Anda di halaman 1dari 13

ARTIKEL TERBARU

"Manajemen Kambing Perah"


I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kambing perah merupakan komoditas ternak yang banyak dikembangkan di berbagai negara.
Salah satu benua yang memiliki komoditas kambing perah terbesar adalah asia dan afrika.
Bangsa kambing perah menghasilkan produksi susu yang berbeda-beda. Banyak manfaat dan
keuntungan yang diambil dari ternak kambing perah baik dari segi produksi yang menghasilkan
susu untuk kesehatan manusia maupun pendapatan peternak karena harga kambing dan susu
yang mahal. Beberapa alasan kambing perah sebagai alat untuk mengentaskan kemiskinan
adalah merupakan komoditi yang fleksibel didalam pengelolaan karena tidak memerlukan lahan
luas, modal relative lebih kecil, dapat dipelihara oleh kalangan ekonomi rendah, dapat
menghasilkan air susu yang setiap hari dengan harga cukup tinggi dibandingkan susu sapi, gizi
yang terdapat didalam air susu kambing dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit dan
mengatasi malnutrisi pada anak-anak. 
 
Produksi susu kambing perah memberikan kontribusi sebesar 2,2 % dari total produksi susu
sedunia (Seifert, J, 2012). Populasi kambing perah di Negara berkembang, kurang lebih 921 juta
atau lebih 90 % dari populasi dunia dan 60%nya terdapat di Asia, demikian pula breed terbanyak
dijumpai di Asia (FAO, 2010 dalam Makkar, 2012). Didalam pemeliharaannya kambing perah
paling banyak dijumpai dalam lokasi lahan sempit dengan kandang tipe panggung sehingga
sangat diperlukan pemilihan bahan pakan berkualitas dengan suplemen dan tambahan bahan
pakan lain untuk mencukupi kebutuhan mineral khususnya. 
 
Manajemen pemeliharaan terutama manajemen pemberian pakan yang baik sangat perlu
diperhatikan untuk menghasilkan produksi air susu yang optimal.

Pakan merupakan faktor terbesar untuk menghasilkan produktivitas tinggi, yaitu produksi air
susu pertumbuhan dan produksi cempe. Kita telah mengetahui bahwa pakan kambing perah lebih
beragam dan lebih ‘sulit” dibanding domba. Hal ini disebabkan oleh sifat kambing perah yang
lebih “memilih” pakan dibanding ternak lainnya. Latar belakang pemilihan pakan oleh kambing
perah juga dikarenakan asal usul ternak yang hidupnya lebih liar dan aktif sehingga kambing
cenderung memilih pakan. Jenis pakan kambing perah yang umum adalah hijauan dan
konsentrat. Hijauan terdiri atas leguminosa, daun tanaman pangan, daun tanaman buah, daun dan
ranting tanaman (ramban), karena pakan kambing biasanya berasal dari rambanan. Konsentrat
terdiri atas limbah pengolahan bahan pangan seperti dedak, bekatul, onggok, bungkil kedelai,
pollard dan lainnya. Semua bahan pakan tersebut ketersediaan di setiap tempat berbeda-beda
sehingga jenis pakan yang diberikan ke kambing perah juga berbeda disetiap wilayah,
menyesuaikan dengan potensi wilayah setempat ternak dipelihara.
1.2. Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan 
a. Mengetahui jenis pakan yang diberikan untuk kambing perah laktasi
b. Mengetahui beberapa cara pemberian pakan untuk kambing perah laktasi
c. Memahami manajemen pemberian pakan kambing perah laktasi

1.2.2 Manfaat
a. Mampu memilih jenis pakan yang cocok untuk kambing perah laktasi
b. Mampu memberikan pakan kualitas terbaik untuk kambing perah laktasi
c. Mampu melakukan cara pemberian pakan yang sesuai dengan jenis kambing perah laktasi
d. Mampu melakukan manajemen waktu yang baik dalam pemberian pakan

II. PEMBAHASAN
2.1 Pakan Kambing Perah Laktasi
Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat penting pada peternakan, khususnya pada ternak
kambing yang sedang laktasi pakan sangat di butuhkan. Pakan ternak memegang peranan
penting dalam pertumbuhan ternak dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok,
serta produksi. Disamping itu pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak
dapat menyebabkan defisiensi makanan sehingga ternak mudah terserang penyakit. Oleh karena
itu penyediaan dan pemberian pakan diupayakan terus menerus sesuai dengan standar gizi
menurut tingkatan umur ternak dan keadaan ternak.

