Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS PROSEDUR PENGELOLAAN ASET PADA KANTOR DINAS

PARIWISATA PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA PAYAKUMBUH

Oleh:

IRFAN DONOFAN 2017/17043016

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Laporan : ANALISIS PROSEDUR PENGELOLAAN ASET


PADA KANTOR DINAS PARIWISATA PEMUDA
DAN OLAHRAGA KOTA PAYAKUMBUH

Nama : Irfan Donofan

BP/NIM :2017/17043016

ProgramStudi :Akuntansi

Keahlian :Akuntansi

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen Pembimbing

Padang, Oktober 2020


Disetujui oleh,
Dosen Pembimbing

Nelvirita, SE., M.Si, Ak

NIP: 19740706 199903 2 002


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT Alhamdulillah
penulis dapat menyelesaikan laporan Magang Ini.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan laporan Magang ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas perkuliahan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas
Negeri Padang.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam proses penyusunan laporan Magang ini. Penulis juga menyadari
dalam penulisan laporan Magang ini masih banyak sekali kekurangan dan jauh dari
sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan sekali
masukan, kritik, dan saran dari semua pihak yang sifat nya membangun sebagai bahan
perbaikan dimasa yang akan datang. Penulis berharap agar Mgang ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak.
Payakumbuh, Oktober 2020

