Anda di halaman 1dari 11

Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X

Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

Pengaruh Model Pembelajaran Learning Together (LT) Berbantuan Media


Monopoli terhadap Hasil Belajar Matematika

The Influence of Learning Together (LT) Model Assisted Monopoly Media


toward Mathematic Learning Outcomes

Griva Anggriasari, Tawil, & Tria Mardiana


Universitas Muhammadiyah Magelang, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
griva.anggriasari@gmail.com

Naskah diterima tanggal 02/06/2020, direvisi akhir tanggal 05/08/2020, disetujui tanggal 30/08/2020

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Learning Together (LT)
berbantuan media monopoli terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD N 2 Pangenrejo,
Purworejo.Penelitian ini merupakan jenis penelitian pre eksperimen. Subjek penelitian dipilih secara
Sampling Jenuh. Sampel yang diambil sebanyak 31 siswa. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan tes. Uji validitas instrumen tes menggunakan teknik korelasi product moment
Uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Analisis data menggunakan teknik
statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Learning Together
(LT) berbantuan media monopoli berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika. Hal ini
dibuktikan dari hasil analisis uji Wilcoxon pada hasil pretest dan posttest. Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan, diperoleh nilai Z sebesar -2,038 dengan Asymp. Sig 2 tailed sebesar 0,042 (0,042<0,005).
Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Learning Together
(LT) berbantuan media monopoli berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika.
Kata Kunci: hasil belajar, matematika, model pembelajaran learning together (LT)

Abstract
The aims of this research is to understand the influence of Learning Together model assisted monopoly
media toward the 4th grade students in Primary Scool State 2 Pangenrejo, Purworejo. This kind of
research is pre experimental. The subjects of this reasearch have chosen by saturated sample. The
sample that took from 31 students The method of collecting data by giving the test. The experiment
validity instrument test using coleration technique product moment. Prerequisite experiment analysis
consist of normality experiment and homogeneous experiment. Data analysis using statistic technique
Wilcoxon. The result of this research shows that Learning Together model with monopoly media giving
positive influences toward mathematic learning outcomes. This is proved by the analysis result by
Wilcoxon to pretest and posttest results. According to the result analysis and discussion was obtained Z
Value with amount of -2,038 with Asymp. Sig 2 tailed with amount of 0,042 (0,042<0,005). The result
from this research could be concluded that using learning together model assisted monopoly media
giving positive influence toward mathematic learning outcomes.
Keywords: Learning Outcomes, learning together model, mathematic

I. PENDAHULUAN selaras dengan tujuan pendidikan dalam


Guru hendaknya memberikan bekal dasar, ruang lingkup pendidikan dasar. Terdapat
pengetahuan serta keterampilan dasar beberapa bidang studi atau mata pelajaran
yang bermanfaaat bagi siswa. Hal tersebut pada pendidikan dasar, salah satunya yaitu

