Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum

Dasar-dasar Ekologi

POLA PENYEBARAN POPULASI

NAMA : LIA ASMIRA


NIM : G011 17 1304
KELAS : DASAR-DASAR EKOLOGI C
KELOMPOK :6
ASISTEN : 1. FIRSYA NATASYA
2. HERLIN

DEPARTEMEN BUDIDAYA TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam suatu komunitas biotik, tidak selamanya populasi individu atau
kerapatan populasinya dapat atau perlu diukur. Oleh karena itu, informasi berupa
kelimpahan atau kerapatan relatif dapat mencukupi data yang diperlukan.
Meskipun besar populasi yang sebenarnya tidak diketahui, gambaran mengenai
kelimpahan populasi berupa indeks dapat memberikan informasi berharga
mengenai berbagai hal. Sebagai contoh, kita dapat mengetahui perbedaan populasi
hewan di suatu area pada waktu yang berbeda (Tim Penyusun Modul, 2016).
Pola penyebaran organisme adalah karakter penting dalam ekologi komunitas.
Ini biasanya yang pertama kali diamati dalam melihat beberapa komunitas dan
salah satu sifat dasar dari kebanyakan kelompok organisme hidup. Informasi
mengenai kepadatan populasi dirasakan belum cukup untuk memberi gambaran
yang lengkap mengenai keadaan suatu populasi yang terdapat dalam suatu habitat.
Dua populasi mungkin saja memiliki kepadatan yang sama, tetapi mempunyai
perbedaan yang nyata dalam pola penyebarannya. Pengetahuan mengenai
penyebaran sangat penting untuk mengetahui tingkat pengelompokan dari
individu yang dapat memberikan dampak terhadap populasi dari rata-rata per unit
area dan menjelaskan faktor-faktor yang bertanggung jawab dalam penyebaran
populasi dalam suatu kasus (Soegianto, 1994 dalam Riyanto, 2004).
Selain memberi gambaran tentang kepadatan suatu populasi, alasan lain untuk
mengetahui pola persebaran populasi ialah dapat membantu dalam mengambil
keputusan tentang metode apa yang akan digunakan untuk mengestimasi
kepadatan atau kelimpahan suatu populasi dalam suatu ekosistem (Katili, 2016).
Menurut Krebs (1989, dalam Riyanto, 2004), terdapat derajat keseragaman
dan pengelompokan yang dapat digambarkan dalam pola penyebaran populasi.
Ada tiga pola dasar penyebaran populasi yang telah diakui, yaitu pola persebaran
acak, pola persebaran seragam atau merata dan pola persebaran mengelompok.
Pola sebaran acak dari individu-individu populasi suatu spesies dalam suatu
habitat menunjukkan bahwa terdapat keseragaman dalam lingkungan atau pola
tingkah laku yang tidak selektif. Dengan kata lain, pola non-acak (mengelompok
dan seragam) secara tidak langsung menyatakan bahwa ada faktor pembatas
terhadap keberadaan suatu populasi. Pengelompokan atau pola persebaran
mengelompok menunjukkan bahwa individu-individu berkumpul pada beberapa
habitat yang menguntungkan, kejadian ini bisa disebabkan oleh tingkah laku
mengelompok, lingkungan yang heterogen, model reproduksi, dan sebagainya.
Sedangkan, pola penyebaran yang seragam dihasilkan dari interaksi negatif antara
individu-individu, seperti kompetisi terhadap makanan atau hal-hal khusus.
Selanjutnya Quinn & Dunham (1983 dalam Riyanto, 2004), mengingatkan bahwa
alam bersifat multifaktor, artinya banyak proses-proses yang saling berinteraksi
(komponen biotik dan komponen abiotik) yang mungkin berkontribusi terhadap
pola-pola penyebaran yang tercipta.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan praktikum pola penyebaran
populasi untuk mempelajari pola penyebaran populasi dan prosesnya dalam suatu
lingkung tertentu, sehingga kita dapat mengetahui kepadatan suatu lahan dan
mengetahui pola penyebaran populasi lahan dengan metode Chi-Square Test.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Praktikum dasar-dasar ekologi tentang pola penyebaran populasi ini bertujuan
untuk mengetahuipola penyebaran dan cara menentukan pola penyebaran dengan
menggunakan metode Chi-Square Test.
Adapun kegunaan praktikum ini adalah diharapkan dapat memberikan
pemahaman tentang pola penyebaran populaasi dalam suatu komunitas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hirarki Keragaman Hayati


Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang
menunjukkan keseluruhan variasi gen, spesies dan ekosistem di suatu daerah. Ada
dua faktor yang menyebabkan adanya variasi yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor genetik bersifat relatif konstan atau stabil pengaruhnya
terhadap morfologi organisme. Keanekaragam hayati dapat terjadi pada berbagai
tingkat kehidupan makhluk hidup (Wahyuni, 2017).
Menurut Wahyuni (2017), Hirarki keragaman hayati diawali dengan adanya
molekul yang kemudian menjadi organel dan menyusun sel lalu membentuk
jaringan, jaringan kemudian membentuk organ, kumpulan dari organ yang
kerjanya saling sinergi dinamakan sistem organ, lalu kemudian menjadi satu
individu baru yang disebut organisme, organisme yang hidup dan berkumpul
dalam suatu lingkungan disebut populasi, lalu kemudian ada komunitas,
ekosistem adalah hubungan antara lingkungan dan individu, kemudian ada bioma
dan yang terakhir adalah biosfer.
Menurut Krebs (1989 dalam Riyanto, 2004), keanekaragaman hayati hanya
terdiri dari 3 tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, spesies dan ekosistem.
Keanekaragaman gen adalah variasi susunan gen yang membawa sifat keturunan
dalam suatu spesies yang nantinya akan menimbulkan varietas. Keanekaragaman
spesies adalah perbedaan dari beberapa spesies makhluk hidup dalam suatu
tempat. Keanekaragaman ekosistem adalah berbagai macam bentuk interaksi
antara lingkungan biotik dan abiotiknya.
2.2. Sifat-sifat Penyebaran Populasi
Menurut Odum (1989 dalam Riyanto, 2004), pada dasarnya populasi
mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya tetapi tidak dimiliki oleh
masing-masing anggotanya. Sifat-sifat penyebaran populasi yaitu sebagai berikut:
2.2.1. Kerapatan atau kepadatan
Kerapatan diperuntukkan untuk tumbuhan atau komponen pendukungnya,
sedangkan kepadatan biasanya digunakan sebagai indeks pengukuran banyaknya
manusia atau individu dalam suatu tempat. Populasi umumnya tidak pernah
menetap jumlahnya dari waktu ke waktu karena adanya perubahan jumlah
individu entah bertambah atau berkurang, perubahan populasi juga disebabkan
karena sumber daya yang kurang atau lebih.
2.2.2. Natalitas
Natalitas adalah angka yang menunjukkan indeks jumlah individu baru
yang bertambah per satuan waktu. Jadi, dapat diketahui bahwa angka natalitas
adalah kejelasan yang membuat kepadatan populasi semakin meningkat pula. Hal
ini juga dapat menyebabkan pola penyebaran terjadi secara acak.
2.2.3. Mortalitas
Berbeda dengan Natalitas, mortalitas menunjukkan indeks jumlah individu
yang mati atau berkurang per satuan waktu. Kematian adalah salah satu
karakteristik makhluk hidup, sehingga hal ini juga dapat menjadi faktor yang
mengendalikan persebaran populasi. Mortalitas menjadi faktor utama yang dapat
mengontrol ukuran suatu populasi, jika angka kematian sedikit dan angka kelahira
tinggi, maka ini dapat dikatakan sebagai ledakan populasi karena berlebihan.
2.2.4. Pertumbuhan Populasi
Pertumbuhan populasi disini adalah faktor yang tak kalah penting.
Pertumbuhan populasi berhubungan dengan usia produktif suatu individu dalam
suatu populasi. Suatu populasi memiliki batasan usia produktif masing-masing
yang menjadi tolak ukur untuk ber-regenerasi untuk melanjutkan keturunan
mereka. Ada 3 pembagian usia dalam populasi, yaitu masa berkembang yang
memiliki individu-individu muda, masa produktif yang memiliki usia yang merata
dan masa menurun yang terdiri dari sebagian besar individu-individu tua.
2.2.5. Penyebaran Populasi
Penyebaran populasi adalah gerak individu untuk berpindah dari suatu
tempat ke tempat lain entah itu memasuki atau meninggalkan lingkungannya.
Penyebaran populasi dibagi atas 3, yaitu Imigrasi (individu masuk kelingkungan
yang baru), Emigrasi (individu keluar dari lingkungan yang lama) dan Migrasi
(peristiwa individu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain secara berkala).
2.3. Faktor-faktor Penyebaran Populasi
Zulfahmi (2015), menyatakan bahwa ada berbagai macam faktor yang dapat
mempengaruhi penyebaran populasi yaitu sebagai berikut:
1. Iklim
Iklim memiliki pengaruh yang besar terhadap persebaran makhluk hidup di
muka bumi. Hal ini didukung oleh beberapa faktor yaitu misalnya
kelembapan udara, dimana kelembaban berpengaruh langsung terhadap
kehidupan tumbuhan. Ada tumbuhan yang sangat cocok hidup di daerah
tropis, sub tropis atau yang lainnya.
2. Bentuk Permukaan Bumi
Bentuk permukaan bumi biasanya mempengaruhi populasi utamanya pada
tumbuhan karena berhubungan langsung dengan pembagian sinar matahari.
sinar matahari adalah komponen yang menjadi faktor penentu fotosintesis,
