Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH IDENTIFIKASI ION Na+ dan Cl- ( SENYAWA Na Cl )

D3-1B
NAMA KELOMPOK
1. Nyoman Suartini (42)
2. I Gusti Ngurah Agustia Adi Surya Taksu Irlangga (11)
3. Dian Galuh Tiarini (08)
4. Agus Sudharma Yasa (01)
5. Dewa Ayu Vira Dian Ivari Dewi (05)

PROGRAM STUDI D3 FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
TAHUN AJARAN 2020/2021
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Banyak ion-ion terlarut yang kita temui di sekitar kita misalnya pada air laut, sungai,
limbah, atau pun dalam bentuk padatannya seperti pada tanah dan pupuk. Unsur logam dalam
larutannya akan membentuk ion positif atau kation, sedangkan unsur non logam akan
membentuk ion negatif atau anion. Metode yang digunakan untuk menentukan keberadaan
kation dan anion tersebut dalam bidang kimia disebut analisis kualitatif.

Banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan analisis kualitatif.Ion-ion


dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisika dan kimianya. Beberapa metode analisis kualitatif
modern menggunakan sifat fisika seperti warna, spektrum absorpsi, spektrum emisi, atau
medan magnet untuk mengidentifikasi ion pada tingkat konsentrasi yang rendah. Namun
demikian kita juga dapat menggunakan sifat fisika dan kimia untuk mengembangkan suatu
metode analisis kualitatif menggunakan alat-alat yang sederhana yang dipunyai hampir
semua laboratorium.Sifat fisika yang dapat diamati langsung seperti warna, bau, terbentuknya
gelembung gas atau pun endapan merupakan informasi awal yang berguna untuk analisis
selanjutnya.

Untuk analisis kualitatif sistematik kation diklasifikasikan dalam lima golongan


berdasrkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagen. reagen yang dipakai untuk
klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hydrogen sulfide, ammonium
sulfide dan asam karbonat.Anion merupakan ion yang muatan totalnya negatif akibat adanya
kenaikan jumlah elektron.Misalnya : atom klorin (Cl) dapat memperoleh tambahan satu
elektron untuk mendapat ion klorida (Cl-). Natrium klorida (NaCl), yang dikenal sebagai
garam dapur, disebut senyawa ionik (ionik compound) karena dibentuk dari kation dan
anion.Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas maka perlu dilakukan pengidentifikasian
suatu larutan untuk menguji adanya kation dan anionnya.

II. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum uji kation dan anion ini yaitu dapat melakukan dan
mengindentifikasi beberapa anion dan kation dengan uji spesifik atau secara analisis
kualitatif.

III. Prinsip Percobaan

Adapun prinsip percobaan dari praktikum uji kation dan anion ini yaitu
pengidentifikasian anion dan kation berdasarkan analisis kualitatif pada larutan-larutan kimia
tertentu.
BAB II

TEORI PENDUKUNG

Kation pada posisi A umumnya berupa unsur-unsur seperti Ca, Sr, Ba, Pb, Bi, Na atau
campuran dari unsur-unsur ini, sedangkan kation pada posisi B ditempati oleh kation dengan
muatan yang tinggi seperti Ti4+, Nb5+, Ta5+, W6+atau Mo6+. Lapisan [Bi2O2]2+terbentuk
dari anion oksigen yang membentuk jaringan bujur sangkar dengan kation Bi3+ pada bagian
atas dan bawah dan dapat pula digambarkan sebagai piramida segi empat yang saling
bergantian. Kation pada posisi A akan membentuk struktur perovskit yang berkoordinasi
dengan 12 atom oksigen. Sedangkan kation-kation bermuatan tinggi yang terdapat pada
posisi B akan berkoordinasi dengan 6 atom oksigen membentuk suatu oktahedron BO6
(Rizalet all, 2007).

