Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN MINI RISET

PENGARUH BAHAN KIMIA INSEKTISIDA TERHADAP REGENERASI


EKOR BERUDU
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Hewan
yang diampu oleh:
Drs. H. Dadang Machmudin, MS.,
Dr. Didik Priyandoko, M.Si.,
Dr. Hernawati, M.Si.

oleh :
Kelompok 2A
Pendidikan Biologi A 2017
Hanifah Nur Alfiyyah (1700139)
Luniar Abdullah (1700677)
Raihana Nurul Isnaeni (1700576)
Rizaldi Nurdin Firdaus (1700957)
Vanni Destianti Kurnia (1705682)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah


memberikan Taufik dan Hidayah-Nya, sehingga dengan pemberian-Nya
itulah penulis dapat menyelesaikan Mini Riset Perkembangan Hewan dengan
judul “PENGARUH BAHAN KIMIA INSEKTISIDA TERHADAP
REGENERASI EKOR BERUDU”. Salawat dan salam kita sampaikan kepada
Nabi Muhammad SAW yang berjuang untuk melaksanakan ajaran Islam di
permukaan bumi Allah ini. Semoga kita semua senantiasa berpedoman kepada
dua pusaka yang telah ditinggalkannya yaitu Al Qur’an dan Sunnahnya.
Adapun tujuan penulis melakukan miniriset ini adalah sebagai penelitian
eksperimen lanjutan dari eksperimen yang telah ada, serta menimbulkan rasa ingin
tahu mahasiswa terhadap suatu fenomena hasil eksperimen. Maka dalam
penulisan laporan miniriset ini penulis menyadari banyaknya kesalahan dan
hambatan yang dihadapi. Namun berkat Taufik dan Hidayah dari Yang Maha
Kuasa, akhirnya laporan ini dapat juga diselesaikan.
Akhirnya penulis mengucapkan maaf, kiranya dalam penulisan makalah
ini terdapat kesalahan, dengan harapan semoga kita semua lebih mudah untuk
memahami pelajaran yang diberikan Amin Amin Ya Robbal Alamin.

Bandung, Desember 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Pertanyaan Penelitian ................................................................................... 2
D. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 2
E. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 2
F. Hipotesis ....................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 4
BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 9
A. Rancangan Penelitian ................................................................................... 9
B. Waktu dan Tempat ....................................................................................... 9
C. Desain Penelitian ......................................................................................... 9
D. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................................... 9
E. Variabel Penelitian ...................................................................................... 10
F. Prosedur Penelitian ..................................................................................... 10
G. Analisis Data ............................................................................................... 11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 12
A. Hasil Penelitian .......................................................................................... 12
B. Pembahasan ................................................................................................ 14
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 16
A. Kesimpulan ................................................................................................ 16
B. Saran .......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA GAMBAR ...................................................................... 18
LAMPIRAN ........................................................................................................ 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Organisme khususnya golongan hewan memiliki kemampuan untuk
memiliki dan memperbaiki kerusakan-kerusakan bagian tubuh secara ekstensif
baik akibat kecelakaan pada kondisi alamiah maupun akibat disengaja dalam
suatu percobaan. Kerusakan yang diperbaiki itu mungkin berupa pemulihan
kerusakan akibat hilangnya bagian tubuh utama, umpamanya anggota badan
mungkin hanya berupa penggantian kerusakan-kerusakan yang terjadi dalam
proses fisiologi biasa. Dalam peristiwa tersebut nampak adanya suatu
kemampuan organisme untuk memperbaharui kembali bagian tubuh yang
terganggu atau rusak dan proses perbaikan tersebut dengan regerenasi
kembali.
Peristiwa regenerenasi bagi organisme merupakan hal yang sangat
penting karena proses yang esensial selama perjalanan hidup organisme.
Adanya bagian tubuh yang lepas akibat ketuaan atau kecelakaan dengan
proses regrenasi bagian tubuh yang lepas akan diganti kembali dengan
jaringan baru kembali. Dan juga beberapa organisme proses regenerasi
merupakan hal yang sangat penting dalam reproduksi secara aseksual (Philip,
1978).
Menurut Morgan dalam Browder (1984), ia mengenal dua mekanisme
primer untuk pembentukan kembali bagian-bagian tubuh yang hilang.
Pertama, regenerasi morfalaksis yakni suatu proses perbaikan yang melibatkan
reorganisasi bagian tubuh yang masih tersisa untuk memulihkan kembali
bagian tubuh yang hilang. Jadi dalam jenis regenerasi ini pemulihan bagian
yang hilang itu sepenuhnya diganti oleh jaringan lama yang masih tertinggal.
Kedua, epimorfosis yaitu rekonstruksi bagian-bagian yang hilang melalui
proliferasi dan diferensiasi jaringan dari permukaan luka. Namun regenerasi
dapat pula berupa penimbunan sel-sel yang nampaknya belum terdiferensiasi
pada luka dan sering disebut, blastema, yang akan berproliferasi dan secara
progresif membentuk bagian yang hilang.

