Anda di halaman 1dari 5

Tugas 1

Nama : Usman Syarifuddin Mahmud


NIM : 031232596
Program Studi : 50/Ilmu Administrasi Negara
Mata Kuliah : ADBI4330 Administrasi Perpajakan

1. Perbedaan Administrasi perpajakan dalam arti luas dan arti sempit, serta jelaskan
pula mengenai fungsi pajak dan syarat-syarat pemungutan pajak !
Jawaban :
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah di ubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 pada pasal 1
ayat 1 disebut Pajak adalah konstribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Administrasi pajak dalam arti luas dapat dilihat sebagai fungsi, sistem, lembaga, dan
manajemen publik. Administrasi pajak sebagai fungsi meliputi fungsi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Administrasi pajak sebagai suatu
sistem adalah seperangkat unsur yang saling berkaitan yang berfungsi bersama-sama
untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan suatu tugas tertentu.
Administrasi pajak dapat dilihat sebagai suatu lembaga, yaitu sebagai salah satu
Direktorat Jenderal pada Kementerian Keuangan R.I., yang terwujud pada adanya
kantor-kantor mulai dari Kantor Pusat DirektoratJenderal Pajak di Jakarta, Kantor-Kantor
Wilayah, Kantor Pelayanan Pajak, serta Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan.
Administrasi pajak yang terdiri dari pimpinan, staf, peralatan, pengetahuan, dan sistem
yang ada, pada tataran makro pada hakikatnya adalah manajemen publik yang
merupakan pertautan antara manajemen, politik dan hukum.

Administrasi pajak dalam arti sempit adalah penatausahaan dan pelayanan terhadap
kewajiban-kewajiban dan hak-hak wajib pajak, baik penatausahaan dan pelayanan
tersebut dilakukan di kantor fiskus maupun di kantor wajib pajak. Yang termasuk dalam
kegiatan penatausahaan (clerical works) adalah pencatatan (recording), penggolongan
(classifying) dan penyimpanan (filing)
Fungsi pajak yang lazim kita ketahui adalah fungsi:
a) budgetair (anggaran),
Fungsi budgetair (anggaran) merupakan fungsi utama dari pungutan pajak. Menurut
fungsi ini pungutan pajak dimaksudkan sebagai alat untuk mengisi kas/anggaran
negara
b) regulerend (mengatur),
Fungsi mengatur dari pajak diarahkan untuk mengatur tingkat pendapatan pada
sektor swasta,
mengadakan redistribusi pendapatan secara adil dan merata, mengatur volume
pengeluaran swasta, merangsang tabungan masyarakat, mendorong investasi dan
produksi.
c) sarana partisipasi masyarakat terhadap pembangunan negara.
Pajak berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat terhadap pembangunan
negara karena pajak tidak sekedar kewajiban, tetapi lebih dari itu adalah merupakan
hak warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam membangun negara. Oleh karena
itu, tepat slogan pajak saat sekarang ini, yaitu ”lunasi pajaknya dan awasi
penggunaannya”.

Menurut R. Santoso Brotodihardjo, S.H. dalam pembuatan undang-undang pajak di


samping harus memenuhi asas keadilan juga harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut
a) Syarat yuridis
Syarat yuridis menghendaki agar hukum pajak harus dapat memberikan jaminan dan
kepastian hukum yang perlu untuk menyatakan keadilan yang tegas, baik bagi
negara (pemungut pajak) maupun untuk masyarakat (pembayar pajak, wajib pajak
b) Syarat ekonomis
Syarat ekonomis menghendaki agar pemungutan pajak tidak menghalangi atau
menghambat atau bukan menjadi kendala terhadap keseimbangan dalam kehidupan
perekonomian, bahkan sebaliknya justru pajak harus menjadi pendorong bagi
pertumbuhan ekonomi, hal tersebut sesuai dengan fungsi mengatur yang melekat
pada pajak
c) Syarat financial
Syarat finansial menghendaki agar jumlah penerimaan pajak sedapat mungkin cukup
untuk menutup belanja pemerintah (fungsi budgetair), di samping itu biaya
pemungutan pajak hendaknya tidak terlalu besar, dan tetap memperhatikan unsur
efisiensi.
2. Jelaskan pendapat anda, mengapa hukum pajak termasuk ke dalam hukum
public?
Jawaban :
Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan warga
negara atau dengan kata lain hukum yang mengatur kepentingan umum. Hukum publik
ini berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan serta
bagaimana negara melaksanakan tugas.
Pajak secara umum merupakan bagia tata hukum yang berlaku di Indonesia. Hukum
pajak merupakan bagian dari hukum publik dan mengatur hubungan antara penguasa
dengan warga negaranya. Dalam hukum pajak memuat cara-cara untuk mengatur
pemerintahan dan mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah
sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum pajak termasuk hukum publik

