Anda di halaman 1dari 25

AKIDAH, SYARI’AH DAN AKHLAK

Ditujukan untuk Memenuhi Tugas

“Pengantar Studi Islam”

Dosen Pengampu :

Mohamad Toha, ME.

Disusun oleh :

Anggun Anisafitri (G02219005)

Nuril Izza L. F. (G02219029)

PROGAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat serta salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami mampu
menyelesaikan tugas makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar
Studi Islam.
Dalam penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami
hadapi, namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua maupun teman-
teman, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mampu memperluas pengetahuan
mengenai “Objek Kajian Islam”. Makalah yang saya sajikan berdasarkan buku,
referensi maupun blog mengenai objek kajian Islam.
Meskipun demikian kami menyadari makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik maupun saran yang
sifatnya membangun demi kemajuan yang makalah akan datang.

Surabaya, 21 Februari 2020


Penyusun

Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................. ii


DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2
C. Tujuan ................................................................................................... 2
D. Manfaat.................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Akidah .................................................................................. 3
B. Pengertian Syari’ah ................................................................................ 7
C. Pengertian Akhlaq .................................................................................. 12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................ 16
B. Saran...................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang terakhir sebagai penututp semua agama
yang telah ada, islam merupakaan agama rahmatal lil alamin untuk semua umat
islam. Islam itu di bawakan oleh nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu
dari Allah. Ajaran islam yang di bawah oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah
SWT berisi pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan
tuhannya, dengan dirinya sendiri, dengan manusia sesamanya, dengan
makhluk bernyawa lainnya, dengan benda mati, dan denngan alam semesta.
Islam merupakan agama yang sangat komplek. Sehingga dalam
memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat tercapai suatu
pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam masuk pertama
kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda
mengenai Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara yang
di gunakan dalam memehami islam.
Pada dasarnya, agama Islam adalah agama yang merupakan rahmatan lil
alamin yaitu rahmat bagi seluruh alam yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW melalui malaikat Jibril untuk disebarkan kepada seluruh
umat manusia yang berfungsi untuk menyempurnakan agama-agama
sebelumnya. Namun pada hakikatnya islam itu masih bersifat universal dan
masih memerlukan objek pengkajian dan penelitian yang mendalam baik dari
sisi agama, sosial dan budaya.
Tapi ironinya sekarang banyak umat islam khususnya para golongan
pemuda-pemuda tidak peduli bahkan tidak mau tahu apa saja objek-objek
kajian yang mencerminkan karakter islam yang sesungguhnya, bahkan enggan
untuk bertindak sesuai apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Mereka hanya menerima islam tanpa melakukan dan mencari tahu apa saja

1
yang terkandung dalam objek - objek pengkajian dan penelitiannya. Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai Islam sebagai objek
kajian. 1

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari akidah?
2. Apa pengertian dari syari’ah?
3. Apa pengertian dari akhlaq?

C. Tujuan
1. Untuk memahami apa itu akidah
2. Untuk memahami tentang syari’ah
3. Untuk memahami mengenai akhlaq

D. Manfaat
Untuk mengetahui dan memahami mengenai objek kajian Islam, yaitu Akidah,
Syari’ah dan Akhlaq

1
Danial Rachman, Islam Seabagai Objek Kajian Ilmiah
(http://danialrahman206.blogspot.com/2016/11/islam-sebagai-objek-kajian-ilmiah.html diakses
pada 15 November 2016)

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Aqidah
1. Definisi Aqidah
Kata Aqidah dalam Bahasa Arab adalah ‘aqidah, yang diambil dari
kata . dasar ‘aqada, ya’qidu, ‘aqdan, aqidatan yang berarti simpul, ikatan,
perjanjian, setelah berbentuk menjadi ‘aqidah, makai a bermakna
keyakinan. Dengan demikian, aqidah, yang berhubungan dengan kata
‘aqdan, menjadi bermakna keyakinan yang kokoh di hati, bersifat
mengikat dan mengandung perjanjian.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, akidah berarti dipercayai hati. Kata
akidah ini juga seakar dengan kata “al ‘aqdu” yang memiliki arti yang sam
dengan kata:
a. Ar-rabth (ikatan),
b. Al-ibram (pengesahan),
c. Al-ihkam (penguatan),
d. At-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat),
e. Al-syaddu bi quwwah (pengikatan dengan kuat),
f. At-tamasuk (pengokohan),
g. Al-isbat (penetapan)
Pengertian Akidah secara istilah (dalam agama) berarti perkara yang
wajib dibenarkan oleh hati, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh
dan kokoh, tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. 2
Yusuf al – Qardlawi menguraikan beberapa prinsip akidah,
diantaranya adalah:
a. Tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan,
b. Mendatangkan ketentraman jiwa,

2
Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam (Surabaya: UIN SA Press, 2019).49

