Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN MIOMA UTERI

SITI USFATUN KHASANAH


2011040025

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2020

1
A. Definisi
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal
dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri
atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang paling sering
ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai produktif. Walaupun tidak
sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma mencakup infertilitas, abortus
spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
Mioma uteri adalah tumor jinak rahim ini sebagian besar berasal dari sel muda otot
rahim, yang mendapat rangsangan terus menerus dari hormon estrogen sehingga terus
bertumbuh dan bertambah menjadi besar. Oleh karena itu tumor jinak otot rahim sebagian
besar terjadi pada masa reproduktif aktif, yaitu saat wanita masih menstruasi(Menurut
Manuaba, 2012).
B. Etiologi
Penyebab pasti mioma tidak diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali ditemukan
sebelum pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi dan hanya manifestasi selama
usia reproduktif (Anwar dkk, 2011).
Tumor ini berasal dari sel otot yang normal, dari otot imatur yang ada di dalam
miometrium atau dari sel embrional pada dinding pembuluh darah uterus. Apapun asalnya
tumor mulai dari benih-benih multipel yang sangat kecil dan tersebar pada miometrium.
Benih ini tumbuh sangat lambat tetapi progresif (bertahun-tahun) bulan dalam hitungan bulan
di bawah pengaruh estrogen (Llewellyn, 2009).
C. Manifestasi Klinis
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak menggangu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung
pada tempat sarang miomaberada (serviks, intramural, submukus, sebserus), besarnya tumor,
perubahan dan kompilikasi yang terjadi (Wiknjosastro, 2008). Gejala tersebut dapat
digolongkan sebagai berikut:
1. Massa di Perut Bawah
Penderita mengeluhkan merasakan adanya massa atau benjolan di perut bagian bawah.
2. Pendarahan abnormal
Gangguan pendarahan yang terjadi metroragia.
3. Rasa Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan dari sirkulasi
darah pada sarang mioma, disertai nekrosis setempat dan peradangan.

2
4. Gejala dan penekanan
Gangguan ini dapat tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada
kantung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra akan dapat menyebabkan retensio
urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di
panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
5. Penurunan Kesuburan dan Abortus
Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab penurunan kesuburan masih belum jelas.
Dilaporkan sebesar 27-40% wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Penurunan
kesuburan dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis
tuba, sedangkan mioma submukosa dapat memudahkan terjadinya abortus karena distorsi
rongga uterus. Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya mioma dapat menyebabkan
disfungsi reproduksi. Gangguan implantasi embrio dapat terjadi pada keberadaan mioma
uteri akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi karena adanya
kompresi massa tumor.
D. Patofisiologi
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut
diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat
sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik.
Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan
perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat
terhadap uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan tumor
subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik yang
dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat jarang bersifat ganas,
infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang mengobstruksi atau menyebabkan
kelainan bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma pada badan uterus dapat menyebabkan
aborsi secara spontan, dan hal ini menyebabkan kecilnya pembukaan cervik yang membuat
bayi lahir sulit.

3
E. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada mioma uteri secara umum, yaitu:
1. Degenerasi ganas
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadi sindrom abdomen akut
F. Penatalaksanaan Medis
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor. Penanganan
mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas:
a. Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2. Monitor keadaan Hb
3. Pemberian zat besi
4. Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma.
b. Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1. Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2. Nyeri pelvis yang hebat
3. Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma berukuran
kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa)
4. Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5. Pertumbuhan mioma setelah menopause
6. Infertilitas
7. Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus
(Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara
umum. Penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki
keturunan setelah penyebab lain disingkirkan (Chelmow, 2005).

4
b. Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik
sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri.
Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada
penderita yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada dua
cara histerektomi, yaitu :
1) Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma
intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
2) Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus gravid 12
minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina misalnya rektokel, sistokel atau
enterokel (Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk
histerektomi adalah sebagai berikut :
1. Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan
dikeluhkan oleh pasien.
2. Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-
gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia akibat kehilangan
darah akut atau kronis.
Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut, rasa
tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada
vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (Chelmow, 2005).

