Anda di halaman 1dari 17

YAYASAN KASIMO SUMBA

(YKS)
Sekretaria : JL. KASIMO, KEREROBBO, DESA WEELONDA, KECAMATAN KOTA TAMBOLAKA
t KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA-PROVINSI NTT - INDONESIAN – 87255
E-mail : yayasan.kasimo123@gmail.com

SURAT KEPUTUSAN
PENGURUS YAYASAN KASIMO SUMBA
Nomor : 2728 /001/YKS/SBD/I/ 2020

TENTANG
PERATURAN UMUM KEPEGAWAIAN
SATUAN PENDIDIKAN YAYASAN KASIMO SUMBA

BADAN PENGURUS YAYASAN KASIMO SUMBA,


MENIMBANG    :
a. bahwa dalam usaha mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan
Yayasan Kasimo Sumba, diperlukan pegawai-pegawai yang memiliki
semangat pengabdian, jujur, cerdas, terampil serta bertanggung jawab;
b. bahwa untuk mewujudkan kualitas pegawai pada point a diperlukan adanya
Peraturan Umum Kepegawaian yang disusun secara sistematik dan
disesuaikan dengan perkembangan keadaaan;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan
b diatas, maka perlu ditetapkan Peraturan Umum Kepegawaian Satuan
Pendidikan Yayasan Kasimo Sumba.

MENGINGAT :
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1974 tentang pokok
kepegawaian;
2. Peraturan-peraturan pemerintah tentang kepegawaian;
3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Kasimo Sumba

MEMPERHATIKAN :
1. Kemampuan finansial ( keuangan ) Satuan pendidikan Yayasan Kasimo
Sumba;
2. Rapat kerja YAYASAN untuk merevisi Peraturan Umum Kepegawaian
Satuan pendidikan Yayasan Kasimo Sumba di Kererobbo, Desa Weelonda,
Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT –
Indonesia, pada tanggal 28 – 29 Desember 2019.
3. Kemampuan finansial Yayasan.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : PERATURAN UMUM KEPEGAWAIAN SATUAN
PENDIDIKANYAYASAN KASIMO SUMBA

BAB I
PENDAHULUAN

Pasal 1
Jatidiri
1. Satuan pendidikan Yayasan Kasimo Sumba adalah lembaga pendidikan yang berada di
bawah naungan Yayasan Kasimo Sumba dan berkedudukan di Tambolaka Kabupaten
Sumba Barat Daya, Provinsi NTT – Indonesia;
2. Satuan pendidikan Yayasan Kasimo Sumba memiliki Visi ”UNGGUL DALAM
PRESTASI AKADEMIK DAN NON AKADEMIK BERDASARKAN IMAN DAN
TAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA”

Pasal 2
Maksud dan Tujuan
1. Peraturan Umum Kepegawaian ini dimaksudkan untuk memberikan landasan tentang
kedudukan, hak dan kewajiban yang berlaku secara timbal balik dalam hubungan kerja
antara Satuan pendidikan Yayasan Kasimo Sumba sebagai pengelola usaha/karya dengan
para pegawai yang bekerja dalam lingkungannya.
2. Peraturan Umum Kepegawaian ini bertujuan agar setiap pegawai Satuan pendidikan
Yayasan Kasimo Sumba memiliki pegangan dalam melaksanakan tugasnya demi
terwujudnya tujuan Satuan Pendidikan Yayasan Kasimo Sumba

Pasal 3
Pengertian
1. Yayasan adalah seperti dimaksud dalam pasal 1 di atas;
2. Pelaksana Kegiatan Yayasan adalah Organ diluar struktural utama YAYASAN yang
melaksanakan kegiatan dalam bentuk-bentuk usaha/karya untuk mencapai maksud dan
tujuan Yayasan;
3. Pimpinan/Ketua/Kepala Pelaksana Kegiatan adalah person yang memimpin jalannya
pelaksanaan kegiatan YAYASAN sesuai program kerja yang dicanangkan dan atau telah
ditetapkan oleh Ketua Pengurus dan disetujui oleh Pembina
4. Sekretariat adalah Satu Unit Tata Usaha terstruktur sebagai Pelaksana Operasional yang
bertanggungjawab langsung kepada YAYASAN dan berada dalam lingkungan Unit
Kerja untuk mendukung kerja organ pelaksana kegiatan Yayasan;
5. Kepala Tata Usaha ialah Person yang diangkat oleh Pengurus Yayasan Kasimo Sumba
dengan persetujuan Pembina Yayasan sebagai penanggungjawab sekretariat;
6. Pegawai adalah setiap orang yang mempunyai hubungan kerja dengan Yayasan dan
menerima gaji/honorarium dari Yayasan, baik Pegawai Edukatif maupun Pegawai non-
Edukatif;
7. Keluarga adalah satu isteri yang sah dan anak sendiri yang sah atau anak yang diangkat
secara sah menurut hukum;
8. Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab dan wewenang
seorang pegawai;
9. Gaji adalah keseluruhan penghasilan berupa sejumlah uang yang diberikan oleh Yayasan
kepada Pegawai Yayasan sesuai dengan peraturan yang berlaku;
10. Honorarium adalah imbalan berupa sejumlah uang yang diberikan oleh Yayasan kepada
Pegawai Tidak Tetap Yayasan sesuai dengan peraturan Yayasan yang berlaku;
11. Pemerintah ialah Pemerintah Republik Indonesia termasuk Pemerintah Daerah.

