Anda di halaman 1dari 27

Case Report Session

PERAWATAN LUKA OPERASI DAN PERAWATAN NIFAS PADA PASIEN


SC

Oleh:

Ulfa Syukrina 1840312752

Anneira Amanda Putri 1840312753

Preseptor:

dr. Andi Friadi, Sp.OG (K)

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2020

0
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap wanita menginginkan Persalinan nya berjalan lancar dan dapat
melahirkan bayi dengan sempurna. Ada dua cara persalinan yaitu persalinan
lewat vaginayang lebih lebih dikenal dengan persalinan alami dan persalinan
caesaratau section caesarea1
.Seksio Sesarea(SC) adalah proses persalinan dengan melalui
pembedahan di mana irisan dilkakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim
(histerektomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan
ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena
beresiko kepada komplikasi medis lainya.2
WHO memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar
adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan dinegara-negara
berkembang dibandingkan dengan 20%di Britania Raya dan23% di Amerika
Serikat.Pada beberapa keadaan, tindakan Seksio Sesarea ini bisa
direncanakan atau diputuskan jauh-jauh sebelumnya. Operasi ini disebut
operasi sesarea elektif. Kondisi ini dilakukan apabila dokter menemukan ada
masalah kesehatan pada ibu atau menderita suatu penyakit, sehingga tidak
memungkin untuk melahirkan secara normal.3
Di indonesia penyebab terbesar kematian ibu selama tahun 2010-2013
masih tetap sama yaitu perdarahan 30,3%, hipertensi 27,1%, dan infeksi
7,3%. Sedangkan di Sulawesi Selatan penyebab angka kematian ibu pada
tahun 2013 sebanyak115 orang(0,8%), dan angka kematian ibu hamil
sebanyak 18 orang (15,6%), ibu bersalin sebanyak 59 orang (51,3%), ibu
nifas sebanyak 38 orang (33%) (Dinas kesehatan provinsi sulawesi selatan
2013).Berdasarkan hasil uraian diatas salah satu penyebab angka kematian
ibu yaitu perdarahan sehingga membutuhkan penanganan dan mendapatkan
pemantauan khususnya pada pasca persalinan karena tindakan operasiagar
dapat menurunkan terjadinya berbagai komplikasi pada ibu Post Seksio
Sesarea(SC), sehingga kita harus tau bagaimana penanganan perawatan pasca
operasi sectio caesarea dan masa nifas pasien sectio caesarea.4

1
1.2 Batasan Masalah
Laporan kasus ini akan membahas mengenai perawatan luka operasi dan
perawatan nifas pada pasien SC.

1.3 Metode Penulisan


Metode yang dipakai dalam penulisan studi kasus ini berupa hasil pemeriksaan
pasien, rekam medis pasien, tinjauan kepustakaan yang mengacu pada berbagai
literatur..

1.4 Tujuan Penulisan


Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk memahami dan menambah
pengetahuan tentang perawatan luka operasi dan perawatan nifas pada pasien SC.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sectio Caesarea
2.1.1 Definisi
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui
suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaanutuh serta berat janin di atas 500 gram.5
2.1.2 Jenis Sectio Caesarea5
Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :
a. Sayatan melintang
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim (SBR). Sayatan
melintang dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan (simphysisis) di atas
batas rambut kemaluan sepanjang sekitar 10-14 cm. keuntunganya adalah
parut pada rahim kuat sehingga cukup kecil resiko menderita rupture uteri
(robek rahim) di kemudian hari. Hal ini karna pada masa nifas, segmen
bawah rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi dapat
sembuh lebih sempurna (Kasdu, 2003, hal. 45).
b. Sayatan memanjang (bedah caesar klasik)
Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang
memberikan suatu ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun,
jenis ini kini jarang dilakukan karena jenis ini labil, rentan terhadap
komplikasi.
2.1.3 Indikasi Sectio Caesarea
Indikasi dan kontra indikasi dari Sectio Caesarea sebagai berikut
- Menurut Wiknjosastro (1994) indikasinya adalah6
a. Indikasi ibu
1) Panggul sempit absolute
2) Tumor–tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3) Stenosis serviks/ vagina
4) Plasenta previa
5) Disporposi sefalopelvik
6) Ruptura uteri membakat.