Penulis
Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang kaya akan Sumber Daya Alam dan Manusianya, namun
kekayaan ini belum bisa dikelola secara maksimal oleh negara. Roda–roda investasi seolah sulit untuk
digerakkan, walaupun pada kenyataannya hutang di negeri ini masih menjadi bayangan hitam di
masadepan. Sumber Daya yang Tuhan berikan seharusnya dapat menjamin kemakmuran bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Siregar (2002, h.89) berpendapat, “Kenyataan di lapangan adalah belum terjadinya
pengelolaan secara optimal atas harta kekayaan negara dan utang luar negeri yang seharusnya hanya
menjadi pelengkap justru menjadi perangkap bagi Indonesia”. Pengertian aktiva atau yang biasa kita
sebut sebagai aset merupakan harta kekayaan yang dimiliki oleh Perusahaan, dapat berwujud maupun
tidak berwujud yang harus dimiliki oleh setiap Perusahaan sebagai nilai tambah di sebuah Perusahaan.
Aset dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dibuat oleh Ikatan Akuntansi Indonesia
(IAI) didefinisikan sebagai sumber daya yang dikuasai oleh Perusahaan sebagai akibat dari peristiwa
masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh (IAI, 2007).
Kejayaan suatu negara ditentukan oleh Perusahaan–Perusahaan yang dipercaya untuk mengelola dan
mengoptimalkan segala aset yang dimiliki oleh negara, dengan pengelolaan aset secara optimal
mampu meningkatkan produktivitas serta menambah nilai suatu negara dimata dunia
. PT. PERTAMINA (Persero) yang selanjutnya disebut sebagai PERTAMINA merupakan
salah satu Perusahaan BUMN yang mengupayakan adanya optimalisasi pada aset–aset yang mereka
miliki. 2 Hal itu dilakukan karena mereka ingin memastikan bahwa tidak ada aset yang
terbengkalai/tidak produktif. Aset dapat memberikan nilai tambah bagi Perusahaan, oleh karena itu
kepemilikan aset di suatu Perusahaan haruslah di optimalkan agar tidak ada aset yang kurang
produktif/tidak produktif/iddle. Beban biaya seperti Pajak Bumi dan Bangunan, biaya pemeliharaan
dan pengamanan, serta biaya lain–lain, semua beban biaya itu akan tetap ditanggung bagi aset tidak
produktif yang selanjutnya disebut sebagai iddle.
Pendayagunaan aset pada suatu Perusahaan, mampu meningkatkan kinerja sekaligus
memberikan nilai tambah bagi Perusahaan tersebut. PT. PERTAMINA (Persero) Marketing Operation
Region IV (MOR IV) merupakan bagian dari kesatuan wilayah kerja PT. PERTAMINA (Persero),
yang membagi asetnya dalam dua golongan yaitu Aset Operasi (AO) dan Aset Penunjang Usaha
(APU). Aset Operasi (AO) adalah aset yang dipergunakan untuk membantu jalannya operasional inti
di Perusahaan. Berbeda dengan Aset Penunjang Usaha (APU), yang memiliki pengertian aset non
operasi yang berarti terdapat beberapa aset tidak produktif/kurang produktif/iddle yang berupa tanah,
bangunan, serta segala fasilitas yang sudah tidak tergolong Aset Operasi. Oleh karena itu terdapat
upaya yang diambil oleh MOR IV agar aset yang mereka miliki dapat dimaksimumkan. Langkah yang
ditempuh tersebut dapat meningkatkan nilai guna dari suatu aset tanpa memberikan dampak negatif
dari pencapaian nilai guna tersebut.
Dalam sektor perekonomian yang semakin maju tentunya akan mempengaruhi
perkembangan pada setiap perusahaan, baik perusahaan swasta maupun perusahaan
pemerintah. Masalah yang dihadapi perusahaan juga semakin rumit terutama dalam penyajian
laporan keuangan. Di dalam mencapai tujuan perusahaan selalu menghadapi masalah baik itu
dari dalam maupun dari luar perusahaan, untuk itu diperlukan adanya pengendalian intern
yang dapat membantu memperlancar kegiatan dalam perusahaan dan memperkecil resiko
terjadinya penyimpangan atau kesalahan dalam setiap aktivitas perusahaan.
Perusahaan tidak akan terlepas dari bidang keuangan sehingga memerlukan sebuah
laporan keuangan untuk mengikhtisarkan posisi keuangannya. Laporan posisi keuangan
adalah salah satu laporan keuangan dasar yang biasanya disusun oleh organisasi yang
mencari laba, untuk digunakan oleh investor, kreditor, dan pengambilan keputusan eksternal
yang lainnya. Laporan posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan dengan komponen
aktiva (harta/asset) dan pasiva (kewajiban dan modal/payable and equity). Aset terdiri dari
aset lancar (current asset),aset tetap (fixed asset) dan aset lain-lain (other asset).
Aset tetap merupakan salah satu komponen dalam laporan posisi keuangan yang
sangat penting bagi perusahaan untuk pelaksanaan kegiatan operasional dan sebagai
penunjang tercapainya tujuan didirikan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, ketelitian dan
kecermatan dalam pengolahan aset tetap sangat berpengaruh terhadap kewajaran penilaian
dalam laporan keuangan.
Selain itu,asset tetap sangat penting dalam menunjang aktifitas perusahaan karena
asset tetap dapat berfungsi sebagai komponen pendukung dalam menjalankan suatu kegiatan
sehingga dapat meningkatkan produktifitas suatu perusahaan.
Jenis dan banyaknya asset tetap pada peruahaan tergantung pada perkembangan dan
aktivitas perusahaan itu sendiri. Pengadaan suatu asset tetap disesuaikan dengan kebutuhan
perusahaan yang bersangkutan dengan aktivitasnya.
Menurut PSAK No.16, “aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk
siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan,
tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun.” Dari pernyataan ini dapat diringkas bahwa aset tetap ini
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Mempunyai bentuk fisik
2. Dipakai dan digunakan secara aktif dalam kegiatan operasional
perusahaan
3. Dimiliki tidak untuk diperdagangkan
4. Mempunyai jangka waktu kegunaan (umur) relatif lebih dari satu periode
akuntansi atau lebih dari satu tahun
5. Memberi manfaat dimasa yang akan datang.
Aset tetap biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun, sehingga
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam jangka waktu yang relatif
lama. Namun, manfaat yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin
menurun manfaatnya secara terus menerus, dan menyebabkan terjadi penyusutan
(depreciation). Seiring dengan berlalunya waktu, aset tetap akan mengalami penyusutan
(kecuali tanah).
Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu aset tetap untuk memberikan
jasa/manfaaat yaitu : Secara fisik, disebabkan oleh pemakaian karena penggunaan yang
berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia
dengan yang diminta (misal kemajuan teknologi). Sehingga penurunan kemampuan aset tetap
tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya.
Masalah pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena
mempengaruhi laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Apabila menggunakan metode
penyusutan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi perusahaan
tersebut, maka akan mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap
periode akuntansi. Selain itu juga mempengaruhi nilai dari aset tetap tersebut.
Dalam perhitungan penyusutan aset tetap terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan, antara lain : metode garis lurus, metode saldo menurun, metode jumlah
angka tahun, metode unit input dan metode unit output.