Anda di halaman 1dari 10

‫‪18 september 2020‬‬

‫‪Edisi 25‬‬

‫‪Khutbah Jum’at‬‬
‫‪“ Sungguh-sungguh Mengejar Apa yang Dijamin Allah‬‬

‫”‪Tapi lalai Dari yang Diminta Allah‬‬

‫‪Khutbah Pertama‬‬

‫هلل مِنْ شُرُ ْورِ أَْنفُسِنَا وَسَيّئَاتِ‬


‫إِنّ الْحَمْدَ ِهللِ نَحْمَدُهُ وَنَسَْتعِيْنُهُ وََنسَْت ْغ ِفرُهُ وََنعُ ْوذُ بِا ِ‬
‫ي َلهُ أَشْهَدُ أَنْ الَ إِلهَ ِإالّ اهللُ‬
‫أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْ ِد ِه اهللُ فَلَ مُضِلّ َلهُ َومَنْ يُضْلِلْ فَلَ هَادِ َ‬
‫وَأَشْهَدُ أَ ّن مُحَمّدًا عَبْدُهُ َورَسُوْلُهُ‬

‫صِرَاطِ‬
‫جهِ القَوِيْمِ َودَعَا إِلَى ال َّ‬
‫صَلََّى اهللُ عَلَْيهِ وَعَلَى آِل ِه وََأصْحَاِبهِ َومَنْ سَارَ عَلَى نَهْ ِ‬
‫املُسَْتقِيْمِ إِلَى يَ ْومِ الدَِّيْنِ وَسَلََّمَ َتسْلِيْمًا كَثِْيرًا‬

‫سيْ وَإِيَّاكُمْ بَِتقْوَى اهللِ‪َ ،‬فقَدْ‬


‫أَمَّا َبعْدُ‪ ،‬فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْ َن َرحِ َمكُمُ اهللُ‪ ،‬أُ ْوصِيِْنيْ َن ْف ِ‬
‫فَازَ الْمَُّتقُوْنَ‪ ،‬قَالَ اهلل َُتعَالَى فِي اْلقُرْآ ِن اْل َكرِيْمِ‪:‬‬

‫أَعُوذُ بِالَّلَ ِه مِنَ الشََّيْطَانِ ال َّرَجِيمِ‬

‫‪1‬‬
َ‫الزكَاةِ ۙ يَخَافُون‬
َّ ِ‫ِرجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَا َرةٌ وَلَا بَيْعٌ عَ ْن ِذ ْكرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء‬
ُ‫يَ ْومًا تََتقَلَّبُ فِيهِ اْلقُلُوبُ وَالْأَبْصَار‬

:‫وقال رسول اهلل صلى اهلل عليه وسلم‬

.ُ‫إِ نَّ ال رَِّ زْ قَ لَ يَ طْ لُ بُ ا لْ عَ بْ دَ كَ مَا يَ طْ لُ بُ هُ أَ جَ لُ ه‬

ُ‫ وَ صَ دَ قَ رَ سُ وْ لُ هُ ال نَّ بِ يُّ ا لْ كَ رِ يْ م‬،ُ‫صَ دَ قَ ا هللُ ا لْ عَ لِ يُّ ا لْ عَ ظِ يْ م‬

Hadirin sidang jama’ah sholat jum’at yang dirahmati All𝐚̅h


subhaanahu wa ta‘aala

Puji dan syukur Kita panjatkan ke hadirat Alla̅h subhaanahu wa ta‘aala atas
segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah ruah kepada kita semua,
terutama atas nikmat Iman dan Islam yang telah ditanamkan-Nya dalam jiwa
kita, yang dengannya kita dapat merasakan kemanisan ibadah, keta’atan dan
pengabdian kepada-Nya.

Shalawat dan Salam semoga tetap tercurah dan terlimpah kepada tauladan
kita Nabi besar Muhammad shallalla̅hu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga,

2
para Shahabat, para tabi'in, tabi'ut tabi'in dan para penerus perjuangan Beliau
hingga akhir zaman.

Khatib mengajak hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan


ketakwaan kita kepada Alla̅h subhaanahu wa ta‘aala. Taqwa yang
sebenarnya, sebagaimana firman-Nya,

َ‫يَا أَيَُّهَا الََّذِينَ آمَنُوا اَّتَقُوا الَّلَهَ حَقََّ تُقَاِتهِ وَلَا تَمُوتُنََّ إِلََّا وَأَنْتُ ْم مُسْلِمُون‬

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar


takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran 3: 102)

Hadirin sidang jama’ah sholat jum’at yang dirahmati All𝐚̅h


subhaanahu wa ta‘aala

Sering kali kita temukan, bahkan hal ini terjadi pada kita, dimana kita begitu
bersungguh-sungguh dalam mencari rizki. Terkadang pulang larut malam,
tenaga kita kerahkan, demikian pula pikiran kita curahkan untuk
mendapatkan uang yang berlimpah, kedudukan yang baik di kantor, untung
yang berlimpah dan kenikmatan-kenikmatan materi lainnya.

Sehingga seringkali pula hati kita dipenuhi perasaan kecewa, tatkala yang
kita cari ternyata tidak sesuai dengan yang kita inginkan, perasaan waswas
dan khawatir dengan kerugian dari perniagaan yang kita usahakan. Atau
3
sebaliknya hati kita dipenuhi dengan kebanggaan dengan dunia yang kita
raih, dan disibukan dengan menghitung-hitung kekayaan yang kita miliki
atau mempertahankan kedudukan yang kita miliki.

Tapi di sisi yang lain kita lalai dan abai dalam menjalankan keta’atan kepada
Alla̅h subhaanahu wa ta‘aala. Shalat memang kita lakukan, tapi kita lakukan
dengan asal-asalan dan sekedarnya saja. Kita memang suka bershadaqah,
tapi shadaqah yang kita keluarkan sangat sedikit, tidak sebanding dengan
rizki yang telah Allah berikan kepada kita. Kita memang suka membaca Al-
qur’an, tapi itupun di sisa waktu, tidak dengan pembacaan yang benar dan
tartil, juga tanpa memahami dan merenungi makna-makna ayatnya.

Penyakit inilah yang banyak diderita oleh manusia, yang disebutkan oleh
Syaikh Ibnu Atha’illah dalam kitabnya Al-hikam sebagai tanda dari
kebutaan bashirah.

ِ‫ب مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمِاس‬


َ ِ‫اجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُل‬
َ‫اْلبَصِيْرَةِ مِنْك‬
“Kerja kerasmu/kesungguhanmu untuk memperoleh sesuatu yang sudah
dijamin untukmu, dan kelalaianmu untuk melakukan apa yang dibebankan
kepadamu adalah tanda kebutaan bashirah/mata hatimu.”

Hadirin yang dirahmati All𝐚̅h subhaanahu wa ta‘aala

4
Tidak ada makhluk yang hidup di bumi ini melainkan rezekinya dijamin
oleh Allah sebagai wujud kemurahan-Nya.

َ َ‫ٱَّلل ِر أزقُ َها َويَ أعلَ ُم ُم أستَقَ َّرهَا َو ُم أست أَود‬


ۚ ‫ع َها‬ ِ َّ ‫علَى‬ ِ ‫۞ َو َما ِمن دَآبَّ ٍة فِى أٱْل َ أر‬
َ ‫ض إِ ََّّل‬
‫ين‬
ٍ ‫ب ُّم ِب‬ ٍ َ ‫ُك ٌّل فِى ِك َٰت‬

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh
mahfuzh)” (QS Hud 11: 6)

Bahkan di dalam hadits, seperti yang khatib sampaikan di awal khutbah,


Rasululla̅h shallalla̅hu ‘alaihi wa sallam bersabda:

.ُ‫ب الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ َأ َجلُه‬


ُ ُ‫إِنَّ الرَِّزْقَ لَيَطْل‬
“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal
mengejarnya” (HR Ibnu Hibban No 1087-Mawarid)

Maka rizki adalah sesuatu yang sudah Allah jamin untuk kita. Bukan disitu
letak hakikat manusia yang Alla̅h subhaanahu wa ta‘aala tuntut dari diri kita.
Hal ini bukanlah maksudnya agar kita mengabaikan untuk mencari rizki,
karena Allah pula lah yang telah memerintahkan kepada kita untuk
mencarinya:
5
‫وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللََّهُ الدََّارَ الْ َآ ِخ َرةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدَُّنْيَا‬

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi” (QS Al Qashshash 28: 77).