3
b. Indikasi janin.
1) Kelainan letak
2) Gawat janin
Pada umumnya sectio sesarea dilakukan pada :
1)Janin mati
2)Syok, anemia berat sebelum diatasi
3)Kelainan congenital berat
- Menurut Mansjoer indikasinya adalah
1)Disporposi sevalo pelvic.
2)Gawat janin
3)Plasenta previa
4)Pernah seksio sesarea sebelumny
5)Kelainan letak
6)Incoordinate uterine action
7)Eklampsia
8)Hipertensi
- Menurut Mochtar indikasinya adalah7
1) Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior
2) Panggul sempit. Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan
janin vias naturalis ialah CV = 8 cm, panggul dengan CV = 8 cm dapat
dipastikan tidak dapat melahirkan janin yang normal, harus diselesaikan
dengan sectio caesarea. CV adalah 8–10 cm boleh dicoba dengan partus
percobaan baru setelah gagal dilakukan sectio caesareasekunder
3) Disporposi sefalo- pelvik yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala
dan panggul
4) Ruptura uteri mengancam
5) Partus lama (prolonged labor)
6) Partus tak maju (obstructed labor)
7)Distosia servik
8)Preeklampsi dan hipertensi
9)Malpresentasi janin.
a)Letak lintang

4
Greenhill dan Eastman sependapat:\
(1)Bila ada kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah cara yang
terbaik dalam letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa
(2)Semua primigravida dengan letak lintang dengan janin hidup dan besar
biasa
(3)Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio
caearea, walau tidak ada perkiraan panggul sempit
(4)Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara–cara
lain.
b)Letak bokong .
Sectio caesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
(1) Panggul sempit
(2) Primigravida
(3) Janin besar dan berharga.
c)Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dan cara-cara lain
tidak berhasil
d)Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
e)Gemelli, menurut eastman sectio caesarea dianjurkan:
(1)Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (shoulder
presentation) (2)Bila terjadi interlock (locking of the twins)
(3)Distosia oleh karena tumor.
(4)Gawat janin dan sebagainya
Kontra indikasi dari Sectio Caesarea adalah6
1) Janin mati
2) Syok
3) Anemia berat
4) Kelainan kongenital berat
5) Infeksi piogenik pada dinding abdomen
6) Minimnya fasilitas operasi sectio caesarea.

2.2. Luka Sectio Caesarea


2.2.1. Pengertian Luka Sectio Caesarea8

5
Luka merupakan rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma
benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau
gigitan hewan. Luka merupakan gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian
diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan dari kontinuitas
tersebu. Pengertian luka Sectio Caesareaadalah gangguan dalam kontinuitas sel
akibat dari pembedahan yang dilakukan untuk mengeluarkan janin dan plasenta
dengan cara membuka dinding perut dengan indikasi tertentu.
2.2.2.Proses Penyembuhan Luka9
Proses fisiologis normal penyembuhan luka melalui beberapa fase,yaitu:
1) Fase Hemostasis
Fase ini dimulai segera setelah terjadinya luka, dengan adanya
vasokonstriksi dan formasi pembekuan oleh fibrin. Jaringan disekitar tempat
terjadinya luka akan melepaskan sitokin pro-inflammatorydan growth
factorsseperti transforming growth factor(TGF)-beta, platelet-derived growth
factor(PDGF), fibroblast growth factor(FGF) dan epidermal growth
factor(EGF). Ketika perdarahan sudah bisa terkontrol, sel-sel inflamasi akan
bermigrasi menuju ke tempat luka (kemotaksis) dan akan menginisiasi fase
selanjutnya, yaitu faseinflamasi.
2) Fase Inflamasi
Merupakan fase yang ditandai dengan adanya infiltrasi sequentialoleh
netrofil, makrofag dan limfosit. Fungsi penting netrofil adalah untuk
membersihkan adanya mikroba dan debris seluler di area luka. Prioritas
fungsional dari fase inflamasi, yaitu menggalakkan hemostasis,
menyingkirkan jaringan mati, dan mencegah infeksi oleh bakteri patogen
terutama bakteria.
3) Fase Proliferatif
Merupakan fase yang ditandai dengan adanya proliferasi epitel dan re-
epitelisasi. Fase ini biasanya mengikuti dan mendahului 14fase inflammatory.
Pada dermis yang sedang dalam proses perbaikan,fibroblast dan sel endotel
merupakan jenis sel yang paling penting dan mendukung adanya
pertumbuhan kapiler, formasi kolagen dan formasi jaringan granulasi pada
area luka. Fibroblast menghasilkan kolagen yang juga dihasilkan oleh

