Anda di halaman 1dari 34

PENYESUAIAN KERJA DI

ERA NEW NORMAL SAAT


PANDEMI COVID-19

Dr. David R. Wibowo, Sp.Ok


APA ITU COVID-19?
 Corona Virus Disease (COVID-19)  suatu Infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, keluarga Coronavirus, dapat menyebabkan penyakit mulai
dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah (SARS dan MERS).
 Virus corona pada umumnya bersifat zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia); berawal dari penyebaran infeksi lokal di Wuhan, China kira-kira
pada bulan Oktober-November 2019; diduga ditularkan lewat kelelawar ke manusia; virus masih kerabat dengan virus penyebab wabah SARS (2003-
2004) dan MERS (2012-2015)
 Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari.
 COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia secara:
1. Langsung: percikan batuk/bersin (droplet), kontak erat (cium tangan, jabat tangan, berpelukan, ataupun cipika-cipiki)
2. Tidak langsung: menyentuh permukaan benda terkontaminasi (Virus Corona dapat bertahan pada permukaan benda selama berjam-jam sampai berhari-
hari)
3. WHO belum mengkonfirmasi bahwa penularan bisa melalui udara (secara airborne).

 Virus Corona dapat bertahan di luar tubuh: 3 jam sebagai aerosol di udara, 4 jam di atas permukaan tembaga, 24 jam di kardus, 48 jam di stainless
steel, 72 jam di permukaan plastik  penularan ke manusia???
 Gejala-gejala COVID-19 mirip dengan pneumonia biasa. Gejala awal yang khas termasuk Influenza Like Illnesses (ILI), yaitu salah satu atau lebih dari
gejala berikut: batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan sesak napas.
 Kasus COVID-19 berat: pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian.
 WHO per tanggal 11 Maret 2020 menyatakan COVID-19 sebagai Pandemi Global
 Pemerintah RI per tanggal 24 Maret 2020 menyatakan COVID-19 sebagai bencana nasional
 Bulan Juni – Juli 2020 memasuki fase New Normal: “hidup berdampingan” dengan COVID-19
MEKANISME PENULARAN
DEFINISI OPERASIONAL SESUAI BUKU
PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
COVID-19 REV. 4 OLEH KEMENKES RI
Kasus Konfirmasi
•Pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan tes positif melalui pemeriksaan PCR.

PDP (Pasien Dalam Pengawasan)


•Orang dengan ISPA, demam (≥38°C) atau riwayat demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan (batuk/sesak nafas/sakit tenggorokan/pilek/pneumonia ringan hingga
berat) DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di
Negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal
•Orang dengan demam (≥38°C) atau riwayat demam atau ISPA DAN 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus positif COVID-19
•Orang dengan ISPA berat / pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di RS DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan klinis yang meyakinkan

ODP (Orang Dengan Pemantauan)


•Orang yang mengalami demam (≥38°C) atau riwayat demam ATAU gejala gangguan sistem pernapasan (pilek/sakit tenggorokan/batuk) DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan
gambaran klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal
• Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki Riwayat kontak dengan
kasus konfirmasi COVID-19

OTG (Orang Tanpa Gejala)


•Tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi COVID19
•Merupakan kontak erat* dengan kasus konfirmasi COVID19
•Pada pemeriksaan: POSITIF COVID (mungkin negatif)
Kontak Erat: Seseorang yang kontak fisik atau berada di 1 ruangan dalam jarak 1 meter dengan kasus PDP/Positif COVID-19
•Petugas kesehatan di tempat perawatan kasus tanpa menggunakan APD sesuai standar
•Orang yang berada dalam suatu ruangan yang sama dengan kasus positif dalam 14 hari terakhir
•Orang yang bepergian bersama (radius 1 meter) dengan segala jenis alat angkut/kendaraan dalam 14 hari terakhir
(Sumber: PEDOMAN
PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN
CORONAVIRUS DISEASE
(COVID-19) REVISI KE-4,
Maret 2020)
RUANG LINGKUP PENYESUAIAN KERJA DI
MASA PANDEMI COVID-19
 Unit Usaha / Bisnis
 Lingkungan Kerja
 Proses Kerja
 Paradigma manajemen perusahaan terhadap kesehatan kerja:
 Pekerja yang sakit atau menunjukkan gejala ILI
 Pekerja dengan comorbid
 Fungsi dan keberadaan klinik perusahaan (In-House Clinic)
 Absenteisme Pekerja
LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN NEW
NORMAL
1. Membentuk Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Tempat Kerja yang terdiri dari
Pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan petugas Kesehatan yang diperkuat
dengan Surat Keputusan dari Pimpinan Tempat Kerja  sesuai Keputusan Menkes RI
No. HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan Dan Pengendalian
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Di Tempat Kerja Perkantoran Dan Industri
Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi
2. Menyusun (kembali) Perencanaan Keberlangsungan Usaha dalam Menghadapi
Pandemi Covid-19  SE Menaker RI No. M/7/AS/02.02/V/2020
3. Menerapkan Protokol Pencegahan Penularan Corona Virus Disease di Tempat Kerja
Sektor Jasa Dan Perdagangan (Area Publik) Dalam Mendukung Keberlangsungan
Usaha  sesuai dengan SE Menkes RI No. HK.02.01/MENKES/335/2020
PERTIMBANGAN DALAM MEMBUAT
RENCANA KEBERLANGSUNGAN USAHA (1)
1. Identifikasi faktor risiko dan penyusunan rencana pengendalian (termasuk upaya preventif-
promotif) yang dapat dilakukan untuk meminimalkan penularan COVID-19 pada pekerja
a. Penularan COVID-19 (dan infeksi emerging lainnya)
 Di tempat kerja: tingkat risiko pajanan infeksius, di mana, dari siapa, dan bagaimana pekerja dapat terpajan
agen infeksius
 Di luar tempat kerja: di rumah, perjalanan dari rumah ke tempat kerja (dan sebaliknya), di komunitas, dan
kunjungan (rutin) ke faskes
b. Kerentanan individu pekerja: penyakit penyerta (comorbid) seperti DM, malnutrisi, obesitas, usia > 60
tahun
c. Identifikasi proses bisnis yang esensial dan kritikal terhadap keberlangsungan usaha
d. Perhatikan urut-urutan hirarki pencegahan infeksi COVID-19 di tempat kerja!!

David R. Wibowo 14/06/2020


Lakukan konsultasi dengan pekerja, jangan memaksakan Risiko Pajanan Tinggi
keputusan Anda
pekerjaan atau tugas pekerjaan yang
berpotensi tinggi untuk kontak erat
Risiko Pajanan Sedang
dengan orang-orang yang diketahui
atau diduga menderita COVID-19,
pekerjaan atau tugas kerja dengan kontak
Risiko Pajanan Rendah serta kontak dengan benda dan
erat (<1 m) atau sering kontak langsung
dengan masyarakat umum, atau rekan permukaan yang mungkin
pekerjaan atau tugas kerja tanpa kerja lainnya, pengunjung, klien / terkontaminasi oleh virus.
kontak erat atau jarang kontak pelanggan, atau kontraktor, tetapi tidak
langsung dengan masyarakat umum, memerlukan kontak dengan orang-orang
rekan kerja lainnya, pengunjung, klien yang diketahui atau diduga terinfeksi oleh
/ pelanggan, atau kontraktor, dan COVID-19.
yang tidak memerlukan kontak
dengan orang yang diketahui atau
diduga terinfeksi COVID-19. Libatkan layanan kesehatan kerja, konsultasikan
dengan Dinas Kesehatan setempat
PENYESUAIAN LINGKUNGAN
KERJA NEW NORMAL
PERTIMBANGAN DALAM MEMBUAT
RENCANA KEBERLANGSUNGAN USAHA (2)
2. Analisis risiko:
a. Business Impact Analysis:
 Kemungkinan rantai suplai dan pengiriman produk yang terganggu
 Kemungkinan penurunan konsumsi masyarakat
 Penentuan unit usaha/produksi yang hendak dipertahankan, dimodifikasi / dilakukan penyesuaian, atau ditutup (sementara)
 Kemungkinan pengembangan unit usaha baru
 Kemungkinan penambahan pekerja tertentu
 Kemungkinan pengurangan jumlah pekerja (industrial layoffs)
 Kemampuan perusahaan dalam bertahan dalam menghadapi situasi pandemi
b. Dampak upaya pengendalian:
 Pengurangan jam operasional perusahaan
 Kemungkinan peningkatan jumlah pekerja yang tidak masuk kerja (WFH, individu rentan, back office). Perhatikan unit bisnis yang
esensial dan kritikal
 Tambahan tenaga untuk melaksanakan skrining pekerja
 Perubahan kebijakan perusahaan (kelonggaran aturan perusahaan tentang kewajiban menunjukkan surat keterangan sakit, hak-
hak pada pekerja yang harus menjalankan karantina/isolasi mandiri, dan pembatasan kerja shift), perubahan business process,
layout ruangan, penyediaan ruangan khusus/isolasi/observasi, alur kerja, SPO, dll.
 Ada unit usaha/produksi yang hendak dipertahankan, dimodifikasi / dilakukan penyesuaian, atau ditutup (sementara)
 Penambahan area kerja baru: area triase, ruang/mess sementara, area khusus atau ruang isolasi di klinik perusahaan
 Budget tambahan untuk upaya pencegahan dan pengendalian (sterilisasi/disinfeksi, hand sanitizer, barrier, wastafel, masker, face
shield, gloves, HEPA filter, extra fooding & vitamin, transportasi khusus pekerja, dll.)

