Anda di halaman 1dari 19

3.

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN MOBILITAS FISIK

I. Konsep kebutuhan dasar gangguan mobilitas fisik


1.2 Definisi
a. Mobilisasi
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan
kemandirian bagi seseorang (Ansari, 2011).
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan
keegiatan dengan bebas (Kosier, 1989 cit Ida 2009)
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan,
memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan
untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi,
membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi
gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai
bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak,
2008).
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu
untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya
(Aziz AA, 2006)
Mobililis/ mobilisatio adalah usahagerak/ memgerakakn
(Brooker Christine, 2001)
Mobilitas fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau
bahkan beresiko mengalami keterbatasan fisik dan bukan merupakan
immobile (Doenges, M.E, 2000)
Mobilitas atau Mobilisasi adalah kemampuan individu untuk
bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
b. Imobilisasi
mobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang
kurang darimobilitas optimal (Ansari, 2011).
Imobilisasi adalah suatu keadaan dimana penderita harus
istirahat di tempat tidur,tidak bergerak secara aktif akibat berbagai
penyakit atau gangguan pada alat/organ tubuh yang bersifat fisik atau
mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak /
tirah baring yang terus – menerus selama 5 hari atau lebih akibat
perubahan fungsi fisiologis (Bimoariotejo, 2009).
Immobility (imobilisasi) adalah keadaan tidak bergerak/ tirah
baring (bed rest) selama 3 hari atau lebih (Adi, 2005). Suatu keadaan
keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami
seseorang (Pusva, 2009).
Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu
tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga
mengalami penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak,
2008).
Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh
North American Nursing  Diagnosis Association (NANDA) sebagai
suatu kedaaan dimana individu yangmengalami atau beresiko
mengalami keterbatsan gerakan fisik. Individu yang mengalami atau
beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia,
individu dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih
dari 3 hari atau lebih, individu yang kehilangan fungsi anatomic akibat
perubahan fisiologik (kehilangan fungsi motorik,klien dengan stroke,
klien penggunaa kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti
gipsatau traksi), dan pembatasan gerakan volunteer (Potter, 2005).
Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk
menggerakkan tubuhnya sendiri. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor
resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit
maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu
penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya
mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping mempengaruhi
kulit secara langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh.
Misalnya pada system kardiovaskuler,gangguan sirkulasi darah perifer,
system respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk mengambil
oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya
asupan oksigen ke tubuh Lindgren et al, 2004)
I.2 Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular,
meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan
saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya
kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai
sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik.
Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot
memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan
otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari
otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan
volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik.
Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek,
namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya
peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama
jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi
kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit
obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan
kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran
skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan
dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot
yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus
otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan
relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot
mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya
aliran darah ke jantung.
Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari
empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak
beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi
organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan
dalam pembentukan sel darah merah.
Sendi adalah hubungan di antara tulang, diklasifikasikan
menjadi:
a. Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung
kekuatan dan stabilitas. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini.
Contoh: sakrum, pada sendi vertebra.
b. Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan,
tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan
permukaannya. Sendi kartilago terdapat pada tulang yang
mengalami penekanan yang konstan, seperti sendi, kostosternal
antara sternum dan iga.
c. Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua
permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. Serat
atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dapat bergerak
dengan jumlah yang terbatas. Contoh: sepasang tulang pada kaki
bawah (tibia dan fibula) .
d. Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang
dapat digerakkan secara bebas dimana permukaan tulang yang
berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh
ligamen oleh membran sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi
pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada
jari.
e. Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih,
mengkilat, fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan
menghubungkan tulang dan kartilago. Ligamen itu elastis dan
membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif.
Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan
ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang
belakang) saat punggung bergerak.
f. Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat,
yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat,
fleksibel, dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan
ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon akhiles/kalkaneus.
g. Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak
mempunyai vaskuler, terutama berada disendi dan toraks, trakhea,
laring, hidung, dan telinga. Bayi mempunyai sejumlah besar
kartilago temporer. Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi
kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis.
h. Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik
volunteer utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus
prasentral atau jalur motorik.
i. Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari
bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor
aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan.
Misalnya proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk
memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat
berdiri, ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus.
Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan informasi ini
sampai memutuskan untuk mengubah posisi.
I.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi
a. Gaya hidup
Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya.
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh
perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya
dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan
senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya;
seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang
pramugari atau seorang pemambuk.
b. Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan
mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang
akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. Demikian pula orang
yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka
cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus
istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya;
CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit
kardiovaskuler.
c. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan
aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap
hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai
mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda
mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan
sebagainya.
d. Tingkat energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang
yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan
orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
e. Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny
dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit
dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat
kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
f. Faktor resiko
Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat
menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut, seperti pada tabel
berikut:
Gangguan Artritis
muskuloskeletal Osteoporosis
Fraktur (terutama panggul dan femur)
Problem kaki (bunion, kalus)
Lain-lain (misalnya penyakit paget)
Gangguan neurologis Stroke
parkinson Penyakit
Lain-lain (disfungsi serebelar, neuropati)
Penyakit Gagal jantung kongensif  (berat)
kardiovaskular Penyakit jantung koroner (nyeri dada yang sering)
Penyakit vaskular perifer (kardkasio yang sering)
Penyakit paru Penyakit paru obstruksi kronis (berat)
Faktoe sensorik Gangguan penglihatan
Takut (instabilitas dan takut akan jatuh)
Penyebab lingkungan Imobilisasi yang dipaksakan (di rumah sakit atau
panti werdha)
Alat bantu mobilitas yang tidak adekuat
Nyeri akut atau kronik
Lain-lain Dekondisi (setelah tirah baring lama metastasis luas
pada keganasan)
Malnutrisi
Penyakit sistemik berat (misalnya metastasis luas
pada keganasan)
Depresi
Efek samping obat (misalnya kekuatan yang
disebabkan obat antipsikotik)
I.4 Jenis Mobilitas dan Imobilitas
a. Jenis Mobilitas :
1) Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan
interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas
penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan
sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2) Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak
secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik
dan sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada
kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi.
Pada pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian
pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan
sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis,
yaitu:
3) Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal
tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada system
musculoskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan
tulang.
4) Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk
bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut
disebabkan oleh rusaknya system saraf yang reversibel,
contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi
karena cedera tulang belakang, poliomilitis karena
terganggunya system saraf motorik dan sensorik.
b. Rentang Gerak dalam mobilisasi
Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
1) Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan
otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain
secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan
kaki pasien.
2) Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi
dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya
berbaring pasien menggerakkan kakinya.
3) Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan
melakukan aktifitas yang diperlukan
c. Jenis Imobilitas :
1) Imobilisasi fisik,merupakan pembatasan untuk bergerak secara
fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi
pergerakan.
2) Imobilisasi intelektual,merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami keterbatasan daya pikir.
3) Imobilitas emosional, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya
perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
4) Imobilitas sosial, merupakan keadaan individu yang
mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena
keadaan penyakitnya, sehingga dapat mempengaruhi perannya
dalam kehidupan sosial.
II. Rencana asuhan klien dengan gangguan kebutuhan mobioitas fisik
2.1 Pengkajian
2.1.1 riwayat pengkajian
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan
pada sistem muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain
dalam melakukan aktivitas, jenis latihan atau olahraga yang sering
dilakukan klien dan lain-lain

