Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN

KARDIOVASKULER DENGAN BRONKOPNEUMONI PADA ANAK

OLEH:

Nadila ( 183110223)

2B

Pembimbing Akademi Pembimbing Klinik

( Ns.Tisnawati,S.Kep,S.SiT,M.Kes ) ( )

PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMEMKES RI PADANG

TAHUN 2020
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak Negara


berkembang, termasuk Indonesi. Jenis penyakit infeksi di Indonesia yang banyak
diderita adalah infeksi saluran nafas akut (ISPA), baik ISPA bagian atas misalnya
batuk, pilek, faringitis maupun ISPA bagian bawah seperti bronkitis dan
pneumonia. Pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi akut yang sering
terjadi pada anak usia di bawah lima tahun (balita) dan penyebab utama
kamatian. Angka kematian karena pneumonia di negara berkembang 10-15 kali
lebih tinggi dari pada di negara maju (Masela dkk, 2015).

Menurut hasil penelitian Osharinanda, (2012) gejala klinis yang di tampak pada
anak dengan pneumonia yaitu demam, batuk, muntah, pilek, berak encer,
sianosis, kejang, tidak mau menyusu, sesak napas, tersedak, keluar cairan dari
telinga dan bintik kemerahan di kulit.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit bronkopneumoni
(BP)
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu mendeskripsikan asuhan keperawatan penyakit
bronkopneumoni
2. Tujuan Khusu
a. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pengkajian pada pasien BP
b. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang diagnosa keperawatan pda pasien
BP
c. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang intervensi keperawatan pada
pasien BP
d. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tindakan keperawatan pada
pasien BP
e. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang edukasi keperawatan pada pasien
BP
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada


parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga
mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang
disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,virus,jamur dan benda
asing. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada
juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan. (Rahayu,2012).

Menurut Nursalam, (2008) letak anatomi, pneumonia dibagi menjadi pneumonia


lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia), dan pneumonia intertisialis.
1. Pneumonia Lobaris
pneumonia Lobaris adalah peradangan pada paru dimana proses peradangan
ini menyerang lobus paru. Pneumonia ini banyak disebabkan oleh invasi
bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
2. Pneumonia Lobularis (Bronchopneumonia)
Peneumonia Lobularis adalah ditandai adanya bercak-bercak infeksi pada
berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau
bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua.
3. Pneumonia Interstisisalis
Pneumonia interstisial adalah kondisi dimana pernapasan langka yang ditandai
dengan pembentukan membran hialin di paru-paru.

B. Klarifikasi
Berdasarkan pedoman MTBS (2015), pneumonia dapat diklasifikasikan secara
sederhana berdasarkan gejala dan umur.
1. Umur 2 bulan – 5 tahun:
a. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila gejala:
1) Ada tanda bahaya umum
2) Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.
3) Terdapat stridor (suara nafas bunyi’grok-grok’ saat inspirasi).
b. Pneumonia, apa bila terdapat gejala napas cepat. Batasan napas cepat
adalah:
1) Anak usia 2 bulan - 5 tahun apabila frekuensi napas 40x/ menit
atau lebih.

c. Batuk bukan pneumonia, apabila tidak ada tanda pneumonia atau


penyakit sangat berat.

2. Umur < 2 bulan

a. Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat, apabila gejala

1) Tidak mau minum atau memuntahkan semua

2) Riwayat kejang

3) Bergerak jika hanya dirangsang

4) Napas cepat ( ≥ 60 kali / menit )

5) Napas lambat ( < 30 kali / menit )

6) Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat

7) Merintih

8) Demam ≥ 37,5 C

9) Hipotermia berat < 35,5 C

10) Nanah yang banyak di mata

11) Pusar kemerahan maluas ke dinding perut


b. Infeksi bakteri lokal, apabila gejala :
1) Pustul kulit
2) Mata bernanah
3) Pusar kemerahan atau bernanah
c. Mungkin bukan infeksi, apabila tidak terdapat salah satu tanda di atas

C. Etiologi
Pada umumnya tubuh terserang Bronchopneumonia karena disebabkan oleh
penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organism patogen.
Penyebab Bronchopneumonia yang biasa di temukan adalah :
1. Bakteri : Diplococus pneumonia, Pneumococus, Stretococus, Hemoliticus
Aureus, Haemophilus influenza, Basilus Frienlander (Klebsial Pneumonia),
Mycobakterium Tuberculosis.
2. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3. Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococus Nepromas, Blastomices
Dermatides, Aspergillus Sp, Candida Albicans, Mycoplasma Pneumonia,
Aspirasi benda asing.

