Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN PENGENDALIAN INFEKSI

A. PENGERTIAN
Infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen dan bersifat sangat
dinamis.Infeksi merupakan invasi dan poliferasi mikroorganisme pada jaringan tubuh.
Mikroorganisme yang menginvasi dan berpoliferasi pada jaringan tubuh disebut agens
infeksi. Apabila mikroorganisme tersebut tidak menimbulkan tanda klinis penyakit, infeksi
yang ditimbulkan disebut infeksi asimptomatik atau subklinis (Kozier, 2010).
risiko infeksi adalah rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik
yang dapat mengganggu kesehatan. (NANDA edisi 10, 2015-2017)
1. Jenis Mikroorganisme yang Menyebabkan Infeksi
Empat kategori utama yang menyebabkan infeksi pada manusia adalah bakteri, virus,
jamur, dan parasit.
a. Bakteri merupakan mikroorganisme yang paling sering menyebabkan infeksi.
Beberapa ratus spesies dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan dapat hidup
serta ditularkan melalui udara, air, makanan, tanah, jaringan dan cairan tubuh, serta
benda mati.
b. Virus terutama tersusun atas asam nukleat sehingga untuk memperbanyak diri, harus
masuk ke dalam sel hidup
c. Jamur meliputi ragi dan kapang.
d. Parasit hidup pada organisme hidup yang lain. Parasit meliputi protozoa, seperti
penyebab malaria, cacing, dan antropoda (tungau, pinjal, sengkenit) (Kozier, 2010; 4)
2. Rantai Infeksi
Enam mata rantai membentuk rantai infeksi: agens penyebab atau mikrorganisme, tempat
organisme biasanya berada (reservoir); pintu keluar reservoir; metode (cara penyebaran);
pintu masuk ke dalam inang; dan inang yang rentan.
Agen infeksi

Host/pejamu Reservoir

Portal de exit Portal de entry

Cara penularan

a. Agens penyebab
Area Tubuh Organisme Penyebab Infeksi Pintu Keluar Reservoir
Virus parainfluenza
Mulut atau hidung lewat bersin, batuk,
Saluran napas Mycobacterium tuberculosis
bernapas, atau berbicara
Straphylococcus aureus
Virus hepatitis A Mulut: saliva, muntah; anus: feses;
Saluran cerna
Spesies Salmonella ostomi
Saluran EnterokokusEscherichia coli
Meatus uretra dan alih salir kemih
kemih Pseudomonas aeruginosa
Neisseria gonorrhoeae
Saluran Treponema pallidum Vagina: rabas vagina; Meatur urinaria:
reproduksi Virus herpes simpleks tipe 2 semen, urine
Virus hepatitis B (HBV)
Virus hepatitis B
Luka terbuka, area penusukan jarum,
HIV
Darah kerusakan integritas kulit atau
Traphylococcus aureus
membran mukosa
Straphylococcus epidermidis
Strapylococcus aureus
Eschericia coli
Jaringan Spesies proteus Drainase dari robekan atau luka
Streptococcus beta-hemolitik A
atau B
Kemampuan mikroorganisme dalam menimbulkan proses infeksi bergantung pada
jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam tubuh; virulensi dan potensi
mikroorganisme (patogenisitas), kemampuan mikroorganisme untuk masuk ke dalam
tubuh; kerentanan inang; dan kemampuan mikroorganisme untuk hidup dalam tubuh
inang.
b. Reservoir
Sumber yang umum adalah individu lain, mikroorganisme dalam tubuh klien,
tanaman, hewan, atau lingkungan umum. Pembawa (carrier) adalah manusia atau
hewan yang menjadi reservoir agens infeksi tertentu dan biasanya tidak menunjukkan
tanda klinis penyakit. Pada keadaan tertentu, keadaan carrier dapat berdurasi singkat
(carrier sementara atau transien) atau panjang (carrier kronik). Makanan, air, dan
feses juga dapat menjadi reservoir.
c. Pintu keluar reservoir
Sebelum terjadi infeksi pada inang, mikroorganisme harus meninggalkan reservoir.
Area tubuh manusia yang sering kali menjadi reservoir dan pintu keluar reservoir
dapat dilihat pada tabel berikut

