Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH STATISKA

PENJELASAN MENGENAI MACAM-MACAM SAMPLING


DAN MEMBERIKAN MASING-MASING CONTOH

Disusun oleh :

SYIFA AULIA ( 321710049 )

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


UNIVERSITAS PELITA BANGSA
BEKASI
2020
Pertanyaan!
1. Jelaskan serta berikan contohnya mengenai istilah dibawah ini :
a. Sampling Acak Sederhana
b. Sampling Acak Berlapis (Stratified)
c. Sampling Sistematik
d. Sampling Klaster Sederhana
e. Sampling Klaster Tiga Tahap
f. Sampling Klaster Berlapis
g. Sampling Convenience
h. Sampling Purposip

2. Dari informasi berikut , tentukan yang termasuk sebagai sample atau


populasi :

a. Peserta ujian tengah semester


untuk prodi Arsitektur
b. Program studi Arsitektur di kota
Bandung
c. Masyarakat prasejahtera di Jawa
Barat
d. Pelanggan listrik di Jawa Barat
e. 30 Perusahaan tercatat sebgai
bagian dari perusahaan yang go
public
Jawab :

a. Menurut Para Ahli simple random sampling / sampling acak sederhana


adalah
 Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling adalah metode
penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga
setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk
terpilih atau terambil.
 Margono (2004: 126) menyatakan bahwa simple random sampling adalah
teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit
sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi
yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau
untuk mewakili populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi
dianggap homogen.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas, maka kami menyimpulkan bahwa,
pengertian teknik sampling acak sederhana adalah suatu teknik pengambilan
sampel atau elemen secara acak, dimana setiap elemen atau anggota populasi
memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel.

Contoh 1 : Sebuah populasi beranggotakan 4 elemen (e1, e2, e3, e4). Selanjutnya
akan dipilih dua elemen sebagai sampel, maka kemungkinan kombinasi 2 sampel
itu adalah sebagai berikut:

Kemungkinan I : e1,e2
Kemungkinan II : e1,e3
Kemungkinan III : e1,e4
Kemungkinan IV : e2,e3
Kemungkinan V : e2,e4
Kemungkinan VI : e3, X4

Contoh 2 : misal seorang peneliti memiliki daftar 100 orang populasi dan ingin
memilih 10 orang untuk menjadi sampel. Pertama, semua orang dalam populasi
ditandai dengan nomor 1-100. Nomor tersebut lalu diacak. Pengacakan bisa
meniru model arisan atau sekarang bisa menggunakan aplikasi acak nomor. 10
individu yang nomornya keluar menjadi sampel penelitiannya. Teknik ini
biasanya digunakan pada populasi yang homogen. Misal seseorang ingin meneliti
tentang proses belajar di kelas dalam satu kelas. Total muridnya berjumlah 100
orang. Peneliti tersebut bisa mewawancarai secara mendalam 10 orang sebagai
sampel.

b. Sampling Acak Sederhana Berlapis (Stratified)


Stratified random sampling adalah suatu teknik pengambilan sampel dengan
memperhatikan suatu tingkatan (strata) pada elemen populasi. Teknik sampling
ini juga mirip random sampling. Bedanya, peneliti membagi populasi ke dalam
beberapa strata atau tingkatan. Setelah populasi terbagi ke dalam beberapa strata,
random sampling dilakukan pada masing-masing strata atau tingkatan. Sampel
yang diambil di masing-masing tingkatan jumlahnya proporsional.

Misalnya, penelitian tentang pentingnya agama dikalangan mahasiswa Universitas


Hayam Wuruk. Peneliti membuat strata, mana mahasiswa baru, mana mahasiwa
tahun kedua, mana tahun ketiga, dan mana mahasiswa tahun akhir. Masing-
masing strata atau tingkatan diambil sampelnya secara proporsional menggunakan
random sampling. Misalnya, jumlah sampel mahasiswa baru 100 orang, jumlah
sampel mahasiswa tingkat lainnya sama atau mendekati 100 orang. Apabila hanya
1 mahasiswa tingkat akhir yang dijadikan sampel, misalnya, maka sampling tidak
proporsional.

c. Sampling Sistematik
Merupakan sistem pengambilan sampel yang dilakukan dengan menggunakan
selang interval tertentu secara berurutan. Teknik sampling ini dilakukan secara
sistematis dengan proses awal yang random. Pada mulanya, mirip dengan random
sampling, peneliti memberi nomor seluruh populasi. Daftar nomor populasi
tersebut diurutkan, lalu urutan nomor dalam daftar diacak. Setelah diacak, pada
setiap perhitungan tertentu, satu sampel diambil, dihitung lagi, satu sampel
diambil lagi untuk diteliti. Begitu seterusnya sampai jumlah sampel sesuai dengan
rencana awal.

Contoh 1 :seorang peneliti ingin meneliti pola konsumsi mahasiswa Fakultas


Ekonomi di suatu universitas. Jumlah total populasinya 1000 mahasiswa. Peneliti
ingin melakukan survei pada 100 mahasiswa saja. Teknik sampling yang
dilakukan, pertama-tama peneliti merencanakan, misal sampel yang diambil
adalah daftar nomor urut ke 10 dan kelipatannya (20,30,40, dst sampai 1000), lalu
peneliti mengacak daftar 1000 nomor yang semula berurutan. Setelah diacak,
dilihat kembali, mereka yang namanya berada di urutan nomor 10 dan
kelipatannya diambil sebagai sampel.

