Anda di halaman 1dari 22

TUGAS INDIVIDU

FARMASI SOSIAL

“KEDUDUKAN HUKUM DAN ETIKA KEFARMASIAAN DALAM

PELAYANAN FARMASI MENCAKUP LANDASAN KODE ETIK

FARMASI ASPEK FILOSOFI FAN SOSIAL FARMASI ,PERATURAN

PELAYANAN KEFARMASIAAN (PP 51 TAHUN 2009) FORMULARIUM

NASIONAL DAN KEDUDUKAN FUNGSINYA".

OLEH :

NAMA : MUHAMMAD SYAMSIR MURSALI

NIM : O1A1 18 175

KELAS : C

DOSEN : Apt. MISTRYANI, S.Farm., M.Sc.

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuknya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah dengan tema KEDUDUKAN HUKUM DAN ETIKA
KEFARMASIAAN DALAM PELAYANAN FARMASI MENCAKUP
LANDASAN KODE ETIK FARMASI ASPEK FILOSOFI FAN SOSIAL
FARMASI ,PERATURAN PELAYANAN KEFARMASIAAN (PP 51 TAHUN
2009) FORMULARIUM NASIONAL DAN KEDUDUKAN FUNGSINYA.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu
Apt.MISTRYANI.S.Farm,M.Sc. selaku dosen mata kuliah Farmasi sosial.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan


dalam penyajian data dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini berguna dan dapat menambah pengetahuan
pembaca.

Demikian makalah ini penulis susun, apabila ada kata- kata yang
kurang berkenan dan banyak terdapat kekurangan, penulis mohon maaf yang
sebesar- besarnya.

Kendari, 18 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1
Latar Belakang......................................................................................................................1
Tujuan..................................................................................................................................2
BAB II TEORI.............................................................................................................................3
PENGERTIAN ETIKA..............................................................................................................3
KAIDAH ETIKA DAN HUKUM.................................................................................................6
Kode Etik Apoteker...............................................................................................................6
Kode Etik Asisten Apoteker..................................................................................................8
BAB III KASUS.........................................................................................................................10
BAB IV PEMBAHASAN...........................................................................................................11
Kajian Menurut Undang – undang.....................................................................................11
Sanksi.................................................................................................................................15
BAB V KESIMPULAN & SARAN...............................................................................................17
Kesimpulan.........................................................................................................................17
Saran..................................................................................................................................17

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etika merupakan studi tentang nilai dengan pendekatan kebenaran. Kata etik
(atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak
kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep
yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-
tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Kata
etika sering disebut dengan istilah etik atau ethics (bahasa Inggris) atau ethicus
(bahasa Latin) yang berarti  kebiasaan. Maka secara etimologi, yang dikatakan
baik adalah yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Namun dalam
perkembangannya, pengertian etka tersebut telah mengalami perubahan yang
jauh dari makna awal.
Etika adalah studi tentang nilai-nilai manusiawi yang berhubungan dengan
nilai kebenaran dan ketidakbenaran yang didasarkan atas kodrat manusia serta
manifestasinya di dalam kehendak dan perilaku manusia. Pelanggaran etika
belum tentu melanggar UU, namun hanya melanggar sumpah (etika). Sedang
pelanggaran UU pasti melanggar etika juga.
Hukum dapat diartikan sebagai kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan
bersama tentang hak dan kewajiban, yang apabila dilanggar akan memperoleh
suatu sanksi yang tegas dan konkret. Jadi fungsi hukum adalah mengatur tatanan
kehidupan dalam melaksanakan hak dan kewajiban di masyarakat.
Oleh sebab itu, untuk melindungi kepentingan masyarakat, maka perilaku
seseorang dalam menjalankan profesinya tidak cukup hanya diatur oleh kaidah
etika, tetapi juga perlu adanya kaidah hukum, agar kepentingan yang diatur dan
dilindungi oleh kaidah etika dapat berlaku secara efektif.