Dalam diagram spesiasi kompleks, keberadaan masing-masing spesies ion kompleks


dari berbagai jenis logam merupakan fungsi pH. Oleh karena itu, keberadaan masing-masing
spesies ion logam dan jumlah fraksinya dalam hubungannya dengan fungsi pH, secara mudah
dapat diketahui.Hal ini sangat membantu dalam mengembangkan metode pemisahan,
terutama yang berhubungan dengan selektivitas pemisahan.Dengan mengatur pH larutan,
dapat dikondisikan bahwa spesies ion logam tertentu berada dalam jumlah maksimal. Spesies
ion logam tersebut dapat diikat dengan menggunakan adsorben (misalnya surfaktan),
sementara spesies ion logam lain yang tidak dikehendaki dapat dipisahkan (suhartaet all,
2010).

Keberadaan anion antarlapis dapat menyebabkan interaksi dengan kation


logam.Gugus hidroksi pada bidang lapis dapat berinteraksi dengan kation logam. Telah
melakukan penukaran anion pada Co, Al, CO3 hidrotalsit dengan - - - anion penukar Cl ,
NO3 , ClO4 , asetat, laktat, dodesil sulfat, dan oleat dengan metode garam asam.Selain
sebagai penukar ion, hidrotalsit mempunyai beberapa aplikasi yaitu sebagai katalis,
pengemban katalis, bidang industri, obat dan adsorben (Rotoet all,2008).

Penukar ion kebanyakan berupa bahan bahan organik, yang umumnya dibuat secara
sintetik. Bahan tersebut sering juga disebut resin penukar ion. Penukar ion mengandung
bagian-bagian aktif dengan ion yang dapat ditukar.Bagian aktif semacam itu pada penukar
anion kelompok amonium kuartener – N- (CH3) 3+ OH- (dengan sebuah ion OH- yang dapat
ditukar).Media penukar ion sering disebut dengan resin. Resin kation yang sering
dipergunakan adalah resin anion basa kuat. Resin anion basa kuat terbuat dari plastik atau
polimer yang direaksikan dengan gugus senyawa amine atau amonium. Dua jenis resin basa
kuat yang sering dipergunakan dalam pengolahan air atau air limbah adalah resin yang
mempunyai tiga gugus metil (Pujiastutiet all,2008).

Salah satu contoh penggunaan uji kation dan anion dalam penerapannya, yaitu pada
Persentase kejenuhan basa (KB) suatu tanah yang membandingkan antara jumlah
miliekuivalen kation basa dengan miliekuivalen kapasitas tukar kation (KTK). Apabila suatu
tanah mempunyai persentase kejenuhan basa 40, berarti 40 % bagian dari seluruh kapasitas
tukar kation ditempati oleh kation basa (Ca, Mg, K, Na). kation Al3+dan H+merupakan
kation
lain yang dominant terjerap, sedangkan kation lainnya kurang berarti. Oleh karena itu
tanah dengan KB 40 % berarti 60 % adalah Al3+dan H+, dan nilai pH rendah, sebaliknya di
daerha kering, basa-basa jauh lebih banyak daripada Al3+dan H+, oleh karenanya pH tinggi
(Ernawatiet all, 2008).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

Metode praktikum yang digunakan pada percobaan uji kation dan anion yaitu melalui uji
spesifik analisis kualitatif.

I. Alat dan bahan

A. Alat

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut:

- Tabung reaksi 12 buah

- Rak tabung reaksi 1 buah

- Pipet tetes 3 buah

- Gelas kimia 100 mL 2 buah

- Botol semprot 1 buah B. Bahan Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini
yaitu sebagai berikut:

- Larutan PbSO4

- Larutan SCN-

- Larutan K2CrO4

- Padatan BaSO4

- Larutan FeCl3

- Larutan Na2CO3

- Larutan K4Fe(CN)6

- Aquadest

- Larutan AgNO3

- Larutan KBr

- Larutan CuSO4

- Larutan HCl
II. Prosedur Kerja

A. Uji kation

• uji kation Ag+

1 tetes AgNO3 1 M

- Dimasukkan dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 1 tetes KBr 1 M
- Diamati perubahan yang terjadi

Endapan kuning putih (kuning AgBr)

• uji kation Pb2+

1 tetes PbSO4

- Dimasukkan dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 1 tetes K2CrO4
-Diamati perubahan yang terjadi

Endapan kuning PbCrO4


• uji kation Cu2+

1 tetes CuSO4

-Dimasukkan dalam tabung reaksi


-Ditambahkan 1 tetes HCl 2M
-Ditambahkan 1 tetes K4Fe(CN)6
-Diamati perubahan yang terjadi