sehingga permukaan yang kurang mendapat penyinaran akan memiliki
vegetasi yang lebih sedikit dibanding dengan permukaan yang mendapat
penyinaran yang lebih baik.
3. Kondisi Tanah
Kondisi tanah adalah tolak ukur adanya populasi yang beragam di suatu
lingkungan karena pola penyebaran terjadi karena adanya kebutuhan yang
ingin dipenuhi tanaman, salah satunya adalah zat hara. Jika suatu wilayah
mempunyai kondisi tanah yang baik maka tumbuhan pun dapat dengan
mudah tumbuh disana. Baik atau tidaknya kondisi tanah dipengaruhi oleh
butiran tanah, mineral tanah, bahan organik, sirkulasi udara dan air tanah.
4. Suhu
Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap tumbuh-tumbuhan dan
hewan, karena jenis spesies tertentu memiliki persyaratan suhu lingkungan
yang ideal atau suhu optimum bagi kehidupannya, serta batas suhu
maksimum dan minimum untuk tumbuh yang dinamakan batas toleransi
spesies terhadap suhu. Suhu bagi tumbuh-tumbuhan merupakan faktor
pengontrol bagi persebarannya sesuai dengan letak lintang, ketinggian dan
sebagainya. Penamaan habitat tumbuhan biasanya sama dengan nama-nama
wilayah berdasarkan lintang buminya, seperti vegetasi hutan tropik, vegetasi
lintang sedang dan sebagainya.
2.4. Hubungan Pola Penyebaran Populasi Dalam Suatu Ekosistem
Pola penyebaran merupakan salah satu ciri khas dari setiap organisme di
suatu habitat. Pola penyebaran bergantung pada faktor lingkungan maupun
keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Organisme dalam populasi dapat
tersebar dalam bentuk-bentuk umum yang terdiri dari tiga macam yaitu
penyebaran secara acak, merata dan berkelompok. Informasi mengenai
penyebaran sangat penting karena hal tersebut berperan dalam pengelompokan
individu yang diklaim sebagai sebuah populasi. Selain itu pola penyebaran
berhubungan pula dengan faktor bioekologi yang memberikan pengaruh pada
individu yang di teliti (Katili, 2016).
Pola persebaran populasi sangat banyak di ekosistem, namun umumnya dibagi
atas 3 kategori yaitu acak, kelompok dan seragam. Namun, paling banyak dijumpai
di alam adalah pola berkelompok (rumpun), ini disebabkan oleh adanya
reproduktif vegetatif, susunan benih lokal dan fenomena lainnya (Wahyuni, 2017).
Levinton (1982, dalam Zulfahmi, 2015), menyatakan mengelompoknya
individu yang bergerak disebabkan oleh ketertarikan terhadap sumber makanan
dan tempat individu menetap. Penyebaran spesies mengelompok disebabkan oleh
rendahnya predator benih dan semai serta rendahnya tingkat mortalitas spesies.
Pola mengelompok juga disebabkan karena tumbuhan bereproduksi dengan biji
yang jatuh dekat induknya atau dengan rimpang yang menghasilkan anakan
vegetatif yang dekat dengan induknya.
Sementara itu, Pola penyebaran seragam jarang terdapat pada populasi alami.
Yang mendekati keadaan demikian adalah apabila terjadi penjarangan akibat
kompetisi antara individu yang relatif ketat. Sedangkan, pola penyebaran acak
terjadi apabila kondisi lingkungan bersifat seragam dan tidak adanya
kecenderungan individu untuk bersegresi (Zulfahmi, 2015).
Pola penyebaran berhubungan dengan variasi individu yang ada dalam suatu
ekosistem. Ekosistem harusnya beragam individu. Keragaman tercipta karena
adanya hasil dari kompetisi yang sulit dalam suatu populasi, sehingga yang
menetap adalah individu yang kuat. Ukuran tanaman dalam suatu populasi akan
mempengaruhi reproduksi tanaman, tingkat perkawinan dan jumlah biji yang
terbentuk juga akan lebih bervariasi (Zulfahmi, 2015).
BAB III
METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum dasar-dasar ekologi tentang Pola Penyebaran Populasi
dilaksanakan di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin,
Makassar. Waktu pelaksanaan pada hari sabtu tanggal 11 November 2017 pukul
16.00 WITA sampai selesai.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pelaksanaan praktikum dasar-dasar ekologi tentang
pola penyebaran populasi adalah meteran, alat hitung dan alat tulis menulis.
Adapun bahan yang digunakan pada pelaksanaan praktikum ini adalah patok
dan tali rapiah.
3.3. Prosedur Kerja
3.3.1. Persiapan Praktikum
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,
2. Memahami pengujian yang akan dilakukan. Uji yang digunakan adalah uji
Chi-Square Test (CST). Nilai CST yang akan dibandingkan adalah 13,362.
3.3.2. Teknik Pelaksanaan
1. Membuat plot berukuran 3x3 meter menggunakan meteran, tali rapiah dan
patok yang telah disediakan,
2. Membuat 9 sub plot bagian, masing-masing bagian berukuran 1x1 meter,
3. Menghitung dan mencatat jumlah individu setiap vegetasi yang ada pada
masing-masing sub plot,
4. Melakukan perhitungan menggunakan formula :
a. Rata-rata jumlah individu/plot

