Anda di halaman 1dari 30

PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN KARDIOVASKULER

“LAPORAN PENDAHULUAN DHF”

Oleh:

Melia Engla Putri

183110260

3.C

DOSEN PEMBIMBING:

Ns. Hj. Tisnawati, SST, M.Kes

D-III KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMENKES PADANG

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit demam berdarah merupakan salah satu penyakit dimana penderitanya


cenderung meningkat dan menyebar dari berbagai kalangan usia baik dewasa
ataupun anak anak.Penyakit ini disebabkan oleh nyamuk aedes aegepty yang
menginfeksi manusia melalui gigitannya.Ciri ciri penyakit ini biasanya host akan
mengalami demam,nyeri pada badannya,dan munculnya ruam merah pada
kulitnya.

Yang melatar belakangi penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui demam
berdarah secara teoritis dan bagaimana asuhan keperawatan yang akan diberikan
kepada pasien sesuai dengan kebutuhannya.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien
dengan kasus DBD
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengkajian pada pasien dengan
penyakit DBD
b. Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosa keperawatan yang
muncul pada pasien dengan penyakit DBD
c. Mahasiswa mampu menjelaskan intervensi yang direncanakan
pada pasien dengan penyakit DBD
d. Mahasiswa mampu menjelaskan implementasi yang telah
dilaksanakan pada pasien dengan penyakit DBD
e. Mahasiswa mampu menjelaskan evaluasi yang dinilai pada
pasien dengan penyakit DBD
f. Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian pada pasien
dengan penyakit DBD
BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Konsep Demam Berdarah

1. Pengertian Demam Berdarah

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat
timbul akibat infeksi sekunder oleh virus dengue.DBD masih menjadi masalah
kesehatan yang belum dapat ditanggulangi penyebarannya, terutama di daerah
tropis dan subtropis.Penyakit ini ditularkan ke manusia oleh nyamuk Aedes
aegypti (A.aegypti) yang sering pada musim penghujan.DBD merupakan penyakit
demam akut yang disebabkan oleh virus RNA dengan 4 (empat) serotipe virus,
yakni virus dengue-1 (DEN-1), virus dengue-2 (DEN-2), virus dengue-3 (DEN-3),
dan virus dengue-4 (DEN-4), yang berasal dari genus Flavivirus famili
Flaviviridae. DBD ditandai oleh terjadinya perembesan plasma yang dapat
menuju kepada kondisi berat yang disebut dengan dengue shock syndrome (DSS)
yang dapat menyebabkan kematian, atau dapat sembuh jika diterapi dengan cepat
dan adekuat (Vivin,dkk,2015).

2. Penyebab demam berdarah

Demam dengue (DD) atau dengue fever (DF)adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk aides aegepty,sedangkan demam
berdarah dengue(DBD) juga penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan
disebarkan oleh nyamuk aedes aegepty yang disertai manifestasi klinis perdarahan
dan cendrung menimbulkan shock dan kematian (Nagastiya,2014).
3. Gejala klinis demam berdarah

Tanda dan gejala yang muncul pada penderita demam berdarah ialah sebagai
berikut:

a. Riwayat demam (2-7 hari)

b. Petekie

c. Gusi berdarah

d. Hematemesis

e. Melena

f. Epistaksis

g. Efusi pleura,asites,hipotei-nemia

h. Ekstremitas dingin dan lembab

i. Tekanan nadi menyempit

j. Tekanan darah (TD) tidak terukur

k. Hipotensi

l. Nadi teraba cepat dan lemah

m. Nadi yang tidak terukur

n. Trombositopenia

o. Hematokrit meningkat

p. Tidak buang air kecil selama 4-6 jam.

(Vivin,dkk,2015)
4. Patofisiologi demam berdarah

Virus dengue yang telah masuk ke dalam tubuh penderita akan menimbulkan
viremia.Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu tubuh di
hipotalamus sehingga dapat menyebabkan (pelepasan zat bradikinin,serotonin,
trombin, histamin) terjadinya peningkatan suhu.Selain itu viremia menyebabkan
pelebaran pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan
dan plasma dari intravaskuler ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia.
Trombositopenia dapat terjadi akibat dari penurunan produksi trombosit sebagai
reaksi dari antibodi melawan virus(Murwani,2011)

Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik perdarahan


kulit sepertipetekia atau perdarahan mukosa di mulut.Hal ini mengakibatkan
adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis
secara normal .Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak
tertangani maka akan menimbulkan syok.Masa virus dengan inkubasi 3-15
hari,rata rata 5-8 hari.Virus akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk
aedes aegepty.Yang terjadi pertama kali adalah viremia yang mengakibatkan
penderita mengalami demam,sakit kepala,mual,nyeri otot,sendi,badan pegal
pegal,ruam atau bintik bintik kemerahan pada kulit,hiperemia tenggorokan dan hal
lain yang mungkin terjadi pembesaran kelenjar getahan bening,pembesaran hati
(hepatomegali).

Kemudian virus bereaksi dengan antibodi maka akan timbul kompleks


antibodi.Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen.Akibat aktivasi
C3 dan C5 akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk
melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya
permeabelitas dinding kapiler pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya
pembesaran plasma ke ruang ekstraseluler.Pembesaran plasma ke ruang ekstra
seluler mengakibatkan kekuranngan volume plasma,terjadi hipotensi
hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan ranjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit >20%) menunjukkan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) sehingga nilai hematokrit
menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.

Disfungsi sirkulasi atau syok pada DBD, (sindrom syok dengue = SSD) yang
biasanya terjadi antara hari sakit ke 2-7, disebabkan oleh peningkatan
permeabilitas vaskular sehingga terjadi plasma leakage, efusi cairan serosa ke
rongga pleura dan peritoneum, hipo-proteinemia, hemokonsentrasi dan
hipovolemia, yang mengakibatkan berkurangnya venous return, preload miokard,
volume sekuncup dan curah jantung, sehingga terjadi disfungsi sirkulasi dan
penurunan perfusi organ. Gangguan perfusi ginjal ditandai dengan oliguria atau
anuria, sedangkan gangguan perfusi susunan saraf pusat ditandai oleh penurunan
kesadaran. Pada fase awal SSD fungsi organ vital dipertahankan dari hipovolemia
oleh sistem homeostasis dalam bentuk takikardia, vasokonstriksi, penguatan
kontraktilitas miokard, takipnea, hiperpnea dan hiperventilasi. Vasokonstriksi
perifer mengurangi perfusi non esensial di kulit yang menyebabkan sianosis,
penurunan suhu permukaan tubuh dan pemanjangan waktu pengisian kapiler (>5
detik). Perbedaan suhu kulit dan suhu tubuh lebih dari 2oC menunjukkan
mekanisme homeostasis masih utuh. Pada tahap SSD kompensasi curah jantung
dan tekanan darah normal kembali. Penurunan tekanan darah merupakan
manifestasi lambat pada SSD, yang berarti sistem homeostasis terganggu,
kelainan hemodinamik berat, dan telah terjadi dekompensasi. Mula-mula tekanan
nadi turun kurang dari 20mmHg misalnya 100/ 90, oleh karena tekanan sistolik
turun sesuai dengan penurunan venous return dan volume sekuncup, sedangkan
tekanan diastolik meninggi sesuai dengan peningkatan tonus vaskular. Sindrom
syok dengue berlanjut dengan kegagalan mekanisme homeostasis. Efektivitas dan
integritas sistem kardiovaskular rusak, perfusi miokard dan curah jantung
menurun, sirkulasi makro dan mikro terganggu, terjadi iskemia jaringan,
kerusakan fungsi sel secara progresif dan ireversibel, sehingga terjadi kerusakan
sel dan organ dan pasien akan meninggal dalam 12-24 jam.

Adanya kebocoran plasma darah ke daerah ektra vaskuler di buktikan dengan


ditemukannya cairan tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga
peritonium,pleura,pericardium yang pada otopso ternyata melebihi cairan yang
diberikan melalui infus.Setelah pemberian cairan intravena,peningkatan jumlah
trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi,sehingga pemberian
cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapat cairan
yang cukup, penderita akan mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa
mengalami renjatan(syok).Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung maka akan
timbul anoksi jaringan,metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera
diatasi dengan baik.

Fase fase demam berdarah:

1. Fase demam

2. Fase kritis

3. Fase pemulihan
5. Woc demam berdarah
6. Komplikasi demam berdarah

Manifestasi patologis sistem organ merupakan dampak dari infeksi virus


dengue pada DBD derajat III dan IV, yang dapat muncul dalam bentuk
komplikasi seperti ensefalopati dengue, kelainan hati, komplikasi iatrogenik,
gagal ginjal akut, dan edema paru (Vivim,dkk,2015).