6
glikosaminoglikan (GAG) dan proteoglikan yang merupakan komponen
terbesar pada extracellular matrix(ECM). adanya proliferasi tersebut dan
sintesis extracellular matrix(ECM), maka penyembuhan luka memasuki fase
akhir, yaitu fase remodeling.
4) FaseRemodeling
Fase ini merupakan fase akhir penyembuhan luka yang berlangsung
bertahun-tahun. Pada fase ini, terjadi regresi dari banyak kapiler yang beru
terbentuk, sehingga menyebabkan densitas vascular pada jaringan luka
kembali normal. Bekas luka akan tertutup oleh kontraksi fisik melalui proses
penyembuhan luka ini yang dimediasi oleh contractile
fibroblasts(myofibroblast) yang muncul pada luka.
2.2.3.Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Sectio Caesarea9
Terdapatdua faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka, yaitu
faktor sistemik dan faktor lokal
1. Faktor Sistemik
-Oksigenasi
-Infeksi
-Benda asing
-Venous Sufficiency
2. Faktor Lokal
-Usia dan jenis kelamin
-Hormon kelamin
-Stress
-Iskemia
-Penyakit: diabetes, keloids, fibrosis, gangguan penyembuhan herediter,
jaundice, uremia
-Obesitas
-Medikasi:glukokortikoid steroid, OAINS, kemoterapi
-Alcoholism dan merokok
-Kondisi immunocompromised: kanker, terapi radiasi, AIDS-Nutrisi
2.2.4 Perawatan Luka Operasi Sectio Caesarea10
Perawatan Post Seksio Sesarea (SC) sangat diperlukan untuk mengembalikan kondisi

7
kebugaran tubuh seperti sedia kala. Adapun perawatan Post Seksio Sesaria(SC) yang
harus dilakukan yaitu diantaranya:
a. Periksa tekanan darah, frekuensi nadi dan pernapasan, ukur jumlah urine yang
tertampung dikantong urine dan periksa/ukur jumlah perdarahan selama operasi.
Bu
b. at laporan operasi dan cantumkan hasil pemeriksaan diatas pada lembar laporan.
Catat lama operasi, jenis kelamin, nilai apgar score dan kondisi bayi saat lahir,
lembar operasi ditandatangani oleh operator.
c. .Buat instruksi perawatan yang meliputi: jadwal pemeriksaan ulang tekanan
darah, frekuensi nadi dan pernapasan, jadwal pengukuran jumlah produksi urine,
berikan instruksi dengan jelas, singkat dan terperinci yang mencangkup nama, obat,
dosis, cara pemberian, dan waktu atau jam pemberian.
d. Nasihat dan konseling Post Seksio Sesarea (SC)
1)Kepada keluarga pasien beritahu bahwa: operasi telah selesai dan
sampaikan jalannya operasi, kondisi ibu saat ini dan apa yang diharapkan,
minimal mencangkup 24 jam post operasi. Waktu lahir, jenis kelamin,
panjang badan, berat badan dan keadaan operasi. Risiko fungsi reproduksi
pasien dan kehamilan/persalinan yang akan datang, alat kontrasepsi yang
akan digunakan. Jelaskan rencana perawatan dan perkiraan waktu pasien
dapat dupulangkan, sertakan keluarganya untuk ikut mengawasi pasien,
khusus terhadap risikkofungsi reproduksi berupa bekasSeksio Sesarea (SC).
2)Kepada pasien (setelah sadar/dapat berkomunikasi) beritahu mengenai
keadaannya saat ini. Waktu lahir, jenis kelamin, panjang badan, berat badan
dan keadaan bayi. Risiko fungsi repsroduksi, kehamilan dan persalinan yang
akan datang. Lakukan konseling dan rencanakan upaya-upaya pencegahan
kehamilan (bila tidak dilakukan tubektomi). Jelaskan hingga pasien
memahami, menerima dan dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai
serta jelaskan kembali risiko yang dihadapi oleh pasien, berikan cukup waktu
untuk berdiskusi hingga diyakini bahwa pasien telah cukup mengerti dan
paham.
3)Adakalanya dokter akan memantau kondisi terakhir pasiennya, dan apabila
dinyatakan sudah stabil, maka pihak medis tentunya akan

8
memperbolehkanuntuk pulang. Pastikan pula untuk melakukan check up
secara rutin untuk memeriksa kondisi terkini si ibu
Asuhan Pada Ibu Post Seksio Sesaria(SC)
Setelah pasca operasi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan karena pada
tahap ini ibu sangat rentang terhadap infeksi akibat perlukaan karena
persalinan. Dengan memberikan asuhan dan pemantauan khusus pada ibu
pasca operasi maka kemungkinan terjadinya infeksi pada klien lebih rendah.
a. Pemberian cairan intravena.
Kebutuhan cairan intravena, termasuk darah selama dan setelah seksio
sangat bervariasi.cairan yang diberikan secara intravena terdiri dari larutan
Ringer Laktat atau larutan sejenis dan Dekstrosa 5% dalam air. Biasanya
diberikan dalam 1-2 liter cairan yang mengandung elektrolit seimbang selama
dan segera setelah operasi.
b. Ruang pemulihan.
Di ruang pemulihan, jumlah perdarahan dari vagina harus dipantau
dengan ketat, dan fundus harus sering diperiksa dengan palpasi, dengan
palpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi kuat. Balutan tebal
dengan banyak plester dapat mengganggu palpasi dan pemijatan fundus serta
menimbulkan rasa tidak nyaman kemudiaan saat plester, dan mungkin kulit
diangkat. Ibu didorong untuk bernapas dalam dan batuk.Setelah ibu sadar
penuh, perdarahan minimal, tekanan darah memuaskan, dan aliran urine
paling tidak 30 ml per jam, pasien dapat dipulangkan ke kamarnya.
c. Pemberian analgesik (Anti nyeri).
Untuk ibu dengan ukuran tubuh rata-rata, diberikan meperidin 75 mg,
atau morfin 10 mg secara intramuskulus sampai sesering tiap 3 jam untuk
menghilangkan rasa nyaman. Jika bertubuh kecil, mungkin diperlukan
meperidin 50 mg atau jika besar, 100 mg. Suatu antiemetik (misalnya
prometazin 25 mg) biasanya diberikan betsama narkotik. Metode pemberian
analgetik lainya misalnya pemberian narkotik epidural pasca partum atau
analgesik yang dikontrol oleh pasien sedang dievaluasi dengan hasil awal
yang menjajikan
d. Tanda Vital.

