Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

“MANAJEMEN TERNAK PERAH”


(MANAJEMEN PERKANDANGAN SAPI PERAH)

Oleh :

ALDA ABDULLAH
60700118071
KELAS : C

JURUSAN ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2020
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Al-Qur’an Sapi Perah

Hewan ternak adalah hewan yang sengaja dikembangbiakkan untuk

kebutuhan konsumsi maupun industri. Dalam tradisi masyarakat Arab, hewan

ternak menunjuk empat hewan menyusui yaitu unta, sapi, domba, dan kambing.

Keempat hewan ini terdapat dalam Al-Qur’an baik secara individu maupun

sebagai kumpulan. Sapi diternakkan untuk dikonsumsi daging dan susunya, meski

cukup banyak juga yang dimanfaatkan untuk hal lain, seperti menarik kereta,

gerobak, dan bajak. Produk lain yang juga diperoleh dari sapi adalah kulit dan

kotoranya (untuk pupuk, bahan bangunan, dan bahan bakar.

Sapi juga banyak disebut dalam al-Qur’an, baik sebagai perumpamaan,

petunjuk, maupun sebagai hewan dalam bentuk denotatif. Salah satu ayat yang

menyebut sapi dalam rangka memberi petunjuk kepada manusia adalah firman

Allah :

‫ ُز ٗو ۖا‬,ُ‫ ُذنَا ه‬,‫الُ ٓو ْا أَتَتَّ ِخ‬,,َ‫ َر ٗۖة ق‬,َ‫ُوا بَق‬


ْ ‫ال ُمو َس ٰى لِقَ ۡو ِم ِٓۦه إِ َّن ٱهَّلل َ يَ ۡأ ُم ُر ُكمۡ أَن تَ ۡذبَح‬
َ َ‫َوإِ ۡذ ق‬
٦٧ ‫ين‬ َ ِ‫ون ِم َن ۡٱل ٰ َج ِهل‬ َ ‫ال أَ ُعو ُذ بِٱهَّلل ِ أَ ۡن أَ ُك‬
َ َ‫ق‬
Terjemahnya :
67. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina."
mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?"
Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah
seorang dari orang-orang yang jahil". (Al-Baqarah, 2:67)

Salah satu tujuan mengapa Allah menyuruh Bani Israil menyembelih

sapi, sebagaimana diabadikan dalam ayat di atas adalah melenyapkan sisa-sisa


rasa penghormatan mereka terhadap sapi, hewan yang pernah mereka sembah.

Ayat-ayat berikutnya menerangkan bagaimana tanggapan Bani Israil setelah

perintah menyembelih sapi diucapkan oleh Nabi mereka, Nabi Musa. Sapi juga

banyak disebut dalam hadits. Sebagian besar memposisikan sapi sebagai

komoditas, misalnya dalam kaitannya dengan zakat, kurban, dan jual beli.

B. Perkandangan Sapi Perah

Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang

diperuntukkan sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas

bangunan utama (kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang

isolasi) dan perlengkapan lainnya (Sugeng, 1998).

Menurut Siregar (1993) dalam pembuatan kandang sapi perah diperlukan

beberapa persyaratan yaitu terdapat ventilasi, memberikan kenyamanan sapi

perah, mudah dibersihkan, dan memberi kemudahan bagi pekerja kandang dalam

melakukan pekerjaannya. Sistem perkandangan ada dua tipe yaitu stanchion barn

dan loose house. Stanchion barn yaitu sistem perkandangan dimana hewan diikat

sehingga gerakannya terbatas sedangkan loose house yaitu sistem perkandangan

dimana hewan dibiarkan bergerak dengan batas – batas tertentu (Davis, 1962).

Perkandangan merupakan kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola

yang digunakan untuk melakukan kegiatan proses produksi dari sebagian atau

seluruh kehidupannya dengan segala fasilitas dan peralatannya. Kandang adalah


tempat tinggal ternak untuk melakukan kegiatan produksi maupun reproduksi dari

sebagian atau seluruh kehidupannya (Sudarmono, 1993 ).