Contoh 2 : Misalnya sebuah penelitian membutuhkan 10 sampel dari 100 orang,


maka jumlah kelompok intervalnya 100/10=10. Selanjutnya responden dibagi ke
dalam masing-masing kelompok lalu diambil secara acak tiap kelompok.

Contoh Sampel Acak Sistematis adalah pengambilan sampel pada setiap orang
ke-10 yang datang ke puskesmas. Jadi setiap orang yang datang di urutan
10,20,30 dan seterusnya maka itulah yang dijadikan sampel penelitian.

d. Sampling Klaster Sederhana

Pengambilan sampel cluster adalah rencana pengambilan sampel


yang digunakan ketika pengelompokan yang homogen dan heterogen secara
internal terbukti dalam populasi statistik . Ini sering digunakan dalam riset
pemasaran . Dalam rencana pengambilan sampel ini, total populasi dibagi ke
dalam kelompok-kelompok ini (dikenal sebagai kelompok) dan sampel acak
sederhana dari kelompok-kelompok dipilih. Elemen-elemen dalam setiap cluster
kemudian dijadikan sampel. Jika semua elemen dalam setiap cluster sampel
dijadikan sampel, maka ini disebut sebagai rencana pengambilan sampel cluster
"satu tahap".
e. Sampling klaster tiga tahap
pengambilan sample cluster tiga tahap ini yaitu hasil dari tahap kedua juga masih
berupa juga klaster. Pada tahap ini diturunkan sampel dari masing-masing klaster
yang diperoleh dari tahap kedua. Sebagaimana proses sampling pada tahap
pertama dan kedua, tahap ketiga juga dapat menggunakan salah satu dari berbagai
teknik random yang ada.

f. sampling klaster berlapis


Metode One-Stage Cluster Sampling membagi populasi menjadi kelompok atau
kluster. Beberapa kluster kemudian dipilih secara acak sebagai wakil dari
populasi, kemudian seluruh elemen dalam cluster terpilih dijadikan sebagai
sampel penelitian. Sedangkan metode Two-Stage Cluster Sampling merupakan
pengembangan dari metode kluster sampling dimana pengambilan sampel
dilakukan secara dua tahap, yaitu tahap pertama, memilih beberapa kluster dalam
populasi secara acak sebagai sampel dan tahap kedua memilih elemen dari tiap
kluster terpilih secara acak (Scheafer et.al., 1996).

g. Sampling Convenience ( berbasis ketersediaan subjek )


Teknik ini dilakukan karena peneliti dihadapkan pada keberadaan subjek
penelitian yang sangat dinamis. Biasanya peneliti tidak mempunyai kontrol atas
jumlah populasi yang diteliti. Selain karena memang tidak ada datanya, sangat
mustahil menentukan jumlah populasi karena sangat dinamis, berubah-ubah dan
fleksibel.

Contoh teknik ini adalah menghentikan orang dijalan untuk dimintai


pendapatanya atau dilakukan survei kecil-kecilan. Misal penelitian tentang
preferensi fashion pengunjung event Java Jazz pada akhir taun ini. Survei
dilakukan pada pengunjung setempat ketika event diselenggarakan. Waktu survei
juga relatif singkat sehingga tidak mungkin dilakukan kepada semuanya. Jumlah
pengunjung juga tidak bisa diketahui karena tidak ada tiket masuk. Teknik
sampling ini biasanya dilakukan sebagai penelitian awal untuk mematangkan
penelitian awal yang lebih besar, misal hubungan antara penikmat Jazz dan selera
terhadap fashion.

h. Sampling Purposip

Merupakan pemilihan anggota sampel yang didasarkan atas tujuan


dan pertimbangan tertentu dari peneliti. Teknik sampling ini dilakukan
berdasarkan penilaian peneliti akan pengetahuan calon informan atau responden
untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penilaian bahwa informan tersebut
mempunya pengetahuan dilakukan secara subjektif berdasarkan pengamatan
peneliti. Pada umumnya, sampel yang dinilai mampu menjawab pertanyaan
penelitian adalah orang yang berpengalaman atau memiliki pengetahuan terkait
fokus penelitian.

Misal, penelitian tentang perilaku korup polisi lalu lintas. Peneliti menentukan
sampling dengan cara mengamati siapa saja orang-orang yang pernah merasa
dirugikan oleh oknum polisi lalu lintas, seperti ditilang tanpa alasan yang jelas,
dipersulit dalam pembuatan SIM, dan sebagainya. Teknik sampling ini disebut
purposif karena pemilihan sampel dilakukan dengan bertujuan.

2. Jawaban nomer 2

a. Peserta ujian tengah semester Sample


untuk prodi Arsitektur
b. Program studi Arsitektur di kota Populasi
Bandung
c. Masyarakat prasejahtera di Jawa Populasi
Barat
d. Pelanggan listrik di Jawa Barat Populasi
e. 30 Perusahaan tercatat sebgai Sample
bagian dari perusahaan yang go
public