Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

ASET TETAP DAN DAMPAK PERPAJAKAN SERTA PENURUNAN


NILAI ASET (PSAK 16 DAN PSAK 48)

Disusun Oleh:
SARI MOLISA (1710532058)
NAKITA SALSABILA YUHATIA (1710533019)
CITA SETIA RAHMI (1710532037)

AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Aturan terkait Laporan keuangan di gunakan sebagai sumber informasi dalam
pengambilan keputusan ekonomi yang diperlukan oleh investor, karyawan, pemerintah,
kreditur, maupun masyarakat. Dalam praktiknya, akuntan harus menyusun dua laporan
keuangan yang berbeda yakni akuntan harus menyajikan laporan keuangan kepada investor
sesuai dengan PSAK dan akuntan juga harus menyajikan laporan keuangan yang sesuai
dengan ketentuan perpajakan yang telah ditetapkan pemerintah.
Aset tetap merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untukkegiatan
operasionalnya. Aset tetap tersebut merupakan salah satu komponen dalamneraca, sehingga
ketelitian dalam pengolahan aktiva tetap sangat berpengaruh terhadapkewajaran penilaiannya
dalam laporan keuangan. Kewajaran penilaian aset tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 16. Dalam PSAK ini dinyatakan
bahwa aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksiatau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau tujuan administratif dan
diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Aturan terkait PSAK 16 juga dibahas pada makalah ini yaitu tentang penurunan nilai
asset yang dibahas khusus pada PSAK 48. Penurunan nilai atau impairment menjadi bahasa

impairment sudah lamadikenal dalam akuntansi khususnya aset tetap PSAK 16 berbasis IFRS
menggunakan istilah penurunan nilai tidak hanya untuk aset tetap tetapi juga untuk aset tak
berwujud, goodwill, aset keuangan dan investasi.

2. Rumusan Masalah
2.1. Apa yang dimaksud dengan aset tetap?
2.2.Apa yang dimaksud dengan pengakuan, pengukuran, penyusutan, penilaian,
penghentian pengakuan, dan pengungkapan aset tetap serta bagaimana cara
melakukannya?
2.3.Apa yang dimaksud dengan penurunan nilai aset?
BAB II
PEMBAHASAN

ASET TETAP DAN DAMPAK PERPAJAKAN


PSAK 16
Point yang akan dibahas PSAK 16
a. Definisi Aset Tetap
b. Tujuan dan Ruang Lingkup Aset Tetap
c. Pengakuan Aset Tetap
d. Pengakuan Awal
e. Pengakuan Setelah Pengakuan Awal
f. Pengungkapan
g. Penghentian Pengakuan
h. Hubungan Revaluasi Aset Tetap Untuk Tujuan Pajak dan Akuntansi
i. Dampak Perpajakan Aset Tetap beserta Contoh
j. Pajak Tangguhan PSAK 46
k. Perbedaan Permanen dan Perbedaan Tetap Dalam Pajak
l. Pengertian Pajak Tangguhan
m. Dasar Pengenaan Pajak
n. Metode Pengangguhan Dalam Pajak Penghasilan

1. ASET TETAP
1.1. Definisi Aset Tetap
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
a. Diperkirakan untuk digunakan selama lebih dari satu periode
b. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa hal penting terkait dengan aset tetap,
yaitu:
- Aset tetap adalah aset berwujud, yaitu mempunyai bentuk fisik (seperti
tanah,bangunan), berbeda dengan paten atau merek dagang yang tidak
mempunyai bentuk fisik (merupakan aset tak berwujud).
- Aset tetap mempunyai tujuan penggunaan khusus, yaitu digunakan dalam
produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain,
atau untuk tujuan administratif. Aset seperti tanah yang dimiliki perusahaan
dengan tujuan untuk dijual, bukan merupakan aset tetap.
- Aset tetap termasuk kedalam aset tidak lancar, karena diharapkan akan
digunakan untuk lebih dari 1 (satu) periode akuntansi.

1.2. Tujuan dan Ruang Lingkup Aset Tetap


Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar
pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai investasi entitas di
aset tetap, dan perubahan dalam investasi tersebut. Isu utama dalam akuntansi aset
tetap adalah pengakuan aset, penentuan jumlah tercatat, pembebanan penyusutan, dan
rugi penurunan nilai atas aset tetap. Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi aset
tetap kecuali Pernyataan lain mensyaratkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi
yang berbeda.

1.3. Pengakuan Aset Tetap


Biaya perolehan aset tetap diakui sebagai aset jika dan hanya jika :
- Biaya perolehan dapat diukur secara andal
- Kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari
asset tersebut
Entitas harus mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap semua biaya
perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya tersebut termasuk biaya awal untuk
memperoleh atau mengkonstruksi aset tetap dan biaya selanjutnya yang timbul untuk
menambah, mengganti bagian atau memperbaikinya. Jika pengeluaran tersebut
menimbulkan manfaat ekonomis dimasa depan, maka dapat diakui sebagai asset.

1.4. Pengakuan Awal


Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya
harus diukur sebesar biaya perolehan.
a. Komponen Biaya Perolehan
Komponen Biaya Perolehan meliputi:
1. Harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak
boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-
potongan lain
2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset
ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai
dengan intensi manajemen;
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi
lokasi aset
Contoh biaya yang dapat diatribusikan langsung;
- Biaya imbalan kerja
- Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
- Biaya penanganan dan penyerahan awal
- Biaya perakitan dan instalasi
- Biaya pengujian aset
- Komisi professional

Apabila entitas memiliki aset tetap atas kepemilikan aset tetap tersebut,
terdapat kewajiban bagi entitas untuk membongkar atau memindahkan atau
merestorasi aset tetap tersebut pada akhir masa manfaatnya. Ada kalanya entitas
membangun sendiri aset tetapnya. Untuk pendanaan pembangunan tersebut,
perusahaan dapat memperoleh pinjaman dan dari pinjaman tersebut terdapat
biaya pinjaman yang harus ditanggung entitas. Perlakuan akuntansi untuk biaya
pinjaman diatur dalam PSAK 26 tentang biaya pinjaman. Menurut PSAK 26,
biaya pinjaman dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan,
konstruksi, atau produksi aset kualifikasian adalah bagian dari biaya perolehan
tersebut. Beberapa kategori aset yang dapat memperoleh kriteria aset
kualifikasian, yaitu:
a. persediaan,
b. manufaktur
c. fasilitas pembangkit listrik
d. aset tak berwujud
e. porperti investasi