David R. Wibowo 14/06/2020


REKOMENDASI PENYESUAIAN
KERJA BAGI PEKERJA YANG
TIDAK TERTULAR COVID-19
 Matriks risiko penularan vs risiko
kerentanan dapat digunakan sebagai
panduan penyesuaian kerja bagi pekerja
untuk mencegah penularan COVID-19
 Di lingkungan kerja perkantoran/industri,
yang memerlukan penyesuaian kerja
adalah pekerja dengan risiko penularan
COVID-19 tingkat sedang dan risiko
kerentanan tingkat tinggi  dianjurkan
untuk konsul ke Klinik Kedokteran
Okupasi

David R. Wibowo 14/06/2020


PERTIMBANGAN DALAM MEMBUAT
RENCANA KEBERLANGSUNGAN USAHA (3)
3. Pelaksanaan upaya pengendalian
a. Penyusunan (ulang) dokumen BCP, pedoman, panduan, SPO, dll
b. Penyiapan area triase (tempat pemeriksaan suhu tubuh pekerja/pengunjung/tamu, dan wawancara terhadap tamu yang masuk)
c. Persiapan training dokter dan paramedis perusahaan untuk manajemen COVID-19 di tempat kerja
d. Persiapan training tambahan (cross training) pekerja  pekerja yang masuk kerja mampu melakukan pekerjaan pekerja lain yang berhalangan apabila
diperlukan
e. Sosialisasi protokol pencegahan penularan COVID-19 di tempat kerja
f. Klasterisasi pekerja menurut tingkat risiko penularan dan shift kerja
g. Cohorting pekerja esensial dan unit bisnis yang kritikal  klasterisasi berdasarkan kriteria OTG, ODP, dan PDP ringan  perlu keterlibatan dokter
perusahaan
h. Penentuan petugas pelaksana lapangan dan penyusunan jadwal piket
i. Simulasi penerapan upaya pengendalian di tempat kerja
j. Pengurangan waktu kerja lembur dan shift
 Meniadakan shift 3
 Membatasi umur pekerja yang mengikuti shift 3 <50 tahun
k. Rekomendasi penyesuaian/kelaikan kerja (WFH, non shift) secara medis pada pekerja dengan comorbid dari dokter perusahaan atau dokter spesialis
kedokteran okupasi RS

4. Evaluasi terhadap upaya pengendalian


a. Lakukan dokumentasi foto / video
b. Pengawasan kepatuhan oleh Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Tempat Kerja, terutama oleh tim HRD/HSE perusahaan dan para
leader/kepala regu/supervisor yang ditugaskan; dapat dibuat checklist internal audit
c. Evaluasi efektivitas pengendalian secara berkala
d. Lakukan pembaruan secara berkala dengan mengacu kepada kebijakan pemerintah pusat / daerah atau lewat website resmi pemerintah
(http://infeksiemerging.kemkes.go.id)
David R. Wibowo 14/06/2020
CHECKLIST PENCEGAHAN DAN MITIGASI
COVID-19 DI TEMPAT KERJA

Sumber:
https://www.ilo.org/jakarta/whatwedo/publications/WCMS_74
2960/lang--en/index.htm
CONTOH PENYESUAIAN
UNIT USAHA DI MASA
PANDEMI COVID-19
UPAYA PENCEGAHAN EKSTRA PADA RISIKO
PAJANAN TINGKAT SEDANG DI PERUSAHAAN
1. Rekayasa Enjinering:
 Pemasangan barrier mika bilamana memungkinkan