Penyebab terserering pada bronkopneumonia yaitu pneumokokus, sedang


penyebab lainnya antara lain : streptococcuspneumoniae, stapilokokkus aureus,
haemophillus influenza, jamur (seperti candida albicans) dan virus. Pada bayi
dan anak kecil ditemukan staphylococcus aureus sebagai penyebab yang berat,
serius dan sangat progresif dengan mortalitas tinggi (Riyadi,2012).

D. Patofisiologi

Secara hematogen maupun langsung (lewat penyebaran sel)


mikroorganisme yang terdapat didalam paru dapat menyebar ke bronkus. Setelah
terjadi fase peradangan lumen bronkus menyebabkan sel radang akut, terisi
eksudat (nanah) dengan sel epitel rusak. Bronkus dan sekitarnya penuh dengan
netrofil (bagian leukosit yang banyak pada saat awal peradangan dan bersifat
fagositosis) dan sedikit eksudat fibrinosa. Bronkus rusak akan mengalami
fibrosis dan pelebaran akibat tumpukan nanah sehingga dapat timbul
bronkiektasis. Selain itu organisasi eksudat dapat terjadi karena absorpsi yang
lambat. Eksudat pada infeksi ini mula-mula encer dan keruh, mengandung
banyak kuman penyebab (streptokokus, virus dan lain-lain). Selanjutnya eksudat
berubah menjadi purulen dan menyebabkan sumbatan pada lumen bronkus.
Sumbatan tersebut dapat mengurangi asupan oksigen dari luar sehingga
penderita mnegalami sesk napas.
Terdapatnya peradangan pada bronkus dan paru juga akan
mengakibatkan peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan silia
pada lumen bronkus sehingga timbul peningkatan flek- flek batuk. Perjalanan
patofisiologis diatas bisa berlangsung sebaliknya yaitu di dahului dulu dengan
infeksi pada bronkus kemudian berkembang menjadi infeksi pada paru
(Riyadi,2012)
E. Woc

Virus,jamur,bakteri masuk
melalui saluran atas

Terjadi invasi saluran nafas atas

Kuman berlebih di Bakteri masuk ke Infeksi saluran nafas


bronkus saluran cerna melalui bawah
sistem
Dilatasi
peradangan
pembuluh
Proses peradangan darah
Infeksi saluran
cerna Peningkatan
suhu tubuh
Batuk berdahak Eksudat masuk alveoli
Peningkatan flora
hipertermi
normal diusus
Akumulasi sekret di
Suplai O2 dalam darah menurun
bronkus
malabropsi gejala sianosis nafas cuping
hidung retraksi dinding dada

Frekuensi BAB
>3x/ hari , stuktur hipoksia Pe
Bersihan jalan Mucus di
encer
nafas tidak bronkus kesadaran
efektif meningkat hiperventilasi
Gangguan
keseimbangan
dipsnea
anoreksia cariran tubuh Intoleransi
aktifitas
Retraksi dinding
Intake menurun dada,nafas cuping
hidung

Nutrisi kurang dai Gangguan pola nafas


kebutuhan tubuh
F. Komplikasi
Menurut Sowden & Betz (2013), Bronchopneumonia dapat mengakibatkan
penyakit lain, yaitu :
1. Atelaktasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps
paru merupakan akibat kurang mobilisasi atau refleks batuk hilang.
2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga
pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang
4. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
5. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
G. Penatalaksanaan
a. Farmakologi

Penatalaksanaan menurut MTBS (2015) yaitu :

1) Pemberian antibiotic

Tabel 2.1

Pemberian Antibiotik Berdasarkan Umur, Untuk Semua Klasifikasi yang


Membutuhkan Antibiotik yang Sesuai
KATRIMOKSAZOL
UMUR 2X sehari selama 3 hari untuk
atau Pneumonia
BERAT TAB ANAK SIRUP per 5 ml
BADAN (20 mng Tmp + 100 (40 mg Tmp + 200 mg
mg Smz) Smz
)
2 bln - <4 bln 2.5 ml
1
(4 - < 6 kg) (1/2 sendok takar)
4 bln - < 12 5 ml
2
bln (1 sendok
(6 - <10 kg) takar)
12 bln- <3 tahun 7.5 ml