3
c. Menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. 3
Secara etimologis, aqidah berarti ikatan, sangkutan, keyakinan.
Aqidah secara teknis juga berarti keyakinan atau iman. Dengan demikian,
aqidah merupakan asas tempat mendirikan seluruh bangunan (ajaran)
Islam dan menjadi sangkutan semua hal dalam Islam. Aqidah juga
merupakan sistem keyakinan Islam yang mendasar seluruh aktivitas umat
Islam dalam kehidupannya. Aqidah atau sistem keyakinan Islam dibangun
atas dasar enam keyakinan atau yang biasa disebut dengan rukun iman
yang enam.
Adapun kata iman, secara etimologis, berarti percaya atau
membenarkan dengan hati. Sedang menurut istilah syara’, iman berarti
membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan melakukan
dengan anggota badan. Dengan pengertian ini, berarti iman tidak hanya
terkait dengan pembenaran dengan hati atau sekedar meyakini adanya
Allah saja, misalnya. Iman kepada Allah berarti meyakini bahwa Allah itu
ada; membuktikannya dengan ikrar syahadat atau mengucapkan kalimat-
kalimat dzikir kepada Allah; dan mengamalkan semua perintah Allah dan
menjauhi semua larangan-Nya. Inilah makna iman yang sebenarnya,
sehingga orang yang beriman berarti orang yang hatinya mengakui adanya
Allah (dzikir hati), lidahnya selalu melafalkan kalimat-kalimat Allah
(dzikir lisan), dan anggota badannya selalu melakukan perintah-perintah
Allah dan menjauhi semua larangan-Nya (dzikir perbuatan).
Dari uraian di atas dapat juga dipahami bahwa iman tidak hanya
tertumpu pada ucapan lidah semata. Kalau iman hanya didasarkan pada
ucapan lidah semata, berarti iman yang setengah-setengah atau imannya
orang munafiq seperti yang ditegaskan al-Quran dalam surat al-Baqarah
(2) ayat 8-9:

3
Hammis Syafaq dkk, Pengantar Studi Islam (Surabaya: UIN SA Press, 2019).50-51

4
Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman
kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan
orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang
yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang
mereka tidak sadar.” (QS. Al - Baqarah [2]: 8-9).
Iman juga tidak hanya diwujudkan dengan keyakinan hati semata.
Dalam hal ini al-Quran surat Al - Naml (27) ayat 14 menegaskan:

ُ ُ‫ظ ْل ًما أ َ ْنف‬


‫س ُه ْم َوا ْست َ ْيقَنَتْ َها ِب َها َو َج َحدُوا‬ ُ ‫علُ ًّوا‬ ُ ْ‫ْف فَان‬
ُ ‫ظ ْر ۚ َو‬ َ ‫ْال ُم ْف ِسدِي َن‬
َ ‫عاقِبَةُ كَا َن َكي‬

Artinya: “Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan


kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat
kebinasaan.” (QS. An - -Naml [27]: 14).
Dan iman juga tidak dapat ditunjukkan dalam bentul amal (perbuatan)
semata. Kalau hal itu saja yang ditonjolkan, maka tidak ubahnya seperti
perbuatan orang munafik sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran
surat An - Nisa’ (4) ayat 142:
‫سا َء َوآتُوا‬ َ ً ‫ع ْن لَ ُك ْم ِط ْب َن فَإِ ْن ۚ نِحْ لَة‬
َ ِ‫صدُقَاتِ ِهن الن‬ ً ‫َم ِريئًا َهنِيئًا فَ ُكلُوه ُ نَ ْف‬
َ ُ‫سا ِم ْنه‬
َ ‫ش ْيء‬
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan
Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk
shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ atau pamer
dengan (shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekali.” (QS. An - Nisa’ [4]: 142).
Untuk mengembangkan konsep kajian aqidah ini, para ulama dengan
ijtihadnya menyusun suatu ilmu yang kemudian disebut dengan ilmu

5
tauhid. Mereka juga menamainya dengan ilmu Kalam, Ushuluddin, atau
teologi Islam.
Ilmu-ilmu ini membahas lebih jauh konsep-konsep aqidah yang
termuat dalam al - Quran dan Hadis dengan kajian-kajian yang lebih
mendalam yang diwarnai dengan perbedaan pendapat di kalangan mereka
dalam masalah-masalah tertentu.4
2. Tujuan Mempelajari Aqidah
a. Membebaskan kita dari ubudiyah/penghambatan kepada selain Allah,
baik bentuknya menghamba kepada kekuasaan, harta, pimpinan
maupun lainnya.
b. Membentuk pribadi yang seimbang, yaitu selalu taat kepada Allah,
baik dalam keadaan suka maupun duka
c. Kita akan merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas,
takut kurang rezeki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin, dan seluruh
manusia, termasuk takut kepada kematian. Demikian, ia penuh
tawakkal kepada Allah.
d. Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa, sekukuh gunung. Aqidah
hanya berharap kepada Allah dari ridha terhadap segala ketentuan
Allah.
e. Aqidah Islamiyah berdasarkan kepada asas ukhuwah (persaudaraan)
dan persamaan, tidak membedakan antar miskin dan kaya, antara
pejabat dan rakyat jelata, antara kulit hitam dan putih, antara orang
Arab atau bukan, kecuali kadar ketakwaan kita di sisi Allah Swt.5
3. Ruang Lingkup Aqidah
a. Illahiyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan Allah Swt, termasuk pembahasan sifat – sifat Allah Swt,
mu’jizat, dan lain – lain.