1
Lingkungan hewan adalah semua faktor biotik dan abiotik yang ada
disekitarnya dan dapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat tumbuh, hidup,
dan berkembang biak dalam suatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan
sumberdaya serta terhindar dari faktor-faktor yang membahayakan.
Pada penelitian ini, kami akan melakukan eksperimen mengenai
regenerasi berudu yang diberi perlakuan dari faktor lingkungan yakni
pemberian bahan kimia insektisida dengan konsentrasi berbeda untuk melihat
pengaruhnya terhadap regenerasi ekor berudu.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh insektisida terhadap regenerasi ekor berudu?

C. Pertanyaan Penelitian
1. Berapa panjang ekor berudu setelah dipotong dan diberi insektisida dengan
dosis 0,003 dan 0,006 gram/100ml?
2. Berapa panjang ekor berudu setelah di potong tetapi tidak diberi
insektisida (sebagai kontrol)?
3. Dosis manakah yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekor
berudu yang diberi perlakuan?
4. Arah potongan ekor berudu manakah yang lebih cepat tumbuh?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis regenerasi ekor berudu
yang diberi bahan kimia insektisida dengan konsentrasi berbeda dan ekor
berudu yang tidak diberi bahan kimia insektisida (sebagai kontrol).

E. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi mengenai pengaruh insektisida terhadap regenerasi
hewan-hewan di perairan.
2. Menjadi dasar untuk dilakuakan penelitian lebih lanjut mengenai potensi
penggunaan berudu sebagai faktor biologis terjadinya pencemaran air.

2
F. Hipotesis
H0 : Tidak terdapat penambahan ukuran ekor berudu yang diberi bahan kimia
Insektisida.
H1 : Terdapat penambahan ukuran ekor berudu yang diberi bahan kimia
Insektisida.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pembentukan kembali proses-proses morfogenetik pada tahap lanjut dari


siklus ontogenetik adalah dengan cara destruksi sebagian sistem yang telah
berkembang sebagai hasil perkembangan sebelumnya. Organisme khususnya
golongan hewan memiliki kemampuan untuk memiliki dan memperbaiki
kerusakan-kerusakan bagian tubuh secara ektensif baik akibat kecelakaan pada
kondisi alamiah maupun disengaja dalam suatu percobaan. Kerusakan yang
diperbaiki itu mungkin berupa pemulihan kerusakan akibat hilangnya bagian
tubuh utamaatau hanya berupa penggantian kerusakan-kerusakan terjadi dalam
proses fisiologi biasa. Dalam peristiwa tersebut, terlihat adanya suatu kemampuan
organisme untuk memperbaharui kembali bagian tubh yang rusak dan proses
perbaikan tersebut dilakukan dengan regenerasi.
Peristiwa regenerasi bagi organisme merupakan hal yag sangat penting
karena proses yang esensial selama perjalanan hidup organisme. Adanya bagian
tubuh yang rusak akibat kecelakaan akan diganti kembali dengan jaringan baru
melalui proses regenerasi. Menurut Morgan dalam Browder (1984), ia mengenal
dua mekanisme primeruntuk pembentukan kembali bagian tubuh yang rusak
ataupun hilang. Pertama, regenerasi morfalaksis yaitu suatu proses perbaikan yang
melibatkan reorganisasi bagian tubh yang masih tersisa untuk memulihkan
kembali bagian tubuh yang hhilang. Jadi dalam regenerasi ini pemulihan bagian
yang rusak atau hilang sepenuhnya diiganti oleh jaringan lama yang masih
tertinggal. Kedua, regenerasi epimorfis yaitu rekonstruksi bagian-bagian yang
hilang melalui proliferasi dan diferensiasi jaringan dari permukaan luka. Namun
pada regenerasi ini dapat pula berupa penimbunan sel-sel yang nempaknya belum
terdiferensiasi pada luka dan sering disebut blastema yang akan berproliferasi dan
secara progresif membentuk bagian tubuh yang rusak atau hilang.
Adanya regenerasi pada organisme dewasa menunjukkan suatu bukti
bahwa medan morfogenesis tetao terjadi setelah periode embrio, umpamanya
regenerasi anggota badan yang hilang, dalam proses regenerasi melibatkan proses
serupa dengan yang tetrjadi pada perkembangan embrionik seperti pada bagian