Namun maksudnya adalah bagaimana seharusnya kita lebih bersungguh-


sungguh kepada apa yang Allah kehendaki dan tuntut dari kita sebagai
hamba-Nya, untuk hanya beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Dalam hal
apapun yang kita lakukan, termasuk dalam kita mencari dan mengurusi
dunia ini semuanya adalah dalam rangka ibadah kepada-Nya, karena hal
itulah yang diminta Allah kepada Kita. Tapi perhatian kita lebih sering
tercurah kepada sesuatu yang bukanlah wilayah kita untuk menyibukan diri
di dalamnya.

Maka seorang hamba yang tidak terlena, pada perkara-perkara dunia inilah,
lelaki yang disebutkan oleh Alla̅h subhaanahu wa ta‘aala, di dalam Al-
qur’an:

َ‫الزكَاةِ ۙ يَخَافُون‬
َّ ِ‫ِرجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَا َرةٌ وَلَا بَيْعٌ عَ ْن ِذ ْكرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء‬
ُ‫يَ ْومًا تََتقَلَّبُ فِيهِ اْلقُلُوبُ وَالْأَبْصَار‬

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual
beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari)

6
membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati
dan penglihatan menjadi goncang”. (QS An-Nuur 24: 37)

Ibnu Abbas radhialla̅hu ‘anhuma berkata: mereka adalah para lelaki yang
mengharap karunia Allah dengan jual beli, namun jika mereka mendengar
azan sebagai panggilan untuk shalat mereka meletakkan apa yang ada di
tangan mereka kemudian berdiri dan berangkat ke masjid untuk menunaikan
shalat.

Merekalah yang telah meletakan kesungguhan pada tempat yang


sebenarnya, jual beli dan seluruh bentuk urusan dunia yang ia lakukan, juga
adalah dia lakukan dalam rangka mengharapkan ridha Alla̅h subhaanahu wa
ta‘aala, sehingga tidak melalaikannya dari keta’atannya kepada Alla̅h
subhaanahu wa ta‘aala.

ِ‫ وََنفَعَنِي وَإِيََّاكُمْ بِمِا فِْيهِ مِنَ اآلَيَات‬،ِ‫بَا َركَ اهللُ لِي وََلكُمْ فِي القُرْآنِ اْلعَظِيْم‬
ُ‫ وَتقَبَّ َل مِنِّي َومِْنكُمْ تِلَاوَتَه إَِّنهُ هُوَ السََّمِيْعُ العَلِيْم‬،ٍ‫حلكِيْم‬
َ ‫والذ ْكرِا‬
ِّ

Khutbah Kedua

ٍ‫احلَمْدُ هللِ رَبَِّ العَاملِيْنَ وَالصََّلَةُ وَالسََّلَمُ عَلَى أَشْرَافِ األَنْبِيَاءِ وَاملرْسَلِيْنَ نَبَِّيِنَا مُحَ َّمَد‬
َ‫وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن‬

7
‫ثَ مِنْ ُهمَا‬
َّ َ‫يَا أََّيُهَا النََّاسُ اتََّقُوا رَبََّكُمُ اَّلَذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا َزوْجَهَا وَب‬
‫رِجَالًا كَثِريًا وَنِسَاءً وَاتََّقُوا الَّلَهَ اَّلَذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنََّ الَّلَهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا‬
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah,

Pada kesempatan khutbah ke dua ini, khatib mengajak hadirin sekalian


untuk betul-betul kembali bermuhasabah terhadap hal-hal yang selama ini
kita lakukan. Jangan-jangan selama ini kita lebih banyak melakukan sesuatu
yang sama sekali bukan sesuatu yang diminta oleh Allah, kita lebih banyak
mengerahkan tenaga dan mencurahkan pikiran serta bersungguh-sungguh
pada sesuatu yang padahal bukan itulah yang diminta Allah kepada kita.

Selagi kita diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri, maka
marilah kita perbaiki diri kita, sebelum maut menjemput, karena tiadalah
penyesalan di sana berguna lagi.