Endapan merah cokelat


Cu2Fe(CN)6

• uji kation Fe3+

1 tetes FeCl3

- Dimasukkan dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 1 tetes K4Fe(CN)6
- Diamati perubahan yang terjadi

Larutan berwarna biru


B. Uji spesifik anion

Uji SCN

1 tetes Larutan SCN

- Dimasukkan dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 1 tetes FeCl3
- Diamati perubahan yang terjadi

Larutan berwarna orange

• Uji SO42

Sedikit padatan BaSO4

-Dimasukkan dalam tabung reaksi


-Dileburkan dengan Na2CO3
-Direaksikan dengan ion Pb (II)
-Diamati perubahan yang terjadi

Endapan putih PbSO4


BAB IV

HASIL PENGAMATAN I

I. Hasil Pengamatan

A. Uji spesifik kation

Hasil pengamatan
No kation perlakuan
sebelum sesudah
1 Ag+ 1 tetes AgNO31 M + 1 tetes KBr terdapat endapan
bening
1M putih kuning
2 Pb2+ 1 tetes PbSO4+ 1 tetes K2CrO4 Terdapat
putih
1M endapan kuning
3 Cu 2+ 1 tetes CuSO4+ 1 tetes HCl 2 M + Endapan merah
1 tetes K4Fe(CN)6 bening cokelat
Cu2Fe(CN)6
4 Fe3+ 1 tetes FeCl3+ 1 tetes K4Fe(CN)6 kuning biru

• B. Uji spesifik anion

Hasil pengamatan
No anion perlakuan
1 SCN 1 tetes larutan SCN + 1 tetes Terbentuk warna
bening
FeCl3 orange
2 Pb2+ Endapan BaSO4+ dilebur dengan Endapan putih
Padatan putih
Na2CO3+ ion Pb (II)

II. Reaksi Lengkap

A. Uji spesifik kation

• Uji Ag+

AgNO3 + KBr AgBr + KNO3

• Uji Pb2+

PbSO4 + K2CrO4 PbCrO4+ K2SO4


• Uji Cu2+

HCl 2 CuSO4 + K4Fe(CN)6 Cu2Fe(CN)6 +2 K2SO4


(Merah cokelat)

• Uji Fe3+

4 FeCl3 + 3 K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe(CN)6]3¯ + 12 KCl

B. Uji spesifik anion

• Uji SCN-

3SCN + FeCl3 Fe(SCN)2 + 3 CO

• Uji SO4
Pb (II)
BaSO4 + Na2CO3 Na2SO4 + BaCO3
III. Pembahasan

Dalam ilmu kimia, terdapat dua cara untuk menganalisis zat-zat kimia yang belum
diketahui spesifikasinya. Cara itu adalah analisa kualitatif dan analisa kuantitatif.Dalam
praktikum ini, analisa yang digunakan adalah analisa kualitatif, karena analisa ini
berhubungan dengan identifikasi suatu campuran/larutan yang tidak diketahui
spesifikasinya.Langkah pertama yang harus dilakukan adalah untuk mengidentifikasi suatu
zat yang belum diketahui adalah dengan membuat sampel atau contoh dalam bentuk
cairan/larutan.Kemudian terhadap larutan tersebut dilakukan uji terhadap ionion yang
mungkin ada.

Analisis kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi kation dan anion di dalam


larutan tertentu dengan uji sesifik. Uji spesifik dilakukan dengan penambahan pereaksi
tertentu yang akan memberikan warna pada larutan atau endapan yang merupakan ciri untuk
ion-ion tertentu. Dengan melihat ciri visual larutan senyawa uji, dapat diketahui kation dan
anion dalam larutan tersebut. Sebelum mengindentifikasi berbagai konsentrasi dalam suatu
campuran ion, biasanya dilakukan pemisahan ion terlebih dahulu melalui proses
pengendapan, selanjutnya dilakukan pelarutan kembali endapan tersebut. Kemudian diadakan
uji-uji spesifik untuk ion-ion ysng akan diindentifikasi. Uji spesifik dilakukan dengan
menambahkan reagen atau pereaksi tertentu yang akan memberikan larutan atau endapan
berwarna yang merupakan karakterikstik untuk ion-ion tertentu.