2. Kontrol Administratif:
 Pemberian masker medis kepada pekerja yang sedang sakit, kemudian dapat diarahkan
ke ruang khusus/isolasi/klinik perusahaan
 Pengumuman dilarang masuk bagi pengunjung/tamu yang sakit
 Restriksi pintu masuk/area tertentu bagi pengunjung/tamu
 Pembatasan pengunjung/tamu per hari
 Minimalkan kontak langsung  layanan drive-thru, kontak telepon, kerja jarak jauh

3. Pemakaian APD:
 Perhatikan aspek fungsional, fit testing, cara dekontaminasi, pembuangan, dan biaya.
 Pekerja dengan risiko pajanan tingkat sedang mungkin memerlukan kombinsi APD
berikut:
 sarung tangan
 gaun/apron atau jas lab
 masker medis
 face shield, atau goggles
 Kombinasi APD untuk pekerja di kategori risiko pajanan tingkat sedang bervariasi
berdasarkan tugas kerja, hasil penilaian risiko pekerjaan, dan jenis pajanan lainnya yang
terdapat di tempat kerja
David R. Wibowo 14/06/2020
UPAYA PENCEGAHAN EKSTRA PADA RISIKO
PAJANAN TINGKAT TINGGI DI PERUSAHAAN
Di perusahaan/industri, tempat yang memiliki risiko pajanan tingkat tinggi adalah klinik perusahaan atau In-House Clinic (jika
menerima pekerja yang menunjukkan gejala ILI)
1. Rekayasa Enjinering:
 Barrier mika di ruang konsultasi
 Jarak kursi antar pengunjung 1,5-2 meter
 Kontrol ventilasi
 HEPA filter
 Ruang isolasi bertekanan negatif jika dimungkinkan

2. Kontrol Administratif:
 Tidak menerima pekerja dengan gejala ILI; atau dilakukan pemisahan (di ruang isolasi atau area khusus) antara pekerja yang
menunjukkan gejala ILI dengan yang sakit biasa
 Pekerja berusia lanjut, wanita hamil, dan dengan comorbid dianjurkan untuk tidak bekerja di tempat kerja risiko penularan
COVID-19 tingkat tinggi
 Contact tracing pekerja
 Pelatihan pemasangan dan pelepasan APD
 Penutupan layanan sementara jika upaya pencegahan ekstra tidak dapat dipenuhi

3. Pemakaian APD:
Sebagian besar pekerja dengan risiko pajanan tingkat tinggi sangat mungkin membutuhkan kombinasi APD berupa:
 sarung tangan
 gaun/apron berlengan panjang waterproof  jas hujan sebagai alternatif
 masker medis atau respirator N95
 face shield
 goggles

