Anda di halaman 1dari 19

RANCANGAN PENGEMBANGAN PROGRAM SDG’S TARGET 4

“Psikoedukasi Peran Orang Tua dalam Mencapai Tugas Perkembangan Anak


diusia 3 Tahun Pertama sebagai Upaya untuk Mempersiapkan
Anak Memasuki PAUD”

TUGAS KELOMPOK
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Perkembangan Anak dan Remaja di Abad 21

Disusun oleh :

Fitriani Dzulfadhilah 190420150027

Evantrida Mailyza Musly 190420150034

Ayu Dewanti Putri 190420150052

MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016
I. LATAR BELAKANG

Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu tujuan yang akan dicapai dalam
SDG’s, dimana pendidikan kualitas yang dimaksud yaitu menjamin pendidikan inklusif dan
berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang. Dalam rangka
mencapai pendidikan yang berkualitas tersebut telah ditetapkan beberapa target yang harus
dipenuhi salah satunya yaitu target 4.2 yang dituliskan oleh United Nation di wesbsite resmi
SDG’s yaitu pada tahun 2030, memastikan seluruh anak perempuan dan laki-laki mendapatkan
akses untuk kualitas perkembangan, perawatan anak dan pendidikan pra sekolah sehingga
mereka siap untuk menempuh pendidikan dasar. Dalam upaya untuk mewujudkan program
tersebut Indonesiapun sudah berbenah diri untuk bisa mempersiapkan Pendidikan Anak Usia dini
sebagai salah satu wadah yang akan memfasilitasi anak untuk mendapatkan pendidikan yang
berkualitas.

Berdasarkan data dari Dapodik PAUD 2016 menyatakan bahwa jumlah PAUD di seluruh
Indonesia mencapai 190.225 lembaga. Hal ini justru menjadi suatu informasi yang
menggembirakan, akan tetapi dengan semakin banyaknya PAUD maka akan banyak pula
kendala yang muncul. Di kutip dari beritasatu.com menyatakan bahwa setidaknya ada beberapa
masalah PAUD di Indonesia saat ini yaitu (1) pendidikan guru yang berstrata s1 dibawah target
yang ditetapkan (2) kurangnya kualitas program yang ada di PAUD (3) masih banyaknya anak
usia 3- 6 tahun yang belum mendapatkan layanan PAUD (4) kurangnya keterlibatan keluarga
untuk bisa membantu sejalan dengan program yang dialaksanakan PAUD (5) sekitar 80%
kurikulum PAUD seharusnya digunakan untuk membangun sikap akan tetapi programnya saat
ini lebih banyak pada pembelajaran Ca-Lis-Tung yang bernuanasa akademik.

Bergerak dari permasalahan diatas, dan hasil penelaahan kasus di RSHS ditemukan
permasalahan terkait dengan poin 3-4 yaitu banyaknya muncul permasalahan anak di SD karena
diperparah oleh sikap orang tua yang menganggap PAUD tidak begitu penting sehingga banyak
banyak orang tua yang tidak memasukan anaknya ke PAUD namun langsung ke TK/ Sekolah
Dasar dengan alasan anaknya sudah cukup umur untuk siap menerima pendidikan, sehingga saat
di SD anak menemui kendala dan tidak mendapatkan pendidikan yang optimal. Jikapun ada
orang tua yang memasukan anaknya ke PAUD namun orang tua tidak secara aktif terlibat dalam
membantu stimulasi anak untuk keberhasilan pembelajaran di PAUD tersebut, orang tua justru
menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya ke PAUD. Terutama hal ini terjadi pada orang tua
dengan status ekonomi yang rendah, dimana mereka berpendapat bahwa lembaga PAUD yang
sudah ada tersebut dituntut untuk bisa membuat anak mereka “menjadi pintar” tanpa adanya
kesadaran dari peran orang tua sendiri untuk juga mempersiapkan anaknya sebelum masuk ke
PAUD. Hal ini belum diperparah dengan kondisi PAUD di Indonesia saat ini yang menunjukan
system pembelajaran seperti pembelajaran di SD, padahal berdasarkan hasil konsersium
sertifikasi guru untuk Modul PLPG (2013) menyatakan bahwa pembelajaran di PAUD itu
terkait dengan metode pembelajaran aktif, dan belajar melalu lingkungan serta melalui metode
bermai. Selain itu juga didukung oleh data dari Kemendik (2015) menyatakan bahwa kurikulum
PAUD sudah diperbarui dan ditetapkan dimana salah satu isi dari kurikulum itu yaitu dengan
melibatkan orang tua dalam memberdayakan proses pembelajaran di PAUD. Namun jika
ditelusuri ke belakang maka peranan orang tua itu tidak hanya di proses pembelajaran selama di
PAUD itu tetapi juga sebelumnya yaitu saat ditahun awal perkembangan anak sehingga ia siap
untuk dapat masuk ke lingkungan baru dan menerima pembelajaran di PAUD.

