Anda di halaman 1dari 10

Telaah Jurnal

Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi dengan Pemberian Teknik


Batuk Efektif Pada Pasien TB paru

A. Metode PICO Dalam Telaah Jurnal

Dalam merumuskan rumusan masalah klinis, dapat dituliskan dengan format PICO; terdiri atas

4 komponen; yaitu P atau problem/permasalahan pada pasien; I yang merefleksikan suatu

intervensi/indeks/ atau indikator, C merupakan kependekan dari comparison, dan O atau outcome.

Pertanyaan klinis perlu mendeskripsikan dengan jelas karakteristik pasien (karakteristik

demografis pasien) dan masalah klinis pasien yang dihadapi pada praktik klinis. Karakteristik pasien dan

masalahnya perlu dideskripsikan dengan eksplisit agar bukti-bukti yang dicari dari database hasil riset

relevan dengan masalah pasien dan dapat diterapkan, yaitu bukti-bukti yang berasal dari riset yang

menggunakan sampel pasien dengan karakteristik serupa dengan pasien/ populasi pasien yang datang

pada praktik klinik.

Intervention Pertanyaan klinis perlu menyebutkan dengan spesifik intervensi yang ingin

diketahui manfaat klinisnya. Intervensi diagnostik mencakup tes skrining, tes/ alat/ prosedur diagnostik,

dan biomarker. Intervensi terapetik meliputi terapi obat, vaksin, prosedur bedah, konseling, penyuluhan

kesehatan, upaya rehabilitatif, intervensi medis dan pelayanan kesehatan lainnya. Tetapi intervensi yang

dirumuskan dalam pertanyaan klinis bisa juga merupakan paparan (exposure) suatu faktor yang diduga

merupakan faktor risiko/ etiologi/ kausa yang mempengaruhi terjadinya penyakit/ masalah kesehataan

pada pasien. Intervensi bisa juga merupakan faktor prognostik yang mempengaruhi terjadinya akibat-

akibat penyakit, seperti kematian, komplikasi, kecacatan, dan sebagainya (bad outcome) pada pasien.

Comparison Pertanyaan klinis perlu pembanding dari intervensi yang diberikan (misalnya:

pembanding computed tomography (CT) yaitu ultrasonografi untuk mendiagnosis apendisitis pada laki-

laki usia 30 tahun dengan nyeri abdomen akut).

Outcome Efektivitas intervensi diukur berdasarkan perubahan pada hasil klinis (clinical

outcome). Outcome (patient-oriented outcome) mengacu pada 3 hal yaitu death/kematian (misalnya:

angka kematian ibu dan anak), disability/kecacatan (misalnya: kebutaan karena retinopati diabetik pada

pasien diabetes mellitus), dan discomfort/ketidaknyamanan (misalnya: nyeri, mual, dan demam).

Suatu karya tulis ilmiah pada umumnya disusun berdasarkan suatu masalah. Masalah sendiri

merupakan kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Masalah-masalah dalam bidang kedokteran dan

kesehatan dapat disusun menjadi suatu pertanyaan klinis.


Pertanyaan klinis yang dibentuk sebaiknya harus memiliki model PICO sehingga memudahkan

peneliti untuk menemukan referensi terbaik bagi karya ilmiahnya. Pertumbuhan publikasi karya ilmiah

belakangan ini terjadi dengan sangat pesat. Publikasi karya ilmiah dalam jurnal meningkat 2 kali lipat

pada tahun 1950 dalam setiap 10 tahun hingga saat ini meningkat 2 kali lipat hanya dalam 1 tahun.

Kondisi ini akan meningkat 2 kali lipat setiap 73 hari pada tahun 2020.

Banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini disertai dengan menurunnya beberapa kualitas terbitan

karya ilmiah dengan munculnya jurnal-jurnal yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan kaidah

dan etika keilmuan. Kualitas publikasi ilmiah yang berkurang dan banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini

akan menyulitkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhirnya menemukan referensi

skripsi yang tepat untuk karya ilmiahnya. Metode PICO dapat dengan mudah digunakan untuk

menemukan referensi yang tepat untuk karya ilmiah yang sedang dibuat sangat menghemat waktu yang

dibutuhkan untuk mencari referensi.