243 Jurnal Penelitian Pendidikan


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

matematika. tertarik dan menyukai pelajaran matematika,


Matematika merupakan salah akan berdampak positif pada hasil belajar
satu pelajaran yang menggunakan siswa. Tidak hanya itu, sangat penting
keterampilan berhitung yang dapat diterapkannya model pembelajaran yang
digunakan untuk menyelesaikan masalah. inovatif dan interaktif, karena sejatinya
Menurut Hernawan et al., (2007:27) mata anak usia IV SD sudah memasuki tahapan
pelajaran matematika berfungsi untuk operasional konkret yaitu usia 10 tahun,
mengembangkan kemampuan komunikasi dimana usia tersebut anak telah memiliki
dengan menggunakan bilangan dan simbol- kecakapan berpikir logis, namun hanya
simbol serta ketajaman penalaran yang dapat dengan benda-benda yang bersifat konkret.
membantu memperjelas dan menyelesaikan Oleh sebab itu, menyajikan matematika
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. dengan model pembelajaran yang inovatif
Matematika merupakan salah satu ilmu pasti, tentunya dapat mengembangkan cara berpikir
namun justru kebanyakan siswa menganggap anak agar lebih terampil dengan matematika.
bahwa matematika merupakan mata Terdapat banyak model pembelajaran
pelajaran yang sulit dipahami. Hal tersebut yang dapat digunakan dalam pembelajaran
menyebabkan kurang maksimalnya hasil matematika, salah satunya yaitu model
belajar siswa khususnya matematika. pembelajaran cooperatif learning tipe learning
Terkait dengan hal tersebut, together (LT). Menurut Fathurrohman (2015)
berdasarkan hasil observasi dan wawancara model pembelajaran cooperatif learning tipe
yang dilakukan peneliti di SD N 2 learning together (LT) merupakan salah
Pangenrejo, bahwa terdapat siswa kelas IV satu model pembelajaran yang menekankan
sekolah tersebut hasil belajar matematika pada empat aspek yaitu interaksi tatap muka,
kurang maksimal dan materi pelajaran yang kemampuan siswa dalam mengembangkan
paling dianggap sulit bagi siswa yaitu materi pemikirannya melalui penukaran gagasan
keliling dan luas bangun datar. Pembelajaran antarkelompok, tanggung jawab individual
matematika pada sekolah tersebut pun belum dan kemampuan interpersonal siswa sehingga
menerapkan prinsip PAKEM (Pembelajaran dapat dikatakan jika model pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). learning together (LT) merupakan model
Berdasarkan observasi dan pembelajaran yang berupaya mengasah
wawancara yang dilakukan, terdapat kemampuan berpikir siswa yang dibangun
beberapa anak yang mengalami kesulitan melalui kerjasama kelompok dan tim serta
saat mengerjakan matematika khususnya dapat bermanfaat untuk memaksimalkan
materi keliling dan luas bangun datar, saat hasil belajar matematika siswa.
pembelajaran pun siswa pasif dan tidak Guna mencapai pembelajaran yang
berani untuk mengerjakan soal didepan kelas. lebih bermakna untuk memaksimalkan hasil
Mereka beranggapan jika materi matematika belajar matematika siswa, maka peneliti
terlalu sulit dan banyak sehingga mereka membuat sebuah media pembelajaran
mengalami kesulitan untuk memahaminya. yang diharapkan mampu menciptakan
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan pembelajaran yang lebih bermakna dengan
guru untuk meningkatkan hasil belajar menggunakan prinsip PAKEM (pembelajaran
matematika, diantaranya memilih model aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan)
pembelajaran yang inovatif dan interaktif, melalui media pembelajaran yaitu Monopoli
memberi motivasi, dan menggunakan media Matematika. Media monopoli tersebut juga
pembelajaran yang mampu menunjang proses dikombinasikan dengan model pembelajaran
pembelajaran agar menjadi lebih bermakna. kooperatif tipe learning together (LT).
Model pembelajaran yang inovatif Adanya kombinasi media dan model
dan interaktif, dapat membantu siswa agar pembelajaran tersebut diharapkan mampu
merasa tertarik dan menyukai pelajaran membantu meningkatkan hasil belajar
matematika, tentunya apabila siswa merasa matematika khususnya materi keliling dan

Jurnal Penelitian Pendidikan 244


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

luas bangun datar. masalah dalam kehidupan sehari-hari.


Belajar merupakan suatu aktivitas Berdasarkan uraian di atas, maka
dilakukan secara disengaja dalam upaya dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
memperoleh perubahan dan perbaikan. Hal ini matematika adalah puncak dari kegiatan
sesuai pendapat Suyono (2011) bahwa belajar belajar yang berupa perubahan dalam bentuk
adalah suatu aktivitas atas suatu proses untuk kognitif, afektif, dan psikomotor dalam hal
memperoleh pengetahuan, meningkatkan kemampuan tentang kemampuan bilangan,
keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap bangun, hubungan-hubungan konsep dan
dan mengokohkan kepribadian. Sedangkan logika yang berkesinambungan serta dapat
menurut Hamalik (2016) bahwa belajar diukur atau diamati.
adalah modifikasi atau memperteguh Terkait dalam hal tersebut, penelitian
kelakuan melalui pengalaman (learning is ini berfokus pada hasil belajar dalam ranah
defined as the modification or strengthening kognitif yang mencakup kegiatan mental
of behavior through experience). (otak) siswa, yang terdiri dari pengetahuan,
Kegiatan belajar yang dilakukan pemaahaman, penerapan, analisis, sintesis
menghasilkan suatu hasil dalam bentuk dan evaluasi. Hasil belajar yang dimaksud
perubahan ke arah yang lebih baik yang adalah hasil belajar matematika pada materi
disebut hasil belajar. Hasil belajar mencakup keliling dan luas bangun datar.
bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Bangun datar adalah bagian dari
Hal ini sesuai pendapat Sudjana (2004) bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis
bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya lurus atau lengkung. Bangun datar atau
adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil bangun dua dimensi adalah kurva tertutup
belajar dalam pengertian lebih luas mencakup sederhana yang terletak pada bidang. Bangun
bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. datar yang dipelajari disini yaitu persegi,
Menurut Dimyati & Mudjiono persegi panjang dan segitiga.
(2017) hasil belajar merupakan hasil dari Keliling bangun datar merupakan
suatu interaksi tindak belajar dan tindak jumlah keseluruhan sisi yang dimiliki oleh
mengajar. Sedangkan menurut Susilo & suatu bangun datar. Sedangkan luas bangun
U.S., (2015) bahwa hasil belajar adalah datar merupakan banyaknya persegi (2)
pola-pola perubahan tingkah laku seseorang dengan sisi satuan panjang yang menutupi
yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan/ seluruh bangun datar tersebut. Penyampaian
atau psikomotor setelah menempuh kegiatan materi tersebut dikemas dalam sebuah model
belajar tertentu yang tingkat kualitas pembelajaran agar informasi dapat diperoleh
perubahannya sangat ditentukan oleh langsung oleh siswa.
faktor-faktor yang ada dalam diri siswa dan Model pembelajaran adalah suatu
lingkungan sosial yang mempengaruhinya. perencanaan atau suatu pola yang digunakan
Matematika merupakan salah satu sebagai pedoman dalam merencanakan
mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan di pembelajaran di kelas atau pembelajaran
tingkat SD. Matematika merupakan pelajaran dalam tutorial. Menurut Arend dalam
yang berkaitan dengan bilangan atau angka, Trianto (2007:51) model pembelajaran
hubungan-hubungan, dan logika. Menurut mengacu pada pendekatan pembelajaran
Suriasumantri (2001) bahwa matematika yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
adalah bahasa yang melambangkan tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap
serangkaian makna dari pernyataan yang dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
ingin kita sampaikan. Sedangkan Suhendri pembelajaran dan pengelolaan kelas. Hal ini
(2011) mengemukakan bahwa matematika sesuai dengan pendapat Joyce dalam Trianto
adalah ilmu tentang bilangan, bangun, (2007:51) bahwa Each model guides us as we
hubungan-hubungan konsep, dan logika design instruction to help students achieve
dengan menggunakan bahasa lambang atau various objectives. Maksudnya bahwa setiap
simbol dalam menyelesaikan masalah- model mengarahkan kita dalam merancang