Salah satu bentuk pentingnya keterlibatan orang tua dalam mensukseskan program di
PAUD yaitu melalui keterlibatan orang tua dalam menstimulasi anak sesuai dengan tahapan
perkembangannya. Misalnya saja saja salah satu program yang akan dilakukan di PAUD yaitu
pembentukan sikap dan kemampuan melalui kebiasaan (Kemendik, 2015). Program ini tidak
akan terlaksana dengan baik jika orang tua tidak mencoba untuk menumbuhkan kebiasaan-
kebiasaan ini sebagi salah satu cara yang juga bia digunakan untuk meningkatkan
perkembangan anak. Salah satunya yaitu kebiasanya mencuci tangan sebelum makan dan
menggunakan tangan kanan untuk memakan. Kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan yang
akan dipelajari dan diulangi lagi di PAUD, dimana orang tualah yang juga akan berperan dalam
mengenalkan kegiatan ini pertama kali sehingga menjadi kebiasaan.

Pengembangan kemampuan sehari-hari ini juga sebagai salah satu bentuk tugas
perkembangan yang harus di jalani anak diusia 1-3 tahun. Menurut Erik Erikson (Santrock,
2007) pada usia 1-3 tahun anak mulai menyadari bahwa perilaku mereka milik mereka sendiri
dan mereka mulai menyatakan kemandirian. Mereka menyadari keinginan mereka dan ingin
melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orang tua. Pada tahap inilah orang tua juga mulai
mengontrol situasi saat ia harus mengatakan “tidak” dan tidak mematahkan upaya anak sehingga
ia merasa malu (Fleemin, 2004). Sikap orang tua yang seperti ini akan mempengaruhi tahapan
perkembangan anak diusia berikutnya, yaitu terkait inisiatif anak untuk dapat bergerak
menemukan hal baru dan mengekplor lingkungan, terutama jika anak tidak memiliki pola
kelekatan dengan anak sehingga akan membuat ia menjadi ragu untuk bisa mengeksplor
lingkungannya yang akan berguna untuk perkembangan anak. Pentingnya anak untuk mencapai
tugas perkembangan di usia tiga tahun pertama sebagai persiapan untuk masuk PAUD ini
dikarenakan tuntutan pembelajaran PAUD yang system pembelajarannya sudah seperti di SD
ataupun dalam kondisi yang ideal, metode pembelajaran di PAUD tersebut menuntut anak untuk
bisa mengikuti kegiatan secara mandiri dan mampu bergerak sesuai dengan keinginannya untuk
bisa mengekplorasi hal-hal baru dan pembelajaran baru selama di PAUD tersebut dalam kegiatan
interaksi katif bersama guru dan bermain (Modul PLPG, 2013). Oleh karena itulah untuk bisa
mengembangkan inisiatif untuk bisa mengekplor lingkungannya sehingga menstimulasi setiap
aspek perkembangan, kemampuan anak untuk percaya pada lingkungan luar dan kemampuan
mandiri anak untuk bebas bergerak sesuai dengan kehendaknya tanpa bantuan orang dewasa ini
harus dilatih dan dicapai di rumah dengan bantuan keterlibatan orang tua yang secara intens di
tahun awal perkembangan anak tersebut. Penjelasan ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh
Sheridan (2010) menjelaskan bahwa keterlibatan orangtua dalam membangun kompetensi sosial
emotional dimasa tahun pertama akan berpengruh pada sejumlah karakteristik adaptive di
sekolah dan berkaitan dengan kesipan sekolah. Oleh karena itulah keterlibatan orang tua dalam
memenuhi tugas perkembangan anak dari bayi hingga sebelum masuk ke PAUD akan
mempengruhi kelancaran proses pembelajaran di PAUD.