4
yang rusak mulai muncul sel-sel dan memperbanyak diri menjadi jaringan dan
akhirnya mencapai keadaan yang berbeda. Pada beberapa spesies proses
regenerasi hanya terjadi pada hewan dewasa saja, contohnya telur Ascida yang
kehilangan blastomernya akan berkembang menjadi larva yang tidak lengkap atau
pada Annelida yang kehilangan sel 4 d nya dan akan kehilangan sebagian besar
mesodermnya. Pada peristiwa di atas, Ascida dan Annelida dewasa memiliki daya
regenerasi yang tinggi selama kehidupan dewasanya.
Menurut Singer dalam Browder (1984) bahwa proses-proses yang terlibat
dalam regenerasi anggota tubuh setelah diamputasi meliputi hal-hal sebagai
berikut:
a. Periode penyembuhan luka
Tahap penyembuhan luka ini diawali dari tepi luka dengan penyebaran
epidermis dari tepi luka yang akan menutupi permukaan yang terluka.
Penyebaranya dengan cara gerakan amoeboid sel-sel yang tidak melibatkan
pembelahan mitosis sel. Akan tetapi, sekali penutupan dapat mneyelesaikan
sel-sel epidermis berproliferasi untuk menghasilkan masa sel yang berlapis-
lapis dan membentuk sebuah tudung berbentuk kerucut pada ujung anggota
badan. Struktur tersebut dikenal dengan “Apical epidermis cap”. Waktu
penyembuhan luka relatif cepat, namun bergantung pada ukuran hewan yang
beregenerasi, ukuran luka, serta faktor-faktor ekternal lainya seperti suhu.
b. Periode pengahancuran jaringan (histolisis)
Setelah proses penutupan luka, proses lain yang sangat penting dalam proses
regenasi adalah terjadinya dediferensiasi jaringan-jaringan yang berdekatan
dengan permukaan luka. Dediferensiasi didahului dengan histolisis jaringan-
jaringan di dalam puntung secara besar-besaran. Jaringan yang telah
terdiferensiasi seperti otot, rulang rawan, tulang ikat, dan matriks,
intraselulernya hancur dan melepaskan individu sel-sel mesenkim yang
merupakan sel-sel awal dari aringan yang telah berdiferensiasi tersebut.
c. Periode pembentukan blastema
Sel-sel mesenkim yang dilepaskan selama diferensiasi tertimbun di bawah
epidermis, sel- sel yang berproliferasi cepat dapat menyebabkan epidermis