5
G. Pathway

Mioma uteri

Mioma intramural Mioma submukosusm Mioma sub serosum

Tumbuh di dinding Di bawah endometrium Tumbuh keluar dinding


uterus & menonjol ke rongga uterus
uterus

Gejala dan tanda

Perdarahan Pembesaran uterus

Tindakan
pembedahan/operasi

Nyeri akut b.d agen Kerusakan jaringan


pencedera fisik pascaoperasi

Port de entrée luka Risiko infeksi b.d Efek


pasca bedah prosedur invasive

H. Pengkajian
1. Data biografi pasien
Riwayat kesehatan saat ini, meliputi : keluhan utama masuk RS, faktor pencetus, lamanya
keluhan, timbulnya keluhan, faktor yang memperberat, upaya yang dilakukan untuk
mengatasi, dan diagnosis medik.
2. Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi : penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi,
imunisasi, kebiasaan merokok,minum kopi, obat-obatan dan alkohol.
3. Riwayat kesehatan keluarga.
4. Pemeriksaan fisik umum dan keluhan yang dialami. Untuk pasien dengan kanker servik,
pemeriksaan fisik dan pengkajian keluhan lebih spesifik ke arah pengkajian obstretri dan
ginekologi, meliputi : Riwayat kehamilan, meliputi : gangguan kehamilan, proses persalinan,

6
lama persalinan, tempat persalinan, masalah persalinan, masalah nifas serta laktasi, masalah
bayi dan keadaan anak saat ini.
5. Pemeriksaan genetalia.
6. Pemeriksaan payudara.
7. Riwayat operasi ginekologi.
8. Pemeriksaan pap smear.
9. Usia menarche.
10. Menopause.
11. Masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
 Kesehatan lingkungan/hygiene.
 Aspek psikososial meliputi : pola pikir, persepsi diri, suasana hati,
hubungan/komunikasi, kebiasaan seksual, pertahanan koping, sistem nilai dan
kepercayaan dan tingkat perkembangan.
 Data laboratorium dan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain.
 Terapi medis yang diberikan.
 Efek samping dan respon pasien terhadap terapi.
 Persepsi klien terhadap penyakitnya

I. Diagnosa Keperawatan Megacolon yang bisa muncul sesuai dengan SDKI, SLKI dan
SIKI

1. Nyeri Akut (D.0077)


Kategori : Psikologis
Subkategori : Nyeri dan Kenyamanan
Definisi : pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan
berintensitas tingan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan
Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor
S
Su
u
Penyebab by
by Obyektif Obyektif
rkt
ek
if
tif
1. Agen pencedera Mengeluh 1. Tampak meringis Tid 1. Tekanan darah
fisiologis (missal: nyeri 2. Bersikap protektif ak meningkat
inflamasi, iskemia, (Misal: waspada) ters 2. Pola nafas berubah

7
neoplasma) 3. Gelisah edi 3. Nafsu makan berubah
2. Agen pencedera 4. Frekuensi nadi a 4. Proses berpikir
kimia (missal: meningkat terganggu
terbakar, bahan 5. Sulit tidur 5. Menarik diri
kimia iritan) 6. Berfokus pada diri
3. Agen pencedera sendiri
fisik (Misal: abses, 7. Diaphoresis
terbakar operasi,
trauma)
Kondisi Klinis Terkait
1. Kondisi pembedahan
2. Cedera traumatis
3. Infeksi
4. Sindrom coroner akut
5. Glaucoma
*) pengkajian nyeri dapat menggunakan instrument skala nyeri, seperti:
1. FLACC Behavioral Pain Scale untuk usia kurang dari 3 tahun
2. Baker-Wong-Faces Scale untuk usia 3-7 tahun
3. Visual Analog Scale atau Numeric Rating Scale untuk usia lebih dari 7 tahun

Intervensi
SDKI SLKI (Kriteria Hasil) SIKI (Intervensi)
(Diagnosa
)
Nyeri Luaran utama: Intervensi utama
Akut Tingkat nyeri Manaje Pember
Luaran Tambahan: men ian
1. Fungsi gastrointestinal nyeri analges
2. Control nyeri ik
3. Mobilitas fisik Intervensi pendukung
4. Penyembuhan luka Aromat Pember
5. Perfusi miokard erapi ian obat
6. Perfusi perifer oral
7. Pola tidur Dukun Pember
8. Status kenyamanan gan ian obat
9. Tingkat cedera pengun intrave
Definisi: Pengalaman sensorik atau gkapan na
emosional yang berkaitan dengan kebutu
kerusakan jaringan actual atau han
fungsional, dengan onset mendadak Edukas Pember
atau lambat dan berintensitas tingan i efek ian obat
hingga berat dan konstan sampin topical
Ekspetasi: Menurun g obat
Kriteria hasil: Edukas Pengat
Indicator 1 2 3 4 5 i uran
Kemampuan manaje posisi
menuntaskan men
aktivitas nyeri
Keterangan: Edukas Perawa
1: menurun i proses tan
2: cukup menurun penyaki kenyam
3: sedang t anan
4: cukup meningkat Edukas Teknik
5: menignkat