b. Pengukuran Biaya Perolehan


Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang diakui pada saat
terjadinya. Jika pembayaran suatu aset ditangguhkan hingga melampaui jangka
waktu kredit normal, perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total
diakui sebagai beban bunga selama periode kredit
1.5. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
a. Model biaya
Dalam model biaya, setelah diakui sebagai aset maka suatu aset tetap dicatat
sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai aset.
b. Model revaluasi
Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur
secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal
revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai
yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Hal ini untuk memastikan tidak ada beda
material. Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam
kelompok yang sama direvaluasi. Contoh: tanah, mesin, kapal, pesawat. Sebagai
catatan jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model
revaluasi dalam pengukuran aset tetap maka perubahan tersebut berlaku
prospektif.
c. Penyusutan
Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan
terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah.
Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laba rugi kecuali jika
beban tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lainnya. Ada beberapa
metode penyusutan, yaitu:
- Metode garis lurus
Merupakan metode paling sederhana dalam mengasumsikan adanya
penggunaan yang konstan dari suatu aset selama masa manfaatnya. Metode
ini merupakan metode yang berdasarkan alokasi fungsi waktu penggunaan
aset, berdasarkan metode ini biaya didepresiasi dihitung dengan
mengalokasikan nilai aset yang didepresiasikan selama masa manfaat aset
secara sama pada tiap periodenya.
- Metode saldo menurun
Metode saldo menurun memberikan pembebanan biaya depresiasi yang lebih
tinggi pada tahun-tahun awal dari umur aset dan pembenanan yang rendah
pada tahun-tahun akhir.
- Unit produksi
Metode ini mengasumsikan pembebanan depresiasi sebagai fungsi dari
penggunaan atau produktivitas aset, bukan dilihat dari waktu penggunaan
aset. Berdasarkan metode ini umur dari aset akan didepresiasikan
berdasarkan jumlah output yang diproduksi atau berdasarkan input yang
digunakan (seperti jam kerja)

Seluruh metode membebankan sebagian jumlah biaya asset dalam periode


akuntansi, dan tidak pernah menyusutkan aset dibawah nilai residunya, dan jika
melirik kepada masing-masing metode penyusutannya dapat kita memberi
kesimpulan bahwa
- Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang
sama selama masa kegunaan asset.
- Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik
yang berbeda-beda tergantung jumlah asset yang digunakan.
- Metode saldo menurun ganda menghasilkan jumlah penyusutan yang lebih
tinggi pada tahun pertama penggunaan asset, diikuti dengan jumlah yang
menurun secara bertahap. Karenanya, saldo menurun ganda disebut metode
penyusutan yang dipercepat (accelerated depreciation method).
d. Penurunan nilai
Entitas harus melakukan review setiap akhir periode untuk menentukan apakah
terjadi penurunan nilai terhadap aset tetapnya. Dalam menentukan apakah suatu
aset tetap mengalami penurunan nilai, entitas mengacu kepada PSAK 48 (revisi
2009) tentang penurunan nilai Dalam mempertimbangkan ada tidaknya indikasi
penurunan nilai aset tetap, maka entitas harus mempertimbangkan dari sumber
eskternal dan sumber internal.
e. Kompensasi untuk Penurunan Nilai
Kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai,
hilang atau dihentikan dimasukkan dalam laba rugi pada saat kompensasi diakui
menjadi piutang.

1.6. Pengungkapan
Laporan keuangan mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap, antara lain:
1. Dasar pengukuran yang digunakan
2. Metode penyusutan
3. Umur manfaat
4. Jumlah tercatata bruto dan akumulasi penyusutan
5. Rekonsiliasi jumlah tercatat
Selain itu, laporan keuangan juga mengungkapkan:
1. Keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan
untuk utang;
2. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang sedang
dalam pembangunan;
3. Jumlah komitmen kontraktual dalam perlehan aset tetap; dan
4. Jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami
penurunan nilai, hilang atau diberhentikan yang dimasukan dalam laporan laba
rugi komprehensif, jika tidak diungkapkan secara terpisah pada laporan laba rugi
komprehensif.

1.7. Penghentian Pengakuan


Keuntungan atau kerugiannya dimasukkan dalam laporan laba rugi entitas. Aset tetap
dihentikan pengakuannya hanya jika:
1. Pada saat pelepasan
2. Ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomis
Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap harus dimasukan
dalam laporan laba rugi komprehensif pada saat aset tersebut diberhentikan
pengakuannya.

2. DAMPAK PERPAJAKAN
2.1. Hubungan revaluasi aset tetap untuk tujuan pajak dan akuntansi
Revaluasi aset tetap untuk tujuan pajak tunduk pada PMK 233/2015:
1. Revaluasi aset tetap tidak dapat dilakukan kembali sebelum 5 tahun.
2. Dapat dilakukan untuk sebagian aset atau seluruh aset.
3. Masa manfaat aset tetap setelah revaluasi disesuaikan kembali menjadi
manfaat penuh untuk kelompok aset tersebut.
4. Dasar penyusutan aset tetap adalah nilai pada saat revaluasi aset tetap.
Sedangkan revaluasi aset tetap untuk tujuan akuntansi mengikuti ketentuan PSAK 16
sebagai berikut:
1. Revaluasi aset tetap dilakukan regular untuk memastikan jumlah tercatat tidak
berbeda secara material dengan nilai wajar
2. Jika suatu aset direvaluasi maka seluruh kelompok aset tetap dalam kelas yang
sama direvaluasi.
Entitas dapat memilih melakukan revaluasi aset tetap untuk:
1. Tujuan akuntansi
2. Tujuan pajak
3. Tujuan pajak & akuntansi
2.2. Konsekuensi Pajak Kini dan Tangguhan atas Revaluasi Aset Tetap
Jika entitas melakukan revaluasi aset tetap untuk tujuan pajak, maka
konsekuensi pajak yang timbul dari revaluasi tersebut diakui dalam laba rugi. Maka:
a. Jumlah pajak yang telah dibayar diakui sebagai beban pajak dalam laba rugi;
b. Timbul perbedaan temporer yang dapat dikurangkan, karena dasar pengenaan
pajak atas aset tetap menjadi lebih tinggi dari jumlah tercatat secara akuntansi.