Berdasarkan gambaran fenomena tersebutlah kami berupaya untuk mengembangkan


suatu program pereventif bagi orang tua sebagi salah satu upaya untuk mensukseska salah satu
target SDG’s. Program yang akan dilakukan yaitu terkait dengan psikoedukasi orangtua tentang
pentingnya keterlibatan orang tua dalam membantu anak mencapai tugas perkembangan anak
ditiga tahun pertama yang akan berguna sebagai dasar untuk mempersiapkan anak masuk ke
PAUD. Selain itu dengan program tersebut juga akan membantu kelancaran pembelajaran-
pembelajaran yang akan dilakukan di PAUD sehingga antara orang tua dan PAUD dapat saling
bekerjasama dalam rangka memaksimalkan perkembangan anak dan mempersiapkan anak untuk
memperoleh pendidikan dasar awal nantinya.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Masa kanak-kanak awal (early childhood)
Masa kanak-kanak awal merupakan periode perkembangan yang terjadi mulai akhir masa
bayi hingga sekitar usia 5 atau 6 tahun (Santrock, 2002). Awal masa kanak merupakan masa
yang ideal untuk mempelajari keterampilan tertentu. Ada tiga alasan yang menjadi dasar bahawa
usia ini ideal untuk mempelajari sesuatu yaitu pertama, anak suka mengulang-ulang dan
karenanya ia dengan senang hati mau mengulang sesuatu aktivitas ampai mereka terampil
melakukannya. Kedua, anak bersifat pemberani sehingga tidak terhambat oleh rasa takut kalau
dirinya mengalami sakit atau diejek temannya sebagaimana ditakuti anak yang lebih besar.
Ketiga, anak yang belia mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka masih lentur dan
keterampilan yang dimiliki baru sedikit sehingga keterampilan yang baru dikuasai tidak
mengganggu keterampilan yang sudah ada (dalam Hurlock, 1980).
A.1 Perkembangan fisik dan motorik
Bentuk tubuh anak laki-laki dan perempuan mengecil saat batang tubuh mereka
memanjang. Lemak tubuh berkurang secara perlahan. Hereditas dan lingkungan mempengaruhi
pertumbuhan anak prasekolah. Pada usia 3 tahun anak menikmati gerakan sederhana seperti
melompat dan lari hanya demi kesenagan. Pada usia 4 tahun melakukan aktivitas yang sama
tetapi lebih suka berpetualang sepeti memanjat, menaiki dan menuruni anak tangga dengan satu
kaki di setiap anak tanggamenunjukkan kemampuan atletis.
A.2 Perkembangan Kognisi
Menurut Piaget usia 2-7 tahun berada pada tahap praoperasional. Anak mulai
menjelaskan dunia dengan kata-kata dan gambar. Hal ini mencerminkan meningkatnya
pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik. Ada
egosentrime (suautu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seorang dengan
perspektif orang lain) dan animisme (keyakinan bahwa objek yang tidak bergerak memiliki
kualitas “semacam kehidupan” dan dapat bertindak. Anak mampu mengingat banyak informasi
asalkan mendapat isyarat dan bukti yang tepat. Perkembangan bahasa menuju kombinasi tiga-
empat-lima kata. Peralihan dari kata sederhana menjadi kalimat kompleks diawali antara 2
hingga 3 tahun dan berlanjut hingga sekolah dasar (Bloom, 1998 dalam Santrock, 2007).
A.3 Perkembangan sosioemosional
Mengenai ekspresi emosi anak usia 2-4 tahun sudah mengalami peningkatan pesat
mengenai kosa kata emosi. Tepat dalam penamaan emosi yang dialami sendiri dan orang lain
dan juga membicarakan emosi yang dialami pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.
Dapat membicarakan penyebab, konsekuensi, dan mengidentifikasi hubungan emosi dengan
situasi tertentu.
A.4 Tugas perkembangan masa kanak-kanak awal (early childhood/ tahun prasekolah)
 Belajar menjadi mandiri dan merawat diri sendiri (Santrock, 2002).
 Keterampilan dalam makan dan berpakaian disempurnakan dalam awal masa kanak-
kanak.
 Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain dan mengerti dengan apa
yang dikatakan orang lain (Hurlock,1980).
 Anak laki-laki mempelajari keterampilan bermain sesuai dengan kelompok anak laki-laki
seperti main bola, sedangkan anak perempuan mempelajari keterampilan yang
berhubungan dengan perawatan rumah tangga.
 Mengembangkan keterampilan kesiapan sekolah (mengikuti perintah, mengenali huruf)
(Santrock,2002).
 Mempersiapkan diri untuk membaca (Hurlock, 1980).
 Belajar membedakan benar dan salah dan mulai mengembangkan hati nurani (Hurlock,
1980).
 Menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain dengan teman sebaya (Santrock,2002).
Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan
(dalam Hurlock, 1980):
Faktor yang menghalangi:
1. Tingkat perkembangan yang mundur.
2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada
bimbingan untuk dapat menguasainya.
3. Tidak ada motivasi.
4. Kesehatan yang buruk.
5. Cacat tubuh.
6. Tingkat kecerdasan yang rendah.
Faktor yang membantu:
1. Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
2. Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan
bimbingan untuk menguasainya.
3. Motivasi.
4. Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh.
5. Tingkat kecerdasan yang tinggi.
6. Kreativitas.