2.1.2 Pemeriksaan fisik


Meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap tubuh, dan dampak
imobilisasi terhadap sistem tubuh.
2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
 Sinar – X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan
perubahan hubungan tulang.
 CT scen (Computetd Tomography) menunjukkan rincian bidang
tertentu tulang yang terkena dan dapat memperhatikan tumor
jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon.
 MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencintraan
khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet,
gelombang radio, dan komputer untuk memperhatikan
abnormalitas.
 Pemeriksaan laboratorium:
Hb menurun pada trauma, Ca menurun pada imobilisasi lama,
Alkali Fospat menigkat, kreatinin dan SGOT meningkat pada
kerusakan otot.
2.2 Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
Diagnosa 1 gangguan mobilitas fisik
2.2.1 Defenisi
Keterbatasan dalam, pergerakan fisik mandiri dan terarah pada tubuh
atau satu ektremitas atau lebih.
2.2.2 Batasan karakteristik
Objektif:
 Penurunan waktu reaksi
 Kesulitan membolak balik posisi tubuh
 Asyik dengan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan .
 Dispnea saat beraktivitas
 Perubahan cara berjalan
 Pergerakan menyentak
 Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan
motorik halus.
2.2.3 Faktor yang berhubungan
 Penurunan kekuatan, kendali, atau massa otot
Diagnosa 2 Intoleransi aktivitas
2.2.4 Defenisi
Ketidak cukupan energi fisiologi atau psikologi untuk melanjutkan
atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus
dilakukan.
2.2.5 Batasan karakteristik
Subjektif
 Ketidaknyamanan atau dipsnea saat beraktivitas
 Melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal
Objektif
 Frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai
respon terhadap aktivitas
 Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
2.2.6 Faktor yang berhubungan
 Tirah baring dan imobilitas
 Kelemahan umum
Diagnosa 3 Defisit perawatan diri eliminasi
2.2.7 Defenisi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
kegiatan eliminasi.
2.2.8 Batasan karakteristik
Objektif
 Ketidak mampuan melakukan higine eliminasi yang tepat
 Ketidak mampuan menyiram kloset atau kursi buang air
 Ketidakmampuan memanipulasi pakaian untuk eliminasi
 Ketidak mampuan untuk duduk atau bagun dari kloset atau kursi
buang air
2.2.9 Faktor yang berhubungan
 Hambatan mobilitas
 Hambatan lingkungan
 kelemahan
RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA
NO
KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX
KOLABORASI
1 Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan asuhan keperawatan Latihan Kekuatan
berhubungan selama ...x 24 jam klien menunjukkan:   Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program
dengan Kerusakan sensori  Mampu mandiri total latihan secara rutin
persepsi.   Membutuhkan alat bantu
  Membutuhkan bantuan orang lain Latihan untuk ambulasi
  Membutuhkan bantuan orang lain dan alat  Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan
  Tergantung total keluarga.
Dalam hal :   Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
  Penampilan posisi tubuh yang benar   Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.
  Pergerakan sendi dan otot
  Melakukan perpindahan/ ambulasi : Latihan mobilisasi dengan kursi roda
miring kanan-kiri, berjalan, kursi roda   Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara
berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya.
  Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh
  Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda
Latihan Keseimbangan
  Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri
dan menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari
hari.

Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar


  Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar
untuk menghindari kelelahan, keram & cedera.
  Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan.

2 Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan Asuhan keperawatan Pain Management


dengan cedera fisik selama …. x 24 jam:   Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
 Pain Level, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
 Pain control,   Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
 Comfort level   Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
Kriteria Hasil : pasien
  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab
  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
nyeri, mampu menggunakan   Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan
tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, kontrol nyeri masa lampau
mencari bantuan)   Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  Melaporkan bahwa nyeri   Kurangi faktor presipitasi nyeri
berkurang
dengan menggunakan manajemen nyeri   Ajarkan tentang teknik non farmakologi
  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,
  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
frekuensi dan tanda nyeri)   Tingkatkan istirahat
  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berkurang berhasil
  Tanda vital dalam rentang normal   Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

3 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Asuhan keperawatan Managemen Energi


berhubungan selama …. x 24 jam :   Tentukan penyebab keletihan: :nyeri, aktifitas, perawatan , pengobatan
denganKelemahan umum   Klien mampu mengidentifikasi aktifitas  Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.
dan situasi yang menimbulkan kecemasan  Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktifitas.
yang   berkonstribusi pada intoleransi  Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktifitas : takikardi, disritmia,
aktifitas. dispnea, diaforesis, pucat.
  Klien mampu berpartisipasi dalam  Monitor asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi.
aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan  Monitor respon terhadap pemberian oksigen : nadi, irama jantung,
TD, N, RR dan perubahan ECG frekuensi Respirasi terhadap aktifitas perawatan diri.
  Klien mengungkapkan secara verbal,  Letakkan benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah
pemahaman tentang kebutuhan oksigen, dijangkau
pengobatan dan atau alat yang dapat  Kelola energi pada klien dengan pemenuhan kebutuhan makanan, cairan,
meningkatkan toleransi terhadap aktifitas. kenyamanan / digendong untuk mencegah tangisan yang menurunkan
  Klien mampu berpartisipasi dalam energi.
perawatan diri tanpa bantuan atau dengan  Kaji pola istirahat klien dan adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.
bantuan minimal tanpa menunjukkan
kelelahan Terapi Aktivitas
  Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
  Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat.
  Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi, berubah posisi,
perawatan personal, sesuai kebutuhan.
  Minimalkan anxietas dan stress, dan berikan istirahat yang adekuat
  Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi, sesuai indikasi

4 Defisit perawatan diri Setelah dilakukan asuhan keperawatan Bantuan Perawatan Diri: Mandi, higiene mulut, penil/vulva, rambut,
berhubungan selama... x24 jm kulit
dengan Kerusakan Klien mampu :   Kaji kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, perineal, anus
neurovaskuler   Melakukan ADL mandiri : mandi,  Bantu klien untuk mandi, tawarkan pemakaian lotion, perawatan kuku,
hygiene mulut ,kuku, penis/vulva, rambut, rambut, gigi dan mulut, perineal dan anus, sesuai kondisi
berpakaian, toileting, makan-minum,  Anjurkan klien dan keluarga untuk melakukan oral hygiene sesudah
ambulasi makan dan bila perlu
  Mandi sendiri atau dengan bantuan tanpa  Kolaborasi dgn Tim Medis / dokter gigi bila ada lesi, iritasi, kekeringan
kecemasan mukosa mulut, dan gangguan integritas kulit.
  Terbebas dari bau badan dan
mempertahankan kulit utuh Bantuan perawatan diri : berpakaian
  Mempertahankan kebersihan area perineal  Kaji dan dukung kemampuan klien untuk berpakaian sendiri
dan anus   Ganti pakaian klien setelah personal hygiene, dan pakaikan pada
  Berpakaian dan melepaskan pakaian ektremitas yang sakit/ terbatas terlebih dahulu, Gunakan pakaian yang
sendiri longgar
  Melakukan keramas, bersisir, bercukur,  Berikan terapi untuk mengurangi nyeri sebelum melakukan aktivitas
membersihkan kuku, berdandan berpakaian sesuai indikasi
  Makan dan minum sendiri, meminta
bantuan bila perlu Bantuan perawatan diri : Makan-minum
  Mengosongkan kandung kemih dan bowel  Kaji kemampuan klien untuk makan : mengunyah dan menelan makanan
  Fasilitasi alat bantu yg mudah digunakan klien
  Dampingi dan dorong keluarga untuk membantu klien saat makan

Bantuan Perawatan Diri: Toileting


  Kaji kemampuan toileting: defisit sensorik
(inkontinensia), kognitif (menahan untuk toileting), fisik (kelemahan
fungsi/ aktivitas)
  Ciptakan lingkungan yang aman(tersedia pegangan dinding/ bel), nyaman
dan jaga privasi selama toileting
  Sediakan alat bantu (pispot, urinal) di tempat yang mudah dijangkau
  Ajarkan pada klien dan keluarga untuk melakukan toileting secara teratur
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.

Perry & Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Tarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan
kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

Kushariyadi. 2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.


New Jersey: Upper Saddle River

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima


Medika

Anda mungkin juga menyukai