BAB II
STATUS KEPEGAWAIAN

Pasal 4
Klasifikasi Pegawai
1. Berdasarkan hubungan kerjanya, pegawai Satuan pendidikanYayasan Kasimo Sumba
dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu:
a) Pegawai Tetap
b) Pegawai Tidak Tetap
2. Bedasarkan bidang pekerjaannya, status pegawai dibedakan atas :
a) Pegawai Edukatif
b) Pegawai non-Edukatif

Pasal 5
Pegawai Tidak Tetap
1. Pegawai Tidak Tetap adalah pegawai yang bekerja dalam Yayasan untuk jangka waktu
tertentu menurut kebutuhan unit kerja dengan menerima imbalan berupa honorarium.
2. Berdasarkan jumlah jam kerjanya. Pegawai Tidak Tetap dibedakan menjadi:
a) Pegawai Tidak Tetap purna waktu, yaitu 6 (enam) hari / minggu
b) Pegawai Tidak Tetap paruh waktu, yaitu kurang dari 6 hari / minggu

Pasal 6
Pegawai Tetap
1. Pegawai Tetap adalah pegawai yang telah diangkat menjadi tenaga kerja tetap
berdasarkan Surat Keputusan Yayasan, dengan menetapkan pangkat dan jabatan serta
bekerja untuk jangka waktu yang tidak ditentukan;
2. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dipekerjakan pada Yayasan, termasuk Pegawai Tetap;
3. Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan pada Yayasan, harus mentaati Peraturan Umum
Kepegawaian Yayasan;
4. Yayasan Kasimo Sumba belum mengangkat Pegawai Tetap Yayasan sampai dengan
Peraturan Umum Kepegawaian ini dibuatkan.

BAB III
PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN PEGAWAI

Pasal 7
Penerimaan Pegawai
1. Penerimaan pegawai dilakukan oleh Yayasan berdasarkan formasi yang ada dengan
melalui seleksi.
2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar.
a) Warganegara Indonesia atau warganegara asing yang memiliki izin kerja di
Indonesia;
b) Mempunyai pendidikan, kecakapan dan keahlian yang diperlukan;
c) Berkelakuan baik, yang dibuktikan dengan surat keterangan kepolisian;
d) Berbadan sehat, yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
e) Bersedia ditempatkan di mana saja di lingkungan Yayasan;
f) Syarat-syarat lain yang ditentukan oleh Yayasan, antara lain: menguasai
penggunaan komputer, dll;
g) Untuk Pegawai Tidak Tetap dengan memperhatikan analisa kebutuhan pegawai
oleh Pimpinan Unit Kerja.
3. Pelamar diterima sebagai Pegawai Tidak Tetap melalui kontrak kerja, dengan ketentuan
sebagai berikut :
a) Lama kontrak kerja Pegawai Tidak Tetap, baik purna waktu maupun penggal
waktu, adalah 1 (satu) tahun;
b) Pegawai Tidak Tetap memiliki hak-hak sebagaimana ditetapkan dalam surat
kontrak kerja;
c) Pegawai Tidak Tetap wajib mentaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di Yayasan;
d) Hubungan kerja berakhir demi hukum dengan habisnya waktu yang ditetapkan
dalam kontrak kerja tanpa ada kewajiban apa pun dari kedua belah pihak satu
terhadap yang lain;
e) Atas kesepakatan kedua belah pihak, kontrak kerja dapat diperbaharui sesuai
dengan kebutuhan dan kebijakan Yayasan.
4. Bagi Calon Pegawai Tetap masa kontrak dimaksudkan sebagai masa penilaian berkenaan
dengan kepribadian dan kemampuannya dalam melaksanakan tugas yang diberikan
kepadanya.
BAB IV
KEWAJIBAN DAN HAK PEGAWAI

Pasal 8
Kewajiban Pegawai
1. Mematuhi tata tertib dan disiplin kerja yang berlaku di lingkungan Yayasan;
2. Melaksanakan tugas yang ditetapkan oleh Pimpinan Unit Kerja dengan sebaik-baiknya,
didasari semangat pengabdian dan tanggung jawab;
3. Ikut serta berjuang demi tercapainya Visi, Misi, maksud dan Tujuan Yayasan sebagai
lembaga sosial;
4. Meningkatan kapasitas sumber daya melalui kegiatan-kegiatan tertentu baik secara
mandiri maupun secara kelembagaan.

Pasal 9
Hak Pegawai
1. Imbalan berupa gaji dan tunjangan, atau honorarium sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
2. Cuti sesuai dengan peraturan yang berlaku.

BAB V
TATA TERTIB DAN DISIPLIN KERJA

Pasal 10
Jam Kerja
Pada dasarnya jam kerja pegawai mulai pukul 07.15 Witeng sampai dengan 14.00 witeng atau
7 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, yang pelaksanaannya
diatur dengan ketentuan tersendiri.

Pasal 11
Disiplin Dan Etos Kerja
1. Setiap pegawai wajib :
a) Setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
b) Menjunjung tinggi Visi dan Misi Yayasan;
c) Menjunjung tinggi martabat dan citra Yayasan Kasimo Sumba.
d) Menjalankan dan mengamalkan prinsip-prinsip moral dan atau nilai-nilai Kristiani
dalam menjalankan tugas-kewajibannya;
e) Mematuhi dan menjalankan semua tata tertib dan peraturan yang berlaku pada
Yayasan;
f) Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang serasi, saling mendukung, penuh
rasa saling menghargai serta menghormati;
g) Menjaga dan memegang teguh rahasia jabatan;
h) Menggunakan dan memelihara dengan penuh tanggungjawab semua fasilitas dan
sarana - prasarana yang disediakan oleh Yayasan;
i) Mengikuti seluruh rankaian rapat kelembagaan baik ditingkat Unit Kerja maupun
pada tingkat Yayasan.
2. Setiap pegawai dilarang :
a) Melakukan usaha dan atau perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD
1945;
b) Melakukan usaha dan atau perbuatan yang dapat merugikan Yayasan baik secara
moral maupun material;
c) Melakukan tindakan yang melanggar kesusilaan: pelacuran, perjudian, pengguguran
kandungan, pengedar/pemakai NARKOBA,  dan pelanggaran hukum lainya;
d) Tidak menjalankan kewajiban-kewajiban umum keagamaan terlebih khusus sebagai
seorang Katolik;
e) Melanggar disiplin kerja;
f) Membocorkan rahasia jabatan;
g) Menyalahgunakan wewenang;
h) Menyalahgunakan uang sekolah / Yayasan;
i) Menolak penugasan dari atasan yang berwewenang;
j) Menjadi Pegawai tetap di luar Satuan Pendidikan Yayasan Kasimo Sumba.

Pasal 12
Tingkat dan Jenis Sanksi
1. Kepada setiap pegawai yang melanggar tata tertib dan disiplin kerja dapat dikenakan
sanksi.
2. Tingkat dan jenis sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini terdiri dari
sanksi ringan, sanksi sedang dan sanksi berat;
3. Sanksi ringan :
a) Teguran lisan;
b) Teguran tertulis.
4. Sanksi sedang :
a) Pemotongan gaji dan atau Honorarium;
b) Pembebasan tugas sementara (schorsing).
5. Sanksi berat :
a) Pembebasan dari jabatan;
b)  Pemutusan hubungan kerja (PHK).
6. Kewenangan memberikan sanksi :
a) Sanksi ringan dan sanksi sedang oleh Pimpinan Unit Kerja kepada
Pegawai/karyawan/Guru dan oleh Ketua Yayasan kepada Pimpinan Unit Kerja;
b) Sanksi berat oleh Ketua Yayasan dengan memperhatikan saran Pimpinan/Kepala
unit kerja;
c) Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dilaksanakan oleh Ketua Pengurus Yayasan
Kasimo Sumba atas usulan Pimpinan Unit Kerja dan setelah mendapatkan
Persetujuan dari Pembina Yayasan.

Pasal 13
Pemindahan Tugas
1) Kalau ada alasan kuat, seorang pegawai dapat mengajukan permintaan untuk pindah
tugas. Permintaan pindah ini diajukan secara tertulis 3 (tiga) bulan sebelumnya, dan
biasanya hanya pada awal tahun pelajaran baru.
2) Demi kepentingan guru, murid atau sekolah, Yayasan berwenang memindahkan seorang
pegawai ke sekolah atau kantor, dan atau memberi tugas baru kepadanya.
3) Yayasan berwenang memindah seorang pegawai yang melanggar tata tertib dan atau
disiplin kerja sebagai sanksi.

BAB VI
PEMBINAAN DAN EVALUASI KINERJA PEGAWAI

Pasal 14
Aspek Pembinaan
1) Pembinaan pegawai bertujuan untuk menjamin efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan
karya pendidikan Yayasan;
2) Ada 3 (tiga) aspek pembinaan kepegawaian :
a) Pembinaan semangat religius dan memasyarakat;
b) Pembinaan kepribadian dan mental spiritual;
c) Pembinaan pengetahuan dan kemampuan profesional.

Pasal 15
Kebijakan Pembinaan
1) Kebijakan pembinaan pegawai berada di tangan Badan Pengurus Yayasan Kasimo
Sumba, dan secara operasional menjadi tanggungjawab Pimpinan Unit Kerja;
2) Ketentuan pelaksanaan pembinaan ditetapkan dan dijalankan oleh Pimpinan Unit Kerja.

Pasal 16
Evaluasi Kinerja Pegawai
1) Dalam mengevaluasi kinerja pegawai, Yayasan menggunakan Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) yang akan diatur secara tersendiri;
2) Evaluasi Kinerja pegawai tersebut menjadi dasar pembinaan pegawai;
3) Evaluasi Kinerja pegawai dilaksanakan setahun sekali oleh Pengurus Yayasan;

BAB VII
PENGGAJIAN PEGAWAI

Pasal 17
Gaji Pokok
1) Yayasan memberi gaji pokok kepada para Pegawai menurut aturan Yayasan yang berlaku
dengan menyesuaikan pendapatan sah pada masing-masing Unit Kerja dan kemampuan
keuangan lembaga;
2) Gaji pokok diberikan terbatas kepada pegawai yang sedang aktif menduduki suatu
jabatan tertentu.
3) Besaran gaji pokok ditetapkan atas musyawarah mufakat dengan mempertimbangkan
kemampuan keuangan Yayasan dan sumber-sumber pendapatan yang sah dari Unit Kerja.

Pasal 18
Kenaikan Gaji Berkala
4) Kepada pegawai diberikan kenaikan gaji berkala apabila dipenuhi syarat-syarat :
a) Telah mencapai masa kerja golongan yang ditentukan untuk kenaikan gaji berkala
(2 tahun sekali);
b) Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya rata-rata bernilai ”baik”.
5) Apabila pegawai yang bersangkutan belum memenuhi syarat sebagaimana dimaksudkan
dalam ayat (1) huruf b pasal ini, maka kenaikan gaji berkalanya dapat ditunda paling
lama untuk waktu 1 (satu) tahun.
6) Apabila tidak ada alasan lagi untuk penundaan, maka kenaikan gaji berkala tersebut
diberikan mulai bulan berikutnya dari masa penundaan itu.

Pasal 19
Kenaikan Pangkat
1) Pegawai yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Yayasan, berhak men-
dapat kenaikan pangkat.
2) Kenaikan pangkat ke dalam pangkat yang setingkat lebih tinggi dapat diberikan kepada
Pegawai tetap, jika ia telah 5 (lima) tahun dalam pangkat yang dimilikinya dan dari setiap
unsur Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai ”baik” dalam dua
tahun terakhir.
3) Kenaikan pangkat maksimum (batas tertinggi di mana seorang pegawai tidak dapat naik
pangkat lagi), dipengaruhi oleh dua hal, yaitu latar belakang pendidikan/ijazah/STTB
yang dimiliki dan jabatan/tempat di mana ia bekerja.
a) Pangkat maksimum (batas tertinggi di mana seorang pegawai tidak dapat naik
pangkat lagi) seperti yang dimaksud dalam ayat 3 (tiga) pasal 23 di atas adalah :
b) Kenaikan pangkat reguler atas dasar latar belakang pendidikan/Ijazah pendidikan
formal ditentukan sebagai berikut :
i. Pengatur Muda Tingkat I, golongan  ruang  II / b  
 bagi yang memiliki Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Dasar ;
ii. Pengatur Tingkat I, golongan ruang II / d  
 bagi yang memiliki Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Lanjutan Ti
ngkat Pertama;
iii. Penata Muda, golongan ruang III/a  
 bagi yang memiliki Surat TandaTamat Belajar Sekolah Lanjutan Kej
uruan Tingkat Pertama;
iv. Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b  
 bagi yang memiliki Surat
Tanda Tamat Belajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Sekolah Lanju
tan Kejuruan Tingkat Atas 3 (tiga) tahun, Sekolah Lanjutan
Kejuruan Tingkat Atas 4 (empat) tahun,Ijazah Diploma I;
v. Penata, golongan ruang III/c  
 bagi yang memiliki Ijazah Sarjana Muda, atau Diploma II;
vi. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d   
 bagi   yang   memiliki Ijazah   Sekolah Guru Pendidikan
Luar Biasa, Ijazah Diploma III, Ijazah Sarjana Muda, Ijazah
Akademi;
vii. Pembina, golongan ruang IV/a
 bagi yang memiliki Ijazah Sarjana (S1) atau Ijazah Diploma IV;
viii. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b  
 bagi yang memiliki Ijazah Dokter, Ijazah Apoteker dan Ijazah
Magister (S2) atau Ijazah lain yang setara;
ix. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c 
 bagi yang memiliki IjazahDoktor (S3).

4) Kenaikan pangkat reguler berdasarkan jabatan/tempat dimana pegawai ditempatkan


adalah sebagai berikut :
             Jabatan/tempat kerja                                                 Pangkat Maksimum
a) Kepala SD/TK                                                  Panata Tingkat I  (III/d)
b) Kepala SMP                                                     Pembina (IV/a)
c) Kepala SMU/SMK                                           Pembina  Tingkat I (IV/b)
d) Guru SD/TK                                                     Penata (III/c)
e) Guru SMP                                                        Penata Tingkat I (III/d)
f) Guru SMU/SMK                                              Pembina (IV/a)
g) Tata Usaha                                                       Penata Tingkat I (III/d)
h) Penjaga Sekolah / Tukang Kebun                Pengatur Tingkat I (II/d)      

5) Untuk mendapatkan kenaikan pangkat/golongan, pegawai yang bersangkutan harus


mengajukan secara resmi ke Ketua Yayasan Kaimo Sumba lewat Pimpinan Unit Kerja,
minimal 3 bulan sebelumnya.
6) Untuk mendapatkan kenaikan pangkat/golongan dari II/d ke III/a dan dari III/d ke IV/a,
pegawai yang bersangkutan harus mengikuti pembinaan dan lulus ujian dinas yang
diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Agung Semarang.

Pasal 20
Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah
1) Kenaikan pangkat sebagai penyesuaian ijazah, dapat diberikan kepada Pegawai Tetap
yang memperoleh STTB, Ijazah atau Akta lebih tinggi dari yang dimiliki sebelumnya.
2) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) baru dapat diberikan apabila.
a) yang bersangkutan diberi jabatan/tugas yang memerlukan pengetahuan keahlian
yang diperolehnya dalam pendidikan itu;
b) sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun dalam pangkat yang dimilikinya dan
c) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai ”baik”.

BAB VIII
TUNJANGAN-TUNJANGAN

Pasal 21
Tunjangan Keluarga
1) Di samping mendapat gaji pokok, kepada Pegawai Tetap juga diberikan tunjangan
keluarga berupa :
a) tunjangan anak sebesar 2% dari gaji pokok;
b) tunjangan isteri sebesar 10% dari gaji pokok.
2) Di dalam pasal ini yang dimaksud:
a) anak ialah anak yang berusia tidak lebih dari 21 tahun, belum pernah menikah,
tidak mempunyai penghasilan sendiri yang tetap dan tidak dimintakan tunjangan
oleh pegawai lainnya.
b) isteri adalah satu isteri yang sah menurut hukum.
3) Anak yang telah melampaui batas usia 21 tahun, tetapi belum melebihi 25 tahun, hanya
dapat diberikan tunjangan anak apabila berdasarkan bukti yang sah ternyata masih
sekolah dan tidak mendapat beasiswa atau ikatan dinas baik dari Pemerintah maupun dari
instansi swasta lainnya.
4) Jumlah anak yang dapat dimintakan tunjangan sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang.
5) Tunjangan anak dan isteri tidak diberikan lagi apabila anak dan atau isteri tersebut telah
meninggal dunia, atau apabila anak tersebut sudah mempunyai penghasilan sendiri yang
tetap dan tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) di
atas.

Pasal 22
Tunjangan Tenaga Kependidikan
1) Tunjangan Tenaga Kependidikan adalah tunjangan yang diberikan kepada Pegawai
Edukatif.
2) Yayasan memberikan tunjangan tenaga kependidikan kepada Pegawai Edukatif sesuai
dengan kemampuan Yayasan.

Pasal 23
Tunjangan Pangan
1) Kepada Pegawai Tetap dan anggota keluarganya setiap bulan diberikan tunjangan
pangan, sesuai kemampuan Yayasan.
2) Yayasan berusaha memberikan tunjangan pangan seperti dimaksud dalam ayat (1) di atas
dalam bentuk uang berdasarkan harga beras yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Pasal 24
Tunjangan Kesehatan
1) Agar mendapat tunjangan jaminan kesehatan, setiap Pegawai Tetap wajib membayar
iuran kesehatan sesuai ketentuan Yayasan.
2) Setiap Pegawai Tetap Yayasan, bila sakit, berhak mendapat penggantian biaya
pengobatan dan perawatan.
3) Penggantian biaya pengobatan dan perawatan untuk pegawai sendiri termaksud ayat (2)
ditetapkan sebesar 80% dari jumlah biaya yang telah disetujui, sedangkan isteri dan anak-
anak yang masuk daftar gaji dibayar 70% dari jumlah biaya yang disetujui.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai besarnya biaya pengobatan dan perawatan maksimum
yang dimaksud dalam ayat 2 dan 3 di atas, diatur dalam ketentuan tersendiri.

Pasal 25
Tunjangan Cacat (Invalid)
5) Apabila seorang Pegawai Tetap mengalami kecelakaan sewaktu ia sedang menjalankan
tugasnya, dan kecelakaan itu terjadi semata-mata disebabkan oleh tugasnya, sehingga ia
menjadi cacat seumur hidup entah secara fisik ataupun mental dan karenanya tidak
mampu lagi melakukan pekerjaan guna memperoleh nafkahnya, maka kepadanya
diberikan tunjangan cacat atau pensiun cacat sesuai peraturan YAYASAN.
6) Apabila seorang Pegawai Tetap mengalami kecelakaan atau jatuh sakit sehingga dia tidak
mampu bekerja lagi, padahal masa kerjanya belum mencapai empat (4) tahun, kepadanya
diberikan pesangon sesuai kemampuan Yayasan.
7) Apabila seorang Pegawai Tidak Tetap mengalami kecelakaan yang serupa, maka
kepadanya juga akan diberikan pesangon yang besarnya ditentukan berdasarkan
kebijaksanaan Ketua Yayasan dengan pertimbangan dari Pimpinan Unit Kerja;
8) Apabila dianggap perlu, Pengurus Yayasan dapat membentuk sebuah komisi yang terdiri
dari beberapa orang, untuk meneliti dan menentukan apakah kecelakaan yang dialami
oleh pegawai itu benar-benar terjadi di dalam dan semata-mata sebagai akibat tugas yang
diberikan kepadanya.

BAB IX
KESEJAHTERAAN PEGAWAI

Pasal 26
Pensiun Pegawai
1) Agar hari tuanya terjamin, maka setiap Pegawai Tetap oleh Pengurus Yayasan
dimasukkan menjadi peserta Dana Pensiun yang diselenggarakan oleh YAYASAN;
2) Pegawai Tetap yang menjadi peserta Dana Pensiun YAYASAN diwajibkan membayar
iuran sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Yayasan.
3) Peraturan dan ketentuan-ketentuan tersendiri lebih lanjut mengenai Dana Pensiun
YAYASAN, akan dijelaskan melalui keterangan-keterangan tersendiri yang dikeluarkan
oleh Pengurus Yayasan.
4) Ketentuan-ketentuan dalam pasal ini tidak berlaku bagi Pegawai Tidak Tetap.

Pasal 27
Penghargaan Pengabdian
Kepada pegawai tetap Yayasan yang telah berkarya di Yayasan secara terus-menerus selama
25 tahun atau setelah memasuki masa pensiun diberikan penghargaan yang wujudnya akan
ditentukan oleh Pimpinan Unit Kerja

BAB X
HARI LIBUR DAN CUTI
Pasal 28
Hari Libur dan Cuti Tahunan
1) Hari-hari libur bagi pegawai diatur sesuai dengan hari libur yang ditetapkan secara resmi
oleh Pemerintah.
2) Hari-hari libur untuk Pegawai Edukatif di luar hari-hari libur dalam ayat (1), diatur sesuai
dengan jadwal dan kegiatan Satuan Pendidikan Yayasan Kasimo Sumba berdasarkan
kalender pendidikan.
3) Pegawai yang telah bekerja sekurang-kurangnya selama dua tahun tanpa terputus-putus
berhak menerima cuti.
4) Bila terdapat alasan-alasan yang penting maka berdasarkan pertimbangan Pemimpin cuti
tersebut dalam ayat (3) dapat berikan sekaligus selama 12 hari kerja.
5) Permohonan cuti hendaknya diajukan paling lambat seminggu sebelumnya kecuali jika
terjadi peristiwa mendadak yang tidak dapat diduga sebelumnya.
6) Cuti hanya dapat diambil sekali dalam tahun takwim yang bersangkutan

Pasal 29
Cuti Sakit
1) Bila berdasarkan surat keterangan dokter, seorang pegawai perlu mendapatkan istirahat
selama jangka waktu tertentu karena sakit, maka kepadanya dapat diberikan cuti sakit
selama-lamanya 3 (tiga) bulan dengan mendapat gaji :
a) 100% selama istirahat 1 (satu) bulan pertama;
b) 75% selama istirahat 1 (satu) bulan yang kedua
c) 50% selama istirahat 1 (satu) bulan berikutnya.
2) Apabila setelah masa cuti berakhir sesuai ketentuan ayat 1 (satu) tetapi pegawai yang
bersangkutan belum dapat menjalankan tugasnya seperti sediakala, maka pegawai
bersangkutan dinyatakan melakukan PHK;

Pasal 30
Cuti Bersalin
1) Pegawai wanita yang akan melahirkan anaknya berhak atas cuti bersalin.
2) Lamanya cuti bersalin adalah 1 (bulan) sebelum dan 2 (dua) bulan sesudah persalinan.
Apabila ada seorang pegawai wanita mengambil cuti bersalin 2 (dua) minggu sebelum
persalinan, maka haknya sesudah persalinan tetap 2 (dua) bulan.
3) Apabila berdasarkan keterangan dokter pegawai tersebut mempunyai kelainan-kelainan
sehingga tidak dapat menjalankan kembali tugasnya setelah ia mengakhiri cutinya, maka
kepadanya dapat diberikan cuti sakit menurut ketentuan pasal 33 peraturan ini.

Pasal 31
Cuti Karena Alasan Penting
1) Setiap Pegawai Tetap berhak atas cuti karena alasan penting yang lamanya ditentukan
oleh Direktur.
2) Yang dimaksud dengan cuti karena alasan penting adalah cuti karena:
a) pernikahan Pegawai yang lajang, selama 6 hari kerja;
b) pernikahan anak Pegawai, selama 3 hari kerja;
c) isteri pegawai melahirkan, selama 3 hari kerja;
d) keluarga inti, orangtua, dan mertua meninggal dunia, selama 6 hari kerja;
3) Untuk mendapatkan cuti karena alasan penting, pegawai yang bersangkutan mengajukan
secara tertulis kepada atasan langsung.
4) Lama cuti lebih dari ketentuan pada ayat (2) hanya bisa diberikan dengan ijin tertulis
dari Pengurus Yayasan.

Pasal 32
Cuti di Luar Tanggungan Yayasan
1) Apabila karena suatu hal yang sangat penting, seorang pegawai selama jangka waktu
tertentu tidak dapat menjalankan tugasnya di luar cuti-cuti tersebut di atas, kepadanya
dapat diberi cuti di luar tanggung Yayasan untuk jangka waktu 1 (satu) bulan.
2) Selama menjalankan cuti termaksud dalam ayat (1), pegawai yang bersangkutan tidak
berhak menerima gaji dan atau tunjangan penghasilan lainnya yang berhubungan dengan
jabatannya.
3) Masa cuti tersebut tidak dihitung sebagai masa kerja untuk mendapatkan kenaikan gaji
berkala, cuti tahunan, kenaikan tingkat dan tidak berlaku pula sebagai masa kerja
pensiun.
4) Apabila sesudah mengakhiri cuti di luar tanggungan Yayasan tersebut, pegawai yang
bersangkutan tidak bersedia menjalankan tugasnya seperti semula maka pegawai yang
bersangkutan akan diberhentikan tanpa surat pemberitahuan atau peringatan terlebih
dahulu.
5) Pegawai tetap yang tidak bisa menjalankan tugasnya, diusahakan pensiun yang
dipercepat, apabila sudah memenuhi syarat.

BAB XI
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (PHK)

Pasal 33
Alasan Pemutusan Hubungan Kerja
1) Bila Pemimpin bermaksud mengatakan PHK dengan seorang pegawai tetap di luar
kehendak pegawai itu sendiri, maka maksud tersebut harus diberitahukan sejak 1 (satu)
bulan sebelumnya, kecuali dalam hal-hal yang sifatnya sangat mendesak sehingga
pemberhentian tersebut tidak dapat ditunda lagi.
2) Bila pegawai melakukan PHK (mengundurkan diri), dia harus mengajukan surat
permohonan 3 (tiga) bulan sebelumnya, kecuali dalam kasus yang sifatnya demikian
mendesak sehingga pengajuan permohonan dimaksud tidak mungkin dilaksanakan.
3) Pegawai mencapai umur pensiun, sesuai peraturan Dana Pensiun YAYASAN
4) Pegawai meninggal dunia.