245 Jurnal Penelitian Pendidikan


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

pembelajaran untuk membantu peserta didik pembelajarannya. Melalui belajar secara


mencapai tujuan pembelajaran. kelompok, peserta didik memperoleh
Joyce dan Weil dalam Trianto kesempatan untuk saling berinteraksi dengan
(2007:51) menyatakan bahwa Models of teman-temannya.
teaching are really models of learning. As Berdasarkan pernyataan di atas dapat
we help student acqure information, ideas, disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
skills, value, ways, of thinking and means of adalah rangkaian kegiatan belajar yang
expressing themselves, we are also teaching dilakukan oleh siswa berupa pemanfaatan
them how to learn. Hal ini berarti bahwa kelompok kecil dalam pengajaran yang
model mengajar merupakan model belajar, memungkinkan siswa bekerja bersama untuk
dengan model tersebut guru dapar membantu memaksimalkan belajar anggota lainnya
siswa untuk mendapatkan atau memperoleh dalam kelompok tersebut melalui belajar
informasi, ide, keterampilan, cara berpikir secara kelompok, peserta didik memperoleh
dan mengekspresikan diri sendiri. Selain itu, kesempatan untuk saling berinteraksi dengan
mereka juga mengajarkan bagaimana mereka teman-temannya.
belajar. Menurut Suprijono (2010:65) dalam
Berdasarkan uraian diatas, model pembelajaran kooperatif terdapat beberapa
pembelajaran adalah kerangka konseptual variasi model yang dapat diterapkan, yaitu
yang melukiskan prosedur sistematik dalam diantaranya: Team Game Tournament (TGT),
mengorganisasikan perngalaman belajar Student Team Achievement Division (STAD),
untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan Jigsaw, Group investigation (GI), Rotating
berfungsi sebagai pedoman bagi perancang Trio Exchange, Group Resume, Learning
pembelajaran dan para guru dalam merancang Together (LT). Menurut Fathurrohman
dan melaksanakan pembelajaran. (2015) Model pembelajaran kooperatif tipe
Menurut Suprijono (2010), terdapat Learning Together (belajar bersama) pertama
empat jenis-jenis model pembelajaran yaitu kali dikembangkan oleh David Johnson dan
Model Pembelajaran Berbasis Langsung Roger Johnson di Universitas Minnesota
(Direct Instruction), Model Pembelajaran pada tahun 1999. Menurut model ini, siswa
Berbasis Masalah, Model Pembelajaran dibentuk menjadi 4-5 siswa yang heterogen
Kontekstual (Contextual Teaching and untuk mengerjakan sebuah lembar tugas.
Learning) dan Model Pembelajaran Setiap kelompok hanya diberikan satu lembar
Cooperative (Cooperative Learning). Model kerja saja. Mereka kemudian diberikan
pembelajaran kooperatif adalah salah satu pujian dan penghargaan berdasarkan hasil
model pembelajaran yang menempatkan kerja kelompok. Menurut model ini juga,
siswa sebagai subjek pembelajaran (student setiap kelompok diarahkan untuk melakukan
oriented). Dengan suasana kelas yang kegiatan-kegiatan guna membangun
demokratis, yang saling membelajarkan, kekompakan kelompok terlebih dahulu dan
memberi kesempatan, peluang lebih besar diskusi tentang bagaimana sebaiknya mereka
dalam memberdayakan potensi siswa secara bekerja sama dalam kelompok.
maksimal. Menurut David W. Johnson Tujuan pembelajaran tipe Learning
dalam Fathurrohman (2015), pembelajaran Together (LT) ini setiap kelompok
kooperatif merupakan proses belajar mengajar diharapkan dapat membangun dan menilai
yang melibatkan penggunaan kelompok- sendiri kinerja kelompok mereka. Masing-
kelompok kecil yang memungkinkan masing kelompok harus bisa memperlihatkan
siswa untuk bekerja bersama-sama guna bahwa kelompok mereka adalah kelompok
memaksimalkan pembelajaran mereka yang kompak baik dalam hal diskusi
sendiri dan pembelajaran satu sama lain. maupun dalam hal mengerjakan soal. Setiap
Pembelajaran cooperative anggota kelompok juga bertanggung jawab
menekankan kerja sama antar peserta didik atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil
dalam kelompok untuk mencapai tujuan tersebut belum maksimal atau lebih rendah