Perbedaan temporer tersebut menimbulkan aset pajak tanguhan karena manfaat


ekonomik akan mengalir ke entitas dalam bentuk pengurangan laba kena pajak di
masa depan ketika jumlah tercatat aset tersebut dipulihkan. Kenaikan dasar
pengenaan pajak setelah revaluasi mengakibatkan jumlah penyusutan secara pajak
menjadi lebih besar dibandingkan dengan penyusutan secara akuntansi dimasa depan.
Pajak tangguhan yang berasal dari perbedaan temporer ini diakui dalam laba rugi.
Jika entitas melakukan revaluasi aset tetap untuk tujuan akuntansi dan pajak,
maka pajak kini dan tangguhan di penghasilan komprehensif lain atau laba rugi,
bergantung pada peristiwa yang menyebabkan timbulnya konsekuensi pajak kini dan
tangguhan tersebut. secara akuntansi, kenaikan nilai tercatat aset akibat revaluasi
diakui di penghasilan komprehensif lain. Pada periode entitas memperoleh
persetujuan dari otoritas perpajakan, maka:
a. Jumlah pajak yang telah dibayar diakui di penghasilan komprehensif lain dan
terakumulasi dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi.
b. Jumlah tercatat suatu aset tetap yang direvaluasi secara pajak dan akuntansi
akan menjadi sama dengan dasar pengenaan pajaknya, sehingga tidak terdapat
perbedaan temporer atas aset yang direvaluasi tersebut. Jika sebelum tanggal
persetujuan otoritas perpajakan entitas memiliki aset atau liabilitas pajak
tangguhan, maka peristiwa ini mengakibatkan pembalikan perbedaan temporer
yang sebelumnya timbul. Pembalikan perbedaan temporer tersebut diakui
dalam laba rugi.
c. Pada setiap akhir periode pelaporan, entitas menentukan perbedaan temporer
yang mungkin timbul atas nilai tercatat aset dalam laporan keuangan dan dasar
pengenaan pajaknya. Entitas mengakui konsekuensi pajak kini dan tangguhan
yang timbul atas aset tetap yang direvaluasi, termasuk pembalikan perbedaan
temporer yang mungkin timbul pada masa depan (Sesuai PSAK 46 paragraf
58).
2.3. Dampak Perpajakan Aset Tetap Beserta Contoh
Berdasarkan PSAK 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap yang telah berlaku
efektif pada tanggal 1 Januari 2008 ditetapkan dua model penilaian Aset Tetap, yaitu:
model biaya (cost model) dan model revaluasi (revaluation model) yang mana pada
PSAK 16 sebelumnya (revisi 1994) hanya mengenai model biaya.
Menurut PSAK 16 (revisi 2007), apabila suatu entitas memilih model revaluasi,
maka entitas tersebut harus menilai kembali aset tetapnya secara berkala sesuai
dengan nilai pasar wajar. Jika tidak terdapat nilai wajar yang dapat dijadikan dasar
revaluasi, maka menurut PSAK 16 (revisi 2007) pada paragraf 33, dapat dilakukan
estimasi nilai wajar menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang
telah disusutkan.
Frekuensi revaluasi aset tetap tersebut, dalam paragraf 34 PSAK 16 (revisi
2007) dilakukan tergantung materialitas perbedaan nilai dari aset tetap yang
direvaluasi. Jika material atau signifikan, maka revaluasi aset tetap perlu dilakukan
setiap tahun. Namun, jika tidak material atau signifikan maka revaluasi aset tetap bisa
dilakukan setiap 3 atau 5 tahun sekali.
Perbedaan akuntansi atas selisih nilai wajar dengan nilai buku yang ditemukan
berdsarkan hasil revaluasi pada tahun berjalan, berdasarkan paragraf 35, PSAK 16
(revisi 2007) dapat dilakukan dengan dua alternatif sebagai berikut:
1. Penyajian kembali
2. Eliminasi akumulasi penyusutan

Contoh:
Pada akhir tahun 2008, PT. AC memiliki aset tetap yang dibeli pada awal tahun 2007
dengan harga perolehan Rp 10000 dengan taksiran masa manfaat 5 tahun. Saldo
akumulasi penyusutan aset tetap tersebut pada tanggal 31 desember 2008 Rp 4000.
Berdasarkan revaluasi aset tetap PT. AC per 31 desember 2008 diketahui nilai
wajarnya Rp 8000. Terhadap aset tetap diatas diketahui pula pada akhir tahun 2009
dilakukan revaluasi kembali dengan nilai wajar hasil revaluasi Rp 3000 dan
akumulasi penyusutan pada akhir tahun 2009 Rp 2667
Dari data diatas, perlakuan akuntansi berdasarkan PSAK 16 (revisi 2007) adalah
sebagai berikut:
- Pada tahun 2008
Keterangan Sebelum revaluasi Alternatif 1 Alternatif 2
Cost 10000 8000 10000
Akumulasi penyusutan 4000 - 2000
Nilai buku 6000 8000 8000

Jurnal revaluasi alternatif 1 adalah:


31/12/2008 Akumulasi penyusutan 4000
Aset tetap 2000
Surplus revaluasi 2000

Jurnal revaluasi alternatif 2 adalah :


31/12/2008 Akumulasi penyusutan 2000
Surplus revaluasi 2000

Kenaikan nilai tercatat aset tetap sebesar Rp.2000, diperoleh dari perbedaan nilai
buku Rp.6000 dengan nilai wajar Rp.8000. Berdasarkan PSAK 16 (revisi 2007)
paragraph 39 selisih tersevut dibukukan pada akun buku surplus revaluasi yang
merupakan komponen ekuitas, bukan komponen laba-rugi.

- Pada tahun 2009


Adapun pada tahun 2009, sebagaimana telah diilustrasikan diatas telah
direvaluasi kembali dan mendapatkan nilai wajar Rp 3000,- sehingga pada tahun
2009 terjadi penurunan nilai aset tetap dari Rp 8000 menjadi Rp 5000. Diketahui pula
saldo akumulasi penyusutan per akhir tahun 2009 Rp 2667 (dihitung dari Rp.8000
dibagi sisa umur aset, yaitu 3 tahun).
Untuk tahun 2009, dengan mengacu pada PSAK 16 (Revisi 2007) paragraph 40
yang menyatakan bahwa penurunan nilai aset akibat revaluasi harus diakui dalam
laporan laba-rugi, namun penurunan nilai tersebut langsung di debit ke ekuitas pada
bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit
surplus revaluasi untuk aset tersebut. Oleh karena itu, perlakuan akuntansi untuk
tahun 2009 adalah:
Jurnal revaluasi alternatif 1 adalah:
31/12/2009 Akumulasi penyusutan 2667
Surplus revaluasi- ekuitas 2000
Rugi revaluasi- laba rugi 333
Aktiva tetap 5000

Jurnal revaluasi alternatif 2 adalah:


31/12/2009 Surplus revaluasi- ekuitas 2000
Rugi revaluasi- laba rugi 333
Akumulasi penyusutan 2333

Dampak terhadap perpajakan


Sebelum terbitnya PSAK 16 (Revisi 2007), sudah terdapat perbedaan antara
PSAK dengan peraturan perpajakan, seperti tentang metode penyusutan, umur manfaat
aset tetap dan kapan aset mulai disusutkan. Dengan munculnya revisi PSAK 16
terdapat tambahan perbedaan lagi yaitu adanya model revaluasi dalam Standar
Akuntansi Keuangan yang kemudian melahirkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
No. 79 tahun 2008 tanggal 23 mei 2008 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk
Tujuan Perpajakan.
PMK NO.79 tahun 2008 ini mengatur revaluasi aset tetap menurut pajak.
Perusahaan dapat menggunakan model revaluasi untuk tujuan perpajakan dengan
syarat:
1. Untuk melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, perusahaan
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak (PMK NO.79 tahun
2008 pasal 2)
2. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan terhadap seluruh aktiva
tetap perusahaan dan tidak dapat dilakukan kembali sebelum lewat jangka waktu
5 (lima) tahun terhitung sejak aktiva tettap terakhir (PMK NO.79 tahun 2008
pasal 3)
3. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai
pasar atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian
kembali aktiva tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli
penilai belum mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka nilai wajar akan
ditentukan oleh Dirjen Pajak (PMK NO.79 tahun 2008 pasal 4)
4. Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
fiskal semula dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10% (PMK
NO.79 tahun 2008 pasal 5)
5. Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 harus dibukukan dalam neraca komersial pada perkiraan
modal dengan nama "Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan
Tanggal ........" ( PMK NO.79 tahun 2008 pasal 9 ayat 1)
6. Sejak bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap yang telah memperoleh persetujuan
penilaian kembali adalah nilai pada saat penilaian kembali.
b. Masa manfaat fiskal aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali
aktiva tetap perusahaan disesuaikan kembali menjadi masa manfaat penuh
untuk kelompok aktiva tetap tersebut.
c. Perhitungan penyusutan dimulai sejak bulan dilakukannya penilaian
kembali aktiva tetap perusahaan. ( PMK NO.79 tahun 2008 pasal 7 ayat 1)
7. Untuk bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum bulan dilakukannya
penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah dasar penyusutan fiskal pada
awal tahun pajak yang bersangkutan.
b. Sisa masa manfaat fiskal aktiva tetap adalah sisa manfaat fiskal pada awal
tahun pajak yang bersangkutan.
c. Perhitungan penyusutannya dihitung secara prorata sesuai dengan
banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak tersebut. ( PMK NO.79 tahun
2008 pasal 7 ayat 2)