David R. Wibowo 14/06/2020


PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (1)
1. Kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS):
• Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir, atau pemakaian antiseptic berbahan dasar alcohol
secara berkala
• Tidak merokok
• Olahraga teratur dan istirahat yang cukup
• Etika batuk dan bersin  tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan atas bagian dalam; tisu yang
digunakan dibuang ke tempat sampah tertutup, jangan lupa CTPS
• Hindari menyentuh area wajah: mata, hidung, mulut
• Konsumsi makanan bergizi dengan gizi seimbang; konsumsi daging hewan matang; minum air cukup;
konsumsi vitamin bila diperlukan
• Perhatikan protokol kebersihan pada saat berangkat kerja, dan saat pulang kerja ke rumah:
− Pastikan dalam kondisi sehat sebelum berangkat bekerja.
− Bila mengalami gejala seperti demam/batuk/pilek/sakit tenggorokan disarankan untuk tidak masuk bekerja dan
memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika diperlukan
− Gunakan pakaian khusus kerja dan mengganti pakaian saat selesai bekerja.
− Gunakan masker saat berangkat dan pulang dari tempat kerja serta selama berada di tempat kerja.
− Segera mandi dan berganti pakaian sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah.
− Bersihkan handphone, kacamata, tas, dan barang lainnya dengan cairan desinfektan saat pulang ke rumah
PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (2)
2. Penerapan Higiene dan Sanitasi Perusahaan:
• Jaga kebersihan lingkungan kerja:
− Pembersihan tempat kerja secara berkala menggunakan disinfektan
− Optimalkan sirkulasi udara
− Upayakan sinar matahari masuk ke ruang kerja
− Bersihkan filter AC secara rutin
• Jaga kebersihan tangan setelah menggunakan fasilitas publik
• Sediakan akses sarana CTPS berupa air mengalir dan sabun cair, atau
hand sanitizer berbasis alkohol
• Pasang pesan-pesan kesehatan di lokasi strategis di tempat kerja (pintu
masuk, lift, toilet, dsb)
• Bersihkan meja kerja dan peralatannya sebelum dan sesudah bekerja
menggunakan disinfektan
• Lakukan disinfeksi fasilitas umum yang sering disentuh publik (misal:
tombol lift dan handrail) setiap 4 jam sekali
• Jika memungkinkan, perusahaan menyediakan transportasi khusus
pekerja untuk perjalanan pulang pergi dari mess/perumahan ke tempat
kerja sehingga pekerja tidak menggunakan transportasi publik.
• Khusus pekerja yang terpaksa menggunakan kendaraan umum, jangan
lupa physical distancing, penggunaan masker, dan membawa helm sendiri
apabila diperlukan
PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (3)
3. Memastikan pemakaian alat pelindung diri:
• Gunakan masker untuk pekerja  sesuai pajanan di lingkungan kerja
• Setiap tamu/pengunjung diwajibkan mengenakan masker
• Bagi petugas penyemprot disinfektan, gunakan:
− Masker/respirator
− Baju pelindung
− Kacamata
− Pelindung wajah
− Hair cap
− Sarung tangan dalam & luar
4. Lakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan thermogun/thermal scanner di setiap pintu masuk
perusahaan dan lakukan pengamatan kondisi umum pekerja dan tamu:
• Pekerja atau tamu dengan suhu di atas 37,3 °C (sesuai anjuran WHO) atau tampak sakit (demam, pilek,
batuk, nyeri tengorokan, sesak napas) maka tidak diijinkan bekerja atau memasuki area perusahaan 
segera hubungi petugas kesehatan atau Ahli K3 di tempat kerja
PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (4)
5. Batasi kontak antar pekerja dan tamu/pengunjung:
• Physical distancing min. 1 meter (atau lebih):
− Tanda khusus di lantai ruang ganti, lift, dan area padat pekerja / pengunjung lainnya
− Khusus lift: penumpang lift dianjurkan berdiri saling membelakangi
− Usahakan agar tidak ada pekerja/pengunjung yang berpapasan  jika memungkinkan pisahkan tangga untuk naik dan tangga untuk turun
− Pembuatan partisi (mis: flexy glass) di meja kasir atau customer service
− Pengaturan meja kerja/rapat dan tempat duduk berjarak min. 1 meter
− Jaga jarak antrian pekerja/buruh waktu masuk kerja, di kantin, ruang istirahat, ruang ganti, dan tempat lainnya yang sering digunakan
bersama
• Hindari kontak fisik langsung: bersalaman, berpelukan, dll.
• Ganti rapat tatap muka langsung dengan teleconference, webinar, dll.
• Khusus bagian kasir  utamakan pembayaran non tunai
• Cegah kerumunan pelanggan/tamu  sesuaikan dengan Perda/Pergub/Perbup setempat
− Tanda di lantai bagi tamu/pengunjung yang masuk untuk memfasilitasi physical distancing
− Pembatasan pengunjung/tamu (anjuran WHO: batasi hanya 1 orang per 10 meter persegi)
− Penerapan sistem antrian di pintu masuk, jaga jarak min. 1 meter