1
2

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas
kuliah etika profesi dan untuk mengkaji studi-studi kasus pelanggaran oleh
profesi kesehatan.
BAB II
TEORI

A. PENGERTIAN ETIKA
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup
tingkatinternasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana
seharusnya manusiabergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi
saling menghormati dan dikenaldengan sebutan sopan santun, tata krama,
protokoler dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan
masing-masing yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung
tanpa merugikankepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah
dijalankan sesuai denganadat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan hak-hak asasi umumnya.Hal itulah yang mendasari tumbuh
kembangnya etika di masyarakat kita.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat
kebiasaan manusiadalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana
yang benar dan mana yangburuk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik,
berasal dari kata Yunani ETHOS yangberarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-
kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah lakumanusia yang baik, seperti yang
dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini:
1. Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia
dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

3
4

2. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang
tingkah lakuperbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh
yang dapat ditentukanoleh akal.
3. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara
mengenai nilaidan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam
hidupnya.

Menurut Sonny Keraf, etika dapat dibagi menjadi :


a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana
manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan
etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi
pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai
baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan
ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-
teori.
b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar
dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud :
1) Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang
kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh
cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar.
2) Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai
prilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan
khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan
manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu
keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada
dibaliknya.
5

c. ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :


a) Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia
terhadap dirinya sendiri.
b) Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola
perilaku manusia sebagai anggota umat manusia. Etika sosial
menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung
maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap
kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi-idiologi
maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.

Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap
diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini
terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan
bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
6. Etika ideologi
Ada dua macam etika yang harus kita pahami dalam menentukan baik
dan buruknya perilaku manusia :
1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis
dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia
dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan
fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap
yang mau diambil.
6

2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap


dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup
ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian
sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan
diputuskan

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia.


Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui
rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk
mengambil sikap dan bertindaksecara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika
pada akhirnya membantu kita untukmengambil keputusan tentang tindakan apa
yang perlu kita lakukan dan yang pelru kitapahami bersama bahwa etika ini
dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita

B. KAIDAH ETIKA DAN HUKUM


Dalam melakukan penyerahan perbekalan farmasi (obat) kepada
konsumen di apotek diatur oleh 2 macam kaidah yaitu kaidah etika dan kaidah
hukum, sehingga seorang apoteker dapat mengetahui wewenang dan tanggung
jawab apa saja yang dapat dilimpahkan kepadanya dalam pelayanan
kefarmasian kepada masyarakat. Bagaimana seorang apoteker (APA)
melaksanakan tugas dan tanggung jawab pekerjaan kefarmasian di apotek
sesuai dengan kode etik kefarmasian baik kepada konsumen ataupun kepada
profesi lain? Apakah bila seorang apoteker melanggar kode etik pelayanan
kefarmasian akan ada sanksi pidananya?
Kode Etik Pelayanan Kefarmasian
a. Kode Etik Apoteker
Yang menjadi dasar kode etik pelayanan kefarmasian bagi
apoteker dalam melaksanakan fungsinya di apotek dapat dilihat dari dua
sudut yaitu :
7

1) Batas keilmuan dan wewenang apoteker yaitu hanya sebatas :


Membuat, mengolah, meracik, mengubah bentuk, mencampur,
menyimpan dan menyerahkan obat atau bahan obat kepada
konsumen.
2) Tugas dan tanggung jawab moral apoteker yaitu:
a) Menghormati hak-hak konsumen seperti :
1. Wajib melayani permintaan obat dari dokter, dokter gigi,
dokter hewan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Tidak mengurangi jumlah obat artinya bahwa apoteker itu
dilarang untuk menyerahkan jumlah obat yang tidak sesuai
dengan yang diminta di resep tanpa adanya persetujuan
dari dokter atau konsumennya.
3. Tidak menyerahkan obat yang sudah rusak atau melampaui
batas kadaluarsa (expired) artinya bahwa apoteker dilarang
untuk menyerahkan obat yang tidak lagi memenuhi syarat
baku yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia.
4. Tidak menggan jenis obat artinya bahwa apoteker dilarang
untuk menyerahkan obat yang tidak sesuai dengan yang
diminta di resep atau mengganti dengan obat lain yang
fungsi dan isinya sama (lain merk) tanpa adanya
persetujuan dokter atau dari konsumennya.
5. Wajib menyimpan resep minimal selama 3 tahun, dan
dapat memberikan informasi kembali tentang resep
tersebut, apabila konsumen atau dokter penulis resep
tersebut memerlukannya.
6. Wajib memberikan informasi tentang cara dan waktu
pakai, jumlah pemakaian dalam sehari, cara menyimpan
obat dirumah, efek samping yang mungkin akan terjadi dan
cara mengatasinya.
8

b) Menghormati hak-hak profesi lain (dokter) yaitu :


1. Tidak melakukan diagnosis penyakit, pengobatan dan
perawatan artinya bahwa apoteker dan petugas apotek
lainnya tidak melakukan suatu diagnosis dan pengobatan
terhadap (gejala) suatu penyakit yang dialami konsumen.
Akan tetapi apabila apoteker memberikan informasi sesuai
dengan keilmuan tentang fungsi obat dan konsumen
menetapkan untuk membeli obat dan mengobati sendiri
penyakitnya (self medication), maka apoteker dan petugas
apotek dapat menyerahkan obat tersebut sesuai dengan
etika dan peraturan yang berlaku.
2. Tidak mengganti jenis obat artinya bahwa apoteker dan
petugas apotek lainnya dilarang mengganti obat yang
diminta di resep dengan obat lain yang fungsi dan isinya
sama (lain merk) tanpa adanya persetujuan dokternya.
3. Bila dokter menulis dosis obat yang melebihi dosis
maksimal, maka apoteker dan petugas apotek lainnya harus
meminta “paraf dokter” dan :tanda seru” dibelakang
jumlah obatnya sebelum obat tersebut diserahkan kepada
konsumen.
4. Tidak menangani efek samping obat yang dialami oleh
konsumen artinya bahwa apoteker dan petugas apotek
lainnya dilarang mengobati (memberi obat) untuk
mengatasi efek samping yang dialami oleh konsumen
tanpa persetujuan dokter.
b. Kode Etik Asisten Apoteker
1) Tugas dan Kewajiban :
a) Dalam pelayanan obat bebas dan resep mulai dari menerima
pasien sampai menyerahkan obat yang diperlukan.
9

b) Menyusun buku Defacta setiap pagi (membantu bagi


pembelian) memelihara buku harga, sehingga selalu up to date.
c) Mengerjakan pembuatan persediaan obat “Aanmaak” seperti
OBH, Liquor, Sol. Rivanol, Sol, Jodii Spiritousa, SASA, dan
lain-lain.
d) Mencatat dan membuat laporan keluar masuknya obat
narkotika, obat K-B (Keras dan Bebas), OKT amphetamine,
dan lain-lain.
e) Menyusun resep-resep menurut nomor urut dan tanggal dan di
bundel kemudian disimpan.
f) Memelihara kebersihan ruang peracikan, lemari obat.
g) Menyusun obat-obat dan mencatat obat dengan adanya kartu
dengan rapi.
h) Bila gudang terpisah dari ruang peracikan, memelihara
kebersihan gudang, rak obat, serta penyusunan obat plus kartu
stock yang rapi serta mengontrolnya. (Dalam hal darurat, dapat
menggantikan pekerjaan sebagai penjual obat bebas, sebagai
juru resep, dan lain-lain).
2) Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada askep sesuai dengan tugas yang
diselesaikannya, tidak boleh adanya kesalahan, kekeliruan
kekurangan, kehilangan dan kerusakan.
BAB III
KASUS

Setahun yang lalu saya sempat bekerja disalah satu Rumah Sakit yang
lumayan dikenal di kalangan masyarakat kota Tangerang. Selama bekerja disana
saya menemukan pelanggaran-pelanggaran etika farmasi diantaranya seperti,
kurangnya keramahan dalam melayani pasien, apoteker jarang berhadapan langsung
dengan pasien dan jarang berada di Instalasi Farmasi, kurangnya pemberitahuan
informasi dan edukasi yang cukup kepada pasien, contohnya kegunaan obat yang
signifikan, efek samping obat yang mungkin asing dialami oleh pasien , Apoteker
juga tidak mengawasi asisten apoteker dalam melakukan peracikan dan pekerjaan
kefarmasiannya, dan obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada.

10
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Kajian Menurut Undang – undang
Berdasarkan permasalahan diatas, kami menemukan beberapa ketidak
hubungan antara yang terjadi dengan yang terdapat di peraturan – peraturan yang
berlaku mengenai kesehatan dan pelayanan kesehatan. Peraturan-peraturan itu
sebagai berikut :

1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


Pasal 5
“Setiap orang memiliki hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu, dan terjangkau”
Pasal 8
“Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah dan akan diterimanya dari
tenaga kesehatan”.
Pasal 108
“Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan”

2. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang PekerjaanKefarmasian:


Pasal 1
(13)“Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh apoteker

11
12

Pasal 20

“Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan


Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau
Tenaga Teknis Kefarmasian”
Pasal 21
(1) “Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan
kefarmasian”.
(2) “Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan
oleh Apoteker”
Pasal 51
(1) “Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi
rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker”

3. Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/MENKES/PER/SK/X/2002 Tentang


Ketentuan dan Tata Cara Pemebrian Izin Apotek
Pasal 19
(1) “Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya
pada jam buka Apotik, Apoteker Pengelola Apotik harus menunjuk
Apoteker pendamping.”
(2) “Apabila Apoteker Pengelola Apotik dan Apoteker Pendamping karena
hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola
Apotik menunjuk .Apoteker Pengganti”

4. Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MENKES/SK/IX/2004 Tentang


Standar Pelayanan di Apotek
Bab III tentang pelayanan, standar pelayanan kesehatan di apotek meliputi:
a. Pelayanan resep : apoteker melakukan skrining resep dan penyiapan obat
13

b. Apoteker memberikan promosi dan edukasi


c. Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian (homecare)
1) Penyiapan obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan
akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat
dilakukan oleh apoteker disertai dengan informasi obat dan konseling
kepada pasien dan tenaga keseahatan.
(3.6) Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
hewan kepada apoteker untuk menyediakan obat bagi pasien sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
(3.8) Pharmaceutical care adalah bentuk pelayanan dan tanggung
jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.
a) Sumber Daya
“Apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang professional
yang senantiasa mampu melaksanakan dan memberikan
pelayanan yang baik.”
b) Sarana dan Prasarana
“Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh
apoteker untuk menerima konseling dan informasi.”
c) Pelayanan resep: Apoteker melakukan skrining resep hingga
penyiapan obat
“Pelayanan resep yang dilakukan oleh apoteker yang di apotek
yang dimulai dari skrining resep meliputi: persyaratan
administratif (Nama, SIP dan alamat dokter,tanggal penulisan
resep, tanda tangan dokter penulis resep, nama, alamat, umur,
jeniskelamin dan berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis,
dan jumlah obat, cara pemakaian yang jelas), kesesuaian
farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
14

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian) dan pertimbangan


klinis (efek samping, interaksi, kesesuaian). Selain itu, apoteker
juga memiliki tugas untuk melakukan penyiapan obat meliputi
tahap: peracikan dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah
obat, etiket yang jelas, kemasan obat yang diserahkan dengan
rapidan terjaga kualitas.
d) Pelayanan Resep : Apoteker melakukan penyerahan obat.
“ Sebelum obat diserahkan, obat harus dicek kembali antara obat
dan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker sambil
dilakukan pemberian informasi obat sekurang-kurangnya: cara
pemakaian, cara penyimpanan, jangka waktu
pengobatan,aktivitas serta makanan dan minuman yang harus
dihindari; dan dilakukan konseling untuk memperbaiki kualitas
hidup pasien.

Promosi dan Edukasi “Dalam meningkatkan pemberdayaan


masyarakat, Apoteker harus berpartisipasi aktif dalam promosi
dan edukasi kesehatan.”