Lokasi kandang harus dekat dengan sumber air, mudah terjangkau, tidak

membahayakan ternak, tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk. Lokasi

usaha peternakan diusahakan bukan areal yang masuk dalam daerah perluasan

kota dan juga merupakan daerah yang nyaman dan layak untuk peternakan sapi

perah (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Ditambahkan, hal-hal lain yang perlu

diperhatikan pada kandang sapi perah adalah lantai, selokan, dinding, atap,

ventilasi serta tempat pakan dan minum. Lokasi kandang sebaiknya berada pada

tanah yang datar, tidak becek dan lembab, cukup sinar matahari, ventilasi lancar,

agak jauh dari pemukiman penduduk dan ukurannya sesuai dengan umur ternak

(Setiadi, 1982).

Menurut Siregar (1993), sebaiknya kandang 20-30 cm lebih tinggi dari

tanah sekitarnya, jauh dari keramaian lalu lintas, manusia dan kendaraan.

Kandang harus dibangun dekat sumber air, sebab sapi perah memerlukan air

untuk minum, pembersihan lantai dan memandikan sapi. Kandang sebaiknya

diarahkan ke timur atau membujur ke utara selatan agar bagian dalam kandang

memperoleh sinar matahari pagi yang memadai. Sinar matahari bermanfaat untuk

mengeringkan lantai kandang sehingga mengurangi resiko terjangkitnya penyakit

(Siregar, 1993).

C. Kontruksi Kandang
Konstruksi kandang harus kuat, mudah dibersihkan, mempunyai

sirkulasi udara yang baik, tidak lembab, tidak menyebabkan licin dan

mempunyai tempat penampungan kotoran beserta saluran drainasenya.

Konstruksi kandang harus mampu menahan beban benturan dan dorongan yang

kuat dari ternak, serta menjaga keamanan ternak dari pencurian. Mendesain

konstruksi kandang harus didasarkan agroekosistem wilayah setempat, tujuan

pemeliharaan dan status fisiologi ternak. Tipe dan bentuk kandang dibedakan

menjadi berdasarkan status fisiologis ternak. Tipe dan Bentuk kandang dibedakan

berdasarkan status fisiologis dan pola pemeliharaan dibedakan yaitu kandang

pembibitan, pembesaran, kandang beranak/ menyusui, kandang pejantan

(Williamson dan Payne, 1993).

Atap kandang bisa berupa genting atau asbes. Ketinggian atap setinggi 5

meter agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Dinding kandang berupa semen

setinggi 1,5 meter sedangkan bagian atasnya terbuka. Fungsinya untuk

mencegah terpaan angin langsung mengenai sapi. Sedangkan alas berupa

tanah yang dilapisi semen agar mudah dalam membersihkannya (Syarief dan

Harianto, 2011).

Bahan yang digunakan untuk pembuatan atap antara lain asbes, rumbai,

genting dan seng. Keuntungan rumbai dan genting adalah kandang tidak terlalu

panas pada siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari. Atap genting dan

rumbai memiliki kelemahan yaitu mudah rusak akibat serangan angin yang besar,

oleh karena itu perlu adanya pengikatan yang kuat pada pembuatan atap. Tetapi
bila menggunakan seng sebaiknya dicat putih pada bagian luarnya dan hitam pada

bagian luarnya agar siang hari tidak terlalu panas (Williamson dan Payne, 1983).

Menurut Sudarmono (1993), lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan

yang cukup keras dan tidak licin untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan

kandang. Kebersihan kandang sangat diperlukan karena akan mempengaruhi

kesehatan sapi. Lantai kandang terlalu keras dapat ditutup dengan jerami agar

menjadi tidak begitu keras. Lebih tegas Siregar (1993) menyebutkan bahwa

supaya

air mudah mengalir atau kering, lantai kandang harus diupayakan miring dengan

kemiringan kurang lebih 20%.