5
menjadi semakin menonjol. Masa sel-sel mesenkim ini dinamakan balstema
regenerasi.
d. Diferensiasi dan morfogenesis
Jaringan pertama yang berdiferensiasi dari balstema adalah tulang rawan.
Mula-mula muncul pad aujung tulang sejati dan terjaid penambahan secara
progresif pada distal bagian ujungnya. Ketika konstruksi tulang menjadi
sempurna, rangka yang telah beregenarasi berubah menjadi tulang. Berikutnya
otot terbentuk disekitar tulang rawan sedangkan pembuluh darah tidak jelas
pada tahap konstruksi awal, serabut saraf yang terpotong pada saat amputasi
aksonnya segera tumbuh ke daerah luka dan mengontruksi poal-poa
persarafan. Pada bagian luar terjadi perubahan-perubahan bentuk puntung
anggota tubuh yang semula berbentuk kerucut selanjutnya mulai memipih
dorsoventral pada bagian ujungnya , bagian pipih menunjukkan tanda-tanda
jari awal yaitu korpus atu tarsus rudimen yang dinamakan palt kaki atau
tangan. Selanjutnya pola-pola pembentukan jari yang progresif mulai
membentuk jari-jari sederhana yang terpisah satu sama lainnya, dan akhirnya
anggota tubuh sempurna terbentuk dan berfungsi normal.
Sel-sel yang beregenerasi berasal dari sel-sel blastema yang terlibat yang
terlibat dalam regenerasi anggota tubuh berasal dari dediferensiasi lokal jaringan
puntung selama penghancuran jaringan (histolisis). Alternatif lain menyatakan
bahwa sumber sel-sel blastema berasal dari sel-sel cadangan yang bergerak dari
wilayah lain sebagai akibat amputasi. Mengenai asal sel lokal yang bergerak
dalam ikut serta dalam regenerasi anggota tubuh amfibia telah diketahui oleh
Hertwig (1927) melakukan eksperimen yaitu, suatu anggota tubuh haploid (n)
yang diamputasi, selanjutnya dicangkokkan di salamander diploid (2n). Hasil
pencangkokan ini dibiarkan sampai sembuh, berikutnya dilakukan amputasi pada
bagian lengan atas dari anggota badan haploid (n) yang telah sembuh. Setelah
dibiarkan beberapa saat serta merta telah muncul blastema, dan hasil eksperimen
menunjukkan bahwa semua sel-sel yang beregenerasi adalah haploid (n).
Menurut Thornton (1968) dalam Browder (1984) menyatakan bahwa
regenerasi juga dipengaruhi oleh sistem endokrin, penghilangan kelenjar pituitri
anterior (hipofisektomi) mencegah regenerassi urodella dewasa, pengaruh yang

6
paling besar jika hipofasektomi dilakukan pada saat amputasi. Jika hipofasektomi
dilakukan pada saat reaksi diperlambat maka tingkat regenerasi tergantung pada
panjang bagian yang tersisa. Apabila diperlambat sekurang-kurangnya tiga belas
hari tidak berpengaruh pada regenerasi. Interpretasi terbaik menduga bahwa
hormon pituitri berperan hanya selama tahap awal regenerasi yakni pada saat
penyembuhan luka dan dideferensiasi, maka dengan demikian pertumbuhan
blastema dan diferensiasi tidak memerlukan persediaan hormon pituitri yang
terus-menerus (Phillip, 1978).
Telah diketahui beberapa hormon terutama ACTH, hormon pertumbuhan
dan bahkan prolaktin, merangsang regenerasi anggota badan dari hewan yang
dihipofisektomi. Hormon lain yakni tiroksin, suatu hormon yang mengontrol
metamorfosis juga mempengaruhi regenerasi, terutama pada regenerasi Anura.
Namun pengaruh tiroksin masih kurang dipahami karena hormon tersebut
mencehah regenerasi anggota badan kecebong apabila diberikan sebelum
amputasi, tetapi mempercepat morfogenesis jika diberikan pada tahap blastema.
Pengaturan dan pemeliharaan polaritas dari suatu organisme adalah ciri
umum semua pola regenerasi baik pada tumbuhan maupun hewan. Contoh jelas
dipertahankannya polaritas diperlihatkan pada anggota badan Urodella. Menurut
Dent dan Butler dalam Spratt (1971) apabila anggota badan Urodella diamputasi
kemudian puntungnya disipkan kedalam otot punggung yang telah disayat dan
dibiarkan. Setelah puntung sembuh dimana sudah tersedia pembuluh darah dan
saraf. Kemudian anggota dari tubuh diamputasi melalui bagian lengan
atas/humerusnya ternyata blastemanya selalu membentuk bagian-bagian distal
dari anggota badan, yang dimulai dengan pembentukan bagian yang sesuai dengan
tempat terjadinya amputasi. Walaupun bagian anggota badan dalam posisi
terbalik. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa suatu pembalikan dari polaritas
telah terjadi pada anggota badan sifat informasi dalam bentuk pertumbuhan.
Setelah anggota badan diamputasi segera epidermis kulit menutup luka
dan berproliferasi untuk membentuk struktur Apical Epidermal cap (AEC), yang
berlapis banyak (multilayer). Telah dibuktikan bahwa AEC telah jika ditransplasi
kebagian dasar suatu blastema anggota badan, menginduksi pertumbuhan
sekunder dan perlengkapan anggota badan. Pada waktu AEC dicangkokkan ke