Mengacu pada pasal 5 PMK NO.79 tahun 2008 yang menyatakan


pengenaan pph final sebesar 10% atas selisih lebih penilaian kembali aset, maka:
Jurnal alternatif 1 adalah:
31/12/2008 Akumulasi penyusutan 4000
Aset tetap 2000
Surplus revaluasi 1800
Utang pph final 200
Jurnal revaluasi alternatif 2 adalah:
31/12/2008 Akumulasi penyusutan 2000
Surplus revaluasi 1800
Utang pph final 200

Utang pph final Rp. 200 berasal dari selisih aset tetap yang dinilai kembali
dikalikan dengan tarif 10%. Adapun untuk penilaian kembali tahun 2009 tidak
dikenakan pph sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 5 PMK NO.79 tahun
2008, karena nilai aset tetap direvaluasi menunjukan penurunan nilai dari buku
sebelumnya.
Untuk selisih lebih atau kurang karena revaluasi aset yang disajikan dalam
laporan laba-rugi, komponen ini tidak lagi dimaksudkan dalam perhitungan pph
badan, karena selisih lebih atau kurang tersebut bersifat final atau dikenakan
pajak secara final. Selisih lebih atau kurang yang akan dimasukan dalam laporan
laba-rugi akan dimasukan dalam koreksi fiskal pada saat perhitungan pph badan
tahunan.
Sesuai dengan karakteristik dari penghasilan yang dikenakan pajak final,
maka penghasilan tersebut adalah:
1. penghasilan tersebut tidak termasuk sebagai unsur penambah penghasilan
dalam perhitungan pajak akhir tahun.
2. Biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan tersebut tidak dapat diperhitungkan dalam pengurang
penghasilan bruto.
3. Pajak yang dipotong atas penghasilan yang dikenakan pajak final juga tidak
dapat dikreditkan dalam perhitungan akhir tahun.
Selain aspek pengenaan pajak seperti yang diuraikan diatas, hal lain yang
juga diatur dalam PMK No.79 tahun 2008 adalah perlakuan revaluasi aset tetap
menurut fiskal harus ditetapkan pada seluruh aset tetap. Kemudian ini berbeda
dengan yang menurut akuntansi/komesil yang menetapkan revaluasi bahwasanya
dapat dilakukan hanya pada kelompok aset yang ingin diterapkan model revaluasi
tersebut. Selain itu, jangka waktu revaluasi menurut fiskal dapat dilakukan
kembali setelah 5 tahun terhitung dari jangka waktu terakhir aset tersebut
direvaluasi, sedangkan menurut akuntansi dalam PSAK 16 (Revisi 2007)
paragraph 34, menyatakan bahwa revaluasi dapat dilakukan secara berkala sesuai
dengan tingkat sgnifikansi perubahan nilai aset tetap. Perbedaan tersebut tentunya
akan menimbulkan kompleksitas pada pajak tangguhan.

2.4. Pajak Tangguhan PSAK 46


Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan
pada periode masa depan sebagai akibat adanya:
1. Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan
2. Akumulasi rugi pajak belum dikompensasi
3. Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan
mengizinkan.
Beban pajak (Penghasilan pajak) adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak
tangguhan yang diperhitungkan dalam menentukan laba atau rugi pada satu periode.
Laba akuntansi adalah laba atau rugi selama satu periode sebelum dikurangi beban
pajak.
Laba kena pajak atau laba fiskal (rugi pajak atau rugi fiskal) adalah laba (rugi)
selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh
Otoritas Pajak atas pajak penghasilan yang terutang (dilunasi). Liabilitas pajak
tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terutang pada periode masa depan
sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan
dan pajak ini dikenakan atas laba kena pajak entitas. Pajak penghasilan final adalah
pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya, kewajiban
pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak
digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang
bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis penghasilan,
transaksi, atau usaha tertentu. Pajak kini adalah jumlah pajak penghasilan yang
terutang (dilunasi) atas laba kena pajak (rugi pajak) untuk satu periode.
Perbedaan temporer adalah perbedaan antara jumlah tercatat aset atau liabilitas
pada posisi keuangan dengan dasar pengenaan pajaknya. Perbedaan temporer dapat
berupa:
1. Perbedaan temporer kena pajak adalah perbedaan temporer yang menimbulkan
jumlah kena pajak dalam penghitungan laba kena pajak (rugi pajak) periode masa
depan pada saat jumlah tercatat aset atau liabilitas dipulihkan atau diselesaikan.
2. Perbedaan temporer dapat dikurangkan adalah perbedaan temporer yang
menimbulkan jumlah yang dapat dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak
(rugi pajak) periode masa depan pada saat jumlah tercatat aset atau liabilitas
dipulihkan atau diselesaikan.
2.5. Perbedaan permanen dan perbedaan tetap dalam pajak
a. Perbedaan Permanen
Perbedaan permanen adalah perbedaan pengakuan pajak yang timbul karena
terjadi transaksi-transaksi pendapatan dan biaya yang diakui menurut akuntansi
komersial dan tidak diakui menurut fiskal (pajak). Dimana pengakuan seperti hal
tersebut biasanya terdapat pada kategori dibwa ini, yaitu:
1. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedangkan menurut
ketentuan PPh bukan penghasilan. Misalnya dividen yang diterima oleh
Perseroan Terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal
sebesar 25% atau lebih pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan
di Indonesia. (Pasal 4 ayat 3 UU PPh).
2. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut
ketentuan PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. Penghasilan ini
dikenakan pajak tersendiri (final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung)
dengan penghasilan lainnya dalam menghitung PPh yang terutang. Misalnya:
- Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek
- Penghasilan dari hadiah undian
- Penghasilan bunga tabungan, deposito, jasa giro dan diskonto BI
- Penghasilan bunga/diskonto obligasi yang dijual di bursa efek
- Penghasilan atas persewaan tanah dan bangunan
- Penghasilan dari jasa konstruksi (Pengusaha Konstruksi Kecil)
- Penghasilan WP perusahaan pelayaran dalam negeri
3. Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan menurut
ketentuan PPh tidak dapat dibebankan (Pasal 9 Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2000), misalnya biaya-biaya yang menurut ketentuan PPh tidak dapat
dibebankan karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya; daftar
nominatif biaya entertainment, daftar nominatif atas peghapusan piutang),
pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi, dll.
b. Beda Sementara
Beda sementara adalah perbedaan yang terjadi secara fiskal karena perbedaan
pengakuan waktu dan biaya dalam menghitung laba. adapun unsur-unsur yang
menjadi objek dalam beda sementara adalah
- Metode Penyusutan dan atau Amortisasi
- Metode penilaian persediaan
- Penyisihan piutang tak tertagih
- Rugi-laba selisih kurs
- Kompensasi Kerugian
- Penyisihan bonus

2.6. Pengertian Pajak Tangguhan


Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan
datang yang disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi
dan perpajakan serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa
datang (tax loss carry forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam
suatu periode tertentu.
Dampak PPh di masa yang akan datang yang perlu diakui, dihitung, disajikan
dan diungkapkan dalam laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi. Suatu
perusahaan bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki
potensi hutang pajak yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja
perusahaan membayar pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya memiliki potensi
hutang pajak yang lebih kecil di masa datang. Bila dampak pajak di masa datang
tersebut tidak tersaji dalam neraca dan laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja
menyesatkan pembacanya.