Tempat pakan dapat dibuat memanjang sepanjang kandang dan

diusahakan sapi dapat mengambil pakan yang disediakan. Tempat pakan dapat

dibuat dengan kedalaman sekitar 50 cm, dengan luas tempat pakan sekitar 1 m2.

Tempat minum dapat diletakkan pada ember plastik atau dari bahan lain,

diletakkan dengan cara digantung dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari

lantai dengan tujuan untuk menghindari kontaminasi dari makanan dan desakan

sapi (Sudarmono, 1993).

Selokan atau drainase lebarnya minimal 20–40 cm. Kedalaman selokan

atau drainase 15–25 cm (Siregar, 1993). Muljana (1985) menyatakan agar air

pembersih kandang dan air untuk memandikan sapi mudah mengalir menuju bak

penampungan, maka lantai bagian belakang dan disekeliling kandang harus

dilengkapi selokan. Selokan dibuat dengan lebar 20 cm dan kedalaman 15 cm


yang dimaksudkan untuk memudahkan pembuangan kotoran yang cair, air minum

maupun air untuk memandikan sapi.

D. Tipe Kandang Sapi Perah

Kandang diperlukan untuk melindungi ternak sapi dari keadaan

lingkungan yang merugikan dengan adanya kandang ini ternak akan memperoleh

kenyamanan. Kandang sapi salah satunya dapat kandang barak. Luas kandang

barak diperhitungkan tidak lebih kurang dari 2 m per ekor (Santoso, 2001).

Bentuk kandang sapi perah ada dua macam, yaitu kandang konvensional

dan kandang bebas. Kandang konvensional berarti sapi ditempatkan pada jajaran

yang dibatasi dengan penyekat, sedangkan kandang bebas yaitu kandang yang

ruangannya bebas tanpa penyekat (Williamson dan Payne, 1993). Kandang yang

biasa digunakan yaitu jenis tail to tail atau saling membelakangi dan head to head

atau saling berhadapan (Blakely dan Bade, 1998).

Terdapat dua jenis struktur kandang pemeliharaan sapi perah, yaitu

kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal adalah penempatan sapi

pada satu baris dan biasanya dibuat di peternakan skala kecil. Kandang individu

atau kandang tunggal, merupakan model kandang satu ternak satu kandang. Pada

bagian depan ternak merupakan tempat palungan (tempat pakan dan air minum),

sedangkan bagian belakang adalah selokan pembuangan kotoran.Sekat pemisah

pada kandang tipe ini lebih diutamakan pada bagian depan ternak mulai palungan

sampai bagian badan ternak atau mulai palungan sampai batas pinggul ternak

Tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m atau setinggi badan sapi. Sapi di kandang
ndividu diikat dengan tali tampar pada lantai depan guna menghindari perkelahian

sesamanya. Luas kandang individu disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu

sekitar panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter (Anonim, 2009).

Kandang ganda adalah penempatan sapi pada dua jajaran yang saling

berhadapan atau saling membelakangi (Syarief dan Harianto, 2011). Kandang

dengan jenis ganda adalah lebih ekonomis mengandangkan ternak lebih dari 16-

20 sapi betina yang sedang laktasi. Kandang ganda dapat dirancang sehingga sapi

dapat menghadap kedepan kearah pusat tempat makanan atau kebelakang dengan

tempat makanan pada keedua sisi bangunan. Bentuk dan tipe kandang sapi perah

pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi perah yang dipelihara, keadaan iklim

dan luas lahan yang dipelihara, selera dari peternak sendiri (Siregar, 1990).

Macam-macam kandang sapi perah antara lain kandang pedet dan kandang

sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi kandang observasi (observasi

pens), kandang individu (individual pans), kandang kelompok (group pens),

kandang pedet berpindah (portable calf pens). Kandang sapi induk atau sapi dara

antara lain kandang tambat (stanchion bain), pada kandang ini kebebasan sapi

bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi sapi kurang baik. Kandang ini ada dua

jenis yaitu kandang bertingkat dan kandang tunggal atau satu lantai, dengan tujuan

mengurangi resiko angin topan, mengurangi resiko kebakaran, murah dan

membuatnya, serta mudah perawatannya (Sutarno, 1994).