9
Tekanan darah,nadi, jumlah urin, dan fundus uteri diperiksa paling tidak
setiap jam selama 4 jam. Setiap kelainan dilaporkan. Setelah itu, selama 24
jam pertama, hal-hal diatas bersamaan dengan suhu, diperiksa setiap 4 jam.
e. Terapi Cairan Dan Makanan.
Secara umum, 3 liter cairan, termasuk Ringer Laktat seyogianya adekuat
untuk pembedahan dan 24 jam pertama sesudahnya. Namun, jika pengeluarna
urine kurang dari 30 ml per jam, pasien harus segera dievaluasi kembali.
Penyebab oligouria dapat beragam mulai dari pengeluaran darah yang tidak
diketahui sampai efek antidiuretik infus oksitosin. Jika tidak terjadi
manipulasi intra-abdomen yang ekstensi atau sepsis, ibu yang seyogiyanya
mampu menerima cairan per oral sehari setelah pembedahan. Jika tidak
mampu, cairan intravena dilanjutkan atau diulang. Pada hari kedua setalah
pembedahan , sebagian besaribu dapat menerima makan biasa.
f. Kandung Kemih Dan Usus.
Kateter umunya dapat dilepas dari kandung kemih 12 jam setelah operasi
atau, yang lebih menyenangkan, pagi hari setelah operasi. Kemampuan ibu
mengosongkan kandung kemihnya sebelum terjadi peregangan yang
berlebihan harus dipantau seperti pada persalinan pervaginam. Bising usus
biasanya tidak terdengar pada hari pertama pembedahan, samar-samar pada
hari kedua, dan aktif pada hari ketiga. Pada hari kedua dan ketiga pasca
operasi, dapat timbul nyeri gas akibat gerakan usus yang tidak terkoordinasi.
Supositoria rektum biasanya dapat memicu defekasi, jika tidak ibu harus
diberi anema.
g. Ambulasi.
Umumnya, sehari setelah pembedahan, pasien harus turun sebentar dari
tempat tidur dengan bantuan paling tidak dua kali. Lama waktu ambulasi Post
Seksio Sesarea (SC) dengan general anastesi dan regional anastesi cenderung
sama. Selisih rata-rata lama waktu ambulasi dini hanya 2jam 40 menit.
h. Pemeriksaan Laboratorium.
Hematokrit secara rutin diukur pada pagi hari setelah pembedahan.
Hemotokrit diperiksa lebih dini jika terjadi pengeluaran darah berlebihan atau
terjadi oliguria atau tanda-tanda yang lain yang mengisyaratkan hipovolemia.

10
Jika hematokrit menurun secara signifikan dari kadar praoperasi, pemeriksaan
diulang, dan dilakukan penelitian untuk menentukan penyebab penurunan
tersebut. jika hematokrit yang rendah itu tetap stabil, ibu yang bersangkutan
tersebut dapat pulang tanpa kesulitan. Jika kecil kemungkinanya terjadi
pengeluarn darah lebih kanjut, terapi besi untuk memperbaiki gangguan
hematologik lebih dianjurkan dari pada transfusi.
i. Perawatan Payudara.
Menyusui dapat dimulai sehari setelah pembedahan. Jika ibu yang
bersangkutan memilih untuk tidak menyusui karena ada hal lain, maka
pemakaian penyangga payudara yang tidak menekan biasanya dapat
mengurangi rasa tidak nyaman.
j. Pemulangan Dari Rumah Sakit.
Ibu dapat dipulangkan dengan aman pada hari keempat atau kelima pasca
persalinan, kecuali jika terjadi penyulit selama Masa Nifas. Aktifitas ibu
selama minggu berikutnya harus dibatasi pada perawatan diri dan bayinya
dengan bantuan. Evaluasi pasca salin perta sebaliknya dilakukan tinga
minggu setelah persalinan, bukan 6 minggu seperti cara tradisional.
k. Pemberian Antimikroba Profilaksis.
Suatu Penelitian mengevaluasi intervensi terapi pada kelompok
perempuan nulipara beresiko tinggi yang menjalani seksio sesarea akibat
disproporsi sefalopelvik. Karenafrekuensi infeksi panggul adalah 85%,
menganggap bahwa pemberian antimikroba adalah pengobatan dan bukan
profilaksis. Mereka mengamati bahwa pemberian penisil ditambah
gentamisin atau sefamandol saja segera setelah tali pusat dijepit dan diikuti
dua pemebrian dosis dan obat yang sama dengan interval 6 jam menyebabkan
penurunan drastis morbiditas akibat infeksi.