7. Terapi/penatalaksanaan demam berdarah Kasus DBD derajat III & IV

a. Penggantian secara cepat plasma yang hilang digunakan larutan garam


isotonik (Ringer Laktat, 5% Dekstrose dalam larutan Ringer Laktat atau 5%
Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat dan larutan normal garam faali)
dengan jumlah 10-20 ml/kg/1 jam atau pada kasus yang sangat berat (derajat
IV) dapat diberikan bolus 10 ml/kg (1 atau 2x).Jika syok berlangsung terus
dengan hematokrit yang tinggi, larutan koloidal dapat diberikan dengan
jumlah 10-20 ml/kg/jam.Selanjutnya pemberian cairan infus dilanjutkan
dengan tetesan yang diatur sesuai dengan plasma yang hilang dan sebagai
petunjuk digunakan harga hematokrit dan tanda-tanda vital yang ditemukan
selama kurun waktu 24-48 jam. Pemasangan cetral venous pressure dan
kateter urinal penting untuk penatalaksanaan penderita DBD yang sangat
berat dan sukar diatasi. Cairan koloidal diindikasikan pada kasus dengan
kebocoran plasma yang banyak sekali yang telah memperoleh cairan
kristaloid yang cukup banyak.Pada kasus bayi, dianjurkan 5% dekstrose di
dalam setengah larutan normal garam faali (5% dekstrose ½NSS) dipakai
pada awal memperbaiki keadaan penderita dan 5% dekstrose di dalam 1/3
larutan normal garam faali boleh diberikan pada bayi dibawah 1 tahun, jika
kadar natrium dalam darah normal. Infus dapat dihentikan bila hematokrit
turun sampai 40% dengan tanda vital stabil dan normal. Produksi urine baik
merupakan indikasi sirkulasi dalam ginjal cukup baik. Nafsu makan yang
meningkat menjadi normal dan produksi urine yang cukup merupakan tanda
penyembuhan.
Pada umumnya 48 jam sesudah terjadi kebocoran atau renjatan tidak lagi
membutuhkan cairan. Reabsorbsi plasma yang telah keluar dari pembuluh
darah membutuhkan waktu 1-2 hari sesudahnya. Jika pemberian cairan
berkelebihan dapat terjadi hipervolemi, kegagalan faal jantung dan edema
baru. Dalam hal ini hematokrit yang menurun pada saat reabsorbsi jangan
diintepretasikan sebagai perdarahan dalam organ. Pada fase reabsorbsi ini
tekanan nadi kuat (20 mmHg) dan produksi urine cukup dengan tanda-tanda
vital yang baik.

b. Koreksi Elektrolit dan Kelainan Metabolik

Pada kasus yang berat, hiponatremia dan asidosis metabolik sering dijumpai,
oleh karena itu kadar elektrolit dan gas dalam darah sebaiknya ditentukan
secara teratur terutama pada kasus dengan renjatan yang berulang. Kadar
kalium dalam serum kasus yang berat biasanya rendah, terutama kasus yang
memperoleh plasma dan darah yang cukup banyak. Kadanga-kadang terjadi
hipoglemia.

c. Obat Penenang

Pada beberapa kasus obat penenang memang dibutuhkan terutama pada kasus
yang sangat gelisah. Obat yang hepatotoksik sebaiknya dihindarkan, chloral
hidrat oral atau rektal dianjurkan dengan dosis 12,5-50 mg/kg (tetapi jangan
lebih dari 1 jam) digunakan sebagai satu macam obat hipnotik. Di RSUD Dr.
Soetomo digunakan valium 0,3 – 0,5 mg/kg/BB/1 kali (bila tidak terjadi
gangguan pernapasan) atau Largactil 1 mg/kgBB/kali.
d. Terapi Oksigen

Semua penderita dengan renjatan sebaiknya diberikan oksigen

e. Transfusi Darah

Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan


melena diindikasikan untuk memperoleh transfusi darah.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a. Identitas klien

Nama,umur,tempat tanggal lahir,pekerjaan,alamat jenis kelamin,agama,dll yang


mencakup kedalam identitas diri klien.

b. Identitas orang tua

Terdiri atas nama,umur,pekerjaan,alamat,agama,pendidikan,dll segala yang


mencakup kedalam identitas umum orang tua sebagai pendukun data di rumah
sakit.

c. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Keluhan utama biasanya berisi keluhan yang dialami oleh pasien dengan DBD
yang menyebabkan ia datang ke tempat pelayanan kesehatan.