(10 - < 16 kg) (1 ½ sendok takar)
3tahun-<5 10 ml
3
tahun (16 - (2 sendok
<19 kg) takar)
Tabel 2.2

Untuk Anak yang Harus Segera Dirujuk Tetapi Tidak Dapat


Menelan Obat Oral, Segera Diberikan Antibiotik 1x Dalam
Dosis Melalui Intravena

AMPISILIN
UMUR Dosis : 50 mg per kg BB GENTAMISI
Atau Tambahan 4,0 ml aquadest dalam N
BERAT 1 vial Dosis : 7.5 mg per kg
BADAN 1000 mg sehingga menjadi 1000 BB sediaan 80 mg/2
mg/ ml
5 ml atau 200 mg/ml
2 bulan - <4 bulan
1.25 ml = 250 mg 1 ml = 40 mg
(4 - < 6 kg)
4 bulan - <9 bulan
1.75 ml = 350 mg 1.25 ml = 50 mg
(6 - < 8 kg)
9 bulan - <12 bulan
2.25 ml = 450 mg 1.75 ml = 70 mg
(8- < 10 kg)
12 bulan - < 3
3 ml = 600 mg 2.5 ml = 100 mg
tahun
(10 - < 14 kg)
3 tahun - < 5 tahun
3.75 ml = 750 mg 3 ml = 120 mg
(14 – 19 kg)

Tabel 2.3

Pemberian Obat Antipiretika

Pemberian Paracetamol Untuk Demam Tinggi ≥38,5 C

PARASETAMOL
UMUR atau TABLET TABLET SIRUP

BERAT BADAN 500 mg 100 mg 120 mg/ 5 ml


2 bulan-< 6 bulan 2.5 ml
½ ½
(4 - < 7 kg) (½ sendok takar)
6 bulan-< 3 tahun 5 ml
¼ 1
(7 - < 14 kg) (1 sendok takar
3 tahun- <5 tahun 7.5 ml
½ 2
(14 – < 19 kg ) (1½ sendok takar)
2). Terapi O2

Pemberian O2 2 - 3 liter / menit dengan nasal kanul


18

3) Terapi cairan

Pemberian cairan IVFD dekstore 5 % ½ NaCL 0,225% 350cc / 24

4. Non Farmakologi

Penatalaksanan menurut Ngastiyah (2014) :

1. Menjaga kelancaran pernapasan

2. Kebutuhan istirahat

3. Kebutuhan nutrisidan cairan

4. Mengontrol suhu tubuh

5. Mencegah komplikasi

6. Kurangnya pengetahuan orangtua mengenai penyakit

Asuhan Keperawatan Teoritis


A. Pengkajian

Pengkajian pada pasien dengan kasus Bronchopneumonia :

1. Identitas, seperti: nama, tempat tanggal lahir/umur, Bronchopneumonia sering


terjadi pada bayi dan anak. Kasus terbanyak terjadi pada anak berusia di bawah 3
tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan.

2. Keluhan Utama

3. Riwayat Kesehatan Sekarang

a. Bronkopneumonia virus

Biasanya didahului gejala-gejala infeksi saluran nafas,termasuk rinitis dan


batuk, serta suhu badan lebih rendah dari pada pneumonia
bakteri,bronkopneumonia virus tidak dapat dibedakan dengan
Bronchopneumonia bakteri dan mukuplasma.
b. Bronchopneumonia Stafilokokus (bakteri)
Biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas atau bawah
dalam beberapa hari hingga 1 minggu, kondisi suhu tinggi, batuk dan
mengalami kesulitan pernapasan.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu:
Biasanya anak sering menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas. Riwayat
penyakit campak / fertusis (pada Bronchopneumonia).

5. Riwayat pertumbuhan
Biasanya anak cenderung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena keletihan
selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari kondisi
penyakit.

6. Riwayat psikososial dan perkembangan


Kelainan Bronchopneumonia juga dapat membuat anak mengalami gangguan dalam
pertumbuhan dan perkembangan, hal ini disebabkan oleh adanya ketidakadekuatan
oksigen dan nutrien pada tingkat jaringan, sehingga anak perlu mendapatkan
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan yang cukup.
7. Riwayat Imunisasi
Biasanya pasien belum mendapatkan imunisasi yang lengkap seperti DPT-HB- Hib
2.
8. Pemeriksaan Fisik

a. Kepala-leher

Pada umumnya tidak ada kelainan pada kepala, kadang ditemukan pembesaran
Kelenjer getah bening.
b. Mata
Biasanya pada pasien dengan Bronchopneumonia mengalami anemis
konjungtiva.
c. Hidung
Pada pemeriksaan hidung secara umum ada tampak mengalami nafaspendek,
dalam, dan terjadi cupping hidung.