8
Keluhan nyeri i teknik distraks
Meringis napas i
Gelisah Kompr Teknik
Kesultan tidur es imajina
Menarik diri dingin si
Diaphoresis terbimb
Perasaan ing
depresi Manaje Teknik
Anoreksia men akupres
Mual kenyam ur
Muntah anan
Keterangan: lingkun
1: meningkat gan
2: cukup meningkat Manaje Teknik
3: sedang men bantuan
4: cukup menurun medika hewan
5: menurun si
Frekuensi nadi Pemant Teknik
Pola nafas auan humor
Tekanan darah nyeri
Proses berpikir Pember Teknik
Focus ian obat muratta
l
Nafsu makan
Manaje Terapi
Keterangan:
men music
1: memburuk
sedasi
2: cukup memburuk
3: sedang Nabaje Terapi
4: cukup membaik neb ralksasi
5: membaik efek
sampin
g obat

SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238)


Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola pangalaman sensorik atau emoslonal yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan
hingga berat dan konstan..
Tindakan:
Observasi:
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, Intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respons nyeri non verbal
4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hldup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik:

9
10.Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnostis akupresur, terapi
musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapl, teknik imalinasi terbimbing kompres hangat/dingin, terapi
bermain)
11.Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu nuangan, pencahayaan kebisingan)
12.Fasilitasi istirahat dan tidur
13.Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemlihan strategi meredakan nyer
Edukasi:
14. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
15.Jelaskan strategi meredakan nyeri
16.Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
17.Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
18.Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
19.Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

SIKI: Penmberian Analgesik (I.08243)


Definisi: menyiapkan dan memberikan agen farmakologis untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit..
Tindakan:
Observasi:
20. Identifikasi karakteristik nyeri (Misal: pencetus, pereda kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)
21. Identifikasi riwayat alergi obat
22. Identifikasi kesesuaian jenis analgesic (Misal: narkotika, non-narkotika, NSAID) dengan tingkat
keparahan nyeri
23. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgesic
24. Monitor efektifitas analgesic
Terapeutik:
25. Diskusikan jenis analgesic yang disukai untuk mencapai analgesic yang optimal, jika perlu
26. Pertimbangkan penggunaan infus kontinu
27. Tetapkan target efektivitas analgesic untuk mengoptimalkan respon pasien
28. Dokumentasikan respon terhadap efek analgesic dan efek yang tidak diinginkan
Edukasi:
29. Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
Kolaborasi:
30.Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesic, sesuai indikasi

2. Resiko infeksi (D.0142)


Kategori : lingkungan
Subkategori : keamanan dan proteksi
Definisi : berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.
Faktor resiko Kondisi klinis terkait
i. Penyakit kronis (missal: diabetes mellitus) 1. AIDS

10
ii. Efek prosedur invasive 2. Luka bakar
iii. Malnutrisi 3. PPOK
iv. Peningkatan paparan organisme pathogen lingkungan 4. Diabetes mellitus
v. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer: 5. Tindakan invasive
a. Gangguan peristaltic 6. Kondisi penggunaan terapi steroid
b. Kerusakan integritas kulit 7. Penyalahgunaan obat
c. Perubahan sekresi pH 8. Ketuban pecah sebelum waktunya
d. Ketuban pecah lama 9. Kanker
e. Merokok 10. Gagal ginjal
vi. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder: 11. Imunosupresi
a. Penurunan hemoglobin 12. Lymphedema
b. Imunosupreesi 13. Leukositopenia
c. Leukopenia 14. Gangguan fungsi hati
d. Supresi respon inflamasi
e. Vaksinasi tidak adekuat