2.7. Dasar Pengenaan Pajak


DPP aktiva adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal,
terhadap setiap manfaat ekonomi(penghasilan) kena pajak yang akan diterima
perusahaan pada saat memulihkan nilai tercatat aktiva tersebut. Apabila manfaat
ekonomi (penghasilan) trsebut tidak akan dikenakan pajak maka DPP aktiva adalah
sama dengan nilai tercatat aktiva.
Contoh :
1. Mesin nilai perolehan 100. Untuk tujuan fiskal, mesin telah disusutkan sebesar
30 dan sisa nilai buku dapat dikurangkan pada periode mendatang. Penghasilan
mendatang dari penggunaan aktiva merupakan obyek pajak. DPP aktiva tersebut
adalah 70.
2. Piutang bunga mempunyai nilai tercatat 100. Untuk tujuan fiskal, pendapatan
bunga diakui dengan dasar kas. DPP piutang adalah nihil
3. Piutang usaha mempunyai nilai tercatat 100. Pendapatan usaha terkait telah
diakui untuk tujuan fiskal. DPP piutang adalah 100.
4. Pinjaman yang diberikan mempunyai nilai tercatat 100. Penerimaan kembali
pinjaman tidak mempunyai konsekuensi pajak. DPP pinjaman yang diberikan
adalah 100

DPP kewajiban adalah nilai tercatat kewajiban dikurangi dengan setiap jumlah
yang dapat dikurangkan pada masa mendatang. Contoh :
1. Nilai tercatat beban yang masih harus dibayar (accured expenses) 100. Biaya
tersebut dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal dengan dasar kas. DPP-nya
adalah nol.
2. Nilai tercatat pendapatan bunga diterima dimuka 100. Untuk tujuan fiskal,
pendapatan bunga tersebut dikenakan pajak dengan dasar kas. DPP-nya adalah
nol.
3. Nilai tercatat beban masih harus dibayar (accured expense) 100. Untuk tujuan
fiskal biaya tersebut telah dikurangkan. DPP-nya adalah 100.
4. Nilai tercatat beban denda yang masih harus dibayar 100. Untuk tujuan fiskal,
beban denda tersebut tidak dapat dikurangkan. DPP-nya adalah 100.
5. Nilai tercatat pinjaman yang diterima 100. Pelunasan pinjaman tersebut tidak
mempunyai konsekuensi pajak. DPP-nya adalah 100.

Apabila DPP aktiva atau kewajiban tidak begitu jelas, maka DPP tersebut dapat
ditentukan menurut prinsip dasar yang digunakan dalam Pernyataan ini. Dengan
beberapa pengecualian, perusahaan harus mengakui kewajiban (aktiva) pajak
tangguhan apabila pemulihan nilai tercatat aktiva atau pelunasan nilai tercatat
kewajiban tersebut akan mengakibatkan pembayaran pajak pada periode mendatang
lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan pembayaran pajak sebagai akibat
pemulihan aktiva atau pelunasan kewajiban yang tidak memiliki konsekuensi pajak.
Dalam laporan keuangan konsolidasi, perbedaan temporer ditentukan dengan
membandingkan nilai tercatat aktiva dan kewajiban pada laporan keuangan
konsolidasi dengan DPP-nya. Berhubung peraturan perundangan perpajakan di
Indonesia tidak memperkenankan SPT konsolidasi, maka DPP aktiva dan kewajiban
ditentukan dengan merujuk pada SPT masing-masing entitas.

2.8. Metode Penangguhan dalam Pajak penghasilan


a. Deferred Method (Metode Penangguhan)
Metode ini menggunakan pendekatan laba rugi (Income Statement Approach)
yang memandang perbedaan perlakuan antara akuntansi dan perpajakan dari
sudut pandang laporan laba rugi, yaitu kapan suatu transaksi diakui dalam laporan
laba rugi baik dari segi komersial maupun fiskal. Pendekatan ini mengenal istilah
perbedaan waktu dan perbedaan permanen. Hasil hitungan dari pendekatan ini
adalah pergerakan yang akan diakui sebagai pajak tangguhan pada laporan laba
rugi. Metode ini lebih menekankan matching principle pada periode terjadinya
perbedaan tersebut.
b. Asset-Liability Method (Metode Asset dan Kewajiban)
Metode ini menggunakan pendekatan neraca (Balance Sheet Approach) yang
menekankan pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi posisi
keuangan dan memprediksikan aliran kas pada masa yang akan datang.
Pendekatan neraca memandang perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan
dari sudut pandang neraca, yaitu perbedaan antara saldo buku menurut komersial
dan dasar pengenaan pajaknya. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan
temporer dan perbedaan non temporer.
c. Net-of-Tax Method (Metode Bersih dari Pajak)
Metode ini tidak ada pajak tangguhan yang diakui. Konsekuensi pajak atas
perbedaan temporer tidak dilaporkan secara terpisah, sebaliknya diperlakukan
sebagai penyesuaian atas nilai asset atau kewajiban tertentu dan penghasilan atau
beban yang terkait. Dalam metode ini, beban pajak yang disajikan dalam laporan
laba rugi sama dengan jumlah pajak penghasilan yang terhutang menurut SPT
tahunan.

2.9. Bagaimana cara Menentukan Pajak Tangguhan


a. Pengakuan (Recognition)
Standar yang mengatur bahwa dampak PPh atas perbedaan temporer dan tax loss
carry forward (TLCF) atau kompensasi rugi harus diakui dalam laporan
keuangan. Pengakuan ini menyiratkan bahwa perusahaan pelapor akan
memulihkan nilai tercatat asset pajak tangguhan atau deferred tax asset (DTA)
dan akan melunasi nilai tercatat dalam kewajiban pajak tangguhan atau deferred
tax liability (DTL) tersebut.
b. Pengukuran (Measurement)
Cara menghitung jumlah yang harus dibukukan dalam buku besar perusahaan.
Dalam hal ini pajak tangguhan akan dihitung dengan menggunakan tarif yang
berlaku atau efektif akan berlaku di masa yang akan datang.
d. Penyajian (Presentation)
Standar yang menentukan cara penyajian di dalam laporan keuangan, baik dalam
neraca ataupun laba rugi. Asset pajak tangguhan (DTA) atau kewajiban pajak
tangguhan (DTL) harus disajikan secara terpisah dari asset atau kewajiban pajak
kini dan disajikan dalam unsur non current dalam neraca.
e. Pengungkapan (Disclosure)
Berkaitan dengan standar informasi yang perlu diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.Misalnya unsur-unsur utama perbedaan temporer yang
menimbulkan pajak tangguhan, unsur-unsur yang dibebankan langsung ke laba
ditahan, perubahan tarif pajak dan sebagainya.