2) Riwayat penyakit dahulu

DBD dapat menyebabkan serangan ulang pada anak,Atau status kesehatan


yang pernah dialami oleh klien.

3) Riwayat penyakit sekarang

Keluhan panas mendadak yang disertai dengan menggigil,turun naiknya panas


yang terjadi antara hari ke 3 dan ke 5.Dan keluhan yang dikatakan klien pada
saat dilakukannya pengkajian.
4) Riwayat penyakit keluarga

Ada atau tidaknya penyakit keturunan didalam keluarga.

d. Pola Aktifitas sehari hari

1)Kebutuhan nutrisi dan cairan:saat sakit nafsu makan berkurang dan juga
klien minum sedikit

2)Istirahat dan tidur:tidur tidak nyenyak dan sering terbangun ,pola tidur
tidak teratur

3)Kebutuhan eliminasi:BAK sebanyak 6-7 kali sehari.BAB dengan konsentrasi


padat dan juga berbau khas,dengan warna coklat kehitaman.

e. Pemeriksaan Fisik

1) Kesadaran : Kompos mentis

2) Kesadaran umum : sedang

3) Tanda tanda vital : tekanan darah,suhu,pernafasan,nadi

4) Kepala : bentuk normal,simetris,bersih,tidak ada lesi.nemjolan tidak


ada,wajah tampak kemerahan,dan tampak ruam pada kulit.

5) Mata : simetris.sklera tidak ikterik,konjungtiva anemis,pupil isokor,reflek


cahaya positif,palpebra tidak edema

6) Hidung : simetris,pernafasan cuping hidung +/-,kebersihan

7) Mulut : warna bibir,kebersihan bibir,mukosa bibir,adanya perdarahan


gusi

8) Telinga : simetris,kebersihan,posisi puncak pina sejajar dengan mata.


9) Leher : Pembesaran kelenjar getah bening
10) Dada:

Toraks:

I : Simetris,tampak bintik merah,tidak ada tarikan dinding dada

A :Veskular

P : fremitus kiri dan kanan sama

P : Sonor

Jantung:

I : Iktus kordis tidak terlihat

A : Irama jantung reguler

P : Iktus kordis teraba

11) Abdomen:

I : Simetris,tampak bintik merah pada abdomen

A : Bising usus

P : nyeri tekan pada ulu hati

P : Timpani

12) Kulit: turgor kembali cepat,kelembutan,warna,tampak bintik merah pada


seluruh tubuh

13) Ekstremitas : tampak bintik merah pada ekstremitas atas dan bawah

Pemeriksaan penunjang/pemeriksaan diagnostik


Parameter laboratorium yang dapat diperiksa, antara lain:
a. Pemeriksaan Hemoglobin Kasus DHF terjadi peningkatan kadar hemoglobin
dikarenakan kebocoran atau perembesan pembuluh darah sehingga cairan plasmanya
akan keluar dan menyebabkan hemokonsentrasi.Kenaikan kadar hemoglobin >14
gr/100ml.Pemeriksaan kadar hemoglobin dapat dilakukan dengan cara metode sahli
maupun fotoelektrik (sianmeth hemoglobin) (Gandasoebrata, 2004)
b. Pemeriksaan Hematokrit
Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan terjadinya hemokonsentrasi,
yang merupakan indikator terjadinya perbesaran plasma. Nilai peningkatan
ini lebih dari 20%. Pemeriksaan kadar hematokrit dapat dilakukan dengan
metode makro dan mikro (Gandasoebrata, 2004).
c. Pemeriksaan Trombosit Pemeriksaan jumlah trombosit ini dilakukan
pertama kali saat pesien didiagnosa sebagai pasien DHF. Pemeriksaan
trombosit perlu dilakukan pengulangan sampai terbukti bahwa jumlah
trombosit tersebut tetap normal atau menurun. Penurunan jumlah trombosit
<100.000/μl. Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8 akibat
depresi sumsum tulang (Gandasoebrata, 2004).
d. Pemeriksaan Leukosit Kasus DHF ditemukan jumlah bervariasi mulai dari
lekositosis ringan sampai lekopenia ringan. Mulai hari ke-3 ditemui
limfositosis relatif (>45% dari total lekosit) disertai adanya limfosit plasma
biru (LPB) >15% dari jumlah total lekosit yang pada fase syok akan
meningkat.e. Pemeriksaan Limfosit Plasma Biru Limfosit Plasma Biru
dijumpai >10 % setelah hari ketiga panas, buffy coatdi pemeriksaan darah
hapus ditemukan limfosit atipik atau limfosit plasma biru > 4% dengan
berbagai bentuk: monositoid, plasmositoiddan blastoid limfosit. Terdapat
limfosit Monositoid(Sel Downey I)mempunyai hubungan dengan
DHFderajat-II dan IgG positif danlimfosit non monositoid (plasmositoid dan
blastoidatau sel Downey II dan sel Downey III) dengan derajat I dan IgM
positif(Imam Budiwiyono, 2012)

