Anda di halaman 1dari 2

Kelimpahan/Keberadaan Unsur Golongan Transisi Keempat di Alam

a. Scandium (Sc)
Skandium ditemukan tahun 1879 oleh ahli kimia Swedia, Lars Nilsen.
Namanya diambil dari bahasa Latin Scandia yang berarti Skandinavia.
Jumlah skandium yang terdapat di alam sangat terbatas. Kelimpahan
skandium di kulit bumi sekitar 0,0025%. Di alam skandium terdapat
di dalam mineral. Kandungan unsur ini di dalam mineral hanya
berkisar 5 sampai 10 ppm dan sangat sulit dipisahkan dari
mineralnya. Oleh karena itu, harganya sangat mahal sehingga jarang
ditemukan dan dimanfaatkan.
b. Titanium (Ti)
Titanium ditemukan oleh William Gregor yang berasal dari Inggris
sekitar tahun 1971. Nama titanium diambil dari istilah Titans
(Raksasa) yang ada dalam cerita Yunani karangan Martin Klaporth.
Kelimpahan titanium di bumi cukup banyak, sekitar 0,6 %. Di alam,
titanium terdapat di dalam mineral.
c. Vanadium (V)
Vanadium ditemukan tahun 1830 oleh seorang ahli kimia Swedia, Nils
Seftstrom. Nama Vanadium diambil dari Vanadits yang merupakan
dewi kecantikan bangsa Skandinavia. Vanadium di kulit bumi
terdapat sekitar 0,02%. Vanadium tersebar di alam sebagai
komponen dari mineral.
d. Krom (Cr)
Krom ditemukan tahun 1797 oleh seorang ahli kimia Prancis, Louis
Nicolas Vauquelin. Nama krom diambil dari bahasa Yunani Chromos
yang berarti warna. Kelimpahan krom di kulit bumi hanya 0,0122%.
Di alam, krom ditemukan bergabung dengan senyawa lain. Di
Indonesia Kromit banyak terdapat di Sulawesi Tengah.
e. Mangan (Mn)
Mangan ditemukan oleh ahli kimia Swedia, Karl Scheele. Di tahun
yang sama diisolasi oleh ahli kimia lain bernama Johan Gahn. Nama
mangan diambil dari bahasa latin magnes yang berarti bermangnet.
Mangan terdapat di alam dalam jumlah melimpah.
f. Besi (Fe)
Lambang unsur Fe berasal dari nama latinnya yaitu Ferrum.
Kelimpahan besi menempati urutan keempat terbanyak di kulit bumi.
Di alam, besi ditemukan sebagai komponen mineral.
g. Kobalt (Co)
Kobalt bersifat mirip dengan nikel. Kobalt bersama-sama dengan
nikel terdapat dalam senyawa besi. Di alam, kobalt terdapat dilapisan
kerak bumi yaitu sekitar 0,004% dari berat kerak bumi atau sekitar 30
ppm dari kerak bumi.
h. Nikel (Ni)
Nikel diisolasi tahun 1751 dari suatu bijih yang mengandung nikel
dan arsen oleh ahli kimia Swedia, Axel Cronstedt. Bijih nikel tersebut
disebutnya dengan kupfernikel (Jerman) dan kemudian nama nikel
berasal dari nama tersebut. Kelimpahan relatif sekitar 80 ppm dan
dalam kerak bumi berkisar 90-180 ppm.
i. Tembaga (Cu)
Di alam, tembaga ditemukan dalam bentuk unsur bebas, maupun
sebagai senyawa sulfida/oksida. Potensi tembaga terbesar di
Indonesia terdapat di Papua, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan
Sulawesi Selatan. Kelimpahan tembaga dalam kerak bumi
diperkirakan sekitar 70 bagian per juta.
j. Seng (Zn)
Studi lengkap pertama kali tentang seng dipublikasikan tahun 1746
oleh alhi kimia Jerman Andreas Marggraf. Nama seng berasal dari
bahasa Jerman yaitu zink. Kelimpahannya di kerak bumi sekitar 75
ppm (0,007%).