2.10. Pengakuan pada Pajak Tangguhan


Untuk Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabilities)
Pengakuan asset atau kewajiban Pajak Tangguhan didasarkan fakta bahwa adanya
kemungkinan pemulihan asset atau pelunasan kewajiban yang mengakibatkan
pembayaran pajak periode mendatang menjadi lebih kecil atau lebih besar. Tetapi,
apabila akan terjadi pembayaran pajak yang lebih besar dimasa yang akan datang,
maka berdasarkan standar akuntansi keuangan, harus diakui sebagai suatu kewajiban.
Jurnal Pengakuan Pajak Tangguhannya:
Deferred Tax Expense Rp. 120.000,00 (contoh)
Deferred Tax Liabilities Rp. 120.000,00

Untuk Asset Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset)


Dapat diakui apabila ada kemungkinan pembayaran pajak yang lebih kecil pada masa
yang akan datang, maka berdasarkan standar akuntansi keuangan, harus diakui
sebagai suatu asset. Dengan kata lain apabila kemungkinan pembayaran pajak dimasa
yang akan datang lebih kecil akan dicatat sebagai asset pajak tangguhan.
Deferred Tax Asset Rp. 120.000,00
Deferred Tax Income Rp. 120.000,00

Bagaimana Cara Mengindentifikasi Aktiva atau Kewajiban Pajak Tangguhan dan


Penghasilan atau Beban Pajak Tangguhan menggunakan Pendekatan Laba Rugi
a. Lihat rekonsiliasi fiskal yang sudah dibuat dan identifikasi akun-akun di laba rugi
yang termasuk dalam beda waktu, seperti:
• Beban penyisihan persediaan
• Beban penyisihan piutang tak tertagih
• Beban penyisihan bonus
• Beban penyisihan pensiun
• Beban penyusutan atau dan Beban amortisasi
b. Identifikasi koreksi fiskal yang dihasilkan dari akun-akun di atas dan tentukan
apakah koreksi fiskal tersebut termasuk koreksi positif atau negatif.
c. Hitung pajak tangguhan dengan cara menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh dikali
koreksi fiskal yang dihasilkan oleh langkah di atas. Tentukan DTA/DTL dengan
cara merujuk pada saldo DTA/DTL tahun sebelumnya.

3. PSAK 48 PENURUNAN NILAI ASET


Point yang dibahas PSAK 48:
a. Perbedaan dengan IAS
b. Tujuan dan Ruang Lingkup
c. Pendekatan Umum dalam Penaksiran Penurunan Nilai Aset
d. Identifikasi Aset yang Mungkin Mengalami Penurunan Nilai Aset
e. Pengukuran Jumlah Terpulihkan
f. Pengakuan Rugi Penurunan Nilai
g. Pengungkapan

3.1. Ikhtisar Perubahan Psak 48 (Revisi 2013)


Perihal PSAK 48 (Revisi 2013) PSAK 48 (Revisi 2009)
Pengaturan investasipada entitas anak Pengaturan investasipada
dan ventura bersama dalam laporan entitasanak dan ventura bersama
Ruang Lingkup keuangan tersendiri mengacupada dalamlaporan keuangan tersendiri
PSAK 4 (2013): Laporan Keuangan mengacupada PSAK 4: Laporan
Tersendiri. Keuangan.
KonsolidasiandanLaporan
KeuanganTersendiri

 Tidak memberikan definisi


mengenainilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual dan pasar Memberikan definisi mengenai nilai
Definisi aktif. wajar dikurangi biaya untuk menjual
 Memberikan definisi nilai wajar dan pasar aktif.
sesuai dengan PSAK 68:
Pengukuran Nilai Wajar.
 Nilai wajar dikurangibiaya  Nilai wajar dikurangi biaya
Terminologi pelepasan. untukmenjual.
 Pengukuran nilai wajar  Penentuan nilai wajar
Pengukuran Pengukuran nilai wajar dikurangi
Memberikan pengaturan mengenai
nilai wajar biaya pelepasan mengacu pada hirarki
nilai wajar dikurangi biaya untuk
dikurangi nilai wajar dalam PSAK 68:
menjual.
biayapelepasan Pengukuran Nilai Wajar.

Komposisi Memberikan tambahan penjelasan


estimasi arus kas mengenai perbedaan nilai wajar dan Tidak diatur.
masa depan nilai pakai.

Setiap unit atau kelompok unit yang


Setiap unit atau kelompok unit yang
memperoleh alokasi goodwill:
Alokasi goodwill memperoleh alokasi goodwill:
 menunjukkan tingkat terendah
pada unit  menunjukkan tingkat terendah
dalam entitas yang goodwillnya
penghasil kas dalam entitas yang goodwill- nya
dipantau untuk tujuan
dipantau untuk tujuan manajemen
manajemen internal.

3.2. Perbedaan dengan IAS


PSAK 48 (2013): Penurunan Nilai Aset mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS
36Impairment of Assets per efektif 1 Januari 2014, kecuali:
1. IAS 36 paragraf 2 yang menjadi PSAK 48 paragraf 02 tentan ruang lingkup.
PSAK 48 tidak mengecualikan aset biolojik karena IAS 41 Agriculture
belumdiadopsi.
2. IAS 36 paragraf 4(a) yang menjadi PSAK 48 paragraf 04(a) tentang ruang
lingkup yang mencakup entitas anak. PSAK 48 memberikan tambahan penjelasan
entitas anak yang dicatat dengan metode biaya dalam laporan keuangan tersendiri
sesuai dengan PSAK 4: Laporan KeuanganTersendiri.
3. IAS 36 paragraf 12(h) yang menjadi PSAK 48 paragraf 12(h) tentang sumber
informasi penurunan nilai atas entitas anak, entitas asosiasi, dan pengendalian
bersama entitas. PSAK 48 memberikan tambahan penjelasan entitas tersebut
dicatat dengan metode biaya dalam laporan keuangan tersendiri sesuai dengan
PSAK 4: Laporan KeuanganTersendiri.
4. IAS 36 paragraf 12(h)(i) tentang sumber informasi penurunan nilai dalam laporan
keuangan tersendiri tidak diadopsi. Hal ini terkait dengan perbedaan pengaturan
dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri dibandingkan IAS 27 Separate
FinancialStatements.
5. IAS 36 paragraf 139 yang menjadi PSAK 48 paragraf 134 tentang tanggal efektif
karena tidak relevan.
6. IAS 36 paragraf 140 A-J tentang tanggal efektif dan ketentuan transisi tidak
diadopsi karena tidak relevan.