b. Ragam

S2 =

c. Jumlah Kuadrat
SS = (n-1) S2
d. Chi-Square Test

X2 =

5. Membandingkan nilai Chi-Square Test dengan X2 tabel yaitu (n-1) = 95 %


atau 99 %
6. Menentukan pola penyebaran populasi dengan catatan :
Nilai Pola Penyebaran
X2 hitung > X2 tabel Acak
X2 hitung < X2 tabel Berkelompok
X2 hitung = X2 tabel Seragam
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Jumlah Vegetasi
Jumlah
Jumlah Rata-Rata 2 Chi-Square
Plot Ragam (S ) Kuadrat
Individu (X) Test (CST)
(SS)
Sub Plot 1 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Sub Plot 2 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Sub Plot 3 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Sub Plot 4 9 1 8 64 Acak
Sub Plot 5 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Sub Plot 6 9 1 8 64 Acak
Sub Plot 7 8 0,88 6,33 50,64 Acak
Sub Plot 8 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Sub Plot 9 10 1,11 9,87 78,96 Acak
Total 86 9,54 81,55 652,4 Acak
Sumber : Data Primer, 2017.
4.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil seperti pada
tabel diatas. Pada plot yang diamati, didapatkan hasil bahwa semua pola
penyebaran terjadi secara acak. Vegetasi memiliki pola penyebaran acak apabila
ada banyak populasi lain dalam suatu lingkungan atau ekosistem. Hal ini sesuai
dengan pendapat Krebs (1989, dalam Riyanto, 2004), yang mengatakan bahwa
pola sebaran acak terjadi dari individu-individu populasi suatu spesies dalam
suatu habitat menunjukkan bahwa terdapat keseragaman yang tinggi dalam
lingkungan atau pola tingkah laku yang tidak selektif.
Banyaknya keberagaman yang terjadi dalam suatu habitat tidak pernah lepas
dari faktor yang mempengaruhinya. Seperti yang diketahui bahwa kondisi tanah
di lahan cukup mendukung untuk persebaran populasi, bentuk permukaan tanah
yang datar juga menyebabkan suatu habitat memperoleh cahaya matahari secara
spontan, suhu pada lahan pun termasuk normal dan mendukung pertumbuhan
individu di lahan, kebanyakan tipe vegetasi yang tumbuh juga adalah rumput
sehingga memilliki daya tumbuh yang sangat cepat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Zulfahmi (2015), yang mengatakan bahwa ada 4 faktor yang
mempengaruhi pola penyebaran populasi yaitu kondisi tanah, bentuk permukaan
bumi, suhu dan waktu yang saling berhubungan.
Dari vegetasi yang diamati, 6 dari 9 plot memiliki 10 jenis individu vegetasi
yang artinya ada keberagaman dari 10 jenis ini yang menyebabkan sebaran
populasi dapat terjadi secara acak. Tidak hanya faktor lingkungan seperti iklim,
bentuk pemukaan bumi, kondisi tanah dan suhu yang menyebabkan adanya
keberagaman, namun kondisi biologis suatu jenis juga dapat berperan penting. Hal
ini sesuai dengan pendapat Katili (2016), yang mengatakan bahwa pola
penyebaran bergantung pada faktor lingkungan maupun keistimewaan biologis
organisme itu sendiri.
Alasan mengapa pada vegetasi yang diamati tidak terjadi penyebaran populasi