Ternak kambing yang sedang laktasi memerlukan pakan yang cukup dan dapat memenuhi
kebutuhannya. Menurut Wibowo (2013), menyatakan bahwa dalam satu jenis atau bangsa
kambing perbedaan lama masa laktasi menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu
selama masa laktasi. Semakin lama masa laktasi akan semakin banyak total produksi susu yang
dihasilkan. Korelasi ini tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang diraih. Pemberian dan
konsumsi pakan juga akan mempengaruhi masa laktasi kambing.
Kambing perah laktasi (induk menyusui) membutuhkan asupan nutrisi pakan paling banyak
dibandingkan fase fisiologis lainnya. Hal ini dikarenakan induk menyusui memerlukan gizi
untuk proses menyusui selain kebutuhan gizi untuk perbaikan kondisi tubuhnya pasca
melahirkan. Pakan induk menyusui paling tidak membutuhkan pakan yang mengandung protein
kasar 14-16%. Pakan jenis hijauan sebaiknya diberikan dengan porsi berlebih dengan rasio
hijauan jenis rumput 50% dan jenis legume 50%. Pakan tambahan diberikan dengan kadar
protein kering 14-16% sebanyak 0.5 hingga 1 kg/ekor/hari tergantung banyak tidaknya produksi
susunya. Pemberian tambahan mineral sangat diajurkan pada kondisi ini, tujuannya untuk
menghindarkan kekurangan mineral bagi si induk laktasi (Ari,2010). Sama dengan ternak
lainnya, kambing juga memerlukan 5 gizi utama yaitu: energi, protein, mineral, vitamin dan air
dalam jumlah yang cukup agar dapat tumbuh, berkembang biak dan berproduksi sesuai dengan
potensi genetiknya (Sutama,2011).

Berdasarkan jenis pakan, kambing tergolong dalam kelompok herbivora atau hewan pemakan
tumbuhan secara alamiah, karena kehidupan awalnya di daerah-daerah pegunungan, kambing
lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput. Jenis pakan kambing perah yang
umum adalah hijauan dan konsentrat. Menurut Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan
Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (2013), Bahan pakan untuk kambing pada
umumnya digolongkan dalam 4 golongan sebagai berikut: golongan rumput-rumputan, golongan
kacang-kacangan,hasil limbah pertanian dan golongan makanan penguat (konsentrat).

2.1.1 Hijauan

Hijauan merupakan pakan ternak yang berasal dari tanaman. Hijauan pakan ternak (HPT) yang
paling umum digunakan dalam budidaya kambing adalah jenis rumput-rumputan dan
leguminosa. Pakan alami biasanya terdiri dari berbagai macam daun, yaitu daun Turi, daun
dadap, daun pepaya ataupun daun katuk. Ketiga daun ini sangat efektif untuk meningkatkan
jumlah produksi susu harian pada kambing perah. Pemberian daun atau hijauan ini tidak usah
terlalu banyak, tetapi harus ada disaat pemberian makanan kambing.

a. Rumput

Dari kelompok tanaman lokal jenis rumputan yang disukai kambing antara lain adalah rumput
Axonopus compressus (rumput pahit), Cynodon dactylon (rumput kawat), Ottocloa nodusa,
sedangkan kelompok introduksi jenis rumput-rumputan yang sangat cocok untuk ternak kambing
antara lain adalah Brachiaria ruziziensis, Brachiaria humidicola, Paspalum guonearum, Paspalum
ateratum dan Stenotaphrum secundatum (Prihanto,2009).

b. Leguminosa

Leguminosa merupakan tanaman jenis kacang-kacangan. Dari kelompok leguminosa jenis