B. Analisis Jurnal

Judul Penelitian Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi dengan


Pemberian Teknik Batuk Efektif Pada Pasien TB paru
Peneliti Suardi Zurimi
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang Asuhan
Keperawatan Dengan GangguanKebutuhan Oksigenasi pada klien dengan
TB Paru di Ruangan Paru-Paru RSUD dr. M. Haulussy Ambon.
Ringkasan Jurnal Tuberculosis Paru (TB) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman Mycobaterium tuberculosis. Berdasarkan laporan
terkini pada tahun 2008 inside rate (IR) kasus TB Paru diestimasikan telah
mencapai 9,4 juta jiwa dimana cenderung terjadi peningkatan dari tahun
sebelumnya yang masing-masing 9,24 juta di tahun 2006 dan 9,27 juta di
tahun 2007. Indonesia sendiri mempati peringkat ke empat terbayak untuk
penderita Tuberculosis setelah China, India dan Afrika Selatan. Prevalensi
Tuberculosis di Indonesia pada tahun 2013 ialah 297 per 100.000
penduduk . Total kasus hingga 2013 mencapai sekitar 800.000-900.000
kasus. Keadaan penyakit TB Paru di kota Ambon selama tahun 2015
dengan jumlah kasus BTA positif 272 kasus dengan angka kesembuhan
atau success rate (SR) 38,8%. Tahun 2014 dengan jumlah BTA positif
316 kasus dengan angka kesembuhan success rate (SR) 46,9%. Tahun
2013 dengan jumlah kasus BTA positif dengan angka kesembuhan atau
sukses rate (SR) 18,04%. Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M.
Haulussy Ambon ditemukan angka kejadian klien dengan Tuberculosis
Paru yang dirawat tiga tahun terakhir di Ruangan Paru-Paru Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. M. Haulussy Ambon, yaitu 386 pada tahun 2015, 335
pada tahun 2016, dan 321 pada tahun 2017.
Masalah kebutuhan oksigen yang sering terjadi pada penderita TB
Paru yaitu : a) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas, dan b) Gangguan
pertukaran gas. Adapun pemenuhan kebutuhan oksigenasi yang dapat
dilakukan dengan cara melatih nafas dalam dan melakukan teknik batuk
efektif. Salah satu tindakan mandiri keperawatan pada klien TB Paru
adalah Batuk efektif dengan tujuan dapat mempercepat pengeluaran
dahak pada pasien dengan gangguan saluran pernafasan TB Paru.
Dengan batuk efektif, maka berbagai penghalang yang menghambat atau
menutup saluran pernapasan dapat dihilangkan, selain itu juga tindakan
dengan metode batuk dengan benar, dapat menghemat energi sehingga
tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara maksimal.
Rancangan penelitian studi kasus ini dengan menggunakan desain
deskriptif melalui penerapan asuhan keperawatan dengan gangguan
kebutuhan oksigenasi pada klien dengan Tuberculosis Paru melalui
pendekatan proses keperawatan secara komprehensif dimulai dari
pengkajian, diagnosa keperawatan,. perencanaan, implementasi dan
evaluasi dengan Subjek penelitian ini adalah klien dengan Tuberculosis
Paru sebanyak 2 (dua) orang yang dirawat di Ruangan Paru-paru Rumah
Sakit Dr. M. Haulussy Ambon. Penelitian ini dilaksanakan selama 2
(dua) minggu mulai tanggal 10 – 21 Juni 2019.
Klien I mengalami batuk di sertai lendir sejak 6 bulan yang lalu,
sering merasa sesak ketka bernapas, merasa lemas, berat badan
menurun. Pemeriksaan BTA hasil positif, tanda-tanda vital : tekanan
darah : 110/90 mmHg, nadi : 88x/menit, pernapasan : 24x/ment, SpO2 :
98%. Sedangkan Klien II mengalami batuk berlendir disertai darah sejak
4 minggu yang lalu, merasa sesak ketka bernapas, berkeringat pada
malam hari, berat badan menurun dan lemas. Pemerksaan BTA hasil
postif, tanda-tanda vital : tekanan darah : 90/70 mmHg, nadi : 80x/menit,
pernapasan : 28x/menit, SpO2 : 98%. Prioritas masalah yang muncul
pada klien I dan II adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas ditandai
dengan batuk yang tidak efektif. Diagnosa yang diambil mengacu pada
NANDA.
Intervensi keperawatan yang diberikan baik pada klien I dan klien
II sama sesuai dengan NIC (Nursing Interventions Classification).
Tindakan yang diberikan di antaranya mengatur posisi klien, melakukan
fisioterapi dada menjelaskan tujuan dan manfaat pada klien dan
keluarga, dan mengajarkan klien teknik batuk efektif, menjelaskan
tujuan dan manfaat batuk efektif pada klien dan keluarga dan meminta