secara berkelompok ataupun seragam adalah adanya perbedaan intensitas cahaya
dari bentuk permukaan bumi, kondisi iklim, kondisi tanah dan suhu. Perbedaan
inilah yang membuat pola penyebaran pada vegetasi terjadi secara acak. Hal ini
sesuai dengan pendapat Zulfahmi (2015), yang mengatakan bahwa perbedaan pola
persebaran populasi diakibatkan oleh beberapa faktor seperti kondisi iklim, bentuk
permukaan bumi, kondisi tanah dan suhu.
BAB V
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan di lapangan dapat disimpulkan
bahwa pola penyebaran adalah kondisi berkelompoknya suatu spesies dalam
keadaan hidup dan bermukim dalam suatu lingkungan tertentu. Pola persebaran
populasi terjadi karena adanya keseragaman antara individu yang satu dengan
individu yang lainnya dan adanya kesamaan spesies untuk melakukan
kemampuan bermukim dalam suatu lingkungan. Pola persebaran populasi terbagi
atas 3 yaitu pola persebaran acak, seragam dan berkelompok. Pola penyebaran
acak terjadi karena banyaknya variasi dalam suatu ekosistem, pola penyebaran
seragam terjadi karena adanya kompetisi yang menghasilkan variasi spesies yang
terbaik, sedangkan pola persebaran mengelompok terjadi jika dalam suatu
ekosistem hanya sedikit variasi spesies atau sumber daya nya sehingga cenderung
lebih memilih hidup berkelompok. Pada lahan terjadi secara acak. Pola
penyebaran dapat dikatakan secara acak apabila ada banyak keseragaman varietas
individu populasi dalam suatu habitat atau kurangnya tingkah laku selektif.
4.2. Saran
Saat pengamatan, praktikan diharapkan serius melakukan pengamatan dan
pengambilan data dengan mencatat hasil akhir. Praktikan juga diharapkan
memperhatikan arahan dari asisten. Praktikan diharapkan mampu mengolah data
perhitungan dengan menggunakan metode Chi-Square Test untuk menentukan
pola penyebaran yang terjadi dalam suatu habitat atau ekosistem.
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni, Andi Sry. Dkk. 2017. Populasi dan Pola Distribusi Tumbuhan Paliasa
(Kleinhofia hospita. L) di Kecamatan Bontobahari. Media Konsesrvasi
Vol.22. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Katili, Abu bakar Sidik. 2016. Deskripsi Pola Penyebaran dan Faktor
Bioekologis Tumbuhan Paku (pteridophyta) di Kawasan Cagar Alam
Gunung Ambang Sub Kawasan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.
Jurnal. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Gorontalo: Gorontalo.
Riyanto. 2004. Pola Distribusi Populasi Keong Mas (Pomacea canaliculata L.) di
Kecamatan Belitang Oku. Majalah Sriwijaya, vol.37 no.1 hal 73.
Tim Penyusun Modul Praktikum Agroekologi, 2016. Modul Praktikum BA 2201-
Agroekologi ta 2015-2016. Program Studi Rekayasa Pertanian. Sekolah
Ilmu dan Teknologi Hayati. Institut Teknologi Bandung press: Bandung.
Zulfahmi, dkk. 2015. Kepadatan dan Pola Penyebaran Pasak Bumi (Eurycoma
Iongifolia Jack) di Zona Alaman Kuyang, Hutan Larangan Adat Kenegrian
Rumbio. Jurnal Agroteknologi, vol.6 no.1.
LAMPIRAN