Stylosanthes guianensis yang termasuk kedalam legum merambat sangat disukai ternak kambing
dan memiliki kualitas nutrisi yang baik, karena kandungan proteinnya tinggi dan mudah dicerna.
Jenis leguminosa pohon beberapa yang cocok untuk ternak kambing antara lain Gliricidia sepium
(sengon), Leucaeca leucochepala (lamtoro), Calliandra callothyrsus (Kaliandra) dan Indigofera
sp.

c. Tanaman ramban

Tanaman ramban yang sering di berikan untuk kambing yaitu daun nangka daun kacang tanah,
daun kacang panjang, daun kedelai, daun gamal, daun turi, daun lamtoro dan daun kaliandra.

d. Limbah tanaman pangan

Tanamaan yang sering diberikan pada kambing yaitu kulit daun singkong, daun pepaya, batang
kangkung, daun jagung, pisang, daun jagung. Menurut Wibowo (2013), hijauan yang diberikan
untuk ternak kambing yang sedang laktasi adalah daun rendeng yang dikeringkan terlebih dahulu
sebelum diberikan kepada ternak, apabila kambing diberi daun rendeng dalam bentuk segar
ternak tidak mau makan, selain itu kotoran ternaknya pun lebih lembek. Hal ini tidak sesuai
dengan (Sodiq dan Abidin, 2008) yang menyatakan bahwa pakan berupa hijauan dalam bentuk
segar, umumnya lebih disukai kambing dibandingkan dengan bahan pakan dalam keadaan
kering. Selain daun rendeng, juga dapat diberi pakan daun buah jambu, daun nangka, daun
lamtoro, petai cina, limbah pertanian ataupun rumput lapang apabila persedian daun kacang-
kacangan tidak ada.

2.1.2 Konsentrat

Kambing yang sedang laktasi membutuhkan pakan yang mengandung protein lebih tinggi,
karena proses pembetukan susu membutuhkan suplai protein yang tinggi. Sistem pencernaan
pada rumen sering menjadi penyebab kurang efektifnya pemberian konsentrat dengan kadar
protein yang tinggi. Penyebabnya adalah konsentrat tersebut akan diurai atau difermentasi oleh
bakteri dan mikroba lain di dalam rumen, sehingga protein terdegradasi sebelum diserap. Untuk
tetap mempertahankan keberadaan zat makanan yang terkandung di dalam konsentrat,
pemberiannya perlu disiasati (Sodiq dan Zainal, 2008).

Beberapa bahan konsentrat yang biasa diberikan adalah bekatul, bungkil kedelai, ampas tahu,
bungkil kelapa, atau campuran dari beberapa konsentrat tersebut. Misalnya 62% bekatul, 20%
ampas tahu, 15% bungkil kedelai, 1% garam dapur, dan 2% tepung tulang. Jumlah pemberian
sebanyak 0,5-0,6 kg/ekor dan diberikan dalam bentuk bubur (dicampur dengan air). Sebaiknya
diusahakan agar konsentrat dikonsumsi habis dalam waktu singkat untuk menghindari
bercokolnya jamur yang bisa menimbulkan penyakit (Sodiq dan Zainal, 2008).

Pakan eksternal (ektra fooding) yang bisa mendongkrak produksi susu terdiri dari makanan yang
memiliki kandungan berprotein tinggi, seperti kedelai, kulit kedelai, ampas bir, ampas tahu dan
kulit gandum (polard). Semakin banyak pemberian makanan ini maka semakin banyak pula
jumlah produksi susu yang akan dikeluarkan kambing perah. Kambing akan berproduksi susu
secara maksimal di usia laktasi hari pertama sampai hari ke 60. setelah hari ke 61 maka
peningkatan jumlah produksi susu akan bersifat lambat dan biasanya hanya akan stabil.
2.2 Manajemen Pemberian Pakan