2) Uji Serologi
a. Tes IgG IgM
Dengue Dalam kasus yang meragukan sangat ideal bila tersedia tes yang dapat
memberikan hasil yang akurat dan cepat. Dewasa ini telah dipasarkan
pemeriksaan yang dikatakan sederhana, cepat dan sensitif yaitu tes Dengue
baik untuk IgM ataupun untuk IgG. Hasil positif IgG menandakan adanya
infeksi sekunder denguedan IgM positif menandakan infeksi primer. Namun
demikian dalam penilaiannya harus hati-hati karena adanya negatif palsu dan
positif palsu untuk IgM maupun IgG terlebih di daerah endemis DBD, karena
kadar IgM terutama IgG masih tetap tinggi berbulan-bulan setelah infeksi
Dengue. Kelemahan lain pada test ini adalah sensitifitas pada infeksi sekunder
lebih tinggi, tetapi pada infeksi primer lebih rendah, serta harganya yang
relatif mahal (Suroso & Torry C, 2004).
b. NS1 (Non Struktural Antigen 1) Antigen NS1 dapat dideteksi pada awal
demam hari pertama sampai hari kedelapan. Sensitifitas antigen NS1 berkisar
63-93,4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold
standar kultur virus.
B. Diagnosa keperawatan
1)Hipovolemia b/d peningkatan permeabilitas kapiler
2)Resiko Perdarahan b/d gangguan koagulasi(trombositopenia)
3)Hipertermia b/d dehidrasi
4)Defisit Nutrisi b/d ketidak seimbangan asupan nutrisi
5) Intoleran Aktifitas b/d kelemahan

C. Intervensi Keperawatan

No SDKI SLKI SIKI


1 Hipovolemia b/d Setelah dilakukan Manajemen Hipovolemia
peningkatan intervensi keperawatan Observasi:
permeabilitas selama ........maka statu 1. Periksa tanda dan gejala
kapiler cairan membaik, dengan hipovolemia
kriteria hasil : 2. Monitor intake dan
1. Turgor kulit output cairan
meningkat Terapeutik :
2. Output urine 1. Hitung kebutuhan cairan
meningkat 2. Berikan asupan cairan oral
3. Kekuatan nadi Edukasi :
meningkat 1. Anjurkan memperbanyak
4. Frekuensi nadi cairan oral
membaik Kolaborasi :
5. Tekanan darah 2. Kolaborasi pemeberian
membaik cairan intravena (cairan
6. Tekanan nadi isotonis, hipotonis, dan
membaik koloid)
7. Membrane mukosa 3. Kolaborasi pemberian
membaik produk darah
8. Kadar hematokrit Manajemen syok
membaik hipovolemik
9. Status mental Observasi :
membaik 1. Monitor status cairan
10. Suhu tubuh 2. Monitor status
membaik kardiopulmonal
11. Keluhan haus 3. Monitor status oksigenasi
menurun 4. Periksa tingkat kesadaran
12. Mata cekung Terapeutik :
membaik 1. Pertahankan jalan nafas
Berat badan membaik 2. Berikan oksigen
3. Pasang kateter urine untuk
menilai produksi urine
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemeberian
cairan infus kristaloid 20
ml/kg/bb

2. Resiko Setelah dilakukan Pencegahan perdarahan :


Perdarahan b/d intervensi 3x24 jam, maka Observasi
trombositopenia tingkat perdarahan 1. Monitor tanda dan gejala
menurun dengan kriteria perdarahan
hasil : 2. Monitor nilai
1. Membran mukosa hematokrit/hemoglobin
lembab meningkat 3. Monitor koagulasi
2. Kelembapan kulit Terapeutik
meningkat 1. Pertahankan bed rest
3. Hemoglobin membaik 2. Batasi tindakan invasif,
4. Hematokrit membaik jika perlu
5. Tekanan darah Edukasi
membaik 3. Anjurkan meningkatkan
6. Frekuensi nadi asuan cairan untuk
membaik menghindari konstipasi
7. Suhu tubuh membaik 4. Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan
vitamin K
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat
pengontrol perdarahan

3 Hipertermia b/d Setelah dilakukan Manajemen hipertermia :


dehidrasi intervensi selama …… Observasi
jam diharapkan 1. Identifikasi penyebab
termoregulasi membaik 2. Monitor suhu tubuh
dengan kriteria hasil : 3. Monitor komplikasi akibat
1. Kulit merah menurun hipertermia
2. Pucat menurun Terapeutik
3. Suhu tubuh membaik 1. Berikan cairan oral
4. Suhu kulit membaik 2. Lakukan pendinginan
5. Tekanan darah eksternal (mis. Kompres
membaik dingin pada dahi, leher,
dada, abdomen, aksila)
3. Berikan oksigen jika perlu

Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu
4 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri :
keperawatan selama ….. Observasi:
jam diharapkan nyeri akut 1. Identifikasi lokasi,
membaik dengan kriteria karakteristik, durasi,
hasil : frekuensi, kualitas,
Tingkat Nyeri intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
2. Keluhan nyeri
3. Identifikasi respons
menurun (skala 5)
nyeri non verbal
3. Meringis menurun
4. Identifikasi faktor yang
(skala 5)
memerberat dan
4. Sikap protektif
memperingan nyeri
menurun (skala 5)
Terapeutik
5. Gelisah menurun
1. Berikan teknik
(skala 5)
nonfarmakologis untuk
6. Kesulitan tidur
mengurangi ras nyeri
menurun (skala 5)
2. Kontrol lingkungan
Frekuensi nadi
yang memperberat rasa
membaik (skala 5)
nyeri
Edukasi
1. Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3. Anjurkan monitor nyeri
secara mandiri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
5 Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Menejemen Nutrisi
b/d ketidak intervensi keperawatan Observasi
seimbangan selama ........maka Status 1. Identifikasi status nutisi
asupan nutrisi nutrisi membaik dengan 2. Identifikasi alergi dan
kriteria hasil : intoleransi makanan
1. Porsi makan yang 3. Identifikasi makanan
dihabiskan yang disukai
miningkat 4. Identifikasi kebutuhan
2. Sariawan menurun kalori dan jenis nutrien
3. Rambut rintok 5. Identifikasi perlunya
menurun penggunaan NGT
4. Diare menurun 6. Monitor asupan
5. Berat badan makanan
membaik 7. Monitor berat badan
6. Indeks masa tubuh 8. Monitor hasil
(IMT) membaik pemeriksaan
7. Nafsu makan labpratorium
membaik Kolaborasi
8. Bising usus 1. Kolaborasi dengan ahli
membaik gizi,jika diperlukan.
9. Membran mukosa
membaik
6 Intoleran Setelah dilakukan Manajemen Energi
Aktifitas b/d intervensi keperawatan Observasi
kelemahan selama ........maka Status 1. Identifikasi gangguan
aktifitas meningkat dengan fungsi tubuh yang
kriteria hasil: mengakibatkan
1. Saturasi oksigen kelelahan
meningkat 2. Monitor kelelahan fisik
2. Kemudahan dalam dan emosional
melakukan 3. Monitor pola dan jam
aktivitas sehari- tidur
hari meningkat 4. Monitor lokasi dan
3. Kecepatan berjalan ketidaknyamanan
meningkat selama melakukan
4. Jarak berjalan aktivitas
meningkat Terapeutik
5. Kekuatan tubuh 1. Sediakan lingkungan
bagian atas nyaman dan rendah
meningkat stimulus (mis. cahaya,
6. Kekuatan tubuh suara, kunjungan)
bagian bawah 2. Lakukan latihan rentang
meningkat gerak pasin dan/atau aktif
7. Toleransi dalam 3. Berikan aktivitas distraksi
menaiki tangga yang menenangkan
meningkat 4. Fasilitasi duduk di sisi
8. Keluhan lelah tempat tidur, jika tidak
9. Dipsnea saat dapat berpindah atau
aktivitas menurun berjalan
10. Dipsnea setelah Edukasi
aktivitas menurun 1. Anjurkan tirah baring
11. Perasaan lemah 2. Anjurkan melakukkan
menurun aktivitas secara bertahap
12. Aritmia saat 3. Anjurkan menghubungi
beraktivitas perawat jika tanda dan
menurun gejala kelelahan tidak
13. Aritmia setelah berkurang
beraktivitas 4. Ajarkan strategi koping
menurun untuk mengurangi
14. Sianosis menurun kelelahan
15. Warna kulit Kolaborasi
membaik 1. Kolaborasi dengan ahli
16. Tekanan darah gizi tentang cara
membaik meningkatkan asupan
17. Frekuensi napas makanan
membaik Terapi Aktivitas
18. EKG Iskemia Observasi
membaik 1. Identifikasi defisit tingkat
aktivitas
2. Identifikasi kemampuan
berpartisipasi dalam
aktivitas tertentu
3. Identifikasi sumber daya
untuk aktivitas yang
diinginkan
4. Identifikasi strategi
meningkatkan partisipasi
dalam aktivitas
5. Identifikasi makna
aktivitas rutin (mis.
bekerja) dan waktu luang
6. Monitor respons
emosional, fisik, sosial,
dan spiritual terhadap
aktivitas
Terapeutik
1. Fasilitasi fokus pada
kemampuan, buka
defisit yang dialami
2. Sepakati komitmen
untuk meningkatkan
frekuensi dan rentang
aktivitas
3. Fasilitasi memilih
aktivitas dan tetapkan
tujuan aktivitas yang
konsisten sesuai
kemampuan fisik,
psikologis, dan sosial
4. Koordinasikan
pemilihan aktivitas
sesuai usia
5. Fasilitasi makna
aktivitas yang dipilih
Edukasi
1. Jelaskan metode
aktivitas fisik sehari-
hari, jika perlu
2. Ajarkan cara melakukan
aktivitas yang dipilih.
3. Anjurkan melakukan
aktivitas fisik, sosial,
spiritual, dan kognitif
dalam menjaga fungsi
dan kesehatan
4. Anjurkan terlibat dalam
aktivitas kelompok atau
terapi, jika sesuai
5. Anjutkan keluarga
untuk memberi
penguatan positif atas
partisipasi dalam
aktivitas
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan terapi
okupasi dalam merencanakan
dan memonitor program
aktivitas, jika sesuai