ِ ‫ى أ َ َحدَ ُك ُم أٱل َم أوتُ فَ َيقُو َل َر‬ ‫أ‬ َٰ ۟


ٓ ‫َّل أ َ َّخ أرت َ ِن‬
‫ى‬ ٓ َ ‫ب لَ أو‬ َ ِ‫َوأَن ِفقُوا ِمن َّما َرزَ أقنَ ُكم ِمن قَ أب ِل أَن َيأت‬
َّ َٰ ‫صدَّقَ َوأ َ ُكن ِمنَ ٱل‬
َ‫ص ِل ِحين‬ َّ َ ‫ب فَأ‬
ٍ ‫ِإلَ َٰ ٓى أ َ َج ٍل قَ ِري‬

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu
sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia
berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku
sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku
termasuk orang-orang yang saleh?" (QS Al-Munafiqun 63: 10)
8
‫‪Di akhir khutbah ini marilah Kita bermunajat kepada Alla̅h subhaanahu wa‬‬
‫‪ta‘aala.‬‬

‫احلمد هلل محدًا يوايف نعمه ويكافئ مزيده‪ ،‬يا ربنا لك احلمد كما ينبغي جللل‬
‫وجهك ولعظيم سلطانك‪ .‬سبحانك اللهم ال أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت‬
‫على نفسك‪ .‬وأشهد أن ال إله إال اهلل وحده ال شريك له‪ ،‬وأشهد أن حممدًا عبده‬

‫قل إن صليت ونسكي وحمياي وممايت هلل رب العاملني ال شريك له وبذلك أمرت وأنا‬
‫أول املسلمني‬

‫اللَّهُمَّ أَْنتَ رَبِّي ال إَِلهَ إِال أَْنتَ خََلقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْ ِدكَ وَوَعْ ِدكَمَا اسْتَ َطعْتُ‬
‫أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صََن ْعتُ أَبُوءُ لَكَ بِِنعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَا ْغ ِفرْ لِي َفإَِّنهُ‬
‫ال َي ْغ ِفرُ الذُّنُوبَ إِال أَْنتَ‬

‫َي وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا‬ ‫رَبِّ أَ ْوزِعْنِي أَنْ أَ ْشكُرَ ِنعْمَتَكَ الَّتِي أَْنعَ ْمتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِد َّ‬
‫َت ْرضَاهُ وََأ ْدخِلْنِي ِب َرحْمَتِكَ فِي عِبَا ِدكَ الصَّالِحِني‬
‫شرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَا َدكَ ْاملُوَحِّدِين وَانْصُرْ‬
‫الش ْركَ وَْاملُ ْ‬
‫لمَ وَْاملُسْلِمِيْنَ وََأذِلَّ ِّ‬
‫اللهُمَّ اَعِزَّ ْاالِسْ َ‬
‫صرَ الدِّيْ َن وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ ْاملُسْلِمِيْنَ‬ ‫مَنْ نَ َ‬

‫‪9‬‬
‫َو د َِّمرْ اَعْدَاءَالدِّيْ ِن وَاعْلِ كَلِمَاتَكَ اِلَى يَ ْومَ الدِّيْنِ‪.‬‬

‫أَللّّٰهُمَّ ا ْغ ِفرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْ مِنِيْنَ وَالْمُ ْؤمِنَاتِ أَْلَاحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلَامْوَا ِ‬
‫ت‬
‫ى‬
‫ضىَ الْحاَجاَتِ‪ .‬رَبَّنَا إِنَّنَا سَ ِم ْعنَا مُنَادِيًا يُنَادِ ْ‬ ‫إِنَّكَ سَمِيْعٌ َقرِْيبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَاقَ ِ‬
‫لِ ْلإِيْمَانِ أَنْ أّٰمِنُواْ ِبرَِّبكُمْ فَأّٰمَنَّا‪ ,‬رَبَّناَ فَا ْغ ِفرْلَناَ ذُنُوْبَناَ َوك َِّفرْ عَنَّا سَيِّأَتِناَ وَتَوَفَّناَ مَعَ الْأَبْرَارِ‪,‬‬
‫رَبَّنَا اّٰتِنَا فِى الدُّنْيَا َحسََن ًة وَفِى اْلاّٰ ِخ َرةِ َحسَنَ ًة وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‪ .‬سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ‬
‫َب اْلعَالَمِيْنَ‬‫صفُوْنَ وَسَلَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْ َن وَالْحَمْدُ لِلّّٰ ِه ر ِّ‬ ‫ِزةِ عَمَّا يَ ِ‬ ‫اْلع َّ‬

‫‪10‬‬