Pemberian pakan dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Hal ini sesuai dengan
pendapat Santosa (2006) yang menyatakan bahwa pemberian pakan minimal 2 kali sehari. Pada
pagi hari ternak diberikan hijauan dan konsentrat dalam waktu yang hampir bersamaan,
konsentrat dalam bentuk kering diberikan terlebih dahulu kemudian hijauan langsung diberikan
pada ternak. Hijauan yang diberikan pada ternak tidak dipotong-potong terlebih dahulu
(diberikan dalam bentuk panjang). Hijauan yang diberikan pada ternak langsung dicampur dan
diberikan bersama-sama antara rumput lapang, gamal dan rumput gajah. Sore hari ternak hanya
diberikan hijauan. Murtidjo (1993) menjelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh dari
pemberian pakan kasar bersama makanan penguat adalah adanya kecenderungan
mikroorganisme dalam rumen dapat memanfaatkan makanan penguat terlebih dahulu sebagai
sumber energi dan selanjutnya memanfaatkan makanan kasar yang ada. Dengan demikian
mikroorganisme rumen lebih mudah dan lebih cepat berkembang populasinya, sehingga semakin
banyak makanan yang harus dikonsumsi ternak kambing,

Waktu pemberian yang terbaik adalah saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijauan, tetapi
belum terlihat kenyang. Pada saat-saat seperti ini, rumen akan dipenuhi oleh hijauan, sehingga
aktivitas rumen sedang tinggi-tingginya. Pemberian konsentrat pada saat seperti ini bisa
menghindari proses fermentasi bahan pakan di dalam rumen, sehingga keberadaan zat-zat
makanan dapat dipertahankan. Hal ini disebabkan konsentrat tidak terlalu lama berada di dalam
rumen.

Menurut Sarwono (1999) menyatakan, kambing membutuhkan jenis hijauan yang beragam.
Kambing sangat menyukai daun-daunan dan hijauan selain itu kambing juga memerlukan pakan
penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat bisa berupa dedak, bekatul padi,
jagung atau ampas tahu dan dapat juga campurannya. Pakan sangat dibutuhkan kambing untuk
tumbuh dan berkembang biak. Menurut Mulyono (2003), Pemberian pakan yang efisien
mempunyai pengaruh lebih besar dari pada faktor-faktor yang lainnya, dan merupakan cara yang
sangat penting untuk peningkatan produktivitas.
Menurut Schroeder (2004), ada banyak cara pemberian pakan kambing perah laktasi misalnya:

a. Pemberian dalam bentuk segar, pemberian ini paling mudah karena langsung diberikan ke
ternak setelah pengambilan pakan. kelebihannya pakan dalam bentuk segar, ternak tidak ada
kesulitan apapun. Kekurangannya pakan tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Pemberian
pkan dapat dalam bentuk cacahan kecil 2 sd 5 cm, bahkan dibeberapa tempat diberikan utuh.
untuk pakan cacah, lebih memudahkan ternak mengambil dan mengunyah, tetapi dari sisi tenaga
perlu waktu untuk mencacah. pada pemberian segar dapat dicampur dengan
dedak/bekatul/bungkil kedelai sekaligus. beberapa peternak memberikan hijauan terpisah dari
konsentrat.

b. Pemberian dalam bentuk kering, biasanya berupa limbah tanaman pangan yang difermentasi.
Pemberian pakan dalam bentuk kering harus disertai air minum lebih banyak untuk membantu
palatabilitas. pemberian pakan bentuk kering memerlukan adaptasi bagi ternak yang belum
terbiasa. kelebihan pakan dalam bentuk kering adalah dapat disimpan lebih lama, sehingga dapat
digunakan sebagai cara untuk menyimpan pakan saat produksi berlebih.

c. Bentuk pakan komplit yaitu pakan dalam bentuk kering dan sudah dalam susunan yang
mencukupi kebutuhan hidup dan produksi kambing perah. Bentuk pakan ini dapat disimpan
sampai 6 bulan atau lebih bergantung pada tempat penyimpanan. Pakan komplit yang
difermentasi atau dibuat silase terlebih dahulu mempunyai kelebihan yaitu palatabilitas
meningkat karena tekstur pakan lebih lunak dan bau khas yang meninbah selera makan.