3. Apa yang membedakan antara pajak langsung dan pajak tidak langsung? Dan
mengapa dalam praktik pajak dikenal istilah “Tarif Pajak”?
Jawaban :
Pajak langsung adalah pajak yang dipikul sendiri oleh wajib pajak, dan tidak dapat
dibebankan atau dilimpahkan kepada pihak lain. Dengan kata lain, orang yang
bertanggung jawab atas administrasi pajak dan pemikul pajak adalah satu. Dari segi
administratif, pajak langsung dikenakan atas surat ketetapan pajak (kohir) yang dipungut
secara berkala. Pajak ini dikenakan terhadap wajib pajak yang sudah ditentukan lebih
dahulu. Pihak yang terdaftar di kantor pajak adalah pemikul pajak. Contoh: Pajak
Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Secara ekonomis, untuk mengenali pajak langsung dapat dilihat adanya 3 unsur, yaitu:
1. Penanggung jawab pajak, yaitu orang yang secara formal yuridis diharuskan
melunasi pajak, bila padanya terdapat faktor atau kejadian yang menimbulkan
sebab untuk dikenakan pajak.
2. Penanggung pajak, yaitu orang yang dalam faktanya dalam arti ekonomis
memikul beban pajak.
3. Pemikul beban pajak, yaitu orang yang menurut maksud pembuat undang-
undang harus memikul beban pajak (destinaris).
Apabila ketiga unsur tersebut terdapat pada satu orang, maka pajak itu disebut pajak
langsung.

Pajak tidak langsung adalah pajak yang dimaksudkan untuk dilimpahkan oleh yang
membayar kepada pemikul (konsumen), Jadi pajak ini dapat dilimpahkan atau
dibebankan kepada pihak lain.
Dengan kata lain, orang yang bertanggung jawab atas administrasi pajak dan pemikul
pajak terpisah (lebih dari satu orang). Dari segi administratif, pajak langsung tidak
memiliki surat ketetapan pajak (kohir), dan pengenaannya tidak dilakukan secara
berkala melainkan dikaitkan dengan tindakan perbuatan atau kejadian (misalnya
transaksi jual beli). Di samping itu, pemikul beban pajaknya juga belum diketahui lebih
dulu. Pihak yang terdaftar di kantor pajak adalah penanggung jawab pajak, bukan
pemikul pajak. Contoh: pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah (PPnBM)
Secara ekonomis, untuk mengenali tidak pajak langsung dapat dilihat adanya 3 unsur,
yaitu:
1. Penanggung jawab pajak, yaitu orang yang secara formal yuridis diharuskan
melunasi pajak, bila padanya terdapat faktor atau kejadian yang menimbulkan
sebab untuk dikenakan pajak.
2. Penanggung pajak, yaitu orang yang dalam faktanya dalam arti ekonomis
memikul beban pajak.
3. Pemikul beban pajak, yaitu orang yang menurut maksud pembuat undang-
undang harus memikul beban pajak (destinaris).
Apabila terpisah, artinya unsur-unsur tersebut terdapat pada lebih dari satu orang, maka
pajak itu disebut pajak tidak langsung.

Dalam menerapkan suatu pajak tidak dapat diterapkan begitu saja. Suatu pajak perlu
ditetapkan terlebih dahulu penggolongannya baru kemudiaan ditentukan bagaimana
pengenaannya, setelah itu ditetapkan tarif. Dalam pengenaan pajak oleh pemerintah
kepada Wajib Pajak harus diperhatikan prinsip keadilan. Selanjutnya sebagai
manifestasi dari prinsip keadilan ke dalam bentuk tarif pajak, yaitu tingkat persentase
yang harus dipenuhi sesuai dasar kemampuan dan manfaat yang diperoleh wajib pajak,
yang dalam hal ini bisa progresif, proporsional dan degresif.
Tarif pajak dapat dibedakan antara lain
a) Tarif tetap, merupakan tarif yang jumlah pajaknya dalam rupiah atau dolar bersifat
tetap yang jumlahnya tergantung pada tingkat pendapatan. Contoh Bea materai.
b) Tarif proporsional, yakni tarif persentase nya tetap walaupun jumlah Objek pajaknya
berubah-ubah. Contoh tarif PPN
c) Tarif progresif, adalah tarif pajak yang semakin besar jika dasar penggunaan
pajaknya meningkat.
d) Tarif regresif, merupakan tarif yang makin tinggi objek pajak maka makin rendah
persentasenya
e) Tarif degresif, tarif ini dikatakan degresif apabila persentasenya semakin menurun
dengan semakin besarnya taxable capacity-nya wajib pajak