2.3. Nifas11
2.3.1 Definisi 
Nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil). Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.  

11
2.3.2 Nifas pada Pasien SC
Perubahan yang terjadi pada masa nifasa adalah
1) Perubahan fisiologis
pada tanda-tanda vital adalah :
a) Suhu badan
Suhu rektal pada suhu 24 jam pertama setelah melahirkan 37,5- 38 ºC,
pada hari kedua atau ketiga dapat terjadi kenaikan suhu, namun tidak lebih
dari 24 jam. Pemeriksaan suhu badan post SC dilakukan tiap 15 menit  pada
jam pertama dan 30 menit sekali pada jam selanjutnya.
b) Denyut nadi  
Nadi berkisar antara 60-80 kali permenit. Pada masa nifas umumnya
denyut nadi lebih labil dibandingkan dengan suhu badan. Frekuensi denyut
nadi pada pasien post SC dicatat setiap setegah jam untuk 2 jam pertama, lalu
setiap jam untuk 2 jam berikutnya dan kemudian setiap 4  jam. Denyut nadi
yang cepat dapat disebabkan oleh infeksi.
c) Tekanan darah

Tekanan darah pada post SC harus diperhatikan, tekanan darah normal antara 110-
120 mmHg. Pemeriksaan tekanan darah post SC pada pasien post SC dicatat setiap
setegah jam untuk 2 jam pertama, lalu setiap jam untuk 2  jam berikutnya dan
kemudian setiap 4 jam.

d) Respirasi

Pemeriksaan respirasi yang pertama adalah pastikan  jalan nafas bersih dan
cukup ventilasi. Respirasi pada wanita post SC, selam tidak memiliki penyakit
pernafasan akan kembali normal dengan cepat berkisar 18-20x//menit
(Mochtar,2012). Observasi setiap setegah am pada dua jam  pertama. Bila tanda vital
stabil observasi dilanjutkan stiap satu jam (Rasjidi, 2009).  b.

2) Alat reproduksi

Perubahan-perubahan fisiologis pada alat-alat reproduksi yaitu :

a) Uterus

12
Selama 12 jam pertama paska partum, kontraksi uterus kuat dan teratur, ini
berlanjut 2- 3 hari berikutnya, meskipn frekuensinya dan intensitasnya diurangi fator-
faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipa,overdstersi uterus.

b) Pengeluaran lokea antara lain

=> Lochea rubra (cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
decidua, vernik caseosa, dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan.

=> Lochea sanguelenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7
pasca persalinan.

=> Lochea serosa : berwaran kuning, cairan tidak berdarah lagi  pada hari ke 7-14
pasca persalinan.

=> Loche alba : cairan putih, setelah 2 minggu.

=>Lochea purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah barbau busuk. f)

 =>Locheostasis : lochea tidak keluar lancar.

c. Ligamen-ligamen

Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu  persalinan,
setelah bayi lahir, setelah berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga
tidak jarang uterus jatuh kebelalang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum
rotundum menjadi kendor. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-
latihan (mobilisasi) post SC.

3) Perubahan psikologi

mengungkapkan bahwa perubahan-perubahan psikologi pada ibu mas nifas :


Perubahan yang mendadak dan dramatis pada status hormonal menyebabkan ibu
berada dalam masa nifas menjadi lebih sensitif

13
BAB III

LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS

Identitas Pasien

Nama : Ny. YE

No. MR : 00.45.55.50

Umur : 36 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : IRT

14
Alamat : Kuranji

Agama : Islam

Tanggal Masuk RS :28 Februari 2020

Anamnesis

Seorang pasien wanita umur 36 tahun kiriman dari RSU BKM Painan datang ke IGD
RSUP Dr M Djamil Padang pada tanggal 29 Februari 2020 dengan G2P1A0H0
gravid preterm 29-30 minggu + bekas sc 1x + KPD + letak sungsang