Intervensi
SDKI SLKI (Kriteria Hasil) SIKI (Intervensi)
(Diagnosa
)
Resiko Luaran utama: Intervensi utama
infeksi Tingkat infeksi Manaje Penceg
Luaran Tambahan: men ahan
a. Integritas kulit dan jaringan imunisa infeksi
b. Control resiko si atau
c. Status nutrisi vaksina
d. Status imun si
Definisi: derajat infeksi berdasarkan Intervensi pendukung
observasi atau sumber informasi Dukun Pengat
Ekspetasi: Menurun gan uran
Kriteria hasil: perawat posisi
Indicator 1 2 3 4 5 an diri
Kebersihan Manaje Perawa
tangan men tan area
Kebersihan jalan insisi
badan nafas
Nafsu makan Manaje Perawa
Keterangan: men tan luka
1: menurun lingkun
2: cukup menurun gan
3: sedang Manaje Perawa
4: cukup meningkat men tan
5: menignkat nutrisi selang
Demam Manaje Perawa
Kemerahan men tan
Nyeri medika selang
Bengkak si dada
Vesikel Pember Perawa
Letargi ian obat tan
Keterangan: selang
1: meningkat gastroi
2: cukup meningkat ntestina
3: sedang l

11
4: cukup menurun Pember Perawa
5: menurun ian obat tan
Kadar sel darah intrave selang
putih na umbilic
Kadar darah al
Kadar sputum Penceg Perawa
Kadar feses ahan tan
Kadar area luka luka sirkums
Kadar urine tekan isi
Keterangan:
1: memburuk
2: cukup memburuk
3: sedang
4: cukup membaik
5: membaik

SIKI: Manajemen Imunisasi atau Vaksinasi (I.14508)


Definisi: mengidentifikasi dan mengelola pemberian kekekbalan tubuh secara aktif dan pasif
Tindakan:
Observasi:
i. Identifikasi riwayat kesehatan dan alergi
ii. Identifikasi kontraindikasi pemberian imunisasi (Misal: reaksi anafilaksis terhadap vaksin sebelumnya)
iii. Identifikasi status imunisasi setiap kunjungan ke pelayanan kesehatan
Terapeutik:
1. Berikan suntikan pada bayi di bagian paha anterolateral
2. Dokumentasikan informasi vaksinasi (Misal: nama produsen dan tanggal kadaluarsa)
3. Jadwalkan imunisasi pada interval waktu yang tepat
Edukasi:
a. Jelaskan tujuan, manfaat, reaksi yang terjadi, jadwal dan efek samping
b. Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah (Misal, Hepatitis B, BCG, Didteri, Tetanus dll)
c. Informasikan imunisasi yang melindungi terhadap penyakit namun saat ini tidak diwajibkan pemerintah
(Misal: Influenza, pneumokokus)
d. Informasikan vaksin untuk kejadian khusus (Misal: Rabies dan Tetanus)
e. Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak berarti mengulang jadwal imunisasi kembali
f. Informasikan penyedia layanan pecan imunisasi nasional yang menyediakan vaksin gratis

SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539)


Definisi: mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organismen patogenik.
Tindakan:
Observasi:
i. Monitor tanda dan gejala infeksi local sistemik
Terapeutik:
1. Batasi jumlah pengunjung
2. Berikan perawatan kulit pada area edema

12
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
4. Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi
Edukasi:
1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
2. Ajarkan cara mencuci tangan yang benar
3. Ajarkan etika batuk
4. Ajarkan cara memeriksa kondis luka atau luka operasi
5. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
6. Anjurkan menignkatkan asupan cairan
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M., Baziad, A., & Prabowo, R. P. (2011). Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa Maria A.
Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.
Callahan MD MPP, Tamara L. (2005). Benign Disorders of the Upper Genital Tract in Blueprints
Obstetrics & Gynecology. Boston : Blackwell Publishing,
Chelmow.D. (2005). GynecologicMyomectomy Http://www.emedicine.com/med/topic331 9.html.
Crum MD, Christopher P & Kenneth R. Lee MD. 2003. Tumors of the Myometrium in Diagnostic
Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston : Elsevier Saunders
Hart MD FRCS FRCOG, David McKay. 2000. Fibroids in Gynaecology Illustrated. London :
Churchill Livingstone.
Kowalak , J. P., Welsh, W., & Mayer, B. (2011). Buku Ajar Patofisiologi . Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. (2002). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Manuaba. (2012). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka

Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik.
Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan. Jakarta: DPP
PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan.
Jakarta: DPP PPNI.

13
Winkjosastro, Hanifa, (2005), Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

14

Anda mungkin juga menyukai