B. Perkembangan psikososial Erikson


Erikson mengembangkan delapan tahap perkembangan yang masing-masing tugas
perkembangan menghadapkan individu pada suatu krisis yang harus dihadapi. Bagi erikson krisis
ini bukan menjadi suatu bencana tetapi titik balik peningkatan potensi. Semakin berhasil individu
mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka.
Berikut ini adalah tahap perkembangan yang perlu dimiliki kanak-kanak awal adalah:
1. Kepercayaan dan ketidakpercayaan (trust versus mistrust)
Tahap ini merupakan tahap psikososial pertama yang dialami pada tahun awal
kehidupan. Suatau rasa percaya yang menuntut perasaan nyaman secara fisik.
Perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan kualitas pengasuhan
pada anak. Kepercayaan pada masa bayi menentukan tahap bagi harapan seumur hidup
bahwa akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan (Santrock, 2002). Jika
anak berhasil membangun kepercayaan anak akan merasa selamat dan aman dalam dunia.
Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersdia secara emosional, atau menolak, dapat
mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan atau kepercayaan bahwa
dunia tidak konsisten dan tidak dapat ditebak.
2. Otonomi dengan rasa malu dan keragu-raguan (autonomy versus shame and doubt)
Tahap kedua menurut Erikson yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa
baru mulai berjalan (usia 2-3 tahun). Setelah anak memperoleh kepercayaan dari
pengasuh pada tahap awal maka mereka mulai menyatakan menyatakan rasa mandiri atau
otonomi mereka (dalam Santrock, 2002). Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan
menggunakan toilet adalah bagian yang penting. Namun alasan Erikson berbeda dengan
Freud. Erikson percaya bahawa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh akan membawa
pada perasaan mengendalikan dan kemandirian. Kejadian- kejadian penting meliputi
pemerolehan pengendalian lebih atas pemilihan makanan, mainan yang disukai dan juga
pemilihan pakaian.
Pada masa ini mulai muncul berbagai kemauan anak. Mereka mulai memiliki
kemauan yang berasal dari diri mereka sendiri. Mereka menegaskan otonomi atau
kemandirian mereka. Bila terlalu banyak dibatasi atau dihukum terlalu keras mereka
cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
3. Prakarsa dan rasa bersalah (initiative versus guilt)
Merupakan tahap psikososial yang berlangusng pada masa prasekolah. Ketika
anak prasekolah menghadapi sesuatu dunia sosial yang lebih luas, mereka menunjukkan
perilaku aktif. Anak-anak diharapkan menerima tanggung jawab atas tubuh mereka,
perilaku mereka, mainan mereka, dan hewan peliharaan mereka. Perkembangan tanggung
jawab merupakan tujuan tahapan ini. Perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat
mucul jika tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa cemas.