klien untuk meminum air hangat sebelum dilakukan fisioterapi dada.
Berdasarkan hasil evaluasi, masalah ketidakefektifan bersihan jalan
nafas pada klien I maupun klien II sudah teratasi karena kriteria hasil
yang ditetapkan sudah tercapai. Hal ini dutunjukkan dengan kondisi
klien I dan klien II dapat melakukan teknik batuk efektif dan dapat
mengeluarkan sputum dengan baik. Akan tetapi ada perbedaan
kecepatan respon pada kedua klien tersebut, yakni pada klien I dapat
melakukan batuk efektif dan dapat mengeluarkan sputum pada hari
ketiga, sedangkan pada klien II dapat melakukan teknik batuk efektif
dan dapat mengeluarkan sputum pada hari kedua.
Kelebihan & Kelebihan Jurnal :
Kekurangan Jurnal 1. Intervensi yang diberikan pada penelitian ini mudah dilakukan karena
tidak membutuhkan alat dan biaya
2. Teknik ini dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien setelah dilatih
3. Terdapat dua orang pasien TB paru yang menjadi subjek dalam
penelitian ini sehingga dapat dilihat perbandingan hasilnya.
Kekurangan Jurnal :
1. Pada bagian intervensi keperawatan, tidak disebutkan jenis-jenis
intervensi apa saja akan yang diberikan sesuai dengan Nursing
Interventions Classification (NIC), yang dipaparkan hanya tujuan dan
kriteria hasil yang ingin dicapai.
2. Prosedur melakukan teknik batuk efektif belum dijelaskan dalam
jurnal.
Problem TB Paru merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian
(mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas) maupun diagnosis dan
terapinya. Sejak tahun 1993 penyakit ini telah dideklarasikan sebagai
Global Health Emergency oleh World Health Organization (WHO)
dimana penyakit Tuberculosis ini sebagai darurat kesehatan dunia karena
jumlah penderita TB paru sekitar 583 ribu orang dan diperkirakan sekitar
140 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat Tuberculosis.
Berdasarkan laporan terkini pada tahun 2008 inside rate (IR) kasus TB
Paru diestimasikan telah mencapai 9,4 juta jiwa dimana cenderung terjadi
peningkatan dari tahun sebelumnya yang masing-masing 9,24 juta di
tahun 2006 dan 9,27 juta di tahun 2007.
Prevalensi Tuberculosis di Indonesia pada tahun 2013 ialah 297 per
100.000 penduduk dengan kasus baru setiap tahun mencapai 460.000
kasus. Dengan demikian total kasus hingga 2013 mencapai sekitar
800.000-900.000 kasus. penyakit TB Paru di kota Ambon selama tahun
2015 dengan jumlah kasus BTA positif 272 kasus dengan angka
kesembuhan atau success rate (SR) 38,8%. Tahun 2014 dengan jumlah
BTA positif 316 kasus dengan angka kesembuhan success rate (SR)
46,9%. Tahun 2013 dengan jumlah kasus BTA positif dengan angka
kesembuhan atau sukses rate (SR) 18,04%
Angka kejadian klien dengan Tuberculosis Paru yang dirawat tiga
tahun terakhir di Ruangan Paru-Paru Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M.
Haulussy Ambon. Rata-rata pasien di ruangan tersebut berjumlah di atas
300, yaitu 386 pada tahun 2015, 335 pada tahun 2016, dan 321 pada
tahun 2017.
Masalah kebutuhan oksigen yang yang sering terjadi pada penderita
TB Paru yaitu : a) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas, dan b)
Gangguan pertukaran gas. pemenuhan kebutuhan oksigenasi yang dapat
dilakukan dengan cara melatih nafas dalam dan melakukan teknik batuk
efektif. Sebagian besar klien dengan TB Paru belum mampu melakukan
teknik batuk efektif dan rata-rata klien TB Paru belum mengetahui cara
melakukan teknik batuk efektif dengan benar. Selain itu, tindakan batuk
efektif belum dilakukan secara maksimal oleh petugas ruangan maupun
mahasiswa yang sedang berpraktik klinik, karena tuntutan pekerjaan
petugas ruangan yang cukup banyak
Intervention Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang digunakan adalah
deskriptif study kasus yaitu untuk menggambarkan suatu keadaan atau
fenomena. Cara pengumpulan data tentang pemberian teknik batuk efektif
pada penelitian ini menggunakan proses keperawatan meliputi pengkajian,
diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Populasi
dalam penelitian ini adalah pasien yang dirawat inap di Ruang Paru-paru
RSUD dr. M. Haulussy Ambon tahun 2018 yaitu sebanyak 2 orang yang
memenuhi kriteria inklusi dan kliteria ekslusi. Pelaksaan penelitian ini