d. Cara penyebaran Setelah meninggalkan reservoir, mikroorganisme membutuhkan cara


penyebaran untuk mencapai individu lain atau inang baru lewat pintu masuk reseptif.
Terdapat tiga mekanisme penyebaran, yaitu:
1) Penyebaran langsung. Penyebaran langsung melibatkan pemindahan
mikroorganisme secara cepat dan langsung dari satu individu ke individu lain
melalui sentuhan, gigitan, ciuman, atau hubungan seksual.
2) Penyebaran tidak langsung. Penyebaran tidak langsung dapat berupa penyebaran
lewat perantara atau penyebaran lewat vektor.
a) Penyebaran lewat perantara. Perantara adalah semua zat yang berfungsi
sebagai media dalam menghantarkan dan memasukkan agens infeksi ke inang
yang rentan melalui pintu masuk yang sesuai.
b) Penyebaran lewat vektor. Vektor adalah hewan atau serangga terbang atau
merayap yang bertindak sebagai media transportasi agens infeksi.
3) Penyebaran lewat udara. Penyebaran lewat udara meliputi droplet atau debu.
Nuklei droplet, yaitu residu droplet yang menguap yang dilontarkan oleh inang
yang terinfeksi (misalnya, individu pengidap tuberkulosis) dapat tetap berada di
udara dalam jangka waktu yang lama.
e. Pintu masuk ke inang yang rentan
Kulit merupakan barier terhadap agens infeksi; namun, adanya kerusakan pada kulit
mudah menjadi pintu masuk mikroorganisme.
f. Inang yang rentan
Inang yang rentan adalah individu yang berisiko mengalami infeksi. Inang luluh imun
adalah individu "berisiko tinggi", yaitu individu yang lebih mudah terserang infeksi
dibanding individu lain karena satu atau beberapa alasan.
3. Pertahanan Tubuh terhadap Infeksi
Pertahanan tubuh tidak spesifik melindungi individu dari semua mikroorganisme, tanpa
menghiraukan pemajanan sebelumnya. Sebaliknya, pertahanan spesifik (imun), diarahkan
terhadap bakteri, virus, jamur, atau agens infeksi lain yang telah teridentifikasi.
a. Pertahanan tubuh tidak spesifik
Pertahanan tubuh tidak spesifik meliputi barier anatomis dan fisiologis, serta respon
radang.
1) Barier Anatomis dan Fisiologis
a) Kulit dan membran mukosa yang utuh merupakan lini pertama pertahanan tubuh
terhadap mikroorganisme.
b) Saluran hidung memiliki fungsi defensif. Saat melewati saluran yang berliku
tersebut, udara yang msauk kontak dengan membran mukosa yang lembap serta
silia. Membran mukosa yang lembap dan silia menjerat mikroorganisme, debu,
dan benda asing lain. Paru memilki makrofag (fagosit besar) alveolar.
c) Setiap orifisium tubuh juga memiliki mekanisme protektif. Rongga mulut secara
teratur melepaskan apitelium mukosa untuk membersihkan kolonisasipada mulut.
d) Mata terlindung dari infeksi karena adanya air mata, yang secara kontinu
membasuh mikroorganisme keluar dan berisi enzim lisozim. Tingkat keasaman
tinggi pada asam lambung mencegah pertumbuhan mikroba.
e) Vagina juga memiliki pertahanan alami terhadap infeksi. Saat seorang gadis
mencapai pubertas, gula memfermentasi laktobasilus dalam cairan vagina,
menghasilkan pH vagina pada rentang 3,5 sampai 4,5. pH yang rendah ini
menghambat pertumbuhan banyak mikroorganisme penyebab penyakit.
2) Respon radang
Radang merupakan respon pertahanan jaringan yang tidak spesifik dan setempat
terhadap cedera atau agens infeksi. Radang merupakan mekanisme adaptasi yang
menghancurkan atau melarutkan agens penyebab cedera, mencegah penyebaran
cedera lebih lanjut, dan meningkatkan perbaikan jaringan yang rusak. Radang
memiliki karakeristik:
a) Nyeri (dolor)
b) Pembengkakan (tumor)
c) Kemerahan (rubor)
d) Panas (kalor)
e) Kerusakan fungsi pada bagian tersebut, jika cederanya berat (fungsiolesa)
Serangkaian peristiwa dinamis biasanya merujuk pada tiga tahap respon radang:
Tahap pertama: Respon vaskular dan seluler
Tahap kedua: Produksi eksudat
Tahap ketiga: Fase penyembuhan
(1) Respon Vaskular dan Seluler
Pada tahap awal radang, terjadi kontriksi pembuluh darah pada area cedera
selama beberapa saat. Kontriksi awal ini segera diikuti dengan dilatasi
pembuluh darah kecil (akibat pelepasan histamin oleh jaringan yang
mengalami cedera) sehingga lebih banyak aliran darah ke area cedera.
Peningkatan suplai darah ini disebut hiperemia dan menimbulkan tanda
kemerahan dan panas.
Permeabiltas pembuluh darah meningkat pada area cedera dengan dilatasi
pembuluh darah sebagai respons terhadap kematian sel, pelepasan mediator
kimia (misalnya, bradikinin, serotonin, dan prostaglandin), serta pelepasan
histamin. Perubahan permeabilitas ini mengakibatkan peningkatan aliran
cairan, protein, dan leukosit (sel darah putih) ke dalam ruang interstitial, yang
