Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INDIVIDU

TUGAS FARMAKOTERAPI
“Studi Kasus Penyakit Kanker Payudara”

OLEH :

NAMA : FREDY TALEBONG


NIM : O1A1 15 089
KELAS :C
DOSEN : SUNANDAR IHSAN, S. Farm., M. Sc. Apt.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KANKER PAYUDARA

1. Definisi Kanker Payudara (Breast Cancer)


Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari jaringan payudara.
Penyakit terbatas pada Lesi payudara lokal disebut sebagai awal, primer,
terlokalisir, atau dapat disembuhkan. Penyakit terdeteksi secara klinis atau
radiologis di tempat yang jauh dari payudara disebut sebagai lanjut atau
kanker payudara metastatik (MBC), yang biasanya tidak dapat disembuhkan.
(Dipiro, 2012)
Kanker payudara adalah pertumbuhan sel abnormal pada kelenjar
payudara. Kelenjar payudara tersebut bisa berupa lobul (kelenjar yang
memproduksi susu), duktus (tabung kecil yang membawa susu dari lobul ke
puting susu) dan stroma (jaringan lemak dan jaringan konektif disekitar lobul
dan duktus, pembuluh darah dan pembuluh limfatik).
(American Cancer Society, 2017).
2. Tanda dan Gejala Kanker Payudara (Breast Cancer)
Manifestasi klinik pada pasien kanker payudara adalah:
a. Umum
Pasien dapat tidak memiliki gejala, karena kanker payudara dapat
dideteksi pada pasien asimtomatik (tanpa gejala) walaupun telah skrining
rutin mamografi.
b. Tanda dan gejala lokal
1) Tanda yang paling umum adalah benjolan yang nyeri dan dapat teraba
2) Tanda yang kurang umum adalah nyeri, pelepasan puting susu,
retraksi, edema kulit dan kemerahan atau panas
3) Nodul kelenjar getah bening lokal yang teraba
c. Tanda dan gejala metastase sistemik
Tergantung dari tempat metastasenya, namun dapat termasuk nyeri tulang,
kesusahan bernafas, nyeri atau pembesaran abdomen, jaundice dan
perubahan status mental(Dipiro dkk., 2011).
3. Stadium Kanker Payudara (Breast Cancer)
Stadium (tingkat anatomis penyakit) didasarkan pada tingkat dan ukuran
tumor primer (T1-4), kehadiran dan tingkat keterlibatan kelenjar getah bening
(N1-3), dan ada tidaknya metastasis jauh (M0-1). Sistem pementasan
menentukan prognosis dan membantu dengan keputusan pengobatan sederhana
menyatakan, tahap ini dapat digambarkan sebagai berikut:
✓ Kanker Payudara Dini
 Stadium 0: Karsinoma in situ atau penyakit yang belum menyerang
basement selaput
 Stadium I: Tumor invasif primer kecil tanpa keterlibatan kelenjar getah
bening
 Stadium II: Keterlibatan kelenjar getah bening regional
✓ Kanker Payudara Secara Umum
 Stadium III: Biasanya tumor besar dengan keterlibatan nodal luas di mana
nodus atau tumor menempel pada dinding dada; juga termasuk kanker
payudara inflamasi, yang cepat progresif
✓ Kanker payudara stadium lanjut atau metastatik
 Stadium IV: Metastasis pada organ yang jauh dari tumor primer
Tabel. Pengelompokann Stadium Kanker Payudara Berdasarkan TNM
4. Terapi Kanker Payudara (Breast Cancer) :

KASUS KANKER PANYUDARA


Nama : Ny. MC
Umur : 54 tahun
JK : Perempuan
Ny. MC 54 tahun perempuan ke klinik. Hari ini/saat ini menerima siklus
pertama kemoterapi :
IV Docetaxel 75 mg/m2
IV Carboplatin untuk AUC 6 mg/mL/menit
Diulang tiap 21 hari. Akan menerima Trastuzumab 4 mg/kg IV untuk 1 dosis,
kemudian 2 mg/kg/minggu untuk 17 minggu. MC tidak alkoholik dan merokok.
Dia DM terkontrol dengan metformin dan diet. Telah memiliki 4 anak dan selalu
morning sickness tiap kehamilan. Tetangganya mengatakan kemoterapi
menyebabkan severe nausea dan vomiting.
Pertanyaan :
a. Mengapa kemoterapi menyebabkan severe nausea dan vomiting?
b. Bagaimana mekanisme CINV?
c. Bagaimana terapi untuk CINV?
d. Bagaimana rasionalitas terapi?

Jawab :
a. Alasan kemoterapi menyebabkan mual dan muntah berat :
Mual dan muntah yang ditimbulkan kemoterapi, Chemotherapy-
Induced Nausea and Vomiting (CINV) adalah salah satu efek samping
kemoterapi yang paling mencemaskan bagi pasien kanker, karena dapat
menyebabkan ketidaknyamanan parah dan mempengaruhi kualitas hidup.
Mual muntah merupakan efek samping dari kemoterapi yang
paling sering dilaporkan, menakutkan dan memberikan pengaruh yang
bermakna pada pasien terutama dalam kehidupan sehari-hari, kualitas
hidup pasien dan kepatuhan pada kemoterapi. Untuk mengatasi hal
tersebut, pasien kanker yang menjalani kemoterapi umumnya
menggunakan antiemetik sebagai profilaksis (Michaud, 2008).
Mual adalah suatu reflex yang dipicu oleh zat toksik, seperti agen
kemoterapeutik, yang menyebabkan kerusakan sel pada lambung dan usus
halus. Secara umum, agen ini akan terasa di dalam lambung atau mukosa
usus halus dan menyebabkan stimulasi vagal aferen yang berinteraksi
dengan otak belakang dari sistem saraf pusat (SSP), yang menghasilkan
tindakan pada vagal eferen yang pada akhirnya menyebabkan respon
emetik (Mustian dkk., 2011).
Faktor resiko CINV termasuk jenis kelamin pasien, dimana dari
beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan
mengalami mual muntah selama kemoterapi dibandingkan laki-laki
(Haryanto dkk., 2015)
Ketidakpatuhan pasien terhadap regimen antiemetik berpengaruh
terhadap respon mual muntah, dan kejadian tersebut memiliki prevalensi
tinggi pada pasien kanker payudara. Banyak pasien mengabaikan delayed
antiemetik. Mereka tidak menyadari bahwa regimenantiemetik diberikan
untuk mencegah kejadian CINV (Utaminingrum dkk., 2013).
Kemoterapi dilakukan untuk membunuh sel kanker dengan obat
anti kanker (sitostatika). Namun, pengobatan kanker dengan kemoterapi
bukan berarti tidak menimbulkan efek. Frekuensi pemberian kemoterapi
dapat menimbulkan beberapa efek yang dapat mempengaruhi kualitas
hidup pasien. Efek kemoterapi yaitu supresi sumsum tulang, gejala
gastrointestinal seperti mual, muntah, kehilangan berat badan, perubahan
rasa, konstipasi, diare, dan gejala lainnya alopesia, fatigue, perubahan
emosi, dan perubahan pada sistem saraf (Wahyuni, 2015).
Mual dan muntah pada pasien kanker yang dikemoterapi
diakibatkan oleh adanya stimulasi pada pusat muntah oleh chemoreceptor
trigger zone (CTZ) sebagai efek samping dari obat-obat yang digunakan
pada kemoterapi. Disamping itu juga melalui korteks yang diakibatkan
oleh kecemasan yang kemudian merangsang pusat muntah (Susanti, 2012).
b. Mekanisme CINV (Cancer Induced Nausea and Vomiting) :
Mekanisme fisiologik yang menyebabkan terjadinya mual dan
muntah ini belum seluruhnya diketahui. Koordinasi aktivitas gerakan yang
kompleks dari lambung dan otot-otot abdomen terletak di “pusat muntah”,
yang berlokasi di dalam formasi retikularis di medulla. Pusat muntah
menerima masukan dari chemoreceptor trigger zone (CTZ) yang berlokasi
di lantai ventrikel keempat, apparatus vestribular, dan daerah-daerah lain.
CTZ memberikan respon terhadap ransangan kima, seperti obat
kemoterapi kanker, yang jelas terbukti melalui aktivitas reseptor dopamine
atau serotonin (Tehuteru, 2007).
Sumber yang dapat menjadi input ke pusat muntah antara lain :
a) Chemtherapy trigger zone yang mengandung reseptor dopamine D2,
reseptor serotonin 5-HT3, reseptor opioid, reseptor asetilkolin, dan
reseptor substansi P. Stimulasi dari reseptor yang berbeda tersebut dapat
merangsang pusat muntah melalui jalan yang berbeda.
b) Sistem vestibular yang memberikan sinyal ke otak melalui saraf otak
ke-VIII (vestibulocochlearis). Sistem ini berperan pada gejala muntah
yang disebabkan oleh mabuk perjalanan (motion sickness) dan berkaitan
denagn reseptor muskarinik dan reseptor histamine H1.
c) Saraf otak ke-X(vagus) diaktivasi bila daerah faring terangsang
sehingga menimbulkan reflex muntah.
d) Sistem saraf usus dan vagus merupakan input dari sistem
gastrointestinal. Iritasi dari mukosa gastrointestinal karena kemoterapi,
radiasi, distensi usus, dan gastroenteritis dapat mengaktivasi reseptor 5-
HT, melalui jalur ini.
e) Susunan saraf pusat mempunyai peran pada muntah yang berkaitan
dengan gangguan psikiatrik dan stress.
Mual dan muntah dipicu oleh impuls aferen ke pusat muntah, inti
sel di medula. Impuls diterima dari pusat sensorik, termasuk zona pemicu
kemoreseptor (chemoreceptor trigger zone/CTZ), korteks serebral, dan
aferen viseral dari faring dan saluran gastrointestinal. Impuls aferen ini
diintegrasikan oleh pusat muntah, menghasilkan impuls eferen ke pusat
saliva, pusat pernapasan dan faring, gastrointestinal, dan otot abdomen,
yang dapat menyebabkan muntah.
CTZ, yang terletak di daerah postrema ventrikel ke empat otak,
merupakan organ makrofensor utama untuk emesis dan biasanya
berhubungan dengan muntah yang diinduksi senyawa kimia. Karena
lokasinya, racun darah dan serebrospinal memiliki akses mudah ke CTZ.
Oleh karena itu, agen sitotoksik terutama merangsang area ini
dibandingkan korteks serebral dan aferen viseral. Banyak reseptor
neurotransmiter terletak di pusat muntah, CTZ, dan saluran pencernaan
termasuk reseptor kolinergik, histamin, dopamin, opiat, serotonergik,
neurokinin, dan benzodiazepine. Agen kemoterapeutik, metabolitnya, atau
senyawa emetik lainnya secara teoritis memicu proses emesis melalui
stimulasi dari satu atau lebih reseptor ini. Antiemetik yang efektif dapat
mengantagonis atau menghalangi reseptor emetogenik (Dipiro dkk., 2011).
c. Terapi untuk CINV pada kasus Ny. MC :
Untuk kondisi klinis pasien Ny. MC, pasien menerima obat kemoterapi
Carboplatin yang resiko emetogenisitas sedang dengan resiko tinggi CINV
tertunda (30-90%), Docetaxel yang resiko emeteogenisitasnya rendah (10-
30%), dan Trastuzumab yang resiko emetiknya minimal (<10%)
(Alldredge dkk., 2013). Berdasarkan regimen kemoterapinya, maka Ny.
MCberada dalam resiko sedang untuk CINV akut dan dalam resiko tinggi
untuk gejala CINV tertunda. Regimen antiemetik yang sesuai yang saya
rekomendasikan untuk Ny. MC adalah :
Antiemetik yang direkomendasikan untuk agen kemoterapi yang termasuk
kriteria high emetic risk adalah dolasetron 100 mg PO atau granisetron 2
mg PO atau ondansetron 16-24 mg PO palonosetron 0,25 mg IV pada hari
pertama sebelum kemoterapi dan dexamethasone 12 mg PO atau IV pada
hari pertama, dilanjutkan 8 mg PO pada hari ke 2-4 dan apprepitant 125
mg PO pada hari pertama, dilanjutkan 80 mg PO pada hari ke 2-3. Dapat
ditambahkan lorazepam 0,5-2 mg PO atau IV dan atau H2 reseptor bloker
atau proton pump inhibitor.
(Alldredge dkk., 2013 ; Dipiro dkk., 2011; APha, 2009).
d. Kerasionalan terapi yang diterima pasien Ny. MC :
Terapi yang diterima oleh Ny. MC dapat dikatakan tidak rasional jika
dilihat dari salah parameter yakni tepat dosis dan tepat aturan pakai pada
obat trastuzumab. Untuk siklus pertama pada regimen docetaxel-
carboplatin-trastuzumab, seharusnya trastuzumab diberikan sebesar 4
mg/kgBB pada hari pertama sebagai loading dose, kemudian diikuti
dengan 2 mg/kgBB/hari pada hari ke 8 dan ke 15 pada siklus pertama
selama 21 hari (AphA, 2009). Pada regimen terapi Ny. MC, trastuzumab
diberikan 2 mg/kgBB/minggu selama 17 minggu yang akan melewati total
dosis yang seharusnya hanya 8 mg/kgBB per siklusnya. Akibatnya hal itu
akan mengarah pada memperparah mual dan muntah yang diinduksi
kemoterapi (CINV) yang dialami oleh Ny. MC. Ditambah lagi dengan
riwayatnya yang mempunyai bakat selalu morning sickness setiap
kehamilannya. Sementara itu, pemberian regimen terapi pada Ny. MC
sudah tepat obat dan tepat pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Alldredge, B.K. dkk., 2013, Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs
Koda-Kimble & Youngs, Lippincott Williams & Wilkins, United States.

American Cancer Society, 2017, Breast Cancer, American Cancer Society,


United States.

American Pharmacists Association, 2009, Drug Information Handbook, 19th


Edition, Lexi-comp, United States.

Breastcancer. org, 2015, Stage IIIA & Operable III C Treatment Options.
Dilansir online di
http://www.breastcancer.org/treatment/planning/cancer_stage/stage_iiia_
op_iiic. [Diakses pada tanggal 10 Desember 2017].

Breastcancer.org, 2015, Stage IIIB & Inoperable IIIC Treatment Options.


Dilansir online di
http://www.breastcancer.org/treatment/planning/cancer_stage/stage_iiib_
inop_iiic. [Diakses pada tanggal 10 Desember 2017].

Dipiro, J.T. dkk., 2011, Pharmacoteraphy Handbook : A Pathophysiologic


Approach, 8th Edition, Mc-Graw Hill Medical, New York.

Hariyanto, B. E. P., Max F. J. M., Audrey w., 2015, Kejadian Muntah pada
Penderita Kanker yang Menjalani Pengobatan Kemoterapi di RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado, Jurnal e-Clinic (eCl), 3(3).

Mustian, K.M., dkk., 2011, Treatment of Nausea and Vomiting During


Chemotherapy. US Oncol Hematol. 7(2).

Susanti, I., 2012, Karakteristik Mual dan Muntah Serta Upaya Penanggulangan
Oleh Penderita Kanker yang Menjalani Kemoterapi. J Keperawatan
Klin, 3(1).

Utaminingrum, W., Lukman H., Budi R., 2013, Evaluasi Kepatuhan dan Respon
Mual Muntah Penggunaan Antiemetik pada Pasien Kanker Payudara
yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarno,
Jurnal Pharmacy, 10(2).

Wahyuni, T., 2015, Hubungan Antara Frekuensi Kemoterapi dengan Kualitas


Hidup Perempuan dengan Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi
di Ruang Kemoterapi RSUD A. M Parikesit Tenggarong, Jurnal Ilmu
Kesehatan, 3(2).
Wells, B.G., Dipiro, J.T., Schwinghammer, T.L., Dipiro, C.V., 2012,
Pharmacoteraphy Handbook, 9th Edition, Mc-Graw Hill Education, New
York.