Keluhan Utama

Keluar air-air dari kemaluan sejak lebih kurang 36 jam sebelum masuk RS

Riwayat Penyakit Sekarang

 Pasien datang dengan keluhan keluar air-air dari kemaluan sejak lebih kurang
36 jam sebelum masuk rumah sakit, membasahi 1 helai celana dalam, warna
jernih, berbau amis. Pasien merupakan rujuakan dari RS BKM Painan dan
telah dirawat 1 hari di RS tersebut dan telah diberikan antibiotik dan telah
dilakukan pematangan paru, karena keterbatasan fasilitas maka pasien dirujuk
ke RSUP Dr. M. Djamil Padang
 Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tidak ada
 Keluar lendir campur darah dari kemaluan tidak ada
 Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada
 Buang air kecil tidak ada keluhan
 Buang air besar tidak ada keluhan
 Keputihan tidak ada
 Demam tidak ada
 HPHT pasien lupa , Taksiran persalinan sulit dinilai
 Gerak janin dapat dirasakan oleh pasien sejak usia kehamilan 4 bulan
 Riwayat ANC kontrol ke bidan rutin setiap bulan
 Lemah dan letih sejak 1 minggu yang lalu
 Riwayat hamil muda : mual tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan tidak

15
ada, keputihan tidak ada
 Riwayat hamil tua : mual ada, muntah tidak ada, perdarahan tidak ada,
keputihan tidak ada
 Riwayat Haid : menarche usia 13 tahun, siklus haid teratur 1x 28 hari,
lamanya 5-8 hari, pasien mengganti pembalut sebanyak 3x sehari
 Nyeri sewaktu haid tidak ada

Riwayat Kehamilan/Persalinan/Abortus :

Pasien riwayat kehamilan 2x, persalinan 1x, abortus 0x

Kehamilan 1= tahun 2015/pretem/ sc ai KPD/ dokter/ meninggal

Kehamilan 2= sekarang

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak menderita hipertensi, diabetes mellitus,penyakit asma,jantung, hati,


paru, ginjal, dan alergi

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat keluarga yang menderita penyakit keturunan, penyakit asma,
penyakit jantung, paru, ginjal, ataupun penyakit menular lainnya

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan & Kebiasaan

Riwayat Perkawinan : 1x tahun 2013

Riwayat Kontrasepsi : tidak ada

Riwayat Pekerjaan : IRT

Riwayat Kebiasaan :Tidak pernah mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba.

B. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Sakit sedang Kesadaran : CM

16
Tinggi Badan : 160 cm

Berat Badan : 58 kg

BMI : 22,6 kg/m2


(normalweight)

Tekanan Darah :118/67 mmHg

SpO2 : 97%

Nadi : 84 x/menit

Nafas : 20 x/menit

Suhu : 36,7 ºC

Sianosis : tidak ada

Edema : (-/-)

Anemis : (-/-)

Ikterik : (-/-)

17
STATUS GENERALISATA

Kulit : tidak ada kelainan

Kgb : tidak teraba pembesaran KGB

Kepala : normochepal

Rambut : hitam, tidak mudah rontok

Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik

Telinga : tidak ada kelainan

Hidung : tidak ada kelainan

Tenggorokan : tidak ada kelainan

Gigi dan Mulut : tidak ada caries dentis dan tidak ada periodontitis

Leher : pembesaran kelenjar tiroid dan KGB tidak ada, JVP 5-2 cmH2O

Dada

Paru :

Inspeksi : simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis

Palpasi : fremitus kiri = kanan

Perkusi : sonor kanan dan kiri

Auskultasi : vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung:

Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : iktus kordis teraba 2 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : S1-S2 reguler, bising tidak ada, gallop tidak ada

Abdomen : status obstetri

18
Punggung : tidak tampak kelainan

Genitalia : status obstetri

Anus : RT tidak dilakukan

Ekstremitas : refill kapiler < 2s, udem (-/-).

STATUS OBSTETRI

Abdomen

Inspeksi : perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan

Linea mediana hiperpigmentasi, Striae (-), Sikatrik (-)

Palpasi : His (-)

Leopold 1 = FUT teraba 3 jari dibawah prosesus xipoideus teraba massa


bulat, besar, dan noduler

Leopold II = teraba tahanan terbesar janin di kanan dan bagian terkecil


janin di kiri

Leopold III = teraba massa bulat, keras, dan melenting

Leopold IV = belum masuk PAP (divergen)

Auskultasi : DJJ = 145-156 x/menit

Genitalia : VT = Pembukaan 1-2 cm

PPV (-), V/U tenang

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium 30/02/2020

Hb : 8,3 gr/dl
Leukosit : 21.300/mm3
Trombosit : 348.000 /mm3
Ht : 28%
SGOT / SGPT : 8 / 6 u/l

19
Ur / Cr : 11 / 0,9 mg/dl
GDS : 135 mg/dl
Total protein/albumin/globulin : 5,5/3,1/2,4 g/dl
PT/APTT : 10/28,2 detik
Bilirubin total : 0,3 mg/dl
Bil direct/ indirect : 0,2/ 0,1 mg/dl
Na/K/Cl : 138/3,2/111