III. RANCANGAN PROGRAM


A. Target
Target atau sasaran dari program adalah ingin meningkatkan kesiapan anak dalam
memasuki lingkungan PAUD dengan melibatka orangtua dalam mencapai tugas
perkembangan anak.
B. Metode
Program diberikan dengan metode psikoedukasi melalui seminar kepada orangtua yang
disusun berdasarkan teori perkembangan dari Erikson.
C. Program
Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas bahwa salah satu kendala dalam
mewujudkan PAUD yang berkualitas bagi anak adalah kurangnya keterlibatan keluarga
untuk bisa membantu sejalan dengan program yang dilaksanakan oleh PAUD. Rancangan
Program akan dipaparkan di bawah :
RANCANGAN PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN ANAK SEBELUM PAUD
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
Sosial- Pengetahuan 0-1 Sering mengajak anak berbicara dengan menatap Membangun trust pada anak agar ia
emosi orangtua akan tahun matanya sambil melakukan sentuhan ringan. Bisa bisa percaya bahwa lingkungan
stimulasi yang dilakukan saat-saat: yang ia tinggali aman sehingga
bisa diberikan - Memberikan anak ASI atau MPASI nantinya anak bisa berlatih untuk
pada anak - Saat anak terbangun setelah bangun tidur mandiri tanpa ragu ataupun merasa

- Mengganti celana setelah anak BAK atau BAB malu

- Memakaikan baju kepada anak


Sering tersenyum kepada anak dan membalas seyuman
anak.
Buat suara-suara yang bisa menarik perhatian anak. Lalu
ajak anak bermain seperti permainan ‘cilukba’
Bermain yang melibatkan kontak fisik dengan anak
seperti menaruh anak di atas lutut lalu membuat ia
seakan sikap terbang sambil mengajak anak bernyanyi.
Libatkan anak ketika berkumpul bersama atau ketika
orangtua melakukan kegiatan-kegiatan
- Saat makan bersama libatkan anak dengan duduk
bersama-sama.
- Ketika mengerjakan pekerjaan rumah seperti
Sosial- Pengetahuan 0-1
memasak dan membersihkan sebisa mungkin tetap
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
emosi orangtua akan tahun berinteraksi dengan anak. Dapat dilakukan dengan
stimulasi yang memposisikan anak pada tempat yang terlihat
bisa diberikan sehingga anak bisa mengamati kegiatan yang
pada anak dilakukan oleh orangtua. Sebisa mungkin jalin
interaksi melalui kontak mata atau mengajak anak
berbicara dengan mengeluarkan suara-suara yang
menarik perhatian
Melatih anak untuk merekognisi dirinya dan orang lain
(anggota keluarga) menggunakan cermin. Katakan
kepada anak lihat di cermin itu siapa?.
Menunjukkan kasih sayang dengan kontak fisik seperti
membelai, memeluk, dan mencium anak. Merespon
ketika anak menunjukkan afeksi pada orang tua
Sosial- Pengetahuan 1-2  Mengundang anak lain yang berusia sebaya dengan Membangun trust pada anak agar ia
emosi orangtua akan tahun anak. Mengajak anak dan temannya bermain dengan bisa percaya bahwa lingkungan
stimulasi yang mainan seperti mainan mobil-mobilan atau boneka- yang ia tinggali aman sehingga
bisa diberikan boneka. Setelah anak dan temannya aktif bermain, nantinya anak bisa berlatih untuk
pada anak maka orangtua perlahan-lahan meninggalkan mereka mandiri tanpa ragu ataupun merasa
dan tetap mengawasi dari jauh tanpa terlihat oleh anak. malu
 Mengajak anak bermain bersama dengan teman-teman
yang berusia sebaya dengannya. Misalnya bermain
melempar tangkap bola. Ajarkan anak agar bisa
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
bermain bergantian dengan temannya. Setelah itu,
berikan pujian kepada anak lalu mengatakan alangkah
senangnya jika bermain bersama.
 Bermain petak umpet untuk mengajarkan kepada anak
bahwa ketika orangtua hilang dari pandangan mereka,
mereka tidak menghilang selamanya dan akan kembali
lagi.
 Menyediakan lingkungan bermain yang aman dan
nyaman agar anak bisa melakukan eksplorasi terhadap
lingkungan
 Bermain dengan 2 atau 3 anak yang berusia sebaya
dengannya. Bisa dengan permainan kelompok
sederhana seperti bermain kereta api sambil bernyanyi.
 Mengajak agar anak bisa berbagi dengan orang lain.
Bisa dilakukan dengan mengatakan kepada anak beri
kue ke pada temanmu maka kamu akan diberikan dua
kue yang sama
Sosial- Pengetahuan 2-3  Mengajarkan anak untuk mengucapkan tolong dan Melatih kemandirian anak agar bisa
emosi orangtua akan tahun terima kasih. Bisa dilakukan ketika meminta anak bertindak secara mandiri yang
stimulasi yang melakukan perintah sederhana serti tolong tutup nantinya memudahkan anak dalam
bisa diberikan pintunya. Setelah itu berikan senyuman dan katakana melatih inisiatif.
pada anak terima kasih.
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
 Mengajarkan agar anak bisa bekerjasama dengan
mendengar perintah sederhana dari orangtua.
Penetapan aturan sederhana sudah bisa diajarkan
dengan syarat harus konsisten, misalnya kita makan di
meja makan. Berikan apresisasi berupa pujian atau
sentuhan kasih saying jika anak berhasil melakukan
perintah.
 Mengajak anak melihat gambar bersama lalu
mendorong agar anak bercerita mengenai gambar yang
ia lihat.
 Mengajak anak agar bisa membantu mengerjakan
pekerjaan rumah sederhana seperti membereskan
mainan setelah ia selesai bermain. Berikan ia pujian
jika berhasil melakukannya.
 Melatih anak menggunakan pakaian dengan bermain
Sosial- Pengetahuan 2-3 memakai baju. Pastikan baju yang digunakan cukup
emosi orangtua akan tahun besar sehingga anak bisa mencoba untuk
stimulasi yang menggunakannya dengan mudah.
bisa diberikan  Membuat suatu kondisi di mana anak diminta untuk
pada anak memilih. Misalnya menanyakan kepada anak, hari ini
kamu mau pakai baju yang merah atau yang biru?
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
Sambil menunjukkan baju yang dimaksud.
 Membacakan kepada anak buku cerita yang
mengekspresikan berbagai ekspresi emosi yang
berbeda. Bicarakan mengenai situasi yang membuat
tokoh-tokoh dalam cerita mengekspresikan emosi
tertentu, lalu mintalah pendapat anak tentangnya.
Self Pengetahuan 0-1  Melatih agar anak bisa mengisap dan menelan ASI.  Melatih kematangan organ
Help orangtua akan tahun Stimulasi mengisap dengan memijat bagian pipi saat speech-motor anak yang bisa
stimulasi yang anak mengisap ASI, gunakan gerakan ke depan ke menunjang ketika anak belajar
bisa diberikan belakang menggunakan jari. berbicara.
pada anak  Melatih anak dengan memberikan MPASI. Suap anak  Melatih anak melakukan kegiatan
pastikan anak menelan makanan sebelum merawat diri yang sesuai dengan
menyuapkannya kembali. tahapan perkembangannya.
 Memberikan anak minuman melalui botol dengan
memegang botol. Setelah itu latihlah agar anak bisa
memegang botol sendiri tanpa bantuan.
 Pada akhir usia 1 tahun memberikan anak minuman