Sumber : Wahyuni, 2017. Sumber : Katili, 2016.

Sumber : Tim Penyusun Modul Praktikum Agroekologi, 2016

Sumber : Riyanto, 2004. Sumber : Zulfahmi, 2015.


LAMPIRAN

Gambar 1. Plot 1-6 Gambar 2. Plot 7-9

Gambar 3. Sampel Vegetasi Gambar 4. Proses Menghitung Vegetasi


LAMPIRAN

Perhitungan

 Rata – Rata Jumlah

P1 : = = 1,11

P2 : = = 1,11

P3 : = = 1,11

P4 : = =1

P5 : = = 1,11

P6 : = = 1

P7 : = = 0,88

P8 : = = 1,11

P9 : = = 1,11

 Ragam =

P1 : = = 9,87

P2 : = = 9,87

P3 : = = 9,87

P4 : = =8

P5 : = = 9,87

P6 : = =8

P7 : = = 6,33
P8 : = = 9,87

P9 : = = 9,87

 Jumlah Kuadrat SS = (n-1)

P1: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96


P2: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96
P3: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96
P4: SS = (9-1) . 8 = 64
P5: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96
P6: SS = (9-1) . 8 = 64
P7: SS = (9-1) . 6,33 = 50,64
P8: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96
P9: SS = (9-1) . 9,87 = 78,96

 Chi – Square Test =

P1 : = = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

P2 : = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

P3 : = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

P4 : = = 64
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 64 > 13,362 = Acak

P5 : = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

P6 : = = 64
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 64 > 13,362 = Acak
P7 : = = 57,54
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 57,54 > 13,362 = Acak

P8 : = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

P9 : = = 71,13
Perbandingan X2 dengan X2 tabel: 71,13 > 13,362 = Acak

Anda mungkin juga menyukai