secara klinis dimanisfestasikan dengan tanda khas radang berupa
pembengkakan (edema) dan nyeri. Nyeri terjadi karena penekanan akibat
penumpukan cairan pada ujung saraf lokal dan mediator kimia, yang dianggap
mengiritasi ujung saraf. Terlalu banyak aliran cairan ke area tertentu, seperti
rongga pleura, atau rongga perikardia dapat menyebabkan gangguan serius
pada fungsi organ tubuh. Pada area lain, seperti sendi, terjadi gangguan
mobilitas.
Aliran darah pada pembuluh darah yang dilatasi lambat. Perubahan kecepatan
aliran darah ini membantu menggerakkan lebih banyak leukosit ke jaringan
yang mengalami cedera. Normalnya, sel darah mengalir di sepanjang pusat
pembuluh darah, sementara plasma tanpa sel mengalir di sekelilingnya
memutari dinding pembuluh darah, ketika aliran darah melambat, leukosit
melakukan agregasiatau berjejer di sepanjang permukaan bagian dalam
pembuluh darah ini. Proses ini disebut marginasi. Kemudian, leukosit bergerak
di sepanjang dinding pembuluh darah ke dalam ruang jaringan yang
mengalami cedera. Proses ini disebut emigrasi.
Perlintasan korpuskel darah melewati dinding pembuluh darah disebut
diapedesis. Leukosit tertarik menuju sel yang mengalami cedera oleh
kemotaksis.
Sebagai respon terhadap keluarnya leukosit dari pembuluh darah, sumsum
tulang memproduksi banyak leukosit dan melepaskan leukosit tersebut ke
dalam aliran darah. Proses ini disebut leukositosis. Mekanisme peningkatan
leukosit ini merupakan tanda lain radang.
(2) Produksi eksudat.
Pada tahap kedua proses radang, terjadi produksi eksudat inflamatori, yang
berisi cairan dari pembuluh darah, sel fagositik yang telah mati, serta sel
jaringan mati dan produk yang dilepaskannya. Protein plasma yang disebut
fibrinogen (yang berubah menjadi fibrin ketika dilepaskan ke jaringan),
tromboplastin (produk yang dilepaskan oleh sel jaringan yang mengalami
cedera), dan platelet membentuk benang-benang guna menciptakan barier,
membatasi area tersebut, dan mencegah penyebaran agens cedera. Pada tahap
kedua, agens cedera dihancurkan, dan eksudat dibersihkan oleh drainase
limfatik.
Bentuk dan jumlah eksudat bervariasi, bergantung pada jaringan yang terkena
dan intensitas serta durasi radang. Jenis eksudat utama adalah serosa, purulen,
dan hemragik (sanguinosa).
(3) Fase penyembuhan
Tahap ketiga respon radang meliputi perbaikan jaringan yang mengalami
cedera melalui regenerasi atau penggantian jaringan dengan pembentukan
jaringan fibrosa (jaringan parut).
(4) Pertahanan tubuh spesifik
Pertahanan tubuh spesifik meliputi sistem imun. Antien merupakan zat yang
memicu kondisi sensitivitas atau daya tangkap imun (imunitas). Apabila
protein tersebut berasal dari dalam tubuh individu, disebut autoantigen.
Respon imun memiliki dua komponen: pertahanan tubuh diperantarai antibodi
dan petahanan tubuh diperantarai sel.
(a) Pertahanan tubuh diperantarai antibodi
Nama lain pertahanan tubuh diperantarai antibodi adalah imunitas humoral
(sirkulasi) karena pada pertengahan tubuh ini, yang berperan adalah
limfosit B dengan perantara antibodi yang dihasilkan oleh sel B. Antibodi
yang disebut juga imunoglobulin, merupakan bagian protein plasma tubuh.
Respon diperantarai antibodi terutama melindungi individu terhadap fase
ekstraseluler infeksi bakteri dan virus.
Terdapat dua jenis imunitas: aktif dan pasif. Pada imunitas aktif, inang
membentuk antibodi sebagai respon terhadap antigen alami (mis.,
mikroorganisme infeksius) atau antigen buatan (mis., vaksin). Sel B
teraktivasi ketika mengenali adanya antigen. Sel B kemudian
berdiferensiasi menjadi sel plasma, yang mensekresi antibodi san protein
serumyang berikatan secara khusus dengan zat asing dan mengawali
berbagai respon penghancuran antigen. Sel B membentuk molekul
antobodi yang terdiri dari lima kelas imunoglobulin yang diberi nama
dengan huruf dan biasanya ditulis sebagai IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE.
Adanya IgM pada analisis laboratorium menunjukkan adanya infeksi yang
baru saja terjadi. Sebelum respons antibodi menjadi aktif, sel fagosit
yangterdapat dalam darah berikatan dan memakan zat asing. Kecepatan
ikatan dan fagositosis antigen meningkat apabila terdapat antibodi IgG
(yang mmengindikasikan infeksi di masa lalu dan imunitas yang
ditimbulkannya) dalam tubuh. Pada imunitas pasif (atau didapat), inang
menerima antibodi alami (mis. dari ibu yang menyusui) atau antibodi
buatan (mis., dari injeksi serum imun) yang dihasilkan dari sumber lain