dilakukan selama empat hari yaitu tanggal 11 juni 2018 sampai 14 juni
2018 yang dilaksanakan di RSUD dr. M. Haulussy Ambon yang
diharapkan pasien mengalami bersihan jalan nafas. Dilakukan analisis
untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentasi frekuensi pernafasan
pasien TB paru sebelum dan sesudah melakukan latihan batuk efektif di
Ruang Paru-paru RSUD dr. M. Haulussy Ambon.
Comparation 1) Jurnal “Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi
dengan Pemberian Teknik Batuk Efektif Pada Pasien TB Paru”
(Zurimi, 2019)
Hasil :
Hasil penelitian ini adalah masalah keperawatan yang menjadi fokus
studi dalam studi kasus ini yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif
pada Tn. U.U (klien I) dan Tn. F.S (klien II) dengan Tuberculosis
Paru di ruangan Paru-paru RSUD. Dr.M. Haullusy. Berdasarkan
perkembangan kondisi klien selama empat hari didapatkan data klien
I mengatakan masih batuk batuk disertai lendir, lemas, berkeringat
pada malam hari, turgor kulit baik, dapat melakukan batuk efektif,
nyeri saat bernafas berkurang, sesak yang dirasakan klien berkurang
pernafasan 24x/menit. Pada klien II mengatakan batuk disertai lendir
dan darah berkurang, lemas yang dirasakan sudah berkurang, klien
mampu melakukan teknik batuk efektif tanpa bantuan perawat, sesak
yang dirasakan sudah berkurang, nyeri ketika bernafas berkurang,
pernapasan 21x/menit. Masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas
pada klien I maupun klien II sudah teratasi karena kriteria hasil yang
ditetapkan sudah tercapai. Hal ini dutunjukkan dengan kondisi klien I
dan klien II dapat melakukan teknik batuk efektif dan dapat
mengeluarkan sputum dengan baik. Akan tetapi ada perbedaan
kecepatan respon pada kedua klien tersebut, yakni pada klien I dapt
melakukan batuk efektif dan dapat mengeluarkan sputum pada hari
ketiga, sedangkan pada klien II dapat melakukan teknik batuk efektif
dan dapat mengeluarkan sputum pada hari kedua. Hal ini disebabkan
karena klien I pada tanggal 12 Juni 2018 mengalami peningkatan
kadar gula darah sewaktu yaitu 350mg/dL yang menyebabkan
kondisi tubuh klien melemah sehingga belum mampu melakukan
teknik batuk efektif dengan baik pada hari pertama dan hari kedua.
Selain itu pada pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan
pernafasan pada klien I 22x/menit dan pada klien II 21x/menit.
2) Jurnal “Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn. I dengan
Tuberkulosis Paru dalam Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi di
Ruangan Baji Ati Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
Makassar” (Nurlina, 2019)
Hasil :
Pada saat dilakukan evaluasi keperawatan mengenai diagnosa yang
ditegakkan yaitu diagnosa pertama ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan produksi secret yang berlebihan yaitu,
data subjektif: batuk klien nampak berkurang, klien mengatakan
dahak sudah mulai berkurang, klien sudah tidak terlalu sesak, klien
mengatakan sudah tidak ada lagi sputum yang susah dikeluarkan,
klien nampak tidak terlalu menggunakan otot bantu saat bernafas,
Tekanan Darah: 120/80 mmHg, Nadi: 80 x/menit, Suhu: 36ºc,
Pernafasan: 24x/menit. Masalah belum teratasi di tandai dengan
pasien tidak sesak lagi, batuk berkurang, pernafasan kembali normal.
Dan diagnosa kedua ketidakefektifan pola nafas berhubungan
menurunnya ekspansi paru yaitu, data subjektif: klien mengatakan
sudah tidak terlalu sesak. data objektif : klien nampak tidak terlalu
sesak, Tekanan Darah:120/80 mmHg, Nadi: 88 x/menit, Suhu: 36ºc,
Pernafasan: 24 x/menit, dan pola pernafasan normal : 24x/menit.
Masalah belum teratasi
3) Komparasi pada jurnal ini antara kelompok kontrol dan eksperimen
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan perencanaan yang
dibuat penulis dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang
asuhan keperawatan dengan pemeberian teknik batuk efektif pada
dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada klien. Menurut
(Mutaqqin 2008) pemberian latihan batuk efektif yaitu terutama pada
pasien yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang
disebabkan oleh kemampuan batuk yang menurun. hal ini sejalan
dengan menurut (Meidania 2015) batuk efektif dengan cara menekan
dada menggunakan tangan agar dapar melepaskan sekret dengan
tujuan meningkatkan kemampuan fungsional dan pasien akan merasa
lebih rileksPerencanaan yang dilakukan oleh penulis berdasarkan
masalah dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas ditandai dengan
batuk yang tidak efektif .
Rencana keperawatan yang disusun merupakan rencana keperawatan
untuk mengatasi diagnosis utama sebagai fokus studi dalam penyusunan
laporan kasus yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan batuk yang tidak efektif. Kriteria hasil dari tindakan keperawatan
yang diberikan pada pasien disusun sesuai dengan NOC (Nursing
outcome classification) yaitu dengan tujuan Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 4x8 jam di harapkan klien mampu :
a) mendemostrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspnea (mampu mengeluarkan sputum
dan mampu bernafas dengan mudah).
b) menunjukan jalan nafas paten (klien tidak merasa tercekik, irama
napas, frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada
suara napas abnormal).
c) Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat
menghambat jalan napas.
Intervensi keperawatan yang diberikan sesuai dengan NIC (Nursing
Interventions Classification) yaitu
a) Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigen yang
adekuat,
b) Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda tanda
distress pernapasan,
c) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dispnea (mampu mengeluarkan sputum,
mampu bernapas dengan mudah),
d) Tanda-tanda vital dalam rentang normal,
e) Berikan Health tentang teknik batuk efektif efektif pada klien dan
keluarga.
Pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien mengacu pada rencana
yang telah disusun dan disepakati bersama kedua klien dan keluarga serta
melibatkan keluarga secara aktif dengan memperhatikan cara teknik batuk
efektif dengan baik. Menurut hasil penelitian (Loriana, dkk, 2013)
melakukan intervensi pada keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
penting meningkatkan pengetahuan dan sikap yang positif sera penderita
TB paru menjadi semakin patuh dalam berobat dan mencegah terjadinya
penularan. Berdasarkan hasil dari kedua jurnal dapat dikatakan bahwa
teknik batuk efektif mampu mengurangi sputum dan mengurangi keluhan
pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen dengan
demikian batuk efektif dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan bagi
perawat untuk mengurangi keluhan pasien dengan gangguan kebutuhan
oksigen kepada pasiennya.
Outcome Hasil dari penelitian ini adalah masalah keperawatan yang menjadi
fokus studi dalam studi kasus ini yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif
pada Tn. U.U (klien I) dan Tn. F.S (klien II) dengan Tuberculosis Paru di
ruangan Paru-paru RSUD. Dr.M. Haullusy dan dalam pembahasan
dijabarkan mulai dari tahap pengkajian, penegakan diagnosis,
implementasi, dan evaluasi serta akan dibahas juga kesenjangan antara
kasus yang dikelola di rumah sakit dengan konsep teori. Berdasarkan
penelitian ini yang memfokuskan intervensi untuk mengatasi diagnosa
keperawatan yang muncul yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas
dengan pemberian batuk efektif. Pasien pertama dapat melakukan teknik
batuk efektif pada hari ketiga, dan pasien kedua dapat melakukan teknik
batuk efektif pada hari kedua, pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan
rencana yang dibuat dengan klien dapat melakukan teknik batuk efektif.
Setelah melakukan teknik batuk efektif pasien mampu mengeluarkan
secret dengan baik dengan jumlah yang banyak dan batuk berdahak
disertai darah sudah berkurang serta sesak yang dirasakan oleh pasien
sudah berkurang.
Time Penelitian ini dilakukan selama empat hari yaitu dari tanggal 11-14
Juni 2018 yang dilaksanakan di Ruang Paru-paru RSUD dr. M . Haulussy
Ambon

DAFTAR PUSATAKA

Dyah Novaria. 2010. Analisis Jurnal Dengan Metode PICO.


https://id.scribd.com/document/363093596/Analisis-Jurnal-Dengan Metode PICO.

Murti, Bhisma. 2010. PENGANTAR EVIDENCE-BASED MEDICINE.


http://fk.uns.ac.id/static/materi/Pengantar_EBM_Prof_Bhisma_Murti.pdf.