Menurut Ketut (2007), hal-hal yang harus diketahui dalam pemberian pakan kambing laktasi
antara lain :

a. Kambing laktasi memerlukan jumlah pakan yang lebih banyak dari kambing yang tidak
laktasi.

b. Pakan kambing laktasi harus mengandung protein kasar 14-16%.


c. Beri pakan hijauan dalam jumlah yang berlebih (ad libitum) agar produksi susu tinggi.

d. Pakan tambahan (PK=14-16%) sebanyak 0,5-1 kg/hari tergantung tingkat produksi susu.

e. Air merupakan komponen pakan penting yang harus selalu tersedia secara bebas.

f. Sangat baik bila diberi tambahan “mineral blok” untuk mengatasi kemungkinan kekurangan
mineral dalam pakan.

III. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan mengenai pakan dan manajemen pemberian pakan terhadap kambing
perah laktasi dapat disimpulkan bahwa :

1. Kambing perah laktasi (induk menyusui) membutuhkan asupan nutrisi pakan paling banyak
dibandingkan fase fisiologis lainnya
2. Jenis pakan kambing perah laktasi adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan biasanya dalam
bentuk ramban

3. Pakan hijauan yang diberikan seperti rumput, leguminosa, tanaman ramban, dan limbah
tanaman pangan

4. Pakan Konsentrat yang diberikan seperti bekatul, bungkil kedelai, ampas tahu, bungkil kelapa,
atau campuran dari beberapa konsentrat tersebut

5. Manajemen pemberian pakan dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari.

6. Cara pemberian pakan kambing perah laktasi yaitu pemberian dalam bentuk segar, pemberian
dalam bentuk kering dan bentuk pakan komplit

DAFTAR PUSTAKA

Ari K.J. 2010. Materi nutrisi pakan ternak kambing perah, pelatihan beternak kambing Perah.
Kandang Bamboo management.
Budiharjo, Marzuki dan Rianto. 2009. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Peternak dalam
Pengambilan Keputusan Manajemen Usaha Ternak Kambing di Kota Smarang, (Skripsi),
Fakultas Peternakan Universitas diponegoro, Semarang.

Chuzaemi, S. dan Hartutik. 1988. Ilmu Makanan Ternak Khusus Ruminansia. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi. 2013. Budidaya Ternak Domba. Jakarta.

Ketut, Sutama. 2007. Petunjuk teknis beternak kambing perah. Kanisius. Yogyakarta.

Makkar, H.P.S. 2012. Perspective for increasing nutrient use efficiency in dairy goat production.
Proceed: 1st Asia dairy Goat Conference. Eds: Rasesee Abdullah. Kuala Lumpur, Malaysia.

Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2003. Ternak Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke-V.
Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2008. Penggemukan Kambing Potong. Penerbit PT.Penebar


Swadaya. Jakarta..

Murtidjo, B.A. 1993. Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.

Prihanto. 2009. “Manajemen Pemeliharaan Induk Laktasi di Peternakan Sapi Perah Cv. Mawar
Mekar Farm Kabupaten Karanganyar”. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Santosa, U. 2006. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi Cetakan Pertama. PT. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Sarwono, B. 1991. Beternak Kambing Unggul. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.


Schroeder. 2004. Operation Management. Second Edition. McGraw Hill, Singapore.

Setiawan, T. dan Arsa, T. 2005. Beternak Kambing Perah Peranakan Ettawa. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Sodiq, A., dan Z. Abidin. 2008. Meningkatkan Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa
Cetakan Pertama. Agromedia Pustaka. Jakarta