BAB III

PEMBAHASAN

A. Sistem Perkandangan Sapi perah

Beberapa aspek yang perlu di perhatikan dalam pembangunan kandang

sapi perah adalah :

a) Aspek Ekonomi

Dalam membangun kandang ternak harus memperhatikan aspek ekonomis,

yang dimaksud disini adalah kandang yang dibangun tidak terlalu mahal, tetapi

diusahakan semurah mungkin, tetapi masih memenuhi persyaratan teknis. Yaitu

ternak akan betah tinggal didalam kandang dan membuat pertumbuhan ternak

yang normal, sehat sehingga akan memberikan hasil yang optimal. Selain itu,

keadaan ekonomi peternak juga sangat mempengaruhi model atau tipe kandang

yang akan dibangun. Untuk pembangunan kandang biaya sedapat mungkin lebih

murah tetapi dengan bahan-bahan yang cukup kuat dan tahan lama.

b) Aspek Sosial

Usaha peternakan dapat menghasilkan limbah atau kotoran yang baunya

sangat menyengat hidung apabila kotoran tersebut bercampur dengan air kencing,

sisa-sisa pakan dan sisa air minumnya, terlebih-lebih bila kotoran atau limbah

tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan pencemaran


lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, dianjurkan agar kandang

jauh dengan tempat tinggal atau rumah penduduk sekitarnya. Hal ini untuk

mengantisipasi dampak negatif akibat limbah atau kotoran ternak yang kita

usahakan.

c) Aspek Teknis

Yaitu mengenai lokasi kandang, dimana :

1. Transportasi Mudah

2. Dekat Sumber Air

3. Jauh dari Keramaian

4. Dekat dengan Sumber Pakan

5. Bebas dari Genangan Air

6. Ada Ijin Diri Bangunan

7. Jumlah Atau Populasi Ternak

8. Ketersediaan Bahan Baku

9. Konstruksi

10. Pondasi

11. Lantai Kandang

12. Dinding Kandang

B. Model Kandang Tradisional Sapi Perah

Kandang tradisional sapi perah biasanya terdapat pada peternakan individu

dengan populasi 1-10 ekor dengan perlengkapan kandang yang kurang memadai

dan bentuknya yang tunggal atau ganda. Bentuk kandang tipe tunggal biasanya

penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran sedangkan tipe
kandang ganda yaitu penempatan sapi dilakukan dua baris dengan tippe head to

head atau tail to tail. Pada kandang tradisional bangunan kandang sederhana, atap

dari rumbia, genteng dan lantai dari tanah sedangkan peralatanya berupa tempat

makan dan minum dari ember plastik. Hijauan disebarkan ke lantai bercampur

dengan kotoran atau limbah lain.

Menurut Ambo Ako (2012) jenis kandang sapi perah yang dikenal di

Indonesia adalah sebagai berikut:

1) Kandang sapi dewasa (sapi laktasi)

Ukuran kandang 1,75 x 1,2 m, masing-masing dilengkapi tempat makan

dan tempat air minum dengan ukuran masing-masing 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm.

Kandang sapi dewasa dapat juga dipakai untuk sapi dara.

2) Kandang pedet

Kandang pedet ada 2 macam yaitu individual dan kelompok. Untuk

kandang individual sekat kandang sebaiknya tidak terbuat dari tembok supaya

sirkulasi udara lancar, tinggi sekat + 1 m. Ukuran kandang untuk 0 – 4 minggu

0,75 x 1,5 m dan untuk 4 – 8 minggu 1 x 1,8 m. Pada kandang kelompok adalah

untuk anak sapi yang telah berumur 4 – 8 minggu dengan ukuran 1 m2/ekor dan

pada umur 8 – 12 minggu 1,5 m2/ekor dengan dinding setinggi 1 m. Dalam satu

kelompok sebaiknya tidak dari 4 ekor. Tiap individu harus dilengkapi tempat

makan dan tempat air minum.