− Lakukan pelayanan secara online jikalau memungkinkan (layanan delivery, telepon, telekonsultasi, dll)
− Pembatasan jam layanan
PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (5)
6. Masukkan materi Tindakan Pencegahan Penularan COVID-19 ke dalam Safety Induction: physical
distancing, CTPS/handsanitizer, dan penggunaan masker
7. Sosialisasi dan edukasi seluruh pekerja/buruh ttg COVID-19 (penyebab, gejala, penularan, protokol
kesehatan dan pencegahan)  jangan lupa physical distancing!!
8. Atur pola kerja dan buat pengelompokan pekerja sesuai jenis pekerjaan (pertimbangkan kebijakan
Pemerintah Pusat/Daerah):
a. Pengelompokan pekerja:
• Pekerja inti yang harus hadir di perusahaan untuk operasional produksi
• Pekerja/staff administrasi yang dapat WFH
• Pekerja kelompok rentan:
− Comorbid: Hipertensi, Asma, DM, Penyakit paru lainnya
− Pulang pergi ke daerah transimisi lokal dengan kendaraan umum
b. Partial WFH  libur bergantian untuk mengurangi kerumunan di area kerja
c. Total WFH  sesuaikan dengan peraturan perundang-undangan
PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN
COVID-19 DI TEMPAT KERJA (6)
9. Informasikan kepada pekerja untuk tidak mengunjungi faskes (klinik/Puskesmas/RS), kecuali
dalam keadaan mendesak atau gawat darurat, dan lakukan konsultasi online apabila
memungkinkan
10. Penundaan sementara MCU berkala hingga aspek K3 terpenuhi atau pandemi COVID-19
berakhir
11. Petugas kesehatan atau Ahli K3 perusahaan melakukan pemantauan secara proaktif kepada
seluruh pekerja untuk mendeteksi dini pekerja yang mengalami demam / batuk / pilek / nyeri
tenggorokan / sesak napas, dan merujuk ke klinik perusahaan (standar APD harus sesuai)
atau faskes terdekat  dapat dibantu dengan kuesioner self-assessment yang telah diisi
masing-masing pekerja sebelum masuk kerja
12. Bila terdapat ODP, PDP, Terkonfirmasi COVID-19, petugas kesehatan atau Ahli K3 harus:
o Lapor dan koordinasi dengan instansi terkait (jika diminta)
o Lakukan sosialisasi tentang protokol self isolation.
KAPAN PEKERJA MULAI BOLEH KEMBALI
BEKERJA?
 Syarat utama: terapkah physical distancing, penerapan PHBS, dan penggunaan masker di
tempat kerja
 CDC USA for HCW  dapat diterapkan pada pekerja dengan pekerjaan esensial & kritikal:
 Kriteria Gejala (ODP atau PDP ringan): 72 jam bebas demam (tanpa pengobatan) & perbaikan gejala
pernapasan (batuk atau sesak napas) & lewat 10 hari dari gejala pertama kali muncul
 Kriteria Waktu (OTG): 10-14 hari setelah konfirmasi diagnosis positif tanpa adanya gejala sama sekali
 Kriteria Test (PDP sedang/berat yang dirawat di RS): 2 kali test swab RT-PCR hasil (-) dengan durasi
antar test > 24 jam
 Edukasi bahwa pekerja dengan demam atau gangguan saluran napas untuk tidak masuk kerja
 Bila terdapat pekerja dengan gejala ILI di tempat kerja:
 Gejala ringan  upayakan beri masker medis, lalu pekerja diminta pulang dan lakukan isolasi mandiri
 Gejala berat  rujuk ke faskes
 Pelaku perjalanan dinas: disarankan karantina mandiri dan monitoring selama 14 hari (???)
 perlu pertimbangan profesional di bidang kedokteran kerja untuk mengembangkan
program kembali bekerja
CONTOH FORMULIR SELF ASSESSMENT
DAN ALUR TINDAK LANJUT

Sumber: Kepmenkes RI No. HK.01.07/MENKES/328/2020


tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona
Virus Disease (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran
dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha
Pada Situasi Pandemi
REFERENSI

1. Pandemi COVID-19: Pencegahan Pengendalian di Tempat Kerja, Wibowo S., Melati R., PT.
Solusi Era Mediatama, Jakarta, 2020
2. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (COVID-19) Revisi ke-4,
Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI,
Maret 2020
3. Kepmenkes RI No. HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan
Pengendalian Corona Virus Disease (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri
Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi
4. SE Menkes RI No. HK.02.01/MENKES/334/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan
Corona Virus Disease (COVID-19) di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan (Area
Publik) Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha
5. SE Menaker RI No. M/7/AS/02.02/V/2020 tentang Rencana Keberlangsungan Usaha Dalam
Menghadapi Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) Dan Protokol Pencegahan
Penularan COVID-19 di Perusahaan
6. Criteria for Return to Work for Healthcare Personnel with Suspected or Confirmed COVID-
19 (Interim Guidance), CDC, 30 April 2020
7. https://en.wikipedia.org/wiki/Severe_acute_respiratory_syndrome_coronavirus_2, diakses
pada tanggal 4 Juni 2020
TERIMA KASIH