4
Marzuki, Kerangka Dasar Ajaran Islam (Buku PAI UNY Bab 5).76-78
5
Mukni’ah, Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2011).52

6
b. Nubuwat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan alam metafisik seperti Malaikat, jin, Iblis, syaiton, roh, dan
lain sebagainya.
c. Sam’iyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa
diketahui lewat dalil naqli berupa Al – Qur’an dan Sunnah, seperti
alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda – tanda kiamat, surga –
neraka, dan lain sebagainya. 6

B. Syari’ah
1. Definisi Syari’ah
Syari’ah dalam konteks kajian hokum Islam lebih menggambarkan
kumpulan norma – norma hokum yang merupakan hasil dari proses tasyri’.
Maka dalam membahas Syari’ah diawali dengan membahas tasyri’, tasyri’
adalah menciptakan dan menerapkan Syari’ah. Dalam kajian hokum
Islam, tasyri’ sering didefiniskan sebagai penetapan norma – norma
hokum untuk menata kehidupan manusia, baik dlaam hubungannya
dengan Tuhan maupun dengan umat manusia lainnya. 7
Sesuai dengan objek penerapannya, maka para ulama membagi tasyri’
ke dalam dua bentuk; tasyri’ samawi dan tasyri’ wadl’i. tasyri’ samawi
adalah penetapan hokum yang dilakukan langsung oleh Allah dan Rasul-
Nya dalam Al – Qur’an dan Sunnah. Ketentuan – ketentuan tersebut
bersifat abadi dan tidak berubah karena tidak ada yang kompeten untuk
mengubahnya selain Allah Swt. Sedangkan, Tasyri’ wadl’i adalah
penentuan hokum yang dilakukan oleh para mujtahid. Ketentuan –
ketentuan hokum hasil kajian mereka ini tidak memiliki sifat mutlak, tetapi
bias berubah – ubah karena merupakan hasil kajian nalar para ulama yang
tidak lepas dari salah karena dipengaruhi oleh pengalaman keilmuan

6
Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam. 51
7
Muhammad Faruq Nabhan, al-Madkhal lli Tasyri’ al-Islami (Beirut: Dar al-Qalam, 1982).11

7
mereka serta kondisi lingkungan dan dinamika social budaya masyarakat
disekitarnya. 8
Secara etimologis, syariah berarti jalan ke sumber air atau jalan yang
harus diikuti, yakni jalan ke arah sumber pokok bagi kehidupan. Orang-
orang Arab menerapkan istilah ini khususnya pada jalan setapak menuju
palung air yang tetap dan diberi tanda yang jelas terlihat mata (Ahmad
Hasan, 1984: 7). Adapun secara terminologis syariah berarti semua
peraturan agama yang ditetapkan oleh Allah untuk kaum Muslim baik
yang ditetapkan dengan al-Quran maupun Sunnah Rasul (Muhammad
Yusuf Musa, 1988: 131).
Mahmud Syaltut mendefinisikan syariah sebagai aturan-aturan yang
disyariatkan oleh Allah atau disayariatkan pokok- pokoknya agar manusia
itu sendiri menggunakannya dalam berhubungan dengan Tuhannya,
dengan saudaranya sesama Muslim, dengan saudaranya sesama manusia,
dan alam semesta, serta dengan kehidupan (Syaltut, 1966: 12). Syaltut
menambahkan bahwa syariah merupakan cabang dari aqidah yang
merupakan pokoknya. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat
yang tidak dapat dipisahkan. Aqidah merupakan fondasi yang dapat
membentengi syariah, sementara syariah merupakan perwujudan dari
fungsi kalbu dalam beraqidah (Syaltut, 1966: 13).
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kajian syariah tertumpu
pada masalah aturan Allah dan Rasul-Nya atau masalah hukum. Aturan
atau hukum ini mengatur manusia dalam berhubungan dengan Tuhannya
(hablun minallah) dan dalam berhubungan dengan sesamanya (hablun
minannas). Kedua hubungan manusia inilah yang merupakan ruang
lingkup dari syariah Islam. Hubungan yang pertama itu kemudian disebut
dengan ibadah, dan hubungan yang kedua disebut muamalah. Ibadah
mengatur bagaimana manusia bisa berhubungan dengan Allah. Dalam arti
yang khusus (ibadah mahdlah), ibadah terwujud dalam rukun Islam yang

8
Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam. 52

8
lima, yaitu mengucapkan dua kalimah syahadah (persaksian), mendirikan
shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji bagi
yang mampu. Sedang muamalah bisa dilakukan dalam berbagai bentuk
aktivitas manusia dalam berhubungan dengan sesamanya. Bentuk-bentuk
hubungan itu bisa berupa hubungan perkawinan (munakahat), pembagian
warisan (mawaris), ekonomi (muamalah), pidana (jinayah), politik
(khilafah), hubungan internasional (siyar), dan peradilan (murafa’at).
Dengan demikian, jelaslah bahwa kajian syariah lebih tertumpu pada
pengamalan konsep dasar Islam yang termuat dalam aqidah. Pengamalan
inilah yang dalam al-Quran disebut dengan al-a’mal al-shalihah (amal-
amal shalih). Untuk lebih memperdalam kajian syariah ini para ulama
mengembangkan suatu ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu fikih
atau fikih Islam. Ilmu fikih ini mengkaji konsep-konsep syariah yang
termuat dalam al-Quran dan Sunnah dengan melalui ijtihad. Dengan
ijtihad inilah syariah dikembangkan lebih rinci dan disesuaikan dengan
perkembangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat manusia.
Sebagaimana dalam kajian aqidah, kajian ilmu fikih ini juga menimbulkan
berbagai perbedaan yang kemudian dikenal dengan mazhab-mazhab fikih.
Jika aqidah merupakan konsep kajian terhadap iman, maka syariah
merupakan konsep kajian terhadap islam. Islam yang dimaksud di sini
adalah islam sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Nabi saw. yang di
riwayatkan oleh Umat Ibn Khaththab sebagaimana yang diungkap di atas. 9
2. Tujuan Mempelajari Syari’ah
Tujuan utama dari syari’ah tidak lain adalah untuk memberikan
kesejahteraan, kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan hidup manusia,
baik di dunia maupun di akhirat. Dalam kajian fiqih dan ushul fiqh, tujuan
utama yang hendak dicapai ketika mempelajari keduanya adalah untuk
mengetahui hokum syara’ (Syariah) yang berkaitan dengan perbuatan
manusia mukallaf (yang dibebani hokum) sehingga akan diperoleh

9
Marzuki, Kerangka Dasar Ajaran Islam (Buku PAI UNY Bab 5).78-80

9
ketentuan apakah suatu perbuatan itu dikehendaki, diperbolehkan atau
dilarang atau bagaimana suatu perbuatan dapat dikatakan sah atau tidak.
Upaya – upaya mengidentifikasi hokum syariat yang terkandung
dalam Al – Qur’an dan Sunnah senantiasa berkembang, meskipun sumber
utama yang digali itu tidak akan bertambah lagi (statis) hingga akhir
zaman. Ini tidak menjadi masalah karena dalam Al – Qur’an, di samping
terdapat ayat yang bermakna jelas dan pasti serta rinci, namun tidak sedikit
juga ayat – ayat yang bersifat umum dan global. Jenis ayat yang terakhir
inilah yang menjadi “ladang” ijtihad para intelektual Muslim. Dari pihak
lain, dalam ayat -ayat lain diserukan kepada manusia untuk senantiasa
menggunakan daya pikir dan nalarnya untuk mengkaji dan meneliti ayat –
ayat Allah.
Dalam kajian fiqih menerapkan hokum – hokum syariat Islam
terhadap perbuatan dan ucapan manusia. Jadi, ilmu fiqih itu adalah rujukan
(tempat kembali) seorang hokum (qadhi) dalam keputusannya, rujukan
seorang mufti dalam fatwanya, dan rujukan seorang mukallaf untuk
mengetahui hokum syariat dalam ucapan dan perbuatannya.
Kajian ushul fiqh menerapkan kaidah – kaidah dan pembahasannya
terhadap dalil – dalil terperinci untuk mendatangkan hokum syariat Islam
yang diambil dari dali – dalil tersebut. Jadi, dengan kaidah dan pembahsan
ilmu ushul fiqih, dapat dipahami nash – nash Syariah dan hokum – hokum
yang dikandungnya.10
3. Perbedaan Syari’ah dan Fiqih
Aspek hokum yang masuk dalam kategori syari’ah itu mencakup
aturan tentang hubungan antara manusia dengan Allah, yang disebut
‘ubudiyah, dan mencakup aturan tentang hubungan antara manusia dengan
sesama manusia, yang disebut dengan mua’amalah/ijtima’iyah.
Hukum Islam dulu identik dengan Syari’at, baru akhir abad ke-8/awal
ke-9, fiqih muncul, dengan arti memahami. Syari’at adalah hokum Islam

10
Mukni’ah, Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum.98-99

10
dalam kualitas Ilahiyah. Fiqih adalah aktivitas keilmuan manusia. Syari’at
adalah wahyu, Al – Qur’an dan Sunnah. Fiqih adalah menemukan dan
mengungkap pengertian Syari’ah (wahyu, Al – Qur’an dan Sunnah).
Ada dua prinsip utama yang harus dijadikan sebagai pijakan dalam
memahami madzhab fikih:
a. Prinsip Sinkronik: yang mensyaratkan agar suatu rumusan hokum
setiap saat harus dapat diverifikasi dengan merujuk kepada wahyu.
b. Prinsip Diakronik: yang mengharuskan pada penganut tradisi
madzhab untuk menjaga kesetiaan tradisi tersebut dengan menghargai
capaian penafsiar para ulama madzhab terdahulu.
Jika dikaji secara seksama, dalam memahami wahyu, para faqih (ahli
fikih) sebagai individu, tidak berhadapan sendirian dan langsung dengan
wahyu, tetapi melalui tradisi (sunnah). Prinsip inilah yang menjadi sumber
kekuatan dan keluwesan rumusan fiqih, karena tradisi (sunnah) yang
berkembang itu memelihara kumpulan pengalaman komunitas dan
memberinya bentuk yang kuat, meskipun kadangkala dikecam.
Dari ushul fiqih inilah lahirnya upaya ijtihad, yaitu usaha keras untuk
menemukan berdasarkan wahyu yang ditafsirkan sesuai dengan
kaidahnya. Hasilnya menjadi beragam, dengan menerima kebenaran,
maka resikonya adalah memunculkan perpecahan. Munculnya fiqih sangat
berpengaruh dalam kehidupan keilmuan, sejak abad ke-10. Pendidikan
Islam diawali dengan Al – Qur’an, Hadits, Fiqih. Ketentuan – ketentuan
fiqih menjadi pedoman hidup bermasyarakat komunitas muslim.
Meskipun demikian, ilmu fiqih itu tidak mudah untuk diterapkan.
Sebab, nampak di permukaan bahwa setiap muslim mengetahui
bahwa shalat itu wajib, tidak boleh minum arak, tidak boleh berzina.
Tetapi, tentu saja tidak semua umat Islam melaksanakan shalat, tidak
semua umat Islam tidak minum arak, tidak semua umat Islam tidak
berzina.
Para penafsir hokum adalah kaum idealis, tetapi sekaligus penyedia
kemudahan. Oleh karena itu, prinsip bahwa pelaku zina dihukum, namun

11
pilihan yang mengarahkan kepada pelaksanaan hokum itu ditiadakan,
dengan cara bahwa aturan pembuktian dan prosedur ditulis dengan cermat
untuk mencegah pelaksanaan hukuman. 11

C. Akhlaq
1. Definisi Akhlaq
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlaq
yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku, atau tabiat (Hamzah Ya’qub, 1988: 11). Sinonim
dari kata akhlak ini adalah etika, moral, dan karakter. Sedangkan secara
terminologis, akhlak berarti keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah
melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Inilah pendapat
yang dikemukakan oleh Ibnu Maskawaih. Sedang al-Ghazali
mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tetap pada jiwa yang
daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak
membutuhkan kepada pikiran (Rahmat Djatnika, 1996: 27). Adapun ilmu
akhlak oleh Dr. Ahmad Amin didefinisikan suatu ilmu yang menjelaskan
arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh
sebagian manusia kepada sebagian lainnya, menyatakan tujuan yang harus
dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang harus diperbuat (Hamzah Ya’qub, 1988: 12).
Dari pengertian di atas jelaslah bahwa kajian akhlak adalah tingkah
laku manusia, atau tepatnya nilai dari tingkah lakunya, yang bisa bernilai
baik (mulia) atau sebaliknya bernilai buruk (tercela). Yang dinilai di sini
adalah tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, yakni
dalam melakukan ibadah, dalam berhubungan dengan sesamanya, yakni
dalam bermuamalah atau dalam melakukan hubungan sosial antar
manusia, dalam berhubungan dengan makhluk hidup yang lain seperti
binatang dan tumbuhan, serta dalam berhubungan dengan lingkungan atau

11
Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam.53-56

12
benda-benda mati yang juga merupakan makhluk Tuhan. Secara singkat
hubungan akhlak ini terbagi menjadi dua, yaitu akhlak kepad Khaliq
(Allah Sang Pencipta) dan akhlak kepada makhluq (ciptaan-Nya).
Akhlak merupakan konsep kajian terhadap ihsan. Ihsan merupakan
ajaran tentang penghayatan akan hadirnya Tuhan dalam hidup, melalui
penghayatan diri yang sedang menghadap dan berada di depan Tuhan
ketika beribadah. Ihsan juga merupakan suatu pendidikan atau latihan
untuk mencapai kesempurnaan Islam dalam arti sepenuhnya (kaffah),
sehingga ihsan merupakan puncak tertinggi dari keislaman seseorang.
Ihsan ini baru tercapai kalau sudah dilalui dua tahapan sebelumnya, yaitu
iman dan islam. Orang yang mencapai predikat ihsan ini disebut muhsin.
Dalam kehidupan sehari-hari ihsan tercermin dalam bentuk akhlak yang
mulia (al-akhlak al-karimah). Inilah yang menjadi misi utama diutusnya
Nabi saw. ke dunia, seperti yang ditegaskannya dalam sebuah hadisnya:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak
mulia”. 12
2. Ruang Lingkup Akhlaq
a. Akhlaq dalam berhubungan dengan Allah Swt.
Dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Mencintai Allah dan mensyukuri segala nikmat yang
telah diberikan oleh Allah. Mengakui keagungan Allah sehingga
memiliki rasa malu untuk berbuat maksiat.
Mengakui Rahmat Allah dalam segala hal, sehingga memiliki
kemauan keras untuk berdoa kepada-Nya dan mencari ridho-Nya,
serta tidak memiliki sifat putus asa. Menerima segala keputusan Allah
dengan sikap sabar, sehingga tidak akan memiliki prasangka buruk
kepada Allah.
Beberapa hal diatas sangat penting bagi kehidupan manusia
karena hidup manusia itu Allah yang menentukan. Jika manusia ingin

12
Marzuki, Kerangka Dasar Ajaran Islam (Buku PAI UNY Bab 5).80-81

13
dapat hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat, maka ia harus
dapat menjalin hubungan baik dengan Allah. Sebabm jika Allah
murka, maka sengsaralah manusia yang mendapatkan murka-Nya.
b. Akhlaq dalam berhubungan dengan sesama manusia.
Dengan saling menjalin sikap silaturrahmi, saling menghormati
dan menghargai, saling tolong menolong, saling menasehati. Tidak
menyakiti orang lain, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan maupun
sikap. Tidak bersikap sombong di hadapan orang lain. Mengedapnkan
sikap maaf jika terjadi perselisihan.
Hubungan bai kantar sesame manusia menjadi penting karena
manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia
adlaah makhluk sosial, yang saling membutuhkan antara satu dengan
yang lainnya. Manusia harus hidup bermasyakat untuk dapat
menunjang kelangsungan hidupnya.
Agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan harmonis, maka
seseorang harus menjaga sikapnya dalam menjalin hubungan dengan
yang lainnya.
c. Akhlaq dalam berhubungan dengan alam.
Dengan menjaga kelestarian alam, karena alam juga makhluk
Allah yang berhak hidup seperti manusia. Hal itu dapat dilakukan
dengan cara menyadari bahwa diri manusia diciptakan dari unsur
alam, yaitu tanah. Dengan demikian, alam adalah bagian dari diri
manusia.
Bersikap ramah terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan
beberapa cara, diantaranya adalah:
1.) Melakukan penghijauan, yaitu menanam kembali hutan atau
lahan yang telah gundul akibat penebangan. Penghijauan ini
menjadi penting karena untuk memulihkan kembali alam yang
sudah rusak.

14
2.) Melakukan penangkaran, yaitu perkembangbiakan terkontrol
hewan dan tanaman untuk beberapa hewan yang telah punah dan
tanaman yang sudah mulai langka.
3.) Perlindungan alam, yaitu usaha – usaha untuk menjaga
kelestarian hewan, tumbuhan, tanah dan air. Tujuannya adalah
untuk mempertahankan ekosistem.
4.) Pembangunan berwawasan lingkungan, yaitu pembangunan
pabrik, kantor, perumahan, pertokoan atau pasar dengan
mempertimbangkan pembuangan limbah, sanitasi, kesehatan
lingkungan atau melakukan analisis mengenai dampak
lingkungan sebelum melakukan pembangunan.
Akhlak menjadi penting karena berpengaruh dalam kondisi fisik
dan pikiran manusia. Hal itu bias digambarkan dalam bentuk bagan
sebagai berikut:

Al-'Aql

Al-Qalb Al-Jism
Penjelasannya; pikiran yang sehat akan berdampak pada hati
yang sehat, hati yang sehat akan berdampak pada fisik yang sehat.
Begitu juga sebaliknya. Dalam beberapa kasus ditemukan bahwa
orang sakit itu karena pikirannya tidak sehat, yang kemudian hatinya
juga tidak sehat. Artinya, banyak penyakit fisik yang sbetulnya
berangkat dari hati yang sakit. Hati yang sakit banyak berangkat dari
pikiran yang tidak karuan. 13

13
Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam.59-64

15
3. Karakteristik Akhlaq dalam Islam
Islam adalah agama yang memiliki karakteristik yang universal
sehingga mampu menjangkau lapisan masyarakat yang berlainan dan
beragam model dan bentuknya, dari ras suku bangsa warna kulit bahasa
jenis dan kedudukan. Dengan itulah, Islam memberikan banyak solusi
dalam berbagai kehidupan di sepanjang zaman. Hal inilah yang merupakan
karakteristik dari ajaran Islam yang hakiki.
Prinsip akhlaq dalam Islam yang paling menonjol ialah bahwa
manusia bebas melakukan tindakan – tindakannya, ia punya kehendak
untuk berbuat dan tidak berbuat sesuatu. Ia merasa bertanggung jawab
terhadap semua yang dilakukannya dan harus menjaga apa yang dihalalkan
dan diharamkan Allah. Maka, tanggung jawab pribadi ini merupakan
prinsip akhlaq yang paling menonjol dalam Islam, dan urusan keragaman
seseorang selalu disandarkan pada tanggung jawab pribadi (Mahmud,
1996:114)
Ciri – ciri akhlaq dalam Islam:
a. Bersifat mutlak dan menyeluruh. Akhlaq Islamiyah bersifat mutlak
tidak bias diubah, dan dikenakan kepada seluruh individu tanpa
mengira keturunan, warna kulit, pangkat, tempat, dan masa.
b. Melengkapkan dan menyempurnakan tuntutan. Ditinjau dari sudut
kejadian manusia yang dibekalkan dengan berbagai naluri, akhlaq
Islamiyah adalah merangkumi semua aspek kemanusiaan ruhaniah,
jasmaniah dan aqliyah, sesuai dengan semua tuntutan naluri dalam
usaha mengawal sifat – sifat yang tercela (sifat madzmumah) untuk
kesempurnaan insan, bukan untuk mengawal kebebasan pribadi
seseorang.
c. Bersifat sederhana dan seimbang. Tuntutan akhlaq dalam Islam adalah
sederhana, tidak membebankan sehingga menjadi pasif dan tidak pula
membiarkan sehingga menimbulkan bahaya dan kerusakan.
d. Mencakup perintah dan larangan. Bagi kebaikan manusia,
pelaksanaan akhlaq Islamiyah meliputi perintah dan larangan dengan

16
tidak boleh mengutamakan atau mengabaikan salah satu aspek
tersebut.
e. Bersih dalam pelaksanaan. Untuk mencapai kebaikan, akhlaq
Islamiyah memerintah supaya cara dan metode pelaksanaan sesuatu
perbuatan dan tindakan itu hendaklah dengan cara yang baik dan
saluran yang benar yang telah ditetapkan oleh akhlaq Islamiyah.
Artinya, untuk mencapai suatu tujuan, cara pelaksanaannya pasti
menurut tata cara Islam. Islam tidak menerima falsafah menghalalkan
segala cara.
f. Keseimbangan. Akhlaq dalam Islam membawa kesinambungan bagi
tuntutan realitas hidup antara ruhaniah dan jasmaniah serta aqliah, dan
antara kehidupan dunia dan akhirat sesuai dengan tabiat manusia itu
sendiri. 14
4. Implementasi Akhlaq dalam Kehidupan Sehari hari
a. Adil
Adil adalah suatu perbuatan yang mengindahkan ketentuan –
ketentuan atau aturan – aturan yang berlaku di dalam kehidupan sehari
– hari. Kebanyakan kita berpikir bahwa adil itu itu bias terjadi apabila
terdapat lebih dari satu objek, barulah itu bias terlahir. Akan tetapi,
sebenarnya itu adalah persepsi yang salah. Sebab, adil tidak
membutuhkan lebih dari satu objek untuk memunculkannya.
Bersikap adil ini sangat sulit, hal ini disebabkan pendapat/pikiran
seseorang tidak sama. Yang paling penting adalah kita sudah berusaha
bersikap adil. Memang ketidakadilan sering terjadi dalam pergaulan,
misalnya memilih – milih teman dan membentuk geng atau kelompok
tertentu, misalnya geng khusus orang kaya. Dalam hal ini, geng orang
kaya kemungkinan akan menjatuhkan orang – orang di sekitarnya
yang secara materi kurang. Agar kita adil, yang terpenting adalah kita
tidak memilih atau membedakan orang lain atau diskriminasi.

14
Mukni’ah, Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum.109-111

17
b. Sabar
Sabar merupakan buah dari ketakwaan kepada Allah Swt. Sabar
terhadap cobaan dan ketentuan Allah Swt merupakan sikap konsisten
seorang mukmin. Sabar merupakan sikap yang akan mendorong setiap
mukmin untuk senantiasa berpegang teguh pada kitab Allah Swt.
Sikap sabar haruslah diterapkan dalam segala bidang kehidupan.
Tidak hanya ketika menghadapi malapetaka saja, tetapi pada setiap
aktivitas hidup manusia. Jika kita lihat dari sudut pandang ahli filsafat
Islam, mereka membagi penerapan kesabaran dalam empat hal,
sebagai berikut:
1.) Sabar apabila ditimpa malapetaka atau musibah
Yaitu, sikap sabra ketika ditimpa musibah dengan hati yang
teguh dalam menghadapi cobaan, seperti kematian, kecelakaan,
dan lain – lain. Jika cobaan itu tidak kita hadapi dengan
kesabaran, akan semakin menekan tubuh dan ruhani kita.ingatlah
keterbatasan kemampuan manusia, manusia hanya berusaha
tetapi tidak dapat menentukan.
2.) Sabar terhadap kehidupan dunia
Sabar terhadap tipu daya dunia, jangan sampai terlena pada
kemewahan hidup yang berlebihan. Banyak orang – orang yang
terpesona pada kemewahan hidup di dunia, dengan
melampiaskan hawa nafsunya sehingga menjadi lupa diri.
Mereka mengejar kemewahan hidup dengan jalan yang
bertentangan dengan ketentuan – ketentuan yang telah digariskan
dalam agama, norma hokum, dan norma masyarakat. Dari sinilah
awal mulanya timbul tindakan manipulasi seperti korupsi,
menipu dan beberapa jenis pelanggaran – pelanggaran lainnya.
3.) Sabar terhadap maksiat
Adalah dapat mengendalikan diri supaya tidak melakukan
kegiatan – kegiatan buruk yang mendatangkan dosa. Tarikan
untuk melakukan kegiatan maksiat sangat kuat mempengaruhi

18
manusia, sebab manusia senantiasa digoda dan didorongnya.
Godaan untuk melakukan pekerjaan maksiat laksana kipas yang
terus - menerus mengobarkan api yang masih kecil, hingga
akhirnya menjadi besar dan menjilat – jilat ke tempat lain. Jika
api sudah makin membesar, sukar lagi memadamkannya.
4.) Sabar dalam perjuangan
Menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan mengalami
pasang naik dan pasang surut, masa naik dan masa jatuh, masa
menang dan masa kalah. Jika perjuangan belum berhasil atau
sudah nyata mengalami kegagalan, hendaklah bersikap sabra
dalam menghadapinya dan menerima kenyataan yang ada. Sabra
dalam arti tidak putus asa dan tidak patah semangat. Karenanya,
kita harus berusaha untuk melakukan koreksi diri tentang sebab –
sebab kegagalan dan menarik pelajaran daripadanya. Apabila
suatu perjuangan dikendalikan oleh sifat kesabaran, dengan
sendirinya akan timbul ketelitian dan kewaspadaan.
c. Syukur
Ini adalah salah satu sifat yang merupakan hasil refleksi dari sikap
tawakkal. Secara Bahasa, syukur mengandung arti sesuatu yang
menunjukkan kebaikan dan penyebarannya. Sedangkan, secara syar’i,
pengertian syukur adalah memberikan pujian kepada yang
memberikan segala bentuk kenikmatan dari Allah Swt., dengan cara
melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dalam pengertian tunduk dan
berserah diri hanya kepada-Nya.
d. Pemaaf
Dalam Bahasa Arab, maaf diungkapkan dengan kata al-‘afwu.
Kata al-‘afwu, berarti terhapus atau menghapus. Jadi, memaafkan
mengandung pengertian menghapus luka atau bekas – bekas luka yang
terdapat dalam hati. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, berarti
hubungan antara mereka yang bermasalah kembali baik dan harmonis
karena luka yang ada didalam hati mereka, terutama orang yang

19
memaafkan, telah sembuh. Islam mendorong muslim untuk memiliki
sifat pemaaf. Sifat ini muncul karena keimanan, ketakwaan,
pengetahuan, dan wawasan mendalam seorang muslim tentang Islam.
Seorang muslim menyadari bahwa sikap pemaaf menguntungkan,
terutama membuat hati lapang dan tidak dendam terhadap orang yang
berbuat salah kepadanya sehingga jiwanya menjadi tenang dan
tentram. Apabila ia bukan pemaaf, tentu akan menjadi ornag
pendendam. 15

15
Ibid.121-128

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Aqidah, syariah dan akhlak pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam
ajaran Islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak bisa
dipisahkan.Aqidah sebagai sistem kepercayaan yg bermuatan elemen-elemen
dasar keyakinan,menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama.
Sementara syariah sebagaisystem nilai berisi peraturan yang menggambarkan
fungsi agama. Sedangkan akhlak sebagai sistematika menggambarkan arah dan
tujuan yg hendak dicapai agama.Muslim yg baik adalah orang yg memiliki
aqidah yg lurus dan kuat ygmendorongnya untuk melaksanakan syariah yg
hanya ditujukan pada Allah sehinggatergambar akhlak yg terpuji pada
dirinya.Aqidah, Syariah dan Akhlak, ketiganya merupakan 3 pokok ajaran
Islam. Ketiganyaharus selalu bersamaan dengan aqidah berjalan di depan.
Adapun filosofi lain, aqidah, syariah, dan akhlak bagaikan suatu pohon, di
mana aqidah merupakan akar, syariah merupakan batang dan akhlak adalah
dedaunan. Syariah dan akhlak akan tumbang tanpa adanya aqidah yang
mengakarinya.
B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah diatas masih terdapat banyak kesalahan
dan jauh dari kata sempurna. Kami akan memperbaiki makalah ini dengan
berpedoman pada banyak sumber serta kritik dan saran yang membangun dari
pembaca.

21
DAFTAR PUSTAKA

Marzuki, Kerangka Dasar Ajaran Islam. Buku PAI UNY Bab 5


Mukni’ah. 2011 Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Rachman, Danial. 2016 Islam Seabagai Objek Kajian Ilmiah
(http://danialrahman206.blogspot.com/2016/11/islam-sebagai-objek-
kajian-ilmiah.html)
Syafaq, Hammis. 2019 Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN SA Press

22