(b) Pertahanan tubuh diperantarai sel


Pertahanan tubuh diperantarai sel, atau imunitas seluler, terjadi melalui
sistem sel T. Saat terpajan dengan antigen, jaringan limfosit melepaskan
banyak sel T yang telah teraktivasi ke dalam sistem limfe. Sel T ini dibawa
ke sirkulasi umum. Sel T memiliki tiga kelompok utama:
(1) Sel T penolong, yang membantu fungsi sistem imun
(2) Sel T sitotoksik, yang menyerang dan membunuh mikroorganisme dan
terkadang sel tubuhnya sendiri
(3) Sel T penekan, yang dapat menekan fungsi sel T penolong dan sel T
sitotoksik.
Saat imunitas diperantarai sel hilang, seperti yang terjadi pada infeksi HIV,
individu tersebut "tidak memiliki pertahanan tubuh" terhadap kebanyakan
infeksi virus, bakteri, dan jamur.
4. Faktor yang Meningkatkan Keretanan terhadap Infeksi
a. Usia memengaruhi risiko infeksi. Bayi baru lahir dan lansia mengalami penurunan
perahanan tubuh terhadap infeksi.
b. Hereditas memengaruhi perkembangan infeksi sedemikian rupa sehingga beberapa
individu memiliki kerentanan genetik terhadap infeksi tertentu.
c. Sifat, jumlah, dan durasi stresor fisik dan emosi dapat memengaruhi kerentanan
terhadap infeksi. Stresor meningkatkan kortison darah. Peningkatan kortison darah
yang berkepanjangan menurunkan respon antiradang, menurunkan simpanan energi,
menyebabkan keletihan, dan menurunkan pertahanan terhadap infeksi
d. Pertahanan terhadap infeksi bergantung pada status nutrisi yang adekuat. Karena
antibodi merupakan protein, kemampuan untuk mensitesis antibodi dapat terhambat
akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat, terutama ketika cadangan protein berkurang.
e. Beberapa terapi medis dapat menjadi predisposisi individu terhadap infeksi. Sebagai
contoh, pengobatan radiasi untuk kanker menghancurkan tidak hanya sel kanker,
tetapi juga beberapa sel normal sehingga membuat individu tersebut lebih rentan
terhadap infeksi.