Jurnal Penelitian Pendidikan 246


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

dari kelompok lain, maka mereka harus 2015:25). Kelebihan metode Learning
meningkatkan kinerja kelompoknya (Slavin, Together (LT) yaitu: 1) Dapat memperluas
2015). Berikut ini merupakan langkah wawasan siswa; 2) Mengajarkan kerjasama,
pembelajaran Learning Together (LT) tanggung jawab dan disiplin pada siswa; 3)
menurut Fathurrohman (2015) : Meningkatkan kreativitas dan kemampuan
1. Guru menyajikan pelajaran siswa dalam berpikir kritis; 4) Siswa menjadi
Penyajian materi ini mengutamakan lebih aktif dalam pembelajaran karena
aktivitas siswa sehingga dalam prosesnya diberi bahan diskusi oleh guru dan harus
guru lebih banyak berperan sebegai berpikir kritis dalam menyelesaikan tugas
fasilitator dan pembimbing. Hal tersebut dari guru; dan 5) Siswa termotivasi untuk
dikarenakan kegitan ini bertujuan untuk memperdalam pemahamannya menguasai
menghasilkan suatu proses perubahan materi.Sedangkan kekurangan metode
tingkah laku. Learning Together (LT) yaitu : 1) Hanya
2. Membentuk kelompok yang cocok diterapkan untuk kegiatan diskusi
beranggotakan 4-5 siswa secara atau presentasi; 2) Memerlukan waktu yang
heterogen. relatif lama dan sedikit membosankan; 3)
Kelompok merupakan kumpulan yang Tidak dapat melihat kemampuan masing-
terdiri dari dua oarang atau lebih yang masing siswa karena mereka bekerja dalam
terjalin saling terhubung satu sama lain. kelompok; 4) Kemungkinan terdapat siswa
Terkait dengan hal tersebut, kelompok yang mengambil jalan pintas dengan meminta
disini bertujuan untuk membentuk tolong pada temannya untuk mencarikan
kumpulan siswa yang saling terhubung jawaban.
satu sama lain untuk mencapai tujuan Ketercapaian tujuan pembelajaran
dalam proses pembelajaran. dipengaruhi oleh banyak faktor seperti
3. Masing-masing kelompok menerima motivasi siswa, pendekatan yang digunakan,
lembar tugas untuk bahan diskusi dan interaksi dalam proses pembelajaran.
menyelesaikannya. Oleh sebab itu tidak hanya menggunakan
Tugas yang diberikan berupa lembar model pembelajaran untuk menyampaikan
kerja yang digunakan untuk diskusi materi namun juga menggunakan media
bersama kelompoknya untuk mencapai pembelajaran sebagai alat bantu dalam
suatu tujuan dalam pembelajaran. proses pembelajaran. Kata media merupakan
4. Beberapa kelompok mempresentasikan bentuk jamak dari kata medium. Medium
hasil pekerjaannya. dapat didefinisikan sebagai perantara
Kegiatan ini dilakukan dengan cara salah atau penerima terjadinya komunikasi dari
satu siswa untuk maju kedepan kelas pengirim menuju penerima (Heinich et al.,
menyampaikan hasil diskusi dengan 2012; Ibrahim, 1997; Ibrahim et al., 2001).
kelompoknya agar semua siswa dan Menurut Daryanto (2010) media merupakan
guru memperoleh informasi terkait hasil salah satu komponen komunikasi yaitu
kelompok tersebut. sebagai pembawa pesan dari komunikator
5. Pemberian pujian dan penghargaan menuju komunikan. Berdasarkan definisi
berdasarkan hasil kerja kelompok. tersebut maka dapat dikatakan bahwa media
Bentuk penghargaan dan pujian yang pembelajaran merupakan proses komunikasi.
diberikan kepada kelompok berdasarkan Jadi, media pembelajaran adalah
pada pembelajaran individual semua segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
anggota kelompok sehingga dapat menyalurkan pesan (bahan pembelajaran),
meningkatkan pencapaian siswa dan sehingga dapat merangsang perhatian, minat,
memiliki pengaruh positif pada hasil pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan
yang dikeluarkan. belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Learning Together memiliki Media atau bahan sebagai sumber
beberapa kelebihan dan kelemahan (Slavin, belajar merupakan komponen-komponen