Sutama, I Ketut. 2011. Kambing Peranakan Etawah Sumberdaya Ternak Penuh Berkah. Balai
Penelitian Ternak Ciawi Bogor. Wibowo, Puguh Arif, Triana Yuni Astuti dan Pramono
Soediarto. 2013. “Kajian Total Solid (Ts) dan Solid Non Fat (Snf) Susu Kambing Peranakan
Ettawa (Pe) pada Satu Periode Laktasi”. Jurnal Ilmiah Peternakan. Vol. 1(1):214-
Share
Home » Kambing Etawa » Pakan Yang cocok Untuk Kambing Etawa Menyusui
Pakan Yang cocok Untuk Kambing Etawa Menyusui
Add Comment
Kambing Etawa
Kambing yang sedang dalam masa laktasi (menyusui) membutuhkan lebih banyak protein.
Proses pembentukan susu membutuhkan suplai protein tinggi. Pencernaan kambing uang sistem
rumen, tidak memungkinkan memacu produksi susu dengan memberikan pakan konsentrat
berkadar protein tinggi. Hal ini karena konsentrat tersebut akan diurai atau difermentasi oleh
bakteri dan mikroba lain dalam rumen, sehingga kadar protein mengalami penurunan sebelum
diserap tubuh. Meskipun begitu, bukan berarti pemberian konsentrat yang mengandung protein
tinggi tidak dibutuhkan. Untuk tetap mempertahankan zat makanan yang terkandung dalam
pakan konsentrat, pemberiannya perlu menggunakan siasat.
Waktu pemberian terbaik adalah ketika kambing sudah banyak mengonsumsi hijauan, tetapi
belum kenyang. Pada saat seperti ini, rumen sudah dipenuhi oleh hijauan, sehingga aktivitasnya
sedang tinggi-tingginya. Pemberian konsentrat pada saat seperti ini akan menghindari proses
fermentasi dalam rumen, shingga kandungan dalam pakan konsentrat bisa dipertahankan. Hal ini
terjadi karena konsentrat tidak terlalu lama berada diruang rumen. Konsentrat yang sering
diberikan untuk pakan kambing, diantaranya bungkil kedelai, bungkil kacang, ampas tahu,
bungkil kelapa, dan campuran diantara bahan-bahan itu.
Apabila ingin mencoba membuat konsentrat berkadar protein tinggi yang praktis dan mudah,
berikut ini komposisinya.

4. Bekatul 82%

Ampas tahu 20%


Bungkil kedelai 15%
Garam dapur 1%
Tepung tulang 2%
Kelima bahan tersebut dicampur sampai rata. Sekali pemberian pakan kira-kira 0,5. Usahakan
agar konsentrat tersebut habis sekali makan untuk menghindari tumbuhnya jamur yang bisa
mengganggu kesehatan kambing.
Pakan Induk Menyusui. Pada saat menyusui (laktasi) kebutuhan pakan induk dan anaknya
merupakan satu kesatuan. Hal ini karena konsumsi pakan anak tergantung dari banyaknya susu
induk yang dihasilkan. 1) Pakan induk menyusui membutuhkan asupan nutrisi pakan paling
banyak dibandingkan fase fisologis lainnya. Seperti halnya pada masa bunting, pakan induk
menyusui paling tidak membutuhkan kandungan protein kasar 14-16%. Pakan jenis hijauan juga
diberikan secara berlebih dengan rasio rumput 50%; legume 50%. Konsentrat diberikan
sebanyak 0,5-1 kg/ekor/hari tergantung banyaknya produksi susu. Pemberian tambahan mineral
juga sangat dianjurkan pada kondisi ini. Jenis pakan mineral yang biasa diberikan adalah mineral
blok atau mineral komplit; 2)  Pakan untuk Cempe prasapih. Umur 1-2 hari jenis pakan yang
diberikan kolostrum induk.  Umur 4-7 hari jenis pakan yang diberikan Susu induk 500-600
cc/hari dan diberikan sebanyak 3-4 kali/harinya. Umur 2 minggu jenis pakan yang diberikan 800
cc/hari, diberikan 3-4 kali/hari. Umur 3-4 minggu jenis pakan yang diberikan 1 liter susu sapi,
diberikan 3 kali/hari.Mulai usia empat minggu, mulai diperkenalkan dengan hijauan atau
konsentrat untuk merangsang pertumbuhan rumen. Pakan konsentrat yang diberikan harus
berkualitas baik dengan kandungan protein kasar 15-18%. Umur  5-8 minggu jenis pakan yang
diberikan 1,5-2 liter susu sapi/hari ditambah rumput/legume ditambah konsentrat. Umur 9-10
minggu pemberian pakan sama seperti pada umur 5-8 minggu tetapi pemberiannya 2 kali/hari.
Umur 11-12 minggu pemberian susu sapi dikurangi hingga 1 liter/hari dengan rasio pemberian
satu kali. Pakan hijauan dan konsentrat disediakan setiap saat dan mulai diperkenalkan dengan
air minum. (Suwarna Penyuluh PUSLUHTAN)
Sumber :

Anda mungkin juga menyukai