7
lokasi yang baru, indeks mitosis pada tempat asal AEC menjadi berkurang.
Sekurang-kurangnya dalam hal peranan AEC, program embrionok diulangi
selama regenerasi karena AEC merangsang pertumbuhan mesoderm (Phillip,
1978). Eksperimen lain yang dilakukan Goss (1956) yakni suatu anggota badan
yang diamputasi disisipkan kedalam rongga badan ternyata regenerasi tidak
berlangsung, akan tetapi bila bagian anggota badan yang diamputasi itu dibiarkan
sembuh terlebih dahulu dengan ditutupi AEC sebelum disisipkan kedalam rongga
badan, ternyata anggota badan membentuk blastema dan beregenerasi didalam
rongga badan.

Gambar 1. Ekor berudu yang dipotong secara horizontal


(Luthfi, 2013)

Gambar 2. Ekor berudu mengalami regenerasi sehingga ekor tumbuh kembali


(Luthfi, 2013)

8
BAB III
METODE PENEITIAN

A. Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan adalah
Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan 3 konsentrasi berbeda,
(enam) perlakuan, dan masing-masing 2 telur.
Sebelum dilakukan penelitian, dilakukan penentuan kisaran insectisida
yang akan digunakan pada penelitian regenerasi ekor berudu. Konsentrasi
Insectisida yang digunakan untuk penelitian ini adalah 0,003g/100ml dan
0,006g/100ml. Masing-masing dimasukkan ke dalam cup berisi air kolam 100
ml, kemudian dimasukkan masing maising 2 berudu dengan perlakuan yang
berbeda (dipotong ekor arah horizontal dan vertikal) ke dalam cup berisi
insectisida. Selain itu terdapat kelompok kontrol diperlakukan dengan
merendam berudu yang ekornya sudah diberi perlakuan sama yaitu dipotong
horizontal dan vertikal ke dalam air kolam yang tidak diberi insectisida.

B. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Senin – Jum’at, 09 – 14 Desember 2019
Waktu : Menyesuaikan jam kuliah
Tempat : Laboratorium Struktur Hewan, FPMIPA A UPI

C. Desain Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain penelitian
ekspreimental dimana penelitian eksperimen ini diartikan sebagai metode
penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu
terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.

D. Populasi dan Sampel


Populasi penelitian ini adalah berudu Rana sp. yang didapat dari
daerah Kebun Balitsa (Balai Tanaman & Sayuran), Lembang, Kabupaten

9
Bandung Barat. Berudu yang akan diberi perlakuan merupakan jenis berudu
yang belum memiliki kaki dan ukuran tubuh beserta ekor relatif sedang.
Sampel yang digunakan dalam peneltian ini adalah berudu Rana sp. yang
dipilih secara random dari populasi berudu Rana sp. yang terdapat di kolam
Kebun Balitsa (Balai Tanaman & Sayuran), Lembang, Kabupaten Bandung
Barat.

E. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas (Independent variabel), yaitu konsentrasi insectisida.
2. Variabel terikat (Dependent variabel), yaitu perkembangan ekor berudu,
setelah diberi perlakuan berupa pemotongan secara horizontal dan vertikal,
3. Variabel kontrol meliputi air kolam (medium pemeliharaan embrio) dan
suhu.

F. Alat dan Bahan


Tabel 1. Alat yang Digunakan dalam Pengamatan Regenerasi Ekor Katak
No Nama Alat Jumlah
1. Milimeter blok 1 buah
2. Gelas beker 250 ml 5 buah
3. Kertas label 1 lembar
4. Silet/Cutter 2 buah
5. Cawan petri 1 buah
6. Cup minuman 5 buah
7. Alat tulis 1 set
8. Microcam 1 buah
9. Laptop 1 buah

10
Tabel 2. Bahan yang Digunakan dalam Pengamatan Regenerasi Ekor Katak
No Nama Bahan Jumlah
1. Kecebong yang belum memiliki tunas 25 ekor
2. Insektisida 1 botol
3. Air Kolam 600mL

Langkah Kerja :

Larutan insectisida
Sejumlah berudu
disiapkan dengan Ekor berudu
dicari, minimal
konsentarasi dipotong secara
mendapatkan 20
masing masing vertical dan
berudu berukuran
0,003 dan 0,006 horizontal
sedang
dalam 100ml air

Berudu yang telah


dipotong ekornya,
Diamati
Dicatat hasil dimasukkan ke
perkembangannya
pengamatan dan dalam gelas plastic
dan dibandingkan
dibuat laporan berisi larutan
dengan kontrol
insectisida, masing-
masing 2 ekor

Gambar 3. Bagan Alur Langkah Kerja Pengamatan Regenerasi Ekor Katak

G. Analisis Data
Penelitian dilaksanakan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan keadaaan dari
embrio katak setelah diberi perlakuan, apakah terjadi kelainan atau tidak. Data
berupa deskriptif kuantitatif yang bertujuan menjelaskan fenomena yang ada
dengan menggunakan angka-angka untuk menjelaskan karakteristik individu
atau kelompok.

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Tabel 4.1. Hasil Penelitian Ekor Berudu Berdasarkan Waktu Perlakuan
Konsentrasi Hari ke-1
(g/100ml) Vertikal Horizontal
Waktu Waktu Waktu Waktu
perlakuan kematian perlakuan kematian
0 18.18 -* 18.36 -*
0,003 17.45 19.00 17.30 18.35
0,006 17.48 18.48 17.30 18.27
Keterangan : * = Berudu masih hidup

Tabel 4.2. Pengukuran Berudu dari Ujung Kepala sampai Pangkal Ekor (mm)
Konsentrasi Arah Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Hari ke-5
(g/100ml) pemotongan A B A B A B A B A B
0 Horizontal 13 15 14 10 20 - 14 - 13 -
Vertikal 20 18 23 20 33 30 25 20 23 19
0,003 Horizontal 11 18 - - - - - - - -
Vertikal 23 22 - - - - - - - -
0,006 Horizontal 15 17 - - - - - - - -
Vertikal 21 23 - - - - - - - -
Keterangan : - = Berudu mati

12
Tabel 4.3. Pengukuran Berudu dari Ujung Ekor sampai Pangkal Ekor (mm)
Konsentrasi Arah Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Hari ke-5
(g/100ml) pemotongan A B A B A B A B A B
0 Horizontal 5 5 5 3 7 - 6 - 4 -
Vertikal 12 10 13 12 19 17 15 10 13 10
0,003 Horizontal 4 7 - - - - - - - -
Vertikal 12 13 - - - - - - - -
0,006 Horizontal 5 8 - - - - - - - -
Vertikal 12 14 - - - - - - - -