3) Kandang pejantan

Sapi pejantan pada umumnya dikandangkan secara khusus. Ukuran lebih

besar dari pada kandang induk dan konstruksinya lebih kuat. Bentuk yang paling
baik untuk kandang pejantan adalah kandang yang berhalaman atau Loose Box.

Lebar dan panjang untuk kandang pejantan minimal 3 x 4 m dengan ukuran

halaman 4 x 6 m. Tinggi atap hendaknya tidak dijangkau sapi yaitu 2,5 m, tinggi

dinding kandang dan pagar halaman 180 cm atau paling rendah 160 cm. Lebar

pintu 150 cm dilengkapi dengan beberapa kayu penghalang. Pagar halaman

terbuat dari tembok setinggi 1 m, di atasnya dipasang besi pipa dengan diameter 7

cm, disusun dengan jarak 20 cm. Lantai kandang dibuat miring ke arah pintu,

perbedaan tinggi paling tidak 5 cm. Lantai halaman lebih baik dari beton.

Perlengkapan lain yang diperlukan sama seperti pada kandang yang lain.

Pemberian ransum harus dilakukan dari luar kandang/dinding demi untuk

keamanan.

4) Kandang kawin

Tempat kawin dibuat pada pada bagian yang berhubungan dengan pagar

halaman kandang pejantan yang diatur dengan pintu-pintu agar perkawinan dapat

berlangsung dengan mudah dan cepat. Ukuran kandang kawin; panjang 110 cm,

lebar bagian depan 55 cm, lebar bagian belakang 75 cm, tinggi bagian depan 140

cm dan tinggi bagian belakang 35 cm. Bahan kandang kawin sebaiknya digunakan

balok berukuran 20 x 20 cm. Tiang balok ditanam ke dalam tanah sedalam 50 –

60 cm dan dibeton supaya kokoh.

E. Model Perkandangan yang Cocok di Indonesia (daerah Tropis)

Kebutuhan kandang sapi perah di negara iklim tropis lebih sederhana bila

dibandingkan dengan negara sub tropis yang lebih dingin, sehingga di negara

tropis kandang tetap dibutuhkan untuk melindungi ternak pada malam hari, panas
terik sinar matahari, dan hujan lebat juga mempermudah pemeliharaan. Bangunan

yang sederhana cukup dibangun kandang pedet, sapi dara dan sapi dewasa untuk

menjaga ternak dari binatang predator. Kandang sapi perah dapat dibangun dalam

skala kecil di daerah tropis dengan pertanian intensif, sistem pemerahan yang

berkesinambungan dan persediaan pakan ternak untuk mencukupi produksi susu

dan pokok hidup sapi.

Suhu udara di Indonesia pada umumnya tinggi yaitu antara 24 – 34 oC, dan

kelembaban udara juga tinggi yaitu antara 60 - 90%. Hal ini dapat menyebabkan

proses penguapan dari tubuh sapi terhambat sehingga sapi mengalami cekaman

panas. Tinggi, luas, bahan atap dan bukaan ventilasi yang kurang tepat merupakan

penyebab naiknya suhu dan kelembaban udara dalam kandang sapi perah. Salah

satu upaya untuk menurunkan suhu dan kelembaban udara di dalam kandang yaitu

dengan sistem ventilasi agar terjadi pertukaran udara di dalam dan luar kandang

dengan baik sehingga panas dalam kandang dapat diminimalisir.. Tipe kandang

yang dapat di gunakan di Indonesia :

a) Kandang Terbuka

Kandang Terbuka adalah kandang yang semua sisinya terbuka.

Kelebihan :

 Biaya pembangunan murah

 Biaya oprasional murah

 Tidak ketergantungan dengan listrik, karena apabila listrik mati maka

sistem akan terganggu.