melalui gelas yang dipegang oleh orangtua.
 Memberikan anak makanan yang telah dihancurkan
terlebih dahulu, seperti pisang dan kentang. Berikan
pujian ketika anak berhasil mengunyah makanan yang
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
diberikan.
 Melatih anak untuk makan sendiri. Yang dimulai
dengan memberikan anak makanan yang telah
dipotong-potong terlebih dahulu, contohkan kepada
anak lalu mintalah anak melakukannya sendiri. Setelah
anak berhasil menyuapi dirinya menggunakan tangan,
anak bisa dilatih menggunakan sendok.
 Melatih agar anak bisa minum sendiri dari gelas
menggunakan dua tangan.
 Melakukan latihan awal dalam memakai baju pada
anak. Anak bisa diminta mengangkat tang dengan
mengatakan “ayo mana tanganmu” saat hendak
memakaikan baju kepada anak.
Self Pengetahuan 1-2  Melatih anak untuk bisa makan makanan padat seperti Melatih agar anak bisa mandiri
Help orangtua akan tahun nasi menggunakan sendok. Ibu mendampingi anak, dalam melakukan self help sesuai
stimulasi yang ketika ada nasi yang menempel di pipi arahkan agar dengan perkembangan usianya.
bisa diberikan anak mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam
pada anak mulutnya.
 Melatih anak minum dari gelas dengan menggunakan
satu tangan.
 Mulai mengajarkan anak ketermapilan yang
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
dibutuhkan saat mandi. Bisa dilakukan dengan
menunjukkan kepada anak bagaimana megambil dan
menepuk-nepuk air pada mukanya, arahkan tangan
anak jika perlu.
 Mulai melatih anak untuk latihan ‘Potty’. Sediakan
wadah ‘potty’ yang menarik perhatian anak yang
dapat diperuntukkan untuk BAK anak. Ketika hendak
mengganti celana anak, katakan padanya ‘ayo ke
potty’. Pilih dua waktu yang diperkirakan anak akan
BAK berdasarkan rutinitas yang dijalani, setelahnya
ajak anak untuk duduk diatas potty selama 5 menit.
Dampingi anak sambil bercerita saat menunggu anak
BAK. Berikan pujian jika anak berhasil BAK pada
Potty.
 Melatih anak agar membuka kaos kaki sendiri.
Dimulai dari kaos kaki yang berukuran besar agar
anak mudah mencoba ketika memakai kaos kaki.
Setelah berhasil berikan pujian pada anak. Setelahnya
cobakan kaos kaki dengan ukuran yang lebih kecil.
 Melatih anak membuka sepatu. Mulai dari ukuran
sepatu yang lebih besar. Saat anak mencoba membuka
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
sepatunya lalu menyerah dan meminta tolong,
orangtua bertindak seolah tidak bisa membuka dan
meminta anak untuk mencoba. Ucapkan pujian jika
anak berhasil melakukannya,
 Melatih anak untuk membuka celana yang tidak
terkancing. Bisa dilakukan dengan bermain memakai
dan membuka celana. Gunakan ukuran celana yang
lebih besar dari ukuran anak agar memudahkan anak
untuk mencobanya.Tunjukkan kepada anak
bagaiamana cara membuka celana.
 Melatih anak menggunakan gerakan atau kata ketika
ingin ke toilet. Gunakan bahasa yang sama ketika
membawa anak ke toilet, misalnya ‘ayo pipis’. Tidak
menggunakan pampers pada siang hari guna melatih
anak. Berikan pujian jika anak berhasil menggunakan
kata atau gesture ketika hendak ke toilet.
Self Pengetahuan 2-3  Setelah selesai mandi, tunjukkan kepada anak handuk. Melatih agar anak bisa mandiri
Help orangtua akan tahun Arahkan tangan anak untuk mengelap tangan atau dalam melakukan self help sesuai
stimulasi yang wajah sambil memberikan instruksi jika diperlukan. dengan perkembangan usianya.
bisa diberikan  Melatih anak untuk menggunakan garpu pada
pada anak makanan yang mudah ditusuk dengan garpu.
 Melatih agar anak mengetahui objek yang makanan
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
dan yang bukan makanan. Berikan pujian pada anak
pada perilaku anak yang tidak memasukkan mainan
ke mulutnya. Ketika waktu makan, berikan kepada
anak 2 objek, satu yang bisa dimakan dan yang
lainnya tidak bisa di makan. Tanyakan kepada anak
yang mana yang bisa ia makan. Jika anak memilih
makanan, maka berikan pujian. Jika anak memilih
yang bukan makanan, maka jelaskan pada anak alasan
benda tersebut tidak boleh dimakan.
 Melatih anak agar bisa mengeringkan tangan
menggunakan handuk secara mandiri.
 Melatih anak untuk toilet training, mengingatkan
anak untuk pergi ke toilet ketika anak melewatkan
untuk menggunakan toilet pada waktu yang biasa ia
gunakan.
 Melatih anak untuk menyikat gigi, dengan
menunjukkan kepada anak saat menyikat gigi.
Arahkan tangan anak sambil memberikan instruksi
verbal.
 Melatih anak agar bisa mencuci tangan dan muka
menggunakan sabun. Lakukan dengan menunjukkan
Aspek Lingkup Sasaran Usia Program Monitoring : Target Pencapaian
kepada anak saat mencuci tangan dan muka
menggunakan sabun. Arahkan tangan anak sambil
memberikan instruksi verbal.
DAFTAR PUSTAKA

Fleming, James. S. 2004. Erikson’s Pschosocial Development Stages

Junianto, Markus. 2016. Delapan Masalah Paud di Indonesia. Diakses pada Sabtu Pukul 22.00

WIB,www.beritasatu.com

Hurlock, B.E. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan (edisi kelima). Jakarta: Erlangga

Kemendik. 2015. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan

Santrock, W. J. (2002). Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.

Tim PLPG, 2013. Pendidikan Anak Usia Dini. Konsorsium Sertifikasi Guru

United Nation. 2016. Goal 4 : Quality Education. Diakses pada hari Minggu Pukul 08.30 WIB,

www.sustainabledevelopment.un.org