpanjang  
Sumber: Permenkeu no. 43/PMK.03/2008

Namun, UU memberi wewenang kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan nilai lain selain
harga pasar, yaitu atas dasar nilai sisa buku (pooling of interest).

Penghindaran pajak

Seorang praktisi pajak menilai kebijakan itu cukup bagus. Masalahnya, menurutnya, siapa yang
akan menilai layak tidaknya business purpose test, Ditjen Pajak atau institusi lain?

"Apakah Ditjen Pajak mempunyai kompetensi untuk menilai layak tidaknya tujuan bisnis?"
katanya melalui layanan pesan singkat.

Darmin menyatakan kewajiban untuk menjelaskan alasan dan tujuan merger, serta melampirkan
business purpose test dimaksudkan untuk menutup peluang bagi wajib pajak (WP) yang
menjadikan merger sebagai alat untuk menghindari pajak atau memperkecil kewajiban pajak.

"Artinya, kita mempersoalkan apa tujuan merger. Jangan tujuannya mau menghindari pajak.
Kalau tujuannya untuk memperkuat bisnis enggak ada masalah. Apalagi kalau bank dengan
bank. Yang masalah, kalau ada perusahaan yang pekerjaannya hanya merger untuk menghindari
pajak," katanya.

Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa cara yang biasa dipakai wajib pajak untuk menghindari
pajak melalui merger adalah dengan mengakuisisi perusahaan lain yang mempunyai rugi fiskal
besar. Kerugian itu bisa dibawa untuk mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan hasil
merger.

Padahal, pemerintah melalui Permenkeu No. 422/KMK. 04/ 1998 melarang kerugian yang terjadi
pada perusahaan lama dibawa ke perusahaan baru hasil merger.

Namun, pengusaha tidak kehilangan akal. Menyusul larangan tersebut, mereka memilih
perusahaan yang merugi untuk mengambil alih perusahaan lain yang labanya besar. Hasilnya
sama saja, pajak yang harus dibayar perusahaan baru lebih kecil.

Kebijakan ini juga tidak bertahan lama. Melalui Kepmenkeu No. 469, Menteri Keuangan
mengizinkan perusahaan hasil merger membawa kerugian atau sisa kerugian dengan syarat: WP
melakukan revaluasi aset terlebih dadulu, badan usaha yang dimerger harus masih aktif
menjalankan usaha, dan badan usaha baru harus aktif minimal dua tahun kemudian.

Ahmad Muhibbuddin
STUDI TENTANG KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI OLEH KANTOR
AKUNTAN PUBLIK DALAM MELAKUKAN MERGER

A Study on Constraints the Public Accountant Firm Dealt with in Undertaking Merger

Oleh: MAYASARI, TRIANA


Email: library@lib.unair.ac.id; library@unair.ac.id
Post Graduate Airlangga University
Dibuat: 2008-12-19 , dengan 1 file(s).

Keywords: Accounting firm, strategic merger, indepth interview, cultural problem.

Subject: ACCOUNTANTS
Call Number: KKB KK-2 Tea 23/08 May s

Persaingan yang semakin ketat di dunia usaha di era pasar bebas, menyebabkan perusahaan-
perusahaan dituntut untuk memiliki manajemen yang kuat dan profesional agar dapat survive dan
berkembang. Untuk itu perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar
perusahaan dapat mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya. Salah satu usaha
yang dapat ditempuh perusahaan adalah dengan melakukan ekspansi. Salah satu bentuk ekspansi
adalah dengan cara merger.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan rasional, manfaat¬manfaat yang
diperoleh dan kendala-kendala operasional yang terjadi pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang
melakukan merger dan alasan maupun kendala KAP yang tidak melakukan merger.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metodologi indepth
interview terhadap responden yaitu auditor yang berposisi sebagai pemilik atau partner KAP
yang belum melakukan merger, dan yang telah melakukan merger dengan KAP lain serta pihak
di dalam KAP yang mempunyai posisi dalam pengambilan keputusan strategi.

Kesimpulan dari penelitian ini dalam mengungkap segala kendala yang dihadapi dalam
melakukan merger yakni terdapat sejumlah KAP di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang
telah melakukan merger, dan jumlahnya cukup banyak. Berbeda halnya dengan kota lainnya. Hal
ini disebabkan beberapa KAP tidak mau mengambil resiko yang akan dihadapi perusahaan jika
melakukan merger. Padahal jika dilihat dari manfaat yang diperoleh sangatlah besar. Hal ini
haruslah dicermati secara menyeluruh. Untuk itu penelitian ini mengungkapkan segala manfaat
yang diperoleh dan segala kendala yang terjadi sebagai bahan pertimbangan kepada KAP yang
belum melakukan merger.

Untuk melakukan merjer banyak hal yang harus dipersiapkan, diantaranya sejumlah dana untuk
biaya operasional, pengetahuan tambahan serta keahlian yang lebih beragam agar merger yang
dilakukan dapat membentuk sinergi yang diharapkan perusahaan. Untuk mendapatkan partner
yang sesuai diperlukan penyatuan pendapat dan pikiran atas visi, misi dan tujuan perusahaan. Ini
untuk menghindari terjadinya pembubaran merger akibat timbulnya masalah dari perbedaan
pendapat tersebut.
Saran bagi penelitian, selanjutnya yakni mengingat penelitian seperti ini belum banyak dilakukan
maka perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang berguna untuk mengetahui lebih mendalam
segala hal yang menyangkut merger KAP ini. Agar dapat memperoleh gambaran lebih luas
mengenai hal ini maka perlu dilakukan perluasan area responden, mencapai ke daerah lain,
bahkan Nasional.

file:///H:/Pajak%20permudah%20syarat%20merger.htm web PENGHINDARAN PAJAK

http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s2-2008-mayasaritr-
9397&width=400&PHPSESSID=735f99a341908093de36c5a6ffbdf67c Webkendala2