B. TANDA DAN GEJALA


1) Rubor
Rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang
mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang
mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke
mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah.
Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena
peradangan akut.
2) Kalor
Disebabkan karena hypervaskularisasi lokal pada tempat terinfeksi dan adanya sisa
metabolisme kalor daripada antibodi. Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari
reaksi peradangan akut. Kalordisebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab
darah yang memiliki suhu 37°C disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang
lebih banyak daripada ke daerah normal.
3) Dolor
Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada jaringan yang mengalami infeksi. Ini
terjadi karena sel yang mengalami infeksi bereaksi mengeluarkan histamin atau zat
bioaktif lainnya sehingga menimbulkan nyeri menangis.
4) Tumor
Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh
pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial.
5) Functio laesa
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang. Functio laesa
merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara
mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang.

C. POHON MASALAH

Gangguan Mobilitas Fisik Kerusakan pada Integumen

Infeksi

1. Nyeri (Dolor)
2. Pembengkakan (Tumor)
3. Kemerahan (Rubor)
4. Panas (Kalor)
5. Cedera Berat/ Kerusakan fungsi pada bagian
tertentu

Bakteri Virus Jamur Parasit


(dapat hidup serta ditularkan (meliputi ragi (seperti penyebab malaria,
melalui udara, air, makanan, dan kapang) cacing, dan antropoda)
tanah, jaringan dan cairan
tubuh, serta benda mati) (Syahputra, 2014., Razi, 2012., Mubarak, W. I, 2015.)

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. HEMATOLOGI
Pemeriksaan blood cell count dan pemeriksaan laju endap darah (ESR).
meliputi pemeriksaan konsentrasi hemoglobin, Periksaan Sel Darah Putih (WBC),
Platelet time, white blood cell differential count, red blood cell count dan hitung
hematokrit.Pada penyakit anemia kronik, ditemukan penurunan kadar Hb (Lylia,
2015).
b. URINALIS
Dilakukan dengan Pemeriksaan Fisik (meliputi pemeriksaan warna, kekeruhan,
berat jenis, volume, odo, maupun clarity), Pemeriksaan Kimiawi (meliputi
pemeriksaan Specific gravity, pH, Blood, Leukocyte esterase, Nitrit, Protein,
Glucose, Ketones, Bilirubin & Urobilinogen ), dan Pemeriksaan Mikroskopik (White
blood cells,  Red Blood Cells,  Epithelial cells, Crystal,  Bacteria) (Lylia, 2015).
c. FECAL EXAMINATION
Meliputi beberapa pemeriksaan antara lain:
a. Pemeriksaan Makroskopik; yaitu pemeriksaan terhdap warna, konsistensi
dan bentuk, serta mucus.
b. Microscopic examination; yaitup pemeriksaan feses di bawah mikroskop
untuk melihat adanya cyst, tropozoit, telur parasit, maupun telur cacing.
CHEMICAL EXAMINATION; yaitu pemeriksaan darah dalam feses (melihat
perdarahan pada intestinal )
SERO-IMMUNOLOGY TESTS
Prinsipnya yaitu  reaksi antara antigen dan antibodi
a. Antigen Identification, misalnya: HBsAg
b. Antibody measurement, misalnya: Anti HBs
MICROBIOLOGIC EXAMINATION
Yaitu mengidentifikasi mikroorganisme dengan cara:
1) Direct staining: melihat jamur  +/-, bacteria dll.
2) culture of bacteria & fungi.  Sensitif terhadap antibiotic.
3) Polymerase chain reaction yaitu untuk mendeteksi DNA/ RNA
mikroorganisme (Lylia, 2015).