3.3. Tujuan Dan Ruang Lingkup


Tujuan PSAK 48 ini adalah untuk menetapkan:
 Prosedur-prosedur yang ditetapkan entitas agar aset dicatat tidak melebihi jumlah
terpulihkannya.
 Aset dikatakan melebihi jumlah terpulihkannya jika jumlah tercatat aset melebihi
jumlah yang akan dipulihkanmelalui:
- Penggunaan atau
- Penjualan aset
PSAK 48 ini diterapkan untuk akuntansi penurunan nilai terhadap semua aset,
kecuali:
 Persediaan (lihat PSAK 14:Persediaan)
 Aset yang timbul dari kontrak kontruksi (lihat PSAK 34: Akuntansi
KontrakKontruksi)
 Aset pajak tangguhan (lihat PSAK 46: Akuntansi PajakPenghasilan)
 Aset yang timbul dari imbalan kerja (lihat PSAK 24: ImbalanKerja)
 Aset keuangan yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen
Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
 Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (lihat PSAK 13:
PropertiInvestasi)
 Biaya akuisisi tangguhan, dan aset tak berwujud, yang timbul dari hak
kontraktual penanggung berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam
ruang lingkup PSAK 28: KontrakAsuransi
 Aset tidak lancer (atau kelompok lepasan) yang diklasifikasikan sebagai milik
untuk dijual sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk
Dijual dan OperasiDihentikan
PSAK 48 ini berlaku untuk aset keuangan yang dikelompokkan sebagai investasi dalam:
1. Entitas anak→PSAK 4 Laporan Keuangan Tersendiri
2. Ventura bersama→PSAK 12 Bagian Partisipasi dalam Ventura
Bersama
3. Entitas Asosiasi→PSAK 15 Investasi pada Entitas Asosiasi
Namun, PSAK 48 juga berlaku untuk aset yang dicatat pada jumlah revaluasian
(yaitu nilai wajar) sesuai dengan pernyataan lain, seperti model revaluasi dalam
PSAK 16: Aset Tetap.

3.4. Pendekatan Umum Dalam Penaksiran Penurunan Nilai Aset


Impairment atau penurunan nilai terjadi nilai tercatat aset melebihi nilai
terpulihkan. Nilai terpulihkan adalah nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar
dikurangi dengan biaya penjualan dan nilai pakai. Kerugian penurunan nilai
merupakan selisih antara nilai tercatat dikurangi dengan nilai terpulihkan. Kerugian
tersebut diakui dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya. Pemulihan terhadap
penurunan nilai dapat dilakukan.
Menurut PSAK 48, pada setiap tanggal neraca, perusahaan harus me-review
ada atau tidaknya indikasi penurunan nilai aset. Jika terdapat indikasi penurunan
nilai aset, perusahaan harus menafsir jumlah terpulihkan dari aset tersebut.Aset
dikatakan turun nilainya jika jumlah terpulihkan dari aset tersebut kurang dari nilai
tercatatnya.
Rugi penurunan nilai adalah suatu jumlah yang merupakan selisih lebih nilai
tercatat suatu aset atau unit penghasil kas atas jumlah terpulihkannya.
 Jumlah tercatat atau carrying amount adalah jumlah yang diakui untuk suatu
aset setelah dikurangi kumulasi penyusutan (amortisasi) dan akumulasi rugi
penurunannilai.
 Jumlah terpulihkan suatu aset atau unit penghasil kas adalah jumlah yang lebih
tinggi antara:
- Nilai wajarnya dikurangi biayapenjualan
- Nilaipakainya

3.5. Identifikasi Aset Yang Mungkin Mengalami Penurunan Nilai Aset


Pada setiap akhir periode pelaporan, suatu entitas harus menilai apakah
terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi
tersebut, entitas mengalami jumlah terpulihkan aset tersebut. Terlepas apakah
terdapat indikasi penurunan nilai, untuk aset tidak berwujud tertentu dan goodwill,
entitas harus minimal setahun sekali, melakukan pengujian penurunan nilai
(impairment test) dengan membandingkan nilai tercatatnya dengan jumlah
terpulihkannya:
- Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidakterbatas
- Aset tidak berwujud yang belumdigunakan
- Goodwill yang diperoleh dalm suatu kombinasibisnis
Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa aset mungkin mengalami
penurunan nilai, entitas harus mempertimbangkan, minimum, hal-hal berikut:
- Informasi dari sumber-sumbereksternal
o Perubahan signifikan nilaipasar
o Perubahan signifikasn teknologi, pasar, ekonomi dan lingkuphukum
o Perubahan sukubunga
o Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapasitaspasarnya
- Informasi dari sumber-sumberinternal
o Bukti keusangan atau kerusakan fisikaset
o Perubahan signifikan atas penggunaan, penghentian dan masa
manfaataset
o Bukti internal mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk
dari yang diharapkan

3.6. Pengukuran JumlahTerpulihkan


Ketika terdapat indikasi bahwa terdapat penurunan nilai suatu aset pada setiap
periode pelaporan atau bilamana terdapat aset tidak berwujud atau goodwill yang
merupakan subyek pengujian penurunan nilai secara tahunan, entitas disyaratkan
harus mengukur jumlah terpulihkan aset tersebut. PSAK 48 mendifinisikan jumlah
terpulihkan suatu aset sebagai jumlah yang lebih tinggi antara Fair Value Less Costs
to Sell dan Nilai pakai (Value in Use).
 Nilai Wajar dikurangi Biaya Penjualan (Fair Value Less Costs to Sell)
Nilai wajar dikurangi biaya penjualan adalah jumlah yang dapat dihasilkan dari
penjualan suatuaset atau unit penghasil kas dalam transaksi antara pihak-pihak yang
mengerti dan berkehendak bebas tanpa tekanan, dikurangi biaya pelepasan aset.
- Bukti terbaik
Harga saham suatu perjanjian penjualan yang mengikat yang dibuat dalam suatu
transaksi antara pihak-pihak yang indipenden, disesuaikan dengan biaya
tambahan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan pelepasan aset.
- Apabila tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat namun aset
diperdagangkan di pasar aktif. Berdasarkan harga pasar aset dikurangi biaya
pelepasan aset tersebut.
- Apabila tidak terdapt perjanjian penjualan yang mengikat atau pasar aktif untuk
aset Berdasarkan pada informasi terbaik yang ada untuk menggambarkan
jumlah yang dapat diperoleh entitas, pada akhir periode pelaporan, dari
pelepasan aset pada nilai wajar dikurangi biaya pelepasan.
 Nilai Pakai (Value in Use)
Nilai pakai adalah nilai sekarang dari taksiran arus kas yang diharapkan akan
diterima atau unit penghasil kas. Elemen-elemen berikut harus diperhitungkan
dalam penghitungan nilai pakai aset:
- Estimasi arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh dariaset
- Ekspektasi mengenai kemungkinan variasi dari jumlah atau waktu arus kas masa
depan tersebut
- Nilai waktu uang, diwakili oleh suku bunga pasar bebas risiko yangberlaku
- Harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat padaaset
- Faktor-faktor lain, seperti likuiditas, yang akan mempertimbangkan oleh pelaku
pasar dalam menilai arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan
diperoleh dari aset tersebut.
Pengestimasian nilai pakai suatu aset meliputi langkah-langkah berikut:
 Mengestimasikan arus kas masuk dan arus kas keluar di masa depan dari pemakaian
aset tersebut dan pelepasannya padaakhirnya
 Menerapkan tingkat diskonto yang tepat atas arus kas masa depantersebut
Hambatan proyeksi aruskas:
o Didasarkan pada asumsi yang masuk akal dan didukung oleh fakta atau teori
o Didasarkan pada anggaran keuangan yang terbaru dan telah disahkan oleh
manajemen
o Tidak memasukkan komponen arus kas masa depan yang berasal dari
restrukturisasi
o Pendasaran kepada anggaran hanya meliputi periode 5 tahun, kecuali jika
periode yang lebih lama dapat dijustifikasi
o Periode setelah anggaran hanya dapat menggunakan tingkat yang tetap atau
menurun, kecuali jika tingkat yang naik dapat dijustifikasi
o Tingkat pertumbuhan yang digunakan daam proyeksi ekstrapolasi tidak dapat
melebihi rata-rata jangka panjang pertumbuhan untuk produk, industry, atau
negara tempat entitas beroperasi atau pasar dimana aset tersebut
digunakan,kecuali jika tingkat yang lebih tinggi dapat dijustifikasi.
Komposisi estimasi arus kas masa depan meliputi:
 Proyeksi arus kas masuk dari penggunaaset
 Proyeksi arus kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan arus kas masuk dari
penggunaan aset (termasuk arus kas keluar untuk menyiapkan aset agar dapat
digunakan) dan dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan dengan dasar
yang layak dan konsisten, pada aset
 Arus kas neto, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk pelepasan aset
pada akhir masamanfaatnya.
Arus kas masa depan valuta asing:
 Arus kas masa depan diestimasi dalam suatu satuan mata uang ketika akan
dihasilkan dan kemudian didiskonto menggunakan suatu tingkat diskonto yang tepat
untuk satuan mata uang tersebut.
 Entitas mentranslasikan nilai sekarang dengan menggunakan tingkat pertukaran spot
pada tanggal perhitungan nilaipakai.
Tingkat diskonto ditetapkan atas dasar tingkat diskonto sebelum pajak yang
menggambarkan penilaian pasar kini dari:
 Nilai waktuuang
 Nilai risiko spesifik atas aset dimana estimasi arus kas masa depan belumdisesuaikan
Tingkat diskonto ini adalah tingkat pengembalian yang disyaratkan investor jika
seandainya mereka hendak memilih suatu investasi yang menghasilkan arus kas dengan
jumlah, waktu dan profil risiko yang sama dengan yang entitas harapkan akan dihasilkan
dari aset tersebut.
Tingkat diskonto ini diestimasi dari salah satu:
 Tingkat diskonto implicit pada transaksi pasar kini terhadap asetsejenis
 Rata-rata tertimbang biaya modal entitas yang tercatat di bursa efek yang memiliki
aset sejenis