247 Jurnal Penelitian Pendidikan


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

dari sistem instruksional di samping pesan, digunakan untuk menyalurkan pesan dari
orang, teknik latar dan peralatan (Wiroatmojo pengirim ke penerima pesan. Menurut Arsyad
& Sasonoharjo, 2002). Pengertian media (2009:54), karakteristik beberapa jenis media
ini sering dikacaukan dengan peralatan. yang biasa digunakan dalam kegiatan belajar
Menurut Sadiman et al., (2018) bahwa media mengajar yaitu
pembelajaran segala sesuatu yang dapat
Tabel 1. Klasifikasi dan Jenis Media
Kelompok Jenis Media
Media Grafis Gambar/foto Kartun
Sketsa Poster
Diagram Peta dan Globe
Grafik Papan Flanel
Bagan Papan Buletin
Media Audio Radio
Tape/Audio CD
Media Proyeksi Diam Film Bingkai (Slide Film)
Media Tranparansi (OHT)
Media Proyeksi Gerak (Audio Visual) Film
Program Siaran TV
Video (cassette, laserdisc, compact disc)
Multimedia File program komputer multimedia
Benda atau model Benda nyata (asli)
Benda tiruan (model)

Media permainan monopoli adalah dalam media grafis. Hal tersebut dikarenakan
suatu media yang dibuat dari permainan monopoli berfungsi untuk menyalurkan pesan
monopoli. Dengan kata lain, media ini berupa dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang
permainan monopoli yang isi dan beberapa dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan
aturannya sudah diubah dan disesuaikan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam
dengan SK, KD, dan tujuan pembelajaran. simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-
Penggunaan bantuan media monopoli untuk simbol tersebut perlu dipahami benar artiya
memberikan variasi dalam mengatasi sikap agar proses penyampaian pesan dapat berhasil
pasif siswa. Merujuk dari Sadiman et al., dan efisien. Selain itu, secara khusus monopoli
(2018) media digunakan untuk menyalurkan juga berfungsi untuk menarik perhatian,
pesan dari guru kepada siswa sehingga dapat memperjelas sajian ide, menggambarkan atau
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan menghiasi fakta yang mungkin akan cepat
minat serta perhatian siswa sedemikian rupa dilupakan atau diabaikan.
sehingga proses belajar terjadi. Monopoli
adalah satu permainan papan dan pemain II. METODE PENELITIAN
berlomba untuk mengumpulkan kekayaan Metode penelitian yang digunakan
melalui satu pelaksanaan sistem permainan dalam penelitian ini adalah penelitian pre
dengan memasukan petak pertanyaan yang eksperimen. Penelitian ini digunakan untuk
akan dijawab oleh peserta permainan. menguji model pembelajaran Learning
Berdasarkan jenis media dari Together (LT) berbantuan media monopoli
aspek perkembangan teknologi, monopoli terhadap hasil belajar matematika. Penelitian
tergolong ke dalam media tradisional ini menggunakan desain penelitian One
kategori permainan. Sedangkan berdasarkan Group Pretest Postest. Desain penelitiannya
klasifikasi media, monopoli tergolong ke sebagai berikut :

Jurnal Penelitian Pendidikan 248


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

Tabel 2. One Group Pretest Posttest

Pretest Perlakuan Postest


O1 X O2
Keterangan :
O1 : Pemberian Pretest (sebelum diberi perlakuan)
X : Perlakuan pada kelas yang diuji menggunakan kombinasi model
pembelajaran Learning Together dengan media monopoli.
O2 : Pemberian Postest (sesudah diberi perlakuan)

