Anda di halaman 1dari 15

BAHASA JURNALISTIK DALAM MEDIA MASSA

Makalah ini disusun untuk


Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Jurnalistik

Dosen pengampu :
Teddy Khumaedi, S.Sos.I, M.Ag

Disusun oleh

 Halim Safrudin
 Fajar Maulana Choirul Chakim
 Aulia Rahmadani

Fakultas : Dakwah & Komunikasi Islam


INSITUT UMMUL QURO AL ISLAMI
BOGOR 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Bahasa Jurnalistik dalam Media Massa” untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Ilmu Jurnalistik di Institut Ummul Quro Al-Islami. Makalah ini diperoleh
dari sumber-sumber yang berkaitan dengan materi kami dari media internet dan
dari Referesnsi lainnya.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar mata kuliah Ilmu
Jurnalistik Bapak Teddy Khumaedi, S.Sos.I, M.Ag, atas bimbingan dalam mata
kuliah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya teman satu kelompok
yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini. Semoga
bimbingan yang telah diberikan dapat bermanfaat bagi kami sebagai bekal masa
depan.

Kami mengharapkan dengan membaca makalah ini dapat memberi


manfaat bagi kita semua. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka pkami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar bisa menjadi bahan koreksi diri
penulis untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Bogor, 08 Oktober 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................2
1.3 Tujuan Masalah.......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Bahasa Jurnalistik...................................................................................3
2.1.1 Karakteristik Bahasa Jurnalistik...................................................5
2.1.2 Pedoman Bahasa Jurnalistik...........................................................7
2.2 Media Massa............................................................................................8
2.2.1 Bentuk-Bentuk Media Massa..........................................................9
BAB III PENUTUPAN........................................................................................11
3.1 Kesimpulan............................................................................................11
3.2 Kritik dan Saran....................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12

ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa jurnalistik merupakan suatu jenis bahasa yang digunakan oleh
media massa dan sangat berbeda karakteristiknya dengan bahasa ilmu atau
bahasa baku pada umumnya. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi,
dikenal dengan bahasa lisan dan tulis atau bisa disebut juga media cetak,
elektronik dan sosial. Semuanya terikat pada, aturan, kaidah dan karakteristik
yang dimiliki bahasa yang digunakan.

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan


dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa. Dalam penulisan
berita, wartawan harus menulis sesuai fakta dan tidak boleh beropini. Namun,
tulisan tersebut harus mengandung makna informatif, persuasif, dan dapat
dipahami secara umum singkat dan jelas. Selain itu, bahasa jurnalistik yang
digunakan dalam media publik harus ditulis dengan beberapa karakteristik
agar bisa dipahami oleh pembaca secara umum.

Bahasa jurnalistik juga mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:


Komunikatif, Spesifik, Hemat Kata, Jelas Makna, dan Tidak Mubazir. Pada
dasarnya, bahasa jurnalistik adalah bahasa indonesia yang telah berkembang
sesuai dengan aturan sehingga menjadi bahasa jurnalistik. Dalam makalah ini
juga terdapat pedoman bahasa jurnalistik agar para jurnalis dapat mengikutin
aturan-aturan yang ada.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan Bahasa Jurnalistik?

b. Apa saja Karakter dan Pedoman dalam Bahasa Jurnalistik?

c. Apa yang dimaksud dengan Media Massa dan bentuk Media Massa?

1
1.3 Tujuan Masalah

Untuk mengetahui Bahasa Jurnalistik, Karakter, dan Pedoman


dalam Bahasa Jurnalistik serta pentingnya Bahasa Jurnalistik dalam Media
Massa.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Bahasa Jurnalistik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Bahasa jurnalistik
merupakan salah satu Ragam Bahasa Indonesia, selain dari Ragam Bahasa
Undang-Undang, Ragam Bahasa Ilmiah, dan Ragam Bahasa Sastra.
Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan informasi kepada
publik, jelas atau tidaknya informasi sangat ditentukan oleh baik tidaknya
bahasa yang digunakan. Bahasa jurnalistik harus menggunakan bahasa baku,
sesuai dengan Ejaan Yang di Sempurnakan. Selain itu, bahasa jurnalistik
juga harus mudah dipahami oleh pembacanya, karena pembaca tidak cukup
memahami jika kata-katanya sulit.

“Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian,


yang berbeda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan
pembicara, lawan bicara, dan orang-orang yang diajak bicara, dan
menurut medium pembicaraan. Ragam bahasa yang baik adalah ragam
bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam bahasa yang
baik (mempunyai presentasi yang tinggi, yang biasa digunakan di
kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah atau di dalam surat menyurat
yang bersifat resmi yang disebut ragam resmi).1”

Semakin berkembangnya informasi, teknologi dan komunikasi sangat


mempengaruhi penggunaan bahasa oleh manusia dalam interaksinya.
Pengaruh tersebut dikalifikasikan menjadi bahasa yang digunakan oleh anak-
anak, remaja, anak muda maupun dewasa. Hal ini berpengaruh pula pada
penggunaan bahasa jurnalistik di media.
Ada beberapa pendapat mengenai bahasa jurnalistik menurut para tokoh2 :

1
Waridah. Ragam Bahasa Jurnalistik. Jurnal Simbolika: Research and Learning in
Communication Study. Vol. 4. No. 2 (Oktober 2018), hlm: 122
2
Suhaemi dan Ruli Nasrullah, Bahasa jurnalistik. (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009) hlm. 37

2
1. Rosihan Anwar
Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau
bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu:
singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa
jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-
kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata
bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

2. S. Wojowasito
Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak
dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian
itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan
ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang
melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikian tuntutan bahwa
bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain
bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata
bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan
kata yang cocok.

3. JS Badudu
Bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas,
tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar
mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang
tidak sama tingkat pengetahuannya. Mengingat bahwa orang tidak harus
menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas,
tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-
ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan
dalam surat kabar.

4. Asep Syamsul M. Romli


Bahasa Jurnalistik/Language of mass communication. Bahasa yang
biasa digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa. Sifatnya :
komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan
(straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. Serta

3
spesifik, yaitu jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata,
menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-
kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya
singkat-singkat.

5. Dewabrata
Penampilan bahasa ragam jurnalistik yang baik bisa ditengarai
dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari atas sampai akhir,
menggunakan kata-kata yang merakyat, akrab di telinga masyarakat
sehari-hari, tidak menggunakan susunan yang kaku formal dan sulit
dicerna. Susunan kalimat jurnalistik yang baik akan menggunakan kata-
kata yang paling pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya.
Bahkan nuansa yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu
diperhitungkan.
Dari semua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bahasa
jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan baik tertulis
maupun tidak tertulis, lisan maupun tulisan yang sifatnya singkat, padat, jelas,
baku dan dapat difahami oleh masyarakan yang membaca atau
mendengarkannya. Jurnalistik dapat juga disebut sebagai aktivitas
menemukan, kegiatan untuk mengolah, dan kegiatan dalam menyebarkan
infomasi atau berita kepada khalayak umum melalui media massa (media
cetak, media elektronik atau media sosial).

2.1.1 Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Adapun karakteristik atau ciri bahasa jurnalistik tersebut adalah


sebagai berikut:3
1. Komunikatif
Ciri khas dan bahasa jurnalistik adalah tidak berbelit-belit,
tidak berbunga-bunga, harus terus langsung pada pokok
permassalahannya (straight to the point). Jadi, bahasa jurnalistik

3
Eka Puspitasari, Karakteristik Bahasa Jurnalistik Dalam Artikel Surat Kabar Priangan. Jurnal
Diksatrasia. Vol. 1. No. 1 (April 201 7).hlm: 3