3.7. Pengakuan Rugi Penurunan Nilai


Pengakuan rugi penurunan nilai dilakukan jika, dan hanya jika, niai terpulihkan aset
lebih kecil dari nilai tercatatnya:
 Nilai tercatat aset diturunkan menjadi sebesar nilaiterpulihkan
 Penurunan tersebut adalah rugi penurunannilai
Rugi penurunan nilai segera diakui dalam laporan laba rugi, kecuali aset disajikan
pada jumlah direvaluasi sesuai dengan standar lain (contoh: PSAK 16 Aset
Tetap). Setiap rugi penurunan nilai aset revalusian diperlakukan sebagai
penurunan revaluasi sesuai standar lain tersebut.
 Diakui dalam pendapatan komprehensif lain, sepanjang kerugian penurunan
nilai tidak melebihi jumlah surplus revaluasi untuk aset yangsama
 Rugi penurunan nilai atas aset revaluasian mengurangi surplus revaluasi untuk
aset tersebut

Contoh:
1. Misalkan PT Anggrek melakukan uji penurunan nilai terhadap peralatan yang
dimilikinya. Nilai tercatat dari peralatan sebesar Rp 400 juta, nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual Rp360 juta dan nilai pakainyaRp 410juta.

2. Misalkan infromasi PT Mawar yang tersedia sama kecuali nilai


pakai dari peralatan sebesar Rp 350juta.
Kerugian penurunannilai Rp 40 juta
Akumulasi depresiasi peralatan Rp 40juta

Kasus:
1. Suatu unit penghasil kas memiliki aset bersih berikutini:
Goodwill 10 M
Properti 20 M
Pabrikdan peralatan 30 M
60 M
Nilai yang dapat dipulihkan sebesar Rp 45M.
Diminta: Alokasikan kerugian penurunan nilai pada aset bersih, perusahaan.
Pabrik &
Goodwill Properti Total
Peralatan
Nilai buku 10 20 30 60
Penurunan Nilai (10) (2) (3) (15)
Nilai setelah 0 (18) 27 45
penurunan nilai

2. Perusahaan Melody melakukan reviu penurunan nilai dari beberapa aset yang
dimilikinya pada tahun 2010. Sebidang tanah yang bebas digunakan dicatat pada
nilai wajar dengan surplus revaluasi senilai Rp 50 juta, aset-aset lainnya dicatat
pada nilai historis dikurangi akumulasi depresiasi atau amortisasi.
Haril dari reviu sebagai berikut:
Fair value less
Value in use Carrying Amount
costs to sell
Tanah (nilai wajar) Rp 312 juta Rp 320 juta Rp 380 juta
Bangunan, setelah
Rp 852 juta Rp 890 juta Rp 860 juta
depresiasi
Mesin, setelah
Rp 21 juta Rp 18 juta Rp 15 juta
didepresiasi
Tentukan berapa rugi penurunan nilai dan bagaimanakah jurnalnya!
Jawab:
Berdasarkan informasi yang tersedia, aset yang mengalami kerugian penurunan nilai
adalah:
Recoverable
Carrying amount Impairment Loss
amount
Tanah, pada nilai
Rp 320 juta Rp 380 juta Rp 60 juta
Wajar
Aset tak berwujud,
pada biaya Rp 890 juta Rp 860 juta -
teramotisasi
Mesin, setelah
Rp 21 juta Rp 15 juta Rp 6 juta
didepresiasi
Kerugian penurunan nilai dikurangkan terlebih dahuli ke surplus revaluasi. Jadi
jurnal pengakuan rugi penurunan nilai seharusnya:
Untuk mengakui kerugian penurunan nilai tanah
Surplus Revaluasi Rp 50 juta
Rugi penurunan nilai (80 juta –50juta) Rp 10 juta
Tanah Rp 60 juta

Untuk mengakui kerugian penurunan nilai mesin


Kerugian penurunan nilai Rp 6 juta
Mesin Rp 6 juta
3.8. Pengungkapan
Pengungkapan yang lebih ekstensif disyaratkan.
Pengungkapan tambahan utama termasuk:Informasi yang
mendalam untuk setiap UPK (atau kelompok UPK) yang
memiliki nilai tercatat goodwill atau aset tidak berwujud dengan
masa manfaat tidak terbatas, termasuk:
 Asumsi utana dan pendekatan manajemen yang digunakan untuk mengukur
nilai terpulihkan
 Periode dimana manajementelah memproyeksikan aruskas
 Tingkat pertumbuhan, tingkat diskonto

Jumlah terpulihkan aset (unit penghasil kas) dan apakah jumlah terpulihkan
aset (unit penghasil kas) adalah nilai wajarnya dikurangi biaya pelepasan atau nilai
pakainya. Jika jumlah terpulihkan merupakan nilai wajar dikurangi biaya pelepasan,
maka entitas mengungkapkan informasi:
 Tingkat hirarki sesuai PSAK68
 Deskripsi teknik penilaian (level 2 dan3)
 Asumsi utama (level 2 dan 3)

Anda mungkin juga menyukai