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Aseptik, yaitu tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai
untuk menggambarkan semua usaha yang dilakaukan untuk mencegah masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan,
2. Dekontaminasi, tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat ditangani oleh
petugas kesehatan secara aman, terutama petugas pembersihan medis sebelum
pencucian dilakukan,
3. Pencucian, yaitu tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh, atau setiap
benda asing seperti debu dan kotoran,
4. Sterilisasi, yaitu tindakan menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri,
jamur,parasit, dan virus) termasuk bakteri endospora dari benda mati,
5. Desinfeksi, yaitu tindakan menghilangkan sebagian besar (tidak semua)
mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati (Rahman, 2016).

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Menurut pola fungsi Gordon 1982, terdapat 11 pengkajian pola fungsi kesehatan
(Potter, 1996) :
1) Pola Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehatan : Pasien mengatakan sangat cemas
dengan penyakit yang dideritanya, karena sebelumnya pasien tidak pernah
mengalami penyakit seperti yang dirasakan saat ini yaitu infeksi.
2) Pola Nutrisi : Pasien mengatakan nafsu makan baik
3) Pola Eliminasi : Pasien mengatakan BAB dan BAK lancar
4) Aktivitas dan Latihan : Pasien dapat melakukan latihan dan gerak
5) Tidur dan Istirahat : Pasien sering terbangun karena merasa nyeri akibat infeksi
6) Sensori, Presepsi dan Kognitif : Pasien dapat berkomunikasi dengan baik
7) Konsep diri
 Identitas diri : Pasien mampu mengenali dirinya sebagai seorang kepala
keluarga
 Gambaran diri : Pasien merasa kalau dirinya sakit dan memerlukan
pertolongan.
 Ideal diri : Pasien mengatakan ingin segera sembuh dan dapat berkumpul
dengan keluarganya dirumah.
 Harga diri : Pasien tidak merasa minder dengan keadaan yang sekarang dan
tampak selalu kooperatif
 Peran diri : Selama ini pasien berperan sebagai kepala rumah tangga bagi
keluarganya.
8) Seksual dan Repruduksi : Tidak terkaji
9) Pola Peran Hubungan : Keluarga pasien mengatakan pasien mampu berinteraksi
dan mengenal lingkungan dengan baik
10) Manajemen Koping Setress : Keluarga pasien mengatakan pasien bila ada
masalah selalau membicarakan keluarganya
11) Sistem Nilai Dan Keyakinan : Pasien mengatakan selalu sembahyang sesuai
agamanya

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Infeksi : Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik
yang dapat mengganggu kesehatan (NANDA, 2015).
Faktor-faktor resiko (NANDA, 2015) :
1. Kurang pengetahuan untuk menghindari pemejanan patogen
2. Malnutrisi
3. Obesitas
4. Penyakit kronis (mis., diabetes militus)
5. Prosedur invasif
6. Pertahanan Tubuh Primer tidak Adekuat : gangguan integritas kulit, gangguan
peristaltis, merokok, pecah ketuban dini, pecah ketuban lambat, penurunan kerja
siliaris, penurunan pH sekresi, statis cairan tubuh
7. Pertahanan Tubuh Sekunder tidak Adekuat : Imunosupresi, Leukopenia,
Penurunan hemoglobin, Supresi respon inflamasi, Vaksinasi tidak adekuat
8. Pejanan Terhadap Patogen Lingkungan Meningkat : Terpejan pada wabah

H. RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan Intervensi
Keperawatan SLKI SIKI
1 Resiko Infeksi Setelah dilakukan asuhan Pencegahan Infeksi
keperawatan selama …. X 24 jam Observasi
Factor Resiko diharapkan status kekebalan px 1. Monitor tanda dan gejala
 Penyakit kronis meningkat dengan kriteria hasil: infeksi local dan istemik
 Efek prosedur  Kebersihan tangan meningkat Terapeutik
invasive  Kebersihan badan meningkat 2. Batasi jumlah pengunjung
 Malnutrisi  Nafsu makan meningkat 3. Berikan berawatan kulit pada

 Peningkatan  Demam menurun area edema

paparan 4. Cucitangan sebelum dan


 Kemerahan menurun
organisme sesudah kontak dengan pasien
 Nyeri menurun
pathogen dan lingkungan pasien
 Bengkak menurun
lingkungan 5. Pertahankan Teknik aseptic
 Vesikel menurun
 Gangguan pada pasien beresiko tinggi
 Kadar sel darah putih
peristaltic membaik Edukasi
 Kerusakan 6. Jelaskan tanda dan gejala
integritas kulit nfeksi
 Perubahan skresi 7. Ajarkan cara mencuci tangan
pH dengan benar
 Penurunan kerja 8. Ajarkan etika batuk
siliaris 9. Ajarkan cara memeriksa

 Ketuban pecah kondisi luka

lama 10. Anjurkan meningkatkan

 Ketuban pecah asupan nutrisi

sebelum 11. Anjurkan meningkatkan

waktunya asupan cairan

 Merokok Kolaborasi
12. Kolaborasi pemberian
 Statis cairan
imunisasi, jika perlu
tubuh
 Penurunan
hemoglobin
 Imunosupresi
 Leukopenia
 Supresi respon
inflamasi
 Vaksinasi tidak
adekuat
((NANDA, 2015., Amin, 2015).

H. IMPLEMENTASI
Dilakukan berdasarkan interverensi

I. EVALUASI
a. Evaluasi Formatif (Merefleksikan observasi perawat dan analisi
terhadap klien terhadap responlangsung pada intervensi keperawatan),
b. Evaluasi Sumatif (Merefleksikan rekapitulasi dan sinopsi observasi dan analisis
mengenai statuskesehatan klien terhadap waktu) (Poer,2012).

J. REFERENSI
Amin, H. 2015. Nanda nic noc. Yogyakarta: Media Action.
Hidayaat, A. A. 2014. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.Jakarta: Salemba Medika.
Kozier. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan.Jakarta: EGC
Lylia, E. 2015. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Pengendalian Infeksi. (Online). Available at
https://www.scribd.com/doc/283214751/LP-PENGENDALIAN-INFEKSI-docx.
Diunduh pada 1 September 2016.
Marilyn E, Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakata :EGC.
Mubarak, W. I. dkk. 2015. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar Buku 1. Jakarta: Salemba
Medika.
NANDA 2015-2017. 2015. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Potter, Patricia. A. 1996. Pengkajian Kesehatan Ed. 3. Jakarta: EGC.
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses,dan. Praktik.
Edisi 4 volume 1. Jakarta: EGC.
Poer, M. 2012. Makalah Dokumentasi Keperawatan “Dokumentasi Evaluasi”. (Online).
Available at https://www.scribd.com/doc/106424735/makalah-dokumentasi-evaluasi-
keperawatan. Diunduh pada 1 September 2016.
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. PPNI: Jakarta.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat PPNI:
Jakarta Selatan.
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Denifisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan. Dewan Pengurus Pusat PPNI: Jakarta Selatan
Rahman, I. T. 2016. Pengendalian Infeksi. (Online). Available at
https://www.academia.edu/8483485/Pengendalian_Infeksi. Diunduh pada 1 September
2016.
Razi, F. 2012. Infeksi. (Online). Available at
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32297/4/Chapter%20II.pdf. Diunduh
pada 29 Agustus 2016.
Syahputra, I. R. 2014. Infeksi. (Online). Available at
http://eprints.undip.ac.id/44749/3/IGOR_RIZKIA_SYAHPUTRA_22010110110094_B
ab2KTI.pdf. Diunduh pada 31 Agustus 2016.