D. DIAGNOSIS

G2P1A0H0 gravid preterm 28-29 minggu + oligohiramnion ec PPROM > 24 jam +


bekas SC+ anemia sedang + letak sungsang

E. DIAGNOSIS BANDING

F. TATALAKSANA

Kontrol KU, VS, His, DJJ


IVFD RL dengan MgSO4 40% 1gr/jam
Injeksi dexametason 2x6 mg IM
Inj ceftriaxon 2x1 gr IM
Rencana sc 3/3/2020

Follow Up

03 Maret 2020, 17.30


S / Gerak anak (+)
Tanda-tanda inpartu (-)
O/
KU Kes TD ND NF T SpO2
Sedang CM 110/70 88 20 36,5 97
Abdomen : His (-)
DJJ 137 – 142x
Genitalia : V/U tenang, PPV (-)

20
A /G2P1A0H0 gravid preterm 28-29 minggu + oligohidramnion ec PPROM > 24 jam
+bekas SC+ anemia sedang+ letsu

P / Observasi KU,VS, DJJ


IUFD RL + MgSO4 dosis maintenance
Inj. Ceftriaxon 2x1
Nifedipin 30x1
Rencana SC 3/3/2020

04 Maret 2020, 17.30


S / Nyeri luka op (+)
O/
KU Kes TD ND NF T SpO2
Sedang CM 120/80 80 20 36,5 97
Abdomen : Kontraksi uterus baik
FUT teraba 3 jari dibawah pusat
Genitalia : V/U tenang, PPV (-)
A /P2A0H1 post SCTPP ai oligohidramnion ec PPROM > 24 jam +bekas SC+ anemia
sedang

P / Perawatan post op

05 Maret 2020, 17.30


S / Nyeri luka op (+)
O/
KU Kes TD ND NF T SpO2
Sedang CM 118/70 84 22 36,5 97
Abdomen : Kontraksi uterus baik
FUT teraba 3 jari dibawah pusat
Genitalia : V/U tenang, PPV (-)
A /P2A0H1 post SCTPP ai oligohidramnion ec PPROM > 24 jam +bekas SC+ anemia
sedang

P / Perawatan post op
06 Maret 2020, 17.30
S / Nyeri luka op (+)

21
O/
KU Kes TD ND NF T SpO2
Sedang CM 124/82 80 18 36,5 97
Abdomen : Kontraksi uterus baik
FUT teraba 3 jari dibawah pusat
Genitalia : V/U tenang, PPV (-)
A /P2A0H1 post SCTPP ai oligohidramnion ec PPROM > 24 jam +bekas SC+ anemia
sedang

P / Perawatan post op

22
23
BAB IV

DISKUSI

Seorang pasien wanita umur 36 tahun kiriman RSU BKM Painan datang ke IGD
RSUP Dr M Djamil Padang pada tanggal 29 Februari 2020 dengan G2P1A0H0 gravid
preterm 28-29 minggu + oligohiramnion ec PPROM > 24 jam + bekas SC+ anemia
sedang + letak sungsang

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien memiliki keluhan
utama keluar air-air dari kemaluan sejak 36 jam yang lalu, hal ini menandakan bahwa
telah terjadi ketuban pecah dini dan dikategorikan dalam PPROM (Preterm Premature
Rupture of Membran) karena ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Sedangkan keluhan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari ataupun keluar lendir
bercampur darah pada pasien ini belum ada. Pasien juga didiagnosis oligohidramnion.
Oligohidramnion adalah suatu keadaan diamana air ketuban kurang dari normal, hal
ini bisa disebabkan karena ketuban yang pecah. Pada pasien ini telah tejadi pecah
ketuban yang terjadi lebih dari 24 jam. Pasien sudah mengalami SC sebelumnya pada
anak pertama atas indikasi ketuban pecah dini dengan kehamilan preterm. Pasien juga
mengeluh letih dan lesu, saat dilakukan pemeriksaan fisik juga didapat konjungtiva
anemis dan saat diperiksa labor ternyata Hb pasien 8,3 gr/dl, hal ini menandakan
bahwa pasien mengalami anemia sedang.