d. Mulut
Biasanya pada wajah klien Brochopneumonia terlihat sianosis terutama pada
bibir.
e. Thorax
Biasanya pada anak dengan diagnosa medis Bronchopneumonia, hasil inspeksi
tampak retraksi dinding dada dan pernafasan yang pendek dan dalam, palpasi
terdapatnya nyeri tekan, perkusi terdengar sonor, auskultasi akan terdengar suara
tambahan pada paru yaitu ronchi,weezing dan stridor. Pada neonatus, bayi akan
terdengar suara nafas grunting (mendesah) yang lemah, bahkan takipneu.
f. Abdomen
Biasanya ditemukan adanya peningkatan peristaltik usus.

g. Kulit

Biasanya pada klien yang kekurangan O2 kulit akan tampak pucat atau sianosis,
kulit teraba panas dan tampak memerah.

h. Ekstremitas
Biasanya pada ekstremitas akral teraba dingin bahkan bahkan crt > 2 detik karena
kurangnya suplai oksigen ke Perifer, ujung-ujung kuku sianosis.

i. Kebiasaan sehari-hari

Nutrisi dan cairan

1) Pola makan : teratur/tidak

2) Minum : jenis dan jumlah

Istirahat dan tidur

1) Siang : pola tidur teratur atau tidak


2) Malam : teratur atau tidak
j. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Diagnostik Menurut Manurung dkk (2013), yaitu :
a. Pemeriksaan Radiologi
1) Biasanya pada rontgen thoraks ditemukan beberapa lobus berbercak-
bercak infiltrasi
2) Bronkoskopi digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabangcabang
utama dari arbor trakeobronkial. Jaringan yang diambil untuk
pemeriksaan diagnostik, secara terapeutik digunakan untuk
mengidentifiksi dan mengangkat benda asing
b. Hematologi
1) Darah lengkap
a) Hemoglobin pada pasien bronchopneumonia biasanya tidak
mengalami gangguan. Pada bayi baru lahir normalnya 17-12
gram/dl, Umur 1 minggu normalnya 15-20 gram/dl, Umur 1
bulan normalnya11-15 gram/dl, dan pada Anak-anak normalnya
11-13 gram/dl.
b) Hematokrit pada pasien bronchopneumonia biasanya tidak
mengalami gangguan. Pada Laki-laki normalnya 40,7% - 50,3%,
dan pada Perempuan normalnya 36,1% - 44,3%.
c) Leukosit pada pasien bronchopneumoia biasanya mengalami
peningkatan, kecuali apabila pasien mengalami imunodefisiensi
Nilai normlanya 5 .– 10 rb /
d) Trombosit biasanya ditemukan dalam keadaan normal yaitu 150
– 400 rb
e) Eritrosit biasanya tidak mengalami gangguan dengan nilai
normal Laki – laki 4,7- 6,7 juta dan pada Perempuan 4,2– 5,4
juta
f) Laju endap darah ( LED ) biasanya mengalami peningkatan
normal nya pada laki-laki 0 – 10 mm perempuan 0 -15 mm
g) Analisa Gas Darah (AGD) Biasanya pada pemeriksaan AGD
pada pasien bronchopneumonia ditemukan adanya kelainan.
Pada nilai pH rendah normalnya7,38- 7,42, Bikarbonat (HCO3)
akan mengalami peningkatan kecuali ada kelainan metabolik
normalnya 22-28 m/l, Tekanan parsial oksigen akan mengalami
penurunan nilai normalnya 75-100 mm/Hg, Tekanan (pCO2)
akan mengalami peningkatan nilai normalnya 38-42 mmHg, dan
pada saturasi oksigen akan mengalami penurunan nilai
normalnya 94-100 %.
h) Kultur darah Biasanya ditemukan bakteri yang menginfeksi
dalam darah, yang mengakibatkan sistem imun menjadi rendah.
i) Kultur sputum Pemeriksaan sputum biasanya di temukan adanya
bakteri pneumonia dan juga bisa bakteri lain yang dapat merusak
paru.

B. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi yang tertahan
2. Ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi,
3. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan membrane alveolar kapiler
4. Intoleransi aktifitas b/d ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen,
5. Defisit nutrisi b/d kurangnya asupan makan
6. Hipertermi b/d proses penyakit

C. Intervensi

No Diagnosa SLKI SIKI


Bersihan jalan 1.Batuk efektif meningkat Manajemen jalan nafas
nafas tidak 2.produksi sputum menurun 1.monitor pola nafas
efektif 3.wheezing menurun 2.monitor bunyi nafas tambahan
4.dispnea menurun 3.monitor sputum
5.sianosis menurun 4.posisikan semo fowler atau
6.gelisah menurun fowler
7.frekuensi nafas membaik 5.berikan minuman hangat
8. pola nafas membaik 6.lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
7.anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari , jika tidak kontraindikasi
8.ajarkan teknik batuk efektif

Pola nafas Pola napas


tidak efektif 1.ventilasi semenit membaik 1.Monitor pola nafas
2. dispnea menurun 2.Monitor bunyi nafas
3. penggunaan otot bantu nafas 3. monitor sputum
menurun 4. pertahankan kepatenan jalan
4. nafas membaik nafas
5. frekuensi nafas membaik 5. posisikan semi fowler atau
fowler
6. berikan oksigen jika perlu
7. anjurkan teknik batuk efektif
8. kolaborasi pemberian
brokodilator , jika perlu

Gangguan
pertukaran gas Pertukaran gas
1.tingkat kesadaran meningkat Pemantauan respirasi
2. dispnea menurun 1.monitor
3. gelisah menurun frekuensi,irama,kedalaman dan
4. pco2 membaik upayanafas
5. po2 membaik 2. monitor kemampuan batuk
6. sianosis membaik efektif
7. pola nafas membaik 3. monitor adanya sumbatan jalan
8. warna kulit membaik nafas
5. monitor nilai AGD
6. monitor hasil nilai x-ray torax
Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
7. dokumentasikan hasil
pemantauan
8. jelaskan tujuan dari pemantauan
9. informasikan hasil pemantauan ,
Intoleransi jika perlu
aktifitas

1.kemudahan melakukan aktifitas Manajemen energi


meningkat 1. indentifikasi gangguan tubuh
2.kecepatan berjalan meningkat yang mengakibatkan kelelahan
3.jarak jalan meningkat 2.monitor lokas ketidak nyamanan
4.kekuatan tubuh bagian atas selama beraktivitas
meningkat 3. sediakan lingkungan yang
5.kekuatan tubuh bagian bawah nyaman
meningkat 4. berikan aktivitas fisik yang
6.keluahan lelah menurun menenangkan
7.dispnea setelah aktifitas menurun 5. anjurkan tifah baring
8. sianosis menurun 6. anjurkan aktivitas bertahap
9.warna kulit membaik 7.anjurkan strategi koping untuk
10. tekanan darah membaik mengurangi kelelahan
8. kolaborasi dengan ahli gini
untuk meningkatkan asupan
Defisit nutrisi makanan

1. porsi makan yang bisa di Manajemen nutrisi


habiskan meningkat 1.identifikasi status nutrisi
2.makan atau minum sesuai dengan 2.identifikasi kebutuhan kalori
tujuan kesehatan 3.monitor asupan makan
3.berat badan membaik 4.monitor berat badan
4.imt membaik 5. sajikan makanan secara menari
5. frekuensi makan membaik 6.berikan makanan tinggi kalori
6.nafsu makan membaik dan protein
7.berikan makanan tinggi serat agar
mencegah konstipasi
8.anjurkan posisi duduk
Hipertermia 9.kolaborasi dengan ahligizi

1. kulit merah menurun Manajemen hipertermia


2.pucat menurun 1.identifikasi penyebab hipertermia
3.suhu tubuh membaik 2.monitor suhu tubuh
4.suhu kulit membaik 3.sediakan lingkungan yang dingin
4.longggarkan dan lepaskan
pakaian
5.ganti lienen setiap hari apabila
sering mengalami keringat
berlebihan
6.berikan oksigen bila perlu

DAFTAR PUSTAKA

Wijayanigsih. 2013. Asuhan keperawatan anak. Jakarta: Trans Info Media.


Riyadi, sujono dan sukamin (2012).Asuhan keperawatan pada anak . Yogyakarta
:graha ilmu

Nursalam, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak ( untuk Perawat dan
Bidan ).jakarta: Salemba Medika.

PPNI (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1. Jakarta.

PPNI (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Cetakan II. Jakarta.

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Cetakan II. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai