Anda di halaman 1dari 4

Bandingkan kondisi Perbankan Indonesia saat terjadinya krisis ekonomi 1998 dengan kondisi

perbankan sekarang tahun 2020 ketika dilanda Covid 19. Silahkan dikemukakan pendapatnya masing
masing, jika perlu dukung dengan tabel atau gambar yang menguatkan pendapat tersebut.

Perbankan Indonesia pada krisis moneter 1997/1998

Pada periode sebelum krisis yakni 1983 sampai 1997 terdapat beberapa kebijakan deregulasi
perbankan.

1. Paket kebijakan yang pertama adalah Paket Kebijakan Juni 1983 atau disebut Pakjun 1983.
Tujuan : Paket Kebijakan Juni 1983 ditujukan untuk mendorong ekspor non-migas sebagai
antisipasi atas penerimaan devisa dari minyak.
2. Paket kebijakan kedua adalah Paket Kebijakan Oktober 1988 atau Pakto 1988.
Tujuan : Pakto 1988 ditujukan untuk membuka pasar industri perbankan nasional

Krisis moneter 1997 berdampak luas dan lama terhadap perekonomian dan khususnya perbankan di
Indonesia. Sejak digulirkan Pakto’88 sudah dapat terindikasi lemahnya perbankan Indonesia. Ciri-ciri
yang memperkuat indikasi tersebut antara lain : pertama, rendahnya rasio modal terhadap aktiva
produktif, kedua rendahnya persyaratan modal minimum untuk mendirikan bank di Indonesia
(merupakan yang terendah di Asia saat itu) dan faktor ketiga adalah tingginya jumlah kredit yang
bermasalah.

Dampak terbesar krisis moneter bagi perbankan adalah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap
bank. Lumpuhnya sektor perbankan saat itu sangat berpengaruh dalam kegiatan ekonomi masyarakat,
terutama yang menggunakan fasilitas bank.

Pada bank swasta banyak kredit yang tersedot oleh beberapa pihak saja yang berkaitan dengan bank,
sedangkan di bank pemerintah terjadi campur tangan pemerintah sehingga rentan oleh penyalahgunaan
wewenang oleh oknum pejabat.

Tercatat bahwa jumlah kredit macet pada tahun 1997 mencapai Rp10,2 triliun. Tingginya angka ini
dikarenakan pelanggaran terhadap batas maksimum pemberian kredit oleh bank yang bermodal kecil.
Besarnya kredit yang kurang terkontrol, lemahnya pengawasan dan kemampuan mendeteksi resiko
membuat keadaan perbankan semakin parah pada saat krisis ekonomi.

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa
membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya
berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah
sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar
valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar
semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar
AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi
sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999

Dalam kondisi yang demikian pemerintah melakukan langkah pengetatan moneter sebagai reaksi
merosotnya nilai rupiah terhadap valuta asing. BI juga melakukan penghentian transaksi Surat Berharga
Pasar Uang (SBPU), menarik dana BUMN dan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang
bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk dan tatanan industri perbankan untuk rentang
waktu sampai sepuluh tahun kedepan. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan di masa
datang oleh API dilandasi visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna
menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi
nasional.

Ada enam pilar sistem perbankan nasional dalam API, yaitu :

 Struktur perbankan yang sehat


 Sistem pengaturan yang efektif
 Sistem pengawasan yang independen dan efektif
 Industri perbankan yang kuat
 Infrastruktur pendukung yang mencukupi
 Perlindungan konsumen

Ada beberapa cara yang telah ditempuh pemerintah untuk menyehatkan perbankan Indonesia, yaitu
sebagai berikut :

 Likuidasi Bank
 Penggabungan Bank (Merger)
 Restrukturisasi Perbankan
 Rekapitalisasi Perbankan.

Kondisi Perbankan Indonesia pada tahun 2020 dan solusi Bank Indonesia untuk tetap menjaga
stabilnya sistem keuangan dan memelihara perbankan di masa pandemi COVID-19.

Indonesia kembali diprediksi masuk ke jurang resesi akibat pandemi Covid-19, kata Menteri Keuangan,
Sri Mulyani Indrawati. Diperkirakan perekonomian Indonesia akan masuk ke teritori negatif pada kuartal
tiga, sementara kuartal empat memiliki potensi yang sama.Sri Mulyani mengatakan perekonomian
Indonesia pada kuartal tiga akan -2,9% hingga -1%.

Resesi akan terjadi jika Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus dalam dua triwulan berturut-turut.
Menurut pengamat ekonomi, dampak dari resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah
sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena
berkurangnya pendapatan. Jika resesi terjadi, diperkirakan Indonesia akan membutuhkan waktu lebih
dari lima tahun untuk memulihkan ekonomi, berkaca dari krisis ekonomi yang terjadi pada 1998. Pada
kuartal kedua tahun ini, perekonomian Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 5,32%.

Dampak pandemi COVID-19 diperkirakan lebih besar dari krisis keuangan global seperti yang terjadi di
tahun 2008. Bahkan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memperkirakan
bahwa ekonomi dunia hanya akan tumbuh 1.5% pada tahun ini jika pandemi ini berlanjut dan
memburuk. Terganggunya ekonomi negara-negara mitra dagang Indonesia, belum lagi masalah ekonomi
domestik sendiri yang terhambat, tentu perkembangan ekonomi dalam negeri akan terganggu.

Hal yang memperparah kondisi ini adalah, pandemi ini berdampak akan memiliki dampak terlebih
dahulu pada seluruh sektor usaha UMKM. Dari mulai bermasalahnya UMKM ini akan meluas pada sektor
korporasi karena terganggunya value chain dari UMKM. Sektor yang paling terdampak karena pandemi
ini adalah pariwisata, hotel, perdagangan, manufaktur dan keuangan. Sedangkan pada krisis finansial
global 2008, krisis keuangan terjadi dengan episentrum di Amerika dengan dampak paling besar di
negara-negara yang memiliki ketergantungan dengan sektor keuangan Amerika dan Eropa. Sedangkan
Indonesia masih mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai 4,6% pada periode tersebut. Krisis lebih
dari satu dekade yang lalu ini juga hanya berdampak pada korporasi-korporasi besar di seluruh dunia.
Dengan sektor yang terdampak adalah sektor keuangan, terutama perbankan dan pasar modal.

Sementara itu, pada krisis finansial Asia 1998, hanya beberapa negara yang benar-benar merasakan
dampaknya. Krisis ini memiliki episentrum di Indonesia, Thailand dan Korea Selatan. Sedangkan negara-
negara maju tak terpengaruh krisis ini. Namun demikian, kondisi terburuk yang dialami Indonesia ketika
itu ada ekonomi mengalami kontraksi mencapai -13%. Dalam krisis ini berdampak negatif pada korporasi
besar, khususnya yang memiliki kewajiban utang luar negeri sangat besar. Sedangkan sektor yang
terdampak adalah perbankan akibat gagal bayarnya dari korporasi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan kondisi perekonomian saat ini yang terdampak
penyebaran virus korona masih lebih baik dan lebih aman daripada saat terjadi krisis moneter Asia
tahun 1998 silam. BI bersama pemerintah, OJK, dan LPS terus berkoordinasi memantau stabilisasi makro
ekonomi dan sistem keuangan untuk memitigasi dampak negatif dari wabah virus korona. Krisis ini beda
dengan 1998, karena industri perbankan kita dalam kondisi sehat dengan CAR (Capital Adequacy Ratio)
atau rasio kecukupan modal yang tinggi sekitar 23 persen, NPL (kredit macet) rendah sekitar 2,5 persen
atau 1,3 persen nett. Dalam upaya menjaga kestabilan sistem keuangan dan perbankan di masa
pandemi COVID-19, sesuai dengan pasal 16 Perpu No. 1 tahun 2020 Bank Indonesia mempunyai
kewenangan dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dengan cara memberikan pinjaman
likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah kepada
Bank Sistemik/Non Sistemik keseluruhan bank lain atau sektor jasa keuangan, baik secara operasional
atau finansial, jika bank tersebut mengalami gangguan atau gagal.

Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan moneter tersebut bertujuan untuk menambah likuiditas
dengan cara membeli surat berharga jangka panjang perbankan konvensional untuk meningkatkan
jumkah uang beredar dan mendorong pinjaman dan investasi. BI telah memberi dana likuiditas ke
perbankan dalam jumlah besar, sehingga secara total mencapai sekitar Rp503,8 triliun.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Juli 2020 memutuskan untuk menurunkan BI
7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar
25 bps menjadi 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Keputusan ini
konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai
langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Dalam masa pandemic ini dampak dari resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah
sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena
berkurangnya pendapatan. Seperti halnya di negara lain pemerintah memberikan (cash payout scheme)
atau dana bantuan kepada masyarakatnya, begitu juga halnya pemerintah Indonesia memberikan
Bansos kepada masyarakat.

*SUMBER BMP ESPA4314/3SKS/MODUL 3

*SUMBER MATERI INISIASI 3


*SUMBER bbc.com/prediksi-indonesia-akibat-covid19/ edisi 22 September 2020

*SUMBER https://www.bi.go.id/id/publikasi/kebijakan-moneter/tinjauan/Pages/Tinjauan-Kebijakan-
Moneter-Juli-2020.aspx

*SUMBER https://www.cnbcindonesia.com/market/20200508141547-17-157143/ini-dia-perbedaan-
dampak-krisis-1998-2008-2020

*SUMBER https://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/produk-
domestik-bruto-indonesia/item253

*SUMBER https://www.aa.com.tr/id/ekonomi/bank-indonesia-krisis-akibat-covid-19-lebih-aman-
dari-krismon-1998/1780167

Anda mungkin juga menyukai