Sampel dan sumber data yang awal hasil belajar matematika sebelum
digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa diberikan perlakuan pada peserta didik.
kelas IV SD N 2 Pangenrejo dengan jumlah Pretest dilaksanakan dengan cara
31 siswa. Sampel tersebut dipilih secara siswa mengerjakan lembar soal yang
jenuh atau sensus, dimana semua anggota telah disiapkan peneliti dengan jumlah
populasi dijadikan sebagai sampel. soal sebanyak 23 nomor. Hasil dari
Teknik pengumpulan data yang mengerjakan soal tersebut, selanjutnya
digunakan yaitu Tes. Tes yang digunakan dijadikan data untuk melanjutkan
dalam penelitian ini yaitu berupa pilihan penelitian. Pretest dilaksanakan pada
ganda. Tes tertulis dalam penelitian ini hari Senin 9 Maret 2020.
digunakan untuk mengukur hasil belajar b. Pemberian Treatment. Pemberian
matematika siswa materi keliling dan luas treatment atau perlakuan dengan
bangun datar dalam ranah kognitif. Dengan menggunakan model pembelajaran
analisis data yang dipakai yaitu uji normalitas, Learning Together (LT) digunakanguru
homogenitas dan hipotesis. untuk membantu siswa dalam memahami
materi keliling dan luas bangun
III. HASIL DAN PEMBAHASAN datar. Siswa mengikuti pembelajaran
3.1 Hasil matematika materi keliling dan luas
Hasil penelitian ini terbagi menjadi bangun datar dengan model Learning
dua bahasan yaitu deskripsi pelaksanaan Together (LT) secara aktif. Kegiatan
penelitian dan deskripsi data penelitian. pembelajaran dilaksanakan sesuai
Berikut merupakan jabaran dari keduanya : dengan RPP yang dibuat peneliti yang
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian sudah melalui validasi instrumen dengan
1. Persiapan Penelitian penilaian umum baik dan dapat digunakan.
Peneliti melaksanakan observasi RPP berisi kegiatan pembelajaran dengan
pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Pangenrejo tahap-tahap model Learning Together
yang terdiri dari 1 kelas dengan jumlah (LT) yang harus dilakukan ketika
siswa sebanyak 31 siswa. Kemudian mengajar. Treatment diberikan sebanyak
peneliti menyiapkan instrumen perangkat 4x, yaitu pada tanggal 10 Maret 2020
pembelajaran dan uji coba soal. dan 11 Maret 2020, dimana dalam satu
2. Pelaksanaan Penelitian hari dilaksanakan treatment sebanyak
a. Pelaksanaan Pengukuran Pretest. Pretest 2x. Berikut akan disajikan tabel jadwal
diberikan untuk mengetahui kemampuan pelaksanaan penelitian, yaitu :
Tabel 3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tanggal Waktu Keterangan
9 Maret 2020 09.00-10.30 Pelaksanaan pretest
10 Maret 2020 09.00-10.30 Pelaksanaan treatment 1 dan tretment 2
11 Maret 2020 09.00-10.30 Pelaksanaan treatment 3 dan treatment 4
12 Maret 2020 09.00-10.30 Pelaksanaan posttest

249 Jurnal Penelitian Pendidikan


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

c. Pelaksanaan Posttest. Posttest diberikan Kamis, 12 Maret 2020.


kepada siswa kelas IV SD 2 Pangenrejo B. Deskripsi Data Penelitian
dengan tujuan untuk mengetahui hasil Nilai hasil belajar matematika
belajar matematika materi keliling dan diketahui dari hasil pretest dan posttest.
luas bangun datar. Setelah diberi perlakuan Pretest diberikan pada diawal pertemuan,
dengan model pembelajaran Learning selanjutnya kelas diberi perlakuan dengan
Together (LT), Posttest dilaksanakan menggunakan model pembelajaran Learning
dengan berupa kegiatan yang sama yaitu Together (LT) berbantuan media monopoli.
para siswa diberikan sebuah lembar soal Kemudian selanjutnya yaitu pelaksanan
yang berjumlah 23 nomor untuk dikerjakan. posttest. Posttest diberikan pada diakhir
Soal yang diberikan merupakan soal pertemuan. Hasil posttest tersebut untuk
yang sama yang diberikan ketika pretest, mengetahui adanya pengaruh penggunaan
sehingga peneliti mengacak kembali model pembelajaran Learning Together (LT)
urutan nomor soal agar para siswa tidak dengan media monopoli terhadap hasil belajar
memberikan jawaban yang sama dengan matematika. Berikut merupakan hasil belajar
pretest. Posttest dilaksanakan pada hari matematika siswa yaitu sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Belajar Matematika
 Frekuensi
Interval  Kategori 
Pretest Posttest
91-100 Sangat baik 4 7
75-90 Baik 8 7
60-74 Cukup 3 3
40-59 Kurang 7 8
≤40 Kurang sekali 9 6
  Nilai Terendah 17,39 30,43
  Nilai Tertinggi 100 100
  Rata-Rata 59,80 65,49
Sumber: Ismet & Hariyanto (2015:229)
Berdasarkan tabel 6, dapat dilihat nilai dan posttest 100. Nilai terendah untuk pretest
rata-rata hasil belajar matematika siswa adalah 17,39 dan posttest 30,43. Data hasil belajar
untuk pretest 59,80 dan posttest 65,49. Siswa matematika selanjutnya disajikan dalam
memperoleh nilai tertinggi untuk pretest 100 bentuk diagram batang sebagai berikut :