Pada pasien selalu monitoring keadaan umum, vital sign, his, dan denyut jantung
janin dan diberikan terapi, yaitu IVFD RL dengan MgSO4 40% 1gr/jam, injeksi
dexametason 2x6 mg IM, injeksi ceftriaxon 2x1 gr IM. Injeksi dexametason adalah
kortikosteroid yang berguna untuk proses pematangan paru. Pasien juga direncanakan
SC tanggal 3/3/2020 karena pada pasien ini terdapat indikasi untuk dilakukan SC,
yaitu berupa kelainan letak janin yaitu letak sungsang. Setelah dilakukan SC pasien
harus dilakukan perawatan pasca operasi, diantarnya yang perlu diperhatikan adalah
pemberian cairan intravena. terdiri dari larutan Ringer Laktat atau larutan sejenis dan
Dekstrosa 5% dalam air. Biasanya diberikan dalam 1-2 liter cairan yang mengandung
elektrolit seimbang selama dan segera setelah operasi. Lalu di ruang pemulihan.
jumlah perdarahan dari vagina harus dipantau dengan ketat, dan fundus harus sering
diperiksa dengan palpasi, dengan palpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap

24
berkontraksi kuat. Balutan tebal dengan banyak plester dapat mengganggu palpasi dan
pemijatan fundus serta menimbulkan rasa tidak nyaman kemudiaan saat plester, dan
mungkin kulit diangkat. Ibu didorong untuk bernapas dalam dan batuk.Setelah ibu
sadar penuh, perdarahan minimal, tekanan darah memuaskan, dan aliran urine paling
tidak 30 ml per jam, pasien dapat dipulangkan ke kamarnya.

Pemberian analgesik (Anti nyeri) untuk ibu dengan ukuran tubuh rata-
rata, diberikan meperidin 75 mg, atau morfin 10 mg secara intramuskulus
sampai sesering tiap 3 jam untuk menghilangkan rasa nyaman. Jika bertubuh
kecil, mungkin diperlukan meperidin 50 mg atau jika besar, 100 mg. Dipantau
Tekanan darah,nadi, jumlah urin, dan fundus uteri diperiksa paling tidak setiap
jam selama 4 jam. Setiap kelainan dilaporkan. Setelah itu, selama 24 jam
pertama, hal-hal diatas bersamaan dengan suhu, diperiksa setiap 4 jam.Untuk
terapi Cairan Dan Makanan, secara umum, 3 liter cairan, termasuk Ringer
Laktat seyogianya adekuat untuk pembedahan dan 24 jam pertama
sesudahnya. Namun, jika pengeluarna urine kurang dari 30 ml per jam, pasien
harus segera dievaluasi kembali
Kateter umunya dapat dilepas dari kandung kemih 12 jam setelah operasi
atau, yang lebih menyenangkan, pagi hari setelah operasi. Kemampuan ibu
mengosongkan kandung kemihnya sebelum terjadi peregangan yang
berlebihan harus dipantau seperti pada persalinan pervaginam. Bising usus
biasanya tidak terdengar pada hari pertama pembedahan, samar-samar pada
hari kedua, dan aktif pada hari ketiga. Pada hari kedua dan ketiga pasca
operasi, dapat timbul nyeri gas akibat gerakan usus yang tidak terkoordinasi.
Supositoria rektum biasanya dapat memicu defekasi, jika tidak ibu harus
diberi anema.
Umumnya, sehari setelah pembedahan, pasien harus turun sebentar dari
tempat tidur dengan bantuan paling tidak dua kali. Lama waktu ambulasi Post
Seksio Sesarea (SC) dengan general anastesi dan regional anastesi cenderung
sama. Selisih rata-rata lama waktu ambulasi dini hanya 2jam 40 menit.

Pemeriksaan laboratorium yairu hematokrit secara rutin diukur pada pagi hari
setelah pembedahan. Hemotokrit diperiksa lebih dini jika terjadi pengeluaran darah
berlebihan atau terjadi oliguria atau tanda-tanda yang lain yang mengisyaratkan

25
hipovolemia

DAFTAR PUSTAKA

1. Veibymiatado,2014
.http//ejournal.unsrat.ac.id/indeks.php/jkp/article/viewFile/4052/356, Faktor-faktor
yang berperan meningkatnya angka kejadian SectioCaesarea.volume2.No.1.Manado.
Diakses 16 Maret 2020.

2. .Purwoastuti, Endang, dkk. Asuhan Kebidanan Masa Nifas & Menyusui.


Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2015.

3. WHO. 2011. Angka Persalinan Sectio Caesarea. Diakses tanggal 16 Maret 2020.

4. Data SDKI 2012. Angka kematian ibu melonjak.nasional.sindownes.com. Diakses


tanggal 16 Maret 2020.

5. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka.

6. Winkjosastro H.2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo.

7. Mochtar R. 2012. Pendidikan Kebidanan Edisi 5.Yogyakarta : Pustaka Pelajar

8. Sjamsuhidajat, R & Wim, de Jong (ed). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

9. Guo S., Dipietro L. A. 2010. Factors Affecting Wound Healing.


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2903966/. Maret 2010.

10. Cunningham F.G., 2012. Obstetri Williams. Cetakan 23, EGC, Jakarta. pp.584-
587.

11. Medforth,Jannet,dkk , 2012 , Kebidanan Oxford : EGC , Jakarta.

26