13
B. Pembahasan
Kecebong atau berudu adalah hewan yang proses tahapan pada siklus
kehidupan amfibi yaitu tahap pradewasa atau larva. Kecebong sering disebut
sebagai anak katak atau kodok dan jewan amfibi lainnya. Kecebong adalah
salah satu contoh dari sekian banyak makhluk hidup yang mempunyai
kemampuan dalam regenerasi organ. Ekor yang diputuskan tersebut akan
tergantikan kembali melalui proses regenerasi organ yang memerlukan waktu
tertentu dalam proses pembentukannya (Yjitrosoepomo, 1984).
Kecebong dapat menumbuhkan kembali ekor, meningkatkan jaringan
spesies lain yang rusak bisa diset ulang setelah cedera. Tidak seperti katak
dewasa, kecebong memiliki kemampuan untuk memperbaiki bagian tubuhnya
yang rusak disebut dengan daya regenerasi. Regenerasi berlangsung selama
perkembangan pasca embrio melalui proses tumbuhdan differensiasi pada
jaringan sekitar luka, sehingga permukaan luka tertutup epidermis serta
jaringan dibawahnya membentuk jaringan baru. Tanpa regenerasi maka tubuh
organisme tidak akan ada yang sempurna (Aprizal Lukman, 2013).
Regenerasi meliputi tiga cara yaitu pertama lewat mekanisme yang
melibatkan dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang
terdifferensiasi. Yang kemudian direspesifikasi. Tipe regenerasi seperti ini
disebut regenerasi epimorfis. Regenerasi semacam ini terjadi lewat pemolaan
kembali jaringan yang masih ada (tersisa) yang tidak disertai dengan
perbanyakan sel. Berdasarkan Kimball (1993), dibutuhkan waktu dua hari
untuk menutup luka, setelah itu dilanjutkan dengan rediferensiasi sel-sel
jaringan disekitar luka.
Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan insektisida berbagai
konsentrasi yaitu 0g/100ml, 0,003g/100ml, dan 0,006g/100ml dengan dua arah
pemotongan yaitu horizontal dan vertikal dimana pada konsentrasi 0g/100ml
kecebong masih tetap hidup dan mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Sedangkan pada konsentrasi 0,034g/100ml dan 0,006g/100ml hanya mampu
bertahan beberapa jam selanjutnya kecebong-kecebong tersebut mati. Hal ini
terjadi karena regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah
temperature, proses biologis dan faktor bahan kimia.

14
Praktikum regenerasi yang menggunakan kecebong sebagai bahan
praktikum, menghasilkan data pertumbuhan ekor kecebong yang berbeda-
beda. Hal ini disebabkan karena daya regenerasi pada setiap golongan hewan
berbeda-beda sesuai dengan derajatnya dalam tingkat taksonomi, dilihat dari
segi kepentingannya, suatu regenerasi bagi organisme mutlak diperlukan
karena berperan dalam perbaikan bagian tubuh yang mengalami kerusakan.
Bahkan beberapa organisme regenerasi merupakan suatu mekanisme,
reproduksi aseksual yang sangat essensial.

15
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :
1. Pertumbuhan dan daya regenerasi dari setiap individu berbeda.
2. Daya regenerasi dipengaruhi oleh temperature, proses biologis dan faktor
bahan kimia. Kenaikan dari temperature pada hal-hal tertentu dapat
mempercepat regenerasi.
3. Proses regenerasi terjadi beberapa tahap yaitu terjadinya pembekuan darah
disekitar luka yang nantinya akan terbentuk scab. Jaringan epitel kulit
yang berada di bawah scab menyebar menutupi seluruh permukaan luka.
Sel-sel disekitar luka bersifat pluripotent, dimana menjadi muda sehingga
aktif membelah kembali. Terbentuknya kuncup regenerasi yang akan
menggantikan scab. Regenerasi akan berhenti apabila proliferasi sel-sel
blastema terhenti juga.
4. Tidak ada dosis yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekor
berudu yang diberi perlakuan, karena dalam beberapa jam saja berudu
yang diberi konsentrasi 0,003g/100ml dan 0,006g/100ml sudah mati.
5. Arah potongan ekor yang lebih cepat tumbuh yaitu potongan vertikal.

B. Saran
Diharapkan kepada praktikan agar berhati-hati dan teliti dalam
melaksanakan praktikum demi kelancaran proses praktikum dan keberhasilan
praktikum untuk hasil yang lebih maksimal.