Pada percobaan uji kation dan anion, untuk mengindetifikasi ada tidaknya suatu
kation dan anion dilakukan analisis kualitatif yang sederhana yaitu penambahan reagen, maka
akan terjadi perubahan yang menunjukkan adanya ion-ion.

Dalam analisis kualitatif sistematis, kation-kation diklasifikasikan dalam lima


golongan, berdasarkan sifat-sifat kation itu terdapat beberapa reagensia. Reagensia yang
umum dipakaidiantaranya : asam klorida, Hidrogen sulfide, Amonium sulfide, dan Amonium
karbonat. Klasifikasi kation berdasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia,
reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak boleh dikatakan bahwa klasifikasi kation
yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfide, dan karbonat
dari kation tersebut.

pada percobaan yang dilakukan yaitu uji kation, dimana kation yang di uji pada
golongan I yaitu ion Ag+. Larutan sampel yang digunakan yaitu AgNO3yang ditambahkan
reagen atau pereaksi KBr 1 M, terbentuk endapan putih kuning, hal ini terjadikarena adanya
reaksi antar ion tiap larutan. Endapan putih kuning menunjukkan adanya ion Ag+, pada
larutan sampel tersebut. Pada kation golongan II yaitu ion Pb2+, larutan sampel yang
digunakan yaitu PbSO4yang ditambahkan reagen K2CrO4 1 M, terbentuk endapan putih dari
PbSO4, penambahan K2CrO4 untuk mempercepat terjadinya endapan karena Pb2+
kromat.Sehingga endapan putih tidak dapat larut dengan kalium tersebut, menunjukkan
adanya ion Pb2+.Selanjutnya uji kation Cu2+, larutan sampel yang digunakan yaitu larutan
CuSO4, dan reagen K4Fe(CN)6, saat direaksikan membentuk endapan merah cokelat
Cu2Fe(CN)6. Penambahan HCl berfungsi untuk mempercepat reaksi antara larutan sampel
dan reagen.Adanya endapan tersebut membuktikan dalam larutan sampel adanya ion
Cu2+.Pada uji kation golongan III, saat percobaan ini membuktikan adanya ion Fe3+,dalam
larutan sampel. Larutan sampel yang digunakan yaitu FeCl3dan reagen K4Fe(CN)6,
direaksikan membentuk larutan berwarna biru, dimana larutan sampel dan reagen saling
bereaksi antar ion-ionnya. Larutan biru tersebut membuktikan adanya ion Fe3+ dalam larutan
sampel.

Anion merupakan ion yang muatan totalnya negatif akibat adanya kenaikan jumlah
elektron.Atom dapat kehilangan atau memperoleh lebih dari satu elektron. Contoh ion-ion
yang terbentuk dengan kehilangan atau memperoleh lebih dari satu elektron adalah Mg2+,
Fe3+, S2-, dan N3-, Na+ dan Cl- Ion-ion ini disebut ion monoatomik karena ion-ion ini
mengandung hanya satu atom.Pengujian terhadap anion relatif lebih sederhana karena
gangguangangguan dari ion-ion lain yang ada dalam larutan minimal (dapat
diabaikan).Golongan anion terdiri atas tiga yaitu golongan sulfat, golongan halida, dan
golongan nitrat.

Pada pengujian uji anion, dipercobaan ini ion yang akan diuji yaitu ion SCN- dan
SO42-. Pada uji ion SCN-larutan sampel yang digunakan larutan SCN dan reagen
FeCl3.Direaksikan terjadi perubahan warna dari warna bening menjadi warna orange tua,
seharusnya saat direaksikan membentuk warna merah darah, hal ini terjadi karena saat
melakukan percobaan konsentrasi FeCl3 lebih rendah dari larutan SCN yang lebih
tinggi.Sehingga tidak tidak terbentuk warna larutan merah darah.Uji anion selanjutnya pada
golongan sulfat yaitu SO42-. Sampel yang digunakan yaitu padatan BaSO4, dengan
menggunakan reagen Na2CO3, yang ditambahkan dengan ion Pb(II), direaksikan membentuk
endapan putih PbSO4. Hal ini terjadi karena ion Pb(II) mengikat ion SO42-dari sampel yang
digunakan dan BaSO4 tidak larut dalam Na2CO3 sehingga terbentuknya endapan tersebut.
BAB V

PENUTUP

I. Kesimpulan

Setelah melakukan praktikum ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan
analisis kualitatif untuk mengidentifikasi keberadaan kation dan anion di dalam suatu sampel
digunakan uji spesifik. Dengan penambahan reagen tertentu pada larutan yang diuji, dapat
diamati ciri berupa endapan dan perubahan warna dari masing-masing larutan yang
menunjukkan ada tidaknya kation dan anion dalam larutan sampel.