DAFTAR PUSTAKA

Candra,Ayu.2010.Jurnal Demam Berdarah Dengue.Jakarta


Genis. 2004. Demam Berdarah. Jakarta . Perlindo

Kemenkes RI. 2017. Situasi Demam berdarah di Indonesia. Kemenkes

Leovani,Vivin,Dkk.2015.Gambaran Klinis dan Komplikasi Pasien Demam Berdarah


Dengue Derajat III dan IV di Bagian Penyakit Dalam RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Periode 1 Januari 2012 – 31 Desember 2013.JOM FK Volume 2 No. 2 Oktober
2015.https://www.neliti.com/publications/185356/gambaran-klinis-dan-komplikasi-
pasien-demam-berdarah-dengue-derajat-iii-dan-iv-d.Di akses pada tanggal 5
Oktober 2020 pukul 7.48 WIB.

Misnadiarly, 2009. Demam Berdarah Dehgue (DBD). Jakarta. Yayasan Pustaka Obor

Indonesia

Nagastiya, 2014. Demam berdarah. Jakarta Cet 1. Jakarta. Puspa Swara

Smeltzer, S. C. 2015. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart Edisi 12.
Jakarta : EGC

Soegijanto,sugeng.2001.Seminar penatalaksanaan DBD.Fakultas Kedokteran


Unair.Surabaya

Tim Pokja SDKI DPP PPNI.2017. Standar Diagnosis Keperawaan


Indonesia.Jakarta.DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI.2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.Jakarta.


DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI.2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.Jakarta.


DPP PPNI