4
harus lugas, sederhana, tepat diksinya, dan menarik sifatnya. Bahasa
jurnalistik yang memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, akan menjadi
bahasa yang komunikatif, bahasa yang tidak mudah menimbulkan
salah paham, bahasa yang tidak mudah menimbulkan tafsir ganda,
dan bahasa yang akan dicintai atau digemari massa.
Contoh:
Kehidupan artis selalu menjadi sorotan masyarakat. (tepat)
Kehidupan entertainer selalu menjadi sorotan publik. (tidak
tepat)
2. Spesifik
Bahasa jurnalistik harus disusun dengan kalimat-kalimat
yang singkat-singkat atau pendek-pendek. Bentuk-bentuk
kebahasaan yang sederhana, mudah diketahui oleh orang
kebanyakan, dan gampang dimengerti oleh orang awam, harus
senantiasa ditonjolkan atau dikedepankan di dalam bahasa
jurnalistik. Jadi, kata-kata yang muncul mesti spesifik sifatnya dan
denotatif maknanya, sehingga tidak dimungkinkan terjadi tafsir
makna yang ganda. Contoh judul artikel singkat padat dan menarik.
Contoh:
DPR akan mengesahkan UU Cipta Kerja. (tepat)
Dewan Perwakilan Rakyat yang sejatinya merupakan wakil
dari rakyat akan mengesahkan UU Cipta Kerja. (tidak tepat)
3. Hemat kata
Bahasa jurnalistik memegang teguh prinsip ekonomi bahasa
atau ekonomi kata (economy of words). Bentuk-bentuk kebahasaan
yang digunakan dalam bahasa jurnalistik sedapat mungkin berciri
minim karakter kata atau sedikit jumlah hurufnya. Preferensi jurnalis
harus mengarah pada bentuk-bentuk kata bersinonim yang lebih
sederhana dan singkat bentuknya, serta lebih sedikit jumlah huruf
atau karakternya, bukan pada bentuk-bentuk yang lebih panjang.
Contoh:
BBM naik, rakyat menjerit!

5
Pernyataan tersebut mengandung banyak informasi, dengan
kenaikan harga BBM rakyat kecil merasa hidupnya semakin
sulit, karena semua harga kebutuhan pokok menjadi semakin
mahal dan sulit terjangkau.

4. Jelas makna
Di dalam bahasa jurnalistik, sedapat mungkin digunakan
kata-kata yang bermakna denotatif (kata-kata yang mengandung
makna sebenarnya), bukan kata-kata yang bermakna konotatif (kata-
kata yang maknanya tidak langsung, kata-kata yang bermakna
kiasan). Penghalusan bentuk kebahasaan (eufemisme), justru dapat
dipandang sebagai pemborosan kata di dalam bahasa jurnalistik.
Contoh:
Basmi tuntas koruptor di negeri ini! Basmi tuntas tikus
berdasi di negeri ini! (menggunakan eufimisme)
5. Tidak mubazir
Bentuk mubazir menunjuk pada kata atau frasa yang
sebenarnya dapat dihilangkan dan kalimat yang menjadi wadahnya,
dan peniadaan kata-kata tersebut tidak mengubah arti atau
maknanya. Kata-kata mubazir ialah kata-kata yang berciri
memenatkan, melelahkan, membosankan, terus hanya begitu-begitu
saja, tidak ada inovasi, tidak ada variasi, hanya mengulangulang
keterlanjuran. Kata-kata yang demikian, lazim disebut dengan tiring
words. Bahasa jurnalistik harus menghindari itu semua, demi
maksud kejelasan, demi maksud kelugasan, dan demi ketajaman
penyampaian ide atau gagasan.
Contoh:
Basmi tuntas koruptor di negeri ini! (Lugas) Basmi tuntas
tikus berdasi di negeri ini! (menggunakan eufimisme)

Karakteristik atau ciri tersebut merupakan hal yang harus


dipenuhi oleh Bahasa Jurnalistik. Kalimat lebih mudah dipahami dan
lebih disukai oleh khalayak pembaca. Bahasa jurnalistik harus jelas

6
susunan katanya, dan dapat difahami maknanya. Berita ditulis untuk
dibaca atau didengar. Pembaca atau pendengar harus tahu arti atau
makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya.

2.1.2 Pedoman Bahasa Jurnalistik

“Setiap profesi maupun organisasi memiliki aturan serta


pedoman dalam menjalankan pekerjaannya, termasuk profesi
wartawan dalam menulis berita. Salah satu pedoman yang
digunakan yakni pedoman dari Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) yang dikeluarkan pada 10 November 1978. Berikut
Pedomannya” 4:

1. Wartawan sebaiknya memperhatikan penggunaan pedoman Ejaan


Bahasa Indonesia yang telah disempurnakan. Sebab, kesalahan
paling menonjol dalam sajian berita terdapat pada kesalahan ejaan
yang digunakan.

2. Wartawan hendaknya membatasi penggunaan singkatan atau


akronim. Jika menggunakan akronim, maka ia harus menjelaskan
kepanjangannya pada awal penulisan.

3. Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuan, bentuk awal


atau prefiks secara rata dalam sebuah berita.

4. Wartawan sebaiknya menulis dengan kalimat yang pendek, yang


mencakup satu gagasan dalam satu kalimat.

5. Wartawan sebaiknya menghilangkan kata mubadzir seperti adalah,


telah, dari, untuk, bahwa dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.

6. Wartawan sebaiknya mendisiplinkan pemikirannya, agar tidak


tercampur aduk dalam satu kalimat bentuk pasif (di) dengan bentuk
aktif (me).

4
Aris Takomala, Skripsi: Analisis Bahasa Jurnalistik Berita Umum Surat Kabar Republika Edisi
Desember 2008, (Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah : 2009). hlm: 45-47

7
7. Wartawan sebaiknya ingat bahwa, bahasa jurnalistik adalah bahasa
yang komunikatif dan sifatnya spesifik. Sebab, karangan yang baik
akan dinilai berdasarkan isi, bahasa serta teknik penyajian.

“Dalam bahasa jurnalistik, sedikitnya terdiri dari tiga


yaitu kata, kalimat dan paragraf (alinea). Ada aturan-aturan
dalam menulis ketiga unsur tersebut. Selain itu ada beberapa hal
yang diperhatikan dalam bahasa jurnalistik untuk menyusun
suatu kalimat. Seperti koherensi, penggunaan kata dan
sebagainya. Kata adalah kumpulan abjad yang disusun teratur
sehingga dapat memberikan makna. Kata ada beberapa bentuk
diantaranya adalah kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang dan
kata majemuk.”5

Berdasarkan karakteristik bahasa jurnalistik di atas dapat ditarik


kesimpulan, bahwa dalam penyampaian karya jurnalistik tidaklah asal
menulis saja. Tetapi terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh
setiap jurnalis dalam menyajikan sebuah berita yang baik dan benar
sesuai dengan aturan yang ada. Oleh sebab itu, sebuah berita haruslah
dibuat dengan bahasa yang menarik dan sederhana, namun dalam
penulisannya tetap memperhatikan ejaan yang benar.

2.2 Media Massa

Media massa merupakan salah satu alat yang digunakan untuk


berkomunikasi setiap hari, kapan saja dan dimana saja antara satu orang
dengan orang yang lain. Setiap orang akan selalu memerlukan media massa
untuk mendapatkan informasi mengenai kejadian di sekitar mereka, dengan
media massa pula orang akan mudah mendapatkan informasi yang mereka
butuhkan pada saat tertentu mereka menginginkan informasi. Disisi lain
manusia dapat berbagi kejadian – kejadian yang terjadi di sekitar mereka
kepada orang lain. Sehingga antara satu orang dengan orang lain di daerah
yang berbeda dapat melakukan pertukaran informasi mengenai kejadian
disekitar mereka melalui media massa.

“Pers adalah lembaga tempat berhimpunnya kegiatan


jurnalistik yang dijalankan oleh para wartawan yang menghasilkan
5
Loc.cit. hlm: 47-48

8
media massa. Media massa adalah tempat dimuat atau disiarkannya
hasil kerja wartawan. Komunikasi massa adalah bentuk komunikasi
dengan menggunakan media massa.”6

Hal itu mengandung arti bahwa antara pers, media massa, dan
komunikasi massa berbeda. Karena dalam konteks pembedaan tersebut
menunjukkan antara pers, media massa, dan komunikasi massa sangat
berkesinambungan. Pers adalah lembaganya, komunikasi massa prosesnya,
dan media massa adalah hasilnya. Oleh karena itu, ketika terdapat etika yang
berisi aturan-aturan yang harus ditaati, maka baik pers, komunikasi massa,
maupun media massa akan merupakan bagian yang ikut terikat oleh aturan
tersebut.

2.2.1 Bentuk-Bentuk Media Massa

“Sebagaimana disampaikan di muka, media massa


sekarang ini lahir dengan berbagai bentuk yang beragam.
Walaupun secara umum media massa berdasarkan bentuknya
dibagi tiga, yakni media cetak, media elektronik, dan media
sosial. Sebagai berikut:” 7

1. Media Cetak
Media cetak adalah media yang proses pembuatannya
melalui percetakan, seperti, surat kabar, majalah, bulletin, dan
sejenisnya. Surat kabar yang sering lekat juga disebut Koran adalah
salah satu media cetak utama.

2. Media Elektronik
Media massa elektronik adalah sarana komunikasi massa
melalui perangkat-perangkat elektronik seperti televisi dan radio.
Sedangkan media cetak adalah sarana komunikasi massa melalui
tulisan seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan lain-lain. Media
massa elektronik salah satu media yang memiliki kekhususan, hal itu
terletak pada dukungan elektronik dan teknologi yang menjadi
kekuatan dari media yang berdasar pada elektronik. Salah satu

6
Mahi M. Hikmat, Jurnalistik Literary Journalism. Prenadamedia Group. Jakarta, 2018. hlm: 31
7
Loc.cit, hlm: 34

9
kelebihan media elektronik adalah sifatnya yang real time atau
disiarkan secara langsung apabila ada peristiwa atau kejadian yang
sedang terjadi. Menurut khalayak, media elektronik sifatnya lebih
instan dari pada media cetak, sehingga media elektronik lebih
banyak dipilih oleh khalayak daripada media cetak.

3. Media Sosial

Media sosial adalah salah satu media massa dari ketiga media
massa, yakni media cetak dan media elektronik. Kebetulan pada era
ini media sosial tengah mengalami massa puncaknya karena
didukung oleh perkembangan teknologi infomasi yang sangat pesat,
terutama internet yang merambah dengan dapat menggunakan media
apapun, termasuk hand phone yang jelas menjadi bagian hal yang
sangat pribadi. Media sosial adalah sebuah media online, dengan
para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan
menciptakan isi meliputi, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia
virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial
yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

10
BAB III PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan


baik tertulis maupun tidak tertulis, lisan maupun tulisan yang sifatnya singkat,
padat, jelas, baku (sesuai ejaan) dan dapat difahami oleh masyarakan yang
membaca atau mendengarkannya. Jurnalistik dapat juga disebut sebagai
aktivitas menemukan, kegiatan untuk mengolah, dan kegiatan dalam
menyebarkan infomasi atau berita kepada khalayak banyak lewat media
massa cetak, media elektronik atau media sosial.
Bahasa jurnalistik juga mempunyai beberapa karakteristik, antara
lain : Komunikatif, Spesifik, Hemat Kata, Jelas Makna, dan Tidak Mubazir.
Dengan kalimat singkat dan kata-kata positif, mengandung banyak fakta,
bahasanya dapat difahami masyarakat, dengan mengutamakan isi, agar
bahasa tidak berbelit-belit. Adapun bentuk-bentuk media massa yaitu: Media
Cetak seperti, surat kabar, majalah, bulletin, dan sejenisnya. Media Elektronik
seperti televisi dan radio, dan Media Sosial dengan menciptakan isi meliputi,
jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
3.2 Kritik dan Saran

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi “Bahasa


Jurnalistik dalam Media Massa” yang menjadi pokok bahasan dalam makalah
ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnnya referensi dalam makalah ini.
Semoga makalah ini dapat membantu tugas teman – teman. Kami sebagai
penulis banyak berharap kepada para pembaca agar dapat memberikan kritik
dan saran yang dapat membangun kami.

11
DAFTAR PUSTAKA

Aris Takomala, Skripsi (2009): Analisis Bahasa Jurnalistik Berita Umum Surat
Kabar Republika Edisi Desember 2008, Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah : 2009

(WEB 11 Oktober 2020. 14.02)

Eka Puspitasari (2017). Karakteristik Bahasa Jurnalistik Dalam Artikel Surat


Kabar Priangan. Jurnal Diksatrasia. Vol. 1. No. 1. 2017

(WEB 10 Oktober 2020. 13:47)

Mahi M. Hikmat (2018). Jurnalistik Literary Journalism. Prenadamedia Group.


Jakarta, 2018

Suhaemi dan Ruli Nasrullah (2009). Bahasa jurnalistik. Jakarta: Lembaga


Penelitian UIN Jakarta, 2009

(WEB 9 Oktober 2020. 21:00)

Waridah (2018). Ragam Bahasa Jurnalistik. Jurnal Simbolika: Research and


Learning in Communication Study. Vol. 4. No. 2. 2018

(WEB 9 Oktober 2020. 20:15)

12