II. Saran

Adapun saran yang saya ajukan setelah melakukan praktikum ini yaitu sebaiknya
dalam uji kation dan anion ini larutan yang akan dijadikan sampel sebaiknya dilakukan
penambahan, guna dapat menambah pengetahuan mengenai larutan sampel yang terjadi
perubahan saatdilakukan pengujiannya.
DAFTAR PUSTAKA

Ernawati, Rika. 2008. Studi Sifat-Sifat Kimia Tanah Pada Tanah Timbunan Lahan

Bekas Penambangan Batubara.Jurnal Teknologi Technoscientia. Vol. 1

No. 1.Hal 85. (diakses tanggal 10 november 2013).

Pujiastuti, Caecilia. 2008. Kajian Penurunan Ion (Cl-, So42-, HCO3-) Dalam Air

Laut Dengan Resin Dowex. Jurnal Teknologi Technoscientia. Vol. 1 No. 1.

Hal. 9. (diakses tanggal 10 november 2013).

Rizal, dkk.2007. Sintesis dengan Metode Hidrotermal dan Karakterisasi Senyawa

Berstruktur Aurivillius Bi4Ti3O12.Hal 44. (diakses tanggal 10 november

2013).

Roto, dkk.2008. Sintesis Hidrotalsit Zn-Al-SO4 sebagai Agen Penukar Anion

untuk Aplikasi Pengolahan Polutan Heksacyanoferrat (II). Vol 8.No.

3.Hal 307. (diakses tanggal 10 november 2013).

Suharta, dkk.2000. Uji Selektivitas dan Penentuan Rekoveri Akhir pada

Pemisahan Logam Emas dengan Metode Agregasi Hidrofobik.Vol. 5

No. 1.Hal 48. (diakses tanggal 10 november 2013).

https://www.slideshare.net/wd_amaliah/laporan-praktikum-uji-anion-dan-kation
ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini yaitu mengindentifikasi beberapa anion dan kation dengan
uji spesifik atausecara analisis kualitatif.prinsip percobaan dari praktikum uji kation dan
anion ini yaitu pengidentifikasian anion dan kation berdasarkan analisis kualitatif pada
larutan-larutan kimia tertentu. Pada percobaan uji kation dan anion, untuk mengindetifikasi
ada tidaknya suatu kation dan anion dilakukan analisis kualitatif yang sederhana yaitu
penambahan reagen, maka akan terjadi perubahan yang menunjukkan adanya ion-
ion.terbentuk endapan putih kuning, hal ini terjadikarena adanya reaksi antar ion tiap larutan.
Endapan putih kuning menunjukkan adanya ion Ag+, pada larutan sampel. penambahan
K2CrO4 untuk mempercepat terjadinya endapan karena Pb2+ tidak dapat larut dengan
kalium kromat.Sehingga endapan putih tersebut, menunjukkan adanya ion Pb2+.Adanya
endapan tersebut membuktikan dalam larutan sampel adanya ion Cu2+.Larutan biru tersebut
membuktikan adanya ion Fe3+ dalam larutan sampel. Pada anion, ion-ion yang akan diuji
yaitu ion SCN- dan SO42-. dalam melakukan analisis kualitatif untuk mengidentifikasi
keberadaan kation dan anion di dalam suatu sampel digunakan uji spesifik. Dengan
penambahan reagen tertentu pada larutan yang diuji, dapat diamati ciri berupa endapan dan
perubahan warna dari masingmasing larutan yang menunjukkan ada tidaknya kation dan
anion dalam larutan sampel.

Kata kunci :analisis kualitatif, kation, anion, uji spesifik