Gambar 1. Diagram Batang Hasil Belajar Matematika

Jurnal Penelitian Pendidikan 250


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

C. Uji Prasyarat Analisis pretest dan posttest. Uji normalitas bertujuan


1. Uji Normalitas. untuk mengetahui data pretest dan posttest
Uji normalitas dilakukan pada data berdistribusi normal atau tidak.
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas
Statistik df Sig.
Pretest 1,171 31 0,022
Posttest 1,149 31 0,076

Berdasarkan tabel hasil uji normalitas 2. Uji Homogenitas


dapat dijelaskan bahwa hasil uji normalitas Kriteria pengambilan keputusan
dengan uji Kolmogorov Smirnov diperoleh dalam uji homogenitas ini adalah apabila
Asymp. Sig (2-tailed) pretest sebesar 0,022 signifikansi >0,05 berarti varian bersifat
dan posttest sebesar 0,076. Data pretest homogen (Ho diterima), sebaliknya apabila
0,022<0,05 dan posttest 0,076>0,05 sehingga signifikansi <0,05 berarti varian bersifat
data pretest berdistribusi tidak normal heterogen (Ho ditolak).
sedangkan data posttest berdistribusi normal.
Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas
Levene Statistic Sig. Keterangan
Pretest 0,019 0,890 Sig. > 0,05 Homogen
Posttest 0,004 0,951 Sig. > 0,05 Homogen

Berdasarkan hasil uji homogenitas menggunakan statistik non parametrik.


menggunakan uji statistik levene diketahui Penggunaan statistik non parametrik
bahwa nilai sig. pada data pretest sebesar didasarkan karena data yang diperoleh tidak
0,890 dan data posttest sebesar 0,951. Data memenuhi salah satu asumsi dari statistik
pretest 0,890>0,05 sehingga data pretest parametrik yaitu pemilihan subjek yang
dinyatakan memiliki varian yang sama atau tidak secara random, hasil uji prasyarat data
homogen. Data posttest 0,951>0,05 sehingga bagian uji normalitas data pretest yang tidak
data posttest memiliki varian yang sama atau normal sehingga tidak memenihi salah satu
homogen. asumsi statistik parametrik. Hipotesis dalam
3. Uji Hipotesis penelitian ini adalah :
Analisis data dilakukan dengan
Ho : Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran learning together (LT)
terhadap hasil belajar matematika kelas IV materi keliling dan luas bangun
datar.
Ha : Terdapat pengaruh model pembelajaran learning together (LT) terhadap
hasil belajar matematika kelas IV materi keliling dan luas bangun datar.

Tabel 7. Hasil Uji Wilcoxon


Z Sig.
Posttest-Pretest -2,038 0,042

Berdasarkan tabel 7 Uji Wilcoxon Learning Together (LT) berbantuan media


diperoleh hasil uji Wilcoxon menunjukkan monopoli terhadap hasil belajar matematika
bahwa nilai Z yang didapat sebesar -2,038 siswa kelas IV pada materi keliling dan luas
dengan Asymp. Sig 2 tailed sebesar 0,042 bangun datar.
(0,042<0,005) yang artinya terdapat 3.2 Pembahasan
pengaruh penggunaan model pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk

251 Jurnal Penelitian Pendidikan


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

mengetahui pengaruh penggunaan model hasil belajar berupa pretest dan posttest setelah
pembelajaran Learning Together dengan diberikan perlakuan, hasil menunjukkan adanya
media monopoli terhadap hasil belajar perbedaan antara Hasilnya terlihat dari rerata
matematika siswa kelas IV SD. Pada dasarnya nilai posttest yang lebih tinggi dibandingkan
hasil belajar merupakan bukti dari suatu dengan nilai pretest.
keberhasilan yang telah dicapai siswa selama Berdasarkan hasil analisis tersebut
proses belajar. Pemahaman serta penalaran menunjukkan bahwa setelah siswa menerima
siswa dalam menguasai materi pembelajaran pembelajaran menggunakan model
sangat diperlukan supaya hasil belajarnya pembelajaran Learning Together dengan
meningkat. media monopoli mampu meningkatkan hasil
Model pembelajaran Learning belajar siswa karena mereka dapat lebih aktif
Together (LT) menjadi salah satu cara untuk dan mengasah kemampuan berpikir mereka
mengasah kemampuan berpikir siswa yang sendiri dalam memperoleh pengetahuan
dibangun melalui kerjasama kelompok melalui penukaran gagasan berkelompok.
dan tim serta dapat bermanfaat untuk
memaksimalkan hasil belajar matematika IV. KESIMPULAN
siswa. Bukti bahwa model pembelajaran Hasil penelitian menunjukkan
Learning Together (LT) dapat meningkatkan bahwa ada pengaruh penggunaan model
hasil belajar matematika siswa ditandai pembelajaran Learning Together berbantuan
dengan hasil uji pretest dan posttest siswa Media Monopoli terhadap hasil belajar
yang mengalami peningkatan setelah diberi matematika Siswa SD kelas IV keliling dan
perlakuan, dimana rata-rata pretest sebesar luas bangun datar. Hasil belajar matematika
59,80 sedangkan rata-rata posttest siswa yang dimaksud yaitu proses perubahan
sebesar 65,49. tingkah laku siswa pada ranah kognitif dengan
Sejalan dengan penelitian yang menggunakan metode tertentu dalam bidang
dilakukan peneliti, terdapat beberapa matematika, sehingga peserta didik dapat
penelitian terdahulu yang juga menggunakan menyelesaiakan masalah yang berkaitan
model pembelajaran Learning Together. dengan materi keliling dan luas bangun datar.
Suyadi (2012:118) menyatakan bahwa Pembelajaran Learning Together merupakan
model pembelajaran Learning Together seperangkat model mengajar yang berupaya
(LT) mempunyai pengaruh positif dalam mengembangkan pemikiran siswa melalui
meningkatkan prestasi belajar matematika penukaran gagasan antarkelompok, dan
siswa yang ditandai dengan peningkatan tanggung jawab individual. Suatu cara yang
ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus digunakan dalam pembelajaran dengan
yaitu siklus I sebesar 64,29% dan siklus II memusatkan sebagian besar kegiatan
sebesar 93,8%. pembelajaran melalui kerjasama tim.
Hasil analisis Wilcoxon menunjukkan Peserta didik melakukan sebuah upaya
bahwa penggunaan model pembelajaran pemecahan masalah melalui kerjasama tim
Learning Together terbukti dapat meningkatkan untuk menemukan pengetahuan sehingga
hasil belajar matematika siswa SD kelas IV pengetahuan yang diperoleh akan tersimpan
pada materi keliling dan luas bangun datar. lama dalam ingatan.
Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, A. (2009). Media Pembelajaran (Revisi). Rajagrafindo Persada.
Daryanto. (2010). Media pembelajaran :peranannya sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Gava
Media.
Dimyati, & Mudjiono. (2017). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta.
Fathurrohman, M. (2015). Model - Model Pembelajaran Inovatif . Ar Ruzz Media.
Hamalik, O. (2016). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara.
Heinich, R., Molenda, M., Russell, james D., & Smaldino, S. E. (2012). Instructional Media and Technologies for

Jurnal Penelitian Pendidikan 252


Volume 20, Nomor 2, 243 - 253 ISSN 1412-565 X
Agustus 2020 e-ISSN 2541-4135

Learning (12th Edition). Prentice Hall.


Hernawan, A. H., Zaman, B., & Riyana, C. (2007). Media Pembelajaran Sekolah. In UPI Press. UPI Press.
Ibrahim, H. (1997). Media pembelajaran: Arti, fungsi, landasan pengunaan, klasifikasi, pemilihan, karakteristik oht,
opaque, filmstrip, slide, film, video, Tv, dan penulisan naskah slide. In Bahan Sajian Program Pendidikan
Akta Mengajar III-IV (pp. 1–102). FIP-IKIP.
Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, & Kustiawan, U. (2001). Media pembelajaran: Bahan sajian program
pendidikan akta mengajar. In FIP (pp. 1–96). UM .
Sadiman, A. S., Rahardjo, R., Haryono, A., & Harjito. (2018). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan
Pemanfaatannya (Cetakan 14). Rajagrafindo Persada.
Slavin, R. E. (2015). Cooperative learning: teori, riset dan praktik. In undefined: Vol. 15th Edition. Nusamedia.
Sudjana, N. (2004). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Sinar Baru Algensindo.
Suhendri, H. (2011). Pengaruh Kecerdasan Matematis–Logis dan Kemandirian Belajar terhadap Hasil Belajar
Matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 1(1), 29–39. https://doi.org/10.30998/formatif.
v1i1.61
Suprijono, A. (2010). Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem: Vol. Revisi. Pustaka Pelajar.
Suriasumantri, J. S. (2001). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Sinar Harapan.
Susilo, A., & U.S., S. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Team Assisted Individualization Berbantuan Lembar
Kerja Siswa dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Matematika Siswa MTs.
Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 1(3), 192–207. https://doi.org/10.30998/formatif.v1i3.78
Suyadi, H. (2012). Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Metode Kooperatif Model Learning
Together Pada Siswa Kelas VIIF SMP NEGERI 21 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 .
Media Penelitian Pendidikan : Jurnal Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Dan Pengajaran, 6(2), 110–
119. http://journal.upgris.ac.id/index.php/mediapenelitianpendidikan/article/view/474
Suyono. (2011). Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar (Second). Remaja Rosdakarya.
Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik : konsep, landasan teoritis-
praktis dan implementasinya. Prestasi Pustaka.
Wiroatmojo, P., & Sasonoharjo. (2002). Media Pembelajaran. LAN RI.

253 Jurnal Penelitian Pendidikan