16
DAFTAR PUSTAKA

Browder, L.W. (1984). Developmental Biology, 2 th


ed. London: W.B. Saunders.
Campbell. (2008). Biology 8th Edition. San Fransisco: Pearson Benjamin
Cummings.
Goss, B.M. (1956). Fundamental of comparative embryology. Fith edition. New
York : Mc. Graw Hill Book Co.
Hertwig, J.J. (1927). Fundamental of comparative embryology the vertebrata.
New York : The Mac Millan company.
Lukman, Aprizal. (2012). Mekanisme Regenerasi Anggota Tubuh Hewan. (Hlm
44-48). Jambi: Universitas Jambi.
Spratt, N.T. (1971). Developmental biology. California: Mac Millan Co. Belmont.
Phillip, G. (1978). Biology of Developmental System. New
York: Holt, Rinehart and Winston.

17
DAFTAR PUSTAKA GAMBAR

Gambar 1. Ekor berudu yang dipotong secara horizontal


Luthfi, A. (2013). Bagaimana Proses Pertumbuhan Ekor Kecebong. [Online].
Diakses dari:
https://www.google.com/amp/s/techno.okezone.com/amp/2013/02/11/56/7
60061/bagaimana-proses-pertumbuhan-ekor-kecebong
Gambar 2. Ekor berudu mengalami regenerasi sehingga ekor tumbuh kembali
Luthfi, A. (2013). Bagaimana Proses Pertumbuhan Ekor Kecebong. [Online].
Diakses dari:
https://www.google.com/amp/s/techno.okezone.com/amp/2013/02/11/56/7
60061/bagaimana-proses-pertumbuhan-ekor-kecebong

18
LAMPIRAN
1. Hari ke-1
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan A B

Horizontal

Gambar 4. Berudu Katak A Gambar 5. Berudu Katak B


Horizontal 0g/100ml Horizontal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)
0

Vertikal

Gambar 6. Berudu Katak A Gambar 7. Berudu Katak B


Vertikal 0g/100ml Vertikal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

Horizontal

Gambar 8. Berudu Katak A Gambar 9. Berudu Katak B


Horizontal 0,003g/100ml Vertikal 0,003g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)
0,003

Vertikal

Gambar 10. Berudu Katak Gambar 11. Berudu Katak B


A Vertikal 0,003g/100ml Vertikal 0,003g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

19
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan

Horizontal

Gambar 12. Berudu Katak Gambar 13. Berudu Katak B


A Horizontal 0,006g/100ml Vertikal 0,006g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)
0,006

Vertikal

Gambar 14. Berudu Katak Gambar 15. Berudu Katak B


A Vertikal 0,006g/100ml Vertikal 0,006g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

2. Hari ke-2
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan A B

Horizontal

Gambar 16. Berudu Katak Gambar 17. Berudu Katak


A Horizontal 0g/100ml B Horizontal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)
0

Vertikal

Gambar 18. Berudu Katak Gambar 19. Berudu Katak


A Vertikal 0g/100ml B Vertikal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

20
3. Hari ke-3
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan A B
-
(mati)

Horizontal

Gambar 20. Berudu Katak


A Horizontal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019)
0

Vertikal

Gambar 21. Berudu Katak Gambar 22. Berudu Katak


A Vertikal 0g/100ml B Vertikal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

4. Hari ke-4
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan A B
Horizontal -
(mati)

Gambar 23. Berudu Katak


A Horizontal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019)
0 Vertikal

Gambar 24. Berudu Katak Gambar 25. Berudu Katak


A Vertikal 0g/100ml B Vertikal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

21
5. Hari ke-5
Konsentrasi Arah Berudu Katak
(g/100ml) pemotongan A B
Horizontal -
(mati)

Gambar 26. Berudu Katak


A Horizontal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019)
0
Vertikal

Gambar 27. Berudu Katak Gambar 28. Berudu Katak


A Vertikal 0g/100ml B Vertikal 0g/100ml
(Dok. Kelompok 2A, 2019) (Dok. Kelompok 2A, 2019)

22