Kekurangan :
 Perlindungan terhadap penyakit kurang baik

 Perlindungan terhadap factor lingkungan kurang baik

b) Kandang Tertutup

Tujuan membangun kandang tertutup adalah:

1. Untuk menyediakan udara yang sehat bagi ternak (sistem ventilasi yang

baik) yaitu udara yang menghadirkan sebanyak-banyaknya oksigen, dan

mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas berbahaya seperti karbondioksida

dan amonia.

2. Menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak. Untuk menyediakan iklim

yang kondusif bagi ternak dapat dilakukan dengan cara: mengeluarkan

panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ternak dan lingkungan luar,

menurunkan suhu udara yang masuk serta mengatur kelembaban yang

sesuai.

3. Meminimumkan tingkat stress pada ternak.

Kelebihan :

a. Perlindungan ternak terhadap penyakit dapat di maksimalkan.

b. Tenak tidak terpengaruh dengan lingkungan luar

Kekurangan :

a. Biaya pembangunan mahal

b. Biaya oprasional mahal

c. Ketergantungan dengan listrik, karena apabila listrik mati maka sistem

akan terganggu.
F. Manajemen dan Komponen Utama Kandang Sapi Perah

Eday, dkk (1981) menyatakan bahwa untuk meningkatkan produktifitas

ternak antara lain dapat dilakukan dengan peningkatan satu atau beberapa aspek

tatalaksana pemeliharaan seperti kebersihan kandang dan lingkungan, pengaturan

perkawinan, perbaikan makanan serta cara pemberiannnya. Dalam teori

pemerahan, hal –hal yang pertama dilakukan sebelumnya adalah membersihkan

lantai kandang. Ini dilakukan supaya dalam melakukan aktivitas pemerahan, susu

yang diperoleh tetap dalam keadaan steril, karena susu mengandung zat yang

dapat dengan mudah menyerap bau yang ada di sekitarnya. (Widodo, 1979).

Lantai kandang yang baik, sangat berpengaruh pada ternak itu sendiri, seperti

drajat kemiringan lantai, kelicinannya, dan kebersihannya.

Kandang ternak perah memiliki paling tidak empat komponen utama

yaitu:

1. Milking Centre(Pusat pemerahan).

Pemerahan merupakan kegiatan paling banyak menghabiskan waktu dalam

satu usaha ternak perah. Pada kendang Free-Stall, kegiatan pemerahan menyita

70% dari waktu kerja, sedangkan pada kendang Stall Barn menyita50-60% dari

waktu kerja. Oleh sebab itu prosedur pemerahan yang efisien sangat diperlukan

untuk tujuan:

a) Memperoleh produktivitas usaha ternak perah yang tinggi


b) Produksi susu berkualitas baik

c) Memperoleh efisiensi penggunaan tenaga kerja yang diukur dari jumlah

ternak yang dapat diperah seorang tenaga kerja persatuan waktu.

2. Weather Protection

(Perlindungan Terhadap Iklim. Tipe pelindung terhadap iklim yang

dibutuhkan ternak perah tergantung kepada iklim di daerah di mana usaha tersebut

berada. Pada daerah/negara beriklim ganda (daerah sub- tropis) penekanan

ditempatkan pada melindungi ternak terhadap efek negatif iklim dingin seperti

salju, angin kuat dan suhu rendah. Untuk mengatasi efek negatif iklim dingin di

daerah seperti ini kandang harus dilengkapi dengan dingding dan atap yang dapat

menahan panas agar tidak keluar dari dalam kandang dan menahan agar suhu

dingin tidak masuk ke dalam kandang.

Secara umum, ternak perah terutama sapi, dapat mentoleransi suhu rendah

hingga batas 5oF. Di bawah batas ini produksi susu akan turun; di atas batas ini

suhu dingin tidak berpengaruh negatif terhadap produksi susu walaupun konsumsi

TDN naik O.5 pon setiap penurunan suhu sebanyak 10of. Di daerah tropis,

perlindungan terhadap iklim ditekankan kepada panas, radiasi sinar matahari dan

angin. Biaya pembuatan kandang di daerah ini jauh lebih murah dibanding di

daerah dingin. Dengan menyediakan tempat berteduh (shade) yang melindungi

ternak dari radiasi langsung sinar matahari dan pelindung terhadap angin biasanya

sudah cukup. Akan tetapi bila suhu sangat panas maka terpaksa disediakan sistim
pendingin mekanis hal mana membuat biaya kandang menjadi sangat mahal dan

seringkali tidak ekonomis.