5. Kode etik apoteker


Pasal 3
“Setiap apoteker/Farmasis harus sennatiasa menjalankan profesinya sesuai
kompetensi Apoteker/Farmasis Indonesia serta selalu mengutamakan dan
berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan
kewajibannya “
Pasal 5
“Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker/Farmasis harus menjauhkan
diri dariusaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisiluhur jabatan kefarmasian”
15

6. Lafal sumpah dan janji apoteker


“Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan farmasi”.
Dari kasus di atas “Pasien atau konsumen ketika membeli obat di apotek
hanya dilakukan oleh asisten apoteker”. Hal ini melanggar pasal-pasal di atas.
Pelayanan kefarmasian diapotek harus dilakukan oleh apoteker, jika apoteker
berhalangan hadir seharusnya digantikan oleh apoteker pendamping dan jika
apoteker pendamping berhalangan hadir seharusnya digantikan oleh apoteker
pengganti bukan digantikan oleh asisten apoteker atau tenaga kefarmasian
lainnya. Tenaga kefarmasian dalam hal ini asisten apoteker hanya membantu
pelayanan kefarmasian bukan menggantikan tugas apoteker.

B. Sanksi
Ketika seorang apoteker dalam menjalankan tugasnya tidak mematuhi kode
etik apoteker, maka sesuai dengan kode etik apoteker Indonesia pasal 115 yang
berbunyi.
“Jika seorang apoteker baik dengan sengaja maupun tidak disengajamelanggar
atau tidak memenuhi kode etik apoteker Indonesia, maka dia wajib mangakui dan
menerima sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi yang menanganinya
(IAI), dan mempertanggung jawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Sehingga seorang apoteker bisa mendapatkan sanksi sebagai berikut :
1. Teguran dari IAI terhadap apoteker maupun apotek yang bersangkutan.
2. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan :
a. Pasal 198 : Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan
untuk melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam
16

pasal 108 dipidana dengan denda paling banyak Rp.100.000.000,00


(seratus juta rupiah).

b. Pasal 201
1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190
ayat (1), pasal 191, pasal 192, pasal 196, pasal 197, pasal 198, pasal
199, pasal 200 dilakukan oleh korporasi, selain dipidana penjaradan
denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap
korporasi berupa pidanadenda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari
pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1), Pasal
191, Pasal 192, Pasal 196 , Pasal 197, Pasal 198,Pasal 199, dan Pasal
200.
2) Selain pidana denda sebagaiman dimaksud pada ayat (1), korporasi
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa :
a) Pencabutan izin usaha; dan/atau
b) Pencabutan status badan hukum
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari rincian di atas terdapat beberapa pelanggaran yang dilakukan dalam
menjalani profesi sehari-hari yang tertera dalam undang-undang. Seorang
Apoteker maupun Tenaga Tekhnis Kefarmasian seharusnya melakukan
pekerjaannya dengan baik dan sesuai dengan etika farmasi yang benar. Etika
farmasi dalam hal ini jelas sangat diperlukan guna menjaga martabat serta
kehormatan profesi, dan disamping itu juga untuk melindungi masyarakat dari
segala bentuk penyimpangan maupun peyalahgunaan keahlian.

B. Saran
Sebaiknya dilakukan penerapan dan pemberitahuan kepada Tenaga Tekhnis
Kefarmasian bagaimana menjalani profesi yang sesuai dengan undang-undang
yang berlaku, dan jika ada yang melanggar terlebih dahulu di tegur melalui
lisan, melakukan pekerjaan sesuai dengan etika yang ada guna
mensejahterakan masyarakat dan agar terhindar dari tuduhan-tuduhan
terhadap profesi yang kita jalani.

17
DAFTAR PUSTAKA
http://hadikurniawanapt.blogspot.co.id/2012/07/kumpulan-materi-etika-kefarmasian-
1.html
http://dokumen.tips/documents/etika-pelayanan-kefarmasian.html
Daris,Azwar. 2012. Pengantar Hukum dan Etika Farmasi. Tangerang : Duwo Okta

18