Pasal 34
Uang Pesangon dan Uang Jasa
1) Apabila karena adanya pengurangan pegawai sebagai akibat perampingan pegawai dan
atau penutupan/pembubaran usaha-usaha Yayasan baik sebagian ataupun seluruhnya.
Pemimpin terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja, maka kepada pegawai yang
bersangkutan dapat diberikan uang pesangon;
2) Besarnya uang pesangon ditetapkan sebagai berikut :
a) Masa kerja Yayasan kurang dari 1 (satu) tahun, sebesar 1 (satu) bulan penghasilan
tetap terakhir.
b) Masa kerja Yayasan 1 (satu) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 2 (dua) tahun,
sebesar 2 (dua) bulan penghasilan tetap terakhir.
c) Masa kerja Yayasan 2 (dua) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 3 (tiga) tahun,
sebesar 3 (tiga) bulan penghasilan terakhir.
d) Masa kerja Yayasan 3 (tiga) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 4 (empat) tahun,
sebesar 4 (empat) bulan penghasilan tetap terakhir.
e) Masa kerja Yayasan 4 (empat) tahun atau lebih, sebesar 5 (lima) bulan penghasilan
tetap terakhir (jumlah maksimal).
3) Besarnya uang jasa ditetapkan sebagai berikut:
a) Masa kerja Yayasan 5 (lima) tahun atau lebih tetapi kurang dari 10 (sepuluh) tahun,
sebesar 1 (satu) bulan penghasilan tetap terakhir.
b) Masa kerja Yayasan 10 (sepuluh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 (lima belas)
tahun, sebesar 2 (dua) bulan penghasilan tetap terakhir.
c) Masa kerja Yayasan 15 (lima belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 20 (dua
puluh) tahun, sebesar 3 (tiga) bulan penghasilan tetap terakhir.
d) Masa kerja Yayasan 20 (dua puluh) tahun atau lebih kurang dari 25 (dua puluh
lima) tahun, sebesar 4 (empat) bulan penghasilan terakhir.
e) Masa kerja Yayasan 25 (duapuluh lima) tahun atau lebih tetapi kurang dari 30 tahun
(tiga puluh) tahun, sebesar 5 (lima) bulan penghasilan terakhir (jumlah maksimal).
4) Uang pesangon dan uang jasa dibayarkan secara tunai paling lambat 3 (tiga) hari sebelum
pemutusan hubungan kerja tersebut mulai berlaku.
5) Jumlah uang pesangon dan uang jasa bagi Pegawai Tidak Tetap, ditetapkan maksimal 3
(tiga) bulan honorarium terakhir saat diadakan pemutusan hubungan kerja.
6) Pegawai yang berhenti atas permohonan sendiri tidak berhak atas pesangon
7) Pegawai yang berhenti atas dasar umur (pensiun) tak berhak atas pesangon selain pensiun
bulanan.

BAB XII
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Pasal 35
Perselisihan
1) Bila timbul suatu perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah
antara Pengurus Yayasan dengan pegawai, maka masalahnya dapat diserahkan kepada
Tim Penengah.
2) Tim Penengah termaksud dalam ayat (1) terdiri 3 orang, yaitu :
a) satu orang dari unsur Pembina Yayasan sebagai anggota;
b) satu orang dari unsur pegawai Unit Kerja yang bersangkutan sebagai anggota, dan
c) satu orang lagi disetujui oleh kedua belah pihak yang berselisih, sebagai anggota
merangkap ketua.
3) Keputusan yang diambil oleh Tim Penengah bersifat mengikat.

BAB XIII
PERATURAN PERALIHAN

Pasal 36
Pelaksanaan Peraturan
1) Semua pegawai yang bekerja dalam Unit Kerja lingkungan Yayasan Kasimo Sumba
terikat sepenuhnya pada peraturan ini;
2) Hal-hal yang tidak atau belum diatur di dalam peraturan ini akan diatur dengan ketetapan
peraturan tersendiri;
3) Selama hal-hal seperti dimaksud dalam ayat (2) pasal 42 di atas belum ditetapkan di
dalam suatu peraturan, Pimpinan Unit Kerja dapat mengambil kebijakan sejauh tidak
bertentangan dengan jiwa dan semangat peraturan ini, dan juga tidak merugikan pegawai
yang bersangkutan.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 37
Perubahan Peraturan
Apabila karena perkembangan zaman dan keadaan, peraturan ini dipandang tidak sesuai lagi,
maka dapat diadakan perubahan sebagian atau seluruhnya.

Pasal 38
Masa Berlakunya Peraturan
1) Peraturan Umum Kepegawaian ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
2) Semua peraturan yang bertentangan atau tidak sejalan dengan Peraturan Umum
Kepegawaian Satuan Pendidikan Yayasan Kasimo Sumba ini tidak berlaku lagi sejak
tanggal penetapan.

Ditetapkan di : Sumba Barat Daya


pada Tanggal : 02 Januari 2020

BADAN PENGURUS YAYASAN KASIMO SUMBA

KETUA, SEKRETARIS,

ROBERTUS BORA BALI LUCAS L. TIALA, S.Fil

MENYETUJUI
PEMBINA YAYASAN,

EMANUEL DA TITTO,S.Sos