3. Feeding System (Sistim Penyediaan dan Penyajian Pakan)

Kegiatan kedua paling banyak memakan waktu kerja pada usaha ternak

perah adalah pemberian pakan. Pada sistim pemeliharaan intensif (dikandangkan)

semua kebutuhan ternak, terutama pakan dan air minum, disediakan dalam

kandang. Oleh sebab itu sistim ini sangat besar pengaruhnya terhadap

produktivitas usaha ternak perah, baik dari segi pengaruhnya terhadap produksi

susu seekor ternak maupun dari segi penggunaan tenaga kerja untuk penyajiannya

serta dari segi biaya pengadaannya.

4. Manure Handling (Penanganan Limbah)

Salah satu masalah utama yang dihadapi industri peternakan, terutama di

daerah padat penduduk, adalah penanganan limbah. Selain pada usaha ternak

sendiri, limbah ternak juga menjadi masalah dari segi lingkungan di mana bila

penanganan tidak tepat akan menyebabkan polusi udara, air dan tanah. Itulah

sebabnya mengapa ari waktu ke waktu semakin banyak dan semakin kompleks

peraturan-peraturan yg dikeluarkan pemerintah berkenaan dengan penanganan

limbah ini untuk melindungi masyarakat dari efek negatifnya. Kendati pada

dasarnya limbah peternakan memiliki nilai sebagai pupuk, akan tetapi biaya

penanganannya seringkali lebih besar dari nilai pupuknya. Oleh sebab itu menjadi
tantangan berat bagi praktisi dan peneliti peternakan untuk merancang sistim

penanganan limbah yang di satu sisi dapat meminimalkan polusi lingkungan dan

disisi lain ekonomis serta meminimumkan penggunaan tenaga kerja. Suatu sistim

penanganan limbah peternakan harus dapat meminimalkan polusi bau dan

rembesan ke aliran air atau tanah.

Untuk mempertahankan sanitasi kandang, limbah ternak harus

dikeluarkan secara periodik. Ada beberapa sistim penanganan limbah yg dapat

dipilih, masing-masing dgn keunggulan dan kelemahannya. Dalam memilih sistim

mana yg akan digunakan perlu dipertimbangkan beberapa hal, antara lain:

 Ukuran usaha ternak yg akan berkaitan dgn volume limbah;

 Lahan yg tersedia untuk penampungan limbah;

 Kepadatan penduduk di sekitar usaha ternak;

 Kondisi iklim, dan

 Tipe susunan kandang.

5. Manajemen Kandang dan Kenyamanan

Ternak Kandang dan tatalaksananya mempengaruhi tingkah laku,

kesehatan, lama hidup (longevity) dan performan sapi perah yg pada gilirannya

menentukan profil yg dihasilkannya. Rasa takut dan frustrasi akibat stress akan

membuat sapi cenderung bertingkahlaku yg tak diinginkan dan rentan terhadap

resiko sakit. Tingkah laku dan kesehatan sapi ini sangat erat kaitannya dengan

kenyamanan yg diperoleh sapi di dalam kandang. Jenis penyakit yg berkaitan

dengan kenyamanan meliputi lameness (lemah), luka pada kaki atau leher,

mastitis, milk fever, ketosis dan displaced abomasum.


Seekor sapi menghabiskan 60% dari waktunya dalam sehari untuk

berbaring. O.s.i. kandang harus didisain sedemikian rupa agar memungkinkan

sapi berbaring dan berdiri dengan gerakan normal. Untuk itu di dalam kandang

tidak boleh ada sumber-sumber bahaya yg dapat menyebabkan luka, rasa sakit

atau frustrasi. Selanjutnya, tersedia ruang (space) yg cukup utk beristrahat dengan

posisi normal serta memungkinkan sapi berbaring dan berdiri secara langsung.

6. Manajemen Kandang dan Stress

Panas Iklim terdiri dari berbagai elemen, misalnya curah hujan,

temperatur udara, angin, dan sinar matahari. Elemen-elemen seperti tersebut di

atas, selanjutnya, terutama temperatur dan kelembaban wilayah menentukan

tinggi rendahnya temperatur di daerah tersebut. Dan, pada akhirnya berpengaruh

pada temperatur dan kelembaban yang seringkali disebut sebagai iklim mikro di

dalam kandang. Temperatur memegang peranan pada produksi susu sapi perah.

Secara ringkas hal tersebut dapat dilihat pdi ilustrasi berikut:

a) Peranan Temperatur Iklim terhadap Temperatur Kandang dan Produksi

Susu

Untuk mengatasi temperatur lingkungan mikro, sapi perah mempunyai

mekanisme sendiri untuk mempertahankan panas tubuhnya agar tetap stabil. Sapi

perah melalui proses pencernaannya menghasilkan asam asetat. Asam asetat

adalah senyawa kimia yang banyak menghasilkan panas. Selain proses

pencernaan, panas juga dihasilkan dari aktivitas sapi perah. Panas tubuh sapi

perah harus diserap oleh lingkungan, seperti yang terlihat pada ilustrasi berikut:

b) Penyerapan Panas Tubuh Sapi Perah oleh Lingkungannya


Untuk daerah tropis, temperatur lingkungan kandang wajib diperhatikan;

terutama di darah panas kering. Temperatur lingkungan kandang di atas

temperatur lingkungan optimum untuk sapi perah hidup dapat menimbulkan

masalah pada produksi susu. Agar temperatur lingkungan tidak berpengaruh

terhadap sapi perah maka temperatur lingkungan kandang harus diatur dengan

beberapa teknik. Dengan demikian, kandang yang terintegrasi dari suatu sistem

berupa peternakan sapi perah dapat dan harus berfungsi secara maksimum untuk

mencapai efisiensi optimum.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada makalah ini yaitu kendang pada sapi perah harus di

buat senyaman mungkin, dapat melindungi ternak pada malam hari, panas terik sinar

matahari, dan hujan lebat juga mempermudah pemeliharaan. Kemudian lokasi

kandang harus dekat dengan sumber air, mudah terjangkau, tidak membahayakan

ternak, tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk. Lokasi usaha peternakan

diusahakan bukan areal yang masuk dalam daerah perluasan kota.

B. Saran

Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat

banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki

makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang

membangun dari para pembaca.


DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J. dan H. Bade, D. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Bambang
Srigondono).

Davis, R.F. 1962. Modern Dairy Cattle Management. Prentice Hall, Inc. Amerika
Serikat

Ensminger, M. E. 1971. Dairy Cattle Science. First Edition. The Inter State
Printers Publisher, Inc. Dancilles, Illionois

Putra, A. R. 2004. Kondisi teknis peternakan sapi perah rakyat di Kelurahan


Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Skripsi. Program
Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultan Peternakan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

Rohmad. 2011. Pemeliharaan Sapi Perah. http://www.rohmad.com/2011/11/


meraup-untung-dari-sapi-perah.html. Diakses pada tanggal 20 Oktober
2014

Santosa, U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Siregar, Soribasya, M.S. 1990. Sapi Perah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soetardi, T. 1995. Peningkatan Efisiensi Penggunaan Pakan. Prosiding Seminar


Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Bogor.

Sudarmono. 1993. Kandang Ternak Perah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Frey,


J.K.R., Frahm, J.V. Whitemen J.E., Tamer & D.F. Stephen. 1972.
Evaluation of Cow Type Classification Score and Its Relationship to Cow
Productivity. J. of An. Sci., 31 : 171 (Abstr)

Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna.


Jakarta.
Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah
Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